Posts

Showing posts with the label 30HariBercerita

20190117 - The Soulcatcher

Image
Tayang dengan persetujuan. Coincidence is a myth. We're meant to meet anyone who crossed our path. Some left as friends, lovers, and even soulmates; some left us a lesson. Namanya Vembri , tinggalnya jauh (dan mahal) di Papua sana. Saya mengenalnya karena teman hidupnya adalah juga teman saya seangkatan di kampus AMDG. Waktu saya ke Jakarta kemarin, kami sempat bertemu. Dia ke Jakarta karena urusan popotoan. Namanya masuk menjadi salah satu penerima hibah dari Panna Foto Institute . Sebenarnya saya hanya kurir. Saya membawakan majalah Natgeo Indonesia titipan istrinya, Pipin, edisi khusus Januari tentang obat-obatan karena tulisan dan foto Vembri terbit di sana. Tapi karena saya orangnya ogah rugi, ya sekalian saja saya aku-aku teman. Vembri adalah salah satu dari berderet-deret fotografer yang saya kenal di Jakarta, Jogja, dan Bali. Lingkaran kami yang bersinggungan akhirnya membuat kami ngobrol di WhatsApp. Dan seperti semua kejadian "serba kebetulan" lai...

20190112 - Ten Years of Solitude

Image
Credit to the artist. I don't own the copyright. "Jadi... Selama itu?" "Ya." "Mengapa?" "Karena denganmu aku bisa jadi diriku sendiri." Aku tergugu. Benakku kaku. Hanya bisa kutatap layar ponselku. Di sana terdapat pesannya, seseorang yang mencariku, dalam hitungan tahun sejumlah jari sepuluh. Wahai. Lelaki memang bajingan. Entah karena terlalu kuatnya ingatan atau memori yang menolak mati. Tapi mengenang dan mencari satu perempuan selama itu, yang hanya dikenal melalui teks lewat internet di antara jutaan perempuan asli yang bisa disentuh dan dikecup, menurutku adalah sesempurnanya kebodohan. "Sekarang aku tak lagi lajang. Dan langkahmu masih saja panjang." "Mungkin aku juga belum akan berhenti. Yang aku mau masih banyak, berjenjang-jenjang." "Dan kau masih sama seperti dulu, tak pernah mau punya seseorang yang menunggu." "Ya... Buat apa? Aku toh tak menganggap pulang adalah perlu." La...

20190111 - Make It Rain

via GIPHY Seberapa penting sih uang dan benda-benda itu sebenarnya? Here's my little story. Saya nggak dilahirkan di keluarga yang berpunya. Waktu SD perlu sepatu baru untuk ikut lomba upacara saja, sama Bu Anggi malah dikasih slip gaji Babab. Semua kebutuhan di-breakdown dari gaji Babab yang nggak seberapa dan ujung-ujungnya nggak ada yang tersisa untuk keperluan saya mengharumkan nama sekolah. Kan kampret. Tapi sebagai anak Indonesia yang keras di(h)ajar (literally!) oleh Bu Anggi untuk bermental baja dan nggak boleh menyerah, gimana caranya ya saya kudu-harus-fardhu 'ain bisa beli sepatu. Kalo nggak, ya sia-sia saya pulang sekolah panas-panasan bau matahari dan nggak jadi tukang bawa preambule yang bisa teriak-teriak sementara orang-orang terdiam mendengarkan saya ngebacot. Yekan~ Terus kamu ngapain, Pit? Ya cari duit dong! Dan apa yang bisa dilakukan anak cupu kelas 5 SD yang pengetahuannya soal pekerjaan cetek banget, gendut iya, kumel pasti, dijual jadi bint...

20190110 - Soliloqui

Image
Sketched by my own Bartimaeus , my ever present safety net. I am braver than I believe, stronger than I seem, smarter than I think, and loved more than I know. Yup, I'm quoting Winnie the Pooh 🙊 Sometimes I'm focusing more to noises than listening to the real voice. Sometimes I'm carried away by impostors and forgot my genuine self. When I wanted to be stupid, I professionally gave in and gave up my wit. Nil bastardi carborundum. No bastard could grind me down. Bring it on, fucktard. This is an open challenge to myself. The victor would be the one with most humane: me as a whole or my idiotic ego. Vale!

20191019 - Confession

Image
Credit by the artist. I don't own the copyright. Forgive me Mother for I have sinned. Forgive my standoffish nature and take things lightly, that I thought I had everything under control. Forgive me for falling so fucking hard and reached my rock bottom. Forgive my eight hours of the BIGGEST sadness in my life, that I didn't put myself first in my own frame. Forgive me for sleeping the whole ride home and continued sleeping for 12-hour straight because this pain won't subside, my suffering was inevitable, and the hurt was so deep. Forgive me for being so reckless, for being so lulled by my own wishful thinking that the world revolves around me, that things could go my way, that if I could understand people then I could bend people under my will. Well, turned out that what I faced was not even people. I didn't know how to put it, but I don't think a decent human being could do something so hurtful and so ignorant. I should've learned my lesson that human...

20190108 - Persinggahan

Image
Tempat ini serupa kuil, di mana doa-doa dipanjatkan, kadang dengan suara keras, kadang dalam airmata. Tempat ini serupa muara, ketika rindu dan harap saling menemukan, dan wajah-wajah punya nama. Tempat ini serupa sahabat, menunggu dalam sunyi dan sabar meskipun lama tak berkabar. Ia akan tetap menyambutmu hangat, menyapamu ramah, menyajikanmu rasa yang lama terlupa, tanpa mengada-ada. Tempat ini serupa mesin memori, mengembalikan ingatan tentang perjumpaan dan perpisahan, kenangan yang akan dan masih, luka yang berdarah atau parut yang membekas, riang yang pernah lalu punah. Tempat ini serupa kamu, persinggahan menyenangkan lalu lebur oleh waktu.

20190107 - P A G I

Image
Berbahagialah seperti pagi yang tak sekalipun menyimpan sekam berupa dendam. Setiap hari yang ia awali adalah kelahiran, pengampunan, pemakluman. Tak pernah sedikitpun ia simpan amarah atas malam yang berselingkuh dengan rembang petang, berdua-dua berlekatan hingga semburat jingga akhirnya padam. Lepaskan semua seperti pagi yang tak pernah menahan cerlang-cemerlang matahari. Sesekali mungkin ia cemberut karena mendung tak kunjung surut. Tapi nanti toh akan berlalu. Dan segala hal di kolong langit, sebagaimana ia bermula, pasti ia akan berakhir. Belajarlah berjanji seperti pagi yang datang selalu tepat tak pernah telat. Apapun yang disaksikannya dalam jatah durasi, ia jalankan tanpa sekalipun ada keluhan. Mari memaknai diam seperti pagi yang meskipun diriuhi hiruk-pikuk mahluk yang sibuk, tak sekalipun ia mengamuk. Ah, iya. Sudah pagi. Mari kita tidur lagi.

20190106 - Maukah Kamu?

Hai. Maukah kamu menari bersama di bawah hujan dan badai menggemuruh sebagaimana kita kanak-kanak dahulu, tanpa takut pilek dan kilat dan geluduk? Maukah kamu terjun bebas tanpa parasut dan tanpa pengaman apapun kecuali tanganku dalam tanganmu dan mataku yang lekat pada matamu? Bisakah kamu menahan semua keinginanku terhadapmu yang akan membuatmu bukan menjadi dirimu sendiri sementara aku terlalu baja yang kau coba tetesi dengan air raksa? Maukah kau menyeka tangis dan sakitku yang tumpah tak terbendung selewat tengah malam tanpa kutahu mengapa sementara yang kuperlukan hanyalah dekapan erat dan kebohongan manis yang diucapkan sambil berbisik, bahwa pada akhirnya, apapun yang terjadi, semua akan baik-baik saja, meskipun esok matahari masih leyeh-leyeh di saujana sementara ayam jantan sudah lelah klurak-kluruk? Pernahkah kau merasa muak ketika udara yang kau hirup dan tak pernah sampai penuh ke sepasang paru-paru sementara dunia begitu menghimpit seperti belahan tetek wari...

20190105 - Perempuan Pemilik Jantung

Image
Credit to the artist. I don't own the copyright.  “Hey. Kau tahu bagaimana memerangkap rindu dan membuatnya jadi lagu?” Perempuan bertanya pada Lelaki yang duduk terpekur di meja makan. Yang ditanya hanya diam dengan kepala tertunduk dan tangan terlipat di pangkuan. Yang bertanya, dengan jemari memegang jarum berekor benang dan bergerak lembut teratur seperti sedang menari, masih saja mengerjakan kruistik yang tak kunjung selesai sejak sebulan lalu. Matanya tak lepas menatap sehelai kain serupa jaring dengan banyak sekali kumpulan X warna-warni, membentuk rumah, membentuk rerumputan, membentuk gemawan, dan hampir membentuk kanak-kanak berayun di antara dua pokok pepohonan bertajuk rimbun menghijau. Untuk beberapa saat udara dibuat pekak oleh keheningan paripurna. Perempuan menengadahkan kepala. “Kau itu… Kenapa sih, tak pernah menjawab setiap aku bertanya?” Air mukanya menyimpan sebal yang menggumpal. Hanya sesaat, untuk kemudian berganti dengan tatapan sayang ke Lel...

20190104 - Senandika

Belum terlambat bukan, untuk merefleksi masa-masa terlewat? Masih bisa kan, saya ngroweng tanpa alkohol? Harus bisa, dong! Enak aja! Jadi... Entah karena poros bumi yang pakai turbo mode sampai muternya kecepetan, atau memang waktu terasa bergerak seperti kilat sehingga saya ngos-ngosan ngikutinnya. Tapi dua tahun kemarin rasanya memang benar-benar baru kemarin. Ya... Seperti biasa, sih. Ada yang datang, banyak yang pergi, beberapa terganti. Tapi mungkin karena umur atau otak yang mulai uzur, kehilangan dan endapan sakit sangat terasa banget walaupun nggak bikin pengen goyang. Sementara semua hal bersenang-senang mewujud menjadi sesuatu yang semenjana, tak cukup kuat meninggalkan jejak di benak. Namun satu hal yang sangat membekas: bahwa saya ternyata takut sendirian, gentar dengan kesepian. Semua teori dan motivasi yang menggegapgempita dan saya pegang sejak dulu kala lama-lama berguguran, berganti dengan kenyataan bahwa rekan seperjombloan saya makin lama makin berkurang, satu-persa...

20190102 - Kota, Kebun, dan Kenangan

Image
Apa yang tidak saya rindukan dari kota? Semua yang banyak dan ada. Manusia yang banyak. Bangunan yang banyak. Benda yang banyak. Kendaraan yang banyak. Hiburan yang banyak. Semua ada, serba banyak, banyak sekali. Tapi ada banyak juga irisan-irisan dari mahabanyak itu yang saya rindu. Sensasi, stimulan, kebergegasan, kesudahan, ketersambungan, perjumpaan. Dan ada yang saya pandang dengan senyum malas untuk penyendirian: bahwa semua yang ada di kolong langit hanyalah siklus chaos/order untuk mencari kesetimbangan. Jadi, biarkan saya larut dalam riuh rendah suara dan rasa agar bisa kembali tenggelam dalam hening awal malam. Vale!

20190101 - Bu Anggi

Image
Maafkan putri mbarepmu yang malas memberi menantu. Maafkan untuk doa-doamu yang belum sempat ijabah. Maafkan karena bahkan tak pernah kupersembahkan ijazah. Tapi, Bu...  Untuk semua harapan-harapan terbaikmu, untuk penantian panjangmu menungguku, untuk semua keinginan-keinginanmu, untuk hal-hal yang tak perlu kau tahu dan tak pernah kuberitahu, untuk semua babak-bundasmu, untuk semua kemanusiaanmu, untuk bahkan ketidaksempurnaanmu yang mungkin paling paripurna bagi kami anak-anakmu...  Semoga setahun lagi masih bisa kulihat wajahmu yang kegirangan meskipun hanya kubawakan coklat murahan. Terima kasih, Ibu.

C O M P A N Y

Image
Ini tempat saya nongkrong di malam hari. Selain kopinya enak dan murah, bukanya juga agak nggak manusiawi. Pukul 7 malam hingga 2 atau 3 pagi. Sungguh sangat akomodatif untuk saya yang susah tidur. Di sini saya bertemu banyak orang dan belajar banyak pada mereka. Misalnya, si pemilik yang saya kenal dengan nama Pak Gareng, orang Jawa yang memanggul falsafah Jawa tinggi sekali dan sangat sumeléh pada tempatnya. Atau Mas Dytok, pekerja film perfeksionis yang santai membantai hasil iseng-iseng saya bikin skrip. Dan... Bli Ganteng, bapak beranak satu yang sebenarnya biasa saja sampai dia datang habis kondangan dengan masih mengenakan baju adat. Duh, ngeliatnya aja rasanya indung telur saya hampir meledak.  Tanpa mereka sadar, mereka adalah kawan saya menghadapi diri sendiri. Saat lelah menyapa setelah babak bundas bertempur dengan monster-monster di kepala, mereka rehat saya. Terima kasih untuk semua pelajarannya. Semoga kalian selalu dalam kasih semesta.

BLACK CAT

Image
"Why do you keep a black cat? It has eyes of a devil!" "Black cat is evil manifestation. Aren't you scared?" "Your black cat is a girl?! Evil, man... That's a pure evil, she is!" "You know what? All witches have a black cat. It's bound to do bad, devilish work." I don't blame those people saying me those bullshit. They are brainswashed too much by cheap horror stories and B-rated flicks. I laughed it off and waved them out like keeping away annoying flies. What they don't know is that I AM a witch. I make things happen after I had my own black cat. And she's my second in command, my comrade in arms. She's the closest after my own heart. Tomorrow they can't say anything anymore. They will wake up with lips stitched nice and tight. I just sent my black cat to do it tonight. Fere libenter homines id quod volunt credunt. Fiat voluntas tua. Men will believe what they want to be true. Let there be li...

MAT-MATAN

Image
Menurut Wiktionary berbahasa Jawa, mat-matan adalah sesederhana enak-enakan. Padahal artinya lebih luas dari itu. Beberapa tahun saya di Jogja, mat-matan bertebaran di mana-mana. Menyergah bapak tukang becak di Malioboro setelah mengantar turis berisik dari Jakarta belanja bakpia, mengendap di angkringan sudut jalan Sangaji pada seorang mahasiswa di hadapan teh jahe dan dua bungkus nasi kucing, atau merengkuh tukang parkir di pinggir Jalan Solo yang nikmat menghisap kretek sambil duduk mencangkung. Mat-matan menurut pengertian saya adalah kondisi tercukupkan, bahagia, in the moment, tanpa mikir cicilan KPR atau tunggakan kamar kost, menafikan tanggal gajian yang hilalnya masih jauh sementara duit tinggal seciprit, dinikmati pelan-pelan tanpa bisa diletakkan dalam kerangka materi maupun durasi. Tapi jika Eyang Marx kenal mat-matan mungkin kita nggak bakal kenal Das Kapital, karena perubahan digerakkan oleh mereka yang pemenuhan kebutuhannya nggak ada di Diagram Maslow, sementara mat...

C O N S U M E D

Image
Foto dari sampul album Bleeding Through the Truth I put you high on a pedestal You trampled it down, thoughtless, unregalled I gave you all, a heart drenched in my blood You took them all with nothing but the word slut I trusted you the knife, I gave you my back Yet you put my head as a trophy in your rack So here are my curse that I cried to the stormy night in thunderous wrath: You will kiss the sole of my feet and bathe them in your tears You will live a sorrowful life, insatiable thirst, incomplete orgasm, pitiful fuck, and hollowed soul Your death will be awfully painful and your life would be more Until then your eyes will open and those wrongs will haunt And I'll be long gone watching from afar Knowing you'll find no solace Once and for all

Rise of the Machine

Image
This battered, unassuming coffee machine is alive when no one's around. Its eyes will blink once and twice, then it will look in the perimeter. If it's sure it's alone, arms and legs are sprouting from its sides, clinking its perceived heels, and dancing into the night. There, right in the corner, it rushes to a toaster with stiff joint and low grumble, holding a worn out spatula as a walking staff. It owned by an old spinster down the road, fifth house on the right, the one with askew window and almost unhinged door but surprisingly clean and neat. She lives alone after her marriage was ruined by the absence of a groom. The toaster was one of the presents, regifted from the guest's own wedding ceremony, wrapped in plain brown paper and tied with a bow. Oh, and there comes the fan from another house, trying to tiptoed silently from the window sill. And food processor from another, hair dryer with its cable intertwined with a hair straightener's (they live sid...

K A N G E N

Image
Udara mengental bersama hasrat terlarut dalam buliran peluh, menggesek kulit yang berkali lipat lebih peka, menerjemahkan sentuhan paling lembut menjadi geletar yang bergerak sepersekian detik dari ujung rambut ke ujung kaki untuk membuncah di antara pertemuan paha dengan paha. Lelaki dan Perempuan menarikan tarian purba berlatarkan seprai masai, remang lampu, derit ranjang, dan erangan dan desisan dan makian dan nama Tuhan. Menghentak, melambat, berderap, melenguh, menggeram, lalu pungkas dengan helaan nafas panjang. Pentas selesai. Mereka berbaring bersisian beberapa saat sambil menatap langit-langit dan mengatur sengal-sengal yang tersisa sampai ruangan kembali senyap. Sesungging senyum melebar dari wajah Lelaki saat pangkal pahanya kembali hangat oleh sentuhan. "Mau lagi?" "Nggak. Aku kangen." "Ya ampun. Baru juga selesai, mosok udah kangen," ujar Lelaki sambil merengkuh Perempuan dan membimbingnya berbaring di dada. Sambil meremas lembut daging...

C A N D U

Image
Apapun yang membuatmu merasa tergantung, tidak bisa lepas, merasa hampa saat itu nggak ada, adalah candu. Termasuk rokok, kopi, ganja, obat, alkohol, dan pacar/selingkuhan/cemceman/fuckbuddy. Candu bagi saya adalah kopi dan rokok. Meskipun nggak segitunya banget, tapi saya tetap merasa mati gaya, buntu, dan nggak bisa mikir saat dua benda itu nggak ada, terutama saat sedang bekerja. Namun ada masa-masa saya tak berdaya dan mesti pasrah tanpa bisa kabur bersama candu-candu saya. Ketika saya nyeri haid (yang artinya nggak boleh ngopi kecuali saya rela didera sakit perut tak berkesudahan) dan radang tenggorokan (karena asap rokok akan memicu produksi lendir lebih banyak dan membuat sinusitis saya berontak). Pencapaian saya melawan kecanduan adalah saat masih di Jakarta, sesaat setelah saya tahu bahwa sakit kepala berdentam-dentam seperti ada yang memalu otak, dan bau nanah memuakkan yang terhirup setiap saya bernapas hingga tak mampu membedakan bau lain, adalah positif sinusi...

A M I

Image
2016 adalah kali pertama saya mengenalnya tanpa sengaja. Waktu itu saya agak khawatir dengan kebiasaan merokok yang tambah parah, lalu mencoba mengalihkannya ke hal lain. Secara teknis ini sama ketika kamu masih dibayangi kenangan mantan dan kamu perlu cari gebetan sebagai pengalihan. Dan seperti apa yang Eyang Coelho bilang di The Alchemist, ketika kamu amat sangat menginginkannya maka "universe conspires". Begitupun keinginan saya. Sayangnya, saya nggak sedang membicarakan mantan. Jadinya nggak begitu drama. Pengalihan dari rokok ini adalah amigurumi, teknik merajut yang digunakan untuk membuat boneka. Gampang? Ya nggak lah! Saya menghabiskan lebih banyak rokok saat belajar 😂 Untuk mahir membuat dasar saja saya perlu waktu dua minggu di sela profesi saya yang apapun kerjaannya, ujung-ujungnya jadi deadliner. Itu baru dasaaar banget lho. Belum cemacemnya yang membentuk badan, tangan, kaki. Tapi teknologi saat ini memungkinkan siapapun belajar apapun, asalkan ada gawai d...