Posts

Showing posts from August, 2007

Reriungan #1

Sekarang bagian yang kadang nyebelin: sinau.

Bahasa Inggris, strukturnya beda sama bahasa Indonesia. Misalnya, untuk bilang 'Saya makan nasi goreng' mau sekarang, taun kemaren atau seminggu yang lalu ya cuma 'Saya makan nasi goreng'. Jumlahnya pun nggak direken, mau sepiring atau sebakul. Kecuali yang makan ngaku.

Tapi 'I eat a plate of fried rice' itu untuk ngomong apa yang saat ini sedang dilakukan dan 'I ate a plate of fried rice' kalo nasinya udah tandas masuk ke perut. Itupun mesti disebut seberapa banyak (a plate), kecuali kalo yang mbadog boong.

Jadi, bentuk kalimat bahasa Inggris paling sederhana untuk dimengerti adalah Present Tense, atau bentuk kalimat yang menunjukkan kejadian itu berlangsung sekarang. Bisa juga untuk menyatakan fakta atau kebisaan, misalnya the sun rises dan I swim.

Rumusnya:

Subject + verb (+ object atau keterangan lainnya)

Contoh:
You blog, Maz Bek sleeps, Maz Ipul takes a shower, and I lie.

Kenapa Maz Bek sleeps dan Maz Ipul take…

Lu Peduli Nggak?

Masih mau sedikit nyumbang buat pendidikan usia sekolah? Ini ada link dimana yang disumbang nggak cuma nadah nunggu donator tapi juga pake peres keringet. Kesempatan ngelmu nggak dipersempit untuk yang pinter thok thil, tapi juga untuk mereka yang mau belajar dan kerja dengan cara yang mereka udah tau dan ngerti.

Ya, emang ndeso abis sih, cuma ngangon kambing. Tapi bukankah kebijaksanaan desa yang mampu menyeimbangkan cara pikir manusia-manusia otomaton kota--melulu cari duit untuk dibuang lagi--dan karenanya penghargaan akan hidup dan sesama mahluk juga lebih tinggi?

Silahkan japri jika tertarik. Saya cuma bantu nyonthong.

ps: Takut duit lu diembat? Kayaknya nggak mungkin deh. Dia lebih suka ngasih daripada minta, apalagi ngembat. Such a big no no. Salah satu manusia langka, local wisdom with global thinking. Kalo nggak percaya ayo nongkrong tiap Jumat malem di bunderan HI, pinggir kolam pas depan tulisan PLAZA INDONESIA dari jam 22 ampe ngantuk. Yang beliin minum dia koq (=

Antara Jaran Kore dan Jaran Teji

Mungkin kamu benar. Jaran Kore akhirnya berontak terhadap kemlinthi-nya Jaran Teji yang sangarnya sudah tidak lagi menakutkan. Jika Jaran Teji akhirnya berada di posisi Jaran Kore dan hanya berakhir menjadi kopi paste Jaran Teji sang pendahulu, maka itu bukan revolusi. Hanya substitusi. Fotokopi.

Ya. Kamu benar. Mungkin saya harus mengumpulkan orang-orang yang berpikiran sama, bikin plan A sampe Z, lalu membujuk mereka untuk menjalankan planning-planning tersebut.

... dan apakah nanti saya hanya berujung sama dengan si Jaran Teji? Atau bisakah saya membuat Utopia sempurna seperti yang ada di juklak bagaimana membuat dan mengatur negara? Atau nantinya hanya akan sedangkal apa yang dikatakan Si Botak tentang bagaimana kekuasaan diciptakan dan ditransfer melalui 'ekonomi' diskursus tanpa mengindahkan kesejatian kebenarannya?

Njrit! Postingan lu sama dengan jebakan betmen! Mbales ya?! Tuh, Pet. Sesuai kepengenan elu. Gwa nulis lagi. Kopet!

Malem Jumat yang Aneh

Berawal dari tantangan...
Om-om usia dua puluh tujuh taun itu mengeluh sakit, demam, meriang. Tapi saya juga ngeluh karena jam enam kurang udah ada di kamar kos dan bosan dengan bacaan, sementara Si Dino masih ngadat nggak bisa muter film. Saya pengen liat orang lalu lalang sambil ngobrol. Saya ajak dia ke TIM. Eh, dia malah nantang saya dateng ke tempatnya. Saya tanya dia bahaya apa nggak, dia malah ngakak dan terheran-heran kenapa tiap perempuan yang dia undang selalu bertanya hal yang mirip dengan saya.

Wah!!! Nggak bisa didiemin ini!!!
Lalu saya sebel dan balik nantang: jangan nyesel kalo saya ternyata berantakan.

Jadilah...
Jam sembilan saya nongkrong di sebelah sananya Pancoran, dan tengah malem udah methungul lagi di gerbang kos. Jeda tiga jam itu dia 'menjamu' saya dengan pemenuhan janjinya. Meski dia sedang ingin 'bersih', dia rela melinting dan bersabar membiarkan saya menikmati hasil kemenangan. Well, itu konklusi dari analisa acak-adut saya sendiri sih.

Kesimpula…

Ouch!

Damn, it hurts. When you think you are a member of a small group comprises of those who dear to one's heart and found out that you're not, it's like as if something unseen had hit you hard on the chest. It nails you spreadeagled on the wall and feels like you can't even draw air into the lungs for the burden beyond. And both of your ankles and wrists knotted tightly.

So... I'm not as no-evil-no-harm-done person as I want to be though I try. Believe me. I'm trying hard.

*sigh*

Gusti... paringono sabar ben iso iklas.

Revolusi Yuk!

Jadi...

Selama 3x24 jam tanggal 16 sampe 18 Agustus kemaren total gwa denger lagu Kucing Garong 26 kali. Diantaranya adalah buat bebunyian di booth panitia jalan santai, pengiring lomba makan kerupuk, balap karung, lari bakiak, dan sebagainya, pengisi jeda di panggung, untuk tarian anak-anak dari RT 03 (yang untungnya bukan RT gwa), dinyanyikan sama mbak-mbak seksi dengan pengiring organ tunggal, dan penyemangat bapak-bapak yang bertugas beresin TKP keesokan paginya.

Dalam 3 hari itu juga gwa liat gadis-gadis kecil umur 7 sampai 9 tahun bergincu dan ber-makeup tebal, pongah mengenakan rok mini dan tank-top, melenggak-lenggok di atas panggung mengikuti rancak musik ajep-ajep layaknya diva-diva mini sedang beraksi. Sementara bocah-bocah berpakaian tradisional karena Tari Piring yang mereka bawakan seakan menjadi warga negara kelas dua yang sama sekali nggak punya kebanggaan. Drama perjuangan? Karnaval? Arak-arakan bodor pembuat macet dengan anak-anak berseragam sekolah, berkebaya dan berb…

Introducing...

Image
Kamu seperti pohon besar yang meranggas, keras kepala untuk tetap bertahan hidup meski sedang sekarat, ngotot terlihat tangguh padahal sering kamu rapuh. Tapi letakmu netral kok, ditengah-tengah.
Kamu seperti bulan yang hanya terlihat kala malam datang saking jarangnya kamu tidur ketika manusia lain terlelap.
Tapi tau nggak? Bulanmu punya satelit kecil yang selalu setia menemani kemanapun dan kapanpun kamu mengorbit. Itu saya.
Terima kasih untuk menjadi satelit kecil yang paling terang di malam-malam sepi dan saat-saat sulit. Terima kasih untuk header filosofis. Terima kasih untuk menunggu dua jam lebih. Terima kasih untuk ngenes melihat tampilan lama taman bermain saya dan gemes mbikinin yang baru.


Before

I couldn't ask for more...


Dedicated to Maz Herry. Such a rough ride we had in the past seven years, Brother (=

One Fine Evening

The conversation below occured in the house of The Bambangs:

"Jadi yah, RW kita dikasih dana berapa em gitu sama pusat buat bikin sesuatu yang berdaya guna buat warga soalnya RW kita menang pelaksanaan 10 Program PKK," kata Ibu yang pangkuannya dileyeh-leyehi Babab.
"Lha terus mau buat bikin apa tu dananya?"
"Pengennya Bu RW sih beli mesin kompos, biar problem sampah nggak mumeti banget. Tapi kesandung sama masalah lahan. Nggak banyak orang disini yang punya tanah milik sendiri. Apalagi yang mau ditumpuki sampah"
"Kan di depan situ ada lahan kosong punya Perumnas. Nggak bisa dipinjem atau disewa aja? Daripada buat kebon-kebonan nggak puguh gitu," usul saya sambil menjentik abu rokok ke asbak.
"Ya nggak boleh lah. Itu kan sebentar lagi mau dibangun rumah-rumah juga," jawab Ibu sambil mbubuti ubannya Babab.
"Bikin warem aja, warung remang-remang. Kita yang jadi pengusahanya. Sebelum kita jual, tak cicipin dulu," Babab berujar sambil …

R E S U R R E C T I O N

Hey! I'm back (=

Rasanya seperti Phoenix yang bangkit dari taburan jasadnya sendiri, ketika daur hidup selesai dan internal combustion menyala dari dalam tubuh, membakar hingga ke bulu terujung, untuk sekali lagi mewujud. Merah, jingga, terang, kemudian meredup, lalu lenyap mengabu. Tapi di tengah abu yang bikin batuk dan alergi itulah saya dilahirkan kembali, menjadi sesuatu yang baru dan menatap semua hal di hadapan dengan pandangan berbeda dari sebelumnya. Rasanya tuntas sudah saya mengumpulkan energi untuk kembali menantang dunia. Lebih cepat dari yang saya duga. Um... Kamu tau? Sepertinya saya dapat melihat warna-warni gelap-terang dengan lebih jelas sekarang, meski saya sendiri tetap kelabu.

Dan saya bangkit lagi dari 'kematian kecil' akibat lelah dan selesainya 'satu daur hidup'. Dia membuat saya keluar dari kubur yang dengan suka rela tergali, membuka mata tentang apa makna bertaruh pada hidup dengan mengutip sajak Schiller bahwa "hidup yang tidak dipert…