Posts

Showing posts from 2013

Karena Klien adalah TUHAN!

Image
Screenshot dari sini None are more hopelessly enslaved than those who falsely believe they are free Johann Wolfgang von Goethe Berita hari ini bikin saya relapse, mengenang lagi masa-masa jadi Supporting PR khusus media monitoring di sebuah agensi kecil di pojokan Jakarta Selatan. Lembur? Oh, everyday is lembur day. Seminggu pertama saya bekerja, saya sudah harus pulang jam 4 pagi karena approval klien untuk launching besok pagi baru masuk pukul 8 malam. Lalu berlembar-lembar media kit yang harus saya terjemahkan (karena klien adalah perusahaan IT multinasional), dan berbaris-baris kolom excel menyusul sebagai laporan post-event. Belum lagi berbagai report berkala dan tematik. Dan jangan tanya berapa rim kertas kami habiskan dalam setahun untuk monthly report bagi 3 divisi berbeda. Bagus lah semua didigitalkan dalam keping cakram data. Peraturan kantor bagi saya agak dilonggarkan, sih. Karena nggak ketemu klien, saya boleh bercelana pendek, kaos oblong dan sandal jepit. Itu

Hello Again, 15!

Image
Gambar nyomot dari Wiki You'll know your true friends not at your shiniest moments but at your darkest times.  Cherish them Jadi, hampir semingguan ini saya invalid. Nggak bisa keluar beli makan, nggak bisa klabing (klayapan bingung) pake motor. Nggak bisa nongkrong atau ngopi-ngopi unyuk di mana kek gitu. Semua gara-gara koreng yang pas terletak di tempat-tempat strategis, yang ketekuk sedikit aja sakitnya tembus sampai ke anus. Di email resign dari tempat kerja akhir November lalu saya bilang kalau saya sudah kewalahan menjalankan kehidupan ganda, antara jadi manusia biasa dan jadi superhero. Akhirnya saya harus memilih, dan pilihan jatuh pada superhero. Selasa malam kemarin itu adalah salah satu prasyarat yang harus saya tempuh untuk mendapatkan superpower, yaitu mengadu muka dan kaki ke aspal. Ternyata saya lupa mengakifkan kemampuan itu. Jadinya ya nyonyorlah dagu dan betis kanan dan perut kiri dan kedua tangan. Hanya kaki kiri saya saja yang mulus tanpa luka. Ta

Chik!

Image
Dicomot dari akun @chikadjati pas lagi pamer foto kecil dengan baju adat Hey, Chik! Kamu tahu lah, aku nggak percaya hidup setelah mati dan surga dan neraka dan reinkarnasi. Semua susah dan senang terjadi karena semesta mencari imbang, ditimpakan ke manusia sesuai dengan keapesan dan keberuntungan masing-masing. Jadi, gimanapun, aku tahu kamu juga nggak akan bisa baca ini. Tapi aku mendadak kangen kamu, Chik. Aku kangen malam-malam kita "berkelana" menjelajah Jakarta dan pulang naik Metromini. Kangen masa-masa ngobrol panjang tentang cowok insecure, ADHD, kenangan, dan jalan-jalan. Kangen menyesap Bailey's oleh-olehmu, atau ngobrol bareng  Mas Aji sambil kita ngenyék-ngenyék  OCD-nya  Mas Marto . Kangen bantuin kamu wawancara anak-anak pesantren buat dapetin short course ke Amrik (dan pertanyaan konyolku di malam sebelum hari H, "gue nggak mesti pake jilbab, kan?"). Dan aku ngetik ini di tengah kesengganganku untuk sembuh sambil  néthél koreng di d

Judging A(n Ex-)Friend

A friend will help you move. A good friend will help you move a dead body. - Anonymous Di suatu hari yang apes karena ditinggal (orang yang saya kira) sahabat, seorang bajingan lain bilang begini: Nggak ada yang namanya teman baik, yang ada hanyalah orang yang punya kebutuhan atas eksistensimu. Menyakitkan untuk didengar, sebagaimana semua kebenaran adalah menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi ketika suatu hari salah seorang ibu (yang saya tunjuk semena-mena sebagai Emak), orangtua tunggal yang sejak anaknya bayi babak bundas mengangkat harkat keluarga sendiri tanpa bantuan pasangan, jatuh bangun membagi 24 jam waktunya antara putri semata wayang, pekerjaan, dan kehidupan pribadi, menelepon saya, bercerita, dan menyimpulkan: “Gue udah nggak tau mesti percaya ke siapa lagi. Gue kirain dia temen gue…” Saya juga mengira dia teman saya, yang ketika saya kenalkan pada si “emak” adalah anak rantau jauh dari pulau tempat ibu-bapaknya berada. Saya abai pada masa lalunya yang syahd

The List of Bahan Tokai

Image
Pengobatan darurat untuk hati yang luka adalah makanan enak. Setidaknya meskipun sedih, tapi perut dan lidah bahagia Tahu kan kalau saya dikutuk punya ibu jago masak bernama Bu Anggi? Untuk meminimalisir pengeluaran tak menentu dari kebiasaan jajan, sedari kecil Bu Anggi membiasakan sekeluarga makan di rumah sekalian belajar masak. Meskipun cuma tepung dikelapain dan dikasih gula, yang penting nggak jajan. Tapi mungkin karena bikinnya niat dan, yah… namanya juga ibu-ibu. Bikin apapun untuk keluarga pasti pakai cinta. Jadinya ya enak-enak aja. Makanya, anak-anaknya yang cuma dua dan suaminya yang baru satu, hanya bisa membedakan dua rasa makanan: enak dan enak banget. Lalu saya sebagai anak sulung mursal dan jarang pulang mendadak “terdampar” di Bali hampir setahun lalu. Pulau Dewata, memang, tapi teramat sangat jauh—dan mahal—dari rumah, dari dapur tempat Bu Anggi mencipta maha karya yang bikin lingkar pinggang kami melar dan berat kami susah turun. Jadi, sebagai anak Bu Anggi y

Attitude, Anyone?

Image
Courtesy of Lugu Gumilar , disedot pas orangnya lagi makan di seberang meja Hidup bukan sekadar menunggu badai reda, tapi tentang bagaimana menikmati berdansa di bawah hujan - Anonim Duluuu sekali ternyata saya pernah “mencela” teman perempuan yang—menurut saya—cantik, bohay, wangi, menarik dan bobokable. Sempat saya berpikir jika saya diberkahi dengan bentuk bodi mematikan—eh, koreksi, menggiurkan—seperti itu pasti saya akan jauh lebih bitchy dari sekarang dan saya pasti punya lebih banyak piaraan mas-mas baik yang tunduk di bawah kaki saya. Tapi tenyata mentalnya cemen. Cuma segitu aja. Kejadian deh sebaliknya: alih-alih membuat lelaki bertekuk lutut di sudut kerlingnya, dia malah terkuple-kuple mengemis perhatian cowok chauvinis abis yang melumpuhkan fungsinya sebagai manusia karena kemana-mana diantar-jemput, makan dibeliin, cuma cebok aja yang nggak dicebokin. But, hey… mungkin dia senang dibegitukan. Merasa jadi perempuan utama yang berada di daftar teratas prioritas lela

What I Think When I'm Riding

Image
Gambar nyomot dari koleksi wallpaper, lupa nyedot dari mana Nothing behind me, everything ahead of me, as is ever so on the road  - Jack Kerouac , On the Road Lari 90 atau 100 km/h emang gokil sih. Tapi kalo ada anjing item nyebrang nggak keliatan dan gue telat ngerem, apa kabarnya ya? Must. Resist. To. Crash. On. That. Battered. Truck!!! (kalo nggak gue bakal tetanus, soalnya berkarat semua) Dije jani, kleng? Terpujilah siapapun yang pertama kali punya konsep bikin sate, dan semua orang yang mengembangkan ide itu sampe jadi bermacam-macam. Mereka adalah orang yang pantas menempati surga! Kalau ada. Should there be fourth, fifth, sixth, seventh dimension, how many the invisibles I crash right now? I wonder... Mesti maketin HDD external. Sabar ya, Ndul. Tadi spaghetti-nya Emak enak sekali... He's getting weird by the day, dying and craving for attentions that he didn't get. Poor him. No one told him that he's wrong. Or perhaps they did but he ignor

Resurrection: Bersihin Kamar adalah Kunci!

Nasihat adalah cara seseorang memperingatkan dirinya sendiri melalui kesotoyannya dalam memandang masalah orang lain. Itu juga kalau dia sadar dirinya bermasalah. Jadi, ketika saya mengetikkan ini, kata pojok kanan atas layar ponsel saya sudah jam 3:29 pagi waktu Ubud dan sekitarnya. Saya nongkrong di lantai teras nan duwingin mampus ditemani suara jangkrik, kodok, dan sesekali lolongan anjing tetangga sementara menunggu lantai kamar kering sehabis dipel. Eh? Dini hari ngepel? Iya. Saya sedang terapi membenahi diri. Karena saya kangen Bu Anggi. Di suatu masa yang rasanya seperti berabad-abad lalu saya pernah diberi wejangan oleh beliau bahwa manusia seringkali dikenang BUKAN dari hal-hal besar yang dilakukannya, melainkan dari tindakan-tindakan remeh yang diperbuat dengan tulus. Dan lagi-lagi kata Bu Anggi, percuma juga mengandai-andai melakukan sesuatu yang besar jika satu tindakan kecil saja gagal terlaksana. Dan entah kenapa saya berasa mak nyos ketika mengasosiasik

Sekadar Pengingat

Penyair adalah mahluk aneh yang bisa mengubah kopi, rokok, malam dan hujan menjadi larik-larik puisi. Saya bukan penyair. Penulis pun bukan. Malu rasanya mau ngaku-ngaku penulis tapi nggak pernah ada satupun karya yang naik cetak. Kan nggak proven and tested jadinya. Nggak kayak temen saya Elia Bintang yang diam-diam sudah bikin 3 novel. Iya, TI! GA! Tapi saya pengen bisa nulis kayak dia, konsisten dan punya napas panjang, telaten ngetik dan baca, dan sabar menjalani proses dari awal hingga selesai. Tapi gini deh, tak kasih ilustrasi: bagaimana rasanya kehabisan bensin di tengah jalan yang tepian kanan-kirinya cuma sawah dan purnama dini hari telah tergelincir turun menunggu aplusan dengan matahari? Buat yang suka parno sama benda-benda tak kasat mata sih pasti bakal bete. Saya? Ya paling minggir, nyalain rokok, poto-poto jika baterai di kamera ber-hp (eh, kebalik ya?) masih cukup atau kebetulan bawa powerbank sambil nunggu pagi dan nunggu orang baik lewat untuk membelikan saya be

Time Stands Still

Image
Picture taken from  here . Real generosity towards the future lies in giving all to the present. -  Albert Camus . So, what are we? Sleeping mates. What else? You sure? Yes. Great. You answer my needs, then. Glad to hear that. But do you need me as I need you? I don't know. Why? Well... I don't need people that much. I am self-provided. Seriously? Yes. But why did you say yes? I don't know. Maybe I'm just lonely. Same here. It takes one to know one, you see. But... Hey, it's okay. I take you as a gift. Why? Because first, it's fun to be with someone who knows and accepts me for who I am. Second, it's great to have a hug or two by a friend. Third, well... because you listen.  That's it? Yes. So where's the "gift" part of me, then? Let me put it this way: have you ever been to the point where you don't need anything anymore? When you fee

Karena Memaksa adalah Kejahatan!

Image
Video di atas itu aneh karena bisa bikin emosi saya campur-aduk sampai mirip muntahan kucing. Ya gimana nggak? Ide kampanye pencegahan perdagangan perempuan di Eropa terjewantahkan dengan teramat sangat keren di situ. Tapi menit ke-1.24 saya hampir menangis. Miris. Saya nggak menutup mata. Beberapa hal yang sulit dilakukan memang ada: ngarep, menyuarakan pendapat berbeda, merebut apa yang menjadi hak, dan membantu yang kesusahan. Sulit, tapi nggak mustahil. Dan suatu hari saya ketanggor tulisan seorang emak-emak bule funky berputra dua. Namanya Magda Pecsenye . Kamu bisa longok twitternya di @AskMoxie . Dia  menulis surat untuk para permata hati dengan bahasa sederhana namun pikiran aduhai terbuka. Saya takjub. Bukan karena dia bule, bukan karena dia tinggal di Ann Arbor, Michigan, Amrik. Tapi karena dia berusaha mencegah anak-anaknya menyumbang masalah terbesar dalam peradaban manusia: pelecehan hingga perkosaan pada perempuan. Ini saya terjemahkan buat kamu yang terkendala bah

Catatan 3: About A Place

Image
Sometimes you want to go where everybody knows your name - Lagu pembuka serial Cheers yang jaman kecil dulu sering saya tonton Pernah dejavu? Berasa kayak udah pernah ngalamin kejadian yang pas saat itu dialami? Selama di Bali sini ya saya kayak dejavu gitu. Berasa nggak kemana-mana, padahal udah nyebrang laut dan pindah pulau. Kok bisa, Pit? Jadi gini… (Siap-siap. Akan selalu ada cerita panjang setelah “jadi gini…”) Tumpukan bata merah itu perapian tempat bakar pizza karena sebelum jadi kedai kopi tempat ini sempat jadi kedai pizza. Kasihan pizza. Dia pasti berdosa seka li sampai dibakar seperti itu... Tahu kan kalo sejak Januari pantat saya ada di Bali? Nah, beberapa hari setelah puas gegulingan sama bocah monster gundul-gendut-unyu, anaknya ibu asuh saya nan seksi dan baik hati, seorang mbak baik yang sudah duluan “buka jalur” di sini ngajak saya ke satu kedai kopi. Namanya Kopi Kultur , gampangnya ya KK. Dia langsung ngenalin saya ke semua orang yang ada