Posts

Showing posts from October, 2009

To One Tired Angel...

Image
Somehow, being great is not enough. You have to be perfect. You have to be what everybody wants you to be. You have to have countless of masks so you won't be disappointing anybody and wear it with exact timing though you only have split second to change into another mask once you meet another people. And it sucks.

Somehow, the temptation is too bitch to be ignored you surrender. Not because you want to but because you simply need to silence the seductress so you could carry on with the life you have. And you're breaking down in the process because the hope raised and the expectation came unexpected. In the end of the day, you know you've taken the wrong turn and you made it into one hell of a lesson learned.

Somehow, it's very exhausting to mend all the things by yourself. I know. You said that million times. And it's all begin with what people called choice, option, consequence. We had this kind of talk before. A long one that I never forget.

But one thing I know si…

Tentang Maktub

Image
Ternyata…

Di Jakarta Selatan dekat Beverly Hills-nya Indonesia masih ada tempat dengan halaman rindang serupa hutan; ada pemahaman tentang privasi; ada kasih dari dua manusia asing; ada senyum penuh pengertian; ada teras dengan jendela besar-besar; ada dunia dengan biaya sewa murah; ada satu petualangan panjang menanti di hadapan.

Dan keajaiban yang mewujud tepat hingga ke renik.

Ini untuk kamu: tentang komitmen seumur hidup, berdua menantang dunia.

Dan ini karena kalian: semua orang yang doanya terselip diantara berjuta pinta seiring helaan nafas.

Terima kasih, Sang Maha Baik. Bahkan ketika saya memohon seekor anjing, Kau kirimkan malaikat lengkap dengan sepotong Eden terlempar ke Radiodalam.

… and the adventure begins…

ps: semoga nggak ada cerita kekuncian dinihari.


gambar diambil dari foto album sang ayah.

Hypocrisy, Anyone?

Image
Menurut kamus online ini, hypocrisy, yang berasal dari abad ke-13, berarti:

1: a feigning to be what one is not or to believe what one does not; especially: the false assumption of an appearance of virtue or religion

Lalu, apa hubungannya dengan berita tentang Miyabi yang saya ambil screenshot-nya di sebelah?

Saya gerah. Beneran. Sumuk, kepanasan, emosi tinggi. Ngapa-ngapain jadi nggak jenak.

Kenapa? Karena kemunafikan ini semakin menjadi-jadi. Katanya Miyabi merusak moral bangsa. Setau saya, bangsa itu hanya satu kelompok besar, terdiri dari individu-individu yang berdiri sendiri, punya otak dan hati sama sepeerti manusia lainnya, dan punya pilihan sendiri. Mereka hanya KEBETULAN berada dalam satu tempat yang sama. Ada juga yang bertebaran di berbagai negara lain, namun karena akar dan budaya, mereka masih merasa bangsa Indonesia.

Satu hal yang saya nggak abis pikir dengan FPI yang katanya Front Pembela Islam. Islam sebelah mana yang kalian bela? Saya jengah dengan kelompok-kelompok yang …

Relativity, Anyone?

Kemarin saya terkapar tak berdaya di kamar kos, sejenak setelah membuka mata, pagi pukul delapan. Kepala rasanya seperti dihantam kontainer tiga biji sarat berisi muatan, lengkap dengan supir dan keneknya. Untuk mencetin keypad di ponsel dan mengabarkan saya absen saja rasanya susah sekali. Kelemahan saya memang di kepala dan perut. Antara sakit kepala dan mules, meskipun tampang berusaha dibuat sangar dan galak.

Hampir setahun yang lalu rekan seperburuhan saya yang cantik, manis, dan kalem pulang dari perawatan di Belanda. Dia bercerita tentang biopsi, ketika jarum diameter lima sentimeter menusuk tulang ekor tanpa anestesi. Sakitnya tidak tertahankan. Dan karena trauma hebat setelahnya, dia baru bisa bercerita beberapa bulan kemudian. Saya hanya terhentak tanpa bisa berkata apapun di hadapan perempuan dengan airmata leleh, di suatu sore.

Kami berdua punya ambang sakit berbeda. Baginya, mungkin biasa untuk merasakan sakit kepala berkepanjangan dan mimisan tak berkesudahan. Hampir tiap …

Tentang Pasrah

Image
Malam tadi saya dinner lagi bareng lelaki kurus berwajah tirus, orang yang sama dengan siapa saya berbagi malam takbiran. Sehabis libur Lebaran baru malam itu kami bertemu. Mendadak, setelah kami bertukar celaan (penanda keakraban yang aneh bagi orang-orang di sekeliling saya), ia mengajak saya makan sate padang.

Bukannya tanpa persiapan saya menuruti ajakannya. Dia adalah salah satu dari dua orang ‘berbahaya’. Makan atau nongkrong berdua saja bareng lelaki-lelaki usia tiga puluh tiga yang saya kenal dalam satu komunitas ini sebenarnya hanya ‘same shit different day’. Sebagai ‘adik’ mereka—saya yang mengaku-ngaku sementara mereka melepéh-lepéh—saya hanya akan ‘digampari’ dengan berbagai cerita sehari-hari yang sepertinya dipetik dari udara namun kental makna. Padahal saya sedang menunggu gamparan orang ’berbahaya’ satu lagi yang tak kunjung datang.

Sesudah beberapa kunyahan, awalnya adalah batik yang saya protes keberadaannya secara serempak dalam satu hari. Hanya untuk satu nasionalism…