Posts

C O M P A N Y

Image
Ini tempat saya nongkrong di malam hari. Selain kopinya enak dan murah, bukanya juga agak nggak manusiawi. Pukul 7 malam hingga 2 atau 3 pagi. Sungguh sangat akomodatif untuk saya yang susah tidur.

Di sini saya bertemu banyak orang dan belajar banyak pada mereka. Misalnya, si pemilik yang saya kenal dengan nama Pak Gareng, orang Jawa yang memanggul falsafah Jawa tinggi sekali dan sangat sumeléh pada tempatnya. Atau Mas Dytok, pekerja film perfeksionis yang santai membantai hasil iseng-iseng saya bikin skrip. Dan... Bli Ganteng, bapak beranak satu yang sebenarnya biasa saja sampai dia datang habis kondangan dengan masih mengenakan baju adat. Duh, ngeliatnya aja rasanya indung telur saya hampir meledak. 
Tanpa mereka sadar, mereka adalah kawan saya menghadapi diri sendiri. Saat lelah menyapa setelah babak bundas bertempur dengan monster-monster di kepala, mereka rehat saya.
Terima kasih untuk semua pelajarannya. Semoga kalian selalu dalam kasih semesta.

BLACK CAT

Image
"Why do you keep a black cat? It has eyes of a devil!"
"Black cat is evil manifestation. Aren't you scared?"
"Your black cat is a girl?! Evil, man... That's a pure evil, she is!"
"You know what? All witches have a black cat. It's bound to do bad, devilish work."

I don't blame those people saying me those bullshit. They are brainswashed too much by cheap horror stories and B-movie flicks. I laughed it off and waved them out like keeping away annoying flies.

What they don't know is that I AM a witch. I make things happen after I had my own black cat. And she's my second in command, my comrade in arms. She's the closest after my own heart.

Tomorrow they can't say anything anymore. They will wake up with lips stitched nice and tight. I just sent my black cat to do it tonight.

Fere libenter homines id quod volunt credunt. Fiat voluntas tua.
Men will believe what they want to be true. Let there be light.

MAT-MATAN

Image
Menurut Wiktionary berbahasa Jawa, mat-matan adalah sesederhana enak-enakan. Padahal artinya lebih luas dari itu.

Beberapa tahun saya di Jogja, mat-matan bertebaran di mana-mana. Menyergah bapak tukang becak di Malioboro setelah mengantar turis berisik dari Jakarta belanja bakpia, mengendap di angkringan sudut jalan Sangaji pada seorang mahasiswa di hadapan teh jahe dan dua bungkus nasi kucing, atau merengkuh tukang parkir di pinggir Jalan Solo yang nikmat menghisap kretek sambil duduk mencangkung.

Mat-matan menurut pengertian saya adalah kondisi tercukupkan, bahagia, in the moment, tanpa mikir cicilan KPR atau tunggakan kamar kost, menafikan tanggal gajian yang hilalnya masih jauh sementara duit tinggal seciprit, dinikmati pelan-pelan tanpa bisa diletakkan dalam kerangka materi maupun durasi.

Tapi jika Eyang Marx kenal mat-matan mungkin kita nggak bakal kenal Das Kapital, karena perubahan digerakkan oleh mereka yang pemenuhan kebutuhannya nggak ada di Diagram Maslow, sementara mat-matan…

C O N S U M E D

Image
I put you high on a pedestal
You trampled it down, thoughtless, unregalled
I gave you all, a heart drenched in my blood
You took them all with nothing but the word slut
I trusted you the knife, I gave you my back
Yet you put my head as a trophy in your rack

So here are my curse that I cried to the stormy night in thunderous wrath:

You will kiss the sole of my feet and bathe them in your tears
You will live a sorrowful life, insatiable thirst, incomplete orgasm, pitiful fuck, and hollowed soul
Your death will be awfully painful and your life would be more
Until then your eyes will open and those wrongs will haunt
And I'll be long gone watching from afar
Knowing you'll find no solace
Once and for all


Rise of the Machine

Image
This battered, unassuming coffee machine is alive when no one's around. Its eyes will blink once and twice, then it will look in the perimeter. If it's sure it's alone, arms and legs are sprouting from its sides, clinking its perceived heels, and dancing into the night.

There, right in the corner, it rushes to a toaster with stiff joint and low grumble, holding a worn out spatula as a walking staff. It owned by an old spinster down the road, fifth house on the right, the one with askew window and almost unhinged door but surprisingly clean and neat. She lives alone after her marriage was ruined by the absence of a groom. The toaster was one of the presents, regifted from the guest's own wedding ceremony, wrapped in plain brown paper and tied with a bow.

Oh, and there comes the fan from another house, trying to tiptoed silently from the window sill. And food processor from another, hair dryer with its cable intertwined with a hair straightener's (they live side by si…

K A N G E N

Image
Udara mengental bersama hasrat terlarut dalam buliran peluh, menggesek kulit yang berkali lipat lebih peka, menerjemahkan sentuhan paling lembut menjadi geletar yang bergerak sepersekian detik dari ujung rambut ke ujung kaki untuk membuncah di antara pertemuan paha dengan paha.

Lelaki dan Perempuan menarikan tarian purba berlatarkan seprai masai, remang lampu, derit ranjang, dan erangan dan desisan dan makian dan nama Tuhan. Menghentak, melambat, berderap, melenguh, menggeram, lalu pungkas dengan helaan nafas panjang.

Pentas selesai. Mereka berbaring bersisian beberapa saat sambil menatap langit-langit dan mengatur sengal-sengal yang tersisa sampai ruangan kembali senyap. Sesungging senyum melebar dari wajah Lelaki saat pangkal pahanya kembali hangat oleh sentuhan.

"Mau lagi?"
"Nggak. Aku kangen."
"Ya ampun. Baru juga selesai, mosok udah kangen," ujar Lelaki sambil merengkuh Perempuan dan membimbingnya berbaring di dada.

Sambil meremas lembut daging yang t…

C A N D U

Image
Apapun yang membuatmu merasa tergantung, tidak bisa lepas, merasa hampa saat itu nggak ada, adalah candu. Termasuk rokok, kopi, ganja, obat, alkohol, dan pacar/selingkuhan/cemceman/fuckbuddy. Candu bagi saya adalah kopi dan rokok. Meskipun nggak segitunya banget, tapi saya tetap merasa mati gaya, buntu, dan nggak bisa mikir saat dua benda itu nggak ada, terutama saat sedang bekerja.

Namun ada masa-masa saya tak berdaya dan mesti pasrah tanpa bisa kabur bersama candu-candu saya. Ketika saya nyeri haid (yang artinya nggak boleh ngopi kecuali saya rela didera sakit perut tak berkesudahan) dan radang tenggorokan (karena asap rokok akan memicu produksi lendir lebih banyak dan membuat sinusitis saya berontak).

Pencapaian saya melawan kecanduan adalah saat masih di Jakarta, sesaat setelah saya tahu bahwa sakit kepala berdentam-dentam seperti ada yang memalu otak, dan bau nanah memuakkan yang terhirup setiap saya bernapas hingga tak mampu membedakan bau lain, adalah positif sinusitis. Saya j…

A M I

Image
2016 adalah kali pertama saya mengenalnya tanpa sengaja. Waktu itu saya agak khawatir dengan kebiasaan merokok yang tambah parah, lalu mencoba mengalihkannya ke hal lain. Secara teknis ini sama ketika kamu masih dibayangi kenangan mantan dan kamu perlu cari gebetan sebagai pengalihan. Dan seperti apa yang Eyang Coelho bilang di The Alchemist, ketika kamu amat sangat menginginkannya maka "universe conspires". Begitupun keinginan saya. Sayangnya, saya nggak sedang membicarakan mantan. Jadinya nggak begitu drama.

Pengalihan dari rokok ini adalah amigurumi, teknik merajut yang digunakan untuk membuat boneka. Gampang? Ya nggak lah! Saya menghabiskan lebih banyak rokok saat belajar 😂

Untuk mahir membuat dasar saja saya perlu waktu dua minggu di sela profesi saya yang apapun kerjaannya, ujung-ujungnya jadi deadliner. Itu baru dasaaar banget lho. Belum cemacemnya yang membentuk badan, tangan, kaki.

Tapi teknologi saat ini memungkinkan siapapun belajar apapun, asalkan ada gawai dan …

K U C I N G

Image
Ginger cat gondrong ini namanya Mika, dan si putih ginjut di sebelahnya adalah Zorro. Mereka dua dari empat kucing di Rumah Sanur, anak-anak Papa Dethu yang diangkut dari Jakarta ke Bali. Mereka kruntelan di kursi sebelah meja, nemenin saya yang sedang berjuang demi menyelamatkan mesin pencari nafkah satu-satunya. Mereka yang meredam amarah dan keputusasaan saya mendapati 4GB dan hampir 5 jam terbuang sia-sia karena download berhenti di tengah jalan. Tinggal benamkan muka dan kepala saya yang panas ke perut lembut mereka and the world is a better place once again!

Dulu saya selalu mengidentifikasi diri sebagai dog lover. Setahun lalu semua berubah, gara-gara seonggok unyu kitten tak berdaya yang tidur mlungker di kolong kursi Helmen Coffee. Dia kecil sekali. Beberapa jam sebelumnya dia diselamatkan seorang teman dari tengah jalanan Denpasar yang aduhai ramai, berhadapan dengan motor dan mobil dan truk yang baginya mungkin seperti monster raksasa yang siap menggilasnya rata, membuatnya…

Jaen Idup di Bali (?)

Image
Saat entry ini dibuat, Bali sedang riweuh. Gunung Agung yang akhirnya tak kuasa menahan gejolak dalam dada mulai terbatuk-batuk sejak lima hari lalu. Saya masih lumayan beruntung. Tempat saya tinggal di Ubud bahkan tidak tersentuh abu vulkanik meskipun saya masih bingung sebentar lagi kontrakan habis.

Tapi saya nggak mau ngomong soal Gunung Agung. Saya mau cerita soal manusia yang bersinggungan dengan saya kemarin pagi utuk-utuk.

Karena malas basah-basahan pulang dari ngopi-ngopi ngantuk di Sanur, saya menunggu hujan di teras CK. Jam empat lebih sedikit dan mas-mas dengan jaket salah satu ojol tergopoh-gopoh setelah memarkir motornya dan minta izin duduk di depan saya. Beberapa saat basa-basi-busuk lalu dia cerita habis "dikerjain" kastemer. Soto daging sapi dan seporsi nasi yang dipesan tak bisa dia antarkan karena mbak yang order nggak bisa dikontak. Saya yang sering baca drama-dramanya di Instagram ya trenyuh to yaaa. Karena masih ada uang lebih saya bayarin lah itu soto…