Posts

Showing posts from January, 2010

Tentang Adzan

Image
Ada yang selalu membuat saya terkesan pada senja, ketika siang bersiap masuk ke peraduan dan malam meraja. Seperti sakral dan mistis, seperti melihat berpadunya air dan api namun tidak saling mematikan.

Dulu, ketika saya masih (dipaksa) sekolah jauh dari rumah dan kumpul bersama beberapa kebo cantik (Hay Ooz, Idung, Ucok, Sumpel dan Tyan! *mendadah*), saya sering membawa mug berisi kopi dan naik ke lantai tiga. Menikmati pendar ketika matahari mengecup rembulan lalu aplusan. Meskipun saya tidak bisa melihat cakrawala karena tertutup atap rumah dan pepohonan, saya tersihir pada semburat langit yang seperti warna kesumba.

Namun saya sering tak boleh bermasturbasi dengan senja sendirian. Akan ada suara orang mengaji yang disetel dari mesjid terdekat, menjadi pengantar sebelum datangnya adzan. Padahal kepak sayap burung-burung berarak pulang ke sarang lebih merdu terdengar.

Si Babab, yang berjamaah di mesjid terdekat hampir tiap maghrib, pernah protes. "Kenapa sih adzan itu nggak gantia…

Me, Myself, and I

Dance there upon the shore;
What need have you to care
For wind or water's roar?
And tumble out your hair
That the salt drops have wet;
Being young you have not known
The fool's triumph, nor yet
Love lost as soon as won,
Nor the best labourer dead
And all the sheaves to bind.
What need have you to dread
The monstrous crying of wind?

- To a dancing child in the wind, YB Yeats
As I read the poem, I remembered the days when I was much, much younger, and more stupid, worried about nothing, fearless of what may come, and fierce to my own young flesh.

I remembered climbing high on a treetop, feeling like I was a witch queen on top of the world, watching my kingdom where I reigned from above, feeling the breeze on my cheeks and playing with my ponytail. And afterwards, I fell from a small branch, too small to hold my little limbs, on my way down. As soon as I landed chin first on a humongous rock the blood oozed from the open cut, stinging so painful it awoke all of my senses (and I still recalled…

Point of View, Anyone?

Ini lucu.

Suatu hari ada seorang teman yang mengeluh nggak punya baju padahal saya tau rata-rata seminggu sekali dia berbelanja di Zara. Entah blus atau celana kasual, meskipun mungkin yang dia belanjakan kurang dari seratus ribu rupiah. Well, saya menatapnya dengan raut wajah datar. Dia berasal dari keluarga berada dan bersuamikan lelaki kaya. Jadi, akan sangat wajar jika ia bisa seenak perut memburu benda bermerek yang diskonannya pun saya masih pikir-pikir membelinya. Saya? Setaun sekali pun belum tentu karena entah mengapa uang dan saya tak pernah bisa bersahabat dalam waktu lama.

Lalu ketika jari, mata, dan otak saya iseng di suatu siang pada jam seharusnya saya memburuh, saya kepentok lah sama blog salah satu teman saya. Di sana dia bercerita gegap gempita tentang bagaimana dia mendukung perubahan pribadi dengan memamerkan foto-foto anak kecil yang tinggal di kolong jembatan lewat Bahasa Inggris patah-patah. Ternyata dia ikut sayembara penulisan dimana peserta yang menang berhak a…