Posts

Showing posts from April, 2008

A Masochist Note

Will you be there beside me
If the world falls apart
And will all of our moments
Remain in your heart
Will you be there to guide me
All the way through, I wonder will you
Walk by my side, and follow my dreams
And bear with my pride, as strong as it seems
Will you be there
Tomorrow

Will you be there beside me
As time goes on by
And be there to hold me
Whenever I cry
Will you be there to guide me
All the way through, I wonder will you
Walk by my side, and follow my dreams
And bear with my pride, as strong as it seems
Will you be there
Tomorrow


Dua dinihari lalu lagu ini seperti mendobrak dari dalam kepala saya, ingin menyeruak lepas, menjalar-jalar selalu kian kemari hingga dapat menggerakkan lidah dan menggali paksa memori purba yang dorman di balik sel-sel kelabu otak, menendang-nendang pita suara dalam tenggorok untuk bergerak dan mencambuk semua organ di dalam turut bernyanyi. Bernyanyi, teriak, mengenang peristiwa apapun yang berasosiasi dengan lagu asu tersebut. Padahal saat itu telinga saya rapat …

Love is In the Air

Satu jam lima menit dari tengah malam dan saya baru selesai mandi: usaha terakhir saya jika ingin segera lelap. Meski di luar rinai hujan melenakan, kamar sejuk, nyaman dan bersih serta seprai masih wangi pelembut, saya belum juga mengantuk. Jika saya memaksa rebah, saya hapal di luar kepala runtutan kejadiannya. Begitu lampu dimatikan dan mata terpejam, lima belas menit pertama adalah pertarungan saya dengan bantal dan guling yang nanti hanya berakhir sebagai penutup kaki--dua-duanya. Lima belas menit berikutnya adalah repotnya saya dengan selimut sambil mencari posisi (biasanya telungkup dengan satu kaki sedikit tertekuk dan wajah menghadap ke kiri). Lima belas menit lagi adalah usaha saya untuk menenangkan pikiran dan berusaha rileks, dan pasti bakal gagal. Jika saya masih memaksa, tiga puluh menit kemudian saya akan bangun dengan tampang kusut, rambut awut-awutan, beranjak dari tempat tidur sambil menenteng rasa sebal lalu menyalakan lampu sambil menggerutu. Daripada menghabiskan…

Some Kinda Shoutout

Saya pernah diprotes seseorang yang mengira saya orang Jogja asli. Dia bilang untuk ukuran perempuan Jogja saya tergolong kasar karena seneng misuh. FYI ya Mbak. Bibit saya Portugal. Ibu Purworejo (meski lahir dan besar di Jakarta) dan Babab Tegal (ya, saya bangga berdarah Tegal karena di Jakarta para esmud nggaya berduit sedikit, tukang ojek, buruh pasar dan tukang kain nggak mampu makan jika tak ada Warteg). Saya lahir di Depok, Jawa Barat. Kelas tiga SD saya pindah ke LA, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. SMP kelas satu saya pindah ke Depok (lagi). SMA saya pindah ke Bekasi ikut orangtua saya yang pindah duluan ke sana. Kemudian Babab dan Ibu saya yang belagu itu pengen anaknya jadi sarjana. Jadilah, saya terbuang di Jogja. Tanpa menghasilkan ijazah, tentu. Jadi, santai saja, Mbak. Jogjamu bersih tanpa saya. Pék en wes. Gak ngurus.

Namun entah kenapa saya selalu merasa Jogja adalah pulang. Disana saya berproses menghadapi Jakarta, kota saya sendiri. Di Malioboro saya pernah nongkrong …

When Freedom Shut (Ketika Kebebasan Dibungkam)

Hear us, world! Hear us the Indonesians, mourn for our freedom of speech, freedom of expression. Crushed by our own rulers/decision makers who promised to speak out our voices. Based on righteousness hypocrisy, they prevent our eyes to open and see the brutal truth and listen to an egomaniac, self-proclaimed expert in telematics instead--while all he did was just checking porn images from local good-for-nothing celebs and making unquotable quotes.

French peasants had to write their heart-boiling stories down with their blood in the dungeon walls back then, and we blog our cry for help now. Should we get back to the Dark Age while people had walked on the moon--literally--long, long time ago? Should we conduct revolution for the sake of writing some phrases, seeing some footages, accessing some internet sites, making some inter-regional new friends, or simply to tell the world how miserable it is being disabled to eat since our wages could not afford it?

WHERE ARE OUR VOICES, MY DEAR GOV…

The Thought of A Dying Lover-at-Heart

As a proud Sagittarian, this bleeding heart would recuperate in no time. Still, I draw the conclusion that maybe I'm no good to any living woman. Perhaps I destined to live alone. Very well, then. Let's be alone, shall we?!
An online friend after 15 fast-paced minutes of whining over the lost love who got another lover.


Ah, sudahlah. I mourn for you, my dear friend. I really do. If only I could pacarin you, we'd be in bed together long, long time ago. With cigarettes in our hands and dreams in our heads, and silence after one, long and hardly ending argumentations. You're my long lost half...


Judul diadaptasi dari sini.

Untitled 0.0

Hey, Bodoh.
Saya disini. Saya, yang masih menunggu jendela dengan nama 'asu bajingan' bergoyang saat tersambung ke internet. Terkadang rindu Bandung dan rumah germo kita itu yang riuh tawa penghuni kampung, asap sate, serta cumi bakar (dan Wild World dan Mr. Jay). Atau Warung Indung dengan bercangkir-cangkir Kopi Aroma. Namun saya lebih rindu pada malam di Bunderan dan janji es krim satu liter yang bakal kita habiskan bersama.

Kita masih berteman dan kamu masih soulmate saya. Saya hanya menjauh untuk memberi ruang pada kesayangan barumu agar dia bisa beradaptasi dengan kamu dan lingkaranmu. Kebetulan pilihan saya untuk melacur pada pabrik penghasil topeng di ibukota demi segelintir rupiah membuat saya tidak bisa bergerak belakangan ini. Dan uang yang sedikit itu seperti pasir dalam genggaman, meluncur cepat dari sela jemari saat upah dibagikan. Jadi, maafkan jika saya lupa berkabar karena belum lunas tagihan pasca bayar.

Kamu perlu seseorang untuk dirimu, yang kamu pilih sendiri,…

Posting Ternajis Sepanjang Sejarah

(Ceritanya sekarang mau lebih reader-friendly buat siapapun yang baca, demit maupun manusia)

Waktu iseng mencermati beberapa posting terakhir, gwa baru nyadar kalo gwa amat sangat bitchy sekali. Lebih drama queen daripada seseorang yang jidatnya gwa stempel pake gelar yang sama tempo hari. Ya gimana nggak, wong mostly gwa ngomongin diri sendiri dan ngeluh-ngeluh menjijikan. Tadinya malah pengen gwa kasih backsound suara orang menangis tersedu-sedu (bunyinya du... du... du...) dan terisak-isak (nggak usah gwa contohin ya. Use your imagination) biar lebih dramatis. Untung gwa nggak tau add-onnya saking amat sangat terlalu gaptek banget. I mean, kadang-kadang mengeluh emang nggak papa sih. Tapi kalo keseringan? Bete juga jadinya. Gwa yang ngetik sendiri aja geuleuh, gimandra yang baca yax?! Bukan begitu, Bokir?

Ya gwa emang moody. Kadang suka enak, seringnya nggak. Dan gebleknya orang sering nggak tau gwa lagi dalam mode apa saking setelan muka gwa emang cengar-cengir bego nggak jelas. Dan…