Posts

I've Got The Power!

Kamu tahu nggak bahwa tirani kekuasaan bisa didapat dari mikrofon kancing? Kalo nggak percaya, pantengin televisi dan cari program talk show yang berbalut lawakan atau minimal yang presenternya pelawak kelas dua. Atau untuk lebih jelasnya, cari deh berita tentang keplesetnya salah satu pembawa acara merangkap penghibur--entah siapa yang dihibur--yang menjadikan perkosaan sebagai bahan tertawaan. Nggak hanya itu. Di acara-acara offline yang ada MC-nya saya sering mendapati si pemegang mikrofon ini menyalahgunakan kekuasaannya dengan mengolok-olok penonton yang harus naik ke atas panggung. Misalnya dengan mengatakan "Wah, pegangan. Gempa nih!" waktu yang dipanggil ternyata bertubuh besar. Atau "Cieee... baju masa kini, muka masa gitu?!" ketika si 'korban' ternyata dandanannya oke banget tapi giginya tonggos. Dan ini salah satu alasan saya untuk males ikut games di acara-acara kayak gitu meskipun hadiahnya bikin liur menitik. I'm through being a laughings...

Surat Untuk Yang Wafat

I don't think you trust in my self-righteous suicide ... and I cry when angel deserves to die. -   Chop Suey, SOAD Hey Lae, Gue kenal elu dari berita, waktu elu ikut jejak Thich Quang Duc si biksu Vietnam Selatan yang laku obong karena memprotes kebijakan pemerintah tentang penyiksaan rekan-rekannya taun '63. Nggak lama, Berita tentang elu lalu tergusur hal-hal lain yang nggak menyenangkan, yang beberapa diantaranya mungkin jadi salah satu alasan protes lu di depan istana itu. Seminggu kemudian gue denger elu mati, juga dari portal-portal berita, dari tulisan orang-orang yang nyinyir, yang sok tau dan sok asik ngebahas elu pake gaya komentator sepak bola. Elu rame jadi omongan orang, online dan offline. Lu nggak tau sih, gimana mereka yang bahkan nggak kenal elu bisa mati-matian belain apa yang lu lakukan. Sementara yang otaknya kerasukan Tuhan menuduh elu nggak menghargai hidup dan menyia-nyiakan berkah berbentuk otak encer dan ...

Re: defined

Define Marriage: the ever-improving art of bullshitting the girls to walk into a deathtrap to ease the boys when they're hungry or horny in the middle of the night. Define wedding: the event where you can smell the flowers of your own funeral. Define wedding ring: the smallest handcuffs in the world to tie down and box up the whole aspects of your life. Define wedding vow: the sweetest words of the serpent's tongue in your Garden of Eden that will make you lose your innocence. And I haven't gone to the bed time part. Define husband: The One Who Holds Your World, Your Life, Your Decision; The Almighty, The Ruler, The Breadwinner, The Righteous, The One Who Must Be Obeyed, The Smartest, The Highest. Okay, are we done? Define in-laws: the additional problems you desperately need. Like a bullethole to your head and a bicycle to a fish. Define household: 21st century slaughterhouse for your dream and the most sophisticated, legalized and institutionalized sweatshop e...

Immi Sayang…

Halo, Immi! Aku denger kamu mau sekolah ya? Aku jadi inget waktu pertama kali aku pakai seragam putih-merah. Cupu abis. Aku kayak bayi besar. Aku nggak TK, jadi langsung masuk SD. Kata ibuku, di TK cuma diajarin makan sama nyanyi. Di rumah juga bisa. Dan waktu ibu sadar semua teman sepermainanku—yang rata-rata lebih tua—sudah mau masuk sekolah, ibuku rada panik aku nggak punya teman. Makanya aku disekolahin aja, jadi murid paling bongsor dengan umur paling muda di kelas. Immi udah bisa baca? Waaah. Keren. Mommy dan Daddymu hebat banget tuh, kamu kecil-kecil udah bisa baca. Aku kenal Daddymu lho dari blognya. Dulu banget aku suka baca. Terus berenti gara-gara aku suka sirik, haha! Abis Daddy kamu kalo nulis bisa bagus banget gitu, pake bahasa Indonesia maupun Inggris. Dari tulisannya juga aku tau kalo Daddymu orangnya jujur, tegas dan baik. Makanya dia bilang kalo dia sakit di calon sekolah kamu. Sayangnya calon sekolah kamu nggak sebaik dan sejujur Daddy kamu. Immi, Aku sedih k...

Tentang Menjadi (Pemberontak) Perempuan

This summary is not available. Please click here to view the post.

Yo, Bro! Don't Get SickO!

Image
Ruang tunggu. Menunggu mati. Bayangkan: negara dengan jaringan rumah sakit yang satu sama lain terhubung melalui asuransi dari penduduk yang membayar premi. Sebagaimana iklan-iklan yang sering kita dengar dan lihat di televisi (atau ketiban apes menanggap agen berprospek), kita tidak pernah tahu kapan kesialan melanda. Misalnya, sudah terlanjur menjalani hidup sehat, olah raga secara teratur, asupan makanan pun diperhatikan, tidak merokok atau minum minuman yang mengandung alkohol dan soda, tapi mendadak dua jarimu putus terkena gergaji kayu. Atau ternyata dokter bilang kamu kena kanker stadium awal dan harus segera dilakukan tindakan agar penyakit tidak menyebar ke mana-mana. Asuransi menjawab semuanya, menyediakan pelayanan medis dan membayar pengobatan yang dibutuhkan. Kedengarannya keren ya. Namun bagaimana jika semua itu tak lebih dari satu bentuk penipuan besar-besaran dan terorganisir? Michael Moore membedah semua busuk layanan kesehatan dan asuransi di Amerika di film ...

Tentang Hantu di Sudut Pikir

Ia meringkuk di pojok, lutut sejajar dengan telinga. Sepasang tangannya memeluk betis dan wajahnya nyaris tak terlihat tertutup rambut. Namun aku tahu ada sepasang mata menatap galak menghunjam punggungku yang duduk membelakanginya. Sudah tiga jam terakhir ini dia ada di situ, tak bergerak. Tapi matanya mengikutiku ke manapun. Menonton, membaca, menyeduh kopi, hingga aku masturbasi. "Kau tak lelah begitu terus sedari tadi?" Aku bertanya dengan suara yang-sebenarnya-tidak kuusahakan bernada keras. Entah mengapa malah menggelegar mengisi ruangan dengan frekuensi kemurkaan meruap hingga ke langit-langit.  Seonggok sosok yang tidak penting-penting amat itu akhirnya bergerak dengan bunyi gemerisik halus. Mungkin merasa tak nyaman atau bosan. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu," ia menjawab. Suaranya sedikit menggema dan jauh, seperti datang dari sumur kering tak berdasar. Dudukku menegak. Berani sekali! Tanpa pikir panjang kuhampiri dia, sepucuk kehin...

Mbak Yani

Mbak-mbak cantik depan kamar saya yang suka sekali gonta-ganti pacar akhirnya pindah karena "lakinya" yang sekarang nggak sreg dengan kamar 3x3 tanpa AC-nya itu. Saya melihat dia melintas dari warung tempat saya makan malam, menggeret koper pink sebesar lemari ke sebelah gang tak jauh dari kost saya. Akhirnya! Malam-malam saya terbebas dari looping lagu rohani-yang saya curiga sebagai alat pelet mendapatkan pacar baru-yang biasa dia setel dari malam hingga pagi! Haleluya! Beberapa hari kemudian kamar itu kembali terisi. Bukan oleh anak kost baru melainkan oleh seorang perempuan muda bersahaja usia dua-dua. Mbak Yani, begitu kami memanggilnya. Dia asli Pemalang, kerabat penjaga warteg sebelah. Tante Krista dan Om Jon, pasangan sepuh tanpa anak yang juga induk semang saya, akhirnya memutuskan untuk menggaji asisten rumah tangga karena kebun dan rumahnya yang luas sudah tak mampu mereka tangani hanya berdua. Tante harus menyerah pada sakit yang mengharuskan beliau rajin check ...

Tentang "Dikocok-kocok" dan "Keluar di Dalem"

Ini cerita tentang kejadian dua hari lalu. Maaf, bukan cerita jorok seperti judulnya. Malah kebalikannya. Jadi begini… Saat itu siang gerah di pojokan Jakarta dan sayangnya saya harus keluar kamar menyelusur aspal demi menyambung napas ketemu klien--satu hal yang paling dihindari mahluk nokturnal berkaki dua seperti saya. Beberapa mbak-mbak dan siswi SMU yang semuanya berjilbab menaruh pantat di sebelah saya pada jok Metromini 72, di deretan kursi paling belakang. Mereka lumayan berisik, cicit-cuwit cekikikan nggak penting, menafikan kemacetan lengas yang meresap masuk dari celah jendela dan pintu terbuka. Lalu seorang penjual stiker melompat naik, membagikan dagangan yang dia sebut "murah meriah", yaitu dua lembar kalimah suci tentang nama dan kebesaran Tuhan. Tak lama kemudian bis terguncang-guncang memasuki mulut terminal yang aspalnya berantakan kayak muka saya. Penjual stiker yang selesai memunguti kembali dagangannya dari para penumpang berdiri di depan saya. Bib...

Semacam Acak

Ini pagi melankoli sekali seusai kemarin menjadi saksi ketika seorang teman baik akhirnya berlabuh dan berjanji hanya pada satu Larashati. Tidak, bukan masalah patah hati dan semacamnya. Tapi bagaimana keyakinan dan keteguhan terhampar secara sederhana, melampaui semua ketakutan yang termaktub dalam teori kaum urban pengecut yang tak berani ambil resiko berbagi tentang segala "what if".  Sementara sang ratu sehari merasa semua hanya seremoni tak berarti dengan berbagai konon dan harus yang digelembungkan hingga sebesar menara gading tingkat delapan. Lagi-lagi ini hanya masalah geser pantat: akhirnya semua hanya berakhir sebagai panggung pertunjukan. Hal itu akan membuat segalanya lebih gampang diurus. Dingin dan profesional, meskipun sebenarnya dia sangat hangat. Ini pagi melankoli sekali, karena satu-satu rekan "seperjuangan" pergi. Tapi semua memang hanya tinggal menunggu hari. Hari dimana kita tak lagi bisa mengelak dari keharusan karena tak ada pintu terbuka...