Posts

Another Fake Orgasm

And that is this fuckin' blog thingy is all about. I'm doing nothing but satisfying my crave of attention. I'm through playing wannabe martyr. I'm done being fallen, unrecognized heroine. My time has come to retire from a miserable drama queen. For all of the unfortunates who are not blessed by fluent English, I'm saying this out loud: Saya selesai sampai disini. Entah sampai kapan. I'm not impersonating that guy in wordpress that fetched various statements from those who despised him and he tired of them. My visitors are mostly nice people and I would kill to be that popular. Don't put too much honors to yourself. No, it's not because of all the godamned fuckin' irrelevant comments. It's not because of how you put your stupid values upon me either. It's just somehow I feel enough. I'm finished with my broadcasted, no good, ridiculous state of minds that I blatantly pushed before your very silly faces and shoved up to your brain and feel ...

Hey, Han. AgamaMu Apa?

Sering gwa dipaksa jomblo kalo lagi nongkrong ama temen-temen gwa yang kebetulan sering melontarkan ide-ide (yang menurut orang lain) subversif. Gwa harus meniadakan Pacar gwa sementara supaya masuk ke term mereka. Dan kemarin gwa ngobrolin masalah ini sama seseorang, tentang gimana agama itu cuma bikinan manusia. Wahyu? Oh, di tempat kami biasa nongkrong sering banget orang-orang ketiban itu. Entah datengnya dari 'penghuni' Planetarium atau dari Dia-Yang-Namanya-Boleh-Selalu-Disebut. Salah satu manusia fucked up (slash mentor dalam urusan pervert ) pernah meng-kupipes gagasan yang dia dapat dari salah satu milis. Menurut kupipes itu, Indonesia sama sekali nggak pernah merdeka dan terang-terangan menindas rakyat dengan memaksakan lima agama 'impor' tanpa mempertimbangkan kepercayaan lokal yang lebih dulu ada. Padahal nggak harus gitu lah. Negara nggak berhak ngurus kehidupan warganya sampe ke level se-personal itu. Sama halnya negara nggak berhak ngurusin rakyatnya mau...

Capitalism, Anyone?

Konon, manusia pernah menemukan cara mencukupi diri dengan saling menukar barang. Kalo misalnya gwa perlu ayam untuk dimasak dan Oknum M butuh wortel ( untuk apa? Tanya sendiri ), kami tinggal barter. Setelah itu gwa bakal bahagia menikmati semur ayam dan Oknum M akan mengerang dengan wortel. That's what I call fair trade. Everybody's happy and no harm done, kecuali terhadap ayam dan wortel. Dan si Oknum M, mungkin. Kalo dia nggak pake KY jelly atau saos sambel. Zaman berubah. Manusia selalu berusaha membuat hidup lebih baik dan nyaman, karena itu banyak tercipta alat bantu. Mulai kapak batu hingga cangkul ketika zaman pra-sejarah makin progresif--meramu, berburu, hingga bercocok tanam. ( Gwa baru tau kalo jaman pra-sejarah udah ada sekolah Hogwarts. Ada pelajaran meramu segala! ) Kata Eyang Darwin, evolusi berawal dari Homo Soloensis hingga Homo Sapiens ( ya ya, ini cuma to make long story short, jangan protes! ). Dengan berubahnya fisik, alam, lingkungan dan organ berpikirnya...

I (Don't) Hate Monday (If She's Around)

Me : Hi there, beautiful Me : (= Her: Hei!!! Ya ampyun! Sibuk kamu sekarang? Me : Nggak sih. Biasa lah, Senin. But I always have time for you, Gorgeous Me : (= Her: Haha... Her: I miss youuuuuuuu... Kangen ngobrol gila sampe dinihari lagi seperti dulu Me : Aw... sama )= Her: Uhm, kamu tau nggak? Kalo aku kangen kamu, aku sering nyambangi halaman bermainmu itu. Dan aku baca... tentang cewek yang takut penis itu? Haha! Me : Hihi... Kamu inget pernah ngomongin itu? Her: Tapi aku udah pulih sekarang. Nggak takut lagi. Galakku memudar, meski watak kerasku masih tersisa. Dulu itu mungkin cuma justifikasiku aja akibat seringnya diganggu lelaki sejak jadi ABG Her: Ini udah tahap psikoanalis lho! Haha! Me : Halah! Her: Sekarang udah nggak kok. Aku berusaha memposisikan mereka layaknya manusia. Lelaki kan nggak cuma penis aja. Sama kayak perempuan nggak cuma dada aja Me : Hehe... Me : Iya sih. Makanya aku bilang aku lebih suka liat Brad Pitt berdarah-darah with his trousers on Her: =)) Me : Kaya...

3.54, Merindu Subuh

Han, Aku mau sambat . Aku sedang kecewa. Aku memaki perubahan di sekelilingku yang tidak membawa kebaikan. Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa, bahkan hanya untuk protes. Ternyata kebijaksanaan itu sama seperti apa yang disebut hidayah: harus dijaga. Aku down banget melihat orang yang kupikir bisa di gugu dan ditiru, sekonyol apapun tingkahnya, sekarang jadi penindas. Dia buta warna, nggak bisa bedain mana merah mana hitam. Yang dia dengar hanya bisikan dan aduan, bukan objektivitas. Kecerewetannya yang dulu kerap bikin aku belajar, sekarang nggak lebih dari kenyinyiran ibu-ibu arisan membincang siapa punya apa berapa dimana dan kapan. Keangkuhannya yang dulu kurasa bikin dia berwibawa sekarang nggak lebih dari kesombongan nggak ada isi dan nggak ada arti. Keropos. Posisinya yang diatas membuat dia selalu mendongak, sulit menunduk dan melihat siapa yang dia injak. Kedermawanannya sekarang mirip dengan ajang pameran. Penilaiannya tertutup kabut pakaian bermerek, bukan performa. Orang ...

Membedah Nikah

Ada apa sih minggu ini? Temanya kawin ya? Nyindir gwa ya? Emang kenapa kalo gwa anti kawin? Pertama gwa kena blue syndrome waktu gwa tau satu-satunya orang yang paling mendekati abang di Necropolis City ini bakal nikah setelah Lebaran nanti. Manusiawi sih, lha wong dia sudah tiga puluh sekian dan masih perjaka. Kecuali sama Tante Rosa dan Tante Ropak. Sempet ngobrol sama beliau sih, kalo gwa pasti bakal kehilangan pasangan 'poto-poto bokep'. Gimana akses gwa akan terbatas untuk sekedar wadul atau menghujat kaumnya yang biasanya bakal dia tanggapi dengan santai. Dia pasti bakal meminimalisir waktu nongkrong karena akan sibuk kelon dengan sang belahan jiwa. Seperti sibuknya salah seorang adek kelasnya di Sastra Nuklir dulu yang sekarang memburuh di Bapeten. Lagipula, ini kan pemanfaatan. Daripada cuma dipake pipis doank atau untuk gantungan baju, coba? Cuma gitu tanggapannya. Haha. Bwek! Kedua Mpok gwa minta gwa mbaca satu ayat yang biasanya ada di undangan-undangan kawin, Ar-...

Tentang Kawin-Mawin

Sebuah percakapan Minggu siang nggak penting melalui media instant messenger: Perempuan: Bang, weekend ngapain onlen? Lu kan punya pacar. Pacaran dunk! Jalan-jalan kek, ngapain kek Laki-laki: Pacaran kan tinggal ngamar aja Perempuan: Gitu? Emang beda ya gaya pacarannya orang 30sumthing sama anak 20sumthing Laki-laki: Ya iya lah! Perempuan: Jadi, minggu ini si kakak ga dapet setoran sperma? Laki-laki: Oh, itu sih udah tiap hari Perempuan: Lha tuz buat apa kawin? Macem guguk ngencingin pohon tempat dia biasa berjamban, ya? Nandain teritorial kalo kakak milik lo, bukan milik lelaki laen? Laki-laki: Karena cuma dengan kawin maka janji gwa ke dia bisa terwujud. Gue pengen bareng dia seumur hidup. Gue ga bisa janjiin apa-apa ke dia selama gwa belum kawinin dia Perempuan: Lha? Lu janji aja sendiri ke si kakak kalo lo bakal seumur idup ama dia dan bakal jadi laki-laki Batak yang bertanggungjawab dengan cara provide apapun kebutuhannya. Daripada lo ngabisin duit buat acara adat dan pemberkatan ...

Yet Another Furiously Thrown Disclaimer

Hari ini dapet ajakan gabung di sini dari Ibeng, mantan temen satu sekolah dulu. Ok. Won't hurt to join, though. Jadilah, ikutan bikin account. Nggak berapa lama di inbox imel ada Maz KW minta di admit jadi temenku. Ternyata beliau ini juga ikut jadi anggota taman bacaan. Ok. Di approve, wes. Eh, lho? Kok ada lagi? Sekarang pakek kirim-kiriman message segala. Oh, ternyata seseorang udah pernah nerbitin buku (meskipun indie) dan sekalian pengen promosi. Allrighty, then. Tak iya-in wes . Sambil sekalian woro-woro kalo aku juga udah pernah nerjemahin dan nulis kecil-kecilan disini. Eh, berbalas! Seperti ini kutipan balesannya: hm.. mas pit.. ga ada tulisan yg 'sampah' yang ada hanya 'orisil', 'beda', dan 'eksentrik' ^^ WHOOOOT?! AGAIN?! Padahal udah tak tulis di account-ku kalo aku FEMALE, avatarku bergambar malaikat setengah setan nan seksi yang susunya wutah-wutah. Katanya dia baca entri gwa, tapi koq...? GWA KURANG PEREMPUAN GIMANA, COBA?! Kemudi...

Membincang Selangkang

Silahkan maki saya vulgar, nggak beradab, kasar, binal, sundal, apapun lah. Saya cuma nggak mau menabukan hal yang memang nggak tabu karena saya bisa lihat jelas penandanya dimana-mana. Penis. Saya rasa satu kata itu nggak mewakili makian atau porno jika dipergunakan dalam term yang sesuai. Lain halnya jika memakai nama lain untuk menunjuk benda yang ada di tiap selangkang lelaki atau trans-gender. Sungguh, buat saya nggak tabu menyebut penis. Yang tabu adalah simbol yang mewakilinya, saking tabunya bahkan sebagian besar manusia nggak sadar bahwa mereka terhegemoni karena amat sangat rapihnya hal tersebut terkamuflase dan tidak dibicarakan. Buat saya, kekuasaan yang terlambang pada penis sangat menakutkan. I have penis, therefore I rule. Mungkin begitu penjewantahannya dalam kata. Gedung-gedung dibangun sangat tinggi sangat megah, melambangkan phallus yang dipuja orang-orang dahulu kala, lengkap dengan skortumnya berupa bangunan dasar yang melebar. Mari bikin setinggi-tingginya. Masukk...

Happy Anniversary!

"Kenapa harus bagus-bagus? Ini kan cuma blog?" Saya tercekat dan kepala saya otomatis membanding karya dia--meskipun dikerjakan secara ngasal tapi tetep aja keren--dengan orek-orek saya yang dipergaya dengan kata-kata sok canggih. Uhm... bukan kenapa-kenapa sih. Saya hanya nggak suka kerja setengah. Mau bagus, bagus sekalian. Mau blangsak, blangsak sekalian. Tapi beneran deh, semua yang ada disini amat sangat copyleft. Silahkan dikupipes, compile, utak-atik, acak-acak, di save dan akui ini tulisan kamu. Nggak masalah. Buat saya, semua ini cuma pembuangan sampah yang terkumpul dua tahun. ... karena orang Indonesia yang tidak berproduksi pasti korupsi... - Pram [Tepat di hari ini, dua tahun sudah saya disini. Berapa lama lagi hingga jalan jadi ujung?]