Posts

Menstruation, Anyone?

WARNING: Tau menstruasi? Saya bakal ngomongin itu dengan bahasa sejorok-joroknya. Not for the weak. Serius! Sebagai perempuan, saya mengalami menstruasi sejak usia lima belas. Sorenya, Ibu bikin bancakan urap dan dibagikan ke tiap rumah radius satu RT. Begitu juga dengan adik saya ketika ia haid pertama kali. Saya ingat wajah Ibu sumringah. Setelah mengecup kening kemudian mengelus kepala saya, Ibu berkata sambil tersenyum, "Anak Ibu udah gede..." Ibu seperti tidak peduli dengan gerutuan saya yang merasa bodoh dan malu karena harus mengantarkan bancakan dan menjawab pertanyaan para tetangga dengan pura-pura senang: "Iya, ini selametan aku haid pertama." Saya tidak bisa bohong. Ulang tahun saya Desember dan beberapa kali Ibu memang mbancaki, sementara waktu itu masih November. Tapi dari Ibu juga saya dapat pelajaran bahwa darah haid bukan sesuatu yang nista dan harus dihindari. Mungkin karena ada tiga perempuan-saya, adik dan Ibu-dengan satu lelaki, Babab, makanya ha...

E N C O U N T E R

Image
Ini cerita tentang pertemuan, betapa kamu nggak pernah tau siapa yang akan kamu temui di pengkolan depan. Awalnya adalah kesepian teramat sangat dan mellow pra-haid, ditambah beberapa kejadian yang mendadak membuat isi kepala campur-baur seperti baju kotor dalam mesin cuci. Dan saya apes. Tidak ada kuping tersedia dan tangan terulur untuk saya pegangan. Well, this was not my first time. Begitu pikir saya. Dan seperti hujan salah musim yang selalu datang tiba-tiba tanpa pertanda, dia menjawab panggilan saya. Dia, lelaki Gemini bertanggal lahir sama dan terakhir saya temui dua tahun lalu, ketika kami merayakan ulang tahunnya dengan... mabuk. Malam kami tandas oleh dua gelas kopi Amerika yang aneh, dua piring nasi goreng sayuran, dan bergelas-gelas teh manis panas lalu menggeletak pada bantal-bantal besar sambil tak putus bercerita hingga matahari menyapa. Serendipity : ketika telinga yang saya cari, malah lidah yang saya temukan. Dan saya alpa. Lupa pada hal-hal membebani dan membuat kep...

Something to Ponder v0.1

There is something about people like us. A built-in sensory perception. People stamp us as hypersensitive, but i perceive it as a gift, an empathy. I've got my share. And I know you've got yours, too. Kalimat-kalimat di atas mampir sembarangan di inbox salah satu jaringan media sosial yang saya ikuti, menjawab beberapa pertanyaan kurang ajar yang memenuhi benak saya sejak pertama kali melihat namanya ada dalam daftar teman. Jawaban itu tulus, bertengger begitu saja seperti burung gereja hinggap di kusen jendela, tanpa dosa, melesak diantara beberapa jawaban yang mungkin harus ia ungkapkan berjuta-juta kali dalam hidupnya. Jujur saja, rasanya saya ingin menangis. Sekian banyak beban menjadi orang yang (sok) tau, sekian banyak penyangkalan tentang 'semua akan baik-baik saja', sekian banyak tanggungjawab yang saya nafikan sekian lama dengan 'udah lah, ntar aja dikerjainnya', sepertinya terangkat sedikit demi sedikit. Meskipun tidak membuat benak dan hati saya le...

Tentang Teluk Rahasia

Image
WARNING: SPOILER ALERT Ini adalah review The Cove yang menceritakan hampir keseluruhan film dan menampilkan beberapa snapshot. Yang masih penasaran, watch it. Don't tell me I didn't warn you... Bagaimana rasanya membunuh anak sendiri? Sepertinya itu yang dirasakan Ric O'Barry ketika menghabiskan 35 tahun terakhir hanya untuk meruntuhkan apa yang dulu selama 10 tahun ia bangun: bisnis pertunjukan lumba-lumba. Berawal dari karirnya sebagai pemain sekaligus pelatih di serial televisi Flipper , Ric sempat merasakan nikmatnya tiap taun ganti mobil saking film itu 'ngejeger' gila-gilaan dan uang yang dia dapat juga nggak kalah gila. Padahal Suzy dan Cathy--dua lumba-lumba betina pemeran Flipper dan bagian dari penghuni Miami Seaquarium--adalah penipu-penipu mahir yang diciptakan alam semesta. Dibalik senyum penghias wajah, tersimpan stress berkepanjangan karena terkurung dalam tangki beton. Ric, lelaki tua yang selalu terlihat sedih dan lelah, baru menyadari ke...

It's all about attitude

Image
Saya perokok berat. Dalam sehari saya bisa menghabiskan 2-3 pak rokok. Jangan tanya jika kerjaan saya sedang fully loaded. Ketika dua kali dua puluh empat jam nyaris tidak keluar kamar akibat kejar setoran, sempat saya iseng menghitung kotak-kotak bekas dalam tempat sampah: sembilan bungkus. Ngeri! Karena peraturan di rumah dan sejak saya sombong bisa cari uang sendiri, sudah lebih dari sepuluh tahun saya mencandu. "Jangan bakar duit gue kalo elu mau ngerokok," kata Ibu ketika saya masuk SMP. Saya ingat betul larangan itu, karena sebelumnya Ibu memberi saya izin pacaran. Mumpung masih muda, katanya. Dia hampir tidak pernah melarang saya melakukan apapun, bahkan untuk yang nakal-nakal. Dulu, rumah saya kerap digunakan sebagai basecamp. Karena itulah Ibu dekat dengan teman-teman saya dan sangat galak dengan aturan 'Lu boleh maen, makan, tidur, boker, curhat di rumah gue, tapi jangan bakar dan nokib disini'. Dia tau, sebagian besar mereka adalah pengedar dan pemakai. Tap...

The Cute Little Thing We Called FACEBOOK

WARNING : beberapa baris dari tulisan ini mungkin amat sangat tidak pantas untuk pembaca yang belum dewasa secara hukum—atau mereka yang bangkotan namun memiliki pemikiran setara ABG labil. Saya membebaskan Anda menyalin dan menyebarkan muntahan ini jika Anda terlalu gatal menjadi pewarta, tapi KENALI AUDIENS ANDA . Buatlah revisi seperlunya. Saya mau liat, sejago apa Anda jadi corong saya. Ketika mengetikkan ini, saya sedang mendengarkan KoRn réngéng-réngéng tentang Little Dead Girl , penyembuh terakhir berwujud kematian kecil, ujung persenggamaan bersalut cinta karena it’s true, what they say fucking for love might be the last legal drug . Ini diambil dari istilah Perancis, la petite mort, karena orang sana merasa ‘mati’ sejenak ketika kontraksi otot genital tiga detik tercapai. Sama halnya dengan berbagai update status di Facebook, ruang maha publik dimana orang bebas mendapat dan memberi perhatian pada akun siapa saja—dan orgasme eksistensi karenanya—dengan kata-kata kotor seka...

There's nothing to be fixed, only to let go

Seorang teman menulis bagaimana cara mengobati patah hati karena tertolaknya sebuah pernyataan ‘suci’ dari seseorang kepada seseorang. Well, been there, done that. Siapa sih yang nggak? Tapi dunia nggak berhenti sampai disitu, bukan? Saya, meskipun nggak pernah ‘nembak’ untuk menjadikan seseorang sebagai properti hidup milik saya, pernah juga berada di posisi yang hampir mirip seperti itu. Jujur, dulu (dan mungkin sampai sekarang? =P) saya huntress , meskipun saya nggak punya bodi dan tampang jadi pemburu. Saya hobi ‘mepet’ cowok yang bikin saya penasaran. Dia nggak harus cakep, tapi harus dingin, sedikit angkuh, nggak pedulian namun cukup berotak atau tengil. ‘Korban’ saya dulu adalah ketua perkumpulan siswa Islam di sekolah saya yang Katolik, anak kelas sebelah yang beda fakultas, dan tetangga kos saya. I loved the game, I loved the process, but I didn’t love the result. Ketika ‘mangsa’ sudah didapat maka kegairahan berburu hilang sudah. Artinya, jika saya sudah tau gimana caranya m...

Love, defined

Love is to listen: understand, beyond any comprehension, to know the correct way to respond, with all your heart. Love is to share: to give a shoulder to sorrow, anger, and the feeling of abandoned; yet most important is to intercept the joy and laughter when your going gets tough. Love is to learn: to get to know the new, exciting knowledge that unveiled its mystery, unknown prior to its revelation. Love is to let go: freeing your object of affection be what he wants to be, to go through the distance, without question, with arms wide open when he comes back. And love is to keep it silenced deep within, to wait patiently, until the time comes and you want to shout it out loud but could only pronounce a sheer whisper that could be heard even by the whole universe. Your time will come... [dedicated to a lioness ]

Story of Women

Image
Whatever you give a woman, she will make greater. If you give her sperm, she’ll give you a baby. If you give her a house, she’ll give you a home. If you give her groceries, she’ll give you a meal. If you give her a smile, she’ll give you her heart. She multiplies and enlarges what’s given to her. So, if you give her any crap, be ready to receive a ton of shit! - Anonymous Dinihari bersama hingar teriakan Otong KOIL dari headset melepaskan penat saya memelototi ratusan baris terjemahan, proyek kerjabakti bersama seseorang. Agak siang nanti saya berjanji sowan ke rumah perempuan hebat, a newly divorcee , a single mom, dengan seekor labrador betina cantik dan putri pintar. Ia menjanjikan saya Chicken Adobo yang baru saya dengar namanya. Saya mengenalnya, tidak secara intens, beberapa bulan belakangan. Namun dari pertemuan kami yang baru tiga kali, perempuan usia tiga empat yang sedang rehat dari studi beasiswa S3-nya di Australia ini memiliki aura menyamankan dan damai. Berada di istana ...

The Silent Scream

Image
Lelaki tak pernah menangis, tapi hatinya berdarah. Kutipan dari om-om mbois wangi kolak, diambil dari entri di blog nya. Dulu, saya paling anti sama cowok cengeng pengeluh, tukang sambat, dan seperti nggak bisa liat bagaimana indah dunia yang sedang ia jalani meskipun segala macam masalah menghadang di depan. Saya mendapati contoh nyata di Babab, lelaki paling nyantai sedunia (dan akhirat?). Sebesar apapun masalah, saya tidak pernah mendapatinya menangis. Kecuali ketika kedua orangtuanya, kakek dan nenek saya, meninggal dunia. Didikan ibu saya yang keras, yang nggak segan-segan memungut gagang sapu atau kemoceng untuk 'menghajar' saya ketika saya nakal, dari kecil hingga saya besar, membuat saya juga anti menangis. Bagi saya, menangis saat dihajar adalah kekalahan. Karena diam tidak mengaduh dan menentang sepasang mata kalap nan murka—yang biasanya seteduh tajuk beringin di siang hari—adalah perlawanan. Namun saya sempat tertegun, diam tak bergerak dan hampir lupa bernapas, mem...