Posts

Kopi Lu Gimana?

Image
Kalo gwa di rumah, tiap hari terjadi diskriminasi pada suguhan kopi. Bokap gwa selalu bangun paling pagi, lalu masak air dan bikin minuman panas untuk anak, istri dan dirinya sendiri. Cuma gwa yang nggak pernah dibikinin. Padahal minuman pagi--dan siang dan sore dan malam--gwa paling gampang: satu setengah sendok makan kopi diseduh dengan air mendidih satu mug. Nggak usah nakar gula karena gwa ga suka kopi manis. Gwa mau ngopi, gituloh! Bukan minum sirup karamel panas! Sebenernya sih Si Babab bukannya diskriminasi. Tapi kayaknya beliau bete aja, kalah wibawa sama anak perempuannya dalam hal kopi-mengopi. Soalnya takaran Babab adalah 2 sendok makan kopi, 3 sendok makan (penuh!) gula, diseduh dengan air satu mug. Tapi kalo gwa udah bikin sendiri, gelas gwa yang paling aman dari gangguan seruputan lambe-lambe nggak bertanggungjawab karena nggak ada yang doyan. Biasanya Ibu yang komentar: "Siapa sih yang sudi ngembat kopi dukun kamu?!" Tadinya gwa masih suka kopi dengan sedikit g...

Numb Lagi, Numb Lagi... Bosen Ah!

Ya, ya, ya. Gwa berduka. Jogja-Jateng gempa hebat Sabtu lalu. Sewon dan Bantul rata dengan tanah. Beberapa tempat lain rusak, meskipun nggak terlalu parah. Ribuan orang harus kehilangan nyawa tertimpa tempat perlindungan mereka sendiri. Dan ribuan lagi luka-luka sampe mati karena jumlah korban jauuuuh lebih banyak daripada tenaga medis yang tersedia. Juga masih ada ribuan lainnya yang jadi tunawisma karena nggak punya tempat berteduh. ........ dan gwa nggak ada di tempat kejadian ketika bencana itu datang. ............. sementara di 'rumah' gwa orang bergelimpangan, sekarat, papa dan putus asa, gwa liburan ke Bandung dan menikmati waktu-waktu menyenangkan bersama sahabat. As if nothing happened. As if we're living in another reality. As if what we've seen on the news was just another show that meant to develop the viewers' sympathy. But yes, I grieved. I stunned. They were real. The blood spurted from the open wounds was not artificial. The sorrow they felt was not ...

Being Mature and Aware...

Ada seorang nenek yang merasa sudah melampaui segalanya dan bangga akan hal itu."Usiaku 74! Semua teman-temanku sudah berpulang dan aku masih bertahan dan sehat. Otakku masih bekerja sempurna karena aku suka membaca. Coba... Mana ada nenek segagah aku sekarang?!" Sementara anak dan cucunya hanya memandang getir dari balik jendela ketika mereka melihatnya sesumbar pada tukang ojek yang mangkal di depan rumah. Begitukah menjadi dewasa dan sadar akan kedewasaannya? ...................................................................................another procrastination moment of my life.

Adikku Pekerja

Dia pulang larut malam pukul sebelas. Ibu dan aku menunggu di teras depan, cemas. Apa jadinya hari pertama training si bungsu manja yang masih suka tidur di pelukan Ibu itu. Lalu dia datang bersama Babab yang menjemputnya. Wajahnya lelah. Rambutnya berantakan. Rias wajah tipis yang dipoleskan oleh Ibu tadi pagi memudar. Setelah menghempaskan diri di kursi, airmata tiba-tiba menetes tanpa mengindahkan tanya yang mengambang di wajah kami. "Capek... Kakinya lecet berat gara-gara pake sepatu baru... Sebel..." Duh, Dek. Berdiri di resto Cina yang ada di salah satu Mal besar Jakarta memang bukan hal enteng. Kamu harus menahan hati dengan senyum siap sedia, melayani dan memandangi orang-orang kaya yang bebas-merdeka menikmati makanan harga jutaan (meskipun kamu tahu ada banyak anak-anak pengojek payung kedinginan di luar). Dengan gaji 15,000 per hari--yang kamu dapat secara akumulatif setelah dua minggu disiksa dalam 11 jam kerja sebelum kamu diperas dengan bayaran lebih tinggi--b...

The Real Loser Shady, Please Stand Up!

"Gambar ini seperti lambang orang Kristen! Kenapa kamu pajang?" Lalu kenapa? Ini cuma phoenix berwarna merah, yang aku suka dan aku tempel sebagai pengganti muka yang nggak representatif dan nggak sedap dipandang mata orang lain selain diriku sendiri. Mungkin caranya membentangkan sayap seperti burung merpati yang sering dipakai sebagai simbol oleh orang Kristen. Padahal lambang perdamaian pun mirip seperti itu. "Kenapa kamu pakai 666? Itu lambang setan!" Lalu kenapa? Aku pake nick itu karena ingin jadi anonim di dunia maya, menutupi keperempuananku dengan lambang menyeramkan agar mereka nggak bisa ngisengin aku, ngerayu dengan teks-teks panjang nan njelehi berisi fantasi yang hanya memuaskan lelaki dan bikin alisku bertaut heran dan gigi gemeretak geram akibat menahan marah betapa kaumku ditindas sebagai ujung pelampiasan bahkan di dunia tidak beridentitas sekalipun. "Kenapa kamu merokok? Kamu kan perempuan! Nanti kamu keguguran, penyakitan, kanker..." La...

Gosh!

Membosankan sekali, kehidupan sebelum mati itu. Ketika kamu mati rasa dan apa yang tersaji di hadapan tidak lagi menarik indra. Sementara yang kamu ingin hanya terpejam dan mematikan seluruh reseptor, serta membiarkan semua berlalu tanpa kamu perlu tahu. Membosankan sekali...

I Choose, Therefore I Am *hayah!*

"Hidup itu pilihan. Setiap detik yang kita punya adalah memutuskan, entah untuk berhenti bernafas atau melanjutkan hidup. Meski mati ada peraturannya sendiri." Sepakat. Tapi ketika pilihan yang kita ambil kemudian berkompromi pada keadaan, dan ketika keadaan jadi bangsat setelah kita memilih... salah siapa? Lalu ketika ada pemakluman, "Manusia berencana, Tuhan memutuskan". Apa penilaian itu adil buat Dia Yang Maha Adil? Rasanya terlalu remeh untuk Dia urun rembug dalam menetapkan apakah Nira ingin meneruskan pacaran dengan Santo atau membuka lembaran baru bersama Gatot, kenalannya seminggu lalu. Padahal di belahan dunia lain ada jutaan manusia kelaparan atau bergeletakan menanti ajal tanpa ada tangan terulur. Padahal disini banyak sungai tempat hidup ekosistem air yang penting bagi semesta, tapi berwarna hitam dan tidak ada satupun yang peduli kecuali pada perut dan diri sendiri. [ngelantur mode ya?] Ketika alasan "Jodoh, mati dan rezeki itu di tangan Tuhan...

Would You Be There Beside Me, Pals?

Enam belas hari punya ruang pribadi, di sebuah kota bangsat yang bernama Jakarta ini dan aku mulai lelah. Hanya segitu kemampuanmu? Dimana sesumbar "nggak akan kalah" waktu itu? Hey, jangan terlalu memperbangsatkan semua hal tentang ibukotamu tercinta ini. Meski lelah, kamu nemu orang-orang baik juga disini, kan? Yang dengan tulus memberi kamu piring kecil berisi hot dog hangat dan coklat panas di dini hari kamu bekerja mengejar sesuatu yang selalu berlari. Yang rela kamarnya dijajah padahal baru dua hari mengenalmu. Yang dengan jujur berkata "nggak ada jablay yang bisa menyamai sex performance cewekku" tapi menemukan banding pada selingkuhannya. Yang tiba-tiba amat sangat perlu kamu saat orangtuanya melarang ngekos padahal kamu baru kenal dia beberapa hari. Yang nurut beli buku yang kamu rekomendasikan hanya karena kamu gondok pada materi idealis yang nggak bisa diduitin itu. Dia yang mencarimu ketika audio komputernya nggak bisa nyala. Dia yang sok jadi abang pada...

5 April, 2006: Pemandangan Siang dari Airport Shuttle Gambir - Bandara

Aduh, otak buntu. Rasanya pengen jedotin aja biar tengkorak ini retak, lalu lelehannya keluar berbareng congek dari telinga. Mungkin dengan begitu maka jadi nggak buntu lagi. Tapi ada yang bilang, gwa bukan orang yang berani ngadepin sakit. Wong ama jarum suntik aja takut! Jadi...? Speaking tentang otak buntu. Kalo ada sebuah pusat perbelanjaan magrong-magrong berlantai enam, dengan barang kinclong-mulus seharga tujuh kali gaji tukang sapu jalanan di display dibalik kaca akuarium tanpa noda dan di luar ada lapangan parkir seluas lima kali lapangan bola, sementara dua kilometer dari situ anak-anak bingung dimana bisa saling menendang bola plastik murah dengan nyaman tanpa harus diteriaki pengendara motor atau khawatir tertabrak bajay, yang pulang mereka adalah rumah petak sempit (hampir tidak layak huni) dengan selokan mampet yang tiap hujan pasti banjir membawa air hitam masuk sampai kamar tidur dan ketika siang teriknya seperti di oven tempat bakar nastar yang disajikan gegap gempita ...

How Convenience

Dia datang tanpa bentuk, hanya suara dan barisan kata di layar virtual. Entah bagaimana, dia seperti cermin: mirip sepertiku. Meski kita bertolak belakang. Lalu tawaran itu datang berbentuk komitmen yang tanpa batas ruang dan waktu. Apa mungkin? Kami saling menyebut diri 'dua orang gelisah yang saling menemukan diri dan senasib bersama'. Kami mencibir pertemuan, memaki ikatan, menista mode dan sinetron, tapi sama bermimpi tentang kehidupan tentram-nyaman dalam sebuah perkawinan. Entah dengan siapa. Apa bisa? Ya... liat aja nanti. Dimana-mana, masa percobaan adalah tiga bulan. Setelah itu perpanjang kontrak. Itupun kalo mau pake sistem kayak itu. Kira-kira berapa lama lagi ujung ini berakhir?