Learning to Live Pt.2

Everything has its price. Saya percaya itu. Dan sebuah perjalanan jauh--mempertaruhkan nama, harga dan hidup--kemarin membuktikannya.

Berawal dari kepedulian seorang kawan yang sedih melihat saya mendewakan rasio, dia lalu merenggut saya ke sebuah kesadaran tertinggi. Dia buat saya naik kelas, dengan catatan suatu hari nanti akan ada orang yang akan menggantikan posisi saya dan saya akan berada di posisinya. Serta warning: tanggungjawab yang dia emban terhadap saya akan berlangsung seumur hidup meski dia tidak nampak secara fisik.

Lalu mak bedunduk ujug-ujug, masa itu tiba tanpa saya mau, tanpa saya sadari. Saya sendiri nggak tau korelasi apa saya dengan dia hingga tiba-tiba kami begitu terikat, mengingat saya commitment-phobia. Dan ramalan si kawan yang baik (walau menurut saya bangsat sebab dia telah mengenalkan sesuatu yang bagi saya impossible meski saya melakukannya) pun terwujud.

Dan saya harus bertanggungjawab terhadap dia seumur hidup, meski saya nggak mau.


wanjing lah.


.....gwa cuma pengen jadi normal.....


*sigh*


[lidahku kelu. batinku lungkrah. asaku lindap. hey, kamu tahu dimana saya bisa menukar sebongkah otak dengan sebuah ember? mungkin saya lebih memerlukan ember.]

Comments

mBu said…
lo? pengen jadi normal? serius? beware of what you wish for..

normal might be not suitable with certain special person..

PS:
mo tuker otak ma ember? emang punya?
*nyetop metromini*
Anonymous said…
horeee.... mbak resmi naik kelas, syukuran dong!!!
Mabuk kopi aja deh, kan kemaren g jadi gara2 sibuk sendiri. oke? oke? oke?
ndra said…
makan makaann!!!
oooohhh, aku mudeng skrg.... kamu lagi deket toh sama seseorang.. cieh..cieh..cieh.. CAIYO !! SEMANGAAAD !!

Popular posts from this blog

Tentang "Dikocok-kocok" dan "Keluar di Dalem"

Semacam Acak

Cerita Akhir Pekan