Posts

Surat (Cinta) Terbuka untuk FPI: Karena Kita Bersaudara

Image
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya Akhi. Semoga keselamatan, berkah dan rahmat Allah selalu dilimpahkan bagimu, Saudaraku. Begitu kan terjemahan Bahasa Indonesianya? Indah ya, salam orang Islam itu. Tidak egois sama sekali. Saya sering dibuat takjub saat tersadar betapa agung arti dari sekelebat salam yang mendoakan orang lain. Sepertinya tidak ada salam yang lebih indah dari salam para pemeluk Islam. Saya datang tak bersenjata sama sekali karena keinginan saya adalah bertamu. Sebagai tetangga satu bangsa, saya hanya bawa diri dan hati. Meskipun kata teman saya orang-orang seperti Akhi hanya bisa mengkafir-kafirkan orang lain yang tidak duduk bersama dalam taklim, saya tidak percaya. Karena itu, mari kita bicara. Hanya saja, begitu banyak pertanyaan sesak di dalam kepala saya. Tolong, jika Akhi berkenan, saya perlu jawaban. Begini… Saya sedih sekali tadi siang, mendengar kabar tentang kawan-kawan Akhi yang bersiap membawa parang dan asma Allah ke tempat-tempat Q...

Jakarta Adalah...

Image
“Ceritakan padaku tentang kota bernama Jakarta,” pinta seorang brondong yummy pada si sundal ngurban. Si sundal tersenyum, menatap jalang si lelaki ranum. “Owkey. Gini ya…” Lalu mengalir kisah tentang kota tempat si kere dan si makmur tinggal bersisian, bahu menempel dengan bahu, namun jurang kehidupan memisahkan mereka aduhai jauh. Di pemukiman si kere kau bahkan bisa mendengar suara napas teratur tetangga yang pulas bermimpi punya sebelas bini—atau lenguhan kenikmatan tertahan saat penat coba dihalau syahwat, tergantung hari. Sementara di perumahan mewah si makmur, jika kau hendak sekedar kenal siapa yang tinggal di sebelah, sudah untung kau bisa bertemu BMW atau Jaguar yang barusan keluar pagar. Biasanya, cukuplah kau tak diusir satpam atau disapa babu. Di Jakarta semua orang pemberani tak takut mati. Tiap detik nyali mereka teruji. Jika hidup adalah jihad, maka mereka adalah para mujahid bernyawa. Di sana, mati dan hidup bersahabat. Kebaikan dan kejahatan akrab ...

Tentang Ibadah

Image
"Seharusnya ayahmu tidak berhenti hanya untuk menyembah Yang Kuasa. Patung-patung yang beliau bikin adalah mahakarya. Ia menyembah Tuhan dengan cara itu, menggunakan talentanya untuk menghasilkan karya seni. Itu sembahyangnya. Sayang sekali jika ia akhirnya harus bersembahyang seperti orang-orang pada umumnya." Kata-kata itu diucapkan seorang om-om gondrong sepunggung yang kira-kira usianya awal empat puluh. Tanpa sengaja pameran lukisannya saya datangi, keisengan yang menjadi momentum ketika meninggalkan Jogja tahun 2006 silam. Takzim ia mengucap, seperti mengungkap penyesalan dengan tatapan penuh rasa prihatin pada teman saya yang ternyata ayahnya adalah seorang pematung legendaris di dunia seni. Lalu ia ucapkan duka cita ketika tahu paman saya (yang kini almarhum)--yang ternyata kawan kuliahnya di ASRI dulu--mengidap gagal ginjal kronis. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya menetap di Kota Mayat , saya dapati berbagai orang dengan sembahyangnya sendiri-sendiri. Entah k...

Merdeka(?)

Image
Tadi pagi teman saya teriak "ASUUUU!!!" kencang-kencang demi mendengarkan lagu ciptaan Bapak Presiden Yang Terhormat dinyanyikan pada acara kenegaraan . Kami memang sedang mendengarkan siaran langsung Upacara Kemerdekaan melalui radio. "Ini sih jadi kayak acara AMKM jaman dulu!" ujarnya kesal. Saya hanya tersenyum kecut. Hanya itu yang saya bisa lakukan setiap tanggal 17 Agustus, sejak saya tak lagi harus ikut upacara mengenakan seragam rapih. Teman saya kesal sendiri. Akhirnya ia memasang iPod pada speaker. Tak lama terdengar Ucok Homicide lantang menyeruak mengalahkan wawancara para pengibar bendera dari televisi di ruang tengah. Kami kembali ke layar laptop masing-masing, mengisi hari kemerdekaan yang tepat pada seminggu Ramadhan sambil bekerja dan merokok. Kami tidak puasa. Jika kantor sepi seperti ini, kami bisa duduk satu ruangan sambil enak-enakan kebal-kebul. Di hari kerja dan semua karyawan masuk, kami menghormati mereka yang sedang berjuang melawan jiwa ...

Tentang Perempuan

Image
Saya melihat gambar di sebelah pada newsfeed jejaring sosial yang saya ikuti, terpampang begitu frontal dan liris. Sebrutal-brutalnya, ternyata saya masih memikirkan orang lain. Masih menimbang efek gambar sadis yang mungkin ditimbulkan bagi siapapun yang nyasar ke sini. Persiapkan nyali jika ingin melihat wajah Aisha, perempuan Afghan yang terpampang di sampul majalah Time edisi 9 Agustus, secara penuh di sini . Esai fotonya ada di sini , menyajikan perempuan-perempuan hebat penggugat hukum negara kaku dalam bahasa visual. Saya tunjukkan foto tersebut pada Paman Tyo yang kebetulan melintas. Saya nakal. Saya ingin melihat bagaimana reaksinya sebagai orang yang sangat paham bahasa visual. Dan ia membuang muka, nggak tega katanya. Sedikit tentang Aisha. Dari sekeping berita yang saya baca, ia berusia enam belas waktu berusaha kabur dari rumah akibat suami dan keluarga misan yang suka menyiksa, dua tahun lalu. Bukan berita baru sebenarnya. Perempuan Afghan, seperti halnya di negara-ne...

Requiem for the Martyrs

Image
Let me explain my term of cyber era martyrs. They are dedicated, determined, and strict yet hardworking kind of people who do things they like the most without even thinking about material compensation. It is the sheer joy of sharing they pursue, to highly appreciate the masterminds behind every masterpiece. I salute them for their natures. And I grieve for the emerging, greedy corporate that are so greedy they do not know the gained publication from the martyrs’ attempts. Blinded by gluttony, the capitalists are. So the martyrs would be beaten and bruised, shot by numerous arrows and thrown in to the den of hungry lions should they not oblige to the damned pact of US-Japan publishers’ coalition against piracy. And do you know what the true meaning of the word piracy is? Information limitation. Watch this and correlate how the situation that once fucked Napster, Kazaa and Grokster made the sites went down. It is even silly, knowing that those martyrs did not even make the ...

Being Nostalgic

Image
Saya tidak begitu suka bertandang ke reuni apapun. Seumur-umur saya ikut-ikutan sekolah, dari SD hingga universitas--yang kemudian saya Dancing Out dengan bangganya itu--saya cuma sekali nongol di reuni-reunian teman sekampus. Itu pun setelah tanpa sengaja baca status Facebook seorang kawan lama. Saya datang sore itu ke foodcourt sebuah mall di Jakarta dan mereka bilang saya tidak berubah--komentar sama yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika bertemu teman SMA di kereta Jabotabek. Gaya pakaian saya masih yang itu-itu juga: jins, kaos, sneakers butut dan ransel. Mungkin rambut saja yang bertambah pendek, badan tumbuh ke samping dan mata makin rabun karena kebiasaan jelek membaca sambil tiduran. Sementara kakak-kakak kelas dan teman seangkatan menjelma trendi dan lebih sumringah. Beberapa bahkan membawa bayi, bersama suami. Ada yang asik memainkan rambut mantan pacar (dan melupakan bapaknya anak-anak di rumah barang sejenak), atau heboh foto-foto. Saya, seperti biasa,...

Tentang Jakarta

Image
Kata orang desa, Jakarta itu kota harapan dan impian. Semua bisa diraih asal bisa menaklukkan Necropolis , Ibukota, dimana semua raga berkeliaran tanpa jiwa. Tidak moksa, tidak sirna. Lihat itu, bangunan serupa falus menjulang setinggi 128.7 meter, lengkap dengan skrotum penyangga di bawahnya. Perlambang kemakmuran kah seperti representasi lingga-yoni pada pura Hindu? Atau gagah-gagahan orangutan pejantan memamerkan genital demi betina terbaik dan pengakuan kelompok? Saya tidak mengerti bagaimana wilayah seluas 661 kilometer persegi mampu menampung delapan juta empat ratus sembilan puluh ribu manusia dengan jarak begitu jauh. Dalam satu kelurahan ada penduduknya yang mampu membeli lima mobil mewah dalam sehari sementara tetangganya bahkan tak punya atap, apalagi nasi. Dan bantu saya untuk memahami sepasang kakak-beradik mungil dan lusuh memanggul karung besar berisi gelas plastik bekas lepas tengah malam, menyeruak diantara kakak-kakak remaja wangi-trendi duduk-duduk menunggu datangny...

Living in a surrealist paintings

Image
Imagine: It was six in the morning and you were staring at the flat screen, awed by the stories of how some young creatures survived the ill fate that could cost their lives. You left the other screen before you untouched, abandoning your responsibility of fast coming deadline, absorbed into the wonder of modern organ transplantation. You hardly believe how five-hour ride since the healthy heart left the body of its host could still be stitched up to another chest; how the new host anticipated the turmoil in the system thanks to the new intruder by shrinking the vein and lessening the blood flow, causing the body to continue living with the least energy needed and efficient work of the organs; and how the tiny, automaton muscle, how the pulsing thing that is no less than a palm of your hand could motorize the whole body of a human by beating no less than 100,000 times nonstop on daily basis. And your wonder continued by the sophisticated defense system that the brain of a ...

The “You-Asked-Me-to-Enter-then-You-Made-Me-Crawl“ Stance

Dulu saya tergokil-gokil dengan U2. Bono dan The Edge bagi saya adalah nabi, penyembuh luka hati dan penyakit kejiwaan melalui lirik-lirik lagu yang mereka nyanyikan dengan damai. Adem rasanya. Lebih adem ketimbang denger kasidahan. Saya sempat bertekad untuk mempersembahkan keperawanan saya pada Om Bono. Namun kuping saya yang perek akhirnya dipenetrasi berbagai musik lain. Mulai dari Erwin Gutawa Rockestra, Dream Theater, God is an Astronaut sampai Sudjiwo Tedjo dan Sandii. Jadilah, Om Bono agak-agak tersingkirkan. Lagipula, selaput dara saya sudah tenang menyatu dengan alam setelah saya korek dengan sendok teh lalu sendoknya saya cuci dengan sabun anti bau amis. Urat malu saya yang memang sudah putus sejak dahulu kala membuat saya nekat nimbrung orang ngegitar di tempat saya nongkrong untuk numpang teriak. Nggak, saya nggak bisa nyanyi. Serius. Saya cuma seneng teriak. Kebetulan yang ngegitar itu dulunya mantan anak ben. Yang satu basis, satunya gitaris (dan saya manis. Ya, ya. ...