Posts

Justified

Following kerusuhan Nusa Kambangan , mak bedunduk ujug-ujug mandor saya bertanya di siang-siang terik yang bikin kita semua terkantuk-kantuk: "Eh, itu eksekusi jadi nggak ya semalem?" Cuma karena kata 'eksekusi' pikiran saya jadi kemana-mana. Dulu saya pernah mendiskusikan dengan adik saya tentang cara mati paling menyakitkan tapi 'fun' buat algojonya. Jawab Si Icha yang waktu itu masih SMU di Muhamadiyah adalah, "Dikitik-kitik aja. Kan karena geli banget, ketawa nggak berenti-berenti, bakalan susah napas tu. Pasti sesek. Atau sekalian, biar cepet, pas dikitikin mukanya dibekep bantal." Not bad. Atau versi teman saya yang asli Purwokerto, "Disendokin aja matanya." Nice. Atau versi teman saya yang lain, "Pake garpu. Tusuk lehernya. Atau dicuwili dagingnya. Gimana kek caranya, yang penting pakek garpu." Sementara saya, terinspirasi dari film dan cerita Abad Pertengahan , membayangkan seseorang dengan tangan dan kaki terpentang ke e...

Quo Vadis, Polisi Indonesia?

Belum ada sepuluh menit yang lalu saya menyaksikan kejadian menyedihkan setelah saya mengantar Jo hingga ke taksi. Waktu saya menyebrang jalan Radiodalam yang padat merayap untuk beli rokok di koperasi, dua motor hitam, besar dan keren berhenti dan parkir mendadak dengan satu motor matic biru-putih di belakangnya. Pengendara motor-motor keren itu adalah dua orang identik dan gagah berhelm a la pembalap dan celana lapangan warna coklat, sepatu lars, dan jaket hitam dengan badge 'Fighting Falcon' dan beberapa aksesori berbau angkatan. Sementara pengendara motor matic adalah pemuda remaja dengan sneaker, jumper, tas selempang dan helm setengah. Dua mas-mas ganteng dan bertampang garang itu bicara dengan nada kasar namun suara tetap ditekan hingga saya yang berjarak tidak lebih dari lima meter hampir tidak bisa mendengarnya. Sesayup mereka membentak tentang 'lampu merah' dan 'macet' dan 'menerobos' sambil bergegas mendekati si mas matic yang sepertinya geme...

Sedang E'ek

Dua malam kemarin karena derajat keisengan saya sedang berada di titik kulminasi, saya menyapa seorang bloger yang entrinya lumayan bikin saya terhibur. Komen di tempatnya selalu lebih dari lima puluh. Penggemarnya dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan luar negeri. Fotonya pun komersil abis. Ganteng pisan. Ngobrol dengan dia adalah sama menyenangkan seperti membaca tulisannya. Ternyata dia juga familiar dengan kotak muntahan saya ini. Jadilah, obrolan memanjang. Namun satu hal yang sebenarnya mengganggu saya. Dia ngotot secara halus minta saya menunjukkan foto, nggak terima alasan jika saya ingin anonim. Celakanya saya melunak. Saya tunjukkan muka babi saya dan dia puas, karena setelah itu dia harus mengerjakan sesuatu yang penting dan obrolan terpotong dengan lumayan nyaman. Abang ganteng itu nggak salah sih. Dia mungkin cuma ingin memberi sosok pada teks yang merespon barisan kata-kata yang telah dia ketikkan. Tapi--maaf ya Bang--ID instant messenger miliknya yang baru terpajang beb...

Another 'Blah!'

Sesulit-sulitnya melepaskan diri dari keramaian namun masih lebih sulit berusaha tetap dalam lingkaran. Shit. I wish I were God.

Iseng

Minggu sore saya kedatangan tamu istimewa. Teman senasib sepergadangan dulu. Duo maupun trio bersama seorang gadis manis berjilbab yang bakal bikin nyali lelaki manapun jadi ciut ketika dia menyentak galak namun cerdas dalam forum diskusi manapun. Tamu ini masih sama seperti dulu. Berbahasa santun, dengan kerudung Aceh dan logat Melayu kental mengingat asalnya dari Kalimantan, berwajah mirip Cina namun sesungguhnya mengalir darah dari leluhur Haddramaut dengan nama fam bertradisi kental. Hanya wajahnya yang tambah tirus dan badannya bertambah lurus serta kulit menggelap mengingat mobilitas tinggi sebagai penyuluh dan researcher pertanian memaksanya bolak-balik Telok Betung-Ketapang-Pontianak mengendarai motor cicilan. Kami berusaha merangkum setahun setelah pertemuan terakhir dalam waktu beberapa jam saja, disela dua cangkir Kopi Aroma Arabika Moccha, cucian pakaian dalam seember kecil (milik saya), dan berbatang-batang rokok tanpa henti (yang juga milik saya). Dengan teknis dan jangka...

Seberapa Jembut Dirimu?

Image
Create your own Friend Test here Sok dah, diisi kalo lagi nggak ada kerjaan. Gwa bikinnya juga pas iseng. Sekalian biar tau lu udah jadi jembut gwa belom. Oh, iya. Gwa udah isi tesnya sendiri. Gila! Ternyata gwa amat sangat jembut pada diri gwa sendiri. Huahahahaha!!!

An Offer

Mari sini. Kuajak kamu berkeliling menikmati Bakso dan Mie Ayam Jamur, Tengkleng, aneka masakan bebek dan sajian lain yang hanya dapat kamu lihat disini. Menikmati hangat dan ramahnya lingkaran kawan lama yang sejak dulu hanya bersua suara dalam dingin terapit Sindoro-Sumbing. Ya, aku bakal jemput kamu di Stasiun Jogja dan membawamu kemanapun kamu mau, kemudian kuculik kamu pada sejuknya kota kecil yang belum pernah kamu pijak. Ayo saling bicara bertatap muka, mentertawakan sepi, luka dan cinta. Membincang apa yang entah dan kemana masa depan membawa. Jangan khawatirkan kemana meletakkan kepala ketika penat datang melanda. Kami keluarga, mungkin bukan siapa-siapa. Tapi akan selalu ada. Semoga. Jadi, kapan kamu datang? [ Anjing! Kenapa sih duit dan waktu selalu berjalan pada jalur yang beda?! ]

A Cup of Coffee and A Good Friend

Him : I need a shoulder... Me: Got a pair of cold ones. Shoot, Beib. S'up? R U allrite? Him : I will, later. Thanx to those pair of yours Me: May I know what's it all about? U won't be like diz if it isn't sumthing big dat bothers U much. But it's fine if U jez need 2 lay Ur weary head in my imaginery shoulder. Dun 4get 2 smile, plz (= Him : :) Him : Dun laugh but I pretend dat I'm texting God when I send U my SMS Me: Well, I'm the closest thing 2 God considering my insom habit and all ((= Take a deep breath & let go, Beib. Things'll be fine 4 U and all dat makes U worry 2 much Him : I'm picturing God's shoulder in the shape of yours, actually. Tengkyu bertubi-tubi Me: Anytime, Hun. Anytime. Dat's what being a belahan biji is all about. Sumthing way closer than Ur own penis. Shit. I aint good in making analogy. I'm trying lah tapinya Him : Dat's a great one! Lebih membumi :)) Me: So, R U gonna keep texting God and give Her a chanc...

Just A Thought

Tidak pernah ada yang salah dengan buah pemikiran manusia. Yang ada hanya ketidaksesuaian dengan apa yang dianggap benar dalam kumpulan. Jadi, saya nggak menganggap Ahmadiyah sebagai aliran sesat sebagaimana saya juga nggak pernah bilang bahwa pengikut Buddha bakal masuk neraka. Monggo lho, buat para pengkapling surga yang bakal punya tujuh istri perawan dengan auto-rejuvenate hymen setiap habis disetubuhi. Silahkan halalkan darah saya karena apa yang sudah saya ungkapkan. Sudah lama saya kehabisan hati untuk mengikuti mainstream karena lelah mengenakan topeng dua puluh empat jam sehari untuk tidak dianggap aneh. Toh buat keluarga saya aneh itu nggak dosa. Kalaupun dosa, konsekuensinya apa? Jika cuma surga dan neraka, bukan saya atau komunitas yang berhak memberi. Saya percaya bahwa surga adalah kondisi dan situasi aman-nyaman-menyenangkan yang dapat diusahakan siapa saja selama hayat masih dikandung badan. Dikucilkan? Sudah biasa. Saya bahkan sering mengucilkan diri sendiri kok. And e...

Senandika

Han, Sini duduk dekatku. Maaf, aku belum mandi. Kalah deh wanginya sama Kamu. Tapi aku ngebet pengen cerita. Tentang manusia-manusia dan bumi yang pernah Kamu cipta. Tentang derita yang ditimpakan saudara sesama. Tentang satu sifat turunan bernama acuh yang terpelihara karena keadaan. Tentang memuaskan dahaga bernama serakah yang layaknya mereguk air sesamudera. Tentang berkasihsayang, tentang ego, tentang eksistensi. Biar kuhirup dalam-dalam wangi rambutMu, Han. Biar aromanya merangsek masuk hingga ke tulang sumsum, sampai ke tiap nano darah yang mengalir pada pembuluhku terpompa dalam jantung untuk kemudian menyebar dari kepala hingga kaki, memberi tenaga pada bibirku saat kubisikkan kontroversi Theresa pada telingaMu. Dia, yang seumur hidup mengasihi sesama layaknya Santa, menghabiskan jiwanya dalam kemiskinan pelosok India, pada penghujung hari pun ternyata mempertanyakan benarkah Kamu ada. Mari letakkan tanganMu dalam genggamanku. Akan kukecup lembut telapakMu dan kutanyakan bagai...