Posts

Ruang Rindu (Lagunya Letto)

Orang lama itu dateng lagi dengan kepala hampir botak, perut lebih njembling dan raut wajah tambah cerah. Ga nyangka kita udah ga ketemu selama 5 taun (kalo ga salah itung). Lucu juga liat kami yang udah sama-sama berubah ini. Udah nggak lagi berada tepat di garis kemiskinan. Setidaknya rada terangkat sedikit, meski cuma 1 milimeter di diagram statistik. Keliatan dari bertambah bulat dan berdagingnya pipi kami sekarang. Apalagi saya. Haha. Yah... pokoknya yesterday once more lah kemaren itu. Saling cerita, berusaha meringkas apa yang telah terjadi selama bertahun-tahun menjadi kisah singkat selama 2 jam dan 4 cangkir capuccino di kafe yang menggantikan warung burjo ketika di Jogja dulu. Makasih ya, Kak Donceh ! (= ps: Ra sah keloro-loro to, Mbak . Mengko tak critani wes!

Narsis Abis!

Abis jalan-jalan ke kampung lama. Iseng, hampir jam 3 pagi nggak tau lagi mo ngapain. Kerjaan beres. Mo pulang nggak mungkin. Ngantuk juga nggak bisa tidur. Otak pun rasanya nggak brenti muter. Mikir nggak penting untuk sesuatu yang nggak penting juga--buat orang, tapi penting buat gwa. Dan ternyata... Ada gwa !!! Ah! Gwa baca-baca lagi deskripsi konyol disitu, dan... Iya. Selain kangen ama mereka-mereka yang merelakan waktu dan tenaga buat bikin entry nadjeez itu, gwa ternyata narsis mengagumi hasil karya mereka! Nadjeez to?! Miz yu ol!!! *I think I need a break from life. A very long one*

Long-lost Self

Rasanya udah lama banget nggak onani otak ngomel-ngomel disini. Kirain nggak ada yang nanggepin. Ternyata di sidebar kotakteriak bermunculan mami tante nini , Ooz cayang dan sendal serta (uhm) idola . Nggak nyangka. Jadi terharu gini gwa. Serasa pengen... eek! Hehe. Makaci semua. Untuk Kalian Saya Ada. Halah! ps: mbah gombal, sekarang tempatku kerja langganan majalahmuw! xixixi...

Ketika Nafasmu Dzikir, Tidurmu Ibadah, dan Doamu Ijabah...

Sepertinya Ramadhan kali ini saya nggak menang. Masih belum bisa tahan diri. Melakukan pembenaran hanya untuk menenggak segelas air dingin di siang bolong. Masih nggak bisa menggigit lidah. Banyak protes. Kurang bersyukur. Menyimpan api dalam sekam bernama dendam. Etc, etc. Kadang sedih merasa ironisnya hidup. Dulu, jaman masih jauh dari ortu dan sering nggak makan, saya amat sangat menikmati indahnya ibadah dan berlapar-lapar dalam ketiadaan sampai penghujung Hari Raya. Di akhir shalat 2 rakaat, berkumpul bersama saudara seiman di lapangan, saya merasa menang karena berhasil melawan segala keinginan yang sesungguhnya nggak perlu. Saya luruh ketika sadar seluruh isi kitab suci habis terbaca. Nikmatnya... Meski nggak tau mau sahur pake apa dinihari nanti akibat defisit berkepanjangan. Namanya aja freelance berkala. Kala-kala dapet job, kala-kala tidak. Tapi saat itu saya merasa betapa Dia sayang saya. Dia beri teman menyenangkan saat saya jadi Petir di kos. Dia mudahkan makanan ke pint...

Wasted

Harga cabe melambung tinggi. Kelapa susah dicari. Kolang-kaling, blewah, timun suri dan semacemnya ada di mana-mana. Untuk apa? "Seger-segeran dan 'bales dendam' setelah berlapar-lapar puasa seharian." "Ini perayaan! Setelah sukses melawan hawa nafsu di siang hari, boleh dong kita foya-foya dengan makanan..." Untuk apa? Di kunyah-kunyah, dirasa-rasa--yang hanya bedurasi sekian menit--kemudian masuk perut, dan keluar jadi tai berwarna kecoklatan dan menjijikkan yang kamu buang di toilet? Sementara kamu sibuk bawa tentengan belanjaan yang mahal-mahal untuk hari--yang katanya--fitri itu tapi kamu melengos liat anak kecil berkerumun di jalanan menenteng kemoceng, berharap recehan dari besih-bersih kaca mobil yang berhenti di prapatan? Wasted. Percuma. Padahal kapasitas lambung mengecil setelah sebulan puasa. Jadi... Untuk apa?! Kemudian nanti tiba hari raya Ujung dari bulan Ramadhan Bulan yang paling dipenuhi kemunafikan Dibanding bulan-bulan apapun yang lain Bu...

I Live, Therefore I Work, Therefore I Live, Therefore I Work

Bahagialah orang yang hidup dan bekerja untuk orang lain karena dia memberi dan akan dicukupkan dari keringatnya. Celakalah orang yang hidup dan hanya bekerja untuk dirinya karena diri tidak akan pernah cukup mencapai apapun. Dua perempuan duduk berhadapan dengan dua cangkir kopi yang hampir kosong, dua bungkus rokok dan asbak penuh abu di meja kafe. Mereka saling berpandangan setelah beberapa jam ngobrol heboh. Yang satu menatap lurus-lurus ke perempuan di depannya yang memandang balik dan memainkan rokok di sela jemari sambil tersenyum. "Lu kenapa liatin gue terus? Suka?" "Enak aja. Emangnya gue jeruk makan jeruk?! Nggak... gue kagum aja. Akhirnya lo udah mirip wanita karir sekarang. Look atcha! Drastis. Padahal lo pernah bilang nggak mau jual diri dengan menghamba pada jam kantor dan gaji bulanan." "Haha. People change, Baby. Gue juga. Gue harus liat ke depan, nggak bisa selamanya begini terus. Sekarang gue mau numpuk duit banyak-banyak." "Untuk a...

Han, Jangan Ketawa. Saya Ngaku Kalah.

Hey, kamu. Saya minta dengan sangat, segenap jiwa raga, sepenuh hati, dengan saksi alam raya dan seisinya... Tolong lepas dari kepala, hati dan hidup saya. Biar saya maju ke depan tanpa menengok ke belakang. Tolong... [as I sit here, powerless, helpless, with your overwhelming image still ramming inside my skull, haunting like a ghost, and getting bigger as I try harder to get rid of you]

Lungkrah, Capek, Sebel

Betapa merusaknya rasa marah terhadap seseorang, seberapapun besarnya cinta yang pernah atau masih ada. Serasa ingin mencengkram, mencabik, melihatnya bergelimang darah, menatap dengan senyum puas ketika ia tercekat waktu nyawa di tenggorok, akibat perkataan maupun perbuatan yang menyentuh harga diri. Karena harga diri adalah harta terakhir perempuan, a woman's last treasure, without which her purse would be empty. Meski sering jadi bumerang. Duh, Han... Redakan hati hamba. Bikin dia terima cobaan dan nikmatMu dengan kesabaran seluas jagat. Buka pikiran dan akal agar bisa menerima dan tetap tegar bertahan, berapa kali pun dihajar rasa kecewa yang bikin murka...

Ah...

Gwa bukan orang yang ngejar sesuatu dengan ngoyo karena gwa jarang kepingin sesuatu dengan amat sangat. Gwa juga bukan orang yang teguh pendirian karena ada masa ketika apa yang gwa percaya berbalik 180 derajat menyerang gwa. Tapi gwa yakin pada usaha. Karena semua memang ada harganya, harus ada usaha. Dari bayi ceprot--bahkan ketika masih di perut--gwa udah usaha. Untuk tetap hidup, diterima di lingkungan teman sebaya, di sekolah, di rumah, di kampus, you name it. Bahkan di komunitas yang menurut gwa nyaman. Meski lahir dengan berat kurang dari 2 kilo, pas gede gwa emang bongsor dan 'lain'. Gwa gak terlahir dengan kaki 2 pasang atau hidung di jidat, tapi gwa selalu dianggap aneh oleh orang yang menganggap diri normal. Oke, gwa terima. Dan gwa--berkali-kali--berusaha untuk jadi so-called normal. Untuk dapetin sepasang sepatu yang biasa dipake temen-temen pun gwa harus usaha ngojek payung biar uang kekumpul dan sepatu kebeli. Gwa nggak nyesel. Itu pelatihan dini untuk gwa yang ...

??? ....... !!!

"Lo masih sayang ama gwa?" "Jangan tanya itu sekarang. Gwa pusing..." [Dialog post-ciuman antara dua mantan kekasih yang masih berteman baik] "Setiap bibir kami bersentuhan, getar itu masih ada. Perasaan dilempar ke langit terjauh dan terhempas nikmat dengan kepusingan ambrosia yang memabukkan selalu melindap, meski 'persetubuhan kecil' itu sudah keseribu kalinya. Apa perempuan selalu menyerahkan diri dan tubuhnya untuk mendapatkan cinta sementara lelaki memberi cinta untuk mendapat nafsu? Gwa bingung, nih..." Jujur, Sahabat... Gwa juga nggak tau mesti bilang apa... Man sux!