Posts

A Silent Moment

Orang-orang Indonesia tandatangan di Helsinki. Katanya sih itu perjanjian untuk saling memahami antara dua pihak: GAM dan Indonesia. Setelah sekian lama, dengan makan korban yang gak sedikit, akhirnya orang di belahan ujung pulau Sumatra sana bisa sujud syukur. Kalopun keadaan gak begitu banyak berubah, at least ada harapan dan itikad baik ke arah sana. Doain aja... [Males nulis panjang. Capek berharap. Tapi mudah-mudahan gak usah ada lagi anak-anak yang kehilangan orangtuanya]

It's Jez Sumthin Kept 2 Long in da Back'f Ma Mind...

Gara-gara ceting ama temen lama, gwa jadi inget pernah ketemu seseorang yang sama-sama kami kenal di Stasiun Senen. Walaupun kejadiannya udah 3 taun lalu, rasanya baru kemarin ngalaminnya. Dia adalah si apatis, gak peduli sama golongan 'the have', menjunjung tinggi persahabatan, rela mati demi teman dan (sedikit) menikmati hidup dengan caranya sendiri: nyantai abis dan PD dengan segala bentuk kekurangan. Walaupun cuma kenal chatting, gwa berasa udah kenal dia sejak bayi dari cerita-cerita orang lain. Gwa cuma pengen dia buka mata sedikit dan memandang hidup lebih cerah, gak melulu suram kayak petromak sekarat pas gerhana bulan dan lampu mati. Beberapa tahun kemudian ada kesempatan ketemu. Setelah nunggu gak berkesudahan, akhirnya mahluk itu datang. Tapi... koq? Rambutnya di cat pirang, kaos polo-nya berlabel keren yang ga dijual di mal ecek-ecek. Jinsnya, dengan label kecil sekalipun, gwa tau itu Levi's yang harganya lebih dari UMR pegawai pabrik di Jakarta. Dan sepasang se...

Norak!

Tiru-tiru nganggo whiteband. Mung njajal iso rak masange. Wis iso. Seneng. Ternyata I am not as gatek as I thought! Haha! *tampar diri sendiri* Dibiarin dulu aja deh sebentar. Buat bahan melongonya gwa yang masih norak karena akhirnya bisa masang walopun basbang dan letaknya ga karuan! Nadjeeeeeeeeeeeeezzzzzzzzzzzzz!!! Tadi komennya berantakan. Sekarang malah navbar nya nongol. Padahal dari pertama dah sengaja diilangin ama Donceh. Hix... )= *Kegatekan tidak akan pernah berakhir, Nak...*

To be me, the whole me, and nothing but me is something to be grateful for

I used to envy her. Sumber dana banyak, sering beli baju, prilaku nadjeez tapi tetep PD untuk hidup. Until one day... Bad attitude-nya bikin gwa, Idung dan Ooz berang. Selalu minta dimaklumi tanpa mau memaklumi. Selalu sombong dengan harta, kepunyaan, jabatan dan prestasi kerabat tanpa bisa menunjukkan kesombongannya sendiri. Seneng kalo udah ditransfer dan ga ada empati sama sekali terhadap mbak-mbaknya yang harus berjuang mengais rupiah (Najeeezzz!!! Bahasanyaaa!!!). Selalu bisa menunjuk kesalahan orang lain lalu sembunyi dibalik tembok bertuliskan "Bukan aku yang harus minta maaf, koq!" Dulu gwa pernah punya misi mulia: mbenerin kesalahpahamannya berinteraksi terhadap sekitar. Tapi siapa sih gwa? Dia gak bakal mandang kalo gwa gak kurus, putih, kalem dan normal. It's not her fault. I've made that impression. Toh orang-orang yang lumayan concern ama dia udah berbuat sama dan berakhir dengan 'habis hati' ngadepinnya yang berujung pada frase, "Sekarang hu...

Manusia-manusia Maya

Gwa anak pertama, tapi punya abang dan mbak dimana-mana. Ortu gwa Portugal, Ibu dari Purworejo dan Bapak asli Tegal. Tapi gwa punya kakak orang Batak, Surabaya, Aceh, Madura, Bandung, Jakarta, Semarang, Bali, dll. Mereka ada yang tinggal di Belanda, Oz, Amrik, dan Jepang. Keren kan! Mereka adalah 'kakak'. Beberapa gwa kenal dalam hitungan tahun meski gak pernah ketemu muka. Aneh? Nggak. Gwa berinteraksi dengan orang-orang itu di dunia maya dan menjadi dekat ketika pada suatu waktu otak kami memancarkan gelombang yang sama meski berjarak ratusan kilometer: kebutuhan untuk ditemani. And... Voila! There we were, dua mahluk virtual yang dipersatukan dalam obrolan panjang tentang binatang peliharaan, gagasan, politik, budaya, hubungan, pekerjaan, orangtua dan... kesepian. Manusia adalah homo populis, mahluk yang berkumpul. Gak ada seorang pun yang sanggup hidup sendiri tanpa orang lain. Sekaya apapun, meski berharta dan punya duit setinggi gunung, lo tetep perlu orang lain untuk te...

Life is a great revolving door

Ada lagu rap, gwa lupa siapa yang nyanyi. Pokoknya liriknya gini: Ladies come, ladies go in my revolving door Some are never come back, some are back for more Just like this morning. Got a phone call dari seorang 'abang masa lalu'. Salah satu sahabat KJ4P (Komunitas Jam 4 Pagi) #Bandung DalNyet jaman masi awal-awal belajar ceting di IRC dulu. Kenal setaunan, jalan-jalan gila bertiga si Donceh (I wonder kenapa selalu bertiga? Apa karena gwa bersifat ganjil? Gak umum?), lalu poof... menghilang. Setelah lima tahun baru tadi beliau ada kabarnya lagi. Mulai dari SMS gak berkesudahan (yang gwa stop karena keterbatasan pulsa) sampe akhirnya dia telepon, 138 menit full! Anjing!!! How I missed him for all these years! Come, my long lost pals. Come again inside my revolving door. But please, this time, stay... [dedicated to Bro Yudi, one of my 'Black Nigga Brotha' van Suroboyo]

Fa biayyi aala i Rabbikuma tukadzzibaan...

Itu kutipan dari surah Ar-Rahman. Ayat itu banyak diulang disana. Artinya; Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Meskipun banyak ngedumel ga penting dan ga jelas, gwa boleh unjuk gigi (yang emang gede-gede) sebagai orang yang cukup bersyukur. Walau banyak kekurangan, kelebihan gwa tertambal disana-sini. Yang gwa ga abis menista adalah ketika ada orang yang diberi banyak tapi gak habis-habis menghujat dan ingkar. Hei, lo mau minta apalagi sih? Orang yang nggak punya cenderung dipaksa untuk jadi kreatif dan memanfaatkan apa yang ada di diri mereka agar bisa berdaya guna. Misalnya aja para carder dan pemakai Window. Tiga tahun yang lalu, seorang teman dari Louisiana terkaget-kaget ketika tau teman-temannya di Indonesia pada pake Window. "Kalian kaya-kaya ya, pada mampu beli semua," komentarnya. Kami yang disini (terutama gwa yang gatek ga ketulungan) malah bengong. Karena setau gwa software itu didownload atau dikopi, bukan dibeli! Abang gwa juga pernah cerita ...

Nggambleh!

"Idealisme akan mati di usia tigapuluh!" kata manusia hitam kurus bermata besar dan agak bungkuk itu ketika kita lagi ngumpul bertiga di bunderan sebuah kampus dengan lampu kuning kunyit yang menyakitkan mata. Yeah, rite. Mengingat kebiasaan gwa yang amat sangat tidak sehat (smoking like sepur, ngopi a la dukun, makan jarang dan tidur kurang tapi doyan jalan kaki), seorang teman pernah memprediksi umur gwa ga akan sampe 30. I don't know either to laugh or to weep. Beruntunglah orang yang mati muda, kata Gie. Que sera-sera aja lah. Whatever will be, will be. Mau mati umur 30 kek, 100 kek, atau besok pun gwa kan ga akan bisa ngajak malaikat pencabut nyawa ngopi sambil ngobrol-ngobrol dulu untuk suspend my death-time... [ How sweet it is just to stop here and let the good things I've done be remembered...]

Caffeine-effect

Mau gemeteran kayak mbah-mbah kenak parkinson ? Gini resepnya: 3 sachet Nescafe Black 2 sendok teh gula pasir 1 mug air panas Campur, aduk rata, minum selagi hangat. Kalo udah abis, lalu ditambah dengan: 2 sachet Nescafe Black 1 1/2 sendok teh gula pasir 3 sendok teh creamer 1 mug air panas Campur, aduk rata, minum selagi hangat. Hasilnya: keringat dingin, tangan gemeteran, melek berkepanjangan dan tenaga tiada habis dan lemes. Gwa tau bakal ngalamin kayak gini. Candu! Syalan!

Hey, Bab!

Image
Yang ganteng dan tinggi itu Babab. Di sebelahnya, yang imut itu... he eh. Itu, bener. Yang pakek celana monyet biru itu, lhooo! Lu sangka gwa boong, apa?! *tampar yang gak percaya* Iya!!! Bener gwa koq! Manis kan?! Apalagi potonya seuprit gitu! =P Kenapa Babab? Waktu baru belajar ngomong, Ibu dengan sabar mengulang pelan-pelan kata "Bapak". "Baaa... pak", yang gwa ikutin dengan "Baaa... bab". Waktu Ibu bilang "Iiii... bu", gwa ngikut dengan "Baaa... BU"! Untung gak keterusan ampe gede. Babab itu adalah bokap yang super sabar dan santai serta kocak. Saking santainya, kalo orang-orang udah pada teriak "Pak! Rumahnya kebakaran!" maka Babab cuma bilang "Oh... Ya udah. Siram aja..." lalu melenggang santai ambil ember berisi air. Itu menurut Bude gwa, sepupu beliau. Jangan ketipu sama tampangnya! Sebagai anaknya, gwa tau banget bokap gwa gimana. Waktu gwa SMP dulu, sehabis makan siang beliau suka banget dengerin lag...