By the River Piedra...

Saya nggak akan duduk dan tersedu. Weeping is for lamer only.

Ada sebuah legenda bahwa Sungai Piedra begitu dingin sehingga apapun yang jatuh ke dalamnya--dedaunan, serangga, bulu burung--berubah menjadi batu.

Nggak seperti Pilar yang ingin merenggut hatinya dan mencemplungkan ke dalam sungai itu, saya ingin mencemplungkan diri utuh-utuh ke dalamnya. Masuk lebih jauh, bersilaturahmi dengan dedaunan, serangga dan bulu burung dalam diam, berbagi keheningan bersama, dan berharap tak akan ada sesuatupun mengusik kedamaian kami.

Maaf, duhai cahaya. Kamu (lagi-lagi) terlalu membutakan. Saya akan kembali retreat, mundur teratur.


ps: terima kasih, Eyang Coelho. Buku-buku tentang cinta yang Anda buat memang indah. Tapi saya punya cinta dengan definisi saya sendiri yang nggak akan sanggup Anda tulis saking kelamnya.

Comments

Jay said…
wah, pantes ruang ini terasa kelam.
:: ahmadz :: said…
yahh.. tiap orang punya pandangan masing-masing soal cinta.. :)
gita said…
klo eyang coelho ga bisa nulisin, piye nek ditulis dhewe ae? :D
human wannabe said…
om jae:
err...

Ahmadz:
Thx

Mbak Gita:
Sampun... (=
anakperi said…
sik, sik... soal mundur itu, aku jadi inget... tahu bahasa indonesianya "kunduran trek", gak, mbak?
[weh, ra nyambung, ya?]
kw said…
oh ya tulis aja, siapa tahu dapat nobel. :)
venus said…
hidup adalah kematian yang pahit :)

Popular posts from this blog

Tentang "Dikocok-kocok" dan "Keluar di Dalem"

Semacam Acak

Cerita Akhir Pekan