Requiem for the Unborn
Lelaki itu tunduk menatap onggokan plastik di pangkuan berisi sebuah kuali gerabah kecil, bersama sebotol besar air mineral, selembar bon rumah sakit dan selimut. Yang membuat wajahnya berduka adalah bungkusan kain putih mungil seukuran sepuluh senti di dalam kuali, berisi fetus berusia hampir empat bulan yang katut bersama pipis sang ibu siang tadi. "Ini ketiga kalinya," ujarnya, mirip desahan. Sang istri yang duduk di sebelahnya juga turut menunduk, menatap sekilas kuali kecil, lalu menoleh ke arah lain. Perempuan yang biasanya ceria itu, yang pernah disandingkan sejajar Nirina Zubir oleh pengagum gelapnya, yang berkutat bersama lumpur di situs proyek, mengenakan sepatu bot berujung baja serta helm pelengkap, bergaul bersama kuli-kuli bangunan namun tetap ingin terlihat 'chic' bersama blus pinky dan jins belel. Saya nggak tau mesti bilang apa. Belum pernah saya sedekat ini dengan kematian, dengan kekecewaan, dengan harapan yang hilang, tanpa saya bisa berbuat apa-a...