Ini cerita tentang kejadian dua hari lalu. Maaf, bukan cerita jorok seperti judulnya. Malah kebalikannya. Jadi begini… Saat itu siang gerah di pojokan Jakarta dan sayangnya saya harus keluar kamar menyelusur aspal demi menyambung napas ketemu klien--satu hal yang paling dihindari mahluk nokturnal berkaki dua seperti saya. Beberapa mbak-mbak dan siswi SMU yang semuanya berjilbab menaruh pantat di sebelah saya pada jok Metromini 72, di deretan kursi paling belakang. Mereka lumayan berisik, cicit-cuwit cekikikan nggak penting, menafikan kemacetan lengas yang meresap masuk dari celah jendela dan pintu terbuka. Lalu seorang penjual stiker melompat naik, membagikan dagangan yang dia sebut "murah meriah", yaitu dua lembar kalimah suci tentang nama dan kebesaran Tuhan. Tak lama kemudian bis terguncang-guncang memasuki mulut terminal yang aspalnya berantakan kayak muka saya. Penjual stiker yang selesai memunguti kembali dagangannya dari para penumpang berdiri di depan saya. Bib...
Bukan latah ikut-ikutan, tapi gara-gara demo BBM ini gwa sempet clash sama seseorang. Ceritanya begini: Jumat siang, 30 September, dan duit sama sekali gak ada. ATM udah gak bisa diharapkan lagi. Sebulan lalu diblokir gara-gara otak yang kapasitasnya cuma 2 kb ini lupa PIN. Lagian mending ga ada kartu ATM sih. Gak boros dan gak asal narik tiap kali perlu (gwa kan gak tahan godaan =P) Karena males jalan panas-panas sendirian, jadilah si teman ini gwa ajak barengan ke bank sebelah kantor pos dekat Bunderan UGM. Mendekati Bunderan udah ada rame-rame. Beberapa polisi berjaga-jaga dekat kerumunan mahasiswa yang bawa-bawa TOA dan berorasi. Si teman yang emang kritis abis itu langsung bernada tinggi ngomentarin kejadian yang ada di depan mata. Gwa sih cengar-cengir aja dan mencoba bikin dia cooling down. Males panas-panas begini buang energi, buang abab serta spanneng. Nyampe di bank kita ngadem sebentar. Menurut gwa sih ACnya lumayan bikin kepala dan hati jadi dingin. Sekeluarnya, dia ajak g...
TRIGGER WARNING! Dark. So dark even by my own standard. Sudah hampir setahun ini saya berpikir keras--sesuatu yang sangat jarang sekali saya lakukan. Lumayan juga ini pageblug. Otak saya batal atropi. Yang jadi keresahan saya paling utama adalah betapa pemerintah nggak ada serius-seriusnya menangani musuh renik tak kasat mata namun sangat mematikan ini. Betapa bercandanya statement yang dilontarkan di publik oleh para pengambil keputusan yang di tangan mereka hajat hidup dan nyawa orang banyak terletak. Isuk dele, sore tempe. Mencla-mencle, undlap-undlup koyok peli ( melambaikan tangan pada Bapak Terawan yang saya ingin sekali dia dibuat mendadak gagu) . Saat tulisan ini dibuat, sudah ada 196.989 kasus tercatat dengan 8.130 kematian, termasuk 105 dokter (yang sekolahnya susah dan lama, duitnya kudu buwanyak, dan kalau ambil spesialisasi udah perpaduan antara budak Afrika jaman kolonialisasi Amerika dan gencet-gencetan ala ciwi-ciwi populer jaman SMU), belum lagi kru nakes dan para peke...
Comments
Post a Comment
Wanna lash The Bitch?