Ini cerita tentang kejadian dua hari lalu. Maaf, bukan cerita jorok seperti judulnya. Malah kebalikannya. Jadi begini… Saat itu siang gerah di pojokan Jakarta dan sayangnya saya harus keluar kamar menyelusur aspal demi menyambung napas ketemu klien--satu hal yang paling dihindari mahluk nokturnal berkaki dua seperti saya. Beberapa mbak-mbak dan siswi SMU yang semuanya berjilbab menaruh pantat di sebelah saya pada jok Metromini 72, di deretan kursi paling belakang. Mereka lumayan berisik, cicit-cuwit cekikikan nggak penting, menafikan kemacetan lengas yang meresap masuk dari celah jendela dan pintu terbuka. Lalu seorang penjual stiker melompat naik, membagikan dagangan yang dia sebut "murah meriah", yaitu dua lembar kalimah suci tentang nama dan kebesaran Tuhan. Tak lama kemudian bis terguncang-guncang memasuki mulut terminal yang aspalnya berantakan kayak muka saya. Penjual stiker yang selesai memunguti kembali dagangannya dari para penumpang berdiri di depan saya. Bib...
Tayang dengan persetujuan. Coincidence is a myth. We're meant to meet anyone who crossed our path. Some left as friends, lovers, and even soulmates; some left us a lesson. Namanya Vembri , tinggalnya jauh (dan mahal) di Papua sana. Saya mengenalnya karena teman hidupnya adalah juga teman saya seangkatan di kampus AMDG. Waktu saya ke Jakarta kemarin, kami sempat bertemu. Dia ke Jakarta karena urusan popotoan. Namanya masuk menjadi salah satu penerima hibah dari Panna Foto Institute . Sebenarnya saya hanya kurir. Saya membawakan majalah Natgeo Indonesia titipan istrinya, Pipin, edisi khusus Januari tentang obat-obatan karena tulisan dan foto Vembri terbit di sana. Tapi karena saya orangnya ogah rugi, ya sekalian saja saya aku-aku teman. Vembri adalah salah satu dari berderet-deret fotografer yang saya kenal di Jakarta, Jogja, dan Bali. Lingkaran kami yang bersinggungan akhirnya membuat kami ngobrol di WhatsApp. Dan seperti semua kejadian "serba kebetulan" lai...
TRIGGER WARNING! Dark. So dark even by my own standard. Sudah hampir setahun ini saya berpikir keras--sesuatu yang sangat jarang sekali saya lakukan. Lumayan juga ini pageblug. Otak saya batal atropi. Yang jadi keresahan saya paling utama adalah betapa pemerintah nggak ada serius-seriusnya menangani musuh renik tak kasat mata namun sangat mematikan ini. Betapa bercandanya statement yang dilontarkan di publik oleh para pengambil keputusan yang di tangan mereka hajat hidup dan nyawa orang banyak terletak. Isuk dele, sore tempe. Mencla-mencle, undlap-undlup koyok peli ( melambaikan tangan pada Bapak Terawan yang saya ingin sekali dia dibuat mendadak gagu) . Saat tulisan ini dibuat, sudah ada 196.989 kasus tercatat dengan 8.130 kematian, termasuk 105 dokter (yang sekolahnya susah dan lama, duitnya kudu buwanyak, dan kalau ambil spesialisasi udah perpaduan antara budak Afrika jaman kolonialisasi Amerika dan gencet-gencetan ala ciwi-ciwi populer jaman SMU), belum lagi kru nakes dan para peke...
Comments
Post a Comment
Wanna lash The Bitch?