"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

For the Love of Dog v0.1

Posted by The Bitch on 11/01/2009 08:53:00 PM

Tau anjing? Iya, binatang berbulu berkaki empat, selalu ngos-ngosan meskipun nggak lari-lari, sering nggonggong nggak puguh, berliur segentong nggak abis-abis, (yang katanya) penghalang malaikat chicken buat masuk rumah orang Islam, dan jadi kata umum untuk memaki (dan biasa saya gunakan). Banner di atas adalah pengumuman kumpul anjing yang diadakan tanggal 8 November nanti, jam 7.30 sampai 12 siang di Taman Langsat, Kebayoran Baru. Dekat dengan tempat nongkrong saya, Wetiga.

Beberapa bulan belakangan ini saya jatuh cinta pada anjing. Dan seperti pecinta pada umumnya, sang objek akan selalu terbayang dimanapun saya berada. Gara-gara anjing, saya jadi kelewat sering menjenguk Oma Wiwik dan Mbah Gogo, mencari tau lebih banyak tentang sifat dan berbagai jenis mereka. Karena mereka pula saya sering mojok di pabrik sambil merokok di beranda, bertukar cerita dengan Pak HRD yang ibunya sering memungut anjing terlantar kemudian dipelihara di rumah.

Lagi-lagi, seperti pecinta pada umumnya, anjing menjadi kelemahan saya. Saya sering reflek tersenyum melihat anjing yang sedang diajak jalan-jalan pemiliknya. Pernah suatu sore saya dikejar seekor puppy jantan mix Siberian Husky dan Kintamani usia enam bulan hanya karena saya menyapanya dengan ‘Hay, Ganteng!’. Tidak, dia tidak mengejar saya karena saya berdaging banyak. Dengan ekor bergoyang riang, lidah jambon terjulur, dan mbak-mbak pemegang kekang pontang-panting di belakangnya, Gladi berlari dan meminta saya untuk sejenak bermain dengannya.

Dan saya bertindak sebagai pencinta—pada umumnya—ketika tau begitu banyak kisah sedih menimpa anjing-anjing tak bertuan. Saya menahan amarah pada para pemilik tak bertanggungjawab yang melemparkan anjing mereka ke jalan dan membiarkan mahluk-mahluk manis itu menggunakan insting purba untuk bertahan, melawan tukang ojek ringan tangan dan anak-anak kecil yang didoktrin bahwa anjing hidup untuk dilempari batu dan liurnya membuat seorang Islam mendadak Kristen.

Beberapa hari yang lalu seorang ayah dari tiga anjing bahagia menunjukkan sebuah alamat situs pada saya. Saya baru tau ada LSM seperti itu di Indonesia. Dari daftar berbagai kegiatan yang dipublish, tidak ada satu pun yang membuat saya tidak berdecak kagum. Penyelamatan, kebiri massal, edukasi, garage sale, semua dibabat habis. Salah satunya adalah artikel tentang kegigihan seorang ibu tua miskin bernama Mak Isa yang membaktikan waktunya melindungi sembilan anjing jalanan. Padahal orang-orang hebat itu tidak melulu ‘mengurusi’ anjing, tapi juga kucing yang jumlahnya lebih banyak. Di situs ini mereka malah sempat mengabadikan demonstrasi untuk dua lumba-lumba pentas, Lulu dan Lala, yang tidak mendapatkan perawatan secara layak dan ditangkap di perairan yang seharusnya menjadi suaka binatang hampir punah. Mereka pasti punya hati dan tekad baja untuk membuat organisasi seperti ini tetap bergerak.

Saya sayangkan orang yang tidak—atau belum—menemukan kebahagiaan mencintai binatang marjinal. Saya prihatin pada mereka yang menggilai anjing ras namun menyerahkan pengurusannya pada pembantu lalu membuangnya ketika bosan. Terlebih lagi, saya hanya bisa menghela napas berat pada mereka yang fanatik bahwa komitmen bertanggungjawab hanya ada antara lelaki dengan perempuan, dengan sesama manusia, dan bukan manusia dengan anjing. Karena kadang saya membuktikan anjing lebih manusiawi ketimbang manusia-manusia yang saya kenal.

Saya tau kendala sebagian besar orang yang takut dan pernah punya trauma dikejar anjing. Apalagi sejak kecil mereka—termasuk saya—sudah tercuci otaknya untuk menganggap anjing sebagai binatang terlarang dan harus dijauhi. Mungkin saya termasuk anak beruntung yang pernah memiliki tetangga depan rumah dengan anjing manis yang bisa saya kuwes-kuwes seenaknya. Dan saya lebih beruntung memiliki sepasang orangtua moderat yang tidak pernah melarang dan selalu menjawab pertanyaan saya—termasuk menegasi semua pendapat guru agama tentang anjing dan kerancuan antara haram dan najis. Ya, anjing haram jika dimakan dan liurnya adalah najis yang punya tata cara sendiri untuk membersihkan. Namun saya tidak memandang peraturan—yang entah didapat dari hadits atau ayat Al Quran—secara tekstual. Menurut saya, peraturan bebersih dengan air tujuh kali dan mengusap dengan pasir sekali diantaranya ketika terkena liur anjing memang harus dilakukan karena di masa itu belum ada sabun antiseptik. Sesederhana itu, atau saya hanya malas direpotkan.

Sungguh, saya tidak menjadi murtad dan kebarat-baratan hanya karena saya memutuskan untuk mulai berkomitmen pada anjing. Saya hanya menjalankan fungsi saya sebagai manusia: berbagi kasih dengan sesama mahluk.

Mari…


With dog like this, how could anyone say no?
(photo courtesy of Shiro's Daddy, taken in one fine Sunday afternoon)

Labels:

To One Tired Angel...

Posted by The Bitch on 10/30/2009 01:07:00 AM

Somehow, being great is not enough. You have to be perfect. You have to be what everybody wants you to be. You have to have countless of masks so you won't be disappointing anybody and wear it with exact timing though you only have split second to change into another mask once you meet another people. And it sucks.

Somehow, the temptation is too bitch to be ignored you surrender. Not because you want to but because you simply need to silence the seductress so you could carry on with the life you have. And you're breaking down in the process because the hope raised and the expectation came unexpected. In the end of the day, you know you've taken the wrong turn and you made it into one hell of a lesson learned.

Somehow, it's very exhausting to mend all the things by yourself. I know. You said that million times. And it's all begin with what people called choice, option, consequence. We had this kind of talk before. A long one that I never forget.

But one thing I know since the very beginning: you never ceased to be an angel, no matter what. In your worst, you're still there when I was in my lowest. You taught me to smile at the problems, to embrace invisibly, to think beyond any boundaries, to endure the pain, how impossible it seemed. That's how I know you're still human.

Yet, it's so painful to see you face the battle alone. The long, winding struggle that you'd talked about long after it's gone and you slip into conversations casually, unintentionally.

For an unfinished creature that God implanted knowledge, you're one perfect specimen that human could choose the purpose of creation. I bow deeply before you for this.

Thanks for the blue list. You're in my topmost, too (=

picture taken from here. nice, eh?

Labels:

Tentang Maktub

Posted by The Bitch on 10/13/2009 12:41:00 PM

Ternyata…

Di Jakarta Selatan dekat Beverly Hills-nya Indonesia masih ada tempat dengan halaman rindang serupa hutan; ada pemahaman tentang privasi; ada kasih dari dua manusia asing; ada senyum penuh pengertian; ada teras dengan jendela besar-besar; ada dunia dengan biaya sewa murah; ada satu petualangan panjang menanti di hadapan.

Dan keajaiban yang mewujud tepat hingga ke renik.

Ini untuk kamu: tentang komitmen seumur hidup, berdua menantang dunia.

Dan ini karena kalian: semua orang yang doanya terselip diantara berjuta pinta seiring helaan nafas.

Terima kasih, Sang Maha Baik. Bahkan ketika saya memohon seekor anjing, Kau kirimkan malaikat lengkap dengan sepotong Eden terlempar ke Radiodalam.

… and the adventure begins…

ps: semoga nggak ada cerita kekuncian dinihari.


gambar diambil dari foto album sang ayah.

Labels:

Hypocrisy, Anyone?

Posted by The Bitch on 10/10/2009 04:50:00 PM

Menurut kamus online ini, hypocrisy, yang berasal dari abad ke-13, berarti:

1 : a feigning to be what one is not or to believe what one does not; especially : the false assumption of an appearance of virtue or religion

Lalu, apa hubungannya dengan berita tentang Miyabi yang saya ambil screenshot-nya di sebelah?

Saya gerah. Beneran. Sumuk, kepanasan, emosi tinggi. Ngapa-ngapain jadi nggak jenak.

Kenapa? Karena kemunafikan ini semakin menjadi-jadi. Katanya Miyabi merusak moral bangsa. Setau saya, bangsa itu hanya satu kelompok besar, terdiri dari individu-individu yang berdiri sendiri, punya otak dan hati sama sepeerti manusia lainnya, dan punya pilihan sendiri. Mereka hanya KEBETULAN berada dalam satu tempat yang sama. Ada juga yang bertebaran di berbagai negara lain, namun karena akar dan budaya, mereka masih merasa bangsa Indonesia.

Satu hal yang saya nggak abis pikir dengan FPI yang katanya Front Pembela Islam. Islam sebelah mana yang kalian bela? Saya jengah dengan kelompok-kelompok yang seperti majas pars pro toto itu, membawa-bawa semua padahal mewakili sebagian. Saya yang juga ber-KTP sebagai Islam Indonesia malah nggak merasa pernah mereka bela. Mbak-mbak yang dinihari berdiri di sekitaran Melawai untuk bertahan hidup (yang saya yakin sebagian besar juga mencantumkan Islam di kolom agama pada KTP mereka) malah mereka maki-maki. Jadi, apa tindakan kalian sebagai pembela?

Saya juga sangat menyayangkan pemerintah yang harusnya bisa mengatur 'gerombolan liar' seperti FPI untuk tidak sembarangan menuding kelompok lain sebagai pihak bersalah dan kafir dan sok-sokan jadi Robin Hood kesiangan, merampoki juragan-juragan Mangga Besar agar diskotik dan tempat maksiat mereka tidak digerebek. 'Allahu Akbar' yang seharusnya suci hanya jadi pembenaran untuk menutup jalan rejeki sebagian besar pekerja prostitusi dan ojek pengantar dan penjual minuman. Sungguh picik.

Sekarang mereka merambah ke area film, dengan alasan moral mereka merasa berhak mengusir Miyabi yang akan membintangi salah satu sinema di negara ini. Padahal, Miyabi juga manusia. Bukankah manusia satu dan lainnya bersaudara, sesama penghuni planet Bumi dan berhak atas udara yang sama-sama kita hirup? Lagipula, merusak moral bangsa, katanya? Bagian mana? Apa yang mereka tau tentang film itu jika naskahnya atau outline-nya pun mereka malas mencari tau?

Rasanya sama seperti yang saya lihat di televisi, ketika spanduk-spanduk penolakan dijembreng di kampung halaman jenazah yang mati dan dituduh sebagai penyebab Bom Kuningan II. Bukankah itu tidak manusiawi? Mana itu yang katanya agama pembawa kedamaian jika semua dibicarakan dengan parang dan kemarahan?

Hanya orang-orang munafik yang berkoar merasa diri paling benar. Lagipula, semakin kencang kamu berteriak ke telinga orang lain, maka akan makin tuli nuranimu bahkan untuk mendengar suara kebenaran.

gambar diambil dari sini.

Labels:

Relativity, Anyone?

Posted by The Bitch on 10/09/2009 10:59:00 PM

Kemarin saya terkapar tak berdaya di kamar kos, sejenak setelah membuka mata, pagi pukul delapan. Kepala rasanya seperti dihantam kontainer tiga biji sarat berisi muatan, lengkap dengan supir dan keneknya. Untuk mencetin keypad di ponsel dan mengabarkan saya absen saja rasanya susah sekali. Kelemahan saya memang di kepala dan perut. Antara sakit kepala dan mules, meskipun tampang berusaha dibuat sangar dan galak.

Hampir setahun yang lalu rekan seperburuhan saya yang cantik, manis, dan kalem pulang dari perawatan di Belanda. Dia bercerita tentang biopsi, ketika jarum diameter lima sentimeter menusuk tulang ekor tanpa anestesi. Sakitnya tidak tertahankan. Dan karena trauma hebat setelahnya, dia baru bisa bercerita beberapa bulan kemudian. Saya hanya terhentak tanpa bisa berkata apapun di hadapan perempuan dengan airmata leleh, di suatu sore.

Kami berdua punya ambang sakit berbeda. Baginya, mungkin biasa untuk merasakan sakit kepala berkepanjangan dan mimisan tak berkesudahan. Hampir tiap hari dia mengalaminya. Namun tidak bagi saya yang merasa sekuat banteng dengan waktu tidur tak beraturan berbahan bakar kopi kental hingga lima gelas tiap hari dan rokok berpuluh-puluh batang.

Pernah pada suatu kali saya mendapati hidup saya dan hidup seorang lajang lelaki usia tiga puluh tiga mendadak beririsan. Saya hanya bengong mendapatinya mengurus rumah, mencuci pakaian, membersihkan kotoran ketiga anjing-anjingnya, bermain dengan mereka, dan masih sempat ngobrol dengan nada riang. Padahal sudah dua hari ia melek tanpa tidur. Semua dilakukan sepulang bekerja, tanpa duduk dan tanpa sempat menghela napas. Enteng, dia berkata "Welcome to my world." Tanpa beban. Begitu saja.

Lalu saya tersasar di negara bernama Indonesia, mendapati suatu hari beberapa orang terpilih untuk memerintah, mewakili suara rakyat--katanya. Dan gaji mereka berpuluh-puluh juta, jauh melesat melebihi pendapatan seorang pemulung dengan pendapatan kurang dari sembilan ribu rupiah per hari. Saya marah-marah karena empati mendefisit di suatu tempat dengan hiasan megah serupa rumah keong terbelah. Sementara teman saya datar menanggapi: "If you were in their shoes, are you sure you won't do the same like they do?"

Saya terdiam. Mungkin hanya karena kesempatan yang tidak sampai ke muka saya maka saya tidak bisa berbuat seperti mereka. Kekuasaan dan harta adalah dua godaan yang kadang tidak tertahankan bagi manusia-manusia lemah seperti saya. Untung Gie mati muda. Jika tidak, maka ia akan sama dihujat sebagaimana rekan seperjuangannya yang beberapa tahun kemudian menjadi birokrat.

Semua memang relatif, karena sifat, latarbelakang, dan masing-masing pengalaman orang berbeda-beda. Saya juga belum tentu ingat akan orang-orang yang saya wakili jika saya berada dalam posisi mereka, menangguk uang berpuluh-puluh juta dengan tidur seharian mendengarkan orang berbusa-busa.

Tapi ya sudah lah. Toh saya tetap alive and kicking. Ergh. Saya mengantuk. Selamat malam semua. Semoga akhir pekan ini menyenangkan...

Labels:

Tentang Pasrah

Posted by The Bitch on 10/07/2009 02:19:00 AM

Malam tadi saya dinner lagi bareng lelaki kurus berwajah tirus, orang yang sama dengan siapa saya berbagi malam takbiran. Sehabis libur Lebaran baru malam itu kami bertemu. Mendadak, setelah kami bertukar celaan (penanda keakraban yang aneh bagi orang-orang di sekeliling saya), ia mengajak saya makan sate padang.

Bukannya tanpa persiapan saya menuruti ajakannya. Dia adalah salah satu dari dua orang ‘berbahaya’. Makan atau nongkrong berdua saja bareng lelaki-lelaki usia tiga puluh tiga yang saya kenal dalam satu komunitas ini sebenarnya hanya ‘same shit different day’. Sebagai ‘adik’ mereka—saya yang mengaku-ngaku sementara mereka melepéh-lepéh—saya hanya akan ‘digampari’ dengan berbagai cerita sehari-hari yang sepertinya dipetik dari udara namun kental makna. Padahal saya sedang menunggu gamparan orang ’berbahaya’ satu lagi yang tak kunjung datang.

Sesudah beberapa kunyahan, awalnya adalah batik yang saya protes keberadaannya secara serempak dalam satu hari. Hanya untuk satu nasionalisme semu (padahal masih kalap terhadap diskon Zara dan Louis Vitton) maka orang bangga berbatik, beragam corak dan model. Dengan suara datar, ia mengatakan tanggal 2 Oktober kemarin adalah eforia kemenangan setelah—lagi-lagi—kami dicolong Malaysia. Mungkin jika orang-orang sini tidak memprotes negara tetangga yang mencaplok batik sebagai salah satu hasil budaya mereka, UNESCO tidak akan mengakui batik sebagai ‘made in Indonesia’. Yang tidak saya katakan keras-keras adalah kesimpulan bahwa keseragaman berbatik adalah salah satu bentuk persatuan atas kebanggaan. Dan ia setuju tentang esensi: rasa kebersamaan. Sama halnya dengan para pekerja kerah biru Jakarta bersatu dalam kedukaan ketika gedung perkantoran mereka terimbas ledakan bom Kuningan bab 2.

Lalu ia menyoal kepasrahan melepas apa yang dia miliki meskipun hanya dua minggu. Saya agak terkejut karena setau saya lelaki di depan saya itu adalah orang dengan perhitungan matang. Dia membongkar pemahaman saya tentang pasrah yang berarti berhenti berusaha ketika semua cara menubruk dinding; bahwa pasrah adalah kata sifat dan bukan kata kerja; bahwa pasrah adalah tidak berbuat apa-apa; dimana seluruh daya dan upaya terperas hingga tinggal tersisa tai kemudian lungkrah dan akhirnya luluh seluruh.

Rasanya dia sedang menampar saya ketika ia mengingatkan ada satu faktor yang tidak terduga, yaitu keajaiban. Bagi saya tidak ada satu pun yang tidak saya dapatkan tanpa berusaha dan bekerja, bahkan keajaiban sekalipun. Saya harus mengerahkan semua tenaga dan kemampuan saya untuk akhirnya mendapatkan keajaiban. Saya, yang merasa banyak orang bergantung pada keberadaan saya di pabrik dan di rumah; sebagai kakak, anak dan buruh; sebagai pendengar dan pencela; sebagai pembantai dan bahu untuk bersandar; sebagai apapun yang diperlukan orang lain. Namun ia mengingatkan saya untuk berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam kemudian membiarkan semua berjalan dengan sendirinya: menikmati kekosongan (yang berbunyi sangat nyaring beberapa hari belakangan).

Ia kembali mengingatkan saya untuk berpikir dengan hati.

Sangat sulit bagi saya sekarang untuk berlaku seperti itu. Sepanjang hidup, ada banyak hal yang terjadi dan saya simpan sebagai data statistik. Karena itu saya sering sok tau. Namun saat saya jumawa dan bersikeras membuktikan bahwa apa yang mereka stempel di jidat saya adalah salah, pada akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali beberapa mulut terbungkam dan dendam menghebat.

Sore sebelumnya seorang perempuan periang bertanya mengapa saya belum menulis juga. Mendadak pertanyaan itu mengemuka ketika saya sedang ‘dibantai’. Saya pikir saya sedang menikmati pasrah menjalankan hidup tanpa harus mendokumentasikannya ke dalam bentuk teks tak berarti seperti ini. Ternyata saya kelelahan. Saya capek berpikir dan penat bekerja. Beberapa tenggat teronggok tak tersentuh ketika seharusnya selesai beberapa waktu silam. Padahal ini demi hajat hidup orang banyak.

“Pasrah itu, Pit, adalah kondisi dimana kamu tidak takut dan tidak berani; adalah vertikal dan bukan horisontal; adalah menerima hidup tanpa penyangkalan. Bisakah kamu seperti itu?” tanyanya retoris.

Samar saya mengingat sore gerimis di bawah atap sebuah toko dengan titik hujan yang saya pandangi dari balik asap nikotin. Saat itu, setelah beberapa lokasi kos saya sambangi, saya berharap ada keajaiban untuk seekor anjing berbagi hidup bersama manusia tanpa dibatasi doktrin agama…


ps: Gambar di atas adalah dogtag milik Sasa semasa bayi, diberikan sang ayah karena komitmen yang saya buat sendiri. Saya membuatnya menjadi kalung sebagai pengingat bahwa keajaiban tidak akan berhenti sampai disini (=

Labels:

Lebaran, Anyone?

Posted by The Bitch on 9/25/2009 05:42:00 PM

Hari terakhir puasa Babab tidak bersama kami ketika Lebaran. Kami santai saja. Ibu masih mencetak adonan kue kering pada nampan ketika takbir berkumandang tanpa henti di mesjid, karena ini adalah saat yang tepat mencoba resep. Adik saya malah tidur karena flu. Dan saya baru pulang ke rumah pukul sebelas malam. Semua sama seperti biasa, kecuali bagian membuat kue. Sejak dulu keluarga saya memang tidak pernah mendewa-dewakan Idul Fitri karena itu hanya perayaan atas terbebasnya nafsu setelah terkungkung sebulan penuh. Setidaknya begitulah menurut saya.

Salahkan media yang mengangkat momen ketertundukan manusia atas nafsunya sendiri sebagai tambang iklan dan rating yang tak habis dikeruk. Silahkan berkernyit pada lawakan-lawakan konyol pengantar sahur (dan saya bertanya-tanya ada berapa korban tersedak hingga mati ketika mereka makan sambil tertawa). Bebaskan dirimu untuk memaki beberapa pendakwah—dadakan dan asli—pengisi waktu sebelum adzan magrib datang (dan tidak akan kamu lakukan karena beduk belum bertalu, bukan?). Setelah malam datang kita akan makan seperti babi lalu tergeletak kekenyangan. Sebelum muadzin selesai meneriakkan "Allah" pertama, kita sikat habis berbagai penganan—ringan, sedang dan berat—hingga ludes tak bersisa, melepasliarkan kembali keinginan yang tertahan seharian.

Benarkah kita telah menang?

Satu hal yang saya lakukan ketika 1 Syawal datang adalah mengirim SMS pada teman dan kenalan yang saya yakin tidak akan bertemu muka. Bukan meminta atau memberi maaf, karena saya terlalu megalomaniak untuk itu. Saya hanya menyuarakan keprihatinan terhadap pameran keserakahan yang ditampilkan mereka para ‘pemenang’. Padahal menang atau kalah selama Ramadhan sama pribadinya dengan apakah kamu cebok atau tidak sehabis buang air besar.

Berbual tentang nafsu, ada yang lucu pada halaman Facebook saya. Seorang om-om tall-dark-handsome beranak dua, mapan, dan merasa dunia ada dalam genggamannya memanjatkan doa untuk mendiang ibu pada statusnya. Sementara di pesan inbox, dia frontal mengatakan ingin bersetubuh dengan saya. Mungkin itu hanya guyonan basi khas om-om yang terseok mengejar tren, atau dia memang ingin nakal. Saya tidak pernah tau karena saya tidak pernah membalas ajakannya. Saya hanya mengingatkannya untuk tarawih sementara saya makan opor di warung dekat kos. Ketika saya mengadukannya pada seorang ‘angel in disguise’, dengan bijak dia berkata: Ada hal yang memang bukan konsumsi publik, toh?

Saya terlalu naif memaknai rangkaian Ramadhan lengkap dengan Idul Fitri, dimana manusia akan jadi lebih baik, setan-setan dirantai dan diikat, yang berpuasa selama sebulan seharusnya dapat menundukkan ego dan berbagi. Bukan membusungkan dada dan menyombongkan THR. Jiwa seharusnya tersegarkan kembali. Tidak bertambah ganas. Mungkin karena saya tinggal di kota dengan keluarga yang hanya sepeminuman kopi jaraknya hingga saya tidak memerlukan ponsel dan kendaraan baru untuk dipamerkan ke kerabat di kampung. Mungkin khusuknya suara takbir keliling desa dengan obor—seperti yang pernah saya lihat di iklan-iklan rokok—tergantikan gebyar audio system di kafe dengan irama 200 bpm. Mungkin kelelahan karena melihat begitu banyak orang berburu diskon menggantikan malam saat seharusnya kami berburu seribu bulan. Atau karena saya skeptis terhadap semua omongkosong orang-orang bergamis putih yang percaya bahwa sorban lebih bisa dijadikan pelindung kepala ketimbang helm ketika motor mereka melaju kencang di jalur cepat?

Dan saya muak.

Namun saya masih menunggu hadirnya Ramadhan tahun depan. Mungkin saya masih akan memaki.


ps: teriring salam dari semua petugas penyedia jaringan ponsel yang begadang berhari-hari; korban-korban mati dan luka karena mudik; mereka yang berjejalan di kereta dan kapal dan bis; bocah-bocah menangis kepanasan dan terhimpit; telur, ayam, kambing dan sapi yang berakhir menjadi kue kering, opor, kebuli dan rendang; polisi-polisi yang duduk-duduk di tenda bertuliskan ‘Operasi Ketupat’; dan kamitua yang menangis ketika kerabat datang dan pergi. Semoga tidak berakhir dalam kesia-siaan.

Labels:

Loony Talk

Posted by The Bitch on 9/24/2009 04:00:00 PM

Repost dari entri bertanggal 13 Januari 2009, saya kopas demi sebuah kenangan terhadap dua orang gila di suatu dinihari.


1:59:05 AM Him: paganisme pada dasarnya merupakan keyakinan yang toleran: kultus2 lama tidak merasa terancam oleh kedatangan tuhan2 baru, selalu ada ruang bagi tuhan2 lain di kuil untuk berbagi tempat di altar dan duduk berjejer berbagi sesembahan tradisional
1:59:07 AM Him: hahahahaha! Nice! macam musyarawah tuhan
1:59:15 AM Him: :))
1:59:30 AM Me: itu tulisan sape?
1:59:36 AM Him: karen amstrong
1:59:40 AM Him: gw ketik ulang buat elu
1:59:44 AM Him: kagak pake kopas2an
1:59:48 AM Me: aihhh…
1:59:52 AM Me: makaciiiii
2:00:07 AM Him: lucu2 gmn gitu itu bagian itu
2:00:12 AM Him: nyengir gw bacanya
2:00:19 AM Me: iya, gwa juga bayanginnya gitu
2:01:08 AM Me: tuhan2 pada ngerubungin meja
2:01:39 AM Him: hahahaha
2:01:44 AM Him: tuhan melu prasmanan
2:01:45 AM Me: ngopi2 sambil ngomongin umat ama nabi2nya
2:01:47 AM Him: enek dress code
2:02:01 AM Him: trus saling curhat soal umatnya di bawah sono
2:02:34 AM Him: sambil taruhan: “yahudi menang, voor setengah… sopo sik wani!” kata YHWH
2:03:44 AM Him: eh, A-L-H malah lagi maen krambol sama K-R-S-N di pjok
2:03:51 AM Me: =))
2:03:53 AM Him: YHWH bilang: “woi, wani ora?”
2:04:08 AM Him: K-R-S-N menjawab: sek dab, iki lagi tanggung
2:04:09 AM Him: :))
2:04:10 AM Me: :))
2:04:42 AM Him: eh, dhe…. dhe….
2:04:49 AM Him: malaikat nyatet log chat kita gak ya?
2:04:56 AM Him: jangan2 ntar ada di buku pahala dan dosa?
2:06:51 AM Me: cuwek
2:07:08 AM Me: paling malekate dho ngomong: “wooooo… gak gitu yoooo…”
2:07:19 AM Him: hwahahahaha
2:07:27 AM Me: keknya malekat kiri lagi kejar setoran, diketawain ama malekat kanan
2:07:28 AM Him: sambil malaikat melet2in: sok tau lu pade
2:07:59 AM Me: malekat yg kiri udah steno cepet banget gitu, hampir kecepatan cahaya nulisnya sambil misuh2
2:08:21 AM Me: ‘bocah loro iki kapan menenge to yooo… tanganku wes keju kiii’
2:08:26 AM Him: nah, kalo malaikat kecepetan nyatet logchat, itu pasti lagi nyatet lo
2:08:29 AM Him: lo kan ngetiknya cepet
2:08:34 AM Him: bukan lagi nyatet log chat ku
2:08:36 AM Him: :))
2:08:57 AM Me: =))
2:09:51 AM Me: gwa slalu ngerasa malekat kiri gwa kurus kering, di sampingnya buku tebel bertumpuk2, bekas rautan pensil menggunung, matanya kek vampir ada lingkaran itemnya, tuz mukanya bete mulu sambil misuh2
2:10:07 AM Him: hwahahahahaha
2:10:23 AM Me: yg kanan malah obesitas ketawa2 sambil ngemil, pensilnya masi panjang, tuz ngeledekin yg kiri
2:10:25 AM Him: dodol
2:10:35 AM Him: hwahahaha
2:10:36 AM Him: asu lah
2:10:58 AM Him: pokoknya, berat badan malaikat berbanding terbalik dengan berat manusia yg diawasinnya
2:11:10 AM Him: :))
2:11:14 AM Me: huhahahaha
2:11:16 AM Me: iyo
2:11:51 AM Me: 1-1nya yg dikerjakan malekat kanan gwa adalah ngerautin pensilnya si malekat kiri ama ngasih buku catetannya dia yang ga pernah kepake
2:12:02 AM Him: hahahaha
2:12:09 AM Me: tuz ngeledekin ‘mo dibantuin gaaaaak?’
2:12:14 AM Him: hwahahaha
2:12:16 AM Him: asu asu asuuuuu
2:12:21 AM Him: dodol nih
2:12:26 AM Him: ceting keren euy
2:12:27 AM Me: ;))
2:12:39 AM Him: karen amstrong imajinatif ngasih paragraf
2:13:00 AM Me: gara2 paragraf dia itu makanya gwa kepikiran malekat kiri kanan gwa
2:13:09 AM Him: lha ya iya
2:13:11 AM Him: kocak sih
2:13:21 AM Him: penggambaran tuhannya itu kek lagi resepsi dan prasmanan
2:13:27 AM Him: lagi kopdar tuhan lah
2:14:24 AM Me: kalah kopdar Jakarta dan semua kopdar2 bloger
2:14:30 AM Him: lebayyyy
2:14:33 AM Him: lewattt
2:14:50 AM Him: dhe, lu yg transkrip deh ini jadi postingan
2:15:15 AM Me: done

… dan kami menambah berat timbangan sebelah kiri. berat sekali.

Labels:

Pada Dua Puluh Menit Terakhir

Posted by The Bitch on 9/19/2009 08:20:00 PM

... yang sekarang beranjak sembilan belas: Indikator daya yang tersisa di baterai Pektay, menggeletak di meja pada sebuah kafe.

Malam melarut. Takbiran dengan bingar suara latar berirama lebih dari 200 beat per minute telah lama punah, terpadamkan oleh protes saya yang menginginkan lengang di malam 1 Syawal (yang saya rasa sama sepi dan kering di hati).

Kursi-kursi diangkat, membuat kafe ini bertambah luas. Namun kami, saya dan seorang lelaki yang duduk di sebelah saya, berwajah tirus seperti mengemban beban pada sepasang pundak kurus, masih terpaku di sini, di hadapan pendar layar tigabelas inci, meluapkan gelisah dalam diam. Hanya bunyi ketukan tuts keyboard dan hembusan asap tipis dari hidung dan mulut kami, mengambang ke atas untuk kemudian lenyap.

Dan beberapa pengunjung berdiri dari meja, menggeser bangku, mengangkat pantat, tertawa, bersalaman, berpelukan, mengucap selamat, dan berpisah di halaman parkir. Beberapa pelayan menatap gelisah pada kami yang masih menunduk, bahkan enggan untuk menoleh. Botol-botol teh dan milkshake setengah isi terlantar, mengembun, terlupakan.

Kosong. Sunyi.

Well, selamat Idul Fitri. Damai di hati, damai di bumi.

(... dan masih bersisa lima belas menit di pojok kanan atas. Ibu, saya pulang)

Labels:

Tentang Kendali

Posted by The Bitch on 9/11/2009 07:47:00 PM

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Puasa-puasa begini biasanya makanan di rumah tidak banyak berubah. Hanya es buah atau kolak yang biasanya tidak pernah absen setiap hari. 

Ibu saya menyukai Ramadhan. Asalkan harga-harga tidak melambung tinggi. Baginya, memasak untuk makanan sahur dan buka itu lumayan irit dari segi waktu dan material. Dan ibu masih saja bertanya-tanya sampai sekarang mengapa bisa semua harga bahan makanan naik gila-gilaan dalam sebulan untuk para keluarga yang 'cuma makan segitu'.

Seingat saya, saya mulai puasa penuh sejak kelas tiga SD. 'Penuh' menurut ukuran ibu saya, turut sahur dan berbuka pada waktunya, nggak makan dan minum diantaranya. Padahal, andai beliau tau, pasti saya nggak dianggap puasa. Saya kerap 'nithili' tempe goreng di dalam lemari, siang-siang sepulang sekolah karena nggak tahan. Bukan karena lapar (seingat saya, saya nggak pernah merasa lapar), tapi karena pengen.       

Ketika saya besar, saya lebih bisa paham tentang puasa yang tidak hanya tahan tanpa makan dan minum. Mulut saya berhenti bicara sembarangan, saya lebih pendiam, dan tidak berasap. Mungkin karena tidak bisa ngopi dan merokok. Dua hal itu sebenarnya yang menjadi motor saya. 

Ibu guru agama saya dulu pernah bilang bahwa puasa itu sebenarnya adalah berperang dengan diri sendiri, melawan keinginan yang dilarang seharian. Dulunya saya nggak ngerti dengan omongan perempuan bulat menyenangkan dan terbungkus kerudung di hadapan saya itu. Setelah saya besar, saya baru mengerti artinya. Meskipun sedikit.

Ini tentang pengendalian diri, sama seperti yang diiklankan salah satu ustad di televisi duluuu sekali.

Terlepas dari puasa, kadang saya sendiri sering lupa dan tidak terkendali. Dorongan untuk melakukan sesuatu terasa amat sangat hebatnya hingga saya seperti HARUS melakukannya. Sama seperti ketika saya mencium kening Caca di depan abang saya. Saya tidak sadar bahwa perbuatan saya membuatnya iri, karena selama dua tahun Caca menjadi putrinya, dia tidak pernah sekali pun melakukannya. Baginya, mencium anjing adalah melanggar batasan antara manusia dan binatang. Padahal dia ingin sekali membawa mereka tidur di ranjang yang sama. 

Dan saya tidak habis pikir mengapa banyak sekali orang berbondong-bondong menyerbu mall hanya untuk membeli pakaian dan mukena yang akan dikenakan saat Lebaran. Perayaan kemenangan yang cuma dua hari itu seperti tanpa rem. Semua hal yang dilarang sebulan penuh akan diumbar gila-gilaan. Opor, rendang, kue-kue kering, minuman ringan berkrat-krat. Semua membuncah, terhidang di meja makan, di dapur, di ruang tamu. Belum lagi parsel yang dikirimkan ke kolega bisnis.

Ada yang membuat miris setiap Ramadhan. Beberapa rumah dari kos saya ada tiga kamar kebobolan. Selalu begitu sebulang sebelum Lebaran. Para maling itu perlu uang untuk merayakan kemenangan. Dan saya makin malas menonton televisi, menghindari berita tentang korban yang terinjak berebut uang zakat atau sedekah.   

Kalau sudah begini, apanya yang terkendali?  

Gambar diambil dari koleksi wallpaper unduhan yang tersimpan dalam harddisk Pektay.

Labels: