... yada yada yada ...

Media vita in morte sumus. And this is the between.

Love Song for the Dear Departed

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
Hey, Pejantan!

Saya tidak datang dengan cinta. Yang saya bawa adalah dendam pada para pembawa phallus di selangkangan, merupa kelamin, terpuja dalam pasangan lingga dan yoni di candi-candi, dan kemudian menjadi lambang pada menara-menara pencakar langit lengkap dengan sepasang skrotum dalam bentuk bangunan bersayap kanan-kiri.

Saya tidak datang dengan kasih. Yang saya bawa adalah nafsu pembalasan sebagaimana konon Hindun memekik lantang pada perang di Jazirah Arab dahulu, memburu sebongkah jiwa pembunuh ayah, abang, suami dan putra lalu tersenyum puas saat tangannya teralir darah dari sebuah jantung yang masih berdenyut, terenggut dari nganga pada dada sang mujahid.

Saya tidak datang dengan rela. Yang saya bawa adalah kesempatan licik memperdaya pikiran dimana kamu dapat saya tindas sesuka hati, membual tentang hal tak masuk akal, membenturkanmu pada ide-ide terliar, mengejewantahkan sundal dan binalnya sosok perempuan tanpa harus berpakaian ketat dengan tali G-string tersembul satu senti di atas pinggang jins hipster meski selarik kain menutup kepala hingga payudara.

Dan kamu membuat semua alasan saya bertambah kuat untuk tidak tunduk dan patuh. Terimakasih.

Teriring Jonathan Davis, Munky dan Fieldy pada sesayup adzan Subuh mengambang di udara pagi bercampur pengap asap dalam dunia kotak tiga kali tiga kali tiga.

Labels:

One Great Conclusion

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
I've got a confession to make.

There was this hard lesson about 'the art of communication', about 'read between the lines' and about 'make a good partition' between rational mind and emotional feeling, started from April 12 to May 8. I'd been slapped in the face by the very shituation that I thought I could handle. I was wrong in pulling the leg of the person whom I thought could wipe all the clouds from my sky. Blah!

What I've got from this less-than-a-month relationshit: a loony is still a loony no matter how high the appreciation is. And yes, men are easily provoked and threatened by ways of women think and do.

Well, to tell the truth, I'm glad it's over. It's kinda underlining my own opinion about I'm so fucked no one could stand me for so long.

[Here I am, sipping marshmallowed Swiss Miss full of love and longing from your Mazbule, Jon, recollecting what you're saying on the other day. Woman needs a woman's girlfriend at times like these. I miss you already...]

Headstone for the brokenhearted. Hours to kill or flowers to steal. Headtrip for the mortal earthbound, one sip of the blood that I found lying here. I'm dying here.

Labels:

Bad Morning Syndrome

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
I should've known this all along. I should've trusted the itsy bitsy tiny weenie voice deep within.

IT'S ALL A BIG, FUCKIN, STUPID JOKE.

Thanks for hardening my shell.

(=

Labels:

The Cosmopolitans

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
Lelaki itu baru saja mengejang kaku dan melenguh panjang bagai meregang nyawa di atas tubuhku, lalu layu. Untuk ketiga kalinya. Dinginnya AC tidak mampu mengeringkan peluh dari tubuh telanjang kami yang menyatu di atas seprai berantakan penutup spring bed berukuran raksasa. Kupeluk dan kuraba kumpulan otot liat pada punggungnya dan kubelai ikal rambut di kepalanya yang rebah di bahuku. Nafasnya memburu, terasa panas dan liar di leher. Kedua ujung bibirku menaik sinis. Hanya selintas, sementara mataku menatap nyalang pada langit-langit putih kamar hotel berbintang yang kami tempati dari dua jam lalu.

"Terima kasih, Sayang. That was great," bisiknya sambil memain-mainkan cuping telingaku dengan bibirnya yang hangat dan basah.

"Anytime, Baby. Kamu juga hebat."

Lagi-lagi kebohongan.

Dia berguling dari tubuhku dan matanya mencari sepasang binar kepuasan di mataku. Damn! Untung saja aku belajar teater. Tidak perlu kontraksi otot genital tiga detik untuk membuatku mengerang menggelinjang bagai betina birahi. Dia tidak pernah tahu bahwa apa yang kurasa hanya getir dan sakit di bawah sana. Seperti terentang, menegang tanpa akhir, teraduk-aduk bersama rasa malu dan perih yang bercampur jadi satu gelombang besar, menghantam keras hingga mematikan semua inderaku. Tidak ada yang bisa meredamnya, bahkan dengan lubrikan berember-ember sekalipun. Demi bergepok-gepok rupiah yang dapat kubelanjakan sesukaku. Namun aku menikmati sensasi penguasaan dimana dia akan pasrah dan menuruti semua kehendakku ketika syahwatnya sudah naik ke ubun-ubun. Disini, aku yang pegang kendali. Aku yang memutuskan apakah aku ingin pergelanganku terikat tali atau syal. Aku yang memberinya ide apakah harus dicambuki atau ditetesi lilin panas yang akan leleh pada kulit terdalam. Aku yang akan menggoda, tersenyum dan melirik nakal ketika dia memasang tali kulit di leherku dengan kepatuhan seorang budak. Dia mungkin punya wewenang mengubah yang hitam jadi merah di sebuah kantor megah berlantai tiga puluh lima, tetapi di tangan dan pikiranku kepuasannya terdapat. Andai dia tahu. Betapa akan terluka kelelakiannya.

Lelaki mengkal itu bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Dilepasnya tali kulit yang mengikat erat persendian antara tumit dan tungkaiku. Pecut pendek berumbai dan anal bead yang tadi sempat kami gunakan dia lemparkan ke lantai bergabung bersama serakan peralatan lain. Semuanya koleksi, hasil jalan-jalannya ke tempat di mana urusan selangkang jadi komoditi layaknya sembako disini. Matanya tak lepas dari wajahku. Kutantang pandangannya dengan sesungging senyum seraya tanganku meraih rokok dan korek di meja samping ranjang.

"Kamu tambah seksi berkeringat seperti itu. Bersinar. Itu yang selalu bikin aku kangen kamu," ujarnya.
Tangannya merambati pergelangan kakiku yang masih membekas merah bekas ikatan dan naik hingga ke lutut sementara aku hanya bersandar sambil menghisap rokok dengan nikmat.

"Sudah sana mandi. Gantian," kataku sambil menjumput jemari nakalnya dan kuletakkan di samping paha.

"Bareng dong, Hon."

"Nanti kususul setelah ini," jawabku sambil mengacungkan rokok yang baru saja kubakar.

Dia beranjak. Kunikmati tubuhnya yang kecoklatan, sepasang bokong kencang dan kaki berotot. Perlu kerja keras membentuk lekuk Adonis seperti itu mengingat usianya sudah separuh baya. Lalu dia menoleh.

"Promise, you'll join me," pintanya di ambang pintu geser dari kaca tebal.

Aku bangkit, mengambil handuk putih besar yang tersampir di sofa dan kulempar ke arahnya sambil meleletkan lidah. Dia hanya tertawa dan masuk kamar mandi tanpa menutup pintu.

Aku kembali bersandar pada kepala tempat tidur, meraih ponsel, memijit-mijit angka dan huruf beberapa detik setelah terdengar suara shower dinyalakan.

Kmu g usah servis dia mlm ini.3x KO tdi.Aku krmhmu besok jm11 stelah ujian kalkulus.Anak2 ungsikn k Dufan.Sweet dream,sleep tite.
Message sent to: Shita
+62818768xxx

Beberapa menit kemudian ponsel yang ada di tangan dan masih kupandangi itu bergetar. 2 New Messages.

Thx.Maaf merepotkan.Kmu psti sbal bgini trus,tpi aku g thn diikat&dsiksa saat dia pngn ML.Aku capek,sweety.But I luv U so much.We hafta tell hm bout us.ASAP!Aku cmburu mbayangin dia menytubuhimu.Aku yg lbh berhak,bkn dia!Dia cma laki2pnebar bnih dtubuhku.I WANT UR YOUNG FLESH!

Kumatikan ponsel dan kuletakkan kembali di atas meja dekat asbak dan rokokku. Perempuan. Selalu saja begitu. Kuhisap batang nikotin yang terjepit pada jari tengah dan telunjukku, lama dan dalam. Dingin mentol kembali memenuhi rongga mulut ketika akhirnya asap tipis mengalir keluar dari bibirku yang setengah terbuka.

Beberapa saat kemudian kuhunjam rokok yang baru setengah terbakar pada asbak dan kupaksa pantatku bergerak dari ranjang mendekati suara gemericik air dan sesayup suaranya bersenandung di bawah pancuran. Dia selalu seperti itu sehabis bercinta, menyanyi dengan suara bariton yang menggema hingga ke dalam rongga kepalaku. Nyaman mendengarnya.

"Ready or not, Big Guy. Here I come."

Seketika setengah tubuhnya muncul dari balik kamar mandi. Seulas senyum nakal mampir di wajahnya.
"Please do, My Boy. It's a pleasure..."


ps: ah, shit. kenapa saat saya dikejar tenggat malah nulis nggak genah kayak gini?! ARGH!

Labels:

A Masochist Note

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
Will you be there beside me
If the world falls apart
And will all of our moments
Remain in your heart
Will you be there to guide me
All the way through, I wonder will you
Walk by my side, and follow my dreams
And bear with my pride, as strong as it seems
Will you be there
Tomorrow

Will you be there beside me
As time goes on by
And be there to hold me
Whenever I cry
Will you be there to guide me
All the way through, I wonder will you
Walk by my side, and follow my dreams
And bear with my pride, as strong as it seems
Will you be there
Tomorrow


Dua dinihari lalu lagu ini seperti mendobrak dari dalam kepala saya, ingin menyeruak lepas, menjalar-jalar selalu kian kemari hingga dapat menggerakkan lidah dan menggali paksa memori purba yang dorman di balik sel-sel kelabu otak, menendang-nendang pita suara dalam tenggorok untuk bergerak dan mencambuk semua organ di dalam turut bernyanyi. Bernyanyi, teriak, mengenang peristiwa apapun yang berasosiasi dengan lagu asu tersebut. Padahal saat itu telinga saya rapat tersumpal Freak on a Leash dan file lagu itu sudah terbuang lama sekali.

Saya kesakitan. Entah kenapa nikmat rasanya.

Labels:

Love is In the Air

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
Satu jam lima menit dari tengah malam dan saya baru selesai mandi: usaha terakhir saya jika ingin segera lelap. Meski di luar rinai hujan melenakan, kamar sejuk, nyaman dan bersih serta seprai masih wangi pelembut, saya belum juga mengantuk. Jika saya memaksa rebah, saya hapal di luar kepala runtutan kejadiannya. Begitu lampu dimatikan dan mata terpejam, lima belas menit pertama adalah pertarungan saya dengan bantal dan guling yang nanti hanya berakhir sebagai penutup kaki--dua-duanya. Lima belas menit berikutnya adalah repotnya saya dengan selimut sambil mencari posisi (biasanya telungkup dengan satu kaki sedikit tertekuk dan wajah menghadap ke kiri). Lima belas menit lagi adalah usaha saya untuk menenangkan pikiran dan berusaha rileks, dan pasti bakal gagal. Jika saya masih memaksa, tiga puluh menit kemudian saya akan bangun dengan tampang kusut, rambut awut-awutan, beranjak dari tempat tidur sambil menenteng rasa sebal lalu menyalakan lampu sambil menggerutu. Daripada menghabiskan dua setengah jam hanya untuk mencoba tidur dan gagal, akan lebih baik jika saya mengasah ketrampilan mengetik (dan berharap kelelahan lalu jatuh tertidur).

Sudah lebih dari dua minggu rumah tempat penampungan anak-anak terlantar tempat saya numpang tidak lagi sepi dinihari. Dulu memang saya biang ributnya. Karena sebal tidak bisa tidur, saya setel Korn, Metallica S & M, Erwin Gutawa Rockestra, Dream Theater, Homicide atau Ayreon selantang-lantangnya. Untung sebelah-menyebelah saya termasuk anak-anak kebluk yang bahkan saat gempa pun harus saya yang menggedor pintu. Induk semang yang dinding kamarnya hanya berjarak sepuluh meter pun tidak pernah terganggu. Namun sekarang malah saya yang rada nggak enak karena hingga jauh malam saya masih dapat mendengar rengekan manja dan cekikik renyah yang teredam dari balik kamar. Konyol. Atau mungkin saya yang terlalu kaku menghadapi hal-hal seperti ini?

Waktu itu, jam satu pagi, saya pernah memergoki tetangga kamar membawa-bawa ponselnya ke kamar mandi saat saya hendak menyeduh susu di dapur. Saya pikir beliau punya kebiasaan sama dengan saya, suka nge-game atau online dengan ponsel sambil e'ek jika malas bawa bacaan. Ternyata dia pipis sambil telpon-telponan dengan 'abang'nya dan pembicaraan itu tidak terputus selama proses berlangsung hingga dia masuk ke kamar lagi. Well, rekornya nggak separah saya yang menerima telpon sambil buang hajat besar--dan berantem sambil mengejan di kakus. Atau makan siang sambil boker. Saya emang kemproh kok.

Yang lebih unik lagi, mbak-mbak di sebelah kamar saya persis selalu tidur paling cepat. Jam sembilan sudah tidak ada tanda kehidupan disana. Kemudian tepat jam sebelas mendadak pintunya terbuka, gedubrak-gedubrak dia keluar cuci muka di kamar mandi, lalu setengah berlari kembali ke kamar masih dengan mata serupa bantal. Setelah itu saya akan mulai hitung mundur dari sepuluh. Dan pada angka lima atau empat, ponselnya akan berbunyi dan tawa manja kemriuk nikmat yang nyaring di telinga akan menyapa kuping saya juga, mengganggu musik yang saya setel pelan. Jika sedang 'hardcore mode', telepon itu akan berlangsung selama dua jam.

Bukan sekali-dua saya iseng tengah malam dan membangunkan beberapa teman hanya untuk saya pisuhi lewat ponsel. Dan saya juga jadi orang pertama yang dituju jika mereka belum bisa tidur dan ingin curhat. Namun saya lebih suka menerimanya di teras, duduk di kursi panjang dari rotan sambil memberi makan kura-kura saya, atau merokok sambil menghirup susu panas. Saya nggak suka terima telepon sambil tiduran karena teman saya bilang suara saya yang sedang tiduran bikin imajinasi liarnya kemana-mana. Dan dia bilang--jika tidak misuh--cuma pada suaralah terletak keperempuanan saya. Bajingan tenan!

Lucu memang, perihal menjadi perempuan itu. Meskipun keesokan paginya mereka harus terburu-buru mandi karena kesiangan dan berangkat ngantor dengan mata setengah watt, malamnya mereka masih melakukan hal yang sama. Ya mbok kawin aja sana terus tinggal serumah. Jadi saya nggak harus terpaksa dengar desahan-desahan manja yang hanya bercerita tentang klien di kantor atau kastemer geblek. Tapi saya agak senang juga sih. Sejak episode telepon-telepon dinihari itu saya tidak pernah lagi mendengar suara aneh yang kadang bikin merinding disko.

Udah ah. Tiba-tiba saya pengen nonton The King of Scotland lagi.

Labels:

Some Kinda Shoutout

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
Saya pernah diprotes seseorang yang mengira saya orang Jogja asli. Dia bilang untuk ukuran perempuan Jogja saya tergolong kasar karena seneng misuh. FYI ya Mbak. Bibit saya Portugal. Ibu Purworejo (meski lahir dan besar di Jakarta) dan Babab Tegal (ya, saya bangga berdarah Tegal karena di Jakarta para esmud nggaya berduit sedikit, tukang ojek, buruh pasar dan tukang kain nggak mampu makan jika tak ada Warteg). Saya lahir di Depok, Jawa Barat. Kelas tiga SD saya pindah ke LA, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. SMP kelas satu saya pindah ke Depok (lagi). SMA saya pindah ke Bekasi ikut orangtua saya yang pindah duluan ke sana. Kemudian Babab dan Ibu saya yang belagu itu pengen anaknya jadi sarjana. Jadilah, saya terbuang di Jogja. Tanpa menghasilkan ijazah, tentu. Jadi, santai saja, Mbak. Jogjamu bersih tanpa saya. Pék en wes. Gak ngurus.

Namun entah kenapa saya selalu merasa Jogja adalah pulang. Disana saya berproses menghadapi Jakarta, kota saya sendiri. Di Malioboro saya pernah nongkrong bersama para pengamen jalanan hingga adzan subuh menjelang, berbagi berbatang-batang rokok dan cerita. Saya juga pernah ngopi bareng banci dan tukang becak di angkringan depan Panti Rapih saat malam bergulir pagi. Atau hanya mendongak di trotoar Terban menghitung bintang bersama anak-anak tak berumah. Kamu pernah seperti itu, Mbak, di Jogja, (mungkin) di kotamu sendiri?

Saya tidak pernah lupa ketika wajah kusam-layu-lusuh mendadak berbinar terang melihat raut muka saya yang mereka kenal tapi amat sangat jarang ketemu. Tanpa sungkan mereka teriak, "Su! Néng ndhi wae gak tau ketok?!". Atau, "Wooo... Bajingan! Ra tau dolan!". Buat saya, jutaan home theater terkeren dan termahal nggak bisa ngalahin indah dan medunya sapaan ramah penuh persahabatan dari tubuh-tubuh dekil berkulit tembaga itu.

Buat saya pisuhan adalah ekspresi terjujur dari dasar jiwa, terapi termurah dan tergampang sebagai pelepas ketegangan. Makin kotor dan kencang diteriakkan, makin kental emosi itu. Entah senang entah sebal. Makanya Kak Dontjeh pernah bilang bahwa misuh itu haram separo-separo. Jika kasar, kasar sekalian. Jika mangkel namun tidak ingin dibilang nggak berpendidikan karena bermulut kotor, diamlah. Telan emosimu dan pendam dalam perut agar terbuang bersama tahi yang akan mengambang di kakus, dibanjur, untuk kemudian masuk ke dalam septikteng. Seperti bangkai yang coba kamu tutup rapat, toh semerbak tahi itu akan tercium juga saat septikteng bocor atau penuh. Bagus jika bau itu hanya mampir di indra penciumanmu. Namun jadi bangsat bagi tetanggamu jika mereka harus menjepit hidung dengan jempol dan telunjuk berbarengan dengan raut mengernyit jijik tiap lewat depan rumahmu. Konon, mangkel yang tertelan itu menambah aroma tahi jadi makin sedap. Haha!

Tapi saya punya salah satu belahan biji yang mengharamkan kata-kata kotor keluar dari bibirnya yang oh-so-sexy-tanpa-pernah-tersentuh-asap-tembakau itu. Buatnya, jika bisa tidak misuh kenapa harus misuh? Yah, saya curiga dia jelmaan Yudistira yang punya darah sewarna tulang saking sabarnya. Pertemuan pertama, kedua, ketiga, dan kesekian kali pun telinga dan wajahnya amat sangat tenang meredam ledakan emosi saya yang naik turun saat bercerita--dan misuh.

Sungguh, misuh itu preferensi masing-masing. Monggo jika nggak suka misuh dan dipisuhi. Silahkan jika kebalikannya. Namun jika pisuhan itu bukan untukmu... NGGAK USAH GE ER DEH, NJING! TAI LU, BABI!

ps. untuk daftar pisuhan yang komprehensif, silahkan klik disini.

Labels:

When Freedom Shut (Ketika Kebebasan Dibungkam)

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
Hear us, world! Hear us the Indonesians, mourn for our freedom of speech, freedom of expression. Crushed by our own rulers/decision makers who promised to speak out our voices. Based on righteousness hypocrisy, they prevent our eyes to open and see the brutal truth and listen to an egomaniac, self-proclaimed expert in telematics instead--while all he did was just checking porn images from local good-for-nothing celebs and making unquotable quotes.

French peasants had to write their heart-boiling stories down with their blood in the dungeon walls back then, and we blog our cry for help now. Should we get back to the Dark Age while people had walked on the moon--literally--long, long time ago? Should we conduct revolution for the sake of writing some phrases, seeing some footages, accessing some internet sites, making some inter-regional new friends, or simply to tell the world how miserable it is being disabled to eat since our wages could not afford it?

WHERE ARE OUR VOICES, MY DEAR GOVERNMENT?

---------------------------------------------------------

Wahai Dunia, dengarkan kami rakyat Indonesia yang berduka untuk kebebasan kami berpendapat dan bicara. Tertindas oleh para penguasa/pembuat keputusan yang dulu berjanji surga menyuarakan nurani kami. Berkedok kebenaran nan munafik, para yang terhormat menutup paksa mata kami melihat kebenaran pahit dan lebih mendengar seorang egomaniak mengaku ahli telematika--sementara yang dilakukannya hanya meneliti gambar porno seleb lokal tanpa guna dan membuat kutipan tidak layak kutip.

Petani Perancis menulis kisah perjuangan yang membakar semangat dengan darah mereka sendiri pada dinding-dinding penjara bawah tanah, dulu sekali. Kami blog teriakan ini, saat ini. Haruskah kami kembali ke Zaman Kegelapan ketika manusia telah mampu menginjakkan kaki di bulan berpuluh-puluh tahun yang lalu? Haruskah terjadi revolusi hanya untuk menulis, melihat film-film pendek, berkunjung ke situs internet, berkenalan dengan sahabat baru di lain benua, atau hanya untuk mengeluh tidak bisa makan karena upah sedikit?

DIMANA SUARA KAMI, WAHAI PEMERINTAH YANG TERHORMAT?

(this post is made when there is gossip about blocking all internet sites containing controversial footage 'Fitna' from entering Indonesia. multiply, wordpress and blogspot sites could not be accessed at the time this post is written)

Labels:

The Thought of A Dying Lover-at-Heart

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
As a proud Sagittarian, this bleeding heart would recuperate in no time. Still, I draw the conclusion that maybe I'm no good to any living woman. Perhaps I destined to live alone. Very well, then. Let's be alone, shall we?!
An online friend after 15 fast-paced minutes of whining over the lost love who got another lover.


Ah, sudahlah. I mourn for you, my dear friend. I really do. If only I could pacarin you, we'd be in bed together long, long time ago. With cigarettes in our hands and dreams in our heads, and silence after one, long and hardly ending argumentations. You're my long lost half...


Judul diadaptasi dari sini.

Labels:

Untitled 0.0

What mPitzky says on <$BlogItemDate$> at <$BlogItemTime$> is...
Hey, Bodoh.
Saya disini. Saya, yang masih menunggu jendela dengan nama 'asu bajingan' bergoyang saat tersambung ke internet. Terkadang rindu Bandung dan rumah germo kita itu yang riuh tawa penghuni kampung, asap sate, serta cumi bakar (dan Wild World dan Mr. Jay). Atau Warung Indung dengan bercangkir-cangkir Kopi Aroma. Namun saya lebih rindu pada malam di Bunderan dan janji es krim satu liter yang bakal kita habiskan bersama.

Kita masih berteman dan kamu masih soulmate saya. Saya hanya menjauh untuk memberi ruang pada kesayangan barumu agar dia bisa beradaptasi dengan kamu dan lingkaranmu. Kebetulan pilihan saya untuk melacur pada pabrik penghasil topeng di ibukota demi segelintir rupiah membuat saya tidak bisa bergerak belakangan ini. Dan uang yang sedikit itu seperti pasir dalam genggaman, meluncur cepat dari sela jemari saat upah dibagikan. Jadi, maafkan jika saya lupa berkabar karena belum lunas tagihan pasca bayar.

Kamu perlu seseorang untuk dirimu, yang kamu pilih sendiri, dan bukan sekedar teman. Stop berpikir tentang hal besar barang sejenak. Dunia tidak berada di pundakmu untuk jadi bebanmu sendiri. Jesus destined to do that, not you. Nikmati sepoi angin, terik matahari pukul satu, rinai hujan di tengah hari panas, sesayup nyanyian fals pengamen jalanan, klakson Kopata yang berkoar seperti weker milik Spongebob, Ave Maria, nasi kuning, gudeg Wijilan, serta jeda mengajar. Kemudian, berbagilah dengan perempuan itu. Bantu dia untuk mengerti kamu ketika kamu berusaha memahami dia. Kamu perlu itu.

Akhirnya berujung sudah malam-malam panjang argumen ngotot saya tentang mengapa kamu perlu pacar. Gerilyawan dalam dirimu sudah mulai berhuma, meskipun kutukan saya masih sempat melekat. Semoga dia orang yang tepat dalam membantumu menyiapkan ransum saat harus 'ambush' ke kota. Mudah-mudahan kamu menemukan patrun baru darinya dan akan kamu limpahi cinta sebesar kasihmu pada patrun lama. Mas-mas yang terbagi secara geografis? Mungkin salah satunya akan jadi kesayangan saya. Doakan saja. Mudah-mudahan nanti si mas yang malang itu cukup tabah punya seseorang seperti saya yang terobsesi pada kematian muda dan tidak gantung diri sesaat setelah saya dikafankan. Atau jadi pastur dan hidup selibat.

Sungguh, saya akan selalu ada untuk kamu. All you've got to do is buzz or text me. Or simply give me misscalled. I'll call you back. Perlu lebih dari sekedar santet anti cewek gendut untuk mengenyahkan saya dari kehidupanmu. Apalagi cuma pacarmu. Saya juga masih mengklasifikasikan kamu sebagai penasihat penggerutu yang bakal saya cerna sabdanya saat saya harus memilih antara menggunakan intuisi atau rasio. Saya masih perlu kamu untuk melatih kemampuan berpikir dan mengetik cepat saat harus menangkis semburan panah dari jari dan otakmu. Dan kita masih akan saling misuh hingga ajal menjelang *halah!*

Sudah. Tidak usah minta simpati orang lain karena saya berubah. Kamu hanya Si Bodoh Berkepala Batu yang gengsinya nyundul langit. Titik.


ps. you know who you are.

Labels: