"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Tentang Mas Ipung

Posted by The Bitch on 8/05/2014 07:04:00 PM

Mas Ipung, pada suatu masa. Photo courtesy of Anggara Mahendra


“Death ends a life, not a relationship.”
Mitch Albom in Tuesdays with Morrie

Lelaki kurus kecil murah senyum dan bermata ramah ini nama aslinya adalah Ari Wangsa. Entah bagaimana dia menyebut dirinya Mas Ipung. Kalau kamu sempat bercakap dengannya, seserius apapun, akan kamu dapati kejenakaan yang dia sisipkan dan memberi warna pada tiap ucapannya. Mungkin itu yang membuat siapapun betah ngobrol dengan lelaki lajang empatpuluhan dengan rambut dreadlock disanggul ke atas. Konon rambutnya itu bertuah. Pernah suatu malam dia kesal dan diurailah rambut keriting nan keramat itu. Hanya bertahan semalam. Keesokan paginya saat dia terbangun, si rambut kembali dreadlock seperti sebelumnya. Andai Marge Simpson ke Bali, dia pasti ingin tahu rahasia sanggul dreadlock Mas Ipung supaya tidak terlihat tinggi menjulang bersanding Homer jika ingin membuat foto keluarga.

Mas Ipung bukan orang asli Bali. Tapi sesuatu memanggil dan mengharuskannya ke Bali untuk berdiam di Subaya, sebuah desa kecil nan dingin di kaki Kintamani. Yang saya maksud dingin itu ya... dingin mampus. Jam dua belas siang saja turun kabut. Tidak seperti anak-anak twitter, matahari di sana jarang sekali eksis. Di desa yang hampir tidak ada sinyal ponsel itu, Mas Ipung adalah pemangku. Pemimpin adat, ujung tombak pelaksanaan ritual Hindu dalam satu pura di banjar sekaligus pelayan masyarakat dalam urusan adat. Dia hidup untuk orang-orang di sekelilingnya: warga desa--kanak-kanak hingga kakek-nenek--dan orang-orang kota yang ingin rehat sejenak dari kesibukan rutin membosankan (salah satunya saya).

Mas Ipung tinggal di rumah sederhana semi permanen berlantai semen. Katanya sih rumah itu dulunya kandang sapi. Menurut salah satu teman saya, tempat Mas Ipung itu adalah lokasi tepat untuk mempraktekkan the art of doing nothing. Dari pintu masuk, jika malam cerah, kami dapati secarik pemandangan laut dengan kelap-kelip lampu perahu nelayan di kejauhan yang diapit dua buah gundukan hampir sebesar gunung. Paginya, jika ingin membuat minuman hangat, seduh saja teh dan petik jeruk nipis dari halaman. Voila! Your own hot fresh lemon tea!

Saya nggak sengaja mengenalnya setahun lalu. Awalnya teman-teman baru saya di Bali penasaran bagaimana jadinya jika saya, sebagai skeptis-rasionalis (untuk tidak menyebut ateis), bertemu dengan spiritualis rock n roll van Subaya. Saya ditakut-takuti dengan kemampuan Mas Ipung yang lancar membaca pikiran orang lain seperti membaca koran. Saya nggak suka. Bagi saya, benak adalah benteng pertahanan terakhir paling pribadi bagi setiap manusia tempat dia bisa menyimpan segalanya yang tidak ingin diketahui orang lain. Dan membaca pikiran orang lain adalah sama dengan pembobolan privasi. Setipe dengan firewall breaching, security hacking, atau rooting gadget Android.

Suatu sore saya tiba di Subaya yang rasanya seperti berada di kulkas. Saya berhasil mendaratkan pantat di karpet buluk, nyempil di antara gerombolan begundal baik yang saya panggil teman, dan diberi gelas berisi cairan bening penghangat tubuh. Beberapa menit kemudian Mas Ipung sudah di sebelah saya, menyodorkan tangan dan senyuman lebar di bibir. Saya sudah agak tipsy, namun berusaha alert. Saya ingat betul tentang mind reading-nya. Tapi saya seperti hilang dalam sepasang mata teduh yang hampir selalu menyipit karena pemiliknya tak pernah berhenti tertawa lepas atau tersenyum.

Kemudian kekhawatiran saya terjadi. Entah bagaimana, dalam lingkaran besar kawan-kawan yang duduk bersila, saling bercanda, bernyanyi dan memetik gitar, dan dengan gelas arak yang teratur berkeliling, kami ngobrol berdua. Topiknya? Keyakinan! Dan itu bikin saya mendadak segar karena kepala saya terpaksa bekerja. Saya baru sadar beberapa saat kemudian bahwa saat itu juga saya sudah diretas. Namun bicara dengan Mas Ipung tentang ke(tidak)yakinan sama sekali tidak perlu berargumen atau memasang benteng virtual berupa autopilot mode iyain-aja-biar-cepet (hal yang sering saya lakukan jika bertemu dengan mereka-mereka™ dari Departemen Urusan Keyakinan Orang Lain). Dia mengerti. Dan baginya berkeyakinan atau tidak bukanlah yang terpenting. Namun menjadi orang baik, itu harus. Mas Ipung menyamankan. Perlahan adegan Miyabi yang saya replay berkali-kali di kepala saya pun memudar. Saya paham Occlumency Mas Ipung terhadap saya itu hanya salah satu cara mengenal tamu barunya. Dan saya yakin Mas Ipung juga paham bahwa Legilimency otomatis yang saya terapkan adalah bentuk insting bertahan.          

Beberapa hari yang lalu teman saya mengabarkan bahwa Mas Ipung meninggal dunia di Bandung akibat infeksi saluran pernafasan. Saya tidak tahu harus bereaksi apa. Untuk bersedih, saya sudah dari dulu bersedih karena medan ke Subaya perlu kemahiran lebih tinggi daripada kemampuan saya nyetir motor dan tidak memungkinkan saya mendamparkan diri sendirian ke sana, sementara saya terlalu belagu untuk minta diantar. Saya juga sedih melihat Mas Ipung bermata sedih melepas kami pulang satu persatu, mengingatkan saya pada almarhumah Nenek yang bersikukuh tinggal di dalam kamar saat semua anak-cucunya akan kembali ke Jakarta sehabis berlebaran di rumahnya. Kehilangan? Saya sudah lama rindu ketemu Mas Ipung lagi, nggak untuk ngobrol berat-berat, tapi untuk mentertawakan hal-hal konyol yang dia ceritakan tanpa malu. Ternyata pertemuan saya yang pertama itu hanya menjadi satu-satunya tanpa sempat berulang. Tapi saya ingat kehangatan kata-katanya ketika menawarkan kamar suci dengan banyak benda ritual dan harum wangi dupa mengambang dalam ceruk sejuk bertirai berat sebagai tempat saya "meditasi" berzikir lagu-lagu Homicide yang dia bilang "musik teriak-teriak". Dan meskipun saya bukan satu-satunya, saya bangga karena saya pernah dimintain cium di pipi Pak Pemangku yang keren tapi tirus, berkerut dan kering itu. Hihi. Rasanya itu lebih baik daripada diminta cium tangan.

Saya skeptis dengan kehidupan setelah mati, dengan surga dan neraka, dengan nilai benar-salah, dengan norma, dengan aturan, dengan hukum, dengan keyakinan. Semuanya bisa didebat. Semuanya bisa dibuktikan sebaliknya. Saya juga tidak mudah percaya dengan ketulusan dan kebaikan orang lain yang katanya tanpa pamrih, karena semua hal adalah transaksional, apapun bentuknya. Tapi bersama Mas Ipung dan teman-teman di Subaya, waktu seperti terhenti. Yang ada hanyalah saat itu, the moment, the laughter, the stories, dan beberapa celetukan nakal ketika dia "skimming" ke salah satu kepala kami, dan hanya si pemilik kepala yang terkejut kemudian salah tingkah. Dan dia, salah satu orang yang mengembalikan kepercayaan saya bahwa manusia bisa berbuat baik hanya karena ingin berbuat baik tanpa alasan apapun, sekarang hanya tinggal nama.

But still you live forever in our memory, Mas Ipung. We missed you already.  

Photo courtesy of Facebooknya Mas Hendra, bos Bali Orange slash Bali Outbound--asal semua hal bermula.





Labels:

Karena Klien adalah TUHAN!

Posted by The Bitch on 12/16/2013 10:48:00 PM

Screenshot dari sini


None are more hopelessly enslaved than those who falsely believe they are free
Johann Wolfgang von Goethe

Berita hari ini bikin saya relapse, mengenang lagi masa-masa jadi Supporting PR khusus media monitoring di sebuah agensi kecil di pojokan Jakarta Selatan. Lembur? Oh, everyday is lembur day. Seminggu pertama saya bekerja, saya sudah harus pulang jam 4 pagi karena approval klien untuk launching besok pagi baru masuk pukul 8 malam. Lalu berlembar-lembar media kit yang harus saya terjemahkan (karena klien adalah perusahaan IT multinasional), dan berbaris-baris kolom excel menyusul sebagai laporan post-event. Belum lagi berbagai report berkala dan tematik. Dan jangan tanya berapa rim kertas kami habiskan dalam setahun untuk monthly report bagi 3 divisi berbeda. Bagus lah semua didigitalkan dalam keping cakram data.

Peraturan kantor bagi saya agak dilonggarkan, sih. Karena nggak ketemu klien, saya boleh bercelana pendek, kaos oblong dan sandal jepit. Itu surga banget, karena teman saya yang Junior PR harus berpakaian rapi dan siap sedia ditenteng meeting. Tenggat saya jam 10 untuk daily report ke klien dan biasanya sedikit, kecuali kalau ada event. Makanya saya bisa datang pukul 9.30. TAPI, saya nggak punya tandem karena saya dedicated buat klien. Saya nggak boleh sakit, nggak boleh cuti. Pernah suatu kali perut saya bermasalah, dan OB kantor datang ke kos, membawakan materi yang harus saya report. Dan saya mengetik report tentang klien sambil kabur ke toilet setiap 15 menit. Blah!

Suatu hari saya tertegun memandangi berlembar-lembar peraturan tentang HPH yang harus saya terjemahkan dalam bahasa Inggris. Saya datangi Account Manager, karena saya nggak suka mem-backing perusak hutan. Dengan nada disabar-sabarkan, AM saya bilang, "Pito, pekerjaan PR itu seperti pengacara. Nggak semua tertuduh ternyata bersalah. Kita cuma kasih hak bicara kepada klien karena pemberitaan media sudah membuat opini publik. Jadi, ini cara klien menyuarakan kebenaran." Macam saya bisa diyakinkan dengan omongannya itu. Tapi untung saja kantor saya nggak menang pitching. Tangan dan pikiran saya batal kotor.

Saking seringnya saya lembur, saya sudah jadi doktor--mondok di kantor. Kantor yang menempati salah satu rumah mewah ini sering saya manfaatkan untuk mandi air hangat dengan shower sehabis begadang garap laporan. Saya punya loker pribadi di laci meja kerja yang lumayan besar. Isinya pakaian dan baju dalam bersih serta perabotan mandi. Saya bahkan dibelikan bunkbed sendiri kalau bosan tidur di sofa yang lumayan bikin punggung pegal. Managing Director saya super baik, dan ternyata tantenya dosen saya dulu. Saya sering dipanggil makan siang alih-alih dimarahi karena report yang berantakan atau tenggat yang luput. Tapi jangan tanya Account Manager saya. Silsilahnya yang sebagai keponakan Ibu MD membuatnya nyaris suci. Jika ada kesalahan, itu adalah kesalahan bawahan. Padahal saya sering melakukan pekerjaannya karena saya nggak sabar nunggu dia selesai mendengar curhat personal klien kami, pukul dua pagi.

Apakah kami digaji besar? Nggak juga. Standar. Tapi karena saya nggak punya ijazah maka bekerja di kantor PR seperti membalikkan omongan keluarga besar bahwa saya nggak akan jadi apa-apa. Tapi pembuktian ini teramat sangat berdarah-darah.

Rekan seruangan saya sempat menutupi dirinya mengidap leukemia. Kami nggak pernah sadar bahwa setiap event besar yang biasanya Jumat sore, dia harus menghabiskan akhir pekan di rumah sakit karena kelelahan. Saya pikir adalah hal biasa kalau dia nggak balik ke kantor dan langsung pulang. Ternyata dia harus bergegas cari taksi ke RS langganan sambil menahan darah mengucur dari hidung. Dan ketika akhirnya dia mengaku sakit pun beban pekerjaannya tidak berkurang. 

Tapi selama berada di "padepokan" itu, kami banyak dapat pelajaran. Buat teman saya yang leukemia, ini adalah pembuktian bahwa dia mampu mengaplikasikan ilmu yang dia dapat dari kampus Jaket Kuning, pembuktian bahwa penyakit is nothing, pengisi waktu luang dengan sesuatu yang menyenangkan (sekaligus melelahkan) karena toh gaji yang dia dapat tidak seberapa dibandingkan uang tunjangan dari bunga deposito keluarganya. Buat saya, ini adalah tiket untuk merdeka. Bisa jalan, nongkrong, bela-beli pakai uang sendiri, untuk nggak diomongin sebagai beban keluarga, untuk mendiamkan mulut-mulut nyinyir bahwa saya yang jomblo kronis tanpa ijazah ini masih bisa nyetor uang ke rumah, bisa kerja di kantor PR tanpa harus dandan cantik dan tanpa harus jadi kurus, dan bisa nyicilin motor untuk Babab. 

Kami merasa senasib menghadapi klien dan tumpukan permintaannya dengan budget yang tiap tahun makin berkurang, AM dan AE sengak, dan bahkan finance yang seringkali nggak ngerti jalur duit klien.         

Lalu ketika saya dan rekan kerja saya itu sudah merasa cukup, kami resign namun masih sering nongkrong bareng. Dia sudah sibuk dengan sekolah fashion-nya, dan saya sibuk jadi copywriter freelance di agensi imut, dekat dengan kantor lama. Saya malah merasa agak dimanusiakan di sini. Kalau ngerjain tenggat di kantor malam-malam, minimal ada nasi goreng atau pecel ayam terhidang. Teman-teman freelance saya juga lucu-lucu. 

Sampai kami dapat kerjaan annual report untuk salah satu bank terkemuka. Saya dan tim berbagi bab demi bab yang harus diulas dalam laporan. Kalau skill kami timpang, ya tinggal editornya aja yang bakalan jambak-jambak rambut kepusingan. Namun saya kerja dalam tim, dan beban kami rata. Kerjaan yang bikin kami stress membuat kami ngelawak melulu. Prambanan Project sih sudah terlalu sering. Membangun 1000 candi semalaman itu nggak ada seupil-upilnya sama apa yang kami kerjakan. Merombak layout dalam waktu kurang dari 2 jam atau menerjemahkan 100+ pages dalam 2 hari... Ah, kami sudah biasa!

Tapi kadang ada yang temen makan temen juga. Pernah suatu tengah malam Mbak Account Executive menelepon, minta slot waktu untuk kerja terjemahan yang harus selesai besok pagi jam 8. Padahal baru beberapa menit yang lalu saya pulang, habis kejar setoran dan 3 hari tidak tidur. "Sedikit kok, Pit. Cuma 35 halaman doang," ujarnya. Saya nggak pakai mikir. Setenang mungkin saya jawab, "Ya kalo dikit mah lu aja yang kerjain, Mbak. Gue mau bayar tidur." Lalu ponsel saya matikan. Benar-benar mati.          

Sejak saya ngantor sampai saya jadi freelancer yang namanya nggak tidur berhari-hari sih sudah hal wajar. Tapi sejarah paman saya yang meninggal karena gagal ginjal akibat kelainan bawaan yang luput ditangani serta kebiasaannya nenggak booster membuat saya nggak pernah menyentuh minuman semacam itu. Paling banter ya cuma kopi tanpa gula. Itu pun disandingkan dengan air bening yang jumlahnya harus lebih banyak dari kopinya. Tapi ya seringnya bablas sih, seharian di kantor bisa sampai 10 mug kopi. Minimal. 

Waktu saya mergokin AM saya telponan sama klien jam 2 pagi sementara saya berkutat dengan pekerjaannya itu, dia sama sekali nggak merasa bersalah. Seselesainya, dia bilang, "ini salah satu tugas jadi PR. Kadang-kadang suka cair antara personal dan professional. Tapi ya namanya servis, harus all in, biar klien nggak lari." Begitu katanya. Dan saya nggak setuju.

Di tempat freelance, pertama kali saya harus menggantikan meeting salah satu copywriter karena dia berhalangan, saya diwanti-wanti oleh Om Boss. "Tugas lu cuma revisi doang. Ini klien kakap, Korean. Lu mesti ati-ati, tapi mesti tegas. Kalo nggak ntar dia minta macem-macem." Lalu saya berangkat dengan moda ke medan perang. 

Sampai di kantor minyak punya Mr. Korean, kami harus langsung kerja. Well, saya doang sih yang kerja. AE saya cuma harus sit there and being pretty karena semua komunikasi dalam bahasa Inggris cuma bisa melalui saya. Ternyata dia nggak hanya minta revisi konten, tapi juga layout. Dia nggak cuma perlu copywriter, tapi graphic designer. Karena miskom ini lah saya harus rela merevisi lewat notes PDF, mencarikan tagline dan catchphrase yang tepat, dan semua dilakukan dalam suasana eksekusi. Bahkan pekerja lokalnya pun seringkali meminta maaf karena bos mereka sering kasar dan memaki dalam bahasa Korea. 

Saya harus tinggal sampai hampir jam 1 malam, sampai graphic designer dan copywriter senior pengganti datang. Mr. Korean heran karena saya beres-beres perabotan lenong. Dia nggak mau saya pulang. Katanya, ini tanggungjawab saya. Padahal saya sudah delegasikan kerjaan, dan saya beritahu kalau pengganti saya lebih senior, dan AE yang nggak ngapa-ngapain tapi dia lirikin terus itu punya anak kecil yang perlu mamanya. Waktu dia marah-marah sambil menahan ransel saya saat saya bangkit mau pulang, saya muntap. Dengan marah saya teriak, "FUCK YOU! We're going home!" Untung saja Om Boss saya baik. Balik ke kantor saya malah mendapat tepukan di pundak karena bertindak tepat.

Dulu saya malas mengaku kerja di agensi PR. Saya selalu bilang "memburuh di pabrik topeng" atau "jadi ronin" untuk menyebut kerja freelance, karena ya memang seperti itulah pekerjaan saya sesungguhnya. Memproduksi citra, menjalankan marketing strategi, padahal beberapa produk yang launching seminggu kemudian terbukti sebagai produk gagal dengan banyaknya keluhan di surat pembaca. Namun saya banyak belajar tentang busuknya korporasi. Tentang bagaimana sistemasi tekanan dari klien ke MD turun ke AM dan berakhir ke Junior dan Supporting PR yang ditekan paling gila. Atau dari klien ke AE dan turun ke freelancer tanpa sang AE tahu seberapa kemampuan para freelancer kebebanan kerjaan. 

Itu semua sedikit cerita-cerita saya bekerja di industri begituan. Mungkin saya ketiban apes aja, ngantor di tempat yang manajemennya kekeluargaan (atau berantakan, bahasa jujurnya). Ada juga kok perusahaan PR yang manusiawi, yang jam kerjanya pas 8 jam sehari, yang kalau lembur tertib dapat kompensasi, dapat bonus, dan jalan-jalan ke luar negeri. Ada juga kok anak PR yang masih bisa bikin project pribadi semacam Coin A Chance yang digawangi Hanny dan Mbak Nyai. Tapi ya itu. Pintar-pintar saja memilih tempat kerja. Cerdas lah mau jadi bawahan orang yang seperti apa.   
        
Namun satu hal yang dipegang teguh sebagian besar atasan: bahwa klien adalah Tuhan. Dia Maha Pemberi Project, Maha Pengasih Budget, dan Maha Memperbaiki Portfolio. Untuk Sang Maha Klien-lah kita harus memuja, menjilat, dan membuat segalanya jadi mungkin. Kita bebas jadi diri kita sendiri, merdeka mau ngapa-ngapain pun sampe njengking-njengking. Tapi ketika Sang Maha Klien memanggil, kita harus patuh dan tunduk memenuhi panggilanNya. Bahkan ketika harus kehilangan diri sendiri, ketika harus kehilangan kemampuan berpikir sendiri, ketika harus mempercayai kebohongan yang tiap hari didengungkan di telinga kita oleh teman-teman kerja sendiri. 

Saya nggak suka seperti itu. Dan saya bukan robot yang bisa diperintah-perintah. Jadinya ya... Saya cabut lagi. Karena saya memang sudah tidak bertuhan sejak dalam pikiran.


  


Labels:

Hello Again, 15!

Posted by The Bitch on 12/15/2013 11:00:00 PM

Gambar nyomot dari Wiki


You'll know your true friends not at your shiniest moments but at your darkest times. Cherish them


Jadi, hampir semingguan ini saya invalid. Nggak bisa keluar beli makan, nggak bisa klabing (klayapan bingung) pake motor. Nggak bisa nongkrong atau ngopi-ngopi unyuk di mana kek gitu. Semua gara-gara koreng yang pas terletak di tempat-tempat strategis, yang ketekuk sedikit aja sakitnya tembus sampai ke anus.

Di email resign dari tempat kerja akhir November lalu saya bilang kalau saya sudah kewalahan menjalankan kehidupan ganda, antara jadi manusia biasa dan jadi superhero. Akhirnya saya harus memilih, dan pilihan jatuh pada superhero. Selasa malam kemarin itu adalah salah satu prasyarat yang harus saya tempuh untuk mendapatkan superpower, yaitu mengadu muka dan kaki ke aspal. Ternyata saya lupa mengakifkan kemampuan itu. Jadinya ya nyonyorlah dagu dan betis kanan dan perut kiri dan kedua tangan. Hanya kaki kiri saya saja yang mulus tanpa luka. Tapi memar membiru di beberapa tempat. Dan benturan di jidat membuat saya terlihat seperti mahluk hibrid antara Kaiju dan Hell Boy.

Namun satu hal yang membuat saya nggak blangsak banget, karena saat kejadian itu saya bersama seorang partner in crime yang menguntit ketat di belakang dengan motornya sendiri. Kami habis nge-date threesome bareng seorang ibu cantik baik hati dan membicarakan project urek-urek. Saya kepenuhan adrenalin, karena apa yang mereka bicarakan adalah project saya juga yang nggak selesai-selesai sejak dinosaurus masih menguasai bumi. Lalu setelah threesome sampai lemes, saya dan si partner ini cengengesan di parkiran, nggak bisa ngomong apa-apa. Dia tahu saya tahu, bahwa apapun yang kami inginkan memang akan mendapat jalan, lengkap dengan howto-nya. Sebab semua perihal kesabaran menunggu tepatnya waktu.      

Namun entah pikiran yang terlalu penuh atau nasib yang terlalu apes, ujian itu datang juga. Ya marut kaki ke aspal itu tadi. Tapi dia sigap menunggu saya siap bangun, meminggirkan motor sewaan dengan satu spion berantakan dan udah nggak jelas bentuknya, mengecek reflek saya, dan menghubungi orang-orang yang tepat, yang nggak bakalan panik dapat kabar saya nyungsep.

Lalu terjadilah episode mencoba lucu di hadapan kapas beralkohol pengusap luka, karena menangis (apalagi teriak) sangatlah nggak lady-like. Atau pito-like. Lalu partner in crime lainnya datang menembus malam, mengendarai motor berantakan yang teronggok di parkiran BPD, sejauh lebih dari 10 km. Big Guy lembut bersuara pelan ini yang sabar sekali mengurusi saya saat kesakitan, bolak-balik membelikan saya makan dan pesanan, nyengir kalau saya mendadak marah-marah, mendisiplinkan dan mengajak main Hamilton, puppy blang bungkem asuhan saya selama ditinggal mommynya, bahkan menunggu saya creambath karena 4 hari nggak keramas itu menyiksa sekali.  

Sampai di kos induk semang saya bertandang, menanya kabar sambil mengernyit ketika melihat mahakarya saya. Lalu dibikinkannya saya jus tomat hangat karena gerimis sedang menitik, dikumpulkannya bebuahan siap santap karena saya bilang habis menyeduh mie instan. Besok saya akan dihantarkan makan, jika kamar saya sudah ada tanda-tanda kehidupan, ujarnya.

Dalam masa penyembuhan saya sering bengong dan mengingat beberapa kejadian yang membuat hidup saya berputar 180º. Hijrah saya ke Bali demi mendamaikan naluri ibu saya yang khawatir anaknya tidak punya keyakinan. Kebosanan saya di tempat kerja padahal saya bisa berenang di bandwidth. Pilihan saya untuk keluar dari zona nyaman. Orang-orang baru yang datang. Orang-orang lama yang pergi. Pasangan-pasangan jiwa yang lain lagi. Terjun bebas tanpa parasut dan memasrahkan siapapun di bawah sana untuk menangkap saya. Semua itu lebih efektif daripada menenggak painkiller pemicu alergi yang membuat muka saya seperti Klingon, sambil sesekali meringis menahan tangis saat koreng tertekuk ketika mau pipis.

Dan hari ini 15 di bulan terakhir. Biasanya saya selalu matikan ponsel atau tidur seharian saat hari ini datang. Namun dia selalu tepat waktu. Setahun sekali berkunjung tanpa alpa. Dan saya selalu merasa kaku, entah bersyukur atau menyumpahserapah ketika dia menggedor pintu.

Tapi tahun ini tidak. Saya memutuskan, sejak Januari, bahwa saya akan bersyukur. Meskipun sedang jobless. Meskipun sedang nyonyor. Meskipun masih saja jomblo. Saya bersyukur untuk apapun dan siapapun yang membuat saya hidup dalam mimpi saya sejak lama: jadi manusia merdeka dan punya teman sejati.

Tahun ini saya tidak mau mengenang mati. Saya ingin murni merayakan hidup, sepenuh-penuhnya.

Terima kasih, 15!

Holstee Manifesto. Life manifesto




Labels:

Chik!

Posted by The Bitch on 12/13/2013 07:35:00 PM

Dicomot dari akun @chikadjati pas lagi pamer foto kecil dengan baju adat

Hey, Chik!

Kamu tahu lah, aku nggak percaya hidup setelah mati dan surga dan neraka dan reinkarnasi. Semua susah dan senang terjadi karena semesta mencari imbang, ditimpakan ke manusia sesuai dengan keapesan dan keberuntungan masing-masing. Jadi, gimanapun, aku tahu kamu juga nggak akan bisa baca ini.

Tapi aku mendadak kangen kamu, Chik. Aku kangen malam-malam kita "berkelana" menjelajah Jakarta dan pulang naik Metromini. Kangen masa-masa ngobrol panjang tentang cowok insecure, ADHD, kenangan, dan jalan-jalan. Kangen menyesap Bailey's oleh-olehmu, atau ngobrol bareng Mas Aji sambil kita ngenyék-ngenyék OCD-nya Mas Marto. Kangen bantuin kamu wawancara anak-anak pesantren buat dapetin short course ke Amrik (dan pertanyaan konyolku di malam sebelum hari H, "gue nggak mesti pake jilbab, kan?"). Dan aku ngetik ini di tengah kesengganganku untuk sembuh sambil néthél koreng di dagu akibat jatuh dari motor tiga malam lalu. Rasanya najis, Chik. Aku nggak mau jatuh lagi. Masih ingat rasanya ketika tulang di sepanjang kaki seperti diregang paksa waktu badanku tertimpa motor dan telapak tersangkut step. Atau perih paripurna di hampir tengah malam saat kapas beralkohol diusap ke luka terbuka, meskipun mbak-mbak Bumi Sehat berulangkali meminta maaf sebelum membersihkan seluruh pasir yang menancap di daging. Dan aku diyakinkan bahwa di bawah kulit semua orang adalah putih. Jadi, nggak perlu lah krim pemutih yang digila-gilai perempuan yang merasa buruk rupa karena berkulit gelap dan iklannya sering kita tertawakan.  

Chik,

Seminggu lalu teman seangkatanku meninggal karena lupus. Dan kamu juga akhirnya menjemput maut akibat kanker yang menggerogoti tubuh. Teman dekatku malah leukemia. Dan sakitnya jatuh dari motor mungkin nggak ada seupil-upilnya sakit karena kanker, tapi aku malah ingat kamu, Chik. Ingat temanku yg luluh karena lupus dan temanku yang tegar melawan leukemia. Buatku, kalian pemenang karena hidup tak sekadar menunggu mati.

Kegetolanmu itu lho, Chik... Bantuin Tante Ai untuk Akber dan waktu luang yang selalu kamu sempatkan untuk teman-teman di sekelilingmu, sampai kadang-kadang kamu hampir nggak punya waktu untuk dirimu sendiri. Dan sifatmu itu yang selalu ingin tahu, selalu penasaran, tapi nggak pernah lupa bersenang-senang. Kamu, yang suka backpacking, yang kepingin menelusuri pojokan Cina dan menabung mati-matian. Dan pilihanmu untuk akhirnya melepas kerudung. Aku suka gestur itu. Waktu kutanya alasanmu, kamu bilang, "pake atau nggak pake, ya semau-maunya gue aja. Kalo gue pengen juga ntar gue pake lagi". Dan kamu adalah salah satu dari sekian banyak pembuktian, bahwa semua perempuan yang akhirnya lepas kerudung terlihat lebih cantik dan orisinil, lebih asyik menjadi diri mereka sendiri, lebih nyaman dijadikan teman.

Kemudian kita sama-sama disibukkan dengan urusan masing-masing dan hampir nggak punya waktu lagi buat melakukan kekonyolan-kekonyolan lepas tengah malam. Kita juga nggak pernah lagi ketemuan nggak sengaja di keriaan-keriaan pekerja online yang sering kita sambangi (terutama di @obsat yang buatku tempat dinner gretongan dan buatmu tempat ngangsu kawruh sambil bertugas livetweet). Sampai aku mindahin pantat ke Bali pun aku nggak sempat pamitan sama kamu.

Aku kehilangan kamu, Chik. Lalu aku iseng kirim pesan di WhatsApp dan kamu balas lebih dari seminggu kemudian. Tadinya aku masih berprasangka baik. Kamu hanya sibuk, rempong dengan urusanmu dan teman-temanmu, dan masih baik-baik saja di Jakarta atau di Malang atau di mana pun kamu sedang melangkahkan kaki sambil menggendong ransel. Namun apa yang kamu ceritakan malah bikin pelupukku panas. Kamu cerita tentang penyakitmu, tentang perjuanganmu, tapi tetap positif sambil cengengesan.      

Hey, Chik!

Aku udah nunggu lho. Kamu bilang kamu mau ke Ubud, minta dicarikan homestay untuk beristirahat bareng mamamu yang hebat itu, yang nggak pernah lelah mengurus dan menjagamu selama masa sakitmu. Padahal aku udah cariin, di Monkey Forest, dekat tempat kerjaku dulu. Kamu pasti suka. Tempatnya teduh, banyak pepohonan. Mirip Taman Langsat. Koneksinya kenceng mampus. Ya kamu tau lah, sebagai manusia-manusia digital, internet adalah detak jantung. Dan kamu juga tau I'll work for bandwidth. Di depan loket masuk hutan penuh monyet itu ada meja yang di atasnya bertumpuk pisang menggiurkan dengan papan penanda bertuliskan "OFFICIAL MONKEY FOREST BANANAS".

Ini lho, Chik, yang mau aku tunjukin ke kamu. Dipungut dari sini.

Aku udah nggak sabar lho, Chik, mau nunjukin ke kamu. Mau cekikikan, mau nyinyirin betapa mindset Orba yang gila keseragaman dan serba resmi masih saja dipakai. Padahal kabinet berkali-kali ganti dan korupsi berkali-kali bermutasi.

Hey, Chik!

Ternyata kita nggak pernah ketemu lagi. Waktu aku lihat fotomu di sosmed dengan gaun rumah sakit dan tangan tertancap infus, nggak tau kenapa aku sudah ikhlas. Aku cuma komen, semoga yang terbaik yang terjadi buatmu, karena aku nggak berdoa. Karena seringnya, insting bertahan hidup kalah oleh insting mati, saat semua sel tubuh berada dalam titik nadir dan pejuang-pejuangnya harus tunduk pada hukum biologis setelah babak bundas mati-matian melawan. Dan mungkin itu yang terbaik.

Aku ngiri sama kamu dan Cobain dan Hendrix dan Lauper dan Morisson dan Buckley dan Winehouse. Kamu mati muda, di puncak pencapaianmu sebagai manusia. Dan kamu belum genap tiga puluh. Dan beberapa hari kemarin, ketika dagu dan jidatku sedang nyonyor-nyonyornya dan painkiller membuat mukaku bengkak, aku bertemu nenek Jerman usia enam tujuh yang bangga bercerita tentang petualangannya jadi backpacker sejak umur 30. Waktu aku bilang aku ngiri, nenek itu membalas, "No, you shouldn't! You have your life ahead of you! You have the right attitude and spirit. Just focus in what you want, and you'll get it in time. I have the feeling you will!" Omongannya kamu banget, Chik!

Aku banyak belajar dari kamu, Chik. Belajar tentang fokus, tentang semangat, tentang mencari akar masalah, tentang anger management, tentang mendengar, tentang pertemanan. Kamu itu guru, karena hidupmu yang sebentar adalah cermin buat sekelilingmu. Karena selelah apapun, kamu tetap senyum. Karena kamu nggak pernah menghakimi. Karena kamu selalu objektif. Dan karena kamu sahabat yang netral, bahkan saat bergosip sekalipun. Dan sejak kamu nggak ada, ketika aku iseng melihat langit Bali yang jernih bertabur bintang, aku tunjuk satu bintang paling terang dan teriak,

"Itu Chika!"

Your spirit carries on, dear friend...





Labels:

Judging A(n Ex-)Friend

Posted by The Bitch on 12/05/2013 05:16:00 PM

A friend will help you move. A good friend will help you move a dead body.

- Anonymous


Di suatu hari yang apes karena ditinggal (orang yang saya kira) sahabat, seorang bajingan lain bilang begini:
Nggak ada yang namanya teman baik, yang ada hanyalah orang yang punya kebutuhan atas eksistensimu.

Menyakitkan untuk didengar, sebagaimana semua kebenaran adalah menyakitkan.

Lebih menyakitkan lagi ketika suatu hari salah seorang ibu (yang saya tunjuk semena-mena sebagai Emak), orangtua tunggal yang sejak anaknya bayi babak bundas mengangkat harkat keluarga sendiri tanpa bantuan pasangan, jatuh bangun membagi 24 jam waktunya antara putri semata wayang, pekerjaan, dan kehidupan pribadi, menelepon saya, bercerita, dan menyimpulkan: “Gue udah nggak tau mesti percaya ke siapa lagi. Gue kirain dia temen gue…”

Saya juga mengira dia teman saya, yang ketika saya kenalkan pada si “emak” adalah anak rantau jauh dari pulau tempat ibu-bapaknya berada. Saya abai pada masa lalunya yang syahdan menurut konon menggelapkan uang kas komunitas. Menurut saya, itu nggak penting. Dia juga nggak akan ngapa-ngapain ke saya, wong saya nggak punya apa-apa.

Tapi saya lupa kalau saya punya banyak lingkaran kecil, orang-orang yang porosnya saya orbiti, yang keberadaannya menjadi pusat semestanya sendiri, dan beberapa semesta memang saling beririsan. Saya khilaf kalau saya punya beberapa orang yang saya anggap pasangan jiwa, yang keberadaannya saya anggap penting, sebagai manusia, bukan sebagai profesi. Beberapa memang orang berpunya. Tapi hanya karena saya nggak pernah menggunakan kesempatan untuk menikmati keberpunyaan mereka, saya pikir orang lain juga seperti saya. Iya, untuk satu hal itu saya memang naïf.

Saya nggak pernah ngonsep sama yang namanya penghianatan, perselingkuhan, kebohongan, dalam hubungan apapun. Pertemanan, bisnis, maupun roman-romanan. Ini seperti menikam punggung saat memeluk. Kepura-puraan yang menyakiti. Terlihat akrab, padahal khianat. Makanya saya nggak ngerti kenapa ada orang yang diberi tumpangan hidup selama sebulan, dikasih makan, dikasih tempat pulang, masih tega membobol tabungan anak “induk semang”nya sendiri. Tabungan yang dikumpulkan oleh bocah perempuan kecil yang sering bawel ngecipris keminggris namun pendiam di depan orang baru. Bocah yang saya bayangkan matanya berbinar-binar penuh harapan akan beli ina-inu-itu nanti saat ia dan ibunya nanti punya waktu luang untuk berlibur. Bocah yang sedari kecil hampir nggak pernah tahu rasanya dipeluk Ayah, yang ibunya secara harfiah mati-matian menghidupi dan memberi makan mimpi-mimpi putrinya agar nanti punya hidup yang jauh lebih baik dan bahagia. Semacam dikasih ati ngerogoh biji. Jauuuuh.

Iya, saya memang naïf sekali. Saya yang sering membual dan merasa diri pintar bahkan nggak pernah bisa ngerti kenapa orang mesti mencuri kalau meminta pun akan dikasih. Kalau nggak dikasih ya berarti minta lagi ke orang lain. Kalo nggak dikasih juga ya mamam dah tuh kepengenan. Gitu aja kok repot. 

Tapi mungkin ada keperluan yang bagi saya nggak penting-penting amat menjadi teramat sangat krusial untuk seseorang. Misalnya, makan enak dan mahal, nongkrong bareng teman-teman biar disebut eksis, beli baju dan sepatu baru yang hanya karena pengen atau suka warna ungunya, atau apa lah yang menurut saya terlalu wah. Saya sering lupa bahwa Jakarta lebih sering mengubah seseorang berada di salah satu dari dua kutub tanpa ada tengah diantaranya: jadi setan atau jadi malaikat; jadi cerdas atau jadi bodoh; jadi jahat atau jadi baik.

Mungkin kadang saya yang terlalu sentimental, terlalu berpihak tanpa mau mendengar sisi mata uang yang lain. Karena toh akan selalu ada dua versi dari dua orang yang berbeda meskipun hanya ada satu peristiwa.

But mark this one, girl… you are no longer a friend of mine.


Love all, trust a few, do wrong to none
- William Shakespeare




Labels:

The List of Bahan Tokai

Posted by The Bitch on 11/28/2013 08:07:00 PM

Pengobatan darurat untuk hati yang luka adalah makanan enak. Setidaknya meskipun sedih, tapi perut dan lidah bahagia

Tahu kan kalau saya dikutuk punya ibu jago masak bernama Bu Anggi? Untuk meminimalisir pengeluaran tak menentu dari kebiasaan jajan, sedari kecil Bu Anggi membiasakan sekeluarga makan di rumah sekalian belajar masak. Meskipun cuma tepung dikelapain dan dikasih gula, yang penting nggak jajan. Tapi mungkin karena bikinnya niat dan, yah… namanya juga ibu-ibu. Bikin apapun untuk keluarga pasti pakai cinta. Jadinya ya enak-enak aja. Makanya, anak-anaknya yang cuma dua dan suaminya yang baru satu, hanya bisa membedakan dua rasa makanan: enak dan enak banget.

Lalu saya sebagai anak sulung mursal dan jarang pulang mendadak “terdampar” di Bali hampir setahun lalu. Pulau Dewata, memang, tapi teramat sangat jauh—dan mahal—dari rumah, dari dapur tempat Bu Anggi mencipta maha karya yang bikin lingkar pinggang kami melar dan berat kami susah turun. Jadi, sebagai anak Bu Anggi yang baik yang menjunjung ibunya di atas kepala tinggi-tinggi, saya mengenang beliau dengan cara sendiri: mencari tempat makan enak dan murah. Ini dia (berdasarkan seingatnya dan koordinat Google Map sekenanya yang bisa di klik di judul)!


1. Betutu Sri Boga Amerta 

Kalau kamu dari arah Sayan ke Tebongkang, setelah Gaya Ceramics sebelah kanan kira-kira 300 meter kemudian, tengoklah ke arah kiri. Ada papan berlatar merah bertuliskan SRI BOGA AMERTA. Buka jam 10-16, warung ini termasuk sepi meskipun Ayam Betutunya nendang. Harganya standar, Rp. 15.000 per paket nasi campur komplit minus minum. Semua makanan tanpa babi. Saya paling suka sayur mirip urap yang ada parutan kelapa (yang namanya saya lupa). Maaf, nggak ada fotonya. Lupa diri sih, kalau sudah lihat makanannya. Mungkin karena setiap ke sini saya pasti dalam kondisi kelaparan berat.


2. Bakso Rusuk Naruto 

Saya nggak tahu kenapa jasa penyewaan pick up di pusat kota Denpasar ini jadi nama warung bakso (kalau kamu tinggal di sekitaran Denpasar pasti kamu nangkep joke-nya. Sorry, lokal banget). Saya juga nggak tahu kenapa Mas Joko, orang Solo sang pengelola warung yang nyasar di Ubud dan sedang cari cewek Bali ini, pakai nama Naruto yang asli Konoha dan sama sekali bukan Jawa. Tapi kalau kamu kebetulan lewat Sayan antara jam 10 sampai jam 22 dan kelaparan, sekitar 200 meter dari warung Sri Boga Amerta ke arah Kedewatan, kamu bisa mampir ke sini. Untuk ukuran bakso Bali yang kuahnya biasanya bikin trauma karena rasa air ketuban, bakso Naruto ini lumayan mengobati penyakit kangen rumah. Bakso campur komplit berisi bakso telur, bakso urat, dan tahu—tanpa rusuk—plus kerupuk pangsit sebiji minus minum harganya Rp. 8000. Sambil menunggu bakso diracik, kamu bisa icip-icip sosis Solo (yang menurut ibunya Mas Joko adalah lumpia), sebijinya cuma seribu. Kalau kebetulan ada Mas Joko, ajak dia ngobrol. Apalagi mendekati waktu tutup warung. Biasanya dia akan curcol sambil menawarkan rokok lengkap sama apinya.


Bakso Naruto minumnya pake FRUT tea
Maaf, pangsitnya udah dicemil duluan

3. Tipat Cantok

Nah, saya biasanya ke sini kalau merasa sudah agak sembelit perlu asupan hijau-hijauan. Tapi terutama sih tanggal tua, ketika makan tidak lagi berdasarkan keinginan melainkan harga. Tipat cantok yang mirip ketoprak berkangkung—dan kadang kalau sedang beruntung dilengkapi rumput laut yang mirip pakis—hanya Rp. 5000, plus es gula Rp. 2.000 dan kerupuk Rp. 1000 total hanya Rp. 8000. Lumayan bikin perut penuh. Aman buat vegan karena nggak pakai terasi. Ada juga rujak kuah pindang dengan aroma ikan mengundang lapar. Tapi favorit saya sih rujak gula pasir berisi jeruk, nenas dan bengkuang. Harganya rata 5000-an. Lokasinya nggak jauh dari Bakso Rusuk, bersebelahan dengan lalapan dan bengkel, tepat di seberang toko kelontong Yon Mart. Buka jam 10 dan biasanya tutup jam 17.
                       
Kalo ini namanya rujak









Ini lho yang namanya Tipat Cantok

4. Warung Pink

Ini salah satu warung yang saya datangi jika pagi-pagi kelaparan habis begadang dan dompet tipis belum gajian. Pemilik dan pegawainya orang Jawa Timur, dijamin tanpa babi. Biasanya buka sejak jam 8 dan tutup jam 17 atau jam 18, sesuka-sukanya. Letaknya kurang lebih 100 m dari belokan Sayan ke arah The Mansion menuju Penestanan, sebelah kiri jalan di seberang toko kelontong. Gambar di bawah itu tumisan buncis dan wortel, kering tempe dan kerupuk yang total hanya Rp. 6000. Jagoannya sih semur ayam dan ayam bakar berkuah, tapi biasanya agak siangan baru ada. Tempatnya enak meskipun agak sempit saat pengunjung datang di jam makan siang. Dan, seperti namanya, dindingnya bercat agak jambon, meskipun nggak tepat pink. Ya lumayan lah, daripada lu manyun. Iya. Garing. Kriuk!


Menu vegan, untuk tidak menyebut sedang kere  

5. F.R.E.A.K Coffee

Diambil dari spot favorit sebelah pintu masuk karena dekat colokan dan WiFinya paling kencang!  

Ini biasanya spot saya mojok bareng kerjaan atau ebook dari ponsel, barengan latte enak seharga duapuluhribuan. Lokasinya dekat SPBU Tebongkang. Dari Nyuh Kuning belok kiri sedikit menuju arah Singakerta, sekitar 100 m, sebelah kanan jalan. Tempatnya nyaman. Bagian depannya luas dengan meja dan kursi minimalis dan tiga gazebo beratap ilalang di bagian belakang untuk lesehan (atau pacaran =P). Berlatar hutan-hutanan dan gemericik sungai kecil di bawah, enak banget buat leyeh-leyeh. Toiletnya asyik, setengah outdoor karena efek atap plastik yang agak bening. Sejak jam 10 pagi sudah buka dan tutup jam 22.

Sebenarnya F.R.E.A.K barengan sama warung Sate Kakul yang juga sedia ikan dan ayam bakar dan plecing. Kalau saya libur tapi mager (males gerak), saya bisa berjam-jam di sini. Biasanya berawal dari makan, paket ayam bakar dan plecing seharga duapuluhribuan (belum pakai minum), terus nge-latte, deh! Ah, dunia indah…


Sudah mulai ngiler?
Ada Mandala di latte

























6. Warung Pak Nyoman

Bebek bakar di sini, menurut teman saya, adalah makanan dari surga—itu pun jika surga beneran ada. Biasanya saya ke sini habis gajian atau kalau ada yang mau nraktir =P Bebeknya empuk dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Ayamnya juga enak, mirip ayam bakarnya Bu Anggi, hanya beda level pedasnya. Saya nggak makan ikan, khawatir alergi kumat. Cupu ya? Iya. Pak Nyo ini lokasinya di Tebongkang, sekitar 500 m dari F.R.E.A.K ke arah Sayan, sebelah kanan jalan. Mulai buka sejak jam 9 pagi hingga jam 22, atau sehabisnya. Paket bebek bakar, nasi dan plecing (belum sama minum) sekitar Rp. 40,000—harga yang murah untuk merasakan surga dunia. Tsaaaah! Sambal matahnya enak. Biasanya saya nggak suka karena ada bawang mentahnya. Tapi nggak tahu kenapa, sambal matah di sini bisa saya habiskan. Buat yang nggak tahan pedas, hati-hati. Bumbu bebakarannya sudah pedas, apalagi sambal merahnya. Ibu dan bapak pegawainya baik-baik dan ramah-ramah. Dan Pak Nyoman sering menyamar sebagai tukang bakar atau tukang parkir. Tergantung mood-nya mau ke mana. Beberapa kali ke sini, saya sering lihat wisman asyik mengunyah bebek atau ayam sambil huhah-huhah kepedesan.

Nyeh. Surga dunia ternyata segini doang...

7. Bubur Kacang Ijo Madura  

Nah, ini juga makanan ngirit dan tersedia dari jam 18 sampai jam 1 malam, 24/7, kecuali Idul Fitri karena mereka pulang ke Madura sebulan. Saya sedih lho waktu ditinggal mereka mudik )”= Semangkuk bubur kacang hijau hangat komplit dengan ketan hitam, seiris roti tawar dan kanji yang seperti butiran merah lengket—yang saya nggak tahu apa namanya—cuma Rp. 3000. Ditambah kopi sachet segelas Rp. 2000, maka perut dan dompet saya tersenyum bahagia. Kalau masih lapar, mereka juga jual nasi goreng seharga Rp. 7000. Maaf ya, nggak ada fotonya. Tapi kalau penasaran ya datang saja. Deket kok dari Pak Nyoman. Ke arah F.R.E.A.K sebelum perempatan, sebelah kiri jalan. Nah, di situ deh gerobaknya. Sebelahan sama gerobak soto.


8. Rumah Makan Sari Minang  

Saya biasa makan di sini kalau sedang perlu hiburan atau kelaparan banget malam-malam. Warung Padang ini buka mulai jam 9 dan tutup jam 1 malam. Pegawainya ramah-ramah dan lucu-lucu. Pemiliknya, Pak Ketut, juga ramah. Meskipun pemilik, dia tetap bayar kalau makan di warungnya sendiri. Lokasinya di sebelah Indomaret, dari pertigaan SPBU Pengosekan ke arah Lodtunduh, di seberang belokan ke arah Nyuh Kuning. Satu-satunya orang Minang sekaligus chef di situ hanya Bang Joe. Lainnya bli-bli Bali semua. Cemilan favorit saya kerupuk kulit duaribuan dalam bungkus plastik kecil. Kalau menu sih saya suka daun singkong (yang pasti sudah kehabisan lewat jam 1 siang), sayur nangka, dan kikil. Tambah 2 tempe goreng, total Rp. 14.000. Biasanya saya selalu bawa tumbler berisi air putih. Makanya saya jarang beli minum tiap makan. Atau kalau mau gratis ya pesan air putih saja (“arak Bali” kata bli-bli di sini). Kalau sedang tight budget, bilang saja “nasi, 7000”. Nanti kita akan diminta memilih mau dengan telur, perkedel jagung atau tempe/tahu. Karena nasi Padang basic biasanya sudah berisi sayur, kuah dan sambal, harga 7000-pun sudah mengenyangkan. Kenyang Jawa ya, bukan kenyang Bali.

Oh, iya. Parkir kendaraan di sini agak tricky. Ada lahan kosong di sebelahnya, tapi masuknya terhalang trotoar yang lumayan tinggi. Makanya, setiap saya ke sini biasanya saya parkir motor di depan Indomaret. Asal dikunci, aman kok.

Bang Joe, di depan (atau belakang?) mahakaryanya

Saya selalu percaya kalau makanan dinginnya aja enak, apalagi panas. Ini terjadi untuk sate Bu Agung. Letaknya dekat Sari Minang, warung ketiga sebelah bakso. Kamu nggak bakal nyasar karena di depannya ada bakaran sate dengan kipas angin kecil dan sesaji. Sebungkus nasi dengan lawar merah/putih, be kecap, gorengan, dan sate babi boleh dibawa pulang hanya dengan Rp. 10.000-15.000. Ada juga kerupuk babi yang mirip rambak. Bungkus besar dalam plastik setengah kilo hanya Rp. 5000 dan yang kecil Rp. 2000. Bu Agung buka dari jam 10 sampai 22 dan tutup kalau sedang ada upacara.    


Ini pas lima belas rebu!

10. Warung Kanza  

Tahu Asterix dan Obelix? Pasti tahu juga dong kalau mereka asli Galia dan gimana orang sekampung itu semacam terobsesi menjotosi tentara Romawi dan sangat bergairah dengan celeng. Itu juga yang saya rasakan kalau ke Kanza. Dengan hanya Rp. 35.000, sepertiga lebih dikit dari harga di Naughty Nuri’s, saya bisa dapat pork ribs enak komplit dengan sayur dan kentang. Hati-hati sama sambalnya. Bikin nagih!

Kanza ini letaknya di Jalan Andong. Kalau kamu dari Ubud ke arah patung Arjuna, belok kiri. Sampai ketemu SPBU di sebelah kiri, maju terus sekitar 200 m. Kanza ada di sebelah kanan. Tapi jangan ke sini kalau kamu sedang kelaparan berat. Karena kokinya cuma satu merangkap pemilik, kadang masaknya suka lama. Tapi worthy kok.

Uniknya, Kanza ini buka sejak jam 10 dan tutup jika pelanggan terakhir pulang. Pertama kali saya ke sini karena iseng cari makanan tengah malam, saya pulang jam 3 karena asyik ngobrol dengan Bli Komang. Dulu dia mantan bartender yang kebetulan suka masak. Makanya, Mojito bikinannya pun enak. Satu pitcher hanya Rp. 35.000 dengan basis arak Bali.

Nggak cuma babi sih. Di Kanza juga ada ikan bakar (tenggiri bakarnya enak mampus!), dan kalau mau nyemil pesen aja tempe goreng. Nanti dateng deh piring berisi tempe yang diiris tipis semacam French fries dengan cocolan sambal yang bikin adiktif itu. Kalau kamu datang dan bilang temennya Pito, jangan percaya kalo dia cerita yang aneh-aneh tentang saya. Pokoknya jangan!

Before...
After...

Oke, semua poin di atas itu adalah makanan berat dan tempat leyeh-leyeh. Tapi apalah arti makan kalau nggak ada pencuci mulut. Setuju?

Nah, ini daftar tempat cemilan langganan saya di sekitaran Ubud…


11. Roti Bakar Bandung  

Saya sempat dituduh sedang berada di Cicaheum waktu posting foto ini di Instagram. Padahal bapak penjualnya orang Bali. Saya lupa nanya bukanya mulai dan sampai jam berapa, karena biasanya saya ke sini lewat dari jam 19. Biasanya sih kalau Sabtu malam saya nganggur nggak ada yang diapelin dan nggak ngapelin siapa-siapa, ya saya ke sini dulu buat bekal nonton film marathon sampai ketiduran. 

Kalau kamu sedang ada di Ubud dan kepingin RotBakBan, maju saja ke arah patung Arjuna dan cari Mojo’s Flying Buritto di sebelah kiri jalan. Nanti akan ada 3 gerobak (kalau nggak salah) dan Roti Bakar ini salah satunya. Favorit saya? Roti keju susu dibakar kering! 


From Ubud with love. Halah!

12. Confiture Michèle  

Nah, kalau kamu suka selai-selaian, cari aja tempat ini. Dari Pasar Ubud jalan pelan-pelan sambil nengok sebelah kanan sampai ada restoran Nomad. Itu Jalan Gootama. Masuk saja terus sampai hampir mentok. Kalau nemu toko imut sebelah kanan bercat putih di ujung jalan, itu dah Confiture Michèle. Selainya dari macam-macam buah. Pepaya, jambu, mangga, anggur, beneran macam-macam. Kayaknya hanya buah simalakama deh yang nggak dibikin selai sama Bu Michèle. Kalau suka crepes, di sini juga ada. Yang seperti di gambar di bawah, harganya Rp. 10.000, tipker, tipis kering. Selainya bisa milih sendiri mau yang mana. Makannya bisa di luar, duduk di meja dan kursi kayu bercat putih dan whitewashed, atau di dalam ngobrol sama Bu Michèle atau Mbok Wayan. 

Tipker Ceban!

13. Kakiang Bakery  

Nah, kalau yang ini lokasinya seberang Circle K dari Jalan Hanoman ke arah Pengosekan, sebelah kiri jalan. Tempatnya cozy mampus dan banyak tante-tante Jepangnya. Syahdan menurut konon sih pemiliknya orang Jepang. Makanya kue-kue dan roti yang dijual di sini mirip sama yang ada di dorama Jepang atau yang di anime “Yakitate!!”. Bukanya sejak jam 7 dan tutup jam 21. Mbok-mbok pegawainya ramah-ramah. Di lantai dua ada tempat buat merokok dengan beberapa sofa empuk untuk leha-leha sambil WiFi-an.

Menurut mbak-mbakan saya yang dulu sempat kerja di Komaneka (dan sekarang jadi kurator handal, sedang residency di New York sambil liat graffiti-nya Bansky yang bikin saya ngiri berat), paling enak tuh Florentine Cookies, Rp. 50,000/100 gr. Saya sih suka Mango Tart, Rp. 24.000, yang cup-nya dari pastry renyah berisi krim ditutup irisan mangga berlapis jelly. Nggak begitu manis dan nggak bikin eneg, dan paduan krim, kriuk dan segarnya mangga memang adiktif. Menurut teman saya yang orang Polandia, Mango Tart adalah “the best thing I had in my life”.

... dan saya setuju! Ini memang enak!

Jadi, gimana? Sampai kamu baca ini sudah bikin rencana ke Ubud? Siapkan kantong dan jangan lupa ajak saya kalau mau icip-icip. Ditunggu!





Labels:

Attitude, Anyone?

Posted by The Bitch on 9/21/2013 05:53:00 PM

Courtesy of Lugu Gumilar, disedot pas orangnya lagi makan di seberang meja



Hidup bukan sekadar menunggu badai reda, tapi tentang bagaimana menikmati berdansa di bawah hujan

- Anonim



Duluuu sekali ternyata saya pernah “mencela” teman perempuan yang—menurut saya—cantik, bohay, wangi, menarik dan bobokable. Sempat saya berpikir jika saya diberkahi dengan bentuk bodi mematikan—eh, koreksi, menggiurkan—seperti itu pasti saya akan jauh lebih bitchy dari sekarang dan saya pasti punya lebih banyak piaraan mas-mas baik yang tunduk di bawah kaki saya. Tapi tenyata mentalnya cemen. Cuma segitu aja. Kejadian deh sebaliknya: alih-alih membuat lelaki bertekuk lutut di sudut kerlingnya, dia malah terkuple-kuple mengemis perhatian cowok chauvinis abis yang melumpuhkan fungsinya sebagai manusia karena kemana-mana diantar-jemput, makan dibeliin, cuma cebok aja yang nggak dicebokin.

But, hey… mungkin dia senang dibegitukan. Merasa jadi perempuan utama yang berada di daftar teratas prioritas lelakinya. Mungkin dia baik, nggak selicik saya yang oportunis mampus melihat semua celah sebagai kesempatan memanfaatkan. Atau mungkin otaknya emang nggak nyampe buat mikir ke situ karena sebagai anak tunggal dari keluarga berada membuat semua kebutuhannya tercukupi tanpa harus rekoso menggapainya, membuat pikirannya nggak sekreatif saya. Atau mungkin saya aja yang sirik karena harus ngapa-ngapain sendiri dan nggak pernah punya tandem bahkan untuk sekadar bobok bareng. Iya, ini curcol. Nggak usah protes.

Kemudian sejak beberapa bulan pantat saya ada di Bali saya banyak lihat yang lucu-lucu. Bukan, saya nggak ngomongin salah satu dayang ganteng bermuka gondrong sekaligus tentengable yang membuat derajat saya naik karena nonton Papa James bareng pas ibadah Metallica Jakarta kemarin. Meskipun dia masuk dalam kategori “lucu banget”. Saya ngomongin beberapa mbak-mbak blonde kriwil berkaki jenjang berpaha lencir-mengkal bersusu kenyal.

Dan saya ngaku, sebagai perempuan gendut ternyata saya berbakat chauvinis juga. Yah, kanggoang lah. Namanya juga woman womini lupus. Perempuan adalah pemangsa terhadap sesama perempuan. Kalau ada yang bening sedikit aja pasti dicari celanya, dicari jeleknya. Salah kostum, lah. Make up ketebelan, lah. Gaya slutty, lah.

Nah, jadi ada beberapa mbak-mbak blonde kriwil berkaki jenjang berpaha lencir mengkal bersusu kenyal yang kerap saya temui. Beberapa kali interaksi dengan mereka saya sudah bisa menunjuk mana yang slutty dan mana yang miss goody two shoes. Padahal ya sama-sama suka pake kaos intelek—intip susu lewat kelek—dan rok/celana kaum miskin kota yang kurang bahan sampai rasanya saya berniat mendonasikan kamen biar mereka bisa sekalian ngeceng di pura sama bli-bli pakai udeng yang entah kenapa level kegantengannya menanjak drastis. Terus, tahu dari mana, Pit, bedain dua jenis spesies itu? Ya dari attitude, dari sikap, dari cara mereka bicara dan memperlakukan orang lain, terutama yang secara status sosial lebih rendah dari mereka. Ada lho, mbak-mbak berpakaian minim kain tapi attitude-nya classy. Ada juga mbak-mbak jilbab lebar yang gayanya bitchy gatal. Kalau di keramaian sering mati gaya tapi males pulang dan ujung-ujungnya menyamar jadi tanaman hias jejadian di pojokan—yang ada secara fisik tapi nggak terlihat—dan memperhatikan orang lalu-lalang, seperti saya, you’ll know the difference.

Terus, kamu nulis kayak gini emang kamu punya attitude yang diperlukan untuk merasa benar, Pit? Idih! Ya nggak lah! Saya kan emang iseng doang being bitchy. Masalah?


Labels:

What I Think When Riding

Posted by The Bitch on 8/15/2013 09:20:00 AM

Gambar nyomot dari koleksi wallpaper, lupa nyedot dari mana


Nothing behind me, everything ahead of me, as is ever so on the road
 - Jack Kerouac, On the Road


Lari 90 atau 100 km/h emang gokil sih. Tapi kalo ada anjing item nyebrang nggak keliatan dan gue telat ngerem, apa kabarnya ya?

Must. Resist. To. Crash. On. That. Battered. Truck!!! (kalo nggak gue bakal tetanus, soalnya berkarat semua)

Dije jani, kleng?

Terpujilah siapapun yang pertama kali punya konsep bikin sate, dan semua orang yang mengembangkan ide itu sampe jadi bermacam-macam. Mereka adalah orang yang pantas menempati surga! Kalau ada.

Should there be fourth, fifth, sixth, seventh dimension, how many the invisibles I crash right now? I wonder...

Mesti maketin HDD external. Sabar ya, Ndul.

Tadi spaghetti-nya Emak enak sekali...

He's getting weird by the day, dying and craving for attentions that he didn't get. Poor him. No one told him that he's wrong. Or perhaps they did but he ignored. I did, twice, after he jeopardized my life, but he didn't listen. There won't be any third and he did massive mistake and I don't forgive and forget. Wait, I don't forgive but I do forget. Correction: I obliterate his existence. Oh, well. There goes an ex-friend. I never thought that a person could be so stubborn.

Besok staff meeting dan makan siang. Mesti ke laundry juga pagi-pagi.

Gimana ya rasanya hidup abadi nggak mati-mati dengan badan yang itu-itu aja, nggak pernah tua, tapi jeroannya aus sedikit demi sedikit dan nggak ngerasa kesakitan? Kalo tubuhnya secara biologis udah nggak bisa jalan dan pake life support buatan, gimana dia minta mati? Kalo bisa ngukur kesadaran pake gelombang otak endeswai-endesbrai dan ternyata dia bosen banget dan tersiksa banget saat itu tapi dia masih sadar sepenuhnya, gimana matiinnya?

Komik History of Violence itu keren mampus! Apa rasanya ya disiksa tiap hari selama dua puluh tahun? The idea of neraka dalam agama kayak gitu sih. Kurang dibakar doang. Kayak sate.

I miss you... and you're outta reach.

Si Sapi lucu sekali. Kenapa puppy ekornya selalu goyang? Mungkin kalo anak manusia punya ekor juga gitu kali ya, always excited. Kayaknya makin gede manusia makin banyak hal yang bikin dia kecewa dan bikin dia less excited, makanya kayak anjing juga. Makin gede ekornya makin jarang goyang. Kalo yang galak jadinya menggeram terus, kuatiran teritorialnya dilanggar. Ya sama kayak gue sih. Makin milih-milih temen. Gue nggak temenan ama si anu-ina-inu juga nggak mati sih. Mereka nggak temenan ama gue juga nggak mati. Mati itu di tangan keapesan masing-masing.

Aduh... Jam dua pagi dan kebanan. Tapi nggak papa sih, mereka berdua. Nuntun motornya nggak ngenes-ngenes banget, masih ada yang bisa diajak ngobrol. Kalo sendiri pasti sedih, ngobrol ama setang doang. Mudah-mudahan rumahnya deket, jadi nuntunnya nggak capek-capek amat.

Speaking of which... Kalo gue mati masih jomblo juga nggak masalah buat gue. Yang masalahin paling orang-orang sekitar gue, orang-orang yang punya kerja sampingan di Departemen Urusan Orang Lain.

Sampe hari Sabtu kayaknya bakal motoran Ubud-Sunset Road terus. Ya buat rumah sendiri, nggak papa lah ngelaju juga. Makanannya enak-enak kok. Dan orang-orangnya menyenangkan.

Dan Si Ayah ulang tahun ke-44. Menyenangkan. Elu mau nggak, Pit, pas ulang tahun dikelilingi orang segitu banyak, mereka yang udah pernah lu sentuh hidupnya, orang-orang yang merasa beruntung punya guru dan tempat curhat ide, yang ubannya jauh lebih banyak daripada orang lain, kerjaannya juga bikin gara-gara tapi bikin pinter, dan masih bisa nyengir kalo ada orang dikasih hati ngerogoh biji? Dunno. Sounds fun.

I miss you... and you're outta reach.

Itu kenapa MegaPro yang tadi nyalip gue sekarang berenti di pinggir jalan? Oh... Masnya pipis...

Kayaknya seru kalo jam dua pagi gini mendadak ada virus outbreak dan bikin semua anjing jadi zombie. Kalo nggonggong kayaknya lucu. Kira-kira mereka bakal lari-lari atau jalan terseok-seok kayak zombie manusia? Terus ngincernya apa? Otak sesama anjing juga? Wah, FPI selamet tuh. Tapi mereka kan nggak di Bali. Si Sapi kalo jadi zombie masih lucu nggak ya? Kalo ekornya goyang-goyang terus nggak berenti-berenti, kira-kira bisa putus nggak? Lagian, ada apa sih guguk kecil sama ekor goyang-goyang? Sampe lagi duduk aja ekornya masiiih goyang-goyang. Dia kepegelan nggak ya?

Pulang ke Jakarta. Hmmm...

Besok mau bikin entri blog pake apa yang gue pikirin ini.

Labels:

Resurrection: Bersihin Kamar adalah Kunci!

Posted by The Bitch on 7/04/2013 03:22:00 AM

Nasihat adalah cara seseorang memperingatkan dirinya sendiri melalui kesotoyannya dalam memandang masalah orang lain. Itu juga kalau dia sadar dirinya bermasalah.

Jadi, ketika saya mengetikkan ini, kata pojok kanan atas layar ponsel saya sudah jam 3:29 pagi waktu Ubud dan sekitarnya. Saya nongkrong di lantai teras nan duwingin mampus ditemani suara jangkrik, kodok, dan sesekali lolongan anjing tetangga sementara menunggu lantai kamar kering sehabis dipel.

Eh? Dini hari ngepel?

Iya. Saya sedang terapi membenahi diri. Karena saya kangen Bu Anggi.

Di suatu masa yang rasanya seperti berabad-abad lalu saya pernah diberi wejangan oleh beliau bahwa manusia seringkali dikenang BUKAN dari hal-hal besar yang dilakukannya, melainkan dari tindakan-tindakan remeh yang diperbuat dengan tulus. Dan lagi-lagi kata Bu Anggi, percuma juga mengandai-andai melakukan sesuatu yang besar jika satu tindakan kecil saja gagal terlaksana. Dan entah kenapa saya berasa mak nyos ketika mengasosiasikan bentuk dan rupa kamar saya, dunia kecil saya, tempat perlindungan, suaka-kandang-"rahim"-benteng-gua-palung-pohon Boddhi saya dengan ingatan itu yang datangnya nggak pakai permisi saat saya buka pintu sejam lalu.

Hidup saya tercermin pada kondisi kamar (yang seharusnya) nyaman dengan halaman luas tanpa riuh suara kendaraan dan asap knalpot namun sering bikin masuk angin jika saya ketiduran dan lupa pakai selimut, meskipun tanpa kipas maupun pendingin udara. Banyak barang-barang remeh tercecer di lantai sebagaimana saya meninggalkan beberapa unfinished business di tempat tinggal saya dulu--pada Ibu Kos (halo, Mama Rana! Hihi), pada The God in Human Form (lirik Om Jim dan Mbah Wicak), pada dream project saya sendiri (elus-elus ebook Satanic Verse), pada janji-janji yang belum tertepati (saya nggak mampu menyebut siapapun pada jeda ini karena daftarnya akan puwanjang sekali dan tulisan ini bakalan jadi teramat panjang jika dituruti).

Sering saya merasa sebal ketika ada orang yang merasa lebih tahu tentang hidup saya lalu merasa berhak memberi larangan dan panduan tentang bagaimana saya seharusnya bersikap. Well, meskipun saya sering sok jago menuhankan diri sendiri (dan invoice!) ternyata saya masih sama seperti manusia lain pada umumnya. Ogah dikritik, bete dinasihati, gondok kalau disalah-salahin. Untung saja saya tidak punya kemampuan mengazab. Jika punya, mungkin tidak ada lagi yang tersisa dari apa yang disebut ras manusia. Dan monyet. Dan kucing. Dan nyamuk. Dan lain-lain.

Lalu? Intinya apa, Pit?

Nggak ada. Saya cuma mau pamer kalau saya sebenarnya rajin dan nggak suka kamar berantakan. Dan Ubud hampir subuh ini dinginnya bikin jari kaku buat ngetik. Dan ponsel saya lowbat. Dan kasur nyaman saya sudah memanggil-manggil. Tapi saya senang karena saya berhasil membereskan satu masalah nyata dalam hidup, meskipun saya merasa habis melakukan ritual buang sial karena banyak sekali peninggalan yang mengingatkan saya tentang kepercayaan yang dihianati, dan saya bangga dapat melalukannya.

This too shall pass? Nah. THIS, too, HAS already passed!


Labels:

Sekadar Pengingat

Posted by The Bitch on 4/26/2013 04:02:00 AM

Penyair adalah mahluk aneh yang bisa mengubah kopi, rokok, malam dan hujan menjadi larik-larik puisi.

Saya bukan penyair. Penulis pun bukan. Malu rasanya mau ngaku-ngaku penulis tapi nggak pernah ada satupun karya yang naik cetak. Kan nggak proven and tested jadinya. Nggak kayak temen saya Elia Bintang yang diam-diam sudah bikin 3 novel. Iya, TI! GA! Tapi saya pengen bisa nulis kayak dia, konsisten dan punya napas panjang, telaten ngetik dan baca, dan sabar menjalani proses dari awal hingga selesai.

Tapi gini deh, tak kasih ilustrasi: bagaimana rasanya kehabisan bensin di tengah jalan yang tepian kanan-kirinya cuma sawah dan purnama dini hari telah tergelincir turun menunggu aplusan dengan matahari? Buat yang suka parno sama benda-benda tak kasat mata sih pasti bakal bete. Saya? Ya paling minggir, nyalain rokok, poto-poto jika baterai di kamera ber-hp (eh, kebalik ya?) masih cukup atau kebetulan bawa powerbank sambil nunggu pagi dan nunggu orang baik lewat untuk membelikan saya bensin di pinggir jalan yang biasanya botolnya ada tulisan ABSOLUT VODKA-nya.

Tapi bagaimana jika kamu kehabisan bensin ketika jalan hidupmu masih panjang dan satu-satunya orang yang bisa kamu mintakan pertolongan hanya dirimu sendiri?

Bangsatnya, itu yang saya alami sekarang. Saya seperti habis ide di Bali. Bukan, bukan berarti saya lungkrah kelelahan. Justru sebaliknya. Keadaan terlalu nyaman dan damai membuat "api" saya hampir mati. Padahal "bensin" saya adalah amarah. Well, setidaknya itu yang dibilang salah satu empu yang dulu ilmunya sering saya curi di pojokan Jakarta Selatan tempat saya biasa begadang ngembat koneksi hotspot. "Kamu itu cuma punya dua emosi: senang dan marah. Kalau marah, baru kamu hidup," ujar beliau suatu malam sambil berlalu ke pantry.

Saya nggak mengiyakan, tapi nggak juga menidakkan. Sebenarnya ucapan itu bisa saja benar dan bisa juga salah. Saya nggak suka ada orang sotoy kayak gitu, tapi ya apesnya orang itu memang guru saya. Dan sepengalaman saya, dia selalu melihat yang tersirat di balik yang tersurat, khas orang-orang tua pada umumnya yang keluberan pelajaran. Terus saya mau bilang apa dong?!

Sepertinya satu hal dari orang-orang tua yang celahnya belum bisa saya dapatkan adalah bagaimana mencermati semua hal yang mengalir di depan mata sambil menikmatinya dan memasukkannya ke dalam database pengalaman untuk bisa membuat anak-anak (sok) muda nan belagu seperti saya merasa diskakmat sampai nggak bisa berkutik dengan ucapan semacam itu. Tapi ternyata saya bukan satu-satunya yang kepaten geni ketika berada dalam kondisi terlalu aman-damai-nyaman-sentosa. Kemarin satu lagi pengakuan dari Kangmas Ayah Guru yang kebetulan bertandang ke Sanur. Dia yang karena desain nakal-dan-pasti-subversif-nya akhirnya bisa bekerja di Bali hanya sanggup bertahan tiga bulan karena ya... kehabisan bensin itu tadi. Saya nggak tahu pasti bagaimana nasib project-nya itu. Kayaknya sih dia kembali ke habitatnya, ngurusin anak dan istrinya main-main di kebun belakang menyelamatkan generasi muda bangsa Indonesia jika tiba saatnya para eyang menonton shitnetron dan ngotot ngajak cucu.  

Tapi saya juga nggak mau dikendalikan kondisi. Sebagaimana Kangmas Ayah Guru itu ngeles dari cengkraman ortu dan mertua tukang cekok shitnetron ke cucu, saya juga harus pintar ngeles dong. Saya yang harus mengendalikan. Saya kan control freak getoloh. Jadi, sepertinya saya harus putar mindset lagi nih, kayak vokalisnya Weezer yang tetap bisa bikin karya tanpa harus dikendalikan mood.

Yuk, yuk!

Tapi, mari kita tidur dulu. Selamat full moon. Sering-seringlah lihat ke langit kalau jalan-jalan malam di Bali. Bintangnya BUWANYAK!

Hihi.  



    

Labels: