"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

For the Love of God, eh, Dog

Posted by The Bitch on 7/05/2009 01:40:00 AM

Ini Sasa. Halfbreed antara rottweiler dan herder. Umur dua tahun, betina, sudah divaksin komplit dan steril. Dia pintar menjaga rumah. Manis, penyayang, dan cerdik.

Diantara kumpulan anjing, dia adalah pemimpin (melihatnya saya percaya kalau perempuan bisa jadi presiden yang kompeten). Dulu, waktu masih tinggal di shelter untuk anjing-anjing terlantar, dia selalu berada paling depan. Selalu berinisiatif mencetuskan permainan. Namun dia mematuhi tuannya seperti seorang putri menurut pada ayahnya. Bandel sedikit, kadang-kadang. Layaknya gadis kecil yang selalu ingin tahu. Jika ayahnya sedang mengepel dan kebetulan dia berada dalam ruangan, dia akan lari dan naik ke kotak di sudut halaman depan. Entah karena tidak ingin mengganggu atau tidak suka kakinya basah.

Sasa selalu bisa menjaga diri. Dia akan keluar malam-malam jika ingin jalan-jalan. Tanpa harus didampingi, bila saatnya pulang, dia sudah akan berdiri di depan pagar. Lidahnya menjulur dan ekornya bergoyang seperti baling-baling helikopter, menunggu sang ayah membukakan pintu. Dan saya seperti mendengar kisah saya sendiri ketika saya kekuncian dan harus pulang pagi. Haha!

Yang di sebelah kanan itu Wawa. Halfbreed antara rottweiler dan chow chow. Umurnya juga dua tahun, jantan, dan steril. Sudah divaksinasi.

Wawa adalah pengikut setia Sasa. Mungkin karena dia jantan, darah rottweiler yang mengalir di nadinya lebih mendominasi. Itu yang menjadikan dia penjaga rumah yang baik. Wawa tidak gampang percaya pada orang baru. Dia akan menyelidik, menggonggong, dan mengawasi siapapun yang dia anggap asing. Kedua telinganya akan tegak dan dia langsung terbangun dalam posisi waspada ketika dia merasakan ada sesuatu atau bebunyian janggal.

Namun jika kamu sudah berada dalam lingkarannya, dia akan manja luarbiasa. Kebalikan dari Sasa yang mandiri, Wawa ini seperti cowok anak Papa (karena tuannya lelaki). Dia akan menggonggongi pintu ruang kerja yang tertutup pada jam-jam sang ayah merancang bangunan atau menggambar sesuatu. Dia harus selalu tahu bahwa ayahnya disana, dan akan tetap disana jika dia menoleh sesekali. Dia suka sekali memperhatikan sang ayah bekerja. Duduk diam tak menggonggong. Hanya melihat tanpa mengganggu.

Wawa adalah yang paling konyol diantara kedua anak 'abang' saya ini. Dia selalu tidur telungkup dengan dua pasang kaki lurus ke depan dan ke belakang. Karena matanya hitam legam, kamu akan mendapati gumpalan bulu gelap teronggok di lantai ketika dia tertidur lelap.

Anjing satu ini seperti punya kemampuan cenayang. Dia akan menggonggongi tukang sate bersuara cempreng yang tiap malam selalu lewat depan rumah. Menurut abang saya (yang sama-sama sebal dengan si tukang sate), mungkin karena satenya nggak enak. Dan karena tinggal di kota, dia juga nggak suka pada tukang jualan yang memakai lampu teplok atau petromak. Dia punya nama kesayangan: Getat. Gede pantat, saking dia doyan makan. Ayahnya membuat Wawa diet karena obesitas. Jika tidak diet, Wawa tidak akan bisa berlarian menikmati masa kecil karena malas bergerak.

Wawa juga manja. Dia paling nggak suka dengan kondisi gerah dan tempat kotor. Tidak suka becek-becekan, tidak suka hujan-hujanan. Oh, dia juga paling takut pada suara keras seperti petir dan petasan. Dan sangat aktif. Abang saya sampai harus memegangi kepalanya jika dia masuk rumah, atau celananya akan ditarik Wawa sampai melorot. Begitu cara dia bermain.

Sering sekali ketika sang ayah duduk bersila di beranda, salah satu dari Sasa atau Wawa yang sedang bermain di halaman tiba-tiba mengendap-endap mendekatinya. Sepasang mata lucu itu akan melirik, menunggu sang ayah untuk menggendong dan memangkunya. Hanya semenit, sudah itu dia akan melompat dari pangkuan lalu berlarian lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Atau ketika abang saya sedang ngoprek rancangannya di laptop, sering sekali dia dapati tatapan mata Wawa yang memelas. Menurutnya, itu tanda Wawa minta diajak jalan-jalan. Dan tanpa ia sadar, Wawa membantunya menjernihkan benak sambil menyusuri jalan, membuat sang ayah rehat sebentar.

Duo ini selalu sukses bekerjasama dalam mencegah pencurian. Pernah suatu kali ada orang tolol yang nekat masuk rumah melalui tempat sampah berpintu. Belum sempat dia melancarkan aksi, Sasa dan Wawa sudah ada di depan mukanya ketika dia menengadah. Beberapa minggu sebelumnya mereka juga berhasil menggagalkan usaha pencurian di rumah sebelah. Abang saya curiga karena kedua anaknya diam tak bergerak sambil melihat ke arah rumah tersebut. Sang ayah pun memanjat tembok pembatas. Ternyata ada satu orang pencuri sedang mengutak-atik garasi sementara temannya menunggu dengan motor. Tanpa pikir panjang dia membuka pintu pagar dan anak-anak itu berlarian sambil menggonggong. Malingnya? Tentu saja kabur ketakutan.

Jujur saja, saya belum pernah melihat mereka. Saya hanya mendengar kisah. Tapi sepasang bintang di mata sang ayah bersinar jauh lebih terang saat bercerita. Dan itu sudah membuat saya yakin bahwa mereka dibesarkan dengan kasih sayang yang merupakan hak istimewa peliharaan dari tuan bertanggungjawab seperti ayah mereka.

Anjing adalah representasi tuannya. Anjing galak berarti tuannya juga galak. Anjing, sebagaimana manusia, perlu kasih sayang dan disiplin. Itu menurut ayah Sasa dan Wawa.

Pernah suatu kali, pada shelter yang dulu dia kelola, abang saya harus 'menyiksa' seekor anjing terlantar yang hanya bisa poop di tempat dengan banyak sampah. Selama tiga hari anjing itu menahan perut karena tempatnya bersih sekali. Dengan sabar abang saya melatihnya untuk berhajat di tempat yang sudah disediakan, dan berhasil. Kurang dari sebulan.

Bagi abang saya, Sasa dan Wawa, peliharaan yang dia anggap anak-anaknya, adalah semangat untuk bekerja lebih giat. Mereka yang memacunya mendapatkan uang lebih banyak. Supaya bisa memberi mereka makanan lebih layak. Dia rela memarut bawang putih setiap hari agar Sasa dan Wawa tidak gampang terkena pilek dan selalu sehat. Dia rela bangun pagi jam setengah enam hanya untuk memandikan mereka (padahal dia chatting dengan saya hingga pukul empat). Dari binatang berkaki empat yang dianggap najis dan dibilang menghalangi malaikat masuk rumah ini, abang saya belajar satu hal besar namun kadang dilupakan orang: Cinta tanpa syarat, tanpa rasa takut, tanpa penyesalan, dan tanpa prasangka.

Sayangnya, ada kondisi yang membuatnya harus segera berpisah dengan kedua anaknya ini. Saya miris membaca teks yang dia kirim pada saya. Melalui posting ini, saya berharap ada penyayang anjing yang mau menjadi orangtua Sasa dan Wawa, menyayangi mereka seperti abang saya mencintai kedua anaknya. Yang berdomisili di Jakarta, kalau bisa. Agar mudah dijenguk jika ayahnya kangen. Mas Roni tidak menginginkan uang untuk ditukar dengan anak-anaknya. Yang dia inginkan hanya rumah dengan kasih sayang dan perhatian untuk kedua anaknya.

Peminat serius silahkan menghubungi nomer ponsel Roni di 0818799976.


...dan Tuhan tidak pernah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia...

Labels:

Vote, Anyone?

Posted by The Bitch on 7/03/2009 02:22:00 AM

Keluarga saya nggak ada yang fanatik pada ajaran agama maupun partai tertentu. Tapi kami memilih. Saya pun akhirnya harus rela menodai kelingking dengan tinta murahan warna biru gelap beberapa bulan kemarin, lebih karena sabda kedua orangtua yang mengingatkan saya agar menjadi warganegara yang baik.

Ya. I voted.

Namun benarkah saya menggunakan hak suara sebagaimana lazimnya orang memilih? Tidak.

Pada empat lembar kertas selebar koran, saya tuliskan besar-besar dengan spidol ‘MEMILIH UNTUK TIDAK MEMILIH’ (dan misteri pemilih kurang ajar itu terungkap beberapa minggu kemudian ketika saya pulang dan mengaku. Ibu dan Babab hanya nyengir tengil. Untungnya). Setelah itu saya roadtrip, liburan singkat. Terlempar di terminal Lebak Bulus sore hari untuk larut dalam obrolan bersama tukang ojek di penghujung malam menunggu jemputan pada pinggiran Semarang.

Jujur saja, saya muak dengan nama-nama yang tercantum di lembaran kertas pemilih. Itu adalah nama yang menghiasi jalan protokol dan gang tikus di kampung-kampung dengan wajah sumringah artifisial a la sampul majalah ABG. Nama jumawa yang rela merogoh ratusan juta dari kocek orang lain hanya demi kursi kekuasaan yang belum tentu dia dapat. Nama yang sosoknya terlihat bodoh ketika bicara namun mesum saat bernyanyi. Nama yang pongah digotong orang-orang menyesaki Metromini dan angkutan umum dengan supir menggerutu karena setoran tak terkejar, memacetkan bulevar, menghambat lalu-lintas dan melambatkan ritme segala elemen kerja dan hidup.

Saya sayangkan tinta, kertas, lembaran sablonan plastik, dan cagak-cagak bambu yang harus terbuang ketika gaung perayaan demokrasi mereda.

Namun pesta belum usai.

Dan saya mulai serius menengarai para Goliath yang berdebat. Saya tidak harus melihat mereka. Perut saya tidak cukup kuat untuk itu. Saya pun tidak harus melawan mereka karena saya bukan David. Mendengarnya dari televisi tetangga kamar atau menyimak reaksi teman-teman pada entri mailing list sudah membuat saya kebanjiran informasi. Dan saya tidak akan melupakan informasi-informasi itu.

Satu-satunya perempuan yang pernah memimpin negara ini melukai saya. Bukan saya seksis, namun bernaung pada bayang proklamator besar tidak menjadikan beliau mampu menggenjot prestasi dan kepemimpinan. Tante itu, menurut saya, malah menjadikan semua orang yang melihatnya seperti harus menurutinya. Blah!

Kandidat lain yang namanya masih resmi sebagai pucuk tertinggi dengan plat mobil RI1 pun sama. Saya tidak rela mengakuinya sebagai pemimpin berikutnya jika korban di Porong masih harus bersedih menderita kehilangan tak terganti, jika kasus-kasus yang ‘terpaksa’ dilupakan tak lagi digali, jika barometer leadership tak lebih dari sekedar ganteng dan ‘terlihat’ punya wibawa. Diperparah dengan mutungan, dan meminta rakyat untuk maklum karena pekerjaan sebagai pemimpin bukanlah hal mudah. Hei! Apa yang Bapak tentukan dalam hidup membuat Bapak harus berdiri di podium sebagai pemimpin negara! Jangan merajuk seperti bayi!

Satu Goliath lain adalah pengusaha. Dia, yang unggul dalam debat-debat sebelumnya dan gemilang pada adu mulut terakhir tak lebih dari seorang makelar, menggampangkan segala urusan dengan sorotan kamera sekali pun dan menganggap rakyat adalah liability. Huh?!

Dan kita lelap dalam buai abab mereka.

Hingga obrolan suatu sore bersama Emak Mandor di pabrik tempat saya memburuh menggugah tidur lasak saya: KPK hendak dihapuskan. Padahal personel-personelnya terlatih khusus, bukan sekedar mereka yang uplek menangani kriminal perdata dan pidana. Padahal, meskipun terseok, tanpa KPK tidak akan nama Indonesia terangkat, melesat meninggalkan negara-negara Afrika yang pemimpinnya rakus nggak ketulungan dan kerjanya perang melulu. Namun adakah salah satu calon presiden dengan nama-nama agung itu berpikir untuk melestarikan KPK? Akankah tikus menyetujui kucing yang ingin tinggal diantara mereka?

Saya subjektif. Akan sangat sulit meminta saya memilih diantara ketiganya, bahkan ketika pelipis saya tertempel Glock. Untuk masalah ini saya jauh dari oportunis. Saya tidak akan menunjuk bangkai yang tidak terlalu busuk diantara tumpukan bangkai-bangkai dengan lalat berkerumun. Akan lebih baik jika saya makan gado-gado. Tapi lagi-lagi itu pilihan saya. Saya tidak meminta siapapun untuk turut bersama saya.

Masalah saya adalah saya tidak kenal mereka secara personal, dan saya juga tidak merasa perlu. Apalagi mereka. Siapa sih saya? Saya pun mengakui bahwa saya cenderung anti pada aturan. Apapun yang diwajibkan, saya lakukan kebalikannya. Tapi saya sadar sesadar-sadarnya bahwa kelompok besar yang terdiri dari ratusan juta manusia perlu hukum dan pemimpin yang mengatur. Di sisi lain saya juga sadar bahwa order bisa tercapai jika ada chaos, dan semua adalah lingkaran setan tak sudah dan tak lekas.

Namun saya kenal sepasang suami-istri yang bekerjasama sebagai ketua RW di rumah orangtua saya. Mereka anggota partai berlambang beringin yang sempat melesakkan kita selama 32 tahun pada ninabobo swasembada pangan dan program inpres dan ikan mas besar-besar pada Laporan Khusus usai berita pukul sembilan malam. Tapi kerja nyata mereka membuat RW tempat saya tinggal menjadi tempat percontohan se-Jawa Barat karena semua program yang mereka tangani selalu berhasil. Meskipun ibu-ibu dan bapak-bapak ‘bawahan’ mereka selalu ngambek dimintai nota dan bon setiap ada LPJ. Meskipun uang kas sempat diraibkan bendaharanya untuk mempercantik rumah. Meskipun dana koperasi didepositokan oleh yang bertanggungjawab dan peminjam harus bersabar menunggu jatuh tempo walau suaminya wajib segera operasi jantung.

Saya kenal orang-orang muda yang gerilya mengadakan program pendidikan, menyekolahkan anak-anak tidak mampu dan mendampingi mereka belajar di tengah kesibukan mereka yang padat luar biasa. Saya kenal manusia tak kenal lelah yang menyebrangi dua benua hanya untuk menyebarkan informasi agar rekan sebangsanya tidak amnesia terhadap kelakuan pemimpinnya. Saya kenal sekelompok mahasiswa yang babak bundas tak punya-punya pacar karena lebih mementingkan pelatihan ketrampilan bagi anak-anak jalanan yang tiap hari kerjanya hanya ngamen dan nongkrong. Meskipun skripsinya tak juga selesai. Saya kenal David lain yang berjuang di Aceh melawan Goliath-Goliath lokal karena mimpi sovereignty yang hampir sama dengan Joan d’Arc. Untuk mereka, saya punya suara.

Jika suatu hari nanti semesta mengizinkan, saya hanya akan memilih Bang Aip atau Buya Alex sebagai presiden. Hanya pada mereka saya pasrah jadi pengikut.

Maaf. Otak saya sedang gatal.

Labels:

HEH?!

Posted by The Bitch on 6/30/2009 04:33:00 AM

So, one twisted mind asked me to unveil seven awesomeness in me. I didn't know why but one thing for sure I just couldn't say no.

Seven awesomeness, heh? Here they are:

1. Do you ever wonder why I've got Pito for a nickname yet I'm a girl? It started out one night, two by twenty four hour before a shower to celebrate seven-month-old pregnancy of my mother. And... Voila! There I was... Born. Less than 2 kgs and had to spend 10 days in a small incubator. Now I never question where I get this claustraphobic from.

2. My parents had quite high hope for me. From both Grandpas, Pitoresmi and Pujiningsih were suggested. Both are taken from Javanese. Pitoresmi means 'seven that hopefuly beautiful' while Pujiningsih means 'highest gratitude to the Lord'. Thus, combining those two, it could be said that the baby born is hoped to be beautiful against all the odds and she should be grateful for it.

3. Along the way, I am used to pain. I am not a crybaby. I did not even shed a tear when I had to be punished by broomstick for the wrongdoings that I did not committed. I did not even scream when I fell from the tree while I had to cover my unstoppable bleeding chin, afraid of being noticed by my mom and made her mad like hell.

4. I've got rawkin' parents. They are free-minded, easygoing, kewl, old persons that never say 'No' to everything I want to do. Did your parents ask you to try booze, marijuana, or drugs at home? Mine did when I was in junior high. The reason? So they'd be able to drag me to the hospital when shit happens. And even when the shittiest happens, like I'm dead overdosed, they know where to find my corpse.

5. I was raised with ABBA, Rolling Stones, Beatles, Joan Baez, and CCR. Since I was a baby, my mom always turn on the music to help me sleep and get me used to be undistracted by any noise. So it was not a big deal when in my first year of elementary, I was the one and only who sang Chiquitita in front of the class.

6. I tend to see everything from every angles imaginable. And unimaginable. Therefore, there is no wrong and right to all situations and occurences. They're just... happen. Period.

7. The image above was made by my partner in crime, Doni Kristian Dachi. I love to shorten his name into DKDC, abbreviation of "don't know, don't care". He was an old friend, more like a big brother to me. I met him in those good ol' days (and nights) when we were both in Jogja, in a small netcafe that I had to tend. With all the ups and downs, it's a miracle seeing him living and breathing up to now. And that's what made him awesome.

Nyoh, Nyong! I spit it out!

Labels:

About A Dream

Posted by The Bitch on 6/29/2009 01:47:00 PM

Martin Luther King punya mimpi bahwa akan datang suatu masa dimana warna kulit tidak lagi jadi batasan. Berpuluh tahun kemudian seorang warga keturunan Afrika memimpin negaranya.

Joan d’Arc pernah bermimpi tentang tanahair bebas merdeka dari penguasaan Inggris. Berabad kemudian mimpinya terwujud, jauh setelah tubuhnya terbakar menjadi abu.

Satu hal yang saya pelajari: Orang-orang besar selalu punya mimpi besar.

Sementara beberapa hari yang lalu ada seorang perempuan kecil namun lebih dewasa daripada saya menceritakan perihal mimpi yang ingin segera ia wujudkan. Sederhana saja sebenarnya. Tidak perlu darah tertumpah atau nyawa tergadai. Hanya uang yang cukup dan beberapa ketrampilan sederhana untuk mencapainya. Celakanya, dia mengajak saya.

“Bayangkan, Pit. Kita punya mobile office sekaligus mobile home. Kita bisa sewaktu-waktu kerja di tengah sawah atau pinggir pantai; di pelosok Cirebon atau Nusa Tenggara Timur. Kamu dengan bahan tulisanmu dan aku dengan rancangan gambarku. Jalan sambil kerja. Kita bisa self-sufficient dengan cara itu. Modem ada, sinyal GPRS dimana-mana, laptop komplit. Apalagi? Kamu kukasih waktu setaun untuk jago nyetir VW Combi. Gimana?”

Tempting. So fuckin’ tempting. Ada yang mau modalin? Hihi.

Labels:

...and I Miss You, Love...

Posted by The Bitch on 6/24/2009 03:01:00 AM


Make room for the pray
'Cause I'm coming in
With what I wanna say but
It's gonna hurt
And I love the pain
A breeding ground for hate but...

I'm not, not sure,
Not too sure how it feels
To handle everyday
Like the one that just past
In the crowds of all the people

Remember today
I've no respect for you
And I miss you love
And I miss you love

Beberapa bait yang saya curi dari wajah polos namun kencang meneriakkan luka, sempat di'tuduh' sebagai junior Nirvana, dan album-albumnya tidak pernah saya koleksi.

Sepasang telinga 'perek' saya tak pernah menyaring bebunyian instrumen maupun suara. Apapun yang mereka tangkap seperti langsung terserap benak dan menjadi data, sewaktu-waktu dapat ditarik kembali jika situasi dan kenangan asosiatif memanggilnya keluar.

Pukul tiga pagi ini radio internet memunculkan syair tentang remaja canggung pendiam yang selalu merasa salah tempat. Dan frekuensi otak saya merata dengan mereka, kembali ke masa haid pertama, cinta monyet pertama, penyangkalan pertama, lebam pada buku jari pertama...

Soulmate pertama.

Shit. I miss you, Love.

ps: yang tidak berubah adalah tarik-ulur sepersekian detik antara cinta dan benci, rindu dan dendam, perih dan bahagia, tawa dan tangis. kita pernah punya itu.


untuk mantan ketua kelas yang rela jam tangannya remuk agar saya tidak mengamuk. masa putih-biru itu dan bagaimana kamu mengerti saya meski kita hanya berkirim kartu ucapan dan surat sarat goresan pensilmu... mungkin kamu masih akan melakukannya jika kamu ada disini.
hey, sudah berapa anakmu sekarang?

Labels:

Cogito, Ergo Doleo

Posted by The Bitch on 6/17/2009 09:38:00 PM


Ciptaan Tuhan yang mana yang paling kamu suka? Begitu pertanyaan teman saya suatu kali. Dengan cepat saya menjawab: Setan!

Kenapa, tanyanya lagi.

Karena dia adalah mahluk paling tragis yang pernah tercipta. Dia, tunduk patuh pada kuasaNya, mengakui hanya Dia yang patut disembah, dipatuhi dan ditaati. Sementara semua malaikat bersujud di kaki Adam, hanya Setan yang menolak menjadi rendah di hadapan manusia pertama. Karena dia hanya mau merendah pada Pencipta.

Dan apa yang dia dapat? Hukuman tiada akhir hingga kiamat datang untuk selalu menjadi musuhNya. Menguji manusia akan konsistensi terhadap perintah dan larangan hingga batas terakhir. Apa yang dia lakukan? Patuh pada perintah Sang Junjungan, tentu saja! Bukankah itu konsistensi tragis?!

Namun bagaimanapun Setan membawa dendam. Itu yang membuatnya tetap dapat menjalankan fungsi sebagai salah satu pewarna dunia. Dengan amarah dan kesumat yang dia bawa kemana-mana, dia janjikan untuk membawa manusia menjadi pengikutnya, menemani ia menjalankan hari-hari berbau belerang di Neraka.

Somehow, saya merasa menemukan diri saya pada setan.


*Judul adalah pelintiran dari dasar filsafat Eyang Descartes cogito, ergo sum (I think, therefore I am). Cogito, ergo doleo berarti I think, therefore I depressed. Got the pun?

Labels:

Stupidity Tak Pernah Mati

Posted by The Bitch on 6/16/2009 09:34:00 PM

“I want to shut down my blog.”

“Why?”


“I just realize that there are a lot of brains that I’ve poisoned. Writer is like a prophet. Writer could never walk away after she writes something. She has to be responsible for the words she wrote and the impact to the brains she infected.”


“And how many minds you have opened?”


“Well… I fucked them up, okay? Don’t use smoother words. I. Just. Fucked. Them. Up. Period.”


“So, what was your intention to write in the first place, after all?”


“I just want to throw up, to yell, to unleash the anger into nothingness. I just want to write what I feel…”


“And feel what you write. Yada, yada, yada. Heard that shit before. Still you broadcast it in a fucking cyberspace called blog. And still you can’t help it when people love what you write. What do you say, then?”


“I just want them to know that I’m exist, a fucked up mind living and breathing somewhere, somehow. I just want them to understand that thinking what I am thinking is not against any laws. It is just different. There’s nothing wrong being different. They have friend in me. They’re not alone being weirdo, if that’s what they feel. I want them to read between the lines about how I manage to take writing as a therapy, as a device to, at least, make me feel as a balanced human being though I’m trying hard to keep my sanity. That’s it!”


“And still you nag about people who adore you for what you write? To hate people who feel grateful because you open their minds to another level of thinking? Who’s the baby now? Who is stomping her feet and pouting now?”


“But…”

“Look. Though I hate to admit it, but I’ve got a confession to make: I love your writings. You could see things from a point where I could not. Damn, girl! I am an architect. I draw. I could make a painting of a naked woman just like that, and the picture will stay the same no matter you look at it now or five years later. But you… You ‘draw’ the naked woman with your words, with the punch of the keyboard, with imagination and energy you pour down to the tip of your fingers. It’s different. It takes extra effort and more senses to work on. I admire you for that.”

“Dammit. I don’t even think that way. I just think we both work in different areas. That’s all.”


“But we’re the same! We, people who work with senses, need the moods to materialize the concept into something. We are still learning to control it because sometimes it feels too fucking much. Perhaps what had happened to you is exactly the same with what I had experienced few months ago. I am still learning here, the same as you are. I work with images and pictures. You work with words. That’s the way it is.”


“But it’s kind of awkward to see how people know me through my writings, to find out that they know how I think from the entries I wrote, and get praised from it. It’s… weird.”

“Have you thought about this the first time you made your entry? Have it ever crossed your mind that perhaps somebody get his or her enlightenment after reading your shits?”


“No.”

“So, return to the basic, then. Try finding out what your intention in writing. Dig it deeply to the core.”


“I just want to write.”

“Go ahead, then! Write! Fuck people who read! Life is full of choices. If they happen to choose reading your blog, it’s their own decision. Not yours. If they happen to love what they’ve read, again, it’s their choice. You don’t rule over people’s minds. You rule over your own.”

“So?”


“Move from where you sit if you don’t like what you see. Make them and yourself comfortable. It’s a matter of choosing. See everything with the smile on your face. This is your next step in learning. You are leveling up by things you’ve thrown up. Don’t quit the purity of your fucked up mind. If there is ‘market’ you want to satisfy, learn to do it. But you have to remember the most important thing: Just be yourself.”

“Do you want me to hug you for this?”


“And stink my cool jacket here? I think you could skip that.”


[just an encrypt from one long conversation in the wee hour of the night with one helluva guy who was just escaping the inevitably gross fate should he did not stuck with me in an angkringan until dawn. how come we always find relations in the stories we shared though it’s been centuries since we last met? funny how an angel comes in red-black rider jacket, leather gloves, and rides a big red motorbike. I always miss you this way, Bro]

Labels:

Journey I

Posted by The Bitch on 6/15/2009 09:29:00 PM

Saya sungguh beruntung. Pagi-pagi buta saya datang di kota yang jalur bis dan angkotnya saya nggak hafal sama sekali. Namun ada seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya menanti di sana dengan sabar. Mengajak saya sarapan, menunggu saya membeli tiket pulang, mengantar saya ke tempat yang saya tuju, dan sama sekali nggak mau saya ganti uang bensinnya. Gilanya, kami seperti sudah kenal lama. Bercerita perihal keluarga, kakak yang jarang pulang, pacar yang beralih ke lain hati, harapan, pekerjaan, dan semua hal yang biasa dibicarakan dua karib.

Siangnya, setelah dia harus pulang untuk bekerja, saya bertemu raut teduh pada terik panas Semarang—yang mallnya pun sama panasnya. Akselerasi kami bertukar informasi cepat sekali, karena dia hanya punya waktu satu jam yang dia curi dari jatah menghadap Tuhan mendengarkan khutbah Jumat.

Beberapa jam sesudahnya, satu jiwa yang berhasil saya sesatkan melalui tulisan-tulisan sampah disini melenggang santai sambil tersenyum kemudian duduk di samping saya. Dia, perempuan cantik dengan sepasang bintang pada matanya. Menyesap Irish Coffee dengan sedotan. Menikmati getir nikmat Rum menyengat hangat langit-langit mulut pada senja membasah. Menyisakan samar lipgloss jingga pada pangkal rokok di asbak. Mengurai cerita tentang tarik-menarik antara jadi diri sendiri dan jadi apa yang distempel orang lain di keningnya.

Kami berdua, membelah jalan raya sekejap untuk sampai pada peraduan saya malam itu. Dia harus pergi ke salon untuk persiapan resepsi besok, sementara saya melepaskan penat di sebuah kamar nyaman yang saya tempati dua malam tanpa harus membayar.

Ketika saya membosan di sebuah pesta dan hanya membaca buku dengan Jonathan Davis menggeram menyumpal telinga dan nikotin di tangan kiri, dua orang penyelamat saya datang. “Sebentar, kami akan evakuasi kamu,” ujar salah satu diantara mereka dalam SMS yang masuk sebelumnya. Mereka tidak datang gagah-gagahan dengan kuda putih besar maupun berbaju zirah mengkilat membawa tameng dan pedang bertatah batu mulia. Sama sekali tidak. Wolverine dan Cyclops itu—yang dalam benak saya menjelma Thomson and Thompson dalam komik Tintin—sempat bingung mencari tempat memarkir sedan gelap (yang mekanisme pintunya mirip angkot karena harus dibuka dari luar). Dan mereka adalah om-om beranak dua, berkacamata gelap, dan cekikikan melihat saya rikuh berjalan menenteng tas tangan coklat dengan rok batik coklat dan blus putih. Oh, dan Converse buluk saya yang terkenal itu!

Setelah menghiba agar diizinkan berganti jins dan kaos, kami menikmati sepotong sejuk di sebuah taman. Kami bicara mimpi, bicara keinginan, bicara tentang driver modem yang ngadat sambil sesekali melirik kumpulan ABG berseragam putih-abu sebelum terusir karena para pedagang kukut.

Hasrat nongkrong para om-om yang menggila membuat sedan melaju kembali menuju rumah seorang perempuan hebat dengan tiga anak hebat. Well, ini bedanya kumpul dengan teman sebaya dan dengan orang dewasa. Yang terakhir selalu membuat acara nongkrong menjadi seperti silaturahmi penting dan dilakukan saat masih ada matahari di langit.

Saya seperti balita sok tau di hadapan mereka: Wolverine, Cyclops dan Storm yang kata-katanya adalah badai dan ucapannya petir. Di penghujung pertemuan, Storm ini masih saja bijak dan menganggap kami jawaban yang dikirim Tuhan atas pertanyaan dan kegelisahannya. Whoa! Padahal selama ini saya menganggap diri sebagai cobaan Tuhan untuk orang-orang yang bersinggungan dengan saya. Hihi.

Pukul delapan malam saya kembali. Saya letakkan penat di kasur dengan ranjang kayu. Bukan ranjang cor-coran semen sebagaimana roadtrip akhir tahun dimana suara ‘ah-uh’ terdengar dari kamar sebelah menyebelah dan berhasil membuat saya menginjak cairan licin di lantai yang saya tidak ingin tau namanya.

Mungkin apa yang saya alami tidak keren sama sekali. Cuma kejadian-kejadian standar yang sering dihadapi siapapun, kapanpun. Namun buat saya, orang-orang yang saya temui membuat saya akan terlihat keren suatu hari nanti karena dari mereka saya banyak belajar. Terutama untuk tidak menikah. Lagipula, buat saya, perjalanan bukanlah KEMANA dan APA, tapi SIAPA yang saya temui. Lagipula, keindahan itu sama. Di desa dan di kota.

Karena satu alasan mulia saya bertandang: Pernikahan. Karena Fany dan Mas Yudhis. Janji pada Tuhan yang kalian ucap untuk saling bersama dalam satu ikatan suci paling agung membuat saya bisa terdampar menyenangkan. Nggak habis-habis terimakasih saya pada kalian. Nggak percuma saya jauh-jauh datang menikmati tengkleng, peking duck, puding, muka cemas Gun yang merasa kehilangan ponsel (padahal saya duduki. hihi), Peter yang grogi saya navigatori, dan cowok-cowok bloger Jogja yang saya ancam akan saya jual untuk membeli MacBook Pro 17”. Damn, guys! You're all something!

Dan, jika janji Sahabat saya itu benar, bahwa segala hal-hal baik akan terjadi pada orang-orang baik, maka pernikahan kalian akan dibanjiri pula dengan kebaikan. Selamat dan terimakasih (=



Ps: hey, sakit punggung di dekat pinggang itu bukan berarti ginjalmu bermasalah. Mungkin hanya pertanda flu karena sering iseng begadangan pamer yoghurt dingin lewat SMS. But, still. You’re one of my superheroes, Doc.

Labels:

A Journey

Posted by The Bitch on 6/12/2009 01:56:00 PM


Tiga cangkir Torajan, Mandheling, dan Robusta Premium Coffee. Satu jam padat bersama seorang kakak mengurai tawa tentang teman dalam tempurung, ganja, anak hiperaktif yang minta adik, dan kesempatan berkantor di tempat baru. Melewatkan dua momen terpenting di pabrik melibatkan jilbab dan tumpeng.

Tapi saya tidak menyesal!

Mungkin ini yang dinamakan Si Pamei Kurus Gondrong dengan 'perjalanan yang memilih pejalannya': Ketika semua aspek membuatmu dapat melakukannya.

Tadinya saya gentar mengingat dana bulanan mendefisit. Namun saya memang a damn filthy lucky bitch, meskipun tidak pernah mendapat semuanya secara gratis. Saat-saat mepet begini ada saja tawaran kerjaan dari klien lama. Ternyata hasilnya lumayan, bisa untuk ongkos bolak-balik naik kereta eksekutif.

Tadinya saya takut nyasar menemui klien lama yang sudah berbilang tahun saya berkirim naskah lewat email tanpa pernah tau seperti apa bentuk dan rupanya. Namun seorang malaikat dikirimkan untuk saya. Dan dia mengirim malaikat lain dalam bentuk adik kandungnya sendiri untuk standby di stasiun dan mengantar kemana saya suka.

Tadinya saya takut kecewa karena nggak jadi jalan-jalan. Jadwal kerjaan pabrik yang padat membuat saya terantai di kursi tanpa ada alasan kabur mengejar kereta pukul tujuh. Namun berkat tukang ojek diehard yang bikin jantung saya deg-degan, saya berhasil mengejar kereta pukul sembilan. Menempuh padat jalanan Radiodalam ke Stasiun Pasarsenen dalam waktu setengah jam.

Perjalanan ini masih setengah. Besok masih ada resepsi yang harus saya hadiri. Membayar hutang budi karena saya pernah dibelikan tiket pulang ke Jakarta. Menemui kawan baru dan lama, dan berharap saya pulang dalam keadaan utuh.

Hey, Malaikat! Semua karena kamu. Makasih ya! Cepet sembuh, jangan begadang mulu!

Labels:

Hear Me Out!

Posted by The Bitch on 6/10/2009 02:09:00 AM


For this, I could bet my ass off. At least we could mingle with interesting person there, like Pol Pot, Leopold von Sacher-Masoch, Marquis de Sade, Dante, Nero, Hitler, and all of the war criminals and psycho ever living and breathing. Sounds fun... Haha!


Gambar dicolong semena-mena dari tag Kak Dontjeh di Facebook untuk saya. Thanks, Bro! I'll see you when you get there!!!

Labels: