"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Kehilangan dan Melepaskan

Posted by The Bitch on 12/23/2009 04:27:00 AM

Pernah kehilangan? Saya pernah. Berkali-kali. Rasanya seperti ada benda tak kasat mata yang lama tertanam dan mengakar lalu tercerabut dari tengah dada, membuat sesak napas karena hanya menyisakan kekosongan hampa udara. Tidak menyakitkan, karena tidak ada nama yang mampu mendefinisikan rasa melebihi ‘sakit’ ketika hal itu terjadi. Pokoknya, nggak enak sama sekali.

Taukah kamu apa yang tercerabut itu? Hati, yang sama tak kasat matanya dengan oksigen namun diperlukan untuk memanusiakan manusia. Bukan hati yang sering disamakan dengan jantung pemompa darah, hati yang ini mewujud pada benda kesayangan, binatang peliharaan, orang terkasih, teman terdekat, apapun yang menjadi object of affection. Saya bicara tentang keterikatan, tentang waktu tak sebentar, tentang usaha tak sedikit dan tentang kesabaran luar biasa untuk membiarkan keterikatan itu tumbuh. Dan yang paling mendasar adalah menjadikan ‘sesuatu’ itu sebagai sebuah pengingat akan siapa diri kita. Dengan kata lain: eksistensi. Karena itulah dalam anime dan manga berjudul Bleach ada mahluk bernama Hollow, ruh gentayangan dengan lubang di dada (dimana seharusnya hati terletak). Lubang itu terbentuk ketika ‘rantai hidup’ yang menyatukan badan kasar dan badan halus tercabut. Hollow menjadi jahat, lupa belas dan pemahaman manusiawi, haus akan eksistensi untuk menjadi manusia kembali. Akibatnya dia selalu memburu ruh-ruh lemah untuk memuaskan dahaga tak berujung.

Dan ini cerita yang lain. Tentang Wawa, ‘soulmate’ saya, yang karena satu dan lain hal masih tertahan di tempat ayahnya, teman yang saya anggap abang dan saya stempel jidatnya sebagai malaikat lelah. Tadi malam ia harus melepaskan Ice, Siberian Husky buta kawan sepermainan Wawa sedari kecil yang diselamatkan dari pemilik kejam. Ada bidadari pelindung yang akan menjaga anjing buta namun ganteng itu. Sayangnya, ia tinggal di Semarang dan juga diperlukan oleh sembilan Chihuahua imut.

Akhirnya, rencana dimatangkan. Rumah kokoh, layak dan bagus disediakan di tempat tujuan. Mobil pengangkut disewa untuk menjemput sosok soliter berbulu putih-hitam lembut. Kandang besar diangkat untuk kemudian diletakkan di dalam gerbong kereta. Dan petualangan panjang terkurung sendirian di atas rel antara Jakarta hingga Semarang akan dialami Ice selama delapan jam.

Yang tidak terduga adalah Wawa mengamuk! Ia lari menghajar pagar besi dan mengoyak plastik penutup tembus pandang ketika Ice dipindah dari halaman ke mobil bak terbuka. Padahal pagar itu baru saja dirapihkan beberapa hari lalu untuk menyambut pasangan RI 1 versi si abang. Wajah berbulu hitam itu muram luar biasa. Belum pernah Wawa sebegitu marah seperti saat itu. Bahkan ketika ia harus kehilangan Sasha, mbaknya, yang sekarang nyaman-damai di tempat ayah baru. Dan si abang masih saja bercerita tentang bagaimana Ice dan Wawa sangat akur kemarin malam, leyeh-leyeh berdua berdekatan atau berlarian di sekitar halaman depan dan garasi. Wawa lupa bagaimana ia sempat menyerang Ice yang menyisakan codet pada hidung Wawa dan berhasil membuat Ice berbalik terpincang-pincang dengan luka berdarah di kaki. Semua hanya karena saya terlalu lama mengelus leher Ice yang berjalan pelan ke arah saya bersila sementara Wawa sedang menjaga saya.

Saya mendengar semua cerita itu di sebuah senja, pada riuh peluit dan derak rel terhantam roda besi, mengangkuti penumpang dengan tujuan akhir Stasiun Jakartakota. Ice anteng di kandangnya, menjilati rawhide berbentuk tulang yang tanpa sengaja saya beli selepas makan siang. Mungkin ia tidak sadar saya ada di hadapannya, menyulut rokok meredakan gugup sambil bersandar pada pintu geser terbuka, sesekali minggir memberi ruang untuk para porter memunggah paket. Dan mungkin ia juga tidak sadar bahwa saya merasakan hal yang sama dengan Wawa.

Semua tanpa rencana bagi saya. Satu jam sebelumnya saya nekat, meninggalkan pabrik hanya demi melihat sepasang mata putih namun baik dan mengelus leher berbulu lembut untuk yang terakhir kali. Saya tidak peduli ketika izin pulang terendus kebohongannya oleh bapak HRD dan disampaikan melalui SMS. Saya mengambil resiko ketinggalan kereta dan tiba di stasiun dalam waktu tiga puluh menit. Yang saya tau, saya harus menghadapi sesak napas ini. Karena saya juga kehilangan.

Setengah tujuh kurang sedikit. Sebelum pintu ditutup, saya ingatkan petugas yang berjaga di dalam untuk mengucurkan air mineral ke dalam wadah minum Ice. Sang Ayah mengepalkan uang duapuluhribuan padanya dengan frase singkat: “Jagain, ya.” Saya tidak pedulikan beberapa orang bekerumun, bertanya ini itu, atau mengomentari dua anakan Chow-chow dan satu Pitbull Terrier yang nyaman berada dalam kennel box mereka. Ketika akhirnya Sembrani menandak pergi, sebuah tepukan halus di punggung menyadarkan saya untuk menyusut butiran bening yang sempat menggelincir.

“He’d be fine,” ujarnya. Ada ketegaran di sepasang mata itu, meskipun temaram senja dan terang neon tak mampu menyembunyikan sedikit kekhawatiran dan kesedihan yang sepersekian detik diperlihatkan. Dan ia masih bertindak layaknya abang. Ketika saya gagal memberi penghiburan, ia malah mengajarkan perbedaan antara bagaimana melepaskan agar tidak kehilangan.

“When I feel sad, I think about his great, big house, the one provided by Anin there. Then, I feel fine again,” ucapnya, sementara saya masih berjalan menunduk memandangi kerikil yang mendadak lebih menarik ketimbang bulan sabit samar tergantung di permulaan malam. Dan saya sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dari jejeran sepeda tua lengkap dengan topi kompeni dan papan bertuliskan “disewakan untuk fhoto-fhoto” di pelataran Kafe Batavia. Pendar kembang api dan sapaan ramah para pembaca garis tangan seperti numpang lewat di mata dan telinga saya. Kekosongan ini masih menyesakkan hingga saya rebah di dalam kamar selepas tengah malam.

Sudah pukul tiga lewat ketika pesan pada ponsel butut saya mengabarkan Ice baik-baik saja sesampai di Stasiun Tawang, Semarang. Tidak ada tanda-tanda ia stress di jalan. He’s just as cool as Ice!

Saat saya memutuskan untuk mengucap terimakasih lewat ponsel, saya dengar Ice melolong. Satu kebiasaan yang dilakukan hanya ketika hatinya senang. Saya tidak bisa membendung airmata saya lagi. Jagoan saya terlindung di tempat penuh kasih. Mendadak, lubang hampa udara di dada saya kembali penuh dan saya menghembuskan napas lega. Seiring embun pertama hari ini, saya akhirnya mengerti bagaimana belajar melepaskan untuk sama sekali tidak kehilangan.


Dedicated to Ice, a blind beast with a lovely heart. One of these days I’ll be seeing that fluffy white tail wagging again and watch you howling happily. With or without full moon ☺
Photo courtesy of, of course, his Daddy.

The Beginning

Posted by The Bitch on 12/19/2009 09:31:00 PM

Malam minggu ini saya habiskan dengan memaksa dua belas cowok lucu-baik-asik-tapi-dekil untuk mengernyit di depan selembar kertas berisi empat cerita singkat berbahasa Inggris. Mereka kawan belajar saya di SERRUM Saturday English Class dan diadakan untuk pertama kali, malam ini. Kebetulan, saya yang harus transfer apa yang saya tau tentang Bahasa Inggris, dan mereka yang jadi korban. Begitulah.

Kelas kami mengambil tempat di galeri pameran. Papan tulis putih digantung menutupi salah satu dinding tempat komik-komik Eko ditempel. Kursi dan meja disusun membentuk hurup U bersudut yang terbuka menghadap saya. Dan kami pun mulai belajar jam setengah delapan dari jadwal jam empat sore. Sungguh tipikal kelas saya, ngaret! Haha!

Bukannya saya nggak setia sama BHI English Club atau anak-anak jalanan di SALUD dan membelot ke SERRUM. Sama sekali bukan. BHI English Club sedang hiatus dan program di SALUD kebetulan sudah selesai (meskipun laporannya belum juga saya bikin. Maap ya Bang.. Gun... =P).

Tadinya, saya agak-agak khawatir tentang kelas ini. Saya nggak yakin bisa transfer ilmu secara baik dan benar. Yang bakalan saya ajarin itu guru-guru seni rupa dan mereka punya akta empat, for fuck's sake! Sementara saya cuma bisa ngomyang di depan kelas dengan common sense sebagai panduan dan pengalaman saya sebagai murid menjadi acuan saya pribadi.

Saya memang sering ketakutan dengan apa yang belum tentu terjadi. Kekhawatiran nggak perlu, menurut teman saya. Dan ternyata semua ketakutan saya yang nggak bisa transfer informasi, gagap di depan kelas, keringetan nggak berenti, memang sama sekali tidak terjadi. Karena mereka santai, saya pede cuap-cuap dan berdiri di antara papan tulis dan jejeran bangku-kursi. Dan karena secangkir kopi Black King tanpa gula yang nendang banget--dan resepnya amat sangat dirahasiakan seperti garis darah Yesus--itu saya mendapatkan kesadaran saya kembali.

Terimakasih. Kalian luar biasa (=

ps: gambar diambil dari salah satu karya Eko S Bimantara, komikus yang bikin KRL kocak itu. diperagakan oleh model. hihi.

Labels:

Kudos to Tante Em!

Posted by The Bitch on 12/16/2009 01:19:00 AM

Seorang perempuan luar biasa menulis tentang anjing tepat pada tanggal 15 Desember di blognya, sesuai janjinya pada saya beberapa minggu lalu. Saya menjulukinya Superwoman, diam-diam. Jepang menjadi tempat tinggalnya selama lebih dari satu dekade. Mengajar, mengurus anak dan suami, mengurus rumah, namun masih sempat berbagi pada saya melalui entri-entrinya yang di-broadcast ke seluruh dunia maya.

Belum genap setahun saya mengenalnya. Pertama melalui komen-komen di blog beberapa teman, kemudian saling bertukar ID YM. Tante cantik ini selalu menyapa saya dini hari, menemani malam-malam panjang saya ngelembur di pabrik topeng. Hangat dan menyenangkan bicara dengannya. Tentang hidup, tentang sepi, dan tentang laki-laki.

Dia memaknai teman sebagai pelipur kesendirian dan penghapus rindu akan tanah air. Meskipun membawa dua jagoan kecil yang lucu-pintar-ganteng, dia lepas seperti merpati. Tanpa sungkan bertanya pada saya dimana dia bisa mendapatkan bir di pusat jajanan beberapa bulan lalu. Saya tau dia kelelahan. Namun binar di sepasang kejora itu tak pernah berhenti bercahaya.

Dia memaknai 'carpe diem' dalam darah di nadi, berdetak seiring degup jantung. "Mumpung masih di Indonesia," ujarnya, semangat mengambil sate pada piring-piring kecil di hadapan sementara Si Bungsu melihat-lihat ikan berseliweran di kolam ditemani Si Sulung.

Dia, perempuan luar biasa itu, membuat ulang tahun saya menyenangkan. Saya tak lagi berdzikir 'memento mori' setiap angka pada usia saya berganti. Saya akan hidup sehidup-hidupnya!!!

ditulis ketika angka koin untuk Ibu Prita mencapai RP 249.482.250...

Labels:

A Scrivere

Posted by The Bitch on 12/13/2009 04:19:00 AM

Pada awalnya adalah kata...

Saya lupa siapa yang pernah bilang begitu. Tapi saya mengingatnya seperti saya mengingat berapa jumlah jari pada tangan kanan dan kiri saya.

Ya, pada awalnya adalah kata, terketik pada layar monitor huruf demi huruf, menjadi kalimat maupun frasa, lalu mewujud paragraf, kemudian menjelma artikel atau esai, atau muntahan curhat-curhat yang nggak begitu penting bagi orang lain. Setelah itu tersimpan dalam bentuk digital di dunia maya, sebagai blog atau posting di forum. Padahal jamannya eyang buyut saya belum ada, pionirnya adalah papirus dan tinta. Yang punya kemampuan menulis pun--secara duit dan pendidikan--juga cuma orang-orang tertentu. Menulis adalah elit dan eksklusif.

Saya suka menulis di blog. Sebagai penyeimbang mental dan medium kesombongan. Ada banyak karat otak betumpukan, menunggu untuk dibuang dan sering makin mengganggu storage di kepala. Karena bisa diakses siapa saja, jadilah, siapapun bisa membaca karat-karat saya asal tau alamatnya. Ternyata nggak sedikit yang memuji dan mencaci. Dan karena pujian itu saya merasa sombong, merasa bisa. Padahal saya ya sama aja, nggak ada tai-tainya sebagai penulis. Nggak seperti Eyang Pram yang nasonalis asli atau Pak GM yang hidupnya dahsyat. Saya juga nggak sengotot Marquis de Sade yang menulis dengan tinjanya sendiri di dinding ruang pengasingan.

Sebulan ini saya mengalami gejala mirip depresi mental dan sepertinya akan berkelanjutan sebelum saya bisa keluar dari jerat yang saya buat sendiri. Celakanya, saya nggak ngeh. Baru sadar ketika apapun yang saya kerjakan nggladrah kemana-mana dan nggak fokus. Bahkan menulis pun saya nggak sanggup. Berhari-hari saya habiskan waktu untuk menonton serial anime, tanpa sadar bermimpi dan mengidentifikasi diri bahwa saya adalah salah satu tragic hero pada episode-episode yang saya sedot melalui bandwith pabrik. Menulis dan membaca, dua hal yang saya suka, tidak mampu saya lakukan, sama sekali.

Padahal saya punya mimpi sendiri. Saya hanya malas berjuang.

Akhirnya, melalui tulisan yang terketik pada layar monitor empat belas inci, pada dinihari dingin penyejuk udara di sebuah kafe dua puluh empat jam di depan gang kos-kosan, saya membuat pengakuan. Saya manusia biasa. Hidup saya mungkin tidak biasa, namun saya mendamba semuanya biasa saja. Sungguh, saya sirik pada gerombolan lelaki dan perempuan pulang dugem yang duduk diagonal dari meja saya. Mereka punya hidup indah yang bisa ditertawakan tanpa beban. Jika ada sesuatu yang mengganggu, mereka punya semua yang bisa membeli hentak musik ratusan bpm dan minuman beralkohol. Lalu berjalan sempoyongan di tempat makan, berteriak memesan dim sum atau meminta kopi hangat. Sangat biasa sekali.

Ah, tidak seharusnya saya berpikir seperti itu. Sebagaimana ibu dan beberapa teman saya bilang, hidup adalah perihal sawang-sinawang, tentang halaman di dalam pagar sebelah yang selalu memiliki rerumputan lebih hijau ketimbang di dalam pagar sendiri.

Dan tulisan tentang menulis ini pun nggladrah kemana-mana. Lagi.

ps: gambar diambil dari koleksi wallpaper si pektay.

Labels:

A Little Story of Us

Posted by The Bitch on 12/11/2009 09:19:00 PM

It was the look in a pair of eyes, so pure and trusting you’d fall in love in an instant. It was love at the first sight, in one fine Saturday afternoon, the day that forever will emblazon in my soul. The first time I saw him, six months ago.

He jumped right into my arm when he saw me entering the gate for the first time. He forgot his stand. One second passed and he awkwardly realized that I was a stranger. And I had to go through an introduction once again, kneeling before him and giving him my right hand so he could remember my scent.

I moved to more spacious rented room with vast frontyard for him. And it was against all odds to get an affordable one in South Jakarta with my little salary. He made me consider the future and never again I think about dying young. I’ve got him: my miracle.

Now he stands before me as my guardian angel and walk beside me as a true friend. He knows how I feel without me telling him anything. I never thought I could learn how to love unconditionally from a Rottweiler and Chow-chow halfbreed.


Saya ikut kontes-kontesan nulis untuk mendapatkan tiket nonton eksklusif. Sayangnya nggak menang. Jadi, saya batal nonton. Well, bukan rejeki saya kayaknya. Tapi saya menulis 200 kata itu betul-betul dari hati!

Photo courtesy of Wawa's Daddy.

Labels:

For the Love of Dog v0.1

Posted by The Bitch on 11/01/2009 08:53:00 PM

Tau anjing? Iya, binatang berbulu berkaki empat, selalu ngos-ngosan meskipun nggak lari-lari, sering nggonggong nggak puguh, berliur segentong nggak abis-abis, (yang katanya) penghalang malaikat chicken buat masuk rumah orang Islam, dan jadi kata umum untuk memaki (dan biasa saya gunakan). Banner di atas adalah pengumuman kumpul anjing yang diadakan tanggal 8 November nanti, jam 7.30 sampai 12 siang di Taman Langsat, Kebayoran Baru. Dekat dengan tempat nongkrong saya, Wetiga.

Beberapa bulan belakangan ini saya jatuh cinta pada anjing. Dan seperti pecinta pada umumnya, sang objek akan selalu terbayang dimanapun saya berada. Gara-gara anjing, saya jadi kelewat sering menjenguk Oma Wiwik dan Mbah Gogo, mencari tau lebih banyak tentang sifat dan berbagai jenis mereka. Karena mereka pula saya sering mojok di pabrik sambil merokok di beranda, bertukar cerita dengan Pak HRD yang ibunya sering memungut anjing terlantar kemudian dipelihara di rumah.

Lagi-lagi, seperti pecinta pada umumnya, anjing menjadi kelemahan saya. Saya sering reflek tersenyum melihat anjing yang sedang diajak jalan-jalan pemiliknya. Pernah suatu sore saya dikejar seekor puppy jantan mix Siberian Husky dan Kintamani usia enam bulan hanya karena saya menyapanya dengan ‘Hay, Ganteng!’. Tidak, dia tidak mengejar saya karena saya berdaging banyak. Dengan ekor bergoyang riang, lidah jambon terjulur, dan mbak-mbak pemegang kekang pontang-panting di belakangnya, Gladi berlari dan meminta saya untuk sejenak bermain dengannya.

Dan saya bertindak sebagai pencinta—pada umumnya—ketika tau begitu banyak kisah sedih menimpa anjing-anjing tak bertuan. Saya menahan amarah pada para pemilik tak bertanggungjawab yang melemparkan anjing mereka ke jalan dan membiarkan mahluk-mahluk manis itu menggunakan insting purba untuk bertahan, melawan tukang ojek ringan tangan dan anak-anak kecil yang didoktrin bahwa anjing hidup untuk dilempari batu dan liurnya membuat seorang Islam mendadak Kristen.

Beberapa hari yang lalu seorang ayah dari tiga anjing bahagia menunjukkan sebuah alamat situs pada saya. Saya baru tau ada LSM seperti itu di Indonesia. Dari daftar berbagai kegiatan yang dipublish, tidak ada satu pun yang membuat saya tidak berdecak kagum. Penyelamatan, kebiri massal, edukasi, garage sale, semua dibabat habis. Salah satunya adalah artikel tentang kegigihan seorang ibu tua miskin bernama Mak Isa yang membaktikan waktunya melindungi sembilan anjing jalanan. Padahal orang-orang hebat itu tidak melulu ‘mengurusi’ anjing, tapi juga kucing yang jumlahnya lebih banyak. Di situs ini mereka malah sempat mengabadikan demonstrasi untuk dua lumba-lumba pentas, Lulu dan Lala, yang tidak mendapatkan perawatan secara layak dan ditangkap di perairan yang seharusnya menjadi suaka binatang hampir punah. Mereka pasti punya hati dan tekad baja untuk membuat organisasi seperti ini tetap bergerak.

Saya sayangkan orang yang tidak—atau belum—menemukan kebahagiaan mencintai binatang marjinal. Saya prihatin pada mereka yang menggilai anjing ras namun menyerahkan pengurusannya pada pembantu lalu membuangnya ketika bosan. Terlebih lagi, saya hanya bisa menghela napas berat pada mereka yang fanatik bahwa komitmen bertanggungjawab hanya ada antara lelaki dengan perempuan, dengan sesama manusia, dan bukan manusia dengan anjing. Karena kadang saya membuktikan anjing lebih manusiawi ketimbang manusia-manusia yang saya kenal.

Saya tau kendala sebagian besar orang yang takut dan pernah punya trauma dikejar anjing. Apalagi sejak kecil mereka—termasuk saya—sudah tercuci otaknya untuk menganggap anjing sebagai binatang terlarang dan harus dijauhi. Mungkin saya termasuk anak beruntung yang pernah memiliki tetangga depan rumah dengan anjing manis yang bisa saya kuwes-kuwes seenaknya. Dan saya lebih beruntung memiliki sepasang orangtua moderat yang tidak pernah melarang dan selalu menjawab pertanyaan saya—termasuk menegasi semua pendapat guru agama tentang anjing dan kerancuan antara haram dan najis. Ya, anjing haram jika dimakan dan liurnya adalah najis yang punya tata cara sendiri untuk membersihkan. Namun saya tidak memandang peraturan—yang entah didapat dari hadits atau ayat Al Quran—secara tekstual. Menurut saya, peraturan bebersih dengan air tujuh kali dan mengusap dengan pasir sekali diantaranya ketika terkena liur anjing memang harus dilakukan karena di masa itu belum ada sabun antiseptik. Sesederhana itu, atau saya hanya malas direpotkan.

Sungguh, saya tidak menjadi murtad dan kebarat-baratan hanya karena saya memutuskan untuk mulai berkomitmen pada anjing. Saya hanya menjalankan fungsi saya sebagai manusia: berbagi kasih dengan sesama mahluk.

Mari…


With dog like this, how could anyone say no?
(photo courtesy of Shiro's Daddy, taken in one fine Sunday afternoon)

Labels:

To One Tired Angel...

Posted by The Bitch on 10/30/2009 01:07:00 AM

Somehow, being great is not enough. You have to be perfect. You have to be what everybody wants you to be. You have to have countless of masks so you won't be disappointing anybody and wear it with exact timing though you only have split second to change into another mask once you meet another people. And it sucks.

Somehow, the temptation is too bitch to be ignored you surrender. Not because you want to but because you simply need to silence the seductress so you could carry on with the life you have. And you're breaking down in the process because the hope raised and the expectation came unexpected. In the end of the day, you know you've taken the wrong turn and you made it into one hell of a lesson learned.

Somehow, it's very exhausting to mend all the things by yourself. I know. You said that million times. And it's all begin with what people called choice, option, consequence. We had this kind of talk before. A long one that I never forget.

But one thing I know since the very beginning: you never ceased to be an angel, no matter what. In your worst, you're still there when I was in my lowest. You taught me to smile at the problems, to embrace invisibly, to think beyond any boundaries, to endure the pain, how impossible it seemed. That's how I know you're still human.

Yet, it's so painful to see you face the battle alone. The long, winding struggle that you'd talked about long after it's gone and you slip into conversations casually, unintentionally.

For an unfinished creature that God implanted knowledge, you're one perfect specimen that human could choose the purpose of creation. I bow deeply before you for this.

Thanks for the blue list. You're in my topmost, too (=

picture taken from here. nice, eh?

Labels:

Tentang Maktub

Posted by The Bitch on 10/13/2009 12:41:00 PM

Ternyata…

Di Jakarta Selatan dekat Beverly Hills-nya Indonesia masih ada tempat dengan halaman rindang serupa hutan; ada pemahaman tentang privasi; ada kasih dari dua manusia asing; ada senyum penuh pengertian; ada teras dengan jendela besar-besar; ada dunia dengan biaya sewa murah; ada satu petualangan panjang menanti di hadapan.

Dan keajaiban yang mewujud tepat hingga ke renik.

Ini untuk kamu: tentang komitmen seumur hidup, berdua menantang dunia.

Dan ini karena kalian: semua orang yang doanya terselip diantara berjuta pinta seiring helaan nafas.

Terima kasih, Sang Maha Baik. Bahkan ketika saya memohon seekor anjing, Kau kirimkan malaikat lengkap dengan sepotong Eden terlempar ke Radiodalam.

… and the adventure begins…

ps: semoga nggak ada cerita kekuncian dinihari.


gambar diambil dari foto album sang ayah.

Labels:

Hypocrisy, Anyone?

Posted by The Bitch on 10/10/2009 04:50:00 PM

Menurut kamus online ini, hypocrisy, yang berasal dari abad ke-13, berarti:

1 : a feigning to be what one is not or to believe what one does not; especially : the false assumption of an appearance of virtue or religion

Lalu, apa hubungannya dengan berita tentang Miyabi yang saya ambil screenshot-nya di sebelah?

Saya gerah. Beneran. Sumuk, kepanasan, emosi tinggi. Ngapa-ngapain jadi nggak jenak.

Kenapa? Karena kemunafikan ini semakin menjadi-jadi. Katanya Miyabi merusak moral bangsa. Setau saya, bangsa itu hanya satu kelompok besar, terdiri dari individu-individu yang berdiri sendiri, punya otak dan hati sama sepeerti manusia lainnya, dan punya pilihan sendiri. Mereka hanya KEBETULAN berada dalam satu tempat yang sama. Ada juga yang bertebaran di berbagai negara lain, namun karena akar dan budaya, mereka masih merasa bangsa Indonesia.

Satu hal yang saya nggak abis pikir dengan FPI yang katanya Front Pembela Islam. Islam sebelah mana yang kalian bela? Saya jengah dengan kelompok-kelompok yang seperti majas pars pro toto itu, membawa-bawa semua padahal mewakili sebagian. Saya yang juga ber-KTP sebagai Islam Indonesia malah nggak merasa pernah mereka bela. Mbak-mbak yang dinihari berdiri di sekitaran Melawai untuk bertahan hidup (yang saya yakin sebagian besar juga mencantumkan Islam di kolom agama pada KTP mereka) malah mereka maki-maki. Jadi, apa tindakan kalian sebagai pembela?

Saya juga sangat menyayangkan pemerintah yang harusnya bisa mengatur 'gerombolan liar' seperti FPI untuk tidak sembarangan menuding kelompok lain sebagai pihak bersalah dan kafir dan sok-sokan jadi Robin Hood kesiangan, merampoki juragan-juragan Mangga Besar agar diskotik dan tempat maksiat mereka tidak digerebek. 'Allahu Akbar' yang seharusnya suci hanya jadi pembenaran untuk menutup jalan rejeki sebagian besar pekerja prostitusi dan ojek pengantar dan penjual minuman. Sungguh picik.

Sekarang mereka merambah ke area film, dengan alasan moral mereka merasa berhak mengusir Miyabi yang akan membintangi salah satu sinema di negara ini. Padahal, Miyabi juga manusia. Bukankah manusia satu dan lainnya bersaudara, sesama penghuni planet Bumi dan berhak atas udara yang sama-sama kita hirup? Lagipula, merusak moral bangsa, katanya? Bagian mana? Apa yang mereka tau tentang film itu jika naskahnya atau outline-nya pun mereka malas mencari tau?

Rasanya sama seperti yang saya lihat di televisi, ketika spanduk-spanduk penolakan dijembreng di kampung halaman jenazah yang mati dan dituduh sebagai penyebab Bom Kuningan II. Bukankah itu tidak manusiawi? Mana itu yang katanya agama pembawa kedamaian jika semua dibicarakan dengan parang dan kemarahan?

Hanya orang-orang munafik yang berkoar merasa diri paling benar. Lagipula, semakin kencang kamu berteriak ke telinga orang lain, maka akan makin tuli nuranimu bahkan untuk mendengar suara kebenaran.

gambar diambil dari sini.

Labels:

Relativity, Anyone?

Posted by The Bitch on 10/09/2009 10:59:00 PM

Kemarin saya terkapar tak berdaya di kamar kos, sejenak setelah membuka mata, pagi pukul delapan. Kepala rasanya seperti dihantam kontainer tiga biji sarat berisi muatan, lengkap dengan supir dan keneknya. Untuk mencetin keypad di ponsel dan mengabarkan saya absen saja rasanya susah sekali. Kelemahan saya memang di kepala dan perut. Antara sakit kepala dan mules, meskipun tampang berusaha dibuat sangar dan galak.

Hampir setahun yang lalu rekan seperburuhan saya yang cantik, manis, dan kalem pulang dari perawatan di Belanda. Dia bercerita tentang biopsi, ketika jarum diameter lima sentimeter menusuk tulang ekor tanpa anestesi. Sakitnya tidak tertahankan. Dan karena trauma hebat setelahnya, dia baru bisa bercerita beberapa bulan kemudian. Saya hanya terhentak tanpa bisa berkata apapun di hadapan perempuan dengan airmata leleh, di suatu sore.

Kami berdua punya ambang sakit berbeda. Baginya, mungkin biasa untuk merasakan sakit kepala berkepanjangan dan mimisan tak berkesudahan. Hampir tiap hari dia mengalaminya. Namun tidak bagi saya yang merasa sekuat banteng dengan waktu tidur tak beraturan berbahan bakar kopi kental hingga lima gelas tiap hari dan rokok berpuluh-puluh batang.

Pernah pada suatu kali saya mendapati hidup saya dan hidup seorang lajang lelaki usia tiga puluh tiga mendadak beririsan. Saya hanya bengong mendapatinya mengurus rumah, mencuci pakaian, membersihkan kotoran ketiga anjing-anjingnya, bermain dengan mereka, dan masih sempat ngobrol dengan nada riang. Padahal sudah dua hari ia melek tanpa tidur. Semua dilakukan sepulang bekerja, tanpa duduk dan tanpa sempat menghela napas. Enteng, dia berkata "Welcome to my world." Tanpa beban. Begitu saja.

Lalu saya tersasar di negara bernama Indonesia, mendapati suatu hari beberapa orang terpilih untuk memerintah, mewakili suara rakyat--katanya. Dan gaji mereka berpuluh-puluh juta, jauh melesat melebihi pendapatan seorang pemulung dengan pendapatan kurang dari sembilan ribu rupiah per hari. Saya marah-marah karena empati mendefisit di suatu tempat dengan hiasan megah serupa rumah keong terbelah. Sementara teman saya datar menanggapi: "If you were in their shoes, are you sure you won't do the same like they do?"

Saya terdiam. Mungkin hanya karena kesempatan yang tidak sampai ke muka saya maka saya tidak bisa berbuat seperti mereka. Kekuasaan dan harta adalah dua godaan yang kadang tidak tertahankan bagi manusia-manusia lemah seperti saya. Untung Gie mati muda. Jika tidak, maka ia akan sama dihujat sebagaimana rekan seperjuangannya yang beberapa tahun kemudian menjadi birokrat.

Semua memang relatif, karena sifat, latarbelakang, dan masing-masing pengalaman orang berbeda-beda. Saya juga belum tentu ingat akan orang-orang yang saya wakili jika saya berada dalam posisi mereka, menangguk uang berpuluh-puluh juta dengan tidur seharian mendengarkan orang berbusa-busa.

Tapi ya sudah lah. Toh saya tetap alive and kicking. Ergh. Saya mengantuk. Selamat malam semua. Semoga akhir pekan ini menyenangkan...

Labels: