"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

What is in A Name?

Posted by The Bitch on 11/05/2015 09:44:00 AM

Beberapa panggilan untuk orang-orang tersayang, tapi sebenarnya makian.
Word cloud empowered by Tagul 


What's in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet
- William Shakespeare in
Romeo and Juliet, Act II. Scene II

Saya percaya nama adalah harapan, tersemat di sekujur tubuh, mengalir di pembuluh darah, bahkan sebelum tangis pertama seorang bayi terdengar. Nama adalah "label" lain yang diberi orang tua untuk anaknya, selain "label" biologis semacam kelamin, warna kulit, bentuk dan warna mata dan rambut, jumlah jemari, dan sebagainya. Nama juga menjadi penanda eksistensi manusia dengan sekelilingnya, terutama dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Dalam drama roman-romanan, Shakespeare yang kutipannya saya comot juga telah menciptakan tragedi konyol hanya karena nama belakang Mas Romeo dan Mbak Juliet. Padahal kan mereka bisa kabur aja dari Itali ke Spanyol, terus pilih deh antara Niña, Pinta, atau Santa Maria buat ditebengin, ngikut Om Columbus menemukan Amrik. Dan sambil jalan bisa asyik-asyikan bikin dedek. Ihik!

Kita nggak bisa lepas dari nama. Dan bukti keberadaan seorang manusia diringkas ke dalam sesuatu yang informatif namun riil dan bisa dipegang/dilihat/dikroscek semacam KTP, SIM, STNK, NIM, kartu pelajar, paspor, membership Alexis, buku tabungan, keanggotaan pijat plus-plus, daftar peserta arisan gigolo, macam-macam lah. Tergantung kita masuk "kotak" yang mana. Mau disebut sebagai apa. Regular di Alexis kah, atau regular di Grahadi.

Beranjak dewasa, dengan bertambahnya orang yang bersinggungan dalam hidupnya, bertambah teman, bertambah kerabat, manusia bisa saja punya nama atau "harapan" yang dirasa lebih tepat baginya. Semua menunjukkan kedekatan, rasa sayang, maupun penghormatan secara profesional. Misalnya saya. Bagi keluarga, beberapa teman, dan kerabat, saya adalah "Pipit". Almarhum kakek-nenek dari Babab memanggil saya "Nok". Sepupu-sepupu dan sahabat saya di masa lalu memanggil saya "Pitoy". Untuk mantan, saya adalah "Bogel" (yang bantet ya, bukan yang tlenji. IYA. SAYA BANTET. POWAS?!). Untuk seorang teman chatting asli Semarang namun sejak SMA dan hingga saat saya mengenalnya sudah usia 35 tinggal di Belgia, saya adalah "Indil-indil Wedhus". Untuk petugas gerai penyedia GSM, teller bank, dan pemilik dog hotel tempat saya menitipkan Tuhan, saya adalah "Ibu". Buat Si Ineum, saya "Kanjeng Ibuk". Mas-mas yang dulu S1 di Al Azhar Mesir dan S2 di Malaysia dan pulang ke Indonesia jadi pimpinan pesantren memanggil saya "Keset Kaki". Ada juga teman-teman penyayang di Jogja yang memanggil saya "Nduk". Tapi buat kamu, saya terima aja kok dipanggil "Hun". Tsah!

Meskipun saya lebih suka memanggil diri sendiri sebagai "Pito", nama generik saya adalah "Pit". Meskipun saya diharuskan Ibu untuk selalu menyertakan nama sandang untuk orang yang lebih tua (Budhe-Pakdhe, Om-Tante, Mas-Mbak), saya sih lebih senang kalau anak teman saya hanya memanggil nama--Pito. Nggak, bukannya saya mau sok dibilang muda. Tapi menurut pengalaman saya, ketika seorang bocah dibolehkan memanggil orang yang lebih tua hanya dengan namanya, interaksinya akan lebih asyik dan menyenangkan, tanpa ada jeda "penghormatan", asalkan saya juga nggak berjarak untuk minta dihormati, dengan atau tanpa sebutan "Tante". Seorang anak akan merasa lebih "gedé", lebih bisa diajari bertanggung jawab karena disejajarkan dengan orang dewasa. Dan "Tante", "Om", "Budhe", "Pakdhe" akan lebih menunduk dan memahami si bocah karena 'dipaksa' sejajar dengan pikiran kanak-kanaknya. Saya pikir penyamaan derajat ini akan sangat bagus untuk mendorong kepedean si bocah sambil mengembangkan kemampuan orang dewasa untuk mengunjungi kembali ingatan ketika dirinya kanak-kanak. Tapi ya... tergantung seberapa dewasanya si orang dewasa sih.    

Dan saya belajar itu dari David. Waktu saya bekerja di warnet keren di Ubud, 90% member adalah orang asing berkulit putih. Dia salah satunya. David ini adalah seorang kurator dari Amrik, lulusan Harvard, sempat bekerja di Berkeley, dan sejak usia 17 sudah berlayar dari AS ke Australia mengawaki yacht pesanan untuk lomba. Seumur hidup, setelah dia mengingat-ingat dengan senyum sumringah dan mata berbinar, dia telah menyambangi lebih dari 60 negara di 5 benua, dan Ubud adalah salah satu persinggahannya. Oh, saya belum bilang ya kalau David ini sebaya almarhum kakek saya? Usianya mungkin sudah hampir 70 tahun.

Pertama kali bertemu, dia agak memaksa saya untuk memanggilnya dengan nama depan. Tanpa embel-embel Mister atau Sir. "Come on! I'm not that old, am I?" Protesnya sambil tertawa mendengar saya selalu kepleset lidah menyebut "Sir". Obrolan yang awalnya canggung di tengah rehat merokok lama-lama jadi seru. Kami nggak berjarak. Kami melebur menjadi semacam teman baik yang terpisah waktu. Dan saya sangat menikmati sesi ngobrol dengan David. Satu hal yang paling berkesan bagi saya ketika di hari terakhir sebelum dia kembali ke negaranya: kami nongkrong di warung, makan malam kesorean, ngopi sambil sesekali tergelak, lalu berpelukan dan saling mengucapkan selamat tinggal, sampai bertemu kembali, sebelum kami berpisah.  

Lalu ada Katie yang anaknya saja lebih tua dari saya dan cucunya sudah tiga. Pertama kali bertemu dengannya sekitar dua tahun lalu, Katie berkisah tentang perjalanannya yang tergolong telat. Katie "baru" delapan tahun menjadi nomad setelah suaminya berpulang. Ia mengatasi sedihnya kehilangan pasangan jiwa dengan melancong dan tinggal dari satu negara ke negara lain. Pekerjaannya sebagai penulis membuatnya bebas melakukan itu. "One of these days you'll roam this Earth and have a far greater journey than I am. I see it in your eyes!" ujarnya setelah memeluk saya lalu beranjak pergi. Dan, seperti David, dia menolak "dihormati" dengan panggilan Miss maupun Ma'am. "I know I'm old enough to be your Granny, but please call me Katie," katanya.    

Dari dua manusia badass itu saya belajar bahwa menghormati juga bisa dilakukan dalam bentuk kedekatan, tanpa titel, tanpa nama, tanpa memandang usia. Saya nggak bilang budaya bule lebih baik dari budaya Timur, budaya Indonesia, yang membuat manusia-manusianya merasa sungkan memanggil orang yang lebih tua tanpa tambahan nama penghormatan. Lagipula di dunia saya sekat-sekat budaya Timur-budaya Barat makin kikis setiap hari. Dan bukankah penghormatan--penerimaan--terbesar adalah membiarkan orang nyaman menjadi dirinya sendiri?

Sekarang bayangkan kejadian A yang seperti ini:
Kamu berkunjung ke rumah kawan pada suatu siang yang gerah. Selesai makan bersama keluarganya, seperti kebiasaanmu di rumah, kamu akan copot pakaian dan ngadem hanya dengan mengenakan sempak. Kamu nyaman seperti itu. Tapi temanmu nggak nyaman. Dia menegur dengan sopan. "Tolong lah, minimal kaosnya dipake deh," katanya. "Kayaknya lebih asyik aja sih kalau kamu nggak sempakan doang." Lalu kamu menjawab: "Duh, tapi aku biasa di rumah kayak gini, jeh. Ibu-bapakku ngajarinnya gini," katamu cuek.

Lalu bandingkan (meskipun saya maksa dan kamu nggak bisa protes) dengan Kejadian B di bawah ini:
Kamu nongkrong dengan temanmu di kafe. Lalu temanmu itu bertemu seseorang yang jauh lebih muda dan kalian diperkenalkan. Dia, si brondong ini, memanggilmu "Om" karena kebetulan kalian laki-laki dan usiamu jauh di atasnya. Lalu kamu menegur: "Duh, panggil nama aja nggak usah om-oman. Aku dipanggil "Om" cuma sama keponakan atau sama dedek-dedek celana gemes yang mau diajak check in." Dan si brondong menjawab,"Yah, nggak enak, Om. Mamaku ngajarin aku mesti hormat sama yang tuaan."

Nah, sampai sini kamu udah bisa bikin kesimpulan kan maksud saya sebenernya apa? Iya. Saya nggak mau kenal kamu di A dan nggak bakal kenalan sama brondong songong di B.

Gituuu.



Jalannya Sekali, Belajarnya Berkali-kali

Posted by The Bitch on 10/16/2015 07:38:00 PM

Bunga tembakau. Besok sudah mau panen, lho...

Perjalanan adalah perihal petualangan, bukan hanya tujuan.


Dua minggu lalu, seperti Jumat ini, adalah Jumat yang biasa di awal Oktober yang juga biasa. Denpasar sedang panas-panasnya, biasa. Ransel gendut 40 liter lebih yang menempel di punggung menjadi semacam tameng dari teriknya matahari saat bermotor sepanjang Tohpati-Ngurah Rai. ITU yang nggak biasa. Iya, ceritanya saya mau jalan-jalan. Jadwalnya sih 3 hari, dari berangkat sampai pulang. Tapi saya bawa perabotan lenong yang sepertinya untuk tinggal sebulan juga nggak kekurangan. Semua dibayarain PT Djarum bareng Jelajah Negeri Tembakau II. Duh, saya tersanjung. Nggak sia-sia selama ini ngeblog. Akhirnya ada yang khilaf nyuruh saya lancong, diempanin, dianter jemput pake bis dingin, dibayarin pulak! Saya merasa kaffah jadi blogger beneran. Ah!

Lalu drama dimulai...

Tiket Lion Air DPS-LOP yang dikirimkan panitia ke surel saya bilang pesawat saya terjadwal berangkat pukul 16.50 WITA. Saya yang datang dua jam sebelumnya dengan santai check in bagasi dong, lalu ke ruang merokok untuk sebats-duabats, kemudian nongkrong di kafe pas sebelah Gate 3. Lagi asyik ketak-ketik, mak bedunduk ujug-ujug saya kaget melihat jam di layar laptop. 16.30! Dan kelimpungan lah saya beres-beres meja dan melesat ke Gate 3. Tapi mbak-mbak di situ kayaknya bete gitu ngeliat saya setelah ngelirik boarding pass. Sambil lari-lari unyu mbaknya teriak, "Praya pindah ke Gate 2, ayo cepat!"

Sampai di Gate 2 dramanya belum selesai. Habis melihat pass saya beberapa orang mas-mas di sana berwajah sama betenya dengan Mbak Gate 3. Perasaan saya mulai nggak enak ketika mereka bolak-balik menelepon dan mengontak seseorang melalui HT dengan wajah diserius-seriusin. Tidak lama, seorang mas-mas penumpang berdiri di sebelah saya sambil mengacung-acungkan beberapa lembar kertas. Ternyata dia dan rombongannya yang 14 orang senasib dengan saya. Dan, sama seperti saya juga, mas penumpang yang ngakunya dari Pertamina itu ditolak dong sama Mas Gate 2. Ngotot-ngototan lah mereka selama 10 menitan. Untung aja nggak pada baper lalu ngetuit "aq d1t0laque~ Ced1eh~".

Sementara itu saya masih berusaha nrimo kalo di dunia ini yang namanya ketinggalan pesawat nggak cuma ada di film-film atau teman-teman saya yang frequent flyer but late sleeper. Dan selama 10 menitan itu, diantara omongan tegas Mas Gate 2 yang menjelaskan betapa pilot punya hak prerogatif untuk closed door dan gerutuan ngeselin Mas Pertamina dan rombongannya, si pesawat sengketa masih ngejogrok dengan belagu di sebelah. KAMPRET!

Pelajaran 1:
Kalo emang mampunya cuma beli tiket Lion Air atau maskapai-maskapai murah, atau dikasih jatah tiketnya dari yang kayak gitu-gitu, lupakan sebats-duabats. Puas-puasin pipis dan eek dan ngopi sebelum nyampe bandara, lalu nongkrong lah pas depan muka penjaga Gate. Kalo perlu sehari sebelum keberangkatan. Jadi, kalo mereka ngaku pindah gate dan last call teriak-teriak (iya, TERIAK-TERIAK, bukan diumumin di halo-halo), kamu bisa langsung dengar dan melesat secepat kilat. Tapi Lion sih seringnya delayed kan ya. Iya.


Versi Lombok Children of the Corn. Foto dari Mas Dona Roy kayaknya mah
            
Singkatnya, saya sudah di restoran hotel di Mataram. Habis makan, kenalan, nanggap Mas Joni yang ceritanya nge-briefing, dll, dst. Saya agak-agak gimana gitu, karena dari 22 orang termasuk saya, yang saya kenal cuma 3 lembar. Lainnya muka-muka asing yang baru saya lihat saat itu, kinyis-kinyis, segar-segar, enak dibikin sop. Tapi nggak lama kemudian karena males naik ke lantai 3 tempat kamar saya dan Ncik berada, saya nongkrong sama Mas Dona, deh. Cerita-cerita Tuhan, anak-istrinya Mas Dona, kerjaan kami, macem-macem lah.

Ini Pak Iskandar. 60 tahun dan masih sehat, males pensiun, asyik diajak ngobrol. Keren lah! 


Besoknya kami ke PT Djarum Lombok Station, kenalan sama Pak Iskandar di ruang rapat paling keren karena ada asbaknya, dikasih rokok, dan boleh klepas-klepus! Hihi. Di ruang itu juga Pak Iskandar, atau biasa dipanggil Pak Is, membuat kami mabuk informasi karena presentasinya soal tembakau termasuk sejarahnya. Kata Kak Nuran, Pak Is ini Profesor Tembakau. 30 tahun bersama Djarum bikin si Bapak tahu betul seluk-beluk tembakau dan gimana-gimananya.
 

Ini paling seperberapanya dari total luas bangunan. Yang motret Kak Jawir lho, yang mukanya beda tipis ama Ahok tapi nasibnya beda banyak

Habis manggut-manggut di ruang rapat kami ke gudang tembakau. Gudang ini... gimana ya bilangnya... Kalo kamu tahu tempat parkir pesawat atau hanggar, nah, kayak gitu lah. GUWEDHE. Lapangan parkirnya yang biasa dipenuhi truk Fuso sarat tembakau, bisa buat parkir 4 atau 5 Airbus. Di dalemnya ya... muat lah kalo cuma 6 atau 7 Airbus doang mah. Gudang inilah denyut jantung korporasi sebenar-benarnya yang mempertemukan petani dan perusahaan.


Pak Dawam, Dukun Tembakau! Se666an!


Di gudang ini juga dikenalin sama Pak Dawan, "tangan kanan"nya Pak Is. Pak Dawam ini top markotop banget. Jadi ceritanya dari tiap tumpukan tembakau di atas, satu ikat sample dibawa ke bagiannya Pak Dawam untuk inventory sekaligus history hasil panen. Nah, dari yang satu ikat itu, cuma ngeliat aja Pak Dawam bisa cerita dari Lombok bagian mana si daun, irigasinya macam apa, sampai ke temperaturnya. "Kuningnya kan beda, Mbak," katanya. Astaga, Pak! Itu kuning butek semuaaa!


Ini oven buat ngeringin tembakau. Aslinya gede sak hohah. Tapi karena saya anaknya artsy-artsy Instagram-esque gitu, motretnya ngambil bagian itu doang

Sehabis makan malam Taliwang dan kawan-kawan pendamping yang pedesnya nendang ada sesi diskusi bareng Paox Iben yang ternyata kelahiran Semarang tapi jiwanya di Lombok. Dia bercerita soal sejarah, budaya, "revolusi" tembakau terhadap masyarakat Lombok, macem-macem, lah. Saya agak stress sendiri dengernya. Sejak dulu ternyata masyarakat Lombok bertahan dari penjajah satu ke yang lain. Mulai dari kerajaan Bali Karangasem, Majapahit, Bali lagi, Belanda, begitu terus sampai sekarang, termasuk pemerintah Indonesia. Belum lagi banyak sekali warga Bali yang sudah ngelotok soal pariwisata buka lahan pinggir pantai untuk hotel dan resort, membuat penduduk asli yang hampir nggak tahu apa-apa semakin tersingkir. Ini bikin hati ngilu, apalagi ada singkatan satir dari NTB--Nasib Tergantung Bali. Dengan suara datar dan hampir tanpa emosi, Bang Paox bertutur dan berkisah. Wajahnya dingin. Tapi matanya menyala. Ada api di sana. Saya selalu kagum mendengar dan melihat orang yang bicara sambil membawa api di matanya. Dia marah. Dia ingin perubahan. Saya yakin apinya tak akan terlalu cepat meredup untuk kemudian berganti dengan kacamata kuda yang membuatnya lumpuh melihat kanan-kiri dan abai seperti kebanyakan penduduk bumi. Semoga.

Pelajaran 2:
Jadilah kosong supaya hal-hal baru, orang-orang baru, bisa kembali mengisi kepala penuh-penuh, lalu diam sebentar, endapkan, dan kembalilah bernapas seperti biasa.



Mblo...
     

Pulau Lombok adalah bagian dari Nusa Tenggara Barat dengan latar belakang sejarah dan budaya yang berkelindan antara kerajaan Bali, adat kelautan masyarakat Bajo, dan tradisi Islam yang sangat unik dan tidak kita temukan di wilayah lain. Bentang alam yang indah, terutama pada garis-garis pantai, juga menjadi salah satu daya tarik bagi turis-turis asing dari negara-negara empat musim untuk berburu hangatnya matahari sepanjang tahun.



Gw kata juga apa... Kak Jawir mah fotonya kece badai

Orang-orangnya juga ramah. Sama seperti di Bali, orang Lombok terbuka pada pendatang. Mungkin ini semacam SOP standar bagi para penduduk di wilayah tujuan wisata. Begitu pun penduduk Desa Karang Bajo di kaki Rinjani, tempat kami menginap di hari kedua.

Awal berdirinya desa ini tergolong unik dan sangat Islami sekali. Para penduduk desa yang suku Sasak kekurangan mukmin Jumatan, dan ada seorang nelayan dari Bajo berdiam tidak jauh dari desa mereka. Kemudian nelayan ini dirangkul, diminta tinggal di desa dan menggenapi ibadah setiap Jumat. Begitulah.

Pemuda-pemudi Karang Bajo dengan busana adat mereka. Mirip Bali, kan? Tiap bagian, dari ujung kepala sampai sarung, ada makna filosofisnya, lho! Ini yang motret Kak Miki nan keren, calon selebtwat kekinian

Sampai di Karang Bajo kami disuguhi makan siang yang... Alamakjaaaang! ENAK BANGET NGET! Sebagaimana masakan Bali, semua berempah dan pedas. Ai sukak! Dan beberapa makanan juga serupa seperti Bali. Ada Jukut Undis yang di Lombok bernama Komak dengan bahan dasar semacam kacang tolo. Ada juga Sate Lilit, Sop Balung yang di Bali berbahan babi namun di Lombok sapi, urap, macem-macem, lah.

Daaaan... BREM!

Ini juga sama seperti brem Bali. Minuman beralkohol ringan yang biasanya dibuat dari fermentasi beras ini berjuluk Jaket--Jamu Ketan--dan biasa dibuat untuk menyambut acara adat besar. Ini agak aneh sih, mengingat tradisi mereka yang kental dengan Islam dan biasanya mengharamkan alkohol (Hai, Uni! *dadah-dadah*). TAPI ENAK! Jadi, nggak papa. Halah.  

Pelajaran 3:
Kalo lagi jalan-jalan gretongan mending makannya ngambil dikit-dikit tapi cobain semua. Coba ya, agak diubah itu kebiasaan anak kos kere pegawai lepas UNDP (United Nation of Delayed Payment) yang makan sekali banyak untuk seharian. Sekali-kali ubah mindset. Di negeri orang bisa juga, lho, PGAK. Perbaikan Gizi Anak Kos-kosan.


Suguhan di acara makan-makan adat. Segini untuk dua orang, dan tempat lelaki dan perempuan juga dipisah. Ini yang motret juga Ahok KW itu

Setelah semalam menginap di desa adat Karang Bajo besoknya kami bergegas untuk kembali ke habitat masing-masing. Termasuk saya. Di bandara Praya (yang selalu ada toilet), perabotan lenong untuk sebulan saya pandangi sambil menarik napas berat. Saya batal menjelajah sendirian.

Sejak kemarin, sepulang dari makan-makan Taliwang endeus, perut saya bermasalah. Nggak, saya nggak demam, nggak masuk angin atau semacamnya. Makan juga masih banyak, mumpung gretong. Cuma berasa ada Tiu Kelep aja di pantat, minimal 7x dalam 24 jam gitu deh. Ini memang cara tubuh saya ngasih tau kalo saya lagi nggak sehat. Nggak peduli lagi senang-senang di kampung orang atau leha-leha di kamar sendiri.

Sehari sebelum berangkat saya memang agak kelelahan lahir-bathin. Ditambah lagi rempongnya menyusuri Ngurah Rai yang guwedhe sambil agak panik nyari calo tiket buat berangkat nyusul bagasi yang terlanjur diangkut Lion Air ke Praya. Sekali lagi, KAMPRET KAMU LION AIR! Huh! Ketambahan lagi waktu mau ke bis di belakang saya terdengar seseorang nyeletuk, "gw 3 hari aja muat nih satu tas selempang, dibandingin ransel segede gitu..." Sini mukamu tak urek-urek sini!

Pelajaran 4:
DIAM KAMU!





 

Labels: , , ,

Help Bonnie!

Posted by The Bitch on 9/30/2015 12:06:00 AM




Abaikan paha sebesar guling. Perhatikan Bonnie aja. Ini per tanggal 14 September 2015.
Pulang dari vaksin pertama terus Om Ojek ngantuk, jadinya nongkrong dulu



"A dog is the only thing on earth that loves you more than she loves herself"
- Josh Billings


Puppy lucu ini namanya Bonnie. Per tanggal 29 September 2015 kira-kira usianya 3 bulanan. Bonnie adalah hasil penelantaran tetangga kost yang mengira bahwa memelihara bayi anjing Bali adalah cara yang tepat untuk mendapatkan penjaga rumah gratisan, tanpa mempertimbangkan perawatan, pengobatan, dan pemberian makan.

-----
This cute lil angel is Bonnie. As per September 29, 2015, she's about 3-month old. She was abandoned by people next door who thought that giving leftovers to a Bali dog puppy results in free security guard for the house, without a slightest consideration to correct nurturing, healthcare, and proper food, not to mention her well-being.


"Kamu udah bisa sayang aku belum?"

Pertama kali datang ke tempat saya, "body check" Bonnie menghasilkan 100 lebih kutu. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka-luka scabies yang konstan digaruk. Perutnya besar sekali, tapi tubuhnya ringan saat diangkat. Seminggu kemudian saya ke BARC untuk memeriksakan Bonnie karena saya sudah habis akal dan habis duit (bukan karena Bonnie tapi derita freelancer UNDP, United Nations of Delayed Payment). Tiga hari setelahnya, setelah rutin memberi pil anti-cacing dan obat anti-kutu, suntikan scabies, vaksin pertama, nutri-plus gel dan minyak ikan, gendutnya perut Bonnie memberat, nafsu makannya kembali, dan garuk-garuknya berkurang banyak, apalagi jumlah kutunya.

-----
The first time we met, Bonnie's body check gained more than 100 fleas and ticks. There were scabies wounds in some part of her bodies due to her constant scratching. Her belly was swollen but she's lightweight. A week later, after a visit to BARC, Ubud, her health had improved greatly. We came home with a truckload of vitamins, fish oil, deworming pills, tick & flea drops, and Bonnie also got her first vaccine and scabies shot. Her appetite is competing with me, her belly is now just chubby and healthy, and her scratching is less frequent now, and the parasites living in her has been decreasing dramatically.      

Hampir 24 jam pasca steril. Kekenyangan abis brunch

Kemarin, tanggal 28 September 2015, Bonnie melengkapi vaksinnya plus vaksin rabies sekaligus disteril, biar di masa depan Bonnie nggak ikut andil jadi masalah over populasi anjing terlantar di Bali. Sore sebelum tulisan ini tayang Bonnie masih riang membuntuti motor saya sampai ujung jalan, diam sebentar memandangi saya, lalu kembali lagi ke rumah beberapa saat kemudian. Operasinya kemarin tidak menghalanginya untuk tetap aktif layaknya bocah.

-----
Bonnie completed her vaccines yesterday, along with rabies shot. She's also spayed so that in the future she won't contribute to one of the biggest problems in Bali: over-population of stray dogs. In the afternoon before this entry was published, Bonnie was still tailing my bike to the end of the road, sit still for a while, and got back home few minutes later. The procedure did nothing to hinder her feat of becoming a puppy.  

The thing is, saya sudah punya Tuhan. Usianya sekarang satu setengah tahun dan badannya besar. Setiap mereka berduaan, saya selalu harus jadi "wasit" karena Tuhan "sayang" sekali dengan adiknya (atau dibercandain sampai ke titik di-bully sampai Bonnie bete dan marah-marah). Tempat kost saya juga nggak kondusif untuk seekor puppy. Saya nggak punya halaman, kecuali teras seluas 1.5 x 2 meter dan tempat parkir motor yang sudah terlanjur sempit. Beberapa kali Bonnie dipukul tetangga dengan balok sebesar tubuhnya. Alasannya? Bonnie menggigit anaknya yang iseng menarik buntut Bonnie saat dia sedang makan. Iya. Dafuq. Saya menyayangkan orang seperti itu berhak memiliki keturunan.

-----
The thing is, I already have Tuhan--"God" in English. Her Bitchiness is one and a half year now and She's growing relatively big. Everytime Bonnie and Tuhan together, the later always overpower Bonnie to the point of irritating and resulting in Bonnie gets all cranky and hostile. My place is also insufficient to raise a puppy. I live in 3 x 3 m room with a mere 1.5 x 2 m porch crowded with cloths hanger and stuff, and bike parking at the front that's already too cramped even for people to pass. Once my neighbour hit Bonnie with a club as big as her body because she bit a child. Why? Because the kid was pulling her tail while she's eating. I feel sorry for the world because such human is permitted to reproduce.  

Jadi, saya memanggil semua pecinta anjing, terutama di Bali. Saya perlu seseorang untuk mencintai Bonnie, menyediakan perlindungan, makanan, perawatan, dan kasih sayang yang diperlukan sebentuk mahluk hidup yang mampu mencintai manusia lebih dari dirinya sendiri. Berkat orang-orang baik di BARC Bonnie sedang dalam proses penyembuhan scabies. Bulu-bulunya sudah tumbuh kembali dan mulai terlihat mengilat, meskipun sedikit ujung-ujung telinganya masih terlihat seperti berkerak dan bagian belakang kakinya ada bekas-bekas luka yang sedang berangsur pulih.


-----
This is a call for help, for all dog lovers reside in Bali. I need someone to love Bonnie, someone who will provide protection, food, care, and shelter needed by a creature that is able to love human more than it loves itself. My biggest gratitude for BARC, because of them Bonnie is recuperating from scabies. Her coat has regrown and starts to show its shines though the tips of her ears still have a little scales and her feet have recovering wound marks.

Jika kamu di Bali dan tertarik mencintai Bonnie dan bersedia menjaga persahabatan menyenangkan dengan Si Mata Baik, silakan kontak saya, 24 jam, melalui email, SMS, telpon, Telegram, dan WhatsApp.

-----
If you happen to live in Bali (Denpasar, Ubud, Kuta, Klungkung, Gianyar, and in-between) and willing to have a friendship with the owner of these sweet, kind eyes, feel free to contact me anytime, 24/7.


Harap diingat, memelihara anjing perlu waktu, kesabaran, dan ketegasan. Seperti anak manusia, anjing belajar dari repetisi dan disiplin. Satu setengah tahun bersama Tuhan membuat saya belajar semua hal itu. Oh, dan beberapa season Dog Whisperer-nya Cesar Millan, tentu saja.

-----
Please remember, having a dog as your companion takes time, patience, and discipline. Like a human child, a puppy learns its boundary and limitation by repetition. That's what I learned from my one and a half year with Tuhan. Oh, and few seasons of Cesar Millan's Dog Whisperer, of course.


Kami--saya dan Bonnie--sangat menunggu kabar baik. Kami berharap pada orang-orang baik yang bersedia berbagi bahagia.

-----
We--Bonnie and I--are waiting for the good news. We reach out to touch the hearts of those good people out there who are eager to share loads of love and happiness.

Because, you know, Charles Schulz said: Happiness is a warm puppy.

UPDATED:

Bonnie sekarang sudah menemukan rumah dan keluarga baru. Tadinya cuma mau fostering selama saya ke luar kota 5 hari. Tapi begitu melihat "benda" lucu di atas, suami teman saya, yang Labs-nya berkali-kali menang kompetisi Agility, Jumping, dan Obedience, langsung suka sama kebayiannya.

-----
Bonnie has found her family. My friend, a mother of two, was about to fostering while I'm away for work for five days. But soon as her husband--whose Labs had won numerous dog shows for Agility, Jumping, and Obedience--saw Bonnie, it was love at first sight. She was such a, adorable cutie today.  
It's a happy resolution, all in all.

Thanks everybody! 

Will show off Bonnie with her new family anytime soon.

 



    

Dear Dewi...

Posted by The Bitch on 2/19/2015 03:37:00 PM

Gambar diambil dari akun Instagram-nya Dewi


… karena yang tidak membunuhmu hanya membuatmu lebih kokoh. 


Dear Dewi,

Kau harus tahu bahwa dunia tidak berputar mengelilingimu. Bahwa hidup tak pernah adil dan hal-hal yang kau inginkan tak selalu datang mewujud di depanmu. Bahkan dunia adalah satu kecelakaan maha besar karena seciprit bakteri iseng keukeuh berkembang biak lalu membuat Bumi berevolusi ratusan juta tahun hingga kita, ras manusia, berdiri tegak mengangkangi seru sekalian alam.

Kita tak lebih dari bakteri itu dibandingkan dengan apa yang menyesaki semesta. Apa yang kita miliki sekarang, saat ini, adalah hasil perjuangan kita untuk mendapatkannya. Sesuatu yang tidak kita miliki bisa kita raih nanti, setelah melalui berbagai pertarungan puputan jika kau menginginkannya lebih dari hidupmu. Jika di tengah pertarungan kau kalah, kau harus legawa melepasnya dari genggamanmu. Mungkin belum saatnya kau punya ‘sesuatu’ itu. Mungkin kau belum siap. Mungkin ini, mungkin itu. Akan ada banyak sekali ‘mungkin’.

Wi,

Kita sering lupa bahwa orang tua yang kita panggil ayah dan ibu, atau ayah, atau hanya ibu, adalah sama seperti kita, manusia yang punya mimpi, punya ‘sesuatu’ yang ingin diperjuangkan. Pilihanlah yang membuat mereka menyandang nama ‘orang-tua’, orang yang dituakan, yang harusnya mengayomi, menyediakan keperluan anak-anaknya, menjadi pulang jiwa-jiwa letih di akhir pertarungan yang meluluhlantakkan tiap ruas sendi. Seperti kita, mereka juga punya pertarungan sendiri. Seperti kita, mereka juga menghadapi rintangan di tengah jalan. Beberapa dari orang tua yang kita kenal mungkin punya hati seluas samudera untuk dapat menyimpan kegentaran hidup dan menguburnya dalam-dalam kemudian memancarkan cinta seterang mercu suar, memandu anak-anak mereka mencari rumah. Orang tua-orang tua lain mungkin tidak bisa sehebat itu. Apa yang mereka alami hampir tak tertahankan dan membuat perisai mereka retak dan memunculkan sisi ke-manusia-an individual, menjadi pribadi yang merasa sendirian, alpa dengan tugasnya sebagai pengayom, penyedia, dan menjadi tempat pulang.

Tapi ada hal yang harus selalu kau ingat, Dewi: bahwa tak ada yang benar-benar sendirian, dan tempat pulang tak selalu berjuluk ‘orang-tua’. Kita akan temui rumah di setiap jiwa yang kita sapa di perlintasan hidup. Mereka yang kita panggil teman, sahabat, stasiun, Si Monyet, pelabuhan, Bli Gung, Tukop, Seli, Tika, pasar, tukang nasi jinggo. Siapapun. Apapun. Mereka yang membuatmu nyaman menjadi dirimu sendiri, tak menuntut apapun darimu kecuali memintamu bahagia, dan mampu meredakan pikiran-pikiran liarmu yang tak mau diam itu. Mereka mungkin tak benar-benar ada ketika kau perlu, tapi mereka menyediakan pundak instan saat kau lelah dan butuh bersandar. Mereka yang akan tulus menerimamu, mereka yang rindu mendengarmu tertawa dan melihat matamu juga tertawa. Dan jika mereka tidak ada, mungkin mereka perlu kamu sebagai pundak tempat bersandar. Sebab semua elemen semesta raya memerlukan keseimbangan. Semua tentang memberi dan menerima. Mengusahakan dan legawa. Mengenang dan melepaskan.

Dan jika kau merasa benar-benar sendirian, dear Dewi, mungkin sudah saatnya kau cari kebahagiaan dari dalam dirimu sendiri. Aku tak akan bilang itu hal mudah. Tapi itu bisa dilakukan jika kau—lagi-lagi—mau usaha.

Hey Dewi,

Kau tahu kan kalau kau juga berhak bahagia?







Labels: ,

Puppy (I) Love

Posted by The Bitch on 9/15/2014 03:29:00 AM

Lirikan matamu, Dek...


Nyari teman hidup setia, menghibur, lucu, penyayang, menyenangkan, (sedikit) nakal, selalu menunggu kamu pulang dan nggak pernah rese nanya-nanya? Piaralah anjing.
- Guweh


Bocah perempuan kecil di atas itu bernama Tuhan. Dia ditemukan seorang teman (yang akhirnya jadi godfather-nya) sedang menangis ketakutan pada suatu malam akhir Mei 2014 di dalam gorong-gorong kering di perempatan Sunset Road, Bali. Punggungnya penuh luka, perutnya besar, dan selalu garuk-garuk. Keesokan harinya dia dibawa ke BARC, Ubud, dikasih obat cacing dan anti kutu. Menurut Mbak Dokter di sana, usianya paling antara 6-8 minggu. Masih terlalu kecil untuk bisa bertahan di dunia luar sendirian, untuk mencari atau berebut makanan dengan mahluk-mahluk yang lebih besar, lebih tua, lebih buas, dan lebih berpengalaman. Beberapa jam setelahnya saya nggak nyangka tubuh sekecil itu bisa menjadi inang untuk sesuatu yang menggeliat-geliat keluar dari feses. Ugh!


Belajar menggambar bersama Om Lou dan Om Rio. Tapi Tuhan betean, terus dia WO aja gitu...


Tuhan makannya banyak! Dan dia tumbuh jadi gadis kecil ramah yang terlalu senang bertemu manusia. Dia nggak tau bahwa nggak semua manusia suka sama dia. Tapi dia nggak peduli. Dia akan menandak-nandak kegirangan dan menyambutmu senang, bahkan saat kamu belum sampai pintu.


Kalo ini belajar menggambar bersama Bapak Asuh alias The Godfather, Pak Nik

Tuhan juga pintar, pipis dan eek selalu di kamar mandi. Meksipun untuk ngajarinnya mesti pake proses stress dan berdarah-darah yang lebih parah dari garap deadline mepet. Saya pernah ngendon di kamar untuk observasi dua hari full, merhatiin gimana tanda-tandanya dia kebelet pipis atau eek, lalu mengangkatnya ke kamar mandi ketika dia sudah mulai mengendus bagian bawah pintu dan mendengking-dengking gelisah. Bersihin urin dan ngepel minimal sehari tiga kali? Wis biasa! Dan saya ngiri luar biasa sama pawang guguk ganteng yang bisa ngajak gerombolannya jalan-jalan nyaman tanpa ada yang berantem atau pis-ek sembarangan. Tapi bagusnya, sebagai Balinese asli, Tuhan pantang eek di lantai dan menahannya sampai waktunya keluar jalan-jalan. Dan lama-lama dia bisa juga eek di kamar mandi. Syukurlah.  


Ini berarti waktunya beli helm baru karena yang ini sudah ganti fungsi jadi gendongan

Entah kenapa Tuhan selalu suka menggigiti dan menggondol barang-barang terlarang, meskipun mainan dan tulang tersedia untuknya. Seberapapun kamar tertata dan semua barang diletakkan di tempat yang jauh dari jangkauan, dia akan cari cara ngeberantakinnya. Pernah pada suatu hari dia menggondol pouch berisi sabun cuci piring dan entah bagaimana dia menyebarkan setengah isinya ke seluruh penjuru kamar. Walhasil, dini hari jam 3 pagi, sepulang saya kejar setoran, saya harus ngepel basah 15 kali buat membersihkan 'hasil kejahatan'nya. Setelah itu saya merasa sedang berdiam di vagina perawan karena kamar saya jadi harum dan kesat.


See?

Lalu saya harus pindah ke Denpasar karena ternyata pemilik tanah atau mertua induk semang saya--yang sekeluarga besar hingga lima turunan ke atas semuanya orang asli Bali yang biasanya malah ternak anjing di halaman--ternyata nggak suka anjing. Meskipun Tuhan sedikit menggonggong, nggak pernah rese, nggak pernah ngotorin (karena selalu saya bersihkan), dan nggak pernah ganggu tetangga. Sekarang kami sudah hampir sebulan menempati kamar baru, dan semua masih baik-baik saja.


Tapi kalo udah begini siapa juga yang tega marahinnya?


Terus kami happily ever after?

Nggak juga!


Terus kalo dihukum jadi platipus ngadunya sama bebek-bebekan...

Masalah datang dalam bentuk mahluk berkaki empat yang nggak kalah lucu dan bernama Kim. Jantan kacang hampir 2 tahun milik mbok di komplek belakang ini girang sekali menyambut kami. Well, menyambut perempuan kecil berkaki empat saya, lebih tepatnya. Dan Tuhan yang biasa bermain dengan mbak-mbaknya--Abbi (beagle) dan Poppy (mix pom-shih tzu)--sepertinya memang sudah memiliki semangat girl power dalam darahnya. Dan demikianlah, yang harusnya jadi acara perkenalan dengan masing-masing bocah akan mendekat malu-malu lalu main-main bahagia malah jadi ajang unjuk dominasi: siapa menunggangi siapa!  


The Romeo yang pemalu, makanya dia buang muka. Kalo dia om-om kaya bakalan buang duit

Setelah hampir dua jam mereka kenalan brutal akhirnya dua mahluk itu terengah-engah kecapekan. Dan kami pun masuk karena sudah lewat tengah malam. Tapi tebak apa yang terjadi kemudian? Hingga keesokan pagi Kim ternyata masih ada di depan pintu kamar kami! Dan itu berlangsung tiap hari. Awww banget kan?!

Ya tapi akhirnya maminya Kim kayaknya bete. Hingga pada suatu hari dia lewat, motornya berhenti tepat di depan saya. Dan sambil melihat Kim yang berlari-lari unyu menghampiri, dia bertanya retoris--dan matanya nggak lepas dari si guguk kacang, bukan ke saya--"Kim kenapa sekarang di sini terus?"

Nyeh. Menurut lo aje, Mbok...


Cieee yang lagi berantem, cieee...

Sampai sekarang saya nggak pernah lepas Tuhan tanpa kekang meskipun halaman lumayan luas untuk dua guguk kecil berlarian dan Tuhan sudah disteril dan kemungkinan lebih bersih daripada penis kalian karena sering saya seka pakai lap berlumur larutan antiseptik sepulang jalan-jalan. Bukan apa-apa, tetangga sebelah saya yang keluarga muda asal Pekalongan itu punya anak kecil umur 5 yang luar biasa manja tapi penakut sama anjing. Tiap saya keluar dan si bocah from hell itu ada, meskipun dia sedang di teras yang jauh lebih tinggi dari kami dan Tuhan jelas-jelas nggak bisa kemana-mana, dia pasti akan langsung, "Aaaa! Mamaaa! Ada HanHan! Takuuut!" Jangan tanya seberapa besar dorongan saya untuk melepas leash sambil menepuk pantat Tuhan biar dia langsung lari ke sumber "Aaaaa!" menyebalkan itu. Dan saya sangat menunggu setahun lagi mereka ada di sini dan akan tertawa melihat betapa repotnya Mama atau Ayah menggendong-gendong anak mereka yang sudah besar karena takut anjing, which is di Bali ada di setiap pojokan.

Lihat mata saya... Kamu akan kasih saya tulang guwedhe...
Lihat mata saya...

Saya males ribut dengan orang sekitar, padahal masalah bisa saya selesaikan sendiri. Makanya saya selalu mengenalkan Tuhan sebagai HanHan pada tetangga, biar nggak pada banyak nanya. Dan saya juga bisa ajak jalan-jalan Tuhan secapeknya supaya dia nggak bosan dan lasak dan nggak rese di kamar sendirian kalau kebutuhan jalan-jalannya sudah terpenuhi.

Oh iya. Kenapa saya kasih nama Tuhan?

Dari dulu saya sudah kepingin punya anjing bernama Tuhan supaya skenario seperti di bawah ini bisa terjadi.

Teman Rese yang Suka Sekali Ngurusin Orang: Eh, Pito sekarang religius mampus lho. Gue nggak nyangka
Teman Polos yang Kemungkinan Besar Masih Perjaka/Perawan di Usia 30: Kenapa gitu?
TRSSNO: Iya, sekarang kerjaannya tiap hari ngasih makan sama ngurusin Tuhan. Kadang Tuhan diajak jalan-jalan. Edan lah!
TPKBMPU30: EGILAK! CIYUS LOH?!


Ini lirikan yang udah agak gedean.
Tato GK di kuping itu penanda kalo Tuhan alumni Good Karma, klinik BARC,
tempat dia operasi steril




Labels:

Mari Mencium Pantat!

Posted by The Bitch on 9/13/2014 11:44:00 PM

Semua perbuatan baik berawal dari niat baik. Kecuali kalo yang berbuat adalah parpol
- Guweh 

Gambar diembat dari sini

Lihat gambar di atas?

Saya sih suka. Dan entah si bapak-bapak itu ngebayangin apa ke bocah-bocah. Maaf ya, Pak. Saya nggak nuduh. Tapi hari gini, kita nggak pernah tahu pedo bear bermanifestasi ke orang (bertampang) baik-baik seperti apa lagi. Tapi saya ngebayanginnya para bapak itu merasa bangga karena ilusi pengayom dan penyedia bagi anak-anak.

Ini gambar ngembat juga, tapi dari sini

Sekarang gambar di atas itu. Saya nggak suka liatnya. Bukan karena si bapak nyengirnya mengerikan kayak pengusaha human trafficking, bukan. Tapi gimana cara orang di hadapannya cium tangan. Nunduk banget, kayak yang pasrah-madep-mantep-total gitu. Oke, kalian emang dibantu. Tapi ya nggak gitu-gitu amat, lah. Itu masalah saya sih, bukan masalah mereka. Dan mereka (juga kamu) juga nggak perlu tau itu. Nggak penting, nggak bikin orang-orang berhenti rebutan tanah di Palestina.

Tapi satu hal yang paling penting, adalah tradisi cium tangan.

Sebengal-bengalnya anak-anak Bu Anggi, tiap akan keluar rumah serius (yang harus naik Patas atau commline), saya dan adik saya akan selalu menyempatkan semenit-dua untuk cium tangan sambil pamitan. Pas udah gede, saya baru ngeuh artinya, yaitu biar orang rumah tau kalo kami keluar rumah, dan kalau ada apa-apa di jalan sudah pamitan.

Di keluarga kami pun masih ada tradisi cium tangan ke orang (di)tua(kan). Jika ada arisan keluarga, jika ada orang asing yang saya dan adik saya nggak tau itu siapa, kalau waktunya salaman ya kami cium tangan. Ya nggak cium tangan banget sih, paling nempelin tangan ke pipi atau jidat. Nggak kebayang kan kalau misalnya halal bihalal dan harus baris untuk cium tangan beneran, dan kita ada di antrian paling buncit? Duh, itu tangan udah kena moncong siapa aja?!

Sampai setua ini pun kebiasaan cium tangan masih saya lakukan ke orang-orang yang saya anggap dekat dan lebih tua. Biasanya mereka para "empu" masa kini yang berilmu tinggi yang pengetahuannya sering saya curi melalui ngobrol sambil ngopi.

Tapi saya belajar banyak tentang berbagi melalui gestur lain, yaitu pelukan. Orang-orang yang kenal saya secara personal akan tahu betul bahwa saya sangat peduli pada ruang personal. Kalau nggak kenal-kenal banget, salaman aja saya males. Apalagi pelukan. Tapi pelukan antara dua orang yang bertemu kembali setelah sekian lama adalah bahasa paling jujur tentang kerinduan, urjensi untuk catching up, keingintahuan menyenangkan, dan semua hal yang hanya bisa dibagi antar dua orang teman baik.

Tapi sebagaimana dua mata pisau, dalam cium tangan dan pelukan tetap akan terasa palsu jika kita nggak benar-benar tulus melakukan. Dan saya, meskipun terkesan nakal, masih sangat naif untuk hal ini.

Saya sering aneh sendiri jika ada orang yang cium tangan atau pelukan dengan maksud ingin ter"lihat" menghormati dan kesan diterima. Makanya saya sering risih sendiri kalau ada dedek-dedek unyu yang pamitan sambil mencoba cium tangan ke saya. Saya akan langsung refleks menarik diri sambil komentar, "ih, elu kayak anak panti asuhan abis dikasih sumbangan deh!" Maafkan saya, buat kalian anak-anak panti. Bukan maksud saya bikin kalian sebagai parameter cari muka. Buat saya, the least you can do adalah cium tangan ke para donatur buat, ya itu tadi--membuat mereka mengalami ilusi menyenangkan sebagai pengayom dan penyedia, dan kemungkinan besar akan mengulangi bantuan di kemudian hari lagi. Saya nggak ada masalah dengan itu. Kalian perlu itu, karena nggak bisa ngandelin dana dari pemerintah terus-terusan. Kalau bisa, malah saya bakalan coaching kalian gimana caranya cium tangan atau mendengarkan cerita basi para donatur sambil terlihat bahagia, segaring apapun cerita si donatur.        

Kesimpulannya ya gitu. Karena cium pantat bisa dikenakan pelanggaran UU Pornografi, makanya mending cium tangan aja. Meskipun secara anatomi, tangan dan pantat letaknya berjauhan, toh secara fungsi dan gestur antara cium pantat dan cium tangan sebenarnya cuma beda tipis. Lagipula, tangan, apalagi tangan yang buat cebok, itu lebih (terkesan) bersih daripada pantat karena akan selalu dicuci. Di wilayah tropis semacam Indonesia, tangan akan selalu terbuka dan diangin-anginkan. Nggak ada kesempatan lembab keringat dan tertutup pakaian seperti pantat sehingga nggak mungin tangan kita berbau pantat. Jadi, mendingan kita cium tangan aja. Demi kemaslahatan kita semua!





 

Labels:

Ndoroku, Ndoromu, Ndoro Kita Semua

Posted by The Bitch on 9/11/2014 07:42:00 PM

Rupamu, Ndor... (Gambar diambil dari sini)


"Lelaki tidak menangis, tapi hatinya berdarah"
- Ndorokakung aka Ndoro Bedhes aka Dek Wi (khusus buat pinisepuh yang rambutnya udah putih semua) aka Lelaki Wangi Pandan

Om-om di atas itu dulu adalah temen saya gojekan meskipun akun twitter kami nggak saling follow-followan. Walau mukanya nakal, ada beberapa hal baik yang sering beliau bagi dengan saya. Misalnya, tebengan mobil ke kost dari tempat nongkrong. Atau sebuah sapaan hangat "Piye, Nduk?" sedetik sebelum beliau mendaratkan bokong yang tergerus zaman ke kursi panjang di depan gerobak angkringan. Kemungkinan besar beliau nggak tau state of mind saya saat itu. Tapi beberapa kali "Piye, Nduk?" itu menyelamatkan kejiwaan saya karena gondok dan sebal tak terkira ke beberapa manusia yang saya nggak bisa tonjok atau maki-maki.

Kesan pertama bertemu beliau mungkin akan menipu (kecuali kamu mbak-mbak ayu-cantik-semlohai) karena beliau bisa sangat kemaki dan mbois meskipun senyuman ramah tak pernah lepas dari wajahnya. Namun karena pengalamannya yang buwanyak dan sangat berwarna, beliau bisa jadi sumber ilmu hidup tak putus-putus dan tak segan berbagi.

Suatu waktu saya pernah membuktikan waktu Time membuat tindakan gokil dengan menampilkan wajah perempuan dari negara Islam yang hidungnya dimutilasi si suami. Saya genjot Ndoro Mbois itu dengan pertanyaan-pertanyaan riwil tak habis-habis, karena latar belakang beliau sebagai PEMRED sebuah harian online terkeren saat itu. Dan beliau kalem-sabar-sembadha meladeni saya dengan jawaban-jawaban yang jauh lebih personal dari sekadar jawaban Mbah Google. Saya seperti habis kuliah jurnalistik yang menyenangkan setelahnya.

Tidak itu saja. Waktu beliau menjabat Manusia Kursi pun saya sempat riwil protes sana-sini. Dan beliau pun selalu kalem dan nyengir menjawabi pertanyaan-pertanyaan dan ketidaksetujuan saya (dan tentang apa itu, saya juga udah lupa).

Tapi satu hal yang membuatnya sangat manusuia: ketika beliau bercerita tentang para buah hati, putra-putrinya. Kamu akan dapati matanya menyala cerlang cemerlang namun teduh. Sangat menyenangkan.

Lalu, kenapa saya mendadak ngeblog soal Ndoro?

Gara-gara artikel ini dan tulisan Tante Ai, salah satu orang hebat lain (yang saya sering ngaku jadi anak (haram)nya) yang saya kenal. Dan karena saya lagi pake kaos ini:


Gambar diambil dari sini. Iya, saya susah move on...


Dan buat para (mantan) blogger lawas, pasti kenal dengan gaya judul di atas (halo! Masih ngeblog?™).

Lalu, kenapa saya ngeblog lagi?

Ummm... Saya kangen orang-orang lama kaya ilmu dan waktu yang bisa saya todong pertanyaan macam-macam dan nggak segan menanggapi.

Saya. Rindu.


Labels:

Tentang Mas Ipung

Posted by The Bitch on 8/05/2014 08:04:00 PM

Mas Ipung, pada suatu masa. Photo courtesy of Anggara Mahendra


“Death ends a life, not a relationship.”
Mitch Albom in Tuesdays with Morrie

Lelaki kurus kecil murah senyum dan bermata ramah ini nama aslinya adalah Ari Wangsa. Entah bagaimana dia menyebut dirinya Mas Ipung. Kalau kamu sempat bercakap dengannya, seserius apapun, akan kamu dapati kejenakaan yang dia sisipkan dan memberi warna pada tiap ucapannya. Mungkin itu yang membuat siapapun betah ngobrol dengan lelaki lajang empatpuluhan dengan rambut dreadlock disanggul ke atas. Konon rambutnya itu bertuah. Pernah suatu malam dia kesal dan diurailah rambut keriting nan keramat itu. Hanya bertahan semalam. Keesokan paginya saat dia terbangun, si rambut kembali dreadlock seperti sebelumnya. Andai Marge Simpson ke Bali, dia pasti ingin tahu rahasia sanggul dreadlock Mas Ipung supaya tidak terlihat tinggi menjulang bersanding Homer jika ingin membuat foto keluarga.

Mas Ipung bukan orang asli Bali. Tapi sesuatu memanggil dan mengharuskannya ke Bali untuk berdiam di Subaya, sebuah desa kecil nan dingin di kaki Kintamani. Yang saya maksud dingin itu ya... dingin mampus. Jam dua belas siang saja turun kabut. Tidak seperti anak-anak twitter, matahari di sana jarang sekali eksis. Di desa yang hampir tidak ada sinyal ponsel itu, Mas Ipung adalah pemangku. Pemimpin adat, ujung tombak pelaksanaan ritual Hindu dalam satu pura di banjar sekaligus pelayan masyarakat dalam urusan adat. Dia hidup untuk orang-orang di sekelilingnya: warga desa--kanak-kanak hingga kakek-nenek--dan orang-orang kota yang ingin rehat sejenak dari kesibukan rutin membosankan (salah satunya saya).

Mas Ipung tinggal di rumah sederhana semi permanen berlantai semen. Katanya sih rumah itu dulunya kandang sapi. Menurut salah satu teman saya, tempat Mas Ipung itu adalah lokasi tepat untuk mempraktekkan the art of doing nothing. Dari pintu masuk, jika malam cerah, kami dapati secarik pemandangan laut dengan kelap-kelip lampu perahu nelayan di kejauhan yang diapit dua buah gundukan hampir sebesar gunung. Paginya, jika ingin membuat minuman hangat, seduh saja teh dan petik jeruk nipis dari halaman. Voila! Your own hot fresh lemon tea!

Saya nggak sengaja mengenalnya setahun lalu. Awalnya teman-teman baru saya di Bali penasaran bagaimana jadinya jika saya, sebagai skeptis-rasionalis (untuk tidak menyebut ateis), bertemu dengan spiritualis rock n roll van Subaya. Saya ditakut-takuti dengan kemampuan Mas Ipung yang lancar membaca pikiran orang lain seperti membaca koran. Saya nggak suka. Bagi saya, benak adalah benteng pertahanan terakhir paling pribadi bagi setiap manusia tempat dia bisa menyimpan segalanya yang tidak ingin diketahui orang lain. Dan membaca pikiran orang lain adalah sama dengan pembobolan privasi. Setipe dengan firewall breaching, security hacking, atau rooting gadget Android.

Suatu sore saya tiba di Subaya yang rasanya seperti berada di kulkas. Saya berhasil mendaratkan pantat di karpet buluk, nyempil di antara gerombolan begundal baik yang saya panggil teman, dan diberi gelas berisi cairan bening penghangat tubuh. Beberapa menit kemudian Mas Ipung sudah di sebelah saya, menyodorkan tangan dan senyuman lebar di bibir. Saya sudah agak tipsy, namun berusaha alert. Saya ingat betul tentang mind reading-nya. Tapi saya seperti hilang dalam sepasang mata teduh yang hampir selalu menyipit karena pemiliknya tak pernah berhenti tertawa lepas atau tersenyum.

Kemudian kekhawatiran saya terjadi. Entah bagaimana, dalam lingkaran besar kawan-kawan yang duduk bersila, saling bercanda, bernyanyi dan memetik gitar, dan dengan gelas arak yang teratur berkeliling, kami ngobrol berdua. Topiknya? Keyakinan! Dan itu bikin saya mendadak segar karena kepala saya terpaksa bekerja. Saya baru sadar beberapa saat kemudian bahwa saat itu juga saya sudah diretas. Namun bicara dengan Mas Ipung tentang ke(tidak)yakinan sama sekali tidak perlu berargumen atau memasang benteng virtual berupa autopilot mode iyain-aja-biar-cepet (hal yang sering saya lakukan jika bertemu dengan mereka-mereka™ dari Departemen Urusan Keyakinan Orang Lain). Dia mengerti. Dan baginya berkeyakinan atau tidak bukanlah yang terpenting. Namun menjadi orang baik, itu harus. Mas Ipung menyamankan. Perlahan adegan Miyabi yang saya replay berkali-kali di kepala saya pun memudar. Saya paham Occlumency Mas Ipung terhadap saya itu hanya salah satu cara mengenal tamu barunya. Dan saya yakin Mas Ipung juga paham bahwa Legilimency otomatis yang saya terapkan adalah bentuk insting bertahan.          

Beberapa hari yang lalu teman saya mengabarkan bahwa Mas Ipung meninggal dunia di Bandung akibat infeksi saluran pernafasan. Saya tidak tahu harus bereaksi apa. Untuk bersedih, saya sudah dari dulu bersedih karena medan ke Subaya perlu kemahiran lebih tinggi daripada kemampuan saya nyetir motor dan tidak memungkinkan saya mendamparkan diri sendirian ke sana, sementara saya terlalu belagu untuk minta diantar. Saya juga sedih melihat Mas Ipung bermata sedih melepas kami pulang satu persatu, mengingatkan saya pada almarhumah Nenek yang bersikukuh tinggal di dalam kamar saat semua anak-cucunya akan kembali ke Jakarta sehabis berlebaran di rumahnya. Kehilangan? Saya sudah lama rindu ketemu Mas Ipung lagi, nggak untuk ngobrol berat-berat, tapi untuk mentertawakan hal-hal konyol yang dia ceritakan tanpa malu. Ternyata pertemuan saya yang pertama itu hanya menjadi satu-satunya tanpa sempat berulang. Tapi saya ingat kehangatan kata-katanya ketika menawarkan kamar suci dengan banyak benda ritual dan harum wangi dupa mengambang dalam ceruk sejuk bertirai berat sebagai tempat saya "meditasi" berzikir lagu-lagu Homicide yang dia bilang "musik teriak-teriak". Dan meskipun saya bukan satu-satunya, saya bangga karena saya pernah dimintain cium di pipi Pak Pemangku yang keren tapi tirus, berkerut dan kering itu. Hihi. Rasanya itu lebih baik daripada diminta cium tangan.

Saya skeptis dengan kehidupan setelah mati, dengan surga dan neraka, dengan nilai benar-salah, dengan norma, dengan aturan, dengan hukum, dengan keyakinan. Semuanya bisa didebat. Semuanya bisa dibuktikan sebaliknya. Saya juga tidak mudah percaya dengan ketulusan dan kebaikan orang lain yang katanya tanpa pamrih, karena semua hal adalah transaksional, apapun bentuknya. Tapi bersama Mas Ipung dan teman-teman di Subaya, waktu seperti terhenti. Yang ada hanyalah saat itu, the moment, the laughter, the stories, dan beberapa celetukan nakal ketika dia "skimming" ke salah satu kepala kami, dan hanya si pemilik kepala yang terkejut kemudian salah tingkah. Dan dia, salah satu orang yang mengembalikan kepercayaan saya bahwa manusia bisa berbuat baik hanya karena ingin berbuat baik tanpa alasan apapun, sekarang hanya tinggal nama.

But still you live forever in our memory, Mas Ipung. We missed you already.  

Photo courtesy of Facebooknya Mas Hendra, bos Bali Orange slash Bali Outbound--asal semua hal bermula.





Labels:

Karena Klien adalah TUHAN!

Posted by The Bitch on 12/16/2013 11:48:00 PM

Screenshot dari sini


None are more hopelessly enslaved than those who falsely believe they are free
Johann Wolfgang von Goethe

Berita hari ini bikin saya relapse, mengenang lagi masa-masa jadi Supporting PR khusus media monitoring di sebuah agensi kecil di pojokan Jakarta Selatan. Lembur? Oh, everyday is lembur day. Seminggu pertama saya bekerja, saya sudah harus pulang jam 4 pagi karena approval klien untuk launching besok pagi baru masuk pukul 8 malam. Lalu berlembar-lembar media kit yang harus saya terjemahkan (karena klien adalah perusahaan IT multinasional), dan berbaris-baris kolom excel menyusul sebagai laporan post-event. Belum lagi berbagai report berkala dan tematik. Dan jangan tanya berapa rim kertas kami habiskan dalam setahun untuk monthly report bagi 3 divisi berbeda. Bagus lah semua didigitalkan dalam keping cakram data.

Peraturan kantor bagi saya agak dilonggarkan, sih. Karena nggak ketemu klien, saya boleh bercelana pendek, kaos oblong dan sandal jepit. Itu surga banget, karena teman saya yang Junior PR harus berpakaian rapi dan siap sedia ditenteng meeting. Tenggat saya jam 10 untuk daily report ke klien dan biasanya sedikit, kecuali kalau ada event. Makanya saya bisa datang pukul 9.30. TAPI, saya nggak punya tandem karena saya dedicated buat klien. Saya nggak boleh sakit, nggak boleh cuti. Pernah suatu kali perut saya bermasalah, dan OB kantor datang ke kos, membawakan materi yang harus saya report. Dan saya mengetik report tentang klien sambil kabur ke toilet setiap 15 menit. Blah!

Suatu hari saya tertegun memandangi berlembar-lembar peraturan tentang HPH yang harus saya terjemahkan dalam bahasa Inggris. Saya datangi Account Manager, karena saya nggak suka mem-backing perusak hutan. Dengan nada disabar-sabarkan, AM saya bilang, "Pito, pekerjaan PR itu seperti pengacara. Nggak semua tertuduh ternyata bersalah. Kita cuma kasih hak bicara kepada klien karena pemberitaan media sudah membuat opini publik. Jadi, ini cara klien menyuarakan kebenaran." Macam saya bisa diyakinkan dengan omongannya itu. Tapi untung saja kantor saya nggak menang pitching. Tangan dan pikiran saya batal kotor.

Saking seringnya saya lembur, saya sudah jadi doktor--mondok di kantor. Kantor yang menempati salah satu rumah mewah ini sering saya manfaatkan untuk mandi air hangat dengan shower sehabis begadang garap laporan. Saya punya loker pribadi di laci meja kerja yang lumayan besar. Isinya pakaian dan baju dalam bersih serta perabotan mandi. Saya bahkan dibelikan bunkbed sendiri kalau bosan tidur di sofa yang lumayan bikin punggung pegal. Managing Director saya super baik, dan ternyata tantenya dosen saya dulu. Saya sering dipanggil makan siang alih-alih dimarahi karena report yang berantakan atau tenggat yang luput. Tapi jangan tanya Account Manager saya. Silsilahnya yang sebagai keponakan Ibu MD membuatnya nyaris suci. Jika ada kesalahan, itu adalah kesalahan bawahan. Padahal saya sering melakukan pekerjaannya karena saya nggak sabar nunggu dia selesai mendengar curhat personal klien kami, pukul dua pagi.

Apakah kami digaji besar? Nggak juga. Standar. Tapi karena saya nggak punya ijazah maka bekerja di kantor PR seperti membalikkan omongan keluarga besar bahwa saya nggak akan jadi apa-apa. Tapi pembuktian ini teramat sangat berdarah-darah.

Rekan seruangan saya sempat menutupi dirinya mengidap leukemia. Kami nggak pernah sadar bahwa setiap event besar yang biasanya Jumat sore, dia harus menghabiskan akhir pekan di rumah sakit karena kelelahan. Saya pikir adalah hal biasa kalau dia nggak balik ke kantor dan langsung pulang. Ternyata dia harus bergegas cari taksi ke RS langganan sambil menahan darah mengucur dari hidung. Dan ketika akhirnya dia mengaku sakit pun beban pekerjaannya tidak berkurang. 

Tapi selama berada di "padepokan" itu, kami banyak dapat pelajaran. Buat teman saya yang leukemia, ini adalah pembuktian bahwa dia mampu mengaplikasikan ilmu yang dia dapat dari kampus Jaket Kuning, pembuktian bahwa penyakit is nothing, pengisi waktu luang dengan sesuatu yang menyenangkan (sekaligus melelahkan) karena toh gaji yang dia dapat tidak seberapa dibandingkan uang tunjangan dari bunga deposito keluarganya. Buat saya, ini adalah tiket untuk merdeka. Bisa jalan, nongkrong, bela-beli pakai uang sendiri, untuk nggak diomongin sebagai beban keluarga, untuk mendiamkan mulut-mulut nyinyir bahwa saya yang jomblo kronis tanpa ijazah ini masih bisa nyetor uang ke rumah, bisa kerja di kantor PR tanpa harus dandan cantik dan tanpa harus jadi kurus, dan bisa nyicilin motor untuk Babab. 

Kami merasa senasib menghadapi klien dan tumpukan permintaannya dengan budget yang tiap tahun makin berkurang, AM dan AE sengak, dan bahkan finance yang seringkali nggak ngerti jalur duit klien.         

Lalu ketika saya dan rekan kerja saya itu sudah merasa cukup, kami resign namun masih sering nongkrong bareng. Dia sudah sibuk dengan sekolah fashion-nya, dan saya sibuk jadi copywriter freelance di agensi imut, dekat dengan kantor lama. Saya malah merasa agak dimanusiakan di sini. Kalau ngerjain tenggat di kantor malam-malam, minimal ada nasi goreng atau pecel ayam terhidang. Teman-teman freelance saya juga lucu-lucu. 

Sampai kami dapat kerjaan annual report untuk salah satu bank terkemuka. Saya dan tim berbagi bab demi bab yang harus diulas dalam laporan. Kalau skill kami timpang, ya tinggal editornya aja yang bakalan jambak-jambak rambut kepusingan. Namun saya kerja dalam tim, dan beban kami rata. Kerjaan yang bikin kami stress membuat kami ngelawak melulu. Prambanan Project sih sudah terlalu sering. Membangun 1000 candi semalaman itu nggak ada seupil-upilnya sama apa yang kami kerjakan. Merombak layout dalam waktu kurang dari 2 jam atau menerjemahkan 100+ pages dalam 2 hari... Ah, kami sudah biasa!

Tapi kadang ada yang temen makan temen juga. Pernah suatu tengah malam Mbak Account Executive menelepon, minta slot waktu untuk kerja terjemahan yang harus selesai besok pagi jam 8. Padahal baru beberapa menit yang lalu saya pulang, habis kejar setoran dan 3 hari tidak tidur. "Sedikit kok, Pit. Cuma 35 halaman doang," ujarnya. Saya nggak pakai mikir. Setenang mungkin saya jawab, "Ya kalo dikit mah lu aja yang kerjain, Mbak. Gue mau bayar tidur." Lalu ponsel saya matikan. Benar-benar mati.          

Sejak saya ngantor sampai saya jadi freelancer yang namanya nggak tidur berhari-hari sih sudah hal wajar. Tapi sejarah paman saya yang meninggal karena gagal ginjal akibat kelainan bawaan yang luput ditangani serta kebiasaannya nenggak booster membuat saya nggak pernah menyentuh minuman semacam itu. Paling banter ya cuma kopi tanpa gula. Itu pun disandingkan dengan air bening yang jumlahnya harus lebih banyak dari kopinya. Tapi ya seringnya bablas sih, seharian di kantor bisa sampai 10 mug kopi. Minimal. 

Waktu saya mergokin AM saya telponan sama klien jam 2 pagi sementara saya berkutat dengan pekerjaannya itu, dia sama sekali nggak merasa bersalah. Seselesainya, dia bilang, "ini salah satu tugas jadi PR. Kadang-kadang suka cair antara personal dan professional. Tapi ya namanya servis, harus all in, biar klien nggak lari." Begitu katanya. Dan saya nggak setuju.

Di tempat freelance, pertama kali saya harus menggantikan meeting salah satu copywriter karena dia berhalangan, saya diwanti-wanti oleh Om Boss. "Tugas lu cuma revisi doang. Ini klien kakap, Korean. Lu mesti ati-ati, tapi mesti tegas. Kalo nggak ntar dia minta macem-macem." Lalu saya berangkat dengan moda ke medan perang. 

Sampai di kantor minyak punya Mr. Korean, kami harus langsung kerja. Well, saya doang sih yang kerja. AE saya cuma harus sit there and being pretty karena semua komunikasi dalam bahasa Inggris cuma bisa melalui saya. Ternyata dia nggak hanya minta revisi konten, tapi juga layout. Dia nggak cuma perlu copywriter, tapi graphic designer. Karena miskom ini lah saya harus rela merevisi lewat notes PDF, mencarikan tagline dan catchphrase yang tepat, dan semua dilakukan dalam suasana eksekusi. Bahkan pekerja lokalnya pun seringkali meminta maaf karena bos mereka sering kasar dan memaki dalam bahasa Korea. 

Saya harus tinggal sampai hampir jam 1 malam, sampai graphic designer dan copywriter senior pengganti datang. Mr. Korean heran karena saya beres-beres perabotan lenong. Dia nggak mau saya pulang. Katanya, ini tanggungjawab saya. Padahal saya sudah delegasikan kerjaan, dan saya beritahu kalau pengganti saya lebih senior, dan AE yang nggak ngapa-ngapain tapi dia lirikin terus itu punya anak kecil yang perlu mamanya. Waktu dia marah-marah sambil menahan ransel saya saat saya bangkit mau pulang, saya muntap. Dengan marah saya teriak, "FUCK YOU! We're going home!" Untung saja Om Boss saya baik. Balik ke kantor saya malah mendapat tepukan di pundak karena bertindak tepat.

Dulu saya malas mengaku kerja di agensi PR. Saya selalu bilang "memburuh di pabrik topeng" atau "jadi ronin" untuk menyebut kerja freelance, karena ya memang seperti itulah pekerjaan saya sesungguhnya. Memproduksi citra, menjalankan marketing strategi, padahal beberapa produk yang launching seminggu kemudian terbukti sebagai produk gagal dengan banyaknya keluhan di surat pembaca. Namun saya banyak belajar tentang busuknya korporasi. Tentang bagaimana sistemasi tekanan dari klien ke MD turun ke AM dan berakhir ke Junior dan Supporting PR yang ditekan paling gila. Atau dari klien ke AE dan turun ke freelancer tanpa sang AE tahu seberapa kemampuan para freelancer kebebanan kerjaan. 

Itu semua sedikit cerita-cerita saya bekerja di industri begituan. Mungkin saya ketiban apes aja, ngantor di tempat yang manajemennya kekeluargaan (atau berantakan, bahasa jujurnya). Ada juga kok perusahaan PR yang manusiawi, yang jam kerjanya pas 8 jam sehari, yang kalau lembur tertib dapat kompensasi, dapat bonus, dan jalan-jalan ke luar negeri. Ada juga kok anak PR yang masih bisa bikin project pribadi semacam Coin A Chance yang digawangi Hanny dan Mbak Nyai. Tapi ya itu. Pintar-pintar saja memilih tempat kerja. Cerdas lah mau jadi bawahan orang yang seperti apa.   
        
Namun satu hal yang dipegang teguh sebagian besar atasan: bahwa klien adalah Tuhan. Dia Maha Pemberi Project, Maha Pengasih Budget, dan Maha Memperbaiki Portfolio. Untuk Sang Maha Klien-lah kita harus memuja, menjilat, dan membuat segalanya jadi mungkin. Kita bebas jadi diri kita sendiri, merdeka mau ngapa-ngapain pun sampe njengking-njengking. Tapi ketika Sang Maha Klien memanggil, kita harus patuh dan tunduk memenuhi panggilanNya. Bahkan ketika harus kehilangan diri sendiri, ketika harus kehilangan kemampuan berpikir sendiri, ketika harus mempercayai kebohongan yang tiap hari didengungkan di telinga kita oleh teman-teman kerja sendiri. 

Saya nggak suka seperti itu. Dan saya bukan robot yang bisa diperintah-perintah. Jadinya ya... Saya cabut lagi. Karena saya memang sudah tidak bertuhan sejak dalam pikiran.


  


Labels:

Hello Again, 15!

Posted by The Bitch on 12/16/2013 12:00:00 AM

Gambar nyomot dari Wiki


You'll know your true friends not at your shiniest moments but at your darkest times. Cherish them


Jadi, hampir semingguan ini saya invalid. Nggak bisa keluar beli makan, nggak bisa klabing (klayapan bingung) pake motor. Nggak bisa nongkrong atau ngopi-ngopi unyuk di mana kek gitu. Semua gara-gara koreng yang pas terletak di tempat-tempat strategis, yang ketekuk sedikit aja sakitnya tembus sampai ke anus.

Di email resign dari tempat kerja akhir November lalu saya bilang kalau saya sudah kewalahan menjalankan kehidupan ganda, antara jadi manusia biasa dan jadi superhero. Akhirnya saya harus memilih, dan pilihan jatuh pada superhero. Selasa malam kemarin itu adalah salah satu prasyarat yang harus saya tempuh untuk mendapatkan superpower, yaitu mengadu muka dan kaki ke aspal. Ternyata saya lupa mengakifkan kemampuan itu. Jadinya ya nyonyorlah dagu dan betis kanan dan perut kiri dan kedua tangan. Hanya kaki kiri saya saja yang mulus tanpa luka. Tapi memar membiru di beberapa tempat. Dan benturan di jidat membuat saya terlihat seperti mahluk hibrid antara Kaiju dan Hell Boy.

Namun satu hal yang membuat saya nggak blangsak banget, karena saat kejadian itu saya bersama seorang partner in crime yang menguntit ketat di belakang dengan motornya sendiri. Kami habis nge-date threesome bareng seorang ibu cantik baik hati dan membicarakan project urek-urek. Saya kepenuhan adrenalin, karena apa yang mereka bicarakan adalah project saya juga yang nggak selesai-selesai sejak dinosaurus masih menguasai bumi. Lalu setelah threesome sampai lemes, saya dan si partner ini cengengesan di parkiran, nggak bisa ngomong apa-apa. Dia tahu saya tahu, bahwa apapun yang kami inginkan memang akan mendapat jalan, lengkap dengan howto-nya. Sebab semua perihal kesabaran menunggu tepatnya waktu.      

Namun entah pikiran yang terlalu penuh atau nasib yang terlalu apes, ujian itu datang juga. Ya marut kaki ke aspal itu tadi. Tapi dia sigap menunggu saya siap bangun, meminggirkan motor sewaan dengan satu spion berantakan dan udah nggak jelas bentuknya, mengecek reflek saya, dan menghubungi orang-orang yang tepat, yang nggak bakalan panik dapat kabar saya nyungsep.

Lalu terjadilah episode mencoba lucu di hadapan kapas beralkohol pengusap luka, karena menangis (apalagi teriak) sangatlah nggak lady-like. Atau pito-like. Lalu partner in crime lainnya datang menembus malam, mengendarai motor berantakan yang teronggok di parkiran BPD, sejauh lebih dari 10 km. Big Guy lembut bersuara pelan ini yang sabar sekali mengurusi saya saat kesakitan, bolak-balik membelikan saya makan dan pesanan, nyengir kalau saya mendadak marah-marah, mendisiplinkan dan mengajak main Hamilton, puppy blang bungkem asuhan saya selama ditinggal mommynya, bahkan menunggu saya creambath karena 4 hari nggak keramas itu menyiksa sekali.  

Sampai di kos induk semang saya bertandang, menanya kabar sambil mengernyit ketika melihat mahakarya saya. Lalu dibikinkannya saya jus tomat hangat karena gerimis sedang menitik, dikumpulkannya bebuahan siap santap karena saya bilang habis menyeduh mie instan. Besok saya akan dihantarkan makan, jika kamar saya sudah ada tanda-tanda kehidupan, ujarnya.

Dalam masa penyembuhan saya sering bengong dan mengingat beberapa kejadian yang membuat hidup saya berputar 180º. Hijrah saya ke Bali demi mendamaikan naluri ibu saya yang khawatir anaknya tidak punya keyakinan. Kebosanan saya di tempat kerja padahal saya bisa berenang di bandwidth. Pilihan saya untuk keluar dari zona nyaman. Orang-orang baru yang datang. Orang-orang lama yang pergi. Pasangan-pasangan jiwa yang lain lagi. Terjun bebas tanpa parasut dan memasrahkan siapapun di bawah sana untuk menangkap saya. Semua itu lebih efektif daripada menenggak painkiller pemicu alergi yang membuat muka saya seperti Klingon, sambil sesekali meringis menahan tangis saat koreng tertekuk ketika mau pipis.

Dan hari ini 15 di bulan terakhir. Biasanya saya selalu matikan ponsel atau tidur seharian saat hari ini datang. Namun dia selalu tepat waktu. Setahun sekali berkunjung tanpa alpa. Dan saya selalu merasa kaku, entah bersyukur atau menyumpahserapah ketika dia menggedor pintu.

Tapi tahun ini tidak. Saya memutuskan, sejak Januari, bahwa saya akan bersyukur. Meskipun sedang jobless. Meskipun sedang nyonyor. Meskipun masih saja jomblo. Saya bersyukur untuk apapun dan siapapun yang membuat saya hidup dalam mimpi saya sejak lama: jadi manusia merdeka dan punya teman sejati.

Tahun ini saya tidak mau mengenang mati. Saya ingin murni merayakan hidup, sepenuh-penuhnya.

Terima kasih, 15!

Holstee Manifesto. Life manifesto




Labels: