"Fuck!" Say I
Because nobody rules over my thoughts. Live with it.
Catatan Kecil tentang Kekerasan
Posted by The Bitch on 3/15/2012 05:44:00 PM
![]() |
| Salah seorang penyintas suku Hutu yang disiksa oleh Milisia Hutu ‘Interahamwe’. Dia dicurigai bersimpati pada pemberontak Tutsi di Rwanda, Afrika. ©1994 James Nachtwey, USA, Magnum Photos for Time. |
The Roots of Violence: Wealth without work; Pleasure without conscience; Knowledge without character; Commerce without morality; Science without humanity; Worship without sacrifice; Politics without principles.
- Mahatma Gandhi
Bayangkan…
Ada mbak cantik-seksi-wangi-cerdas yang dibanting pacarnya, dikata-katain lonthé nggak laku di BBM maupun di depan mukanya. Lalu ada mbak Kaukasian yang tambah dibengepin lagi oleh suaminya waktu bengepnya nggak bisa disamarkan dengan perangkat dandan saat mereka hendak kondangan. Kemudian ada lagi mbak-mbak pekerja di LSM anti-kekerasan yang lebam-lebam karena pasangannya selama dua belas tahun mendadak bersumbu pendek dan hal kecil bikin dia ringan tangan. Dan dalam semua peristiwa itu, para penyintas—survivor—hampir terlambat diselamatkan.
Itu semua nyata. Saya ceritain lagi dengan banyak sekali bagian yang dipotong saking nggak masuk akal sadisnya. Dan kalau mau buka mata dan telinga, kejadian yang mirip seperti itu ada di sekitar kita. Nggak cuma di kelas pekerja yang kadang kita sering sok tahu dengan berkomentar “oh, pantes aja bininya dipukulin mulu. Lha wong setres upahnya kecil, anaknya banyak dan kebutuhannya segabrug.” Sama sekali nggak. Kekerasan melintasi batasan usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan, sifat, gender, ras, zat/narkoba yang digunakan. Itu murni potensi dalam diri manusia, sebagaimana sifat baik dan jahat. Jangan salah. Nggak cuma perempuan yang jadi korban. Seringkali (namun terhitung jarang) laki-laki juga terpapar kekerasan yang membuat mereka juga jadi penyintas.
Ada semacam siklus dalam kekerasan. Ada fase honeymoon saat si pelaku sedang baik sekali. Lalu build up tension ketika dia mulai “panas”. Hal-hal kecil yang di mata orang lain adalah remeh terkadang bikin dia murka luar biasa dan gampang naik darah. Lalu tindakan kekerasan terjadi saat pelaku mulai bertindak kasar dan agresif. Kemudian muncul fase penyesalan ketika pelaku "sadar", jadi luar biasa manis, minta maaf sampai nangis-nangis dan super romantis bawa-bawa coklat dan bunga. Kemudian kembali ke fase honeymoon. Dan siklus pun berulang.
Bagi orang-orang yang biasa hidup bareng pelaku kekerasan semacam itu, mereka sudah hapal betul fase-fasenya. Dan biasanya jika sudah sampai build up tension, mereka (terutama perempuan) cenderung memencet tombol fast forward untuk mempercepat proses, biar siklusnya buru-buru ke fase baik lagi. Apa? Kenapa mereka nggak langsung lapor? Well, ternyata banyak faktornya. Meskipun si penyintas ini sadar tentang kekerasan pun, ternyata malu, ketergantungan (dalam hal apapun, termasuk seks, finansial, dan status sosial) dan pride menjadi penghalang untuk membuka ketidakadilan yang menimpa mereka. Dan seringkali penyintas malah disalah-salahin oleh lingkungan yang seperti membenarkan kekerasan yang dilakukan pasangannya. Misalnya "ya pantes aja lu digebugin laki lu. Lha elunya ngeselin sih." Atau yang lebih parah, memakai ayat-ayat dari kitab suci untuk mendukung tindakannya.
Dalam sistem keluarga sendiri, anak yang terbiasa terpapar kekerasan ternyata reaksinya bisa berbeda-beda. Ada yang karena sering melihat ibunya digamparin bapaknya, dia jadi ikutan melakukan hal yang sama dengan asumsi "oh, boleh lho mukulin bini sendiri. Bokap gue juga gitu kok." Ada yang justru jadi rebel dan anti kekerasan. Dan ada juga—dan menurut saya paling parah—dijadikan sekutu bapaknya untuk memperbudak ibunya.
Menurut yang saya baca di sini, kekerasan yang berasal dari bahasa latin violentus—violence dalam bahasa Inggris—punya akar kata vī atau vīs yang artinya kekuasaan atau berkuasa. Jadi, kalau mau menelusuri akar seakar-akarnya akar, kekerasan itu adalah nggak lebih dan nggak kurang dari pelestarian kekuasaan dengan teknik penindasan. Buat saya itu nggak asyik. Nggak keren sama sekali karena nggak cerdas. Cuma main otot, bukan main otak.
Lalu bagaimana dengan penyintas dan pelaku?
Yang menarik, menurut mbak aktivis kekerasan berbasis gender yang pengalamannya saya todong buat nulis ini, ternyata support system terkuat—dan akar terkuat terjadinya kekerasan—berasal dari keluarga sendiri karena keluargalah tempat semua manusia bermula. Keluarga juga yang membangun fondasi awal karakter manusia. Namun jika ternyata kekerasan itu justru terjadi dalam keluarga, ada keluarga “sambung” yang saling mendukung para penyintas dan tempat curhat yang tepat didampingi para ahli. Namanya Lentera. Bisa dikontak lewat surel di alamat lenteraID@gmail.com atau @lenteraID di twitter. Jangan khawatir identitas dan “aib” terungkap. Semua kerahasiaan terjaga.
Untuk para penyintas maupun sahabat, kerabat dan kenalan yang punya masalah terhadap kekerasan, berikut ini kontak-kontak untuk pendampingan, support group dan pengaduan:
- Butuh konseling setelah mengalami kekerasan/kekerasan seksual? Kontak @YayasanPulih di 021-7884 2580/0888 181 6860
- Desk pengaduan Komnas Perempuan untuk perlindungan kekerasan terhadap perempuan: 021-390 3963
- Butuh pendampingan hukum untuk kasus kekerasan/kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak? Kontak @LBHAPIK di 021-8779 7289
- Mengalami kekerasan seksual (pelecehan/pencabulan/pemerkosaan)? SMS iNSPiRasi Ind. @NSPR12 di 0896 3727 1332
- Advokasi kesehatan reproduksi; info segala hal tentang aborsi, kontak SAMSARA di 0819 889 240
- Tim advokasi perempuan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI): 021-791 83 221/791 83 444
- Desk pengaduan kekerasan/kekerasan seksual terhadap anak, kontak Komnas Perlindungan Anak: 021-8779 1818 dengan Dwi atau Benny
Khusus yg ada tanda "@"-nya bisa di-mention via twitter.
Saya sudah cukup melihat dan mengalami kekerasan. Waktunya potong siklus. Yuk!
Labels: The Higher Consciousness
Jelata Menggugat!
Posted by The Bitch on 3/11/2012 05:13:00 PM
![]() |
| Gambar dari sini |
Dear para seleb dunia maya—yang beberapa diantaranya mungkin adalah teman saya,
Sebelumnya maafkan saya yang bukan siapa-siapa ini karena berani nulis yang bakal bikin telinga menghangat dan benak berputar mencari pembenaran. Tapi saya tetap akan melakukannya karena saya, jelata, sudah muak dengan kelakuan kalian yang semena-mena meng-abuse posisi. Dan ini alasannya:
1. Kicauan yang nggak strategis
Oke, kalian berniat baik membagi informasi tentang apa yang kalian tahu. Tapi membanjiri linimasa dengan hal-hal yang bisa saya baca sendiri tautan Wikipedia-nya adalah kesia-siaan dan buang-buang energi. Mendingan ngasih kuliah twitter dari pengalaman sendiri dan nggak ada tautannya. Even better: MENULIS! Jangan bisanya cuma berkicau, mantun nggak jelas tapi melempem kalo diajak nge-G+ atau ngeblog macam menkominfo. Terus ngeblok deh kalo diprotes. Dihidupkan lagi itu blog yang udah hiatus berabad-abad sampe ditempatin sarang laba-laba (atau malah lupa punya hosting dan telat bayar?). Tulis dulu, kasih tag yang bener, nyalain RSS Full (jangan sepotong macam fakir visitor) biar jelata-jelata ini bisa search pakai Google Reader. Habis itu baru deh nge-blast berbusa-busa di twitter. Oh, dan hentikan kata-kata sok baik-tapi-kosong-berbunga-harum-suci-mewangi-macam-vagina-perawan-desa yang mampat dalam gempuran frasa singkat. Saya bisa follow Bapak Mario Teguh Yang Maha Mulia Tak Berdosa untuk mencuci otak saya dengan selalu berprasangka baik. Cobalah untuk tidak tampil vulgar di panggung rezim 140 karakter. Punya malu dong sedikit. Kalian sudah terbukti dan teruji kok dengan pengikut yang jumlahnya segabrug gajah itu. Belum lagi yang meng-RT kicauan kalian dengan komentar puja-puji setinggi surga. Yakin itu tulus semua nge-RT-nya? Bukannya cuma mau ngejilat pantat aja biar di-mention karena kalian selalu menayangkan kembali puji-pujian para jelata social climber?
Dan kalau twitwar yang elegan lah. Kalau ada jelata bertanya maksud kicauan kalian yang berpotensi sebagai friksi, jawab sendiri dong. Nggak usah nunggu jelata lain membela kalian. Ksatria, gitu. Habis berak jangan nunggu dicebokin orang. Kecuali kalian udah jompo, nggak bisa ngapa-ngapain dan cuma terkapar di tempat tidur nunggu mati. Kalo kalah ya nggak usah sampe tutup akun segala terus dibuka lagi tapi gembokan. Jatuh itu sakit, tapi manusiawi. Reputasi nggak dibangun dalam semalam, itu betul. Kalau kalian bisa berdiri lagi dari tumpukan tai, kalian bakal selalu diingat lho sebagai manusia tangguh. Respek yang kalian dapat juga jauuuh lebih besar. Dan please, hindari ngelés bodoh melalui kata-kata yang sebentuk dan sebangun dengan “twit aing kumaha aing, nggak suka ya unfollow aja”. Sebagai pekerja-pekerja digital, kalian nggak mau kan kehilangan calon klien hanya karena kicauan yang menodai citra kalian sebagai mahluk berakal? Jangan sampe lah karena nila setitik rusak susu sebelahnya. Jagalah hati, jagalah susu. Pijat dan kasih minyak bulus biar kekenyalannya terjaga, kencang menantang melawan gaya gravitasi.
Dan saya juga yakin follower-follower kalian bukan orang-orang tak berotak. Hentikan misinformasi. Jujurlah. Mungkin kejujuran nggak ada dalam jobdesc, tapi hubungan personal kalian menuntut itu. Engagement, ring a bell? Kalau nggak berani jujur, alihkan dengan fakta tapi jangan dibikin-bikin. Apalagi bawa-bawa Tuhan dan pahala. Hadeuh, kalian ini cyber-seleb apa Habib sih?! Jangan rancu dong! Pilih salah satu! Kalau memang oportunis pengen jadi cyber-Habib masa kini, berdakwalah dua arah. Sekarang sudah post-jahiliyah. Boker aja bisa sambil online. Cerdaslah. Demokratislah. Siap-siap dikritik sambil berlapang dada.
2. Blog post berbayar
Saya tahu betul bagaimana kalian membangun reputasi dari nol, sebagai blogger biasa yang tulisannya cuma curhat sehari-hari sampai akhirnya bisa dihargai tujuh juta rupiah sekali posting. Nggak, saya nggak ngiler dengan duit segitu. Saya cuma ngiler kalau tidur miring dan mulut nganga. Silakan menganggap saya sirik karena nggak ada yang ngelirik halaman anti-sosial ini. Lapak nyari duit mah masing-masing. Tapi mbok ya jangan segitunya lah jilat pantat klien, nulis produk dengan bahasa berbunga-bunga. Advertorial aja nggak gitu-gitu amat kok. Belajar lagi deh the art of communication. Bukunya banyak, meskipun kalau mau rujukan bagus ya tetep terbitan luar dan berbahasa Inggris sih. Tapi kalau mau Googling hari gini juga udah banyak kok yang nulis kayak gitu dalam Bahasa Indonesia. Atau sana menyimak kelas gratisan para suhu media. Udah ada Akber atau Sharing Keliling tuh yang sering ngadain workshop macem-macem. Nggak usah pada belagu sok keminter nggak mau ikutan kelas karena merasa udah jago, atau karena panitianya temen sendiri. Ilmu mah nggak kenal batasan. Pikirin tuh lapak nafkah dan—lagi-lagi—reputasi.
Kalau blog kalian sudah terlanjur jadi lapak jualan yang isinya tulisan tentang produk, diimbangin dong dengan cerita personal seperti dulu. Kasihan lho para pemantau setia yang jadi sasaran tembak iklan-iklan kalian. Biasanya sih para jelata itu udah pada maklum banget kalo kalian berubah haluan. Liatin aja komen-komennya. Itu ungkapan rasa sayang mereka ke kalian. Dan menurut saya sih gimana kalian membalasnya itu ya dengan ngasih jendela tempat mereka bisa ngintip kegiatan kalian sebagai individu, sama kayak mereka juga. Rasanya nyaman ketika tahu bahwa “dewa sesembahan” ternyata manusia juga. Been there, done that. Dan itu nggak bikin dewa saya berkurang kedewaannya. Serius.
3. Nyinyir nggak berkelas
Emang sih, ngomongin orang pake nyindir-nyindir itu tetep aja jadi sesuatu yang sangat mengasyikkan. Kalian seperti punya kumpulan eksklusif sendiri di ranah publik media sosial—twitter, facebook, G+, forum, sebutin aja—tempat kalian bisa ngomong frontal tentang sesuatu yang memancing rasa penasaran para jelata. Tapi bukannya kalian malah merendahkan intelejensi sendiri ya kalo gitu caranya? Kalo emang nggak suka sama tindakan seseorang—yang juga temen sendiri—mbok ya ngomong langsung sama orangnya. Teman yang baik itu ngasih tau kalo temannya mau jatuh, bukan malah ngediemin atau malah mendorongnya jatuh lebih dalam. Kecuali kalau udah dibilangin tapi orangnya nggak mau dengar, itu baru boleh dibantai *insert suara ketawa Plankton-nya Spongebob here*
Tapi yang mau saya huruftebalkan sih sebenernya masalah eksploitasi. Seringkali kalau pada ngultwit atau update status facebook pada nggak nyadar kalau “berbagi informasi”nya udah keterlaluan. Niat baiknya jadi ternodai oleh eksploitasi. Misalnya nih, ada seleb yang kasih info tentang anak yang sakit dan perlu pengobatan. Ujung-ujungnya jadi nggladrah, being TMI—too much information, salah satu tautan otomatis di twitter jika pengicaunya melanggar batas demarkasi 140 karakter. Cukupkan berbagi informasi tentang update keadaan si sakit, tempat dia dirawat, kontak yang bisa dihubungi untuk cross-check info, jumlah biaya yang dibutuhin (dan sudah terkumpul berapa) dan nomer rekening jika ada yang mau menyumbang. Nggak usah pakai foto segala dengan caption lebay. Being informative and exploitative batasannya memang setipis jembut dibagi seribu, and you all, dear celebs, should know this better. Awalnya mungkin mau bagi-bagi pengetahuan tapi malah terlihat seperti nyinyir nggak pernah makan bangku sekolahan. Dan aturan mulia yang berlaku dalam tiap aspek kehidupan manusia juga berlaku di sini: bagaimana jika kalian ada di posisi mereka, jadi keluarga mereka? Tega liat gambar anggota keluarga kalian yang sedang sekarat nyebar di internet? Kalau anak itu sembuh dan terus hidup sampai besar, gimana perasaannya melihat dirinya sendiri yang dulu pas kecilnya jelek nggak berdaya dengan begitu banyak selang dan cairan tubuh segitu heboh? Dan kalau si sakit akhirnya meninggal, tega lihat pemandangan di ujung hidupnya hanya untuk menangguk komentar “aduh, kasihan”? FUCK YOU! That’s not the way to sympathize! Eat your own fucking bullshit instead of shoving it down our throats!
Saya bisa ngomong begini karena saya juga punya sahabat cantik yang penderita kanker darah. Tiap dia dirawat di rumah sakit dia nggak pernah mengizinkan saya menengok karena dia nggak mau saya melihatnya dalam kondisi berantakan dan pucat. Bayangkan jika itu adalah kalian. Dan rasanya nggak akan bosan saya sebagai jelata berteriak ke kuping kalian: THINK BEFORE YOU POST!!!
4. Pengakuan? Masih perlu ya?
Itu yang diomongin salah satu begawan wangi pandan sepenongkrongan yang sering saya sedot ilmu nyonthongnya. Beliau ini influencer, wartawan senior dan lelananging jagad pematah hati perempuan-perempuan urban cantik jelita yang dipanggilnya dengan sayang, “cupcake”. Sebagai om-om matang dan kemaki, dia memang nggak perlu pengakuan karena dunia sudah ada dalam genggamannya meskipun jalan menuju ke sana—saya yakin—juga nggak gampang dan tidak sebentar. Saya memang hanya lihat hasil akhirnya—mobil keren, anak-istri yang sehat, cerdas dan terawat baik, perangkat bergerak terkini dan mahal-mahal (meskipun usianya tak bisa menipu karena beliau masih harus memelototi layar padahal jaraknya cuma sejengkal dari pangkal hidung), umat/pengikut/jelata, dan job sana-sini. Kesimpulan saya ya cuma satu: pengakuan? Basi! Sekarang itu yang kelihatan ya pembuktian. Jadi, buktikan dong!
Sudah ya, segini aja. Saya sudah puas ngomel-ngomel. Saya nggak melakukan ini karena saya teman kalian. Saya ini jelata. Dan jelata juga punya suara. Meskipun kalian para seleb memperlakukan popularitas seperti tiran lalu—biasanya—mengerahkan pengikut untuk membully massal mereka-mereka yang tak sepaham. I think I’ll take that risk. Dan kalau sampai itu kejadian dan kita nggak berteman lagi, maaf. Nggak temenan sama kalian juga saya nggak mati.
Nggak suka? Silakan komentar. Mau maki-maki personal? Silakan japri. Kalian tahu kan ke mana mencari saya?
Labels: The Human
Sentimental Sunday: Need A Hug?
Posted by The Bitch on 3/04/2012 09:53:00 PM
Be kind; for everyone you meet is fighting a hard battle.
Katanya sih setiap jiwa memanggul salibnya sendiri-sendiri. Makanya kita mesti berbaik-baik sama orang lain. Kasihan kan kalau salibnya terlalu berat dan muka ramah pun nggak dia temukan di perjalanan. Betul-betul double jackpot apesnya.
Saya jelas bukan orang baik. Tapi muka tong sampah saya yang menjadi tempat muntah bagi beberapa orang asing yang saya temui di beberapa persinggahan mungkin bisa dikategorikan sebagai baik. Nggak, bukan berarti muka saya ramah. Bodoh, mungkin. Dan sepertinya wajah bodoh itulah yang membuat mereka nyaman curhat ke saya karena orang bodoh biasanya mudah percaya dan mudah menyediakan telinga tanpa banyak pertanyaan. “Kebaikan” lain yang mengikuti di saat seperti itu ya hanya diam dan mendengar semampu saya, atau pergi jika saya bosan.
Tapi saya senang demi mengetahui makna dibalik gestur curhat orang-orang itu: mereka mempercayai saya. Itu mewah, lho. Hari gini, yang kenal aja sering tipu-tipu, apalagi orang tak dikenal. Kemewahan lain adalah duduk dan saling bicara hal-hal sepele. Sibuk-sibuknya pekerjaan, menjaga jaringan pertemanan dan bisnis, kemacetan kota yang isinya orang-orang urban, menepati janji temu, semua membuat manusia menjadi terburu-buru, bergegas lekas-lekas, berpusat pada tujuan dan melupakan proses perjalanan itu sendiri. Satu-satunya hal yang diberikan sebagian besar manusia semacam itu hanya jembrengan keluhan di jejaring sosial yang berfungsi sebagai kuping/panggung instan untuk didengar dan tampil mendapat tanggapan dari mereka yang dianggap teman.
Sebentar… Teman? Definisikan “teman”.
Buat saya, teman adalah siapapun yang ada dan bisa saya ajak berbagi apapun saat itu, at the moment. Terutama berbagi cerita dan minuman hangat. Saya tidak harus kenal dengannya, atau malah sudah kenal berabad-abad sebelumnya. Karena saya punya relationship issue—in any kind—saya tak lagi menggenggam teman. Manusia tak bisa dimiliki karena mereka—kami, saya—punya jalan masing-masing. Menggenggam manusia sama dengan menggenggam pasir. Semakin keras genggaman, semakin banyak butirannya menggelincir dari sela jemari, semakin sedikit yang tersisa di telapak. Begitulah.
Menurut yang pernah saya baca (lupa di mana), di abad pertengahan, jika orang—terutama lelaki—mengajak bersalaman dengan tangan kiri tandanya dia percaya. Ini mungkin hoax. Dicek lagi aja. Tapi katanya sih karena tangan kiri bertugas memegang perisai pelindung diri sementara senjata ada di tangan kanan. Mengangsurkan tangan kiri untuk bersalaman berarti melepaskan perisai, membuka tubuh untuk serangan apapun, memasrahkan keselamatan nyawa yang cuma selembar itu bulat-bulat pada orang yang akan diajak bersalaman.
Zaman sekarang gestur saling percaya seperti itu mungkin bisa didapat dari pelukan antara dua orang teman, dimana dua zona personal radius 50 cm dari tubuh melebur jadi satu tanpa penghalang, mengejewantahkan kerinduan, merobohkan benteng-benteng virtual yang dibangun masing-masing individu, berbagi suhu dan bau keringat, melintasi jenis kelamin, preferensi seksual, dan batas-batas kepantasan yang kukuh dipegang orang timur. Pelukan juga kepasrahan diri instan yang begitu hebat hanya dalam beberapa detik karena oleh para profesional gerakan itu bisa meremukkan iga atau menyembunyikan pisau yang terselip lalu menancap di punggung.
Saya nggak pernah menyadari itu sebelumnya sampai suatu hari beberapa orang yang saya anggap belahan jiwa melakukannya. Berbilang tahun saya mengenal lelaki-lelaki yang sudah saya anggap abang saya sendiri, namun berbilang jari saya berhadapan dengan mereka. Nggak pernah saya merasa kehadiran saya begitu sangat diinginkan kecuali oleh pelukan hangat mereka sambil menepuk punggung dengan lembut pada saat kami bertemu atau berpisah. Dan nggak pernah saya merasa begitu telanjang ketika adegan tersebut dilakukan di tempat ramai, dilihat puluhan pasang mata yang sedang melintas di stasiun atau terminal tempat saya menunggu mereka datang atau mengantar mereka pergi.
Awalnya memang canggung sekali. Pertama kali, saya nggak tahu mau ngapain, membalas atau hanya diam mematung. Namun melakukan pilihan kedua rasanya seperti sebuah dusta besar. Bohong kalau saya merasa nggak kangen. Bohong kalau saya menafikan rasa hangat yang sepertinya bermula dari dalam rongga dada lalu menjalar hingga ke ujung-ujung rambut. Bohong kalau saya merasa nggak senang. Jadi, yang bisa saya lakukan hanya membalas. Sepersekian detik kemudian saya mengerti betul artinya sebuah penerimaan yang jujur, tanpa layer-layer tendensius, tanpa tuntutan. Sejak saat itulah akhirnya saya mencoba menularkannya ke beberapa orang sahabat.
Tadi pagi saya sempat ngobrol dengan salah seorang karib yang punya masalah dengan penghianatan. Perempuan yang dipacarinya dua tahun ternyata selingkuh lalu menikah dengan lelaki lain, meninggalkan dia sendirian dengan hati berkeping-keping dan kepercayaan hancur. Namun dia tak bisa melupakan pelukan, terutama ketika gempuran hujan di atap rumah menjalarkan dingin hingga kamarnya di lantai dua. Baginya, pelukan menjadi sesuatu yang sangat pribadi, hanya dilakukan oleh dua orang kekasih. Seperti bercinta. Bagaimanapun saya mencoba memberi pandangan lain, dia tak juga yakin. Saya nggak tahu, mungkin dia masih terluka sehingga benteng virtualnya dia buat tebal sekali sampai tak seorang pun boleh menyentuh kulitnya. Dan saya hanya punya harapan semena-mena: semoga lukanya cepat sembuh dan dia bisa berbagi kebahagiaan lagi tanpa takut sakit.
Dan suatu malam kawan lain bercerita tentang kesedihannya karena memendam cinta sejenis yang tak berani dia bilang ke siapapun. Nyalinya belum cukup besar untuk membuatnya mampu melawan arus dalam keluarga religius-patriarkis dan lingkungan pekerjaan yang sangat chauvinis. Bahkan memberanikan diri untuk bicara pada saya pun perlu satu pitcher cocktail—yang memang sudah dia niatkan jauh-jauh hari. Dan seperti biasa, muka tong sampah saya bekerja. Haha.
Ketika kesadaran hasil segelas susu hangat dan larutnya malam membuatnya terjaga, saya mengantarnya menunggu taksi. Dan begitu saja, di pelataran ruko, tiga langkah dari pinggir jalan yang masih ramai kendaraan, setengah mengantuk dia berkata, “will you hug me?” Saya seperti sedang ditodong pistol di pelipis namun dengan senang hati menariknya dalam pelukan sambil berkata, “of course I will, silly!”
Saya pemeluk amatir. Saya bukan pemeluk impulsif karena melanggar zona personal membuat orang tidak nyaman sebagaimana ketidaknyamanan saya jika zona personal saya dilanggar. Tapi saya akan memberi semua yang masih gratis, termasuk pelukan. Sebagaimana Winnie the Pooh dalam Pooh’s Little Instruction Book berkata, “you can’t stay in your corner of the Forest waiting for others to come to you. You have to go to them sometimes,” jika kebetulan kita bertemu, mintalah pelukan pada saya jika kamu perlu penerimaan instan, kehangatan seorang teman, atau sekadar ingin berbagi sedih tanpa harus bicara. Saya tak menjamin masalahmu selesai, tapi setidaknya kamu akan merasa lebih baik.
Berani?
Labels: The Human
Jumatan: God, Anyone?
Posted by The Bitch on 3/02/2012 05:29:00 PM
![]() | ||
| Gambar dicolong dari http://goo.gl/rhBBg |
Apakah Tuhan...
berkehendak mencegah kejahatan tapi Dia nggak mampu? Berarti Tuhan nggak maha kuasa, dong.
mampu mencegah kejahatan tapi Dia nggak mau? Yah... Tuhannya kejam.
mampu dan mau mencegah kejahatan? Lantas, kenapa kejahatan masih ada?
nggak mampu dan nggak mau mencegah kejahatan? Terus, kenapa masih menyebutNya sebagai "Tuhan"?
-- Epicurus
Jadi, menurutmu gimana?
Labels: The Higher Consciousness
On the Road
Posted by The Bitch on 2/29/2012 05:18:00 AM
![]() |
| Gambar dicomot dari http://goo.gl/LG8SI |
Nggak kok. Meskipun judulnya seperti itu, tapi saya nggak berniat ngomongin kitab suci para pejalan yang ditulis Yang Maha Mulia Nabi Seluruh Petualang Jack Kerouac AS. Saya cuma mau cerita perjalanan Radiodalam-Blok M-Bekasi yang saya lakukan siang-siang pukul satu. Agak aneh memang, karena biasanya saya selalu lebih nyaman pergi malam. Nggak ada terik matahari menikam punggung, nggak ada pemandangan seperti gambar di atas, nggak ada riuh berisik klakson kendaraan yang tak sabar menunggu antrian jalan. Tapi demi menjawab kekhawatiran Bu Anggi, ya saya bela-belain pulang lah biar terbukti masih hidup. Haha.
Ini yang saya temui dalam perjalanan:
1. Pengamen
Iya, banyak sekali pengamen bahkan di satu bis kota, bergonta-ganti nggak saling rebutan. Di Metro Mini 72 itu yang pertama tampil adalah bapak tua bergigi jarang yang ramah sekali. Pas naik saya pikir bis ini mempekerjakan usher selain kondektur penarik ongkos. Setelah beliau bersandar di pintu dan menggumamkan doa-doa dalam bahasa Arab lalu mengedarkan kantong bekas permen, saya baru sadar bahwa bapak itu adalah pengamen. Baiknya si bapak, doanya sama buat yang ngasih dan yang nggak ngasih recehan: semoga Si Enéng sekolahnya lulus, nilainya bagus (sambil nyengir ke salah satu mbak-mbak berseragam SMU); semoga Si Ujang kerjanya bisa bawa duit banyak (lalu mencolek mas-mas rapi yang gelagapan karena nggak nyangka bakal ditunjuk saat dia terkantuk-kantuk).
Tak lama setelah bapak itu turun, masuklah satu bocah lelaki kecil yang masih mengenakan seragam olah raga sebuah SD Negeri di Ciledug dan satu pemain ukulele. Mereka bernyanyi lagu-lagu Islami. Biasa saja. Tapi ya, namanya juga bocah (yang kira-kira masih kelas 2 atau 3). Lagunya sering off-tunes tapi tertolong dengan suaranya yang lucu dan bocah banget. Apalagi kalau dia kehabisan napas di tengah-tengah. Hihi.
Sesudah itu abang-abang berlogat Batak beraroma alkohol, berkulit legam, bermata sedih dan berwajah keras (namun punya suara aduhai keren dengan vibra teratur dan petikan gitar yang nggak asal-asalan). Sepertinya dia punya dendam tertentu karena selesai menyanyi dia "beredar" sambil berkata, "saya ngamen, Om dan Tante, nggak kayak anak punk atau orasi". Kalau nggak digubris oleh penumpang, dia akan mengulang-ngulang kata-kata itu sambil mencolek-colek dengan gerakan intimidatif. Kalau dikasih? Wah, dia akan menghentak keras pada suku kata pertama dalam ucapan "terima kasih, semoga amal rejekinya banyak, semoga nanti masuk surga."
Bang Batak segera berganti dengan mas-mas rada gondrong kriwil yang muka berminyaknya berhiaskan jerawat seperti gemintang menera malam tak berpurnama (halah!). Dia lantang menyerukan kata-kata pembukaan--yang saya juga nggak denger-denger banget sih. Wong keberisikan kebut-kebutan. Dengan pelafalan bahasa Inggris patah-patah, suara lumayan (dan otot leher yang ketarik banget pas nada tinggi), ternyata dia membawakan lagu ini:
Sebelum mobil-mobil ngebut sialan itu menenggelamkan suara mas berjerawat, saya sempet dengar sih, waktu dia teriak "yang sedang berjuang..." lalu hilang. Penasaran dengan teriakannya itu, sambil mengangsurkan uang seribuan saya iseng bertanya (sok-sokan) menggunakan psikologi kebalikan untuk mendapat penyangkalan: "eh, tadi lo bilang apa di depan? Orang-orang yang membela agama ya?" Dan jawabannya: "Nggak. Lagunya universal, bukan agama doang. Ini solidaritas buat mereka yang berjuang demi kemerdekaan. Kan lagu tentang Palestina." Oh, wow. Saya jadi bengong ngeliatin masnya yang menjawab dengan keren sekali itu hingga dia turun di Bulungan...
Masih ada tiga pengamen lagi di bis ACOS (AC 05, Mayasari Bhakti jurusan Blok M-Bekasi Timur/Barat). Ada mas-mas beralis nyelirit seperti alisnya Drew Barrymore. Dia menyanyikan lagu-lagu daerah (Siapa Suruh Datang Jakarta, Sajojo, dan satu lagu Sunda yang saya lupa judulnya. Saya seperti sedang ada di acara Tujuhbelasan...), Shalawat Badar dan lagu pujian lain dengan iringan ukulele. Terus mas-mas "Nia Daniati" karena yang dia bawa ya lagu-lagunya beliau itu (siang-siang, di luar panas, di dalam bis berpendingin... Saya jagoan banget itu bisa nggak ketiduran!). Lalu bapak-bapak dengan instrumen modifikasi sendiri (rebana ukuran sedang yang dia tabok dengan tangan berselip botol kecil berisi pasir. Kasihan rebananya) yang--lagi-lagi--Shalawatan.
Kesimpulan: Lagu-lagu Dream Theater dan KoRn kurang laris diantara pengamen.
2. Asongan
Ini standar sih. Biasa. Di dalam bis trayek mana pun (kecuali Trans Jakarta kali ya?) kalo nggak pengasong grass root semacam tukang tahu, manisan/kacang/buah seribuan atau minuman dingin ya paling tukang tisyu/permen/kerupuk (eh, saya kangen sama tukang kacang atom/permen jahe. Sedih, udah nggak ada lagi. Semoga mereka dapat penghidupan yang lebih baik. Tapi kacang atomnya enak lho!). Yang lebih advanced biasanya pake topi, bawa ransel dibalik, terus pas sudah ada di depan bakal pengumuman, "yak, permisi bapak-ibu, om-tante. Di sini kami mencoba menawarkan..." lalu cuap-cuap sebentar menjelaskan dagangannya, kemudian keliling membagikan barang yang akan dia ambil lagi setelah calon pembeli liat-liat. Ya kalo emang mau beli nggak bakal diambil lagi sih, tapi dituker duit (eh, tukang permen jahe/kacang atom itu juga begitu lho cara jualannya. Serius!).
Tapi ada yang menarik dari mas pengasong advanced yang "presentasi" dagangan kemarin siang: kacamatanya keren! Iya, kacamata yang bagian pangkal hidungnya bisa dicopot dan gagangnya melingkari bagian belakang kepala itu! Terus "customer satisfaction comes first" adalah motto yang dia pegang teguh meskipun nggak sampe 20 menit dia di atas bis. Akibat nggak ada kembalian buat "customer" yang uangnya limapuluhribuan (dan dijawab dengan gelengan kepala setengah sebal oleh pak kondektur waktu ditanya tukeran duit), dia rela-relain turun dan buru-buru nodong pak timer lalu bergegas menghampiri pelanggan yang tadinya sudah kecewa uangnya dikembalikan dan batal beli. Dan semua dia lakukan dengan senyum selalu di muka!
Yang lebih asyik lagi, waktu dia "presentasi" jualannya yang adalah semacam rubik tapi berbentuk panjang, sambil mencontohkan cara mainnya dia berkata "kebetulan saya ngajar PAUD, bapak-ibu. Biasanya kalo saya ngasih contoh bikin permainan edukasi ini ke anak-anak didik, saya sambil nyanyi. Pelangi-pelangi atau Balonku. Kebanyakan pada nggak bisa lagu anak-anak. Taunya Cinta Satu Malam, tapi malah dibilang pinter sama orangtuanya. Apanya yang pinter itu kalo kecil-kecil udah pada tau Cinta Satu Malam?!" Whoa!
Tadinya saya sudah sempat terkuple-kuple dengan argumentasinya tentang anak-anak, cinta satu malam dan profesinya sebagai pengajar PAUD. Tapi waktu dia mendekat dan kancing di ujung kemeja lengan panjangnya terbuka menyingkap banyak sekali tato, well... dengan segala hormat buat kalian-kalian yang bertato. Nggak maksud diskriminatif. Tapi saya mikir, menimbang lingkungan Jakarta dan sekitarnya yang sebagian besar masih normatif, kira-kira PAUD mana yang mau mempekerjakan orang tatoan? Tapi saya berpikir positif saja lah. Dan saya masih bertanya-tanya. Kemana perginya tukang kacang atom?
3. Iklan
Saya baru ngeuh kalau Jakarta dan wilayah buffer-nya itu terlalu banyak polusi. Polusi suara dan udara nggak usah dibahas lah ya. Udah bosen. Saya juga nggak menafikan usaha minimalisir, dengan hari bebas kendaraan dua kali sebulan di jalan-jalan protokol atau penanaman jalur hijau berpohon. Tapi sepertinya polusi visual belom ada yang peduli ya.
Saya ngiler lho lihat iklan Galaxy Note sealaihim gambreng di billboard Gatsu. Pengen (ya kali gitu ada malaikat baik hati nyasar ke sini terus mau beliin saya yang lagi nggak punya gadget ini. Tapi kalo mau beliin sih mendingan HTC setengah-tablet-separo-smartphone yang masih bisa masuk saku jins). Terus gambar cengiran menjijikkan bapak-bapak dari partai anu-itu-onoh segede dosa, berpose dengan keluarganya (yang nggak ada hubungannya sama platform politik yang diusung). Lalu--ini yang paling konyol--iklan pariwisata Malaysia.
Bitch, please?
Ngelonthé sih ngelonthé, tapi jangan semurahan dan sevulgar itu dong! Punya harga diri lah sedikit. Itu jalan protokol Jakarta, ibukota negara. Diantara segitu banyak billboard raksasa katro berbahasa ala Orba milik negara kalian sendiri, iklan pariwisata Malaysia--negara jiran yang kedutaannya sempat dilempari tahi oleh orang sini--petentengan dengan kapasitas estetis nan elegan setara iklan kartu kredit muwahal. Cukup lah Pak Sudirman berdiri megah menghormat pada bobroknya transportasi dan kemacetan tiap hari di jalan yang diambil dari namanya itu. Jangan tambahin lagi kesia-siaan pahlawan Indonesia dengan simbol bodoh yang nggak lebih dari kerakusan pemerintahnya.
Oh, kecuali kamu ke sana sendiri, mungkin kamu nggak akan percaya kalo spanduk kuning berlogo PU di Pintu GBK Senayan sebelah FX--per 28 Februari 2012 sore--tulisannya gini:
Mohon maaf perjalanan Anda terganggu. Tapi kami sedang berusaha keras menyelesaikan pekerjaan.
Oke, sekali lagi, rame-rame... BITCH, PLEASE? Keseringan ngetwit galau ya? Susah move on? Atau learning from The Best Prihatin-man of the Century alias Papa Nobita?
Terus lepas Jatibening arah ke Bekasi, coba deh liat ke kiri. Bagian belakang bangunan dialihfungsikan jadi ruang iklan operator ponsel, menghajar mata dan benak tanpa kita punya persiapan membendungnya. Wahai para penemu cat. Dosa apa yang pernah kalian perbuat hingga penemuan kalian disalahgunakan separah itu?!
4. Kontainer Berbahaya
Jadi, lepas dari pintu tol Jatibening saya sudah mendapati truk tangki putih dengan ujung aneh. Bentuknya lebih kecil, nggak seperti truk tangki yang sering saya temui, apalagi seperti ini:
![]() |
| Gambar nemu dari Facebook-nya siapa, mbuh ((= |
Di tangki putih itu, di tempat yang harusnya bertuliskan SEDOT WC seperti gambar di atas digantikan dengan tulisan DALAM KEADAAN DARURAT, HARAP HUBUNGI... (deretan nomor telepon yang saya nggak inget). Karena kebetulan ACOS saya lebih kencang larinya, kebalap deh tuh truk tangki dari sebelah kanan. Ternyata keterangan di sisinya terbaca... jreng-jreeeng... CO2 Cair. Di pintu supirnya bertuliskan "pengemudi bersertifikat bla bla bla". Bapak di belakang setir terlihat serius sekali meskipun handuk putih panjang yang melindungi kepalanya terlihat agak komikal.
Di depan tangki putih itu ada truk gandeng buwesaaar sarat muatan terlindung terpal sedang berjalan terseok-seok. Lalu di depannya lagi... pickup berisi ayam hidup dalam kurungan sesak, tanpa tutup. Lalu kontainer, truk, truk, kontainer, truk, kontainer yang nggak ada pintu belakangnya, truk, truk, tangki putih lain yang di sisinya terbaca... jreng-jreeeng... Nitrogen Cair. Dan perjalanan gerbang tol Jatibening-Bekasi Timur nggak pernah sama setelah ini...
Saya memang rada males nyari-nyari peraturan. Tapi sependek pengetahuan saya bukannya ada waktu-waktu tertentu ya untuk barang gede-gede dan berbahaya seperti itu masuk tol? Bukannya harusnya malem alih-alih siang menjelang sore jam setengah tiga pas lalu-lintas mulai padat? Setidaknya kalau jalan malam kan minimizing damage kalo kenapa-kenapa. Apalagi nitrogen cair. Gimana kalo supirnya kena maag mendadak terus nyetirnya melintir terus tangki nitrogen cairnya menghantam jendela bis tepat di kursi saya lalu saya membeku, sel saya termutasi, lalu saya jadi superhero berubah jahat?
Oke. Abaikan mulai dari "tepat di kursi saya" sampai tanda tanya.
5. Para Penidur
Ini yang paling menyenangkan. Diberkatilah mereka yang bisa lelap dalam kondisi apapun. Saya salah satu yang susah berbahagia karena tidur di kamar sendiri pun juga sering susah. Tapi saya suka melihat orang-orang kelelahan tertidur, manthuk-manthuk nggak peduli sekitar asalkan hajat biologis tuntas tertunai. Sepanjang perjalanan kemarin memang banyak yang seperti itu, tapi kurang seru. Cuma ada mas-mas sok keren, bapak-bapak nganga, ibu-ibu ngécés, daaan... perempuan kecil berseragam SD yang kemarin saya dapati hampir terjatuh dari kursinya karena membungkuk terlalu jauh dengan mata terpejam. Untung saja pak kondekturnya baik. Dia lalu membangunkan si anak dan disuruhnya pindah ke pojok di deretan kursi lain yang masih kosong. "Nanti dibangunin kalo udah sampe Blok M," ujarnya. Ah, satu lagi ternyata yang bisa saya temui di jalan: orang baik (=
Perjalanan kemarin membuktikan, ternyata mata saya nggak pikun-pikun amat untuk bisa mengingat bagaimana menyenangkannya observasi. Terima kasih, gadget yang rusak. Ternyata kamu bawa kebaikan juga, walaupun jadinya banyak momen yang nggak bisa ditembak pakai kamera ponsel. Tapi mending begini sih daripada terlalu latah mengumbar apapun di jejaring sosial. Verba volant, scripta manent. Hell, yeah!
Labels: The Human
About A Job
Posted by The Bitch on 2/28/2012 11:49:00 AM
It's all the same. No pain or sorrow. I am just indifferent. And it's just a job
- Death in Sandman by Vertigo Comics, that I forgot which edition and don't want to waste my precious time to track it down. But isn't she pretty?
My friend once said that an onion peeler is still a profession. She works her ass off to peel the onions, meeting the target with all of the process she must endure--tears and sore thumbs--daily, with one or two whining. He also pointed out series of pictures of an attendant in a mosque's toilet in the outskirt of a remote area when he stopped by for a rest. What he thought to be a short stop turned out into a half day, thanks to the toilet attendant's integrity for his job. It was his creed that astonished my backpacking friend: I can't do anything but doing my best, though it's only for a toilet. It's not for me. It's for people like you who longs for a rest and relief comfortably.
The mosque was the one you could meet along Pantura route: a small, solemn, quiet, praying house except for the 5-times-a-day adzan whose backside completed with the most standard restroom with three-fourth door (or none at all). Inside, the toilet is ornamented with a pair of tiled steps each to a hole and a modest basin on which supposed-to-be-fresh-yet-salty water poured from a pipe corked by a wooden stump.
The praying house was gloomy, he said. But the toilet was surprisingly clean and bright despite the resided greenish mold left from the nooks that the brush could not reach. The attendant himself is an old man of more than 60 with the head of almost white and few teeth left when he smiles--that he did frequently. Though he had his difficulties when getting all down in cleaning the floor, he did it twice a day without complaining.
When it came to his reward, my friend fell silent all of a sudden. He took whatever the customers gave him, a mere 500 rupiah of a coin or a worn-out 2,000 notes. He doesn't put standard on the price, on the effort he had to make, day, by day, by day. He loves what he does.
And that was what I'm trying to do since becoming a freelancer for almost three years, for the love of language. I do some translation job since I was in school and at the present time, Indonesian to English and vice versa. Some are for corporates, curatorial of art exhibitions, or simply handouts for learning materials. I did my time, of course. Desperately groaning, sometimes, because I'm not into flowery words in praising one's company yet I should do frequently if I happened to work on a company profile. But I always amazed in what the language represents, in conveying message, to communicate, to divert readers' attention, to give way to an idea in penetrating ones' mind, to swoop a girl from her feet and fly her high to the sky just by reading the words her boyfriend sent in her SMS inbox. As my other friend stated, word has power. It's almost... magical.
Thus, it is more than reasonable if I think that a client who is still bargaining my predetermined fee (or even asking it for free, no matter how effortless the job might seems) is an ugly, ungrateful, bag of shit, asshole for degrading my work and professionalism. Not to mention debasing her or his own integrity. Not even when he or she is meant to be joking. Listen up, Dickhead. I did it before the deadline, without typo, and with much consideration I suggested some corrections to be put on your original text should you consider it to print or publish. It's not a matter of money. I'd rather go broke and spent my days eating nothing but my pride than having you arrogantly bid below my standard and get away with pride greater than mine. I'm a boastful and my tongue is sharper than a scalpel. So, save us some times and don't come near. Because it's in my blood that if I'm good at something, I'll get paid from it.
So, here's my two-cent, dear Dickheads: learn fucking English and get off of my back!
Labels: The Human
Death, Anyone?
Posted by The Bitch on 2/27/2012 11:38:00 AM
![]() |
| Upacara Pembakaran Mayat, ©2008 Ed Wray, AP Photo |
Death is before me today:
Like the recovery of a sick man,
Like going forth into a garden after sickness.
Death is before me today:
Like the odor of myrrh,
Like sitting under a sail in a good wind.
Death is before me today:
Like the course of a stream,
Like the return of a man from the war-galley to his house.
Death is before me today:
Like the home that man longs to see,
After years spent as a captive.
- Dream in The Sandman #8: The Sound of Her Wings p. 19-20 by Vertigo Comics
Saya selalu takjub dengan kematian. Ada begitu banyak misteri meliputinya. Ia seperti wilayah gelap tak berlampu, seperti hutan angker yang dikeramatkan namun juga disembah karena keangkerannya. Sebagian besar manusia menganggap kematian sebagai hal menakutkan karena tidak ada seorang pun yang pernah kembali dari kematian yang betul-betul mati. Tak seorang pun tahu betul bagaimana rasanya di "sana". Yang mati suri lalu bercerita tentang petualangannya di alam tak hidup pun masih diragukan kesaksiannya. Ada peneliti yang bilang bahwa itu hanya reaksi otak bawah sadar yang memang tak benar-benar hilang. Ada juga ilmuwan yang menyatakannya sebagai sekadar imaji kolektif hasil tontonan buatan Hollywood tempat dunia antah-berantah antara hidup dan mati digambarkan terang gilang-gemilang bermandi cahaya ilahiah dari atas (jika orangnya baik) atau gelap dedet tanpa cahaya atau pijakan (jika nalurinya menyatakan dia orang jahat). Well, kecuali mungkin beberapa orang dengan tingkat relijius tinggi yang kemudian berhasil menarik beberapa pengikut melalui testimoni-testimoni dalam seminar yang mirip kumpul-kumpul peserta MLM.
Tak banyak manusia yang menganggap kematian sebagai kelegaan. Padahal, sebagaimana mahluk punya insting bertahan hidup, saya percaya kalau di satu titik tertentu kami pun punya insting mati. Misalnya dalam kondisi seperti ini:
Iya, saya suka banget bagian ini. Mungkin imajinasi saya amat sangat kebangetan sampe saya bisa ngebayangin gimana rasanya jadi Pak Yamamoto dan satu-satunya pembebasan dari kesakitan itu adalah hanya dan cuma kematian.
Tak banyak manusia yang menganggap kematian sebagai kelegaan. Padahal, sebagaimana mahluk punya insting bertahan hidup, saya percaya kalau di satu titik tertentu kami pun punya insting mati. Misalnya dalam kondisi seperti ini:
Holding his knife, the bearlike Mongolian officer looked at Yamamoto and grinned. To this day, I remember that smile. I see it in my dreams. I have never been able to forget it. No sooner had he flashed this smile than he set to work. His men held Yamamoto down with their hands and knees while he began skinning Yamamoto with the utmost care. It truly was like skinning a peach. I couldn't bear to watch. I closed my eyes. When I did this, one of the soldiers hit me with his riffle butt. He went on hitting me until I opened my eyes. But it hardly mattered: eyes open or closed, I could still hear Yamamoto's voice. He bore the pain without a whimper--at first. But soon he began to scream. I had never heard such screams before: they did not seem part of this world. The man started by slitting open Yamamoto's shoulder and proceeded to peel off the skin of his right arm from the top down--slowly, with care, almost with love. As the Russian officer had said, it was something like a work of art. One would never have imagined there was any pain involved, if it weren't for the screams. But the screams told the horrendous that accompanied the work.- Haruki Murakami's The Wind-up Bird Chronicle, p. 159
Iya, saya suka banget bagian ini. Mungkin imajinasi saya amat sangat kebangetan sampe saya bisa ngebayangin gimana rasanya jadi Pak Yamamoto dan satu-satunya pembebasan dari kesakitan itu adalah hanya dan cuma kematian.
Manusia dan budayanya tunduk pada kematian dengan pemuliaan. Di ujung hidup seseorang, kerabat dan keluarga menghormati keberadaan mendiang dengan upacara-upacara penuh makna. Islam punya Sholat Jenazah dimana mayat dimandikan, dikafani, lalu didoakan khusus dengan sembahyang. Katolik punya Misa Requiem dengan wangi dupa mengambang kental dan doa-doa berkumandang dalam lagu dan suasana menggigilkan di gereja-gereja. Bali punya pembakaran mayat yang menghabiskan biaya hingga ratusan juta, sementara orang Batak "membantai" puluhan babi dan kerbau untuk mengantar mendiang ke alam arwah dengan selamat.
Itu baru di Indonesia. Kalau iseng, datanglah pada upacara kematian siapapun, tak perlu kenal siapa mendiangnya. Ada banyak cara, ada banyak ragam, tergantung lingkungan si mati. Dalam masa hidup saya yang belum begitu lama ini, dari beberapa film dan beberapa kali browsing nyasar, rasanya yang paling mencengangkan adalah upacara kematian di Tibet dan Jepang.
Di Tibet ada yang dinamakan Sky Burial, Upacara Langit. Mereka punya malaikat berupa burung-burung pemakan bangkai besar-besar, datang bergerombol dalam jumlah banyak. Setelah mayat disemayamkan di rumah duka selama beberapa hari, "penjagal" akan membawa jenazah ke puncak gunung atau bukit, sendirian (saya sempat melihat seri foto Sky Burial ini dimana "penjagal" tersebut meletakkan tubuh tak bernyawa bertutup lembaran plastik besar di boncengan motornya. Tapi jangan minta URL-nya. Saya nggak yakin kamu masih bisa makan setelah melihatnya). Setelah sampai di tempat tujuan, mayat diletakkan di lempengan batu untuk kemudian dipotong-potong tepat di bagian sendi (see? Masuk akal kan kalau saya bilang "penjagal"?): bagian leher, pangkal lengan, siku, pangkal paha dan lutut. Sudah? Belum. Dalam proses penjagalan itu para "malaikat" yang tertarik aroma mayat akan datang. Potongan daging agak busuk itu kemudian akan disebar dan habis dalam waktu kurang dari satu jam. Belulang dan tengkorak yang tersisa kemudian diambil lagi untuk dihancurkan dan dicampur jadi satu agar para "malaikat langit" yang telat datang ke perjamuan juga masih bisa berpesta. Semua harus habis tak bersisa untuk memudahkan perjalanan roh ke surga melalui pemakan bangkai bersayap. Buat saya ritual itu adalah yang paling membawa berkah bagi semua, bagi manusia dan alam. Menempati posisi dekat sekali dengan Everest, gunung paling tinggi di dunia dengan puncak tersaput es abadi, siapa yang mau menggali tanah keras dalam cuaca dingin menggigit hanya untuk mengubur mayat? Lagipula suhu yang di bawah titik beku itu malah mencegah penguraian. Makanya, dengan ritual ini semua masalah terselesaikan: burung bangkai kenyang, manusia tak perlu susah payah, dan penyakit yang kemungkinan bisa menyebar dari mayat pun bisa dicegah.
Dan Jepang? Oh, dari film Departures saya makin yakin bahwa orang Jepang memang paradoks. Segala macam genre anime dan manga dari yang "bersih" sampai yang "dekil" (beberapa diantaranya yang saya hafal adalah hentai yang terbagi lagi menjadi vanilla, yaoi, dan goru) dan macam-macam genre musik dari yang jazz, ska, fusion sampai J-Pop dan J-Rock tak membuat mereka berpaling dari berbagai upacara dan perayaan adat. Termasuk menyambut kematian. Di film itu digambarkan bahwa yang hidup betul-betul memperlakukan mendiang dengan segala pemuliaan dan kukuh menjaga kehormatan si mayat. Salah satunya adalah tetap menjaga tubuh kaku itu selalu tertutup ketika dibersihkan. Cara si petugas profesional dengan taktis namun lembut melenturkan tubuh yang sudah memasuki fase rigor mortis, dengan sapuan kain antiseptik di bawah kimono yang melesak hingga ceruk terdalam, dan kelembutan kuas lipstik di atas bibir si mayat, bagi saya sangat kontemplatif.
Terus kalo kamu mati mau diapain, Pit?
Ummm... Saya kepikiran donor organ sih. Meskipun nggak yakin dengan paru-paru saya, tapi rasanya ginjal, liver, hati, jantung, kornea, retina, selaput otak dan seluruh organ lain (kecuali pernapasan, apalagi bulu hidung) masih cukup sehat. Saya membayangkan ketika pada suatu masa saya memutuskan eutanasia karena sudah cukup hidup, tubuh saya terbujur kaku dan bolong di meja operasi setelah dokter-dokter internis memanen jeroan dan kembali ke pasien masing-masing untuk melakukan pencangkokan. Tak perlu lah bolong akibat irisan Y itu ditutup. Cukup satu dokter jagal memotong-motong sisa badan saya dalam ukuran bite size untuk kemudian diserahterimakan oleh kerabat atau keluarga. Setengahnya akan dilarung jadi makanan ikan di tengah laut. Separonya lagi akan disebar di kebun belakang atau dikubur di bawah pohon mangga supaya buahnya manis. Begitulah. Setidaknya sampai saya mati pun saya masih akan berguna buat mahluk lain.
Tapi kemudian saya berpikir bahwa sebenarnya upacara kematian itu bukan untuk yang mati tapi malah untuk yang hidup. Dan penghormatan terakhir itu jadi semacam kemunafikan kolektif agar tak dianggap kerabat atau keluarga durjana. Jadi, kesimpulannya, saya sih pengennya seperti yang saya bilang tadi. Tapi kalau kemunafikan kolektif kerabat saya berkata lain, ya saya mau bilang apa, coba? Kalo pun saya nanti dikafani, disholatkan, lalu dikubur utuh di pemakaman Islam pun saya nggak bakal bisa protes juga kan? Wong napas aja udah nggak ada. Saya juga nggak bisa mengeluh kalau suatu hari nanti penanggungjawab saya kehabisan uang untuk menyewa sepetak tanah kuburan dan belulang saya ditimbun mayat baru.
Terus? Kesimpulannya apa, Pit?
Ya mati mah mati aja. Mau diapain nanti kan cuma bisa ngarep pas hidup. Sementara itu? Ya dinikmati saja =P
Labels: The Fun
Tentang Kekerasan
Posted by The Bitch on 2/25/2012 08:35:00 PM
![]() |
| KKK on Vanity Fair |
![]() |
| ©2009 James Nachtwey/National Geographic |
PENYANGKALAN:
TIDAK RAMAH-BANDWIDTH! Ada banyak sekali link dan satu video YouTube yang saya harap para jiwa-jiwa kesasar di sini nggak segan melihatnya. Dan seperti judulnya, saya akan banyak membacot masalah kekerasan yang dilakukan atas nama apapun yang bisa "dijual" untuk menarik simpati berbasis kemarahan dan sentimen. Keberatan? Silakan lawan ide dengan ide, tulisan dengan tulisan. Tapi saya MUNGKIN akan berusaha sebisanya untuk obyektif, kok. Mungkin.
Sudah banyak sekali usaha yang dilakukan demi menahan kebrutalan mereka tapi rasanya seperti menabrak tembok. Padahal tindakan mereka yang main hakim sendiri sudah panjang sekali daftarnya. Di benak saya, FPI sudah menjadi simbol yang lekat dengan kekerasan, gerombolan wajah beringas haus darah yang mengangkat parang sambil berteriak "Allahu Akbar". Tampaknya mereka lupa sejumput ayat Qur'an di Annisa: 36 tentang perintah untuk berbaik-baik kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Dan mereka lupa bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. Bukan salah Allah yang menciptakan berbagai isi kepala yang beda untuk memenuhi langit dan bumi, karena Dia lah yang wajahNya ada kemana pun manusia menghadap. Karena yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Kata Quran sih gitu. Tapi apa mereka baca Quran ya? Bukannya lebih sering dengerin para Habib dan nurut aja Habib-habib itu mau bilang apa?
Udah lah. Kita hanya punya satu negara yang bisa bersama kita tinggali: Indonesia. Sekarang kita sama-sama ada di sini di Bumi. Jadi, mengapa nggak menghormati sesama penghuni? Katanya Rahmatan lil Alamin, berkah bagi seluruh alam. Apanya yang berkah jika hanya bisa mengancam dan menakut-nakuti seperti itu?
Sekarang gini deh, para Akhi-akhi yang tergabung dalam FPI. Saya mau tanya. Pernah dengar “masyarakat madani”? Pernah nanya ke Habib kalian artinya "masyarakat madani" dan apa jawabannya? Atau, gini aja. Pernah broswing situs lain nggak selain Arrahmah.com atau voa-islam.com yang bahasa dan faktanya berantakan itu? Ada keharusan tabayun lho untuk setiap kejadian. Seperti halnya ruju' untuk cek dalil di kitab. Nggak cuma dengerin omongan Habib doang. Dan ayat pertama itu adalah Iqra, baca. Baca buku, baca peristiwa, baca ke mana benak-benak kalian diarahkan oleh omongan para Habib yang "mengaku" nasab Muhammad. Baca sejarah, mengapa mereka bisa mendapat pengakuan sebagai penerus garis Fatimah binti Muhammad. Baca arah angin politik dan mengapa kalian, para foot soldier bertudung, hanya bisa panas-panasan terpapar asap bertimbal sementara ulama-ulama kalian enak-enakan kasih perintah dari dalam ruangan berpendingin. Baca situasi, kenapa musuh-musuh kalian para Yahudi Israel sana punya kondisi ekonomi yang jauh lebih pesat dan teknologi lebih mumpuni, padahal negaranya aja baru seumur jagung. Jangan cuma bisanya ngata-ngatain lawan doang tapi nggak mau membenahi diri dari dalam. Diketawain, tauk. Apalagi OKI juga mempertanyakan lisensi kalian sampai bisa di-backing Tuhan. Eh, tau OKI kan? Baca link-nya kalo nggak tau. Iqra!
Jangan salah, saya nggak membenci FPI dan segala antek-anteknya. Karena sesungguhnya setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, bekumpul dan mengeluarkan pendapat sebagaimana yang ada dalam UUD 1945 pasal 28E. Tapi ya apa mau cuma mau menangin FPI aja? Ya saya tahu, beberapa nama jenderal besar ada di balik pembentukan ormas berbasis keagamaan itu. Makanya mereka seperti tak terjamah. Tapi gini deh. Ikutin caranya mafia Italia dong yang pada maen cantik. Jangan ngadopsi preman Indonesia doang yang petentengan malakin pengusaha keturunan Tionghoa. Act local think global, getoh. Udah bosen sama kekerasan.Think, Habib!
There. I said it.
Bisa lihat kan dua gambar tersebut? Bisa lihat kemiripannya? Iya, para "pelaku"nya sama-sama mengenakan penutup wajah untuk melindungi identitas mereka. Secara tindakan dan prinsip, melihat sejarahnya, saya berani bilang tak ada beda antara gambar yang kanan dan kiri. Yang kanan adalah kelompok Klu Klux Klan. Kelompok ini didirikan tahun 1865 di Tenessee, pedalaman Amerika sana, oleh mereka yang percaya supremasi kulit putih dan nasionalisme menurut mereka sendiri melalui ancaman, kekerasan dan pembunuhan terhadap orang kulit hitam. Mereka juga mengaku sebagai penjaga moral dan anti kemaksiatan dalam koridor kekristenan yang tegas. Dan usia organisasi mereka jauh lebih tua dan lama dibanding rekan seperbrutalannya yang di sebelah kiri.
Sementara yang kiri sering sekali saya dapati lantang meneriakkan nama Tuhan yang Maha Besar namun bahkan lupa untuk saling berbalas kasih sebagaimana salam yang diajarkan oleh Muhammad Sang Nabi. Cara mereka agar tindakannya bisa diterima adalah dengan menegur dua kali melalui surat kepada pihak-pihak yang mengguncang keberadaan--maaf, maksud saya keimanan--mereka, lalu men-sweeping jika tak ditanggapi. Pihak-pihak ini bisa berbentuk apapun, mulai dari tempat maksiat sampai instansi pemerintahan. Saya miris di bagian ini. Tanpa memberi kesempatan mendapat pekerjaan halal, mereka hanya bisa teriak bahwa apa yang dilakukan pekerja-pekerja di tempat maksiat itu adalah haram dan tak bermoral (ya tapi mau ngarepin apa kalau yang teriak-teriak itu cuma segerombolan pengangguran tanpa penghasilan kecuali dari "uang jago"?). Jika ada yang tidak setuju dengan mereka, dengan mudah akan dilabeli dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar sebagai antek-antek Yahudi, Amerika, bahkan JIL. Dengan keyakinan akan kebenaran dukungan Tuhan yang dipelintir dan digembar-gemborkan oleh para "Habib"--yang melenceng dari arti sebenarnya sebagai "yang tersayang" (apa yang bisa disayang dari orang-orang yang penuh kebencian?)--dalam berbagai tabligh, mereka merasa berhak merusak dan menindas orang-orang yang menjunjung Tuhan diam-diam.
Sementara yang kiri sering sekali saya dapati lantang meneriakkan nama Tuhan yang Maha Besar namun bahkan lupa untuk saling berbalas kasih sebagaimana salam yang diajarkan oleh Muhammad Sang Nabi. Cara mereka agar tindakannya bisa diterima adalah dengan menegur dua kali melalui surat kepada pihak-pihak yang mengguncang keberadaan--maaf, maksud saya keimanan--mereka, lalu men-sweeping jika tak ditanggapi. Pihak-pihak ini bisa berbentuk apapun, mulai dari tempat maksiat sampai instansi pemerintahan. Saya miris di bagian ini. Tanpa memberi kesempatan mendapat pekerjaan halal, mereka hanya bisa teriak bahwa apa yang dilakukan pekerja-pekerja di tempat maksiat itu adalah haram dan tak bermoral (ya tapi mau ngarepin apa kalau yang teriak-teriak itu cuma segerombolan pengangguran tanpa penghasilan kecuali dari "uang jago"?). Jika ada yang tidak setuju dengan mereka, dengan mudah akan dilabeli dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar sebagai antek-antek Yahudi, Amerika, bahkan JIL. Dengan keyakinan akan kebenaran dukungan Tuhan yang dipelintir dan digembar-gemborkan oleh para "Habib"--yang melenceng dari arti sebenarnya sebagai "yang tersayang" (apa yang bisa disayang dari orang-orang yang penuh kebencian?)--dalam berbagai tabligh, mereka merasa berhak merusak dan menindas orang-orang yang menjunjung Tuhan diam-diam.
Sudah banyak sekali usaha yang dilakukan demi menahan kebrutalan mereka tapi rasanya seperti menabrak tembok. Padahal tindakan mereka yang main hakim sendiri sudah panjang sekali daftarnya. Di benak saya, FPI sudah menjadi simbol yang lekat dengan kekerasan, gerombolan wajah beringas haus darah yang mengangkat parang sambil berteriak "Allahu Akbar". Tampaknya mereka lupa sejumput ayat Qur'an di Annisa: 36 tentang perintah untuk berbaik-baik kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Dan mereka lupa bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. Bukan salah Allah yang menciptakan berbagai isi kepala yang beda untuk memenuhi langit dan bumi, karena Dia lah yang wajahNya ada kemana pun manusia menghadap. Karena yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Kata Quran sih gitu. Tapi apa mereka baca Quran ya? Bukannya lebih sering dengerin para Habib dan nurut aja Habib-habib itu mau bilang apa?
Udah lah. Kita hanya punya satu negara yang bisa bersama kita tinggali: Indonesia. Sekarang kita sama-sama ada di sini di Bumi. Jadi, mengapa nggak menghormati sesama penghuni? Katanya Rahmatan lil Alamin, berkah bagi seluruh alam. Apanya yang berkah jika hanya bisa mengancam dan menakut-nakuti seperti itu?
Sekarang gini deh, para Akhi-akhi yang tergabung dalam FPI. Saya mau tanya. Pernah dengar “masyarakat madani”? Pernah nanya ke Habib kalian artinya "masyarakat madani" dan apa jawabannya? Atau, gini aja. Pernah broswing situs lain nggak selain Arrahmah.com atau voa-islam.com yang bahasa dan faktanya berantakan itu? Ada keharusan tabayun lho untuk setiap kejadian. Seperti halnya ruju' untuk cek dalil di kitab. Nggak cuma dengerin omongan Habib doang. Dan ayat pertama itu adalah Iqra, baca. Baca buku, baca peristiwa, baca ke mana benak-benak kalian diarahkan oleh omongan para Habib yang "mengaku" nasab Muhammad. Baca sejarah, mengapa mereka bisa mendapat pengakuan sebagai penerus garis Fatimah binti Muhammad. Baca arah angin politik dan mengapa kalian, para foot soldier bertudung, hanya bisa panas-panasan terpapar asap bertimbal sementara ulama-ulama kalian enak-enakan kasih perintah dari dalam ruangan berpendingin. Baca situasi, kenapa musuh-musuh kalian para Yahudi Israel sana punya kondisi ekonomi yang jauh lebih pesat dan teknologi lebih mumpuni, padahal negaranya aja baru seumur jagung. Jangan cuma bisanya ngata-ngatain lawan doang tapi nggak mau membenahi diri dari dalam. Diketawain, tauk. Apalagi OKI juga mempertanyakan lisensi kalian sampai bisa di-backing Tuhan. Eh, tau OKI kan? Baca link-nya kalo nggak tau. Iqra!
Jangan salah, saya nggak membenci FPI dan segala antek-anteknya. Karena sesungguhnya setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, bekumpul dan mengeluarkan pendapat sebagaimana yang ada dalam UUD 1945 pasal 28E. Tapi ya apa mau cuma mau menangin FPI aja? Ya saya tahu, beberapa nama jenderal besar ada di balik pembentukan ormas berbasis keagamaan itu. Makanya mereka seperti tak terjamah. Tapi gini deh. Ikutin caranya mafia Italia dong yang pada maen cantik. Jangan ngadopsi preman Indonesia doang yang petentengan malakin pengusaha keturunan Tionghoa. Act local think global, getoh. Udah bosen sama kekerasan.Think, Habib!
There. I said it.
Labels: The Higher Consciousness
Re: Soliloquy
Posted by The Bitch on 1/31/2012 05:18:00 PM
Let me apologize to begin with. Let me apologize for what I’m about to say. But trying to be genuine is harder than it seems, and somehow I got caught up in between. Between my pride and my promise. Between my lies and how the truths get in the way. Things I want to say to you get lost before they come. The only thing that’s worse is one is done.
But here’s the thing: Abortion is sometimes necessary, sometimes not, but always sad. It is to the woman as war is to the man—a living sacrifice in a cause justified or not justified, as the observer may decide. It is the making of hard decisions—that this one must die that that one can live in honor and decency and comfort. Women have no leaders, of course; a woman’s conscience must be her General. There are no stirring songs that makes the task of killing easier, no victory marches and medals handed around afterwards, merely a sense of loss. And just as in wars there are ghouls, vampires, profiteers and grave-robbers as well as brave and noble men, so there are wicked men, as well as good, in abortion clinics.
So, I disconnected myself from the world and found another world, rediscovering the old, young me who was once absorbed and excited at every turn of the paper of the book (or every tap on the trackpad of a PDF file), succeeded in finishing an ancient 374-page of Fay Weldon’s The Hearts and Lives of Men along with Linkin Park’s Discography from which the above quotes are taken. The old wordwitch is sure far from disappointing. What she’d been through, especially by living under the same roof with three generations of females from her mother’s side, had made her work bitter yet femininely—and somewhat bitchily—amusing.
I was once disconnected from books—any form of books—long ago, not because I despised the brutal truth that lies beneath the words but merely to keep myself original, apart from any quotable phrases I read somewhere. But hey, there's nothing new under the sky. So, I gave it a try once again, plunging deep into the pool of alphabets and meaning and got lost happily, contendedly.
True, somehow it’s not finding a new land to understand the word “discovery”, but merely re-experiencing the old things. And the matters of abortion that I quoted was somehow gave me new perspective.
Therefore, read, mortals!
Labels: The Fun
Untuk Pemarah-pemarah
Posted by The Bitch on 1/21/2012 06:00:00 AM
PENYANGKALAN::Tulisan berikut akan penuh dengan pembelaan terhadap ketidakpercayaan kepada Tuhan dan agama apapun, termasuk di dalamnya adalah pembelaan terhadap kebebasan bicara dan mengemukakan pendapat. Seperti biasa, kalo nggak suka silakan pergi. Kalo penasaran ya lanjutin aja bacanya. Silakan juga komentar, menjawab atau maki-maki sesuka hati asal sesuai konteks.
Be grateful to God for atheists, for each one of them means one less nagging, spoiled bitch to disturb His tranquil omnipresence and your social-media life.
Menurut berita di sini seorang PNS ditangkap setelah berdebat di akun Facebook tentang ketidakpercayaannya terhadap Tuhan. Meskipun saya bersimpati, saya nggak begitu ngerti bahasa hukum dan pelanggaran profesi macam apa yang dia lakukan sampai ditakut-takuti penjara lima tahun. Namun saya memang menyayangkan cara mainnya yang kurang elegan hingga bisa dilacak dengan mudah oleh rakyat pemarah yang dibela aparat berat sebelah.
Dan saya ingin sedikit bertanya pada orang-orang beragama dan bertuhan yang masih beradab namun sama kesalnya dengan para pemarah itu:
Jika memang Tuhan Maha Pengasih mengapa kalian begitu pemarah?
Jika memang Tuhan Maha Penyayang mengapa bogem kalian melayang?
Jika memang Tuhan Maha Raja Diraja, siapa yang memerintahkan kalian merangsek masuk ke kantor pemerintah?
Jika memang Tuhan Maha Suci, pantaskah namaNya kalian tunggangi dengan penuh kebencian terhadap mereka yang tak sepaham?
Jika memang Tuhan Maha Memberi Kesejahteraan... hei, berapa diantara kalian yang pengangguran tak berduit atau berada jauuuh di bawah garis kemiskinan?
Jika memang Tuhan Maha Memberi Keamanan, apa kabarnya mbak-mbak korban perkosaan dan anak-anak yang hidup di jalanan?
Jika memang Tuhan Maha Pemelihara... coba Googling statistik mbak-mbak dan anak-anak yang saya sebut sebelumnya. Jadi, Dia pemelihara apa?
Jika memang Tuhan Maha Perkasa, saya kembalikan keperkasaanNya ke dua baris di atas.
Jika memang Tuhan Maha Berkehendak berarti tulisan Mas PNS tentang ketidakpercayaannya terhadap Tuhan juga sudah dikehendakiNya dong? Iya kan? Lalu mengapa kalian nyolot?
Jika memang Tuhan Maha Besar, mosok Dia nggak bisa memberhentikan perdebatan tentang ketidakpercayaan orang terhadapNya di media sosial? Ya minimal bikin server hang kek. Tifatul aja bisa ngeblokir situs porno pake Nawala.
Jika memang Tuhan Maha Pencipta, kok Dia nggak menciptakan kalian supaya bertemperamen lebih lembut?
Jika memang Tuhan Maha Mengadakan dari yang Tiada... ke-ada-an dan ke-tiada-an itu tataran eksistensi. Jika Dia pada awalnya memang sudah ada, kenapa namaNya baru nongol setelah beberapa peradaban kemudian? Jadi, siapa meng-ada-kan siapa nih?
Jika memang Tuhan yang Maha Membentuk Rupa, coba deh ngaca gimana bentuk muka kalian waktu ngotot bilang Mas PNS itu salah, wahai para pemarah?
Jika memang Tuhan Maha Pengampun, mosok kalian nggak? Mengapa harus kalian yang marah? Mengapa tidak menunjukkan pengampunanNya sampai-sampai "bala kurawa" semacam kalian harus membela namaNya hanya untuk melawan satu orang PNS yang gajinya juga nggak seberapa?
Jika memang Tuhan Maha Memaksa (karena Dia Maha Perkasa)... yakin Dia itu Tuhan? Bukan tukang nge-bully?
Jika memang Tuhan Maha Pemberi Karunia mosok kalian harus berdoa kencang-kencang dulu buat minta-minta dikasih ini-itu sama Tuhan?
Jika memang Tuhan Maha Pemberi Rezeki mengapa banyak pejabat korupsi?
Jika memang Tuhan Maha Pembuka Hati mengapa hati kalian begitu keras melihat anak-anak ngamen di jalanan nggak sekolah sementara beberapa diantara kalian yang mengaku mendapatkan karuniaNya, menganggap Dia ada ke manapun wajah menghadap, bisa ngeluarin duit puluhan juta cuma untuk ziarah ke tempat suci berkali-kali?
Jika memang Tuhan Maha Mengetahui, kira-kira kapan penangguhan SOPA dan PIPA berakhir? Dan bagaimana nasib para jemaat GKI Yasmin? Atau yang gampang aja deh. Kenapa dulu tiap saya bertanya Dia nggak pernah menjawab?
Jika memang Tuhan Maha Mengendalikan, mengapa manusia masih harus mengekang syahwatnya? Buat apa ada Feromon?
Jika memang Tuhan Maha Melapangkan, kenapa sih dia nggak melapangkan hati kalian untuk bisa berdebat secara sehat tanpa emosi dan dalilut (kalah ngedalil terus gelut)?
Jika memang Tuhan Maha Merendahkan kenapa Dia bilang manusia adalah mahluk mulia?
Jika memang Tuhan Maha Meninggikan kenapa manusia malah saling merendahkan dan sok merasa lebih tinggi dari yang lain?
Jika memang Tuhan Maha Memuliakan MahlukNya kenapa anjing yang segitu setia dan manis masih dianggap najis?
Jika memang Tuhan Maha Menghinakan MahlukNya, mosok sikapNya nggak jauh beda sih sama kakak-kakak senior yang suka ngebully juniornya?
Jika memang Tuhan Maha Mendengar mengapa kalian harus pakai amplifier bervolume pol saat berdoa?
Jika memang Tuhan Maha Melihat harusnya nggak pada berani dong minta uang suap atau mencuri waktu buka Facebook saat jam kerja?
Jika memang Tuhan Maha Menetapkan Hukuman mengapa kalian nggak dihukum ketika menyalahgunakan namaNya buat kepentingan pribadi?
Jika memang Tuhan Maha Adil... tunggu sebentar. Jari saya kurang dua setengah sementara ada yang jarinya duabelas. Adilnya...?
Jika memang Tuhan Maha Lembut mengapa Dia suka mengancam dengan siksaan dan api neraka?
Jika memang Tuhan Maha Mengenal mengapa Dia turunkan hujan di Lenteng Agung pada hambaNya mahasiswi UI yang berdoa di kereta supaya jangan hujan dulu sebelum dia tiba di kampus? Apa Tuhan perlu GPS?
Jika memang Tuhan Maha Penyantun mengapa fakir miskin dan anak terlantar harus dipelihara oleh negara?
Jika memang Tuhan Maha Agung mengapa Dia masih haus puji-pujian?
Jika memang Tuhan Maha Benar mengapa Dia diam waktu Richard Dawkins bilang bahwa para penyembahNya adalah "would-be murderers... who want to kill you and me, and themselves, because they're motivated by what they think is the highest ideal" di dokumenter The God Delusion?
Jika memang Tuhan Maha Pandai mengapa semua pertanyaan saya hanya dijawab oleh Sang Maha Google?
Dan jika agama memang membawa kedamaian bagi manusia dan semua mahluk mengapa banyak sekali orang beragama yang mudah naik darah?
Namun saya yakin banget kok orang-orang yang beragama dan bertuhan dengan benar nggak bakal gampang tersulut hanya dengan tulisan semacam ini. Meskipun jauuuh lebih banyak jumlahnya, yang pemarah-pemarah itu kan cuma oknum. Iya kan?
Gambar dicomot dari sini. Kinda ironic, methinks.
Labels: The Higher Consciousness











