Posts

Tentang Memilih Mati

Image
There is only one God and His name is Death. And there is only one thing we say to Death: “Not today.”   - Syrio Forel, the Dancing Master from Braavos to Arya Stark in Game of Thrones Jika diperbolehkan, apa yang kamu pilih sebagai cara untuk mati? Atau, jika kau mengidap penyakit dan semua obat hanya bisa memperpanjang umur—dengan susah payah—tanpa bisa menyembuhkan, akankah kau pilih mati? Jika kamu Oregonian penyakitan sekarat dan prognosis menyatakan hidupmu tinggal hitungan bulan, maka kamu bisa bunuh diri secara legal dan dilindungi undang-undang negara bagian. Namanya Death with Dignity Act. Terdengar kejam? Negara terlalu riweuh ngurusin masalah personal? Website resmi di sini . Teruskan baca dan saya kasih spoilernya. Ada Bu Cody Curtis, perempuan/istri/ibu/anggota masyarakat usia lima tiga yang berfungsi secara penuh dan dicintai keluarga dan teman-temannya. Seringnya sakit menghebat di perut membawanya ke dokter dengan hasil liver yang k...

Tentang Karakter

Image
DISCLAIMER: Akan banyak link. Nggak usah protes!  Gambar diambil dari sini . Cantik, dan pesannya positif sekali. No matter how hard you fall, it's how to get up that counts. Pada suatu malam yang iseng, saya dan beberapa setan biadab belahan jiwa ngobrol-ngobrol tentang... JAV . Saya yang penggemar hentai agak mengernyit mendengar mereka ngomongin betapa seksinya squirt, karena rintihan imut "motto, motto oni-chaaan... kimochiii..." yang mirip tikus kejepit pintu berulang-ulang sampai mampus itu jauh lebih unyu. Dulu saya sempat tergila-gila dengan anime Bleach  yang setiap ada episode baru selalu saya unduh sampai hard disk saya penuh. Di playlist saya juga ada The Seatbelts , Tokyo Ska Paradise Orchestra  dan Depapepe  diantara Symphony X, Apocalyptica, RATM dan Homicide. Belum lagi karya-karya Makoto Shinkai dan Akira Kurosawa -dono yang nggak bosan-bosan saya tonton. Dan saya selalu bermimpi sekolah di gerbong kereta tua seperti T...

Manifesto Jomblo and Proud

Image
Gambar nemu di koleksi wallpaper, dari sini Eh, elu dewasa dong! Cewek-cewek seumur elu tuh udah pada kawin-cerai berkali-kali, udah pada beranak-pinak banyak-banyak. Lha elu, pacar aja nggak punya... Sori, gue nggak perlu orang lain buat menegaskan eksistensi gue. Kalo sendiri aja gue udah bahagia, kenapa harus ngegeret orang lain untuk ikut bahagia versi gue? Emang dia bisa ngikutinnya? Belum tentu kan? Lagian, dewasa sama dengan menikah? Come the fuck on! Nggak semua orang yang menikah lantas jadi dewasa. Banyak pasangan yang kerjanya nodong duit ama orangtua padahal anaknya udah sak ndayak. Kayak gitu tuh dewasa? Halah, alasan aja lu. Bilang aja nggak laku. Lha, laku atau nggak-nya gue nggak bikin kehidupan lu lebih baik to? Nggak bikin para Muslim Rohingya berhenti disiksain kan? Nggak bikin orang-orang hilang di Indonesia jadi ditemukan to? Nggak membuat orang miskin dan anak terlantar otomatis dipelihara oleh negara, right ? Elu tuh keminter buat keb...

Belahan Dada, Anyone?

Image
Gambar nemu di HDD Pektay, lupa ngunduh di mana. Tapi jelas bukan punya saya. Secret makes a woman, woman - Chris Vineyard/Vermouth dalam komik Detektif Conan Ah, perempuan. Rasanya tak habis membahas mahluk ini, baik sebagai ibu, manusia, maupun identitas pribadi. Sudah dari sononya ia indah dalam tiap lekuk, diapresiasi oleh lawan jenis dan sesamanya sendiri, yang tiap jengkal tubuhnya adalah milik umum, masyarakat, norma, agama, etika, dan bukan miliknya sendiri. Selalu menarik untuk dikulik, hidup perempuan itu. Dan akan lebih menarik lagi memandang dan membicarakan belahan dada. Awalnya adalah perayaan pembebasan tubuh perempuan di ranah internet lewat kompetisi #cleavageunite2 yang digagas @inemsipelayan. Jujur, saya suka. Saya penikmat dan pengagum tubuh. Dan saya bukan lesbian. Saya mengapresiasi tubuh perempuan yang sintal, montok dan empuk-kenyal sebagaimana saya mengapresiasi tubuh lelaki yang alot-liat, cenderung kasar dan berurat. Bukan apa-apa. Membent...

Sunday (In)Sanity

Image
Kelihatan kan tatonya mas-mas yang buwanyak itu? Percaya sama saya, itu mas ganteng, bersih, terlihat sehat dan pintar. Dan sebagaimana manusia pada umumnya yang “nobody’s perfect”, sayangnya masnya itu nggak punya empati. Begitu pula jejeran lima lelaki lain yang duduk di barisan belakang bus Metromini 72 arah Blok M-Lebak Bulus itu. Menyedihkan. Karena nggak ada satu pun dari mereka yang mau angkat bokong merelakan kursinya untuk dua orang ibu tua yang naik dari pintu di dekat mereka duduk, yang jelas-jelas bungkuk, keriput, terombang-ambing seiring manuver supir meliuk-liuk sambil tangannya menggapai-gapai cari pegangan. Dan saya? Nggak ngasih duduk juga dong! Wong saya juga berdiri nggak dapet kursi. Oh, iya. Sebelum lanjut, saya mau kasih tahu aja. Saya akan judgmental abis di cerita-cerita saya nanti. Tahan ya, setidaknya sampai tulisan ini kelar. Terus, saya juga mau cerita tentang para gerombolan lelaki yang suatu pagi numpang nonton Euro 2012 di warung Eyang Kolonel S...

Quo Vadis, Perokok?

Image
Gambar diambil dari sini Dan sesungguhnya, apa yang kau sebut kebebasan adalah mata rantai terkuat dari belenggumu    - Khalil Gibran on Freedom Pernah merhatiin iklan rokok? Sebagai mantan buruh pabrik topeng, saya tahu tuh gimana babak bundasnya bikin konsep iklan yang nggak boleh menampilkan produk. Catchphrase dan visual mesti kuat supaya bisa menginfiltrasi benak manusia-manusia yang nggak sadar disusupi pesan subliminal agar “tersihir” kemudian membeli. Misalnya, bagaimana mengesankan perokok sebagai individu keren, insan yang bebas, sahabat yang baik, suka bergotong-royong, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka, endeswai, endesbrai. Blah!   Kalau bandwidthmu berlebih dan kamu bisa nonton yang di atas itu, kamu bakal ngeh bahwa peraturan pemerintah sama sekali nggak mengatur gempuran industri rokok di tanah air. Banyak warung rokok bersebelahan dengan sekolah dan bocah-bocah berseragam bebas mengeteng rokok me...

Halo, Sevel!

Image
Gambar diambil dari  sini   Tau Sevel? Itu, lho, 7-Eleven, tempat nongkrong (yang katanya) murah dan buka 24 jam di sekitaran Jakarta. Karena akses nggak kenal libur dan Wi-Fi gratisan, saya jadi sering ke sana. Entah nebeng garap kerjaan atau cuma nongkrong janjian dengan teman. Saking seringnya saya ke sana, saya jadi kebal dengan riuhnya dedek-dedek bercelana gemes atau kakak-kakak hipster. Tapi satu hal yang saya nggak kebal: buta kebersihan. Dua gambar itu saya ambil jam 3 pagi hari Senin, 7 Mei 2012. Meja yang letaknya ada diantara dua tempat sampah sebesar dosa tak terampuni yang kanan itu tadinya berisi tiga mas-mas yang sepertinya masih kuliah tingkat akhir. Gambar yang satu lagi tepat berada di sebelah meja saya, dengan tempat sampah yang sama besarnya diantara kami. Jika mata dan nuranimu jeli, kamu akan lihat ada yang salah dengan kedua gambar tersebut: sampah. Mengingat letak tempat sampah yang hanya sejangkauan tangan, usaha bukanlah jadi masalah ...

Class, Anyone?

Image
Bisa baca kan tulisan dalam gambar di atas? Saya capture dari thread salah seorang teman di grup. Membacanya, alis saya berkerut. Sebagaimana sering saya lakukan ketika sedang membaca tesis post-graduate yang harus saya terjemahkan, berita tentang fatwa haram MUI, laporan studi banding anggota kewan, keanehan kasus Gereja Yasmin, Filadelfia, dan Ahmadiyah, atau artikel di website Ar Rahmah. Saya tidak hendak menyerang si penulis secara personal, tapi ada banyak hal yang membuat saya gatal ingin komentar.  Pertama adalah pendapatnya tentang bergaul dan berteman. Seumur-umur saya numpang hidup di planet Bumi, saya kenal banyak orang hanya demi memenuhi kebutuhan sebagai mahluk sosial, bukan mahluk pekerja. Apalagi mahluk penjaga citra. Tapi jujur saja, saya banyak dapat pekerjaan dari pertemanan. Seringkali saya dapat SMS atau surel dari calon klien yang bilang, “Mbak, saya dapet nomer/alamat ini dari Mas/Mbak Anu, mau minta tolong terjemahin. Rate-nya berapa ya?” Ujung-...

About the Girl, About the Boy

Image
Gambar dari sini . Kalo sebagus ini nggak mungkin gue yang gambar kan? Her: Lu tau nggak? Seringkali jadi cewek pintar yang secara fisik nggak menarik itu menyebalkan Him: Why? Her: Cowok--nggak yang pintar atau yang bego--akan selalu tertarik sama cewek bego tapi seksi. Abis mereka having relationshit sama cewek bego karena bisa ngewe-ngewe bahagia, mereka kemudian akan pergi ke cewek pintar untuk 'selingkuh intelektual' dan merasa tertantang secara aman karena cewek pintar ini akan terlalu pintar untuk dapat ditaklukkan dengan komitmen berisi janji surga penuh madu buatan Him: Tapi itu berarti nggak ada yang pintar dua-duanya, karena masing-masing mengandalkan keberadaan lawan jenisnya untuk merasa eksis. Bukan begitu? Her: Ini bukan lagi masalah pintar atau bego diantara si cewek pintar dan si cowok bego/pintar. Tapi masalah posisi tawar dimana perempuan yang terlihat tangguh atau tomboy seperti layak dibanting tanpa ada rasa bersalah dari si lelaki. Karena itu ...

Catatan Kecil tentang Kekerasan

Image
Salah seorang penyintas suku Hutu yang disiksa oleh Milisia Hutu ‘Interahamwe’. Dia dicurigai bersimpati pada pemberontak Tutsi di Rwanda, Afrika. ©1994 James Nachtwey , USA, Magnum Photos for Time. The Roots of Violence: Wealth without work; Pleasure without conscience; Knowledge without character; Commerce without morality; Science without humanity; Worship without sacrifice; Politics without principles. - Mahatma Gandhi Bayangkan… Ada mbak cantik-seksi-wangi-cerdas yang dibanting pacarnya, dikata-katain lonthé nggak laku di BBM maupun di depan mukanya. Lalu ada mbak Kaukasian yang tambah dibengepin lagi oleh suaminya waktu bengepnya nggak bisa disamarkan dengan perangkat dandan saat mereka hendak kondangan. Kemudian ada lagi mbak-mbak pekerja di LSM anti-kekerasan yang lebam-lebam karena pasangannya selama dua belas tahun mendadak bersumbu pendek dan hal kecil bikin dia ringan tangan. Dan dalam semua peristiwa itu, para penyintas—survivor—hampir terlambat diselamatkan. ...