"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Tentang Memilih Mati

Posted by The Bitch on 8/11/2012 11:06:00 PM


There is only one God and His name is Death. And there is only one thing we say to Death: “Not today.” 
- Syrio Forel, the Dancing Master from Braavos to Arya Stark in Game of Thrones


Jika diperbolehkan, apa yang kamu pilih sebagai cara untuk mati? Atau, jika kau mengidap penyakit dan semua obat hanya bisa memperpanjang umur—dengan susah payah—tanpa bisa menyembuhkan, akankah kau pilih mati?

Jika kamu Oregonian penyakitan sekarat dan prognosis menyatakan hidupmu tinggal hitungan bulan, maka kamu bisa bunuh diri secara legal dan dilindungi undang-undang negara bagian. Namanya Death with Dignity Act.

Terdengar kejam? Negara terlalu riweuh ngurusin masalah personal?

Website resmi di sini.


Teruskan baca dan saya kasih spoilernya.

Ada Bu Cody Curtis, perempuan/istri/ibu/anggota masyarakat usia lima tiga yang berfungsi secara penuh dan dicintai keluarga dan teman-temannya. Seringnya sakit menghebat di perut membawanya ke dokter dengan hasil liver yang kanker. Dia harus menjalani operasi pemotongan separuh organ dalamnya agar sel pembunuh itu tak menyebar ke tempat lain. Ketika dokter memvonis hidupnya tinggal enam bulan lagi, dia putuskan untuk mengaplikasikan Undang-undang Bunuh Diri Bermartabat ini yang disahkan sejak tahun 1994. Bu Cody memang menggunakannya, sepuluh bulan kemudian ketika sakitnya tak lagi bisa ditahan kecuali dengan morfin setiap beberapa menit.

Lalu ada Nancy Ziedzielski. Suaminya yang baru berusia empat puluh menderita tumor di otaknya. Hanya dalam waktu setahun fisiknya berubah seperti kakek umur delapan puluh. Nancy melihat bagaimana kondisi pasangan hidup tercinta merosot, kulit kering mengeriput, rambut rontok karena obat dan bola mata menonjol yang terdesak tumor dari dalam. Sambil menangis dia bercerita bagaimana si suami bahkan meminta mati karena tak tahan menderita lebih lama. Nasib berkata lain. Karena mereka tinggal di Washington dan Undang-undang Bunuh Diri Bermartabat tidak ada di sana, Pak Ziedzielski akhirnya meninggal. Hal itu membuat Nancy berjanji pada dirinya sendiri, demi mendiang, untuk membuat Undang-undang tersebut ada di tempat tinggalnya dengan bergerilya mencari dukungan. Dan berhasil ketika Pemilu memutuskan Obama menjadi presiden.

Saya tak hendak menceritakan filmnya penuh-seluruh. Tapi saya tertarik dengan beberapa poin penting yang dinarasikan oleh penderita dan keluarganya melalui kisah tanpa naskah, melalui reaksi dan emosi mereka.

Saya ajak kamu melepas kotak agama dan kepercayaan barang sejenak demi karat otak saya yang akan kamu baca.

Gambar dari sini.


Terjemahan dari tulisan dalam gambar tersebut adalah “Orang sakit bukanlah beban yang harus kita buang. Mereka adalah sama manusianya seperti kita yang berhak mendapatkan perawatan dan penghormatan sampai ajal menjemput”.

Sebutlah mereka “beradab” karena tak tega membunuh sesama manusia; karena sakit adalah hal alami yang harus dijalani dengan gagah berani; karena mati sesuai hukum alam seperti menaruh respek lebih terhadap hidup. Namun bukankah evolusi pun adalah alami? Dan evolusi di bidang kesehatan serta obat-obatan membantu manusia memperpanjang usia harapan hidup, mengurangi dan bahkan menghilangkan rasa sakit, dan dapat mempercepat kematian tanpa derita berkepanjangan. Dan bukankah membiarkan seseorang tersiksa itu jauh lebih biadab ketimbang membebaskannya dari siksaan tersebut? Dan sebenar-benarnya, sejujur-jujurnya, siapa yang lebih pemberani—keluarga yang ditinggalkan (karena tak mau melepas sosok orang tercinta) atau si sakit yang memilih meninggal (dan tak ingin membebani siapapun lagi)? Dan untuk kepentingan siapa sih sebenarnya kematian itu? Mereka yang sehat atau yang babak-bundas lungkrah dihantam deraan sakit dalam banyak versi?

Saya tak hendak memihak, tapi saya sangat setuju dengan ucapan Bu Cody:

Akan lebih baik jika saya pergi saat kondisi saya masih normal, tanpa cairan tubuh menggenang kemana-mana dan keluarga tak direpotkan dengan penyakit saya.

Pertama, hal tersebut akan meninggalkan kenangan baik pada seluruh kerabat dekat dan keluarga karena bagaimanapun aroma dan visual adalah yang paling utama untuk dikenang.

Kedua, tanpa kabar dadakan, tanpa shock hebat dan trauma ditinggal mati. Para tercinta bisa menyampaikan penghormatan terakhir dan mencurahkan sayang ketika objeknya masih hidup. Bukan dalam tahlilan atau layat yang wafat.

Ketiga, untuk urusan bagi warisan akan lebih bisa diselesaikan dan dibicarakan secara paripurna dengan almarhum/almarhumah pemberi warisan yang masih hidup.

Bagi saya tiga hal itu sudah mencakup semua hal peradaban dan kemanusiaan di tingkat dasar. Semacam win-win solution. Dan jika ada undang-undang tersebut di Indonesia, yang memikirkan keberadaan dan kemaslahatan rakyat di bidang paling personal dalam hidupnya, saya rasa akan jauh lebih berguna ketimbang mengurusi agama dan kepercayaan yang teramat sangat personal dibanding selangkang.

Tapi yah… namanya juga negara masih 67 tahun yaaa. Dimaklumi aja lah. Hihi.

Selamat berlibur. Selamat puasa. Mentang-mentang nahan lapar dan haus, jangan pada males mikir yaaa.



Labels:

Tentang Karakter

Posted by The Bitch on 8/10/2012 12:17:00 PM

DISCLAIMER:
Akan banyak link. Nggak usah protes! 


Gambar diambil dari sini. Cantik, dan pesannya positif sekali.

No matter how hard you fall, it's how to get up that counts.


Pada suatu malam yang iseng, saya dan beberapa setan biadab belahan jiwa ngobrol-ngobrol tentang...
JAV.
Saya yang penggemar hentai agak mengernyit mendengar mereka ngomongin betapa seksinya squirt, karena rintihan imut "motto, motto oni-chaaan... kimochiii..." yang mirip tikus kejepit pintu berulang-ulang sampai mampus itu jauh lebih unyu.

Dulu saya sempat tergila-gila dengan anime Bleach yang setiap ada episode baru selalu saya unduh sampai hard disk saya penuh. Di playlist saya juga ada The Seatbelts, Tokyo Ska Paradise Orchestra dan Depapepe diantara Symphony X, Apocalyptica, RATM dan Homicide. Belum lagi karya-karya Makoto Shinkai dan Akira Kurosawa-dono yang nggak bosan-bosan saya tonton. Dan saya selalu bermimpi sekolah di gerbong kereta tua seperti Totto-chan.

Jepang sebagai negara penjajah itu memang bajingan. Selain sempat menduduki Indonesia di Perang Dunia II, produk budayanya juga merajai planet Bumi. Saingan utamanya cuma Korea dengan segala K-Pop Maha Kuasa, digilai dedek-dedek SMU yang sering nongkrong di Sevel pakai celana gemes. Kita--yang lebih dewasa dari semua dedek-dedek itu--dibesarkan dengan Doraemon dan Sinchan setiap Minggu pagi, dan lebih mengenal Inuyasha ketimbang Caroq-nya Ahmad Toriq (kalo nggak kita ya gue lah). Dan manusia-manusia Jepang juga sangat teratur, gigih, tepat waktu dan santun. Saya tahu itu dari cerita-cerita tentang samurai, commuter line, dan pejalan kere yang bertandang karena tiket murah, juga pakdhe-pakdhe yang sempat tinggal di sana beberapa tahun.

Benchmark prestasi dan rasa malu mereka begitu tinggi hingga banyak kasus bunuh diri anak-anak sekolah karena nilai yang anjlok. Dua menit saja kereta terlambat, pihak stasiun akan membagikan kertas kecil berisi permintaan maaf. Fungsinya sebagai penjelasan jika penumpang mereka telat masuk kantor atau kelas. Penduduk Jepang juga ramah sekali pada para pelancong. Ketika mbak-mbakan saya nyasar dan nggak ngerti jalan ke kuil yang ingin dia kunjungi, seorang ibu tua mengantarkannya hingga ke gerbang setelah melewati undakan tinggi dan banyak. Waktu dia nggak ngerti arah ke stasiun dan bertanya ke mas-mas sipit yang melintas, sambil tersenyum ramah dan bahasa Inggris patah-patah diantarkannya mbak saya sampai ke tujuan. Kemudian dia balik kanan setelah memastikan si mbak tahu harus naik kereta apa di peron mana.

Tapi ya nggak segitu "dewa"nya juga sih, Jepang itu. Sejarah menuliskan Jepang sebagai salah satu penjajah Indonesia di tahun-tahun terakhir Perang Dunia. Para penyintas yang dulunya dipaksa jadi jugun ianfu juga masih berjuang mengatasi trauma dan gangguan fungsi fisik hingga mereka sudah jadi simbah-simbah. Oh, tahu Unit 731? Selama bertahun-tahun salah satu unit militer yang berbasis di Manchuria tersebut menjadi lab paling horor bagi para tawanan perang. Diakui sebagai salah satu peristiwa kejahatan perang paling kejam, tawanan-tawanan tersebut dipergunakan sebagai "tumbal" atas nama sains dan untuk mengembangkan senjata biologis. Otopsi hidup-hidup? Dijungkirkan dengan kepala di bawah sampai mati? Perlu membelah kepala untuk ambil otak segar yang fresh from inside the skull? Itu sudah biasa di sana. Kalau perutmu kuat, meng-google-lah gambar dengan kata kunci Japan Unit 731. But don't say I didn't warn you.        

Tapi tidak ada satu negara pun yang bisa mem-branding citranya sebagai bangsa yang tegar saat di titik nadir, kecuali Jepang.    

11 Maret 2011 tsunami menghantam Tohoku dan hampir menenggelamkan "matahari terbit" itu, namun perjuangan mereka menyadarkan saya tentang mental bangsa. Beberapa kenalan saya jadi saksi betapa sabarnya orang-orang berbaris di jalur evakuasi, tanpa buru-buru, tanpa berdesak-desak meskipun gedung berderak-derak. Bocah, remaja, orangtua, lelaki dan perempuan. Mereka sudah tahu harus berjalan di mana dan ke mana. Minimart membuka pintunya lebar-lebar, membagikan makanan dan minuman dagangan pada saudara senasib, tanpa perlu dijarah. Perdana menteri bahkan meminta maaf karena merasa tak cukup mampu mengusir ancaman radiasi setelah sebelumnya langsung turun ke kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir yang mensuplai hampir 80% energi negara tersebut. Di semua media yang saya jelajahi lewat internet tak nampak sepotong pun mayat disela-sela reruntuhan, karena besarnya hormat mereka pada yang wafat.      

Dan saya malu mendapati Papa Nobita ketakutan diintai teroris, yang hanya bisa bilang "prihatin", menyulitkan pengungsi gempa Jogja yang terpaksa mesti berbenah tampil "representatif" meskipun hati berdarah-darah kehilangan rumah. Sementara itu jajaran kabinetnya menyedot darah rakyat sekarat dengan renovasi toilet bertotal 2 milyar rupiah SAJA dan ngambek minta naik gaji karena capek tidur di kursi empuk dengan dalih rapat di dalam gedung pantat. Sementara itu Ketua Dewan PERWAKILAN RAKYAT yang terhormat punya mulut tak beda dengan bajingan laknat.    

Tapi mungkin begitulah evolusi pungkas karakter bangsa pemalas. Semacam wajah buruk yang kita simpan rapat-rapat namun dijembreng vulgar oleh mereka yang katanya pemimpin. Kita punya sejarah dijajah Belanda selama 350 tahun. Sistem mereka membuat pribumi-pribumi "terpaksa" menjilati bokong-bokong bule pencari rempah dan sumber dana perang; atau mereka harus setor upeti dan digencet seperti cicak di sela pintu. Jelata bergaya seperti bangsawan, menginjak saudara sebangsa yang kisahnya bisa kamu baca di Tetralogi Buru-nya Eyang Pram. Para raja kecil terlalu ramah menerima penjajah, senyum dan tangan mereka terbuka lebar. Mungkin karena silau disogok macam-macam benda dari lain benua yang tak biasa? Atau kata-kata manis mereka membuat para penguasa tak mampu membendung liur? Atau mereka punya intel hebat yang tahu hingga ke tai-tainya orang sini? (Ingat Snouck Hurgronje, cendekiawan Belanda urusan Ketimuran?) Nggak tahu juga. Tapi yang kelihatan sampai sekarang adalah bagaimana kentaranya kroco-kroco mendekat pada pemilik kuasa seperti semut merubung gula. Berharap mendapat proyek dan cipratan rejeki. Bisa ikutan tender dengan markup setinggi-tingginya, operasional serendah-rendahnya, namun kualitas setiarap-tiarapnya.

Dan ini kesimpulan sotoy saya dengan ilmu cocoklogi: melalui sistem jilat pantat yang dipelihara ratusan tahun itulah priyayi-priyayi kecil tercipta di rumah-rumah; sampai penjajah bule hengkang sistem tersebut masih dilestarikan oleh para pengangkang kekuasaan. Mau contoh kecilnya? Lihat saja saudara sebangsa yang apes tak mampu nyicip pendidikan dan kurang makan terpaksa bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Dengan dalih "kamu udah tinggal di sini, nggak perlu bayar kos; makan di sini, nggak perlu beli; nonton tivi juga boleh" jam kerja mereka lebih panjang dan lama. Job desc adalah "melayani semua orang di rumah", padahal tak ada satupun manusia yang bisa melayani dua majikan. Lupakan liburan. Lupakan sekolah lagi atau ujian persamaan untuk mendapatkan ijazah demi peningkatan kualitas hidup. Saya lihat sendiri kok bocah-bocah cadel yang TK-pun belum namun fasih teriak "Bibiiik!" hanya untuk ngambilin minum sejangkauan tangannya. Hidup dibuat gampang, apa-apa minta dilayani, nggak ada yang bikin nantang. Kalau kepingin sesuatu tinggal beli di mall yang berjamur hingga ke pelosok negeri. Jadi, harusnya saya nggak heran jika hal seperti ini kejadian di depan mata. Mumpung bisa diladeni. Mumpung bisa nyuruh-nyuruh. Ngapain juga repot-repot ngerjain sendiri. Iya kan?

Eh, tapi saya percaya kok yang baca tulisan ini bukan orang-orang Indonesia kayak gitu. Kan terpelajar. Iya kan? Bener?

*nyengir*

Ngemeng-ngemeng, selamat ulang tahun, Indonesia! Selamat buka mata dan hati, rakyat. Jangan gampang diadu-domba sama isu-isu agama dong. Udah nggak ngetren di dunia. Negara lain sudah ngirim mini cooper ke Mars, kita masih bunuh-bunuhan aja Tuhan siapa yang patut disembah pakai cara apa. Cih!

Ini saya kasih logo dari KDRI aja, yang jauh lebih keren dari logo resmi bau Orba. Silakan dikopas.



Indonesia mendunia dengan kekuatan Garuda! Hell, yeah!


Labels: