20190117 - The Soulcatcher

Tayang dengan persetujuan.

Coincidence is a myth. We're meant to meet anyone who crossed our path. Some left as friends, lovers, and even soulmates;
some left us a lesson.

Namanya Vembri, tinggalnya jauh (dan mahal) di Papua sana. Saya mengenalnya karena teman hidupnya adalah juga teman saya seangkatan di kampus AMDG. Waktu saya ke Jakarta kemarin, kami sempat bertemu. Dia ke Jakarta karena urusan popotoan. Namanya masuk menjadi salah satu penerima hibah dari Panna Foto Institute. Sebenarnya saya hanya kurir. Saya membawakan majalah Natgeo Indonesia titipan istrinya, Pipin, edisi khusus Januari tentang obat-obatan karena tulisan dan foto Vembri terbit di sana. Tapi karena saya orangnya ogah rugi, ya sekalian saja saya aku-aku teman.

Vembri adalah salah satu dari berderet-deret fotografer yang saya kenal di Jakarta, Jogja, dan Bali. Lingkaran kami yang bersinggungan akhirnya membuat kami ngobrol di WhatsApp. Dan seperti semua kejadian "serba kebetulan" lainnya, pekerjaan saya sekarang membuat saya sering mengontak Pipin sebagai konsultan sebelum akhirnya bertemu Vembri.

Saya dan Pipin dulu seringnya cuma gonggong-gonggong unyu. Setiap papasan di lobi atau lorong kampus, dia senyum sambil say hai. Saya balas senyum sambil say hi juga. Meskipun kami sekelas, kami nongkrong dengan teman-teman yang berbeda. Namun satu hal yang masih saya ingat sampai sekarang adalah Pipin punya ke-ada-an yang magis. Setiap dia nongol wajah semua teman-temannya langsung menyala terang seperti lampu studio. Dan dari Vembri saya jadi tahu lebih banyak soal Pipin.

Vembri dan Pipin adalah #couplegoals saya--kalau suatu waktu ada yang khilaf pengen kapelan sama saya. Bencana memperkenalkan mereka di salah satu lembaga kemanusiaan. Jalan mereka beberapa kali berpencar, jauh dari satu sama lain. Tapi selalu ada sesuatu yang mempertemukan mereka kembali, sampai akhirnya mereka jatuh cinta pada tanah yang sama: Papua.

Buat saya yang anak-kota-banget, keputusan mereka untuk meninggalkan akar di Tanah Jawa dan pekerjaan bergaji banyak untuk lebur di Papua adalah kegilaan. Mereka meninggalkan sahabat, rekan seperjuangan, rumah yang dianggap sampah peninggalan, belahan jiwa berkaki empat, dan semua kenyamanan-kenyamanan hidup yang dengan gampang mereka dapatkan hanya untuk babat alas di wilayah yang menurut saya paling mengerikan di negara yang katanya Indonesia. Waktu saya mellow-mellownya adaptasi dengan sepinya perkebunan, Pipin berkisah soal tugas sebagai guru di Lanny Jaya--salah satu wilayah di Papua yang tanpa listrik--lebih dari setahun. Saat saya goyah karena dilepeh-lepeh cowok melulu, Vembri bercerita tentang Nduga dan kegilaan negara mengeruk habis sumber daya tanpa mengindahkan nyawa manusia. Saya seperti butiran upil di ketek tardigrade mendengar kisah-kisah mereka.

Dari Vembri juga saya diperkenalkan dengan Sisir Tanah--Mas Danto yang sewaktu saya di Bali sering saya dengar di Infinity dan sering saya tertawakan karena menyanyi pun logat Jawanya masih medok sekali. Vembri dan Mas Danto berada dalam satu komunitas yang sama, membaca buku yang sama, nongkrong ya bareng, dan sama-sama Dancing Out dari kampus yang sama. Lagu Pejalan-nya konon adalah formulasi cerita-cerita yang mereka bagi pada masa-masa jalan kaki trayek panjang mengarungi kemalaman tanpa transport di Jogja yang agak jahat, berawal dari Gejayan sampai Gayam, untuk kemudian meminjam sepeda pulang ke Taman Siswa. Dan setelah dirunut-runut, saya dan Mas Danto ternyata bermuara ke orang yang sama: mantannya. Ahahaha. Ncen Jogja ki wonge kui-kui wae owg.

Saya senang mendengar Vembri bercerita. Cerita dengan suara dari mulutnya, selain cerita dari jiwa-jiwa yang dia tangkap dengan lensa hingga membawanya ke Jakarta. Vembri adalah sedikit dari fotografer yang nggak pelit berbagi. Meskipun selisih umur kami nggak banyak, tapi dengannya saya seperti sedang didongengi almarhum kakek yang pengalamannya banyak sekali. Saya kelelahan dibawa bertualang mundur-maju ke jejak-jejak hidupnya, di antara Kopi Papua yang dia bikinkan untuk saya, di studio yang masih libur tahun baru, di sela lalu-lalang kucing-kucing gendut di beranda. Tapi semua bikin nagih. Dan sepertinya saya punya tujuan lagi untuk dikunjungi: Papua. Suatu hari saya pasti akan di sana.

Terima kasih semesta yang mempertemukan saya dengan manusia-manusia hampir dewa.
   


Comments

Popular posts from this blog

Tentang "Dikocok-kocok" dan "Keluar di Dalem"

Cerita Akhir Pekan

Day 4 - H O P E