20190106 - Maukah Kamu?


Hai.

Maukah kamu menari bersama di bawah hujan dan badai menggemuruh sebagaimana kita kanak-kanak dahulu, tanpa takut pilek dan kilat dan geluduk?

Maukah kamu terjun bebas tanpa parasut dan tanpa pengaman apapun kecuali tanganku dalam tanganmu dan mataku yang lekat pada matamu?

Bisakah kamu menahan semua keinginanku terhadapmu yang akan membuatmu bukan menjadi dirimu sendiri sementara aku terlalu baja yang kau coba tetesi dengan air raksa?

Maukah kau menyeka tangis dan sakitku yang tumpah tak terbendung selewat tengah malam tanpa kutahu mengapa sementara yang kuperlukan hanyalah dekapan erat dan kebohongan manis yang diucapkan sambil berbisik, bahwa pada akhirnya, apapun yang terjadi, semua akan baik-baik saja, meskipun esok matahari masih leyeh-leyeh di saujana sementara ayam jantan sudah lelah klurak-kluruk?

Pernahkah kau merasa muak ketika udara yang kau hirup dan tak pernah sampai penuh ke sepasang paru-paru sementara dunia begitu menghimpit seperti belahan tetek waria hampir tua yang mengais-ngais rezeki dengan betotan bas kotak di antara warung-warung tenda selatan Jakarta pada malam hampir pagi?

BIsakah kita saling menunggu masing-masing pulang pada suatu sore di beranda rumah sambil menyesap teh atau kopi panas dan memandangi langit bersemburat jingga yang lalu diubah semua penyair di seluruh dunia menjadi bait lagu dan larik puisi?

Bisakah kau tahan selalu terbangun dan tertidur di sampingku, hampir setiap waktu, hampir seumur hidup?

Bisakah? Maukah?




Comments

Popular posts from this blog

Tentang "Dikocok-kocok" dan "Keluar di Dalem"

Cerita Akhir Pekan

Tentang Perempuan