"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

What is in A Name?

Posted by The Bitch on 11/05/2015 09:44:00 AM

Beberapa panggilan untuk orang-orang tersayang, tapi sebenarnya makian.
Word cloud empowered by Tagul 


What's in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet
- William Shakespeare in
Romeo and Juliet, Act II. Scene II

Saya percaya nama adalah harapan, tersemat di sekujur tubuh, mengalir di pembuluh darah, bahkan sebelum tangis pertama seorang bayi terdengar. Nama adalah "label" lain yang diberi orang tua untuk anaknya, selain "label" biologis semacam kelamin, warna kulit, bentuk dan warna mata dan rambut, jumlah jemari, dan sebagainya. Nama juga menjadi penanda eksistensi manusia dengan sekelilingnya, terutama dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Dalam drama roman-romanan, Shakespeare yang kutipannya saya comot juga telah menciptakan tragedi konyol hanya karena nama belakang Mas Romeo dan Mbak Juliet. Padahal kan mereka bisa kabur aja dari Itali ke Spanyol, terus pilih deh antara Niña, Pinta, atau Santa Maria buat ditebengin, ngikut Om Columbus menemukan Amrik. Dan sambil jalan bisa asyik-asyikan bikin dedek. Ihik!

Kita nggak bisa lepas dari nama. Dan bukti keberadaan seorang manusia diringkas ke dalam sesuatu yang informatif namun riil dan bisa dipegang/dilihat/dikroscek semacam KTP, SIM, STNK, NIM, kartu pelajar, paspor, membership Alexis, buku tabungan, keanggotaan pijat plus-plus, daftar peserta arisan gigolo, macam-macam lah. Tergantung kita masuk "kotak" yang mana. Mau disebut sebagai apa. Regular di Alexis kah, atau regular di Grahadi.

Beranjak dewasa, dengan bertambahnya orang yang bersinggungan dalam hidupnya, bertambah teman, bertambah kerabat, manusia bisa saja punya nama atau "harapan" yang dirasa lebih tepat baginya. Semua menunjukkan kedekatan, rasa sayang, maupun penghormatan secara profesional. Misalnya saya. Bagi keluarga, beberapa teman, dan kerabat, saya adalah "Pipit". Almarhum kakek-nenek dari Babab memanggil saya "Nok". Sepupu-sepupu dan sahabat saya di masa lalu memanggil saya "Pitoy". Untuk mantan, saya adalah "Bogel" (yang bantet ya, bukan yang tlenji. IYA. SAYA BANTET. POWAS?!). Untuk seorang teman chatting asli Semarang namun sejak SMA dan hingga saat saya mengenalnya sudah usia 35 tinggal di Belgia, saya adalah "Indil-indil Wedhus". Untuk petugas gerai penyedia GSM, teller bank, dan pemilik dog hotel tempat saya menitipkan Tuhan, saya adalah "Ibu". Buat Si Ineum, saya "Kanjeng Ibuk". Mas-mas yang dulu S1 di Al Azhar Mesir dan S2 di Malaysia dan pulang ke Indonesia jadi pimpinan pesantren memanggil saya "Keset Kaki". Ada juga teman-teman penyayang di Jogja yang memanggil saya "Nduk". Tapi buat kamu, saya terima aja kok dipanggil "Hun". Tsah!

Meskipun saya lebih suka memanggil diri sendiri sebagai "Pito", nama generik saya adalah "Pit". Meskipun saya diharuskan Ibu untuk selalu menyertakan nama sandang untuk orang yang lebih tua (Budhe-Pakdhe, Om-Tante, Mas-Mbak), saya sih lebih senang kalau anak teman saya hanya memanggil nama--Pito. Nggak, bukannya saya mau sok dibilang muda. Tapi menurut pengalaman saya, ketika seorang bocah dibolehkan memanggil orang yang lebih tua hanya dengan namanya, interaksinya akan lebih asyik dan menyenangkan, tanpa ada jeda "penghormatan", asalkan saya juga nggak berjarak untuk minta dihormati, dengan atau tanpa sebutan "Tante". Seorang anak akan merasa lebih "gedé", lebih bisa diajari bertanggung jawab karena disejajarkan dengan orang dewasa. Dan "Tante", "Om", "Budhe", "Pakdhe" akan lebih menunduk dan memahami si bocah karena 'dipaksa' sejajar dengan pikiran kanak-kanaknya. Saya pikir penyamaan derajat ini akan sangat bagus untuk mendorong kepedean si bocah sambil mengembangkan kemampuan orang dewasa untuk mengunjungi kembali ingatan ketika dirinya kanak-kanak. Tapi ya... tergantung seberapa dewasanya si orang dewasa sih.    

Dan saya belajar itu dari David. Waktu saya bekerja di warnet keren di Ubud, 90% member adalah orang asing berkulit putih. Dia salah satunya. David ini adalah seorang kurator dari Amrik, lulusan Harvard, sempat bekerja di Berkeley, dan sejak usia 17 sudah berlayar dari AS ke Australia mengawaki yacht pesanan untuk lomba. Seumur hidup, setelah dia mengingat-ingat dengan senyum sumringah dan mata berbinar, dia telah menyambangi lebih dari 60 negara di 5 benua, dan Ubud adalah salah satu persinggahannya. Oh, saya belum bilang ya kalau David ini sebaya almarhum kakek saya? Usianya mungkin sudah hampir 70 tahun.

Pertama kali bertemu, dia agak memaksa saya untuk memanggilnya dengan nama depan. Tanpa embel-embel Mister atau Sir. "Come on! I'm not that old, am I?" Protesnya sambil tertawa mendengar saya selalu kepleset lidah menyebut "Sir". Obrolan yang awalnya canggung di tengah rehat merokok lama-lama jadi seru. Kami nggak berjarak. Kami melebur menjadi semacam teman baik yang terpisah waktu. Dan saya sangat menikmati sesi ngobrol dengan David. Satu hal yang paling berkesan bagi saya ketika di hari terakhir sebelum dia kembali ke negaranya: kami nongkrong di warung, makan malam kesorean, ngopi sambil sesekali tergelak, lalu berpelukan dan saling mengucapkan selamat tinggal, sampai bertemu kembali, sebelum kami berpisah.  

Lalu ada Katie yang anaknya saja lebih tua dari saya dan cucunya sudah tiga. Pertama kali bertemu dengannya sekitar dua tahun lalu, Katie berkisah tentang perjalanannya yang tergolong telat. Katie "baru" delapan tahun menjadi nomad setelah suaminya berpulang. Ia mengatasi sedihnya kehilangan pasangan jiwa dengan melancong dan tinggal dari satu negara ke negara lain. Pekerjaannya sebagai penulis membuatnya bebas melakukan itu. "One of these days you'll roam this Earth and have a far greater journey than I am. I see it in your eyes!" ujarnya setelah memeluk saya lalu beranjak pergi. Dan, seperti David, dia menolak "dihormati" dengan panggilan Miss maupun Ma'am. "I know I'm old enough to be your Granny, but please call me Katie," katanya.    

Dari dua manusia badass itu saya belajar bahwa menghormati juga bisa dilakukan dalam bentuk kedekatan, tanpa titel, tanpa nama, tanpa memandang usia. Saya nggak bilang budaya bule lebih baik dari budaya Timur, budaya Indonesia, yang membuat manusia-manusianya merasa sungkan memanggil orang yang lebih tua tanpa tambahan nama penghormatan. Lagipula di dunia saya sekat-sekat budaya Timur-budaya Barat makin kikis setiap hari. Dan bukankah penghormatan--penerimaan--terbesar adalah membiarkan orang nyaman menjadi dirinya sendiri?

Sekarang bayangkan kejadian A yang seperti ini:
Kamu berkunjung ke rumah kawan pada suatu siang yang gerah. Selesai makan bersama keluarganya, seperti kebiasaanmu di rumah, kamu akan copot pakaian dan ngadem hanya dengan mengenakan sempak. Kamu nyaman seperti itu. Tapi temanmu nggak nyaman. Dia menegur dengan sopan. "Tolong lah, minimal kaosnya dipake deh," katanya. "Kayaknya lebih asyik aja sih kalau kamu nggak sempakan doang." Lalu kamu menjawab: "Duh, tapi aku biasa di rumah kayak gini, jeh. Ibu-bapakku ngajarinnya gini," katamu cuek.

Lalu bandingkan (meskipun saya maksa dan kamu nggak bisa protes) dengan Kejadian B di bawah ini:
Kamu nongkrong dengan temanmu di kafe. Lalu temanmu itu bertemu seseorang yang jauh lebih muda dan kalian diperkenalkan. Dia, si brondong ini, memanggilmu "Om" karena kebetulan kalian laki-laki dan usiamu jauh di atasnya. Lalu kamu menegur: "Duh, panggil nama aja nggak usah om-oman. Aku dipanggil "Om" cuma sama keponakan atau sama dedek-dedek celana gemes yang mau diajak check in." Dan si brondong menjawab,"Yah, nggak enak, Om. Mamaku ngajarin aku mesti hormat sama yang tuaan."

Nah, sampai sini kamu udah bisa bikin kesimpulan kan maksud saya sebenernya apa? Iya. Saya nggak mau kenal kamu di A dan nggak bakal kenalan sama brondong songong di B.

Gituuu.



Comments:

  at: 9:58 AM, posted by Anonymous warm said...

oke deh kalo gitu saya manggil Pito aja deh, tanpa mb.. eh emang saya biasanya manggil njenengan apa toh yo? lupa hehe

eh soal panggilan nama itu, saya malah inget novel anak2 mama alin-nya bubin LantanG, bapaknya membiasakan kembar 3 nya manggil dia Rana, bukan pak..

dan itu analogi di bagian akhir itu keren e mb.. eh Pit :D

  at: 12:45 PM, posted by Blogger The Bitch said...

Wah, aku belom pernah baca Mama Alin. Atau udah pernah tapi lupa. Soalnya di rak buku nenekku aku inget pernah liat bukunya. Jadi penasaran...

Kalo nggak keren bukan pito lah, Om. Eh, tapi sampean keberatan nggak to dipanggil Om? Hihi.

  at: 1:08 AM, posted by Anonymous warm said...

di rak buku nenekmu? :o
itu diambil dari serial di majalah Hai tahun 90-an lho :D

ya ya biasanya jg dipanggil gitu toh, ya jelas ndak apapa2 ehehe

  at: 12:34 AM, posted by Blogger The Bitch said...

iya, rak buku nenek. yg punya bukunya kakak sepupu 😅
Post a Comment

<< Home