"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Puppy (I) Love

Posted by The Bitch on 9/15/2014 03:29:00 AM

Lirikan matamu, Dek...


Nyari teman hidup setia, menghibur, lucu, penyayang, menyenangkan, (sedikit) nakal, selalu menunggu kamu pulang dan nggak pernah rese nanya-nanya? Piaralah anjing.
- Guweh


Bocah perempuan kecil di atas itu bernama Tuhan. Dia ditemukan seorang teman (yang akhirnya jadi godfather-nya) sedang menangis ketakutan pada suatu malam akhir Mei 2014 di dalam gorong-gorong kering di perempatan Sunset Road, Bali. Punggungnya penuh luka, perutnya besar, dan selalu garuk-garuk. Keesokan harinya dia dibawa ke BARC, Ubud, dikasih obat cacing dan anti kutu. Menurut Mbak Dokter di sana, usianya paling antara 6-8 minggu. Masih terlalu kecil untuk bisa bertahan di dunia luar sendirian, untuk mencari atau berebut makanan dengan mahluk-mahluk yang lebih besar, lebih tua, lebih buas, dan lebih berpengalaman. Beberapa jam setelahnya saya nggak nyangka tubuh sekecil itu bisa menjadi inang untuk sesuatu yang menggeliat-geliat keluar dari feses. Ugh!


Belajar menggambar bersama Om Lou dan Om Rio. Tapi Tuhan betean, terus dia WO aja gitu...


Tuhan makannya banyak! Dan dia tumbuh jadi gadis kecil ramah yang terlalu senang bertemu manusia. Dia nggak tau bahwa nggak semua manusia suka sama dia. Tapi dia nggak peduli. Dia akan menandak-nandak kegirangan dan menyambutmu senang, bahkan saat kamu belum sampai pintu.


Kalo ini belajar menggambar bersama Bapak Asuh alias The Godfather, Pak Nik

Tuhan juga pintar, pipis dan eek selalu di kamar mandi. Meksipun untuk ngajarinnya mesti pake proses stress dan berdarah-darah yang lebih parah dari garap deadline mepet. Saya pernah ngendon di kamar untuk observasi dua hari full, merhatiin gimana tanda-tandanya dia kebelet pipis atau eek, lalu mengangkatnya ke kamar mandi ketika dia sudah mulai mengendus bagian bawah pintu dan mendengking-dengking gelisah. Bersihin urin dan ngepel minimal sehari tiga kali? Wis biasa! Dan saya ngiri luar biasa sama pawang guguk ganteng yang bisa ngajak gerombolannya jalan-jalan nyaman tanpa ada yang berantem atau pis-ek sembarangan. Tapi bagusnya, sebagai Balinese asli, Tuhan pantang eek di lantai dan menahannya sampai waktunya keluar jalan-jalan. Dan lama-lama dia bisa juga eek di kamar mandi. Syukurlah.  


Ini berarti waktunya beli helm baru karena yang ini sudah ganti fungsi jadi gendongan

Entah kenapa Tuhan selalu suka menggigiti dan menggondol barang-barang terlarang, meskipun mainan dan tulang tersedia untuknya. Seberapapun kamar tertata dan semua barang diletakkan di tempat yang jauh dari jangkauan, dia akan cari cara ngeberantakinnya. Pernah pada suatu hari dia menggondol pouch berisi sabun cuci piring dan entah bagaimana dia menyebarkan setengah isinya ke seluruh penjuru kamar. Walhasil, dini hari jam 3 pagi, sepulang saya kejar setoran, saya harus ngepel basah 15 kali buat membersihkan 'hasil kejahatan'nya. Setelah itu saya merasa sedang berdiam di vagina perawan karena kamar saya jadi harum dan kesat.


See?

Lalu saya harus pindah ke Denpasar karena ternyata pemilik tanah atau mertua induk semang saya--yang sekeluarga besar hingga lima turunan ke atas semuanya orang asli Bali yang biasanya malah ternak anjing di halaman--ternyata nggak suka anjing. Meskipun Tuhan sedikit menggonggong, nggak pernah rese, nggak pernah ngotorin (karena selalu saya bersihkan), dan nggak pernah ganggu tetangga. Sekarang kami sudah hampir sebulan menempati kamar baru, dan semua masih baik-baik saja.


Tapi kalo udah begini siapa juga yang tega marahinnya?


Terus kami happily ever after?

Nggak juga!


Terus kalo dihukum jadi platipus ngadunya sama bebek-bebekan...

Masalah datang dalam bentuk mahluk berkaki empat yang nggak kalah lucu dan bernama Kim. Jantan kacang hampir 2 tahun milik mbok di komplek belakang ini girang sekali menyambut kami. Well, menyambut perempuan kecil berkaki empat saya, lebih tepatnya. Dan Tuhan yang biasa bermain dengan mbak-mbaknya--Abbi (beagle) dan Poppy (mix pom-shih tzu)--sepertinya memang sudah memiliki semangat girl power dalam darahnya. Dan demikianlah, yang harusnya jadi acara perkenalan dengan masing-masing bocah akan mendekat malu-malu lalu main-main bahagia malah jadi ajang unjuk dominasi: siapa menunggangi siapa!  


The Romeo yang pemalu, makanya dia buang muka. Kalo dia om-om kaya bakalan buang duit

Setelah hampir dua jam mereka kenalan brutal akhirnya dua mahluk itu terengah-engah kecapekan. Dan kami pun masuk karena sudah lewat tengah malam. Tapi tebak apa yang terjadi kemudian? Hingga keesokan pagi Kim ternyata masih ada di depan pintu kamar kami! Dan itu berlangsung tiap hari. Awww banget kan?!

Ya tapi akhirnya maminya Kim kayaknya bete. Hingga pada suatu hari dia lewat, motornya berhenti tepat di depan saya. Dan sambil melihat Kim yang berlari-lari unyu menghampiri, dia bertanya retoris--dan matanya nggak lepas dari si guguk kacang, bukan ke saya--"Kim kenapa sekarang di sini terus?"

Nyeh. Menurut lo aje, Mbok...


Cieee yang lagi berantem, cieee...

Sampai sekarang saya nggak pernah lepas Tuhan tanpa kekang meskipun halaman lumayan luas untuk dua guguk kecil berlarian dan Tuhan sudah disteril dan kemungkinan lebih bersih daripada penis kalian karena sering saya seka pakai lap berlumur larutan antiseptik sepulang jalan-jalan. Bukan apa-apa, tetangga sebelah saya yang keluarga muda asal Pekalongan itu punya anak kecil umur 5 yang luar biasa manja tapi penakut sama anjing. Tiap saya keluar dan si bocah from hell itu ada, meskipun dia sedang di teras yang jauh lebih tinggi dari kami dan Tuhan jelas-jelas nggak bisa kemana-mana, dia pasti akan langsung, "Aaaa! Mamaaa! Ada HanHan! Takuuut!" Jangan tanya seberapa besar dorongan saya untuk melepas leash sambil menepuk pantat Tuhan biar dia langsung lari ke sumber "Aaaaa!" menyebalkan itu. Dan saya sangat menunggu setahun lagi mereka ada di sini dan akan tertawa melihat betapa repotnya Mama atau Ayah menggendong-gendong anak mereka yang sudah besar karena takut anjing, which is di Bali ada di setiap pojokan.

Lihat mata saya... Kamu akan kasih saya tulang guwedhe...
Lihat mata saya...

Saya males ribut dengan orang sekitar, padahal masalah bisa saya selesaikan sendiri. Makanya saya selalu mengenalkan Tuhan sebagai HanHan pada tetangga, biar nggak pada banyak nanya. Dan saya juga bisa ajak jalan-jalan Tuhan secapeknya supaya dia nggak bosan dan lasak dan nggak rese di kamar sendirian kalau kebutuhan jalan-jalannya sudah terpenuhi.

Oh iya. Kenapa saya kasih nama Tuhan?

Dari dulu saya sudah kepingin punya anjing bernama Tuhan supaya skenario seperti di bawah ini bisa terjadi.

Teman Rese yang Suka Sekali Ngurusin Orang: Eh, Pito sekarang religius mampus lho. Gue nggak nyangka
Teman Polos yang Kemungkinan Besar Masih Perjaka/Perawan di Usia 30: Kenapa gitu?
TRSSNO: Iya, sekarang kerjaannya tiap hari ngasih makan sama ngurusin Tuhan. Kadang Tuhan diajak jalan-jalan. Edan lah!
TPKBMPU30: EGILAK! CIYUS LOH?!


Ini lirikan yang udah agak gedean.
Tato GK di kuping itu penanda kalo Tuhan alumni Good Karma, klinik BARC,
tempat dia operasi steril




Labels:

Mari Mencium Pantat!

Posted by The Bitch on 9/13/2014 11:44:00 PM

Semua perbuatan baik berawal dari niat baik. Kecuali kalo yang berbuat adalah parpol
- Guweh 

Gambar diembat dari sini

Lihat gambar di atas?

Saya sih suka. Dan entah si bapak-bapak itu ngebayangin apa ke bocah-bocah. Maaf ya, Pak. Saya nggak nuduh. Tapi hari gini, kita nggak pernah tahu pedo bear bermanifestasi ke orang (bertampang) baik-baik seperti apa lagi. Tapi saya ngebayanginnya para bapak itu merasa bangga karena ilusi pengayom dan penyedia bagi anak-anak.

Ini gambar ngembat juga, tapi dari sini

Sekarang gambar di atas itu. Saya nggak suka liatnya. Bukan karena si bapak nyengirnya mengerikan kayak pengusaha human trafficking, bukan. Tapi gimana cara orang di hadapannya cium tangan. Nunduk banget, kayak yang pasrah-madep-mantep-total gitu. Oke, kalian emang dibantu. Tapi ya nggak gitu-gitu amat, lah. Itu masalah saya sih, bukan masalah mereka. Dan mereka (juga kamu) juga nggak perlu tau itu. Nggak penting, nggak bikin orang-orang berhenti rebutan tanah di Palestina.

Tapi satu hal yang paling penting, adalah tradisi cium tangan.

Sebengal-bengalnya anak-anak Bu Anggi, tiap akan keluar rumah serius (yang harus naik Patas atau commline), saya dan adik saya akan selalu menyempatkan semenit-dua untuk cium tangan sambil pamitan. Pas udah gede, saya baru ngeuh artinya, yaitu biar orang rumah tau kalo kami keluar rumah, dan kalau ada apa-apa di jalan sudah pamitan.

Di keluarga kami pun masih ada tradisi cium tangan ke orang (di)tua(kan). Jika ada arisan keluarga, jika ada orang asing yang saya dan adik saya nggak tau itu siapa, kalau waktunya salaman ya kami cium tangan. Ya nggak cium tangan banget sih, paling nempelin tangan ke pipi atau jidat. Nggak kebayang kan kalau misalnya halal bihalal dan harus baris untuk cium tangan beneran, dan kita ada di antrian paling buncit? Duh, itu tangan udah kena moncong siapa aja?!

Sampai setua ini pun kebiasaan cium tangan masih saya lakukan ke orang-orang yang saya anggap dekat dan lebih tua. Biasanya mereka para "empu" masa kini yang berilmu tinggi yang pengetahuannya sering saya curi melalui ngobrol sambil ngopi.

Tapi saya belajar banyak tentang berbagi melalui gestur lain, yaitu pelukan. Orang-orang yang kenal saya secara personal akan tahu betul bahwa saya sangat peduli pada ruang personal. Kalau nggak kenal-kenal banget, salaman aja saya males. Apalagi pelukan. Tapi pelukan antara dua orang yang bertemu kembali setelah sekian lama adalah bahasa paling jujur tentang kerinduan, urjensi untuk catching up, keingintahuan menyenangkan, dan semua hal yang hanya bisa dibagi antar dua orang teman baik.

Tapi sebagaimana dua mata pisau, dalam cium tangan dan pelukan tetap akan terasa palsu jika kita nggak benar-benar tulus melakukan. Dan saya, meskipun terkesan nakal, masih sangat naif untuk hal ini.

Saya sering aneh sendiri jika ada orang yang cium tangan atau pelukan dengan maksud ingin ter"lihat" menghormati dan kesan diterima. Makanya saya sering risih sendiri kalau ada dedek-dedek unyu yang pamitan sambil mencoba cium tangan ke saya. Saya akan langsung refleks menarik diri sambil komentar, "ih, elu kayak anak panti asuhan abis dikasih sumbangan deh!" Maafkan saya, buat kalian anak-anak panti. Bukan maksud saya bikin kalian sebagai parameter cari muka. Buat saya, the least you can do adalah cium tangan ke para donatur buat, ya itu tadi--membuat mereka mengalami ilusi menyenangkan sebagai pengayom dan penyedia, dan kemungkinan besar akan mengulangi bantuan di kemudian hari lagi. Saya nggak ada masalah dengan itu. Kalian perlu itu, karena nggak bisa ngandelin dana dari pemerintah terus-terusan. Kalau bisa, malah saya bakalan coaching kalian gimana caranya cium tangan atau mendengarkan cerita basi para donatur sambil terlihat bahagia, segaring apapun cerita si donatur.        

Kesimpulannya ya gitu. Karena cium pantat bisa dikenakan pelanggaran UU Pornografi, makanya mending cium tangan aja. Meskipun secara anatomi, tangan dan pantat letaknya berjauhan, toh secara fungsi dan gestur antara cium pantat dan cium tangan sebenarnya cuma beda tipis. Lagipula, tangan, apalagi tangan yang buat cebok, itu lebih (terkesan) bersih daripada pantat karena akan selalu dicuci. Di wilayah tropis semacam Indonesia, tangan akan selalu terbuka dan diangin-anginkan. Nggak ada kesempatan lembab keringat dan tertutup pakaian seperti pantat sehingga nggak mungin tangan kita berbau pantat. Jadi, mendingan kita cium tangan aja. Demi kemaslahatan kita semua!





 

Labels:

Ndoroku, Ndoromu, Ndoro Kita Semua

Posted by The Bitch on 9/11/2014 07:42:00 PM

Rupamu, Ndor... (Gambar diambil dari sini)


"Lelaki tidak menangis, tapi hatinya berdarah"
- Ndorokakung aka Ndoro Bedhes aka Dek Wi (khusus buat pinisepuh yang rambutnya udah putih semua) aka Lelaki Wangi Pandan

Om-om di atas itu dulu adalah temen saya gojekan meskipun akun twitter kami nggak saling follow-followan. Walau mukanya nakal, ada beberapa hal baik yang sering beliau bagi dengan saya. Misalnya, tebengan mobil ke kost dari tempat nongkrong. Atau sebuah sapaan hangat "Piye, Nduk?" sedetik sebelum beliau mendaratkan bokong yang tergerus zaman ke kursi panjang di depan gerobak angkringan. Kemungkinan besar beliau nggak tau state of mind saya saat itu. Tapi beberapa kali "Piye, Nduk?" itu menyelamatkan kejiwaan saya karena gondok dan sebal tak terkira ke beberapa manusia yang saya nggak bisa tonjok atau maki-maki.

Kesan pertama bertemu beliau mungkin akan menipu (kecuali kamu mbak-mbak ayu-cantik-semlohai) karena beliau bisa sangat kemaki dan mbois meskipun senyuman ramah tak pernah lepas dari wajahnya. Namun karena pengalamannya yang buwanyak dan sangat berwarna, beliau bisa jadi sumber ilmu hidup tak putus-putus dan tak segan berbagi.

Suatu waktu saya pernah membuktikan waktu Time membuat tindakan gokil dengan menampilkan wajah perempuan dari negara Islam yang hidungnya dimutilasi si suami. Saya genjot Ndoro Mbois itu dengan pertanyaan-pertanyaan riwil tak habis-habis, karena latar belakang beliau sebagai PEMRED sebuah harian online terkeren saat itu. Dan beliau kalem-sabar-sembadha meladeni saya dengan jawaban-jawaban yang jauh lebih personal dari sekadar jawaban Mbah Google. Saya seperti habis kuliah jurnalistik yang menyenangkan setelahnya.

Tidak itu saja. Waktu beliau menjabat Manusia Kursi pun saya sempat riwil protes sana-sini. Dan beliau pun selalu kalem dan nyengir menjawabi pertanyaan-pertanyaan dan ketidaksetujuan saya (dan tentang apa itu, saya juga udah lupa).

Tapi satu hal yang membuatnya sangat manusuia: ketika beliau bercerita tentang para buah hati, putra-putrinya. Kamu akan dapati matanya menyala cerlang cemerlang namun teduh. Sangat menyenangkan.

Lalu, kenapa saya mendadak ngeblog soal Ndoro?

Gara-gara artikel ini dan tulisan Tante Ai, salah satu orang hebat lain (yang saya sering ngaku jadi anak (haram)nya) yang saya kenal. Dan karena saya lagi pake kaos ini:


Gambar diambil dari sini. Iya, saya susah move on...


Dan buat para (mantan) blogger lawas, pasti kenal dengan gaya judul di atas (halo! Masih ngeblog?™).

Lalu, kenapa saya ngeblog lagi?

Ummm... Saya kangen orang-orang lama kaya ilmu dan waktu yang bisa saya todong pertanyaan macam-macam dan nggak segan menanggapi.

Saya. Rindu.


Labels: