"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Karena Klien adalah TUHAN!

Posted by The Bitch on 12/16/2013 11:48:00 PM

Screenshot dari sini


None are more hopelessly enslaved than those who falsely believe they are free
Johann Wolfgang von Goethe

Berita hari ini bikin saya relapse, mengenang lagi masa-masa jadi Supporting PR khusus media monitoring di sebuah agensi kecil di pojokan Jakarta Selatan. Lembur? Oh, everyday is lembur day. Seminggu pertama saya bekerja, saya sudah harus pulang jam 4 pagi karena approval klien untuk launching besok pagi baru masuk pukul 8 malam. Lalu berlembar-lembar media kit yang harus saya terjemahkan (karena klien adalah perusahaan IT multinasional), dan berbaris-baris kolom excel menyusul sebagai laporan post-event. Belum lagi berbagai report berkala dan tematik. Dan jangan tanya berapa rim kertas kami habiskan dalam setahun untuk monthly report bagi 3 divisi berbeda. Bagus lah semua didigitalkan dalam keping cakram data.

Peraturan kantor bagi saya agak dilonggarkan, sih. Karena nggak ketemu klien, saya boleh bercelana pendek, kaos oblong dan sandal jepit. Itu surga banget, karena teman saya yang Junior PR harus berpakaian rapi dan siap sedia ditenteng meeting. Tenggat saya jam 10 untuk daily report ke klien dan biasanya sedikit, kecuali kalau ada event. Makanya saya bisa datang pukul 9.30. TAPI, saya nggak punya tandem karena saya dedicated buat klien. Saya nggak boleh sakit, nggak boleh cuti. Pernah suatu kali perut saya bermasalah, dan OB kantor datang ke kos, membawakan materi yang harus saya report. Dan saya mengetik report tentang klien sambil kabur ke toilet setiap 15 menit. Blah!

Suatu hari saya tertegun memandangi berlembar-lembar peraturan tentang HPH yang harus saya terjemahkan dalam bahasa Inggris. Saya datangi Account Manager, karena saya nggak suka mem-backing perusak hutan. Dengan nada disabar-sabarkan, AM saya bilang, "Pito, pekerjaan PR itu seperti pengacara. Nggak semua tertuduh ternyata bersalah. Kita cuma kasih hak bicara kepada klien karena pemberitaan media sudah membuat opini publik. Jadi, ini cara klien menyuarakan kebenaran." Macam saya bisa diyakinkan dengan omongannya itu. Tapi untung saja kantor saya nggak menang pitching. Tangan dan pikiran saya batal kotor.

Saking seringnya saya lembur, saya sudah jadi doktor--mondok di kantor. Kantor yang menempati salah satu rumah mewah ini sering saya manfaatkan untuk mandi air hangat dengan shower sehabis begadang garap laporan. Saya punya loker pribadi di laci meja kerja yang lumayan besar. Isinya pakaian dan baju dalam bersih serta perabotan mandi. Saya bahkan dibelikan bunkbed sendiri kalau bosan tidur di sofa yang lumayan bikin punggung pegal. Managing Director saya super baik, dan ternyata tantenya dosen saya dulu. Saya sering dipanggil makan siang alih-alih dimarahi karena report yang berantakan atau tenggat yang luput. Tapi jangan tanya Account Manager saya. Silsilahnya yang sebagai keponakan Ibu MD membuatnya nyaris suci. Jika ada kesalahan, itu adalah kesalahan bawahan. Padahal saya sering melakukan pekerjaannya karena saya nggak sabar nunggu dia selesai mendengar curhat personal klien kami, pukul dua pagi.

Apakah kami digaji besar? Nggak juga. Standar. Tapi karena saya nggak punya ijazah maka bekerja di kantor PR seperti membalikkan omongan keluarga besar bahwa saya nggak akan jadi apa-apa. Tapi pembuktian ini teramat sangat berdarah-darah.

Rekan seruangan saya sempat menutupi dirinya mengidap leukemia. Kami nggak pernah sadar bahwa setiap event besar yang biasanya Jumat sore, dia harus menghabiskan akhir pekan di rumah sakit karena kelelahan. Saya pikir adalah hal biasa kalau dia nggak balik ke kantor dan langsung pulang. Ternyata dia harus bergegas cari taksi ke RS langganan sambil menahan darah mengucur dari hidung. Dan ketika akhirnya dia mengaku sakit pun beban pekerjaannya tidak berkurang. 

Tapi selama berada di "padepokan" itu, kami banyak dapat pelajaran. Buat teman saya yang leukemia, ini adalah pembuktian bahwa dia mampu mengaplikasikan ilmu yang dia dapat dari kampus Jaket Kuning, pembuktian bahwa penyakit is nothing, pengisi waktu luang dengan sesuatu yang menyenangkan (sekaligus melelahkan) karena toh gaji yang dia dapat tidak seberapa dibandingkan uang tunjangan dari bunga deposito keluarganya. Buat saya, ini adalah tiket untuk merdeka. Bisa jalan, nongkrong, bela-beli pakai uang sendiri, untuk nggak diomongin sebagai beban keluarga, untuk mendiamkan mulut-mulut nyinyir bahwa saya yang jomblo kronis tanpa ijazah ini masih bisa nyetor uang ke rumah, bisa kerja di kantor PR tanpa harus dandan cantik dan tanpa harus jadi kurus, dan bisa nyicilin motor untuk Babab. 

Kami merasa senasib menghadapi klien dan tumpukan permintaannya dengan budget yang tiap tahun makin berkurang, AM dan AE sengak, dan bahkan finance yang seringkali nggak ngerti jalur duit klien.         

Lalu ketika saya dan rekan kerja saya itu sudah merasa cukup, kami resign namun masih sering nongkrong bareng. Dia sudah sibuk dengan sekolah fashion-nya, dan saya sibuk jadi copywriter freelance di agensi imut, dekat dengan kantor lama. Saya malah merasa agak dimanusiakan di sini. Kalau ngerjain tenggat di kantor malam-malam, minimal ada nasi goreng atau pecel ayam terhidang. Teman-teman freelance saya juga lucu-lucu. 

Sampai kami dapat kerjaan annual report untuk salah satu bank terkemuka. Saya dan tim berbagi bab demi bab yang harus diulas dalam laporan. Kalau skill kami timpang, ya tinggal editornya aja yang bakalan jambak-jambak rambut kepusingan. Namun saya kerja dalam tim, dan beban kami rata. Kerjaan yang bikin kami stress membuat kami ngelawak melulu. Prambanan Project sih sudah terlalu sering. Membangun 1000 candi semalaman itu nggak ada seupil-upilnya sama apa yang kami kerjakan. Merombak layout dalam waktu kurang dari 2 jam atau menerjemahkan 100+ pages dalam 2 hari... Ah, kami sudah biasa!

Tapi kadang ada yang temen makan temen juga. Pernah suatu tengah malam Mbak Account Executive menelepon, minta slot waktu untuk kerja terjemahan yang harus selesai besok pagi jam 8. Padahal baru beberapa menit yang lalu saya pulang, habis kejar setoran dan 3 hari tidak tidur. "Sedikit kok, Pit. Cuma 35 halaman doang," ujarnya. Saya nggak pakai mikir. Setenang mungkin saya jawab, "Ya kalo dikit mah lu aja yang kerjain, Mbak. Gue mau bayar tidur." Lalu ponsel saya matikan. Benar-benar mati.          

Sejak saya ngantor sampai saya jadi freelancer yang namanya nggak tidur berhari-hari sih sudah hal wajar. Tapi sejarah paman saya yang meninggal karena gagal ginjal akibat kelainan bawaan yang luput ditangani serta kebiasaannya nenggak booster membuat saya nggak pernah menyentuh minuman semacam itu. Paling banter ya cuma kopi tanpa gula. Itu pun disandingkan dengan air bening yang jumlahnya harus lebih banyak dari kopinya. Tapi ya seringnya bablas sih, seharian di kantor bisa sampai 10 mug kopi. Minimal. 

Waktu saya mergokin AM saya telponan sama klien jam 2 pagi sementara saya berkutat dengan pekerjaannya itu, dia sama sekali nggak merasa bersalah. Seselesainya, dia bilang, "ini salah satu tugas jadi PR. Kadang-kadang suka cair antara personal dan professional. Tapi ya namanya servis, harus all in, biar klien nggak lari." Begitu katanya. Dan saya nggak setuju.

Di tempat freelance, pertama kali saya harus menggantikan meeting salah satu copywriter karena dia berhalangan, saya diwanti-wanti oleh Om Boss. "Tugas lu cuma revisi doang. Ini klien kakap, Korean. Lu mesti ati-ati, tapi mesti tegas. Kalo nggak ntar dia minta macem-macem." Lalu saya berangkat dengan moda ke medan perang. 

Sampai di kantor minyak punya Mr. Korean, kami harus langsung kerja. Well, saya doang sih yang kerja. AE saya cuma harus sit there and being pretty karena semua komunikasi dalam bahasa Inggris cuma bisa melalui saya. Ternyata dia nggak hanya minta revisi konten, tapi juga layout. Dia nggak cuma perlu copywriter, tapi graphic designer. Karena miskom ini lah saya harus rela merevisi lewat notes PDF, mencarikan tagline dan catchphrase yang tepat, dan semua dilakukan dalam suasana eksekusi. Bahkan pekerja lokalnya pun seringkali meminta maaf karena bos mereka sering kasar dan memaki dalam bahasa Korea. 

Saya harus tinggal sampai hampir jam 1 malam, sampai graphic designer dan copywriter senior pengganti datang. Mr. Korean heran karena saya beres-beres perabotan lenong. Dia nggak mau saya pulang. Katanya, ini tanggungjawab saya. Padahal saya sudah delegasikan kerjaan, dan saya beritahu kalau pengganti saya lebih senior, dan AE yang nggak ngapa-ngapain tapi dia lirikin terus itu punya anak kecil yang perlu mamanya. Waktu dia marah-marah sambil menahan ransel saya saat saya bangkit mau pulang, saya muntap. Dengan marah saya teriak, "FUCK YOU! We're going home!" Untung saja Om Boss saya baik. Balik ke kantor saya malah mendapat tepukan di pundak karena bertindak tepat.

Dulu saya malas mengaku kerja di agensi PR. Saya selalu bilang "memburuh di pabrik topeng" atau "jadi ronin" untuk menyebut kerja freelance, karena ya memang seperti itulah pekerjaan saya sesungguhnya. Memproduksi citra, menjalankan marketing strategi, padahal beberapa produk yang launching seminggu kemudian terbukti sebagai produk gagal dengan banyaknya keluhan di surat pembaca. Namun saya banyak belajar tentang busuknya korporasi. Tentang bagaimana sistemasi tekanan dari klien ke MD turun ke AM dan berakhir ke Junior dan Supporting PR yang ditekan paling gila. Atau dari klien ke AE dan turun ke freelancer tanpa sang AE tahu seberapa kemampuan para freelancer kebebanan kerjaan. 

Itu semua sedikit cerita-cerita saya bekerja di industri begituan. Mungkin saya ketiban apes aja, ngantor di tempat yang manajemennya kekeluargaan (atau berantakan, bahasa jujurnya). Ada juga kok perusahaan PR yang manusiawi, yang jam kerjanya pas 8 jam sehari, yang kalau lembur tertib dapat kompensasi, dapat bonus, dan jalan-jalan ke luar negeri. Ada juga kok anak PR yang masih bisa bikin project pribadi semacam Coin A Chance yang digawangi Hanny dan Mbak Nyai. Tapi ya itu. Pintar-pintar saja memilih tempat kerja. Cerdas lah mau jadi bawahan orang yang seperti apa.   
        
Namun satu hal yang dipegang teguh sebagian besar atasan: bahwa klien adalah Tuhan. Dia Maha Pemberi Project, Maha Pengasih Budget, dan Maha Memperbaiki Portfolio. Untuk Sang Maha Klien-lah kita harus memuja, menjilat, dan membuat segalanya jadi mungkin. Kita bebas jadi diri kita sendiri, merdeka mau ngapa-ngapain pun sampe njengking-njengking. Tapi ketika Sang Maha Klien memanggil, kita harus patuh dan tunduk memenuhi panggilanNya. Bahkan ketika harus kehilangan diri sendiri, ketika harus kehilangan kemampuan berpikir sendiri, ketika harus mempercayai kebohongan yang tiap hari didengungkan di telinga kita oleh teman-teman kerja sendiri. 

Saya nggak suka seperti itu. Dan saya bukan robot yang bisa diperintah-perintah. Jadinya ya... Saya cabut lagi. Karena saya memang sudah tidak bertuhan sejak dalam pikiran.


  


Labels:

Hello Again, 15!

Posted by The Bitch on 12/16/2013 12:00:00 AM

Gambar nyomot dari Wiki


You'll know your true friends not at your shiniest moments but at your darkest times. Cherish them


Jadi, hampir semingguan ini saya invalid. Nggak bisa keluar beli makan, nggak bisa klabing (klayapan bingung) pake motor. Nggak bisa nongkrong atau ngopi-ngopi unyuk di mana kek gitu. Semua gara-gara koreng yang pas terletak di tempat-tempat strategis, yang ketekuk sedikit aja sakitnya tembus sampai ke anus.

Di email resign dari tempat kerja akhir November lalu saya bilang kalau saya sudah kewalahan menjalankan kehidupan ganda, antara jadi manusia biasa dan jadi superhero. Akhirnya saya harus memilih, dan pilihan jatuh pada superhero. Selasa malam kemarin itu adalah salah satu prasyarat yang harus saya tempuh untuk mendapatkan superpower, yaitu mengadu muka dan kaki ke aspal. Ternyata saya lupa mengakifkan kemampuan itu. Jadinya ya nyonyorlah dagu dan betis kanan dan perut kiri dan kedua tangan. Hanya kaki kiri saya saja yang mulus tanpa luka. Tapi memar membiru di beberapa tempat. Dan benturan di jidat membuat saya terlihat seperti mahluk hibrid antara Kaiju dan Hell Boy.

Namun satu hal yang membuat saya nggak blangsak banget, karena saat kejadian itu saya bersama seorang partner in crime yang menguntit ketat di belakang dengan motornya sendiri. Kami habis nge-date threesome bareng seorang ibu cantik baik hati dan membicarakan project urek-urek. Saya kepenuhan adrenalin, karena apa yang mereka bicarakan adalah project saya juga yang nggak selesai-selesai sejak dinosaurus masih menguasai bumi. Lalu setelah threesome sampai lemes, saya dan si partner ini cengengesan di parkiran, nggak bisa ngomong apa-apa. Dia tahu saya tahu, bahwa apapun yang kami inginkan memang akan mendapat jalan, lengkap dengan howto-nya. Sebab semua perihal kesabaran menunggu tepatnya waktu.      

Namun entah pikiran yang terlalu penuh atau nasib yang terlalu apes, ujian itu datang juga. Ya marut kaki ke aspal itu tadi. Tapi dia sigap menunggu saya siap bangun, meminggirkan motor sewaan dengan satu spion berantakan dan udah nggak jelas bentuknya, mengecek reflek saya, dan menghubungi orang-orang yang tepat, yang nggak bakalan panik dapat kabar saya nyungsep.

Lalu terjadilah episode mencoba lucu di hadapan kapas beralkohol pengusap luka, karena menangis (apalagi teriak) sangatlah nggak lady-like. Atau pito-like. Lalu partner in crime lainnya datang menembus malam, mengendarai motor berantakan yang teronggok di parkiran BPD, sejauh lebih dari 10 km. Big Guy lembut bersuara pelan ini yang sabar sekali mengurusi saya saat kesakitan, bolak-balik membelikan saya makan dan pesanan, nyengir kalau saya mendadak marah-marah, mendisiplinkan dan mengajak main Hamilton, puppy blang bungkem asuhan saya selama ditinggal mommynya, bahkan menunggu saya creambath karena 4 hari nggak keramas itu menyiksa sekali.  

Sampai di kos induk semang saya bertandang, menanya kabar sambil mengernyit ketika melihat mahakarya saya. Lalu dibikinkannya saya jus tomat hangat karena gerimis sedang menitik, dikumpulkannya bebuahan siap santap karena saya bilang habis menyeduh mie instan. Besok saya akan dihantarkan makan, jika kamar saya sudah ada tanda-tanda kehidupan, ujarnya.

Dalam masa penyembuhan saya sering bengong dan mengingat beberapa kejadian yang membuat hidup saya berputar 180º. Hijrah saya ke Bali demi mendamaikan naluri ibu saya yang khawatir anaknya tidak punya keyakinan. Kebosanan saya di tempat kerja padahal saya bisa berenang di bandwidth. Pilihan saya untuk keluar dari zona nyaman. Orang-orang baru yang datang. Orang-orang lama yang pergi. Pasangan-pasangan jiwa yang lain lagi. Terjun bebas tanpa parasut dan memasrahkan siapapun di bawah sana untuk menangkap saya. Semua itu lebih efektif daripada menenggak painkiller pemicu alergi yang membuat muka saya seperti Klingon, sambil sesekali meringis menahan tangis saat koreng tertekuk ketika mau pipis.

Dan hari ini 15 di bulan terakhir. Biasanya saya selalu matikan ponsel atau tidur seharian saat hari ini datang. Namun dia selalu tepat waktu. Setahun sekali berkunjung tanpa alpa. Dan saya selalu merasa kaku, entah bersyukur atau menyumpahserapah ketika dia menggedor pintu.

Tapi tahun ini tidak. Saya memutuskan, sejak Januari, bahwa saya akan bersyukur. Meskipun sedang jobless. Meskipun sedang nyonyor. Meskipun masih saja jomblo. Saya bersyukur untuk apapun dan siapapun yang membuat saya hidup dalam mimpi saya sejak lama: jadi manusia merdeka dan punya teman sejati.

Tahun ini saya tidak mau mengenang mati. Saya ingin murni merayakan hidup, sepenuh-penuhnya.

Terima kasih, 15!

Holstee Manifesto. Life manifesto




Labels:

Chik!

Posted by The Bitch on 12/13/2013 08:35:00 PM

Dicomot dari akun @chikadjati pas lagi pamer foto kecil dengan baju adat

Hey, Chik!

Kamu tahu lah, aku nggak percaya hidup setelah mati dan surga dan neraka dan reinkarnasi. Semua susah dan senang terjadi karena semesta mencari imbang, ditimpakan ke manusia sesuai dengan keapesan dan keberuntungan masing-masing. Jadi, gimanapun, aku tahu kamu juga nggak akan bisa baca ini.

Tapi aku mendadak kangen kamu, Chik. Aku kangen malam-malam kita "berkelana" menjelajah Jakarta dan pulang naik Metromini. Kangen masa-masa ngobrol panjang tentang cowok insecure, ADHD, kenangan, dan jalan-jalan. Kangen menyesap Bailey's oleh-olehmu, atau ngobrol bareng Mas Aji sambil kita ngenyék-ngenyék OCD-nya Mas Marto. Kangen bantuin kamu wawancara anak-anak pesantren buat dapetin short course ke Amrik (dan pertanyaan konyolku di malam sebelum hari H, "gue nggak mesti pake jilbab, kan?"). Dan aku ngetik ini di tengah kesengganganku untuk sembuh sambil néthél koreng di dagu akibat jatuh dari motor tiga malam lalu. Rasanya najis, Chik. Aku nggak mau jatuh lagi. Masih ingat rasanya ketika tulang di sepanjang kaki seperti diregang paksa waktu badanku tertimpa motor dan telapak tersangkut step. Atau perih paripurna di hampir tengah malam saat kapas beralkohol diusap ke luka terbuka, meskipun mbak-mbak Bumi Sehat berulangkali meminta maaf sebelum membersihkan seluruh pasir yang menancap di daging. Dan aku diyakinkan bahwa di bawah kulit semua orang adalah putih. Jadi, nggak perlu lah krim pemutih yang digila-gilai perempuan yang merasa buruk rupa karena berkulit gelap dan iklannya sering kita tertawakan.  

Chik,

Seminggu lalu teman seangkatanku meninggal karena lupus. Dan kamu juga akhirnya menjemput maut akibat kanker yang menggerogoti tubuh. Teman dekatku malah leukemia. Dan sakitnya jatuh dari motor mungkin nggak ada seupil-upilnya sakit karena kanker, tapi aku malah ingat kamu, Chik. Ingat temanku yg luluh karena lupus dan temanku yang tegar melawan leukemia. Buatku, kalian pemenang karena hidup tak sekadar menunggu mati.

Kegetolanmu itu lho, Chik... Bantuin Tante Ai untuk Akber dan waktu luang yang selalu kamu sempatkan untuk teman-teman di sekelilingmu, sampai kadang-kadang kamu hampir nggak punya waktu untuk dirimu sendiri. Dan sifatmu itu yang selalu ingin tahu, selalu penasaran, tapi nggak pernah lupa bersenang-senang. Kamu, yang suka backpacking, yang kepingin menelusuri pojokan Cina dan menabung mati-matian. Dan pilihanmu untuk akhirnya melepas kerudung. Aku suka gestur itu. Waktu kutanya alasanmu, kamu bilang, "pake atau nggak pake, ya semau-maunya gue aja. Kalo gue pengen juga ntar gue pake lagi". Dan kamu adalah salah satu dari sekian banyak pembuktian, bahwa semua perempuan yang akhirnya lepas kerudung terlihat lebih cantik dan orisinil, lebih asyik menjadi diri mereka sendiri, lebih nyaman dijadikan teman.

Kemudian kita sama-sama disibukkan dengan urusan masing-masing dan hampir nggak punya waktu lagi buat melakukan kekonyolan-kekonyolan lepas tengah malam. Kita juga nggak pernah lagi ketemuan nggak sengaja di keriaan-keriaan pekerja online yang sering kita sambangi (terutama di @obsat yang buatku tempat dinner gretongan dan buatmu tempat ngangsu kawruh sambil bertugas livetweet). Sampai aku mindahin pantat ke Bali pun aku nggak sempat pamitan sama kamu.

Aku kehilangan kamu, Chik. Lalu aku iseng kirim pesan di WhatsApp dan kamu balas lebih dari seminggu kemudian. Tadinya aku masih berprasangka baik. Kamu hanya sibuk, rempong dengan urusanmu dan teman-temanmu, dan masih baik-baik saja di Jakarta atau di Malang atau di mana pun kamu sedang melangkahkan kaki sambil menggendong ransel. Namun apa yang kamu ceritakan malah bikin pelupukku panas. Kamu cerita tentang penyakitmu, tentang perjuanganmu, tapi tetap positif sambil cengengesan.      

Hey, Chik!

Aku udah nunggu lho. Kamu bilang kamu mau ke Ubud, minta dicarikan homestay untuk beristirahat bareng mamamu yang hebat itu, yang nggak pernah lelah mengurus dan menjagamu selama masa sakitmu. Padahal aku udah cariin, di Monkey Forest, dekat tempat kerjaku dulu. Kamu pasti suka. Tempatnya teduh, banyak pepohonan. Mirip Taman Langsat. Koneksinya kenceng mampus. Ya kamu tau lah, sebagai manusia-manusia digital, internet adalah detak jantung. Dan kamu juga tau I'll work for bandwidth. Di depan loket masuk hutan penuh monyet itu ada meja yang di atasnya bertumpuk pisang menggiurkan dengan papan penanda bertuliskan "OFFICIAL MONKEY FOREST BANANAS".

Ini lho, Chik, yang mau aku tunjukin ke kamu. Dipungut dari sini.

Aku udah nggak sabar lho, Chik, mau nunjukin ke kamu. Mau cekikikan, mau nyinyirin betapa mindset Orba yang gila keseragaman dan serba resmi masih saja dipakai. Padahal kabinet berkali-kali ganti dan korupsi berkali-kali bermutasi.

Hey, Chik!

Ternyata kita nggak pernah ketemu lagi. Waktu aku lihat fotomu di sosmed dengan gaun rumah sakit dan tangan tertancap infus, nggak tau kenapa aku sudah ikhlas. Aku cuma komen, semoga yang terbaik yang terjadi buatmu, karena aku nggak berdoa. Karena seringnya, insting bertahan hidup kalah oleh insting mati, saat semua sel tubuh berada dalam titik nadir dan pejuang-pejuangnya harus tunduk pada hukum biologis setelah babak bundas mati-matian melawan. Dan mungkin itu yang terbaik.

Aku ngiri sama kamu dan Cobain dan Hendrix dan Lauper dan Morisson dan Buckley dan Winehouse. Kamu mati muda, di puncak pencapaianmu sebagai manusia. Dan kamu belum genap tiga puluh. Dan beberapa hari kemarin, ketika dagu dan jidatku sedang nyonyor-nyonyornya dan painkiller membuat mukaku bengkak, aku bertemu nenek Jerman usia enam tujuh yang bangga bercerita tentang petualangannya jadi backpacker sejak umur 30. Waktu aku bilang aku ngiri, nenek itu membalas, "No, you shouldn't! You have your life ahead of you! You have the right attitude and spirit. Just focus in what you want, and you'll get it in time. I have the feeling you will!" Omongannya kamu banget, Chik!

Aku banyak belajar dari kamu, Chik. Belajar tentang fokus, tentang semangat, tentang mencari akar masalah, tentang anger management, tentang mendengar, tentang pertemanan. Kamu itu guru, karena hidupmu yang sebentar adalah cermin buat sekelilingmu. Karena selelah apapun, kamu tetap senyum. Karena kamu nggak pernah menghakimi. Karena kamu selalu objektif. Dan karena kamu sahabat yang netral, bahkan saat bergosip sekalipun. Dan sejak kamu nggak ada, ketika aku iseng melihat langit Bali yang jernih bertabur bintang, aku tunjuk satu bintang paling terang dan teriak,

"Itu Chika!"

Your spirit carries on, dear friend...





Labels:

Judging A(n Ex-)Friend

Posted by The Bitch on 12/05/2013 06:16:00 PM

A friend will help you move. A good friend will help you move a dead body.

- Anonymous


Di suatu hari yang apes karena ditinggal (orang yang saya kira) sahabat, seorang bajingan lain bilang begini:
Nggak ada yang namanya teman baik, yang ada hanyalah orang yang punya kebutuhan atas eksistensimu.

Menyakitkan untuk didengar, sebagaimana semua kebenaran adalah menyakitkan.

Lebih menyakitkan lagi ketika suatu hari salah seorang ibu (yang saya tunjuk semena-mena sebagai Emak), orangtua tunggal yang sejak anaknya bayi babak bundas mengangkat harkat keluarga sendiri tanpa bantuan pasangan, jatuh bangun membagi 24 jam waktunya antara putri semata wayang, pekerjaan, dan kehidupan pribadi, menelepon saya, bercerita, dan menyimpulkan: “Gue udah nggak tau mesti percaya ke siapa lagi. Gue kirain dia temen gue…”

Saya juga mengira dia teman saya, yang ketika saya kenalkan pada si “emak” adalah anak rantau jauh dari pulau tempat ibu-bapaknya berada. Saya abai pada masa lalunya yang syahdan menurut konon menggelapkan uang kas komunitas. Menurut saya, itu nggak penting. Dia juga nggak akan ngapa-ngapain ke saya, wong saya nggak punya apa-apa.

Tapi saya lupa kalau saya punya banyak lingkaran kecil, orang-orang yang porosnya saya orbiti, yang keberadaannya menjadi pusat semestanya sendiri, dan beberapa semesta memang saling beririsan. Saya khilaf kalau saya punya beberapa orang yang saya anggap pasangan jiwa, yang keberadaannya saya anggap penting, sebagai manusia, bukan sebagai profesi. Beberapa memang orang berpunya. Tapi hanya karena saya nggak pernah menggunakan kesempatan untuk menikmati keberpunyaan mereka, saya pikir orang lain juga seperti saya. Iya, untuk satu hal itu saya memang naïf.

Saya nggak pernah ngonsep sama yang namanya penghianatan, perselingkuhan, kebohongan, dalam hubungan apapun. Pertemanan, bisnis, maupun roman-romanan. Ini seperti menikam punggung saat memeluk. Kepura-puraan yang menyakiti. Terlihat akrab, padahal khianat. Makanya saya nggak ngerti kenapa ada orang yang diberi tumpangan hidup selama sebulan, dikasih makan, dikasih tempat pulang, masih tega membobol tabungan anak “induk semang”nya sendiri. Tabungan yang dikumpulkan oleh bocah perempuan kecil yang sering bawel ngecipris keminggris namun pendiam di depan orang baru. Bocah yang saya bayangkan matanya berbinar-binar penuh harapan akan beli ina-inu-itu nanti saat ia dan ibunya nanti punya waktu luang untuk berlibur. Bocah yang sedari kecil hampir nggak pernah tahu rasanya dipeluk Ayah, yang ibunya secara harfiah mati-matian menghidupi dan memberi makan mimpi-mimpi putrinya agar nanti punya hidup yang jauh lebih baik dan bahagia. Semacam dikasih ati ngerogoh biji. Jauuuuh.

Iya, saya memang naïf sekali. Saya yang sering membual dan merasa diri pintar bahkan nggak pernah bisa ngerti kenapa orang mesti mencuri kalau meminta pun akan dikasih. Kalau nggak dikasih ya berarti minta lagi ke orang lain. Kalo nggak dikasih juga ya mamam dah tuh kepengenan. Gitu aja kok repot. 

Tapi mungkin ada keperluan yang bagi saya nggak penting-penting amat menjadi teramat sangat krusial untuk seseorang. Misalnya, makan enak dan mahal, nongkrong bareng teman-teman biar disebut eksis, beli baju dan sepatu baru yang hanya karena pengen atau suka warna ungunya, atau apa lah yang menurut saya terlalu wah. Saya sering lupa bahwa Jakarta lebih sering mengubah seseorang berada di salah satu dari dua kutub tanpa ada tengah diantaranya: jadi setan atau jadi malaikat; jadi cerdas atau jadi bodoh; jadi jahat atau jadi baik.

Mungkin kadang saya yang terlalu sentimental, terlalu berpihak tanpa mau mendengar sisi mata uang yang lain. Karena toh akan selalu ada dua versi dari dua orang yang berbeda meskipun hanya ada satu peristiwa.

But mark this one, girl… you are no longer a friend of mine.


Love all, trust a few, do wrong to none
- William Shakespeare




Labels: