"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Attitude, Anyone?

Posted by The Bitch on 9/21/2013 06:53:00 PM

Courtesy of Lugu Gumilar, disedot pas orangnya lagi makan di seberang meja



Hidup bukan sekadar menunggu badai reda, tapi tentang bagaimana menikmati berdansa di bawah hujan

- Anonim



Duluuu sekali ternyata saya pernah “mencela” teman perempuan yang—menurut saya—cantik, bohay, wangi, menarik dan bobokable. Sempat saya berpikir jika saya diberkahi dengan bentuk bodi mematikan—eh, koreksi, menggiurkan—seperti itu pasti saya akan jauh lebih bitchy dari sekarang dan saya pasti punya lebih banyak piaraan mas-mas baik yang tunduk di bawah kaki saya. Tapi tenyata mentalnya cemen. Cuma segitu aja. Kejadian deh sebaliknya: alih-alih membuat lelaki bertekuk lutut di sudut kerlingnya, dia malah terkuple-kuple mengemis perhatian cowok chauvinis abis yang melumpuhkan fungsinya sebagai manusia karena kemana-mana diantar-jemput, makan dibeliin, cuma cebok aja yang nggak dicebokin.

But, hey… mungkin dia senang dibegitukan. Merasa jadi perempuan utama yang berada di daftar teratas prioritas lelakinya. Mungkin dia baik, nggak selicik saya yang oportunis mampus melihat semua celah sebagai kesempatan memanfaatkan. Atau mungkin otaknya emang nggak nyampe buat mikir ke situ karena sebagai anak tunggal dari keluarga berada membuat semua kebutuhannya tercukupi tanpa harus rekoso menggapainya, membuat pikirannya nggak sekreatif saya. Atau mungkin saya aja yang sirik karena harus ngapa-ngapain sendiri dan nggak pernah punya tandem bahkan untuk sekadar bobok bareng. Iya, ini curcol. Nggak usah protes.

Kemudian sejak beberapa bulan pantat saya ada di Bali saya banyak lihat yang lucu-lucu. Bukan, saya nggak ngomongin salah satu dayang ganteng bermuka gondrong sekaligus tentengable yang membuat derajat saya naik karena nonton Papa James bareng pas ibadah Metallica Jakarta kemarin. Meskipun dia masuk dalam kategori “lucu banget”. Saya ngomongin beberapa mbak-mbak blonde kriwil berkaki jenjang berpaha lencir-mengkal bersusu kenyal.

Dan saya ngaku, sebagai perempuan gendut ternyata saya berbakat chauvinis juga. Yah, kanggoang lah. Namanya juga woman womini lupus. Perempuan adalah pemangsa terhadap sesama perempuan. Kalau ada yang bening sedikit aja pasti dicari celanya, dicari jeleknya. Salah kostum, lah. Make up ketebelan, lah. Gaya slutty, lah.

Nah, jadi ada beberapa mbak-mbak blonde kriwil berkaki jenjang berpaha lencir mengkal bersusu kenyal yang kerap saya temui. Beberapa kali interaksi dengan mereka saya sudah bisa menunjuk mana yang slutty dan mana yang miss goody two shoes. Padahal ya sama-sama suka pake kaos intelek—intip susu lewat kelek—dan rok/celana kaum miskin kota yang kurang bahan sampai rasanya saya berniat mendonasikan kamen biar mereka bisa sekalian ngeceng di pura sama bli-bli pakai udeng yang entah kenapa level kegantengannya menanjak drastis. Terus, tahu dari mana, Pit, bedain dua jenis spesies itu? Ya dari attitude, dari sikap, dari cara mereka bicara dan memperlakukan orang lain, terutama yang secara status sosial lebih rendah dari mereka. Ada lho, mbak-mbak berpakaian minim kain tapi attitude-nya classy. Ada juga mbak-mbak jilbab lebar yang gayanya bitchy gatal. Kalau di keramaian sering mati gaya tapi males pulang dan ujung-ujungnya menyamar jadi tanaman hias jejadian di pojokan—yang ada secara fisik tapi nggak terlihat—dan memperhatikan orang lalu-lalang, seperti saya, you’ll know the difference.

Terus, kamu nulis kayak gini emang kamu punya attitude yang diperlukan untuk merasa benar, Pit? Idih! Ya nggak lah! Saya kan emang iseng doang being bitchy. Masalah?


Labels: