"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Karena Memaksa adalah Kejahatan!

Posted by The Bitch on 3/20/2013 07:30:00 PM



Video di atas itu aneh karena bisa bikin emosi saya campur-aduk sampai mirip muntahan kucing. Ya gimana nggak? Ide kampanye pencegahan perdagangan perempuan di Eropa terjewantahkan dengan teramat sangat keren di situ. Tapi menit ke-1.24 saya hampir menangis. Miris.

Saya nggak menutup mata. Beberapa hal yang sulit dilakukan memang ada: ngarep, menyuarakan pendapat berbeda, merebut apa yang menjadi hak, dan membantu yang kesusahan. Sulit, tapi nggak mustahil.

Dan suatu hari saya ketanggor tulisan seorang emak-emak bule funky berputra dua. Namanya Magda Pecsenye. Kamu bisa longok twitternya di @AskMoxie. Dia menulis surat untuk para permata hati dengan bahasa sederhana namun pikiran aduhai terbuka. Saya takjub. Bukan karena dia bule, bukan karena dia tinggal di Ann Arbor, Michigan, Amrik. Tapi karena dia berusaha mencegah anak-anaknya menyumbang masalah terbesar dalam peradaban manusia: pelecehan hingga perkosaan pada perempuan. Ini saya terjemahkan buat kamu yang terkendala bahasa tapi penasaran pengen tahu, seizin Magda:  

Kepada putra-putraku tersayang,

Mungkin teman kalian mengalami banyak hal mengerikan dan pelakunya juga mungkin salah satu teman main yang lain. Dan kalian sudah besar sekarang, sudah umur 11 dan 8, dan kejadian yang membuat Ibu menulis surat ini barangkali belum pernah kalian dengar. Tapi kejadian-kejadian semacam ini terus terjadi setiap saat. Iya. Menyedihkan. Jadi, rasanya Ibu perlu bicara ke kalian.

Pertama, kita pernah membahas bagaimana istimewanya tubuh kita, dan kitalah, si pemilik tubuh, yang berhak memutuskan mau ngapain dengan tubuh ini. Ibu nggak pernah mencekoki kalian dengan apapun yang kalian nggak mau, atau memaksa kalian menyentuh siapapun yang nggak ingin kalian sentuh, atau memaksa kalian ngobrol ke orang yang kalian nggak suka. Itu karena Ibu ingin kalian paham bahwa batasan pribadi ada di tangan kalian sendiri. Kita sudah belajar sun jauh, belajar menunjukkan perasaan pada orang yang disukai tanpa harus menyentuh kulit. Kita juga sudah belajar “tos” jika kalian hanya ingin bersentuhan tangan dengan seseorang. Kita sudah sering membahas untuk nggak membiarkan orang-orang menyalah-nyalahkan apa yang kalian inginkan, atau mendengarkan orang-orang sok tahu yang merasa lebih paham apa yang baik untuk kalian. Dan kalian juga harus, HARUS, selalu ngomong ke Ayah, Nenek, atau Ibu jika ada orang yang membuat kalian nggak nyaman.

Kita juga sering banget, kan, ngobrolin tentang sentuhan? Kalau ingin menyentuh, kita harus yakin orang itu mau disentuh. Jadi, jika kalian mau menyentuh dan orangnya bilang “NGGAK!” atau “JANGAN!” kalian harus berhenti saat itu juga (termasuk bercanda, pura-pura meninju lengan kakak atau adik). Dan bahkan jika orang itu nggak bilang “NGGAK” atau “JANGAN”, kalian harus perhatikan, dia senang nggak disentuh? Ngerti, kan, kadang-kadang kalian sendiri suka dikelitikin dan kadang-kadang nggak mau? Nah, semua orang juga begitu. Jadi, misalnya teman kalian suka dikelitikin kemarin, belum tentu hari ini masih mau dikelitikin. Atau disentuh dengan cara apapun.

Sekarang Ibu mau bicara tentang seks. Ibu tahu kalian sudah paham “cara kerja” hubungan seksual karena kita sudah membahasnya sejak kalian kecil, sejak kalian belum bisa membaca. Dan kalian juga sudah tahu tentang sperma dan sel telur dan penis dan vagina dan vulva dan orgasme dan kondom dan semua hal yang berkaitan dengan kata-kata tersebut. Ibu juga sudah bilang rasanya menyenangkan dan kalian sepertinya nggak percaya, tapi ya kalian toh yakin sama Ibu. Namun satu hal yang Ibu nggak bilang ke kalian adalah: rasanya luar biasa ketika kalian melakukannya dengan orang yang juga ingin melakukannya dengan kalian. Seperti… mengudap keripik kentang diteruskan dengan makan es krim, seperti marathon nonton Naruto, atau dua hari berturut-turut berenang di pantai. Kalian tahu kan bagaimana senangnya Ibu punya sepatu baru? Nah, seperti itu, tapi 500 kalinya. TAPI itu hanya terjadi jika kalian melakukannya bersama orang yang benar-benar senang dan meminta kalian melakukannya lagi.

Ini yang Ibu maksud agar kalian menunggu. Ibu ingin kalian bisa menahan diri dan melakukan hubungan seksual sampai orang dekat kalian memintanya. Mungkin mereka akan berkata betapa mereka butuh kalian, mereka nggak sabar menunggu, dan mereka ingin sekali. Mereka akan memanggil nama kalian dan memintanya.

Namun jika suatu hari kalian berada di situasi itu tapi kalian nggak mau, jangan lakukan. Dan jika kalian berada di situasi ingin sekali berhubungan seksual tapi pasangan kalian nggak minta, jangan lakukan. Seks itu menyenangkan HANYA jika kedua orang yang melakukannya memang menginginkannya. Jika tidak, akan ada pihak yang terluka. Roman-romanan sudah cukup aneh tanpa harus ada hati yang tergores, asal kalian tahu kapan harus berhenti (dan Ibu tahu kalian akan selalu bisa berhenti—karena itulah manusia punya ibu jari yang menghadap terbalik).

Surat ini hampir selesai, tapi yang selanjutnya ini yang super-duper penting: nggak semua orang diajarkan semua hal yang telah kita bicarakan. Kalian akan bertemu orang lain, dan kemungkinan besar akan berteman dengan mereka. Orang-orang ini mungkin akan berpikir, oh, nggak papa kok begitu-begini ke orang lain, dan mungkin orang lain itu terluka dan mereka nggak peduli. Salah satunya ya tentang seks. Ibu tahu, suatu hari nanti kalian akan dengar teman kalian yang cowok-cowok bicara tentang cewek-cewek, atau tentang cowok-cowok juga. Itu artinya mereka nggak punya perhatian ke cewek-cewek tersebut, nggak peduli pada perasaan dan tubuh perempuan. Jika kalian keberatan, Ibu ingin kalian ambil tindakan. Kalian bisa bilang, “Sob, kelakuan lu nggak asik, tauk!” atau semacamnya, asalkan orang yang sudah berkata kasar atau jahat itu tahu bahwa tindakannya nggak pantas. Kalian harus ingat: semua orang ingin diterima. Jika kalian bisa mengambil alih suasana di ruangan dan bilang kalau ngomong yang jelek-jelek tentang orang lain itu nggak asik, mereka pasti akan berhenti supaya nggak terlihat bodoh.

Kita pernah bicara bahwa kita adalah orang-orang yang suka menolong, yang memberi bantuan saat ada masalah atau ada orang kesusahan. Kalian ingat, kan? Suatu hari nanti kalian akan punya kesempatan itu. Karena cowok-cowok yang ngomongin hal-hal nggak asik tentang cewek kemungkinan akan melakukan hal-hal jahat terhadap perempuan. Jika kalian kebetulan berada dalam situasi dimana ada lelaki yang menyakiti perempuan, atau menyentuh perempuan dan perempuannya nggak suka, kalian harus bertindak. Jika si perempuan sedang tidur atau mabuk atau pingsan atau dicekoki obat dan nggak bisa bilang “NGGAK”, kalian harus bertindak. Ingat, bersentuhan pun tidak menyenangkan kecuali dua orang memang mau melakukannya. Apalagi memaksa berhubungan seksual. Jika si perempuan nggak bisa ngomong bukan berarti dia menginginkannya. Jika si perempuan nggak bilang secara jelas dia ingin disentuh, maka menyentuhnya adalah tindakan yang salah.

Dan begini caranya bertindak:

1. Jika dirasa aman untuk kalian ngomong, ngomonglah. Suara kalian harus kuat dan bernada perintah. Bilang pada si lelaki bahwa kelakuannya itu salah, dan pastikan dia mengerti apa yang kalian katakan, bahwa tindakannya nggak asik, dan dia itu bangsat (maafkan, Ibu mengumpat. Tapi jika kalian ada dalam situasi ini, kalian juga akan mengumpat). Bantu si perempuan pergi dari situ, cari tempat aman, lalu hubungi keluarganya (bahkan jika si perempuan takut dimarahi ortunya, tetap hubungi keluarganya. Jika orang tuanya marah, hubungi Ibu. Biar Ibu yang bicara.)

2. Jika kondisinya tidak aman untuk mengatakan apapun, pergi dari tempat itu secara diam-diam dan hubungi Ibu. Ibu nggak peduli meskipun kalian berada di tempat yang nggak seharusnya, atau kalian ternyata di situ padahal pamitnya pergi ke mana, atau di Kanada, atau di mana lah yang kemungkinan bakal bikin kalian bermasalah. Kalian akan dapat kekebalan jika menghubungi Ibu untuk minta bantuan. Telepon genggam Ibu selalu menyala, dan nggak masalah mau siang, malam, dini hari, atau kapan pun kalian menghubungi. Jika Ibu nggak langsung angkat, hubungi Ayah. Aturan kekebalan juga berlaku untuk Ayah. Hubungi salah satu dari kami dan sebutkan di mana kalian berada dan kami akan datang membantu. Lalu tutup telponnya, kemudian hubungi polisi. Sebutkan alamatnya dan jelaskan bahwa ada penyerangan sedang terjadi. Polisi mungkin akan minta kalian untuk tidak menutup telepon sampai mereka datang.

3. Bahkan jika kalian nggak suka dengan kelakuan si cewek itu, bertindaklah. Meskipun dia jahat, atau sombong, atau orang-orang bilang dia melakukan hal-hal yang menurut kalian menjijikkan, bertindaklah. Apapun yang telah dilakukan perempuan itu, nggak ada seorangpun yang berhak menyakitinya. Jika kalian bertindak saat itu juga, besoknya nggak papa kalau kalian mau benci dia lagi. Jika kalian nggak bertindak, yaaa… apa bedanya kalian dengan pecundang-pecundang yang menyakitinya? Kalian tahu diri kalian sesungguhnya. Bertindaklah!

4. Nggak usah khawatir akan dibenci seluruh dunia jika kalian menghentikan anak keren berbuat jahat. Kalau kalian menghentikan seseorang agar tidak menyakiti orang lain, kalian adalah pahlawan. Di situasi inilah kalian dibutuhkan. Dan jika ada orang yang nggak suka dengan tindakan kalian, peduli setan. Ayah dan Ibu akan melakukan semua hal semampu kami supaya orang-orang yang nggak suka kalian jadi pahlawan itu menjauh dan tutup mulut.

Kita sudah lama melatih semua ini, menjadi orang yang selalu siap sedia menolong. Ingat, kan, waktu kita ada di tengah orang tusuk-tusukan di stasiun kereta bawah tanah dan kita membantu seorang ibu dan anaknya pergi dari situ? Ingat, kan, waktu kita membantu salah seorang teman Ibu dari suaminya yang jahat? Ingat, kan, saat-saat yang kita habiskan di taman bermain, memotret orang-orang aneh yang memandangi anak-anak kecil dengan tatapan aneh? Kita telah berlatih untuk bertindak dan membantu orang lain. Kalian bisa melakukannya. Ibu tahu kalian bisa.

Ibu sayang kalian.




Labels:

Catatan 3: About A Place

Posted by The Bitch on 3/08/2013 05:48:00 AM




Sometimes you want to go where everybody knows your name
- Lagu pembuka serial Cheers yang jaman kecil dulu sering saya tonton

Pernah dejavu? Berasa kayak udah pernah ngalamin kejadian yang pas saat itu dialami? Selama di Bali sini ya saya kayak dejavu gitu. Berasa nggak kemana-mana, padahal udah nyebrang laut dan pindah pulau.

Kok bisa, Pit?

Jadi gini…

(Siap-siap. Akan selalu ada cerita panjang setelah “jadi gini…”)

Tumpukan bata merah itu perapian tempat bakar pizza karena sebelum jadi kedai kopi tempat ini sempat jadi kedai pizza. Kasihan pizza. Dia pasti berdosa sekali sampai dibakar seperti itu...

Tahu kan kalo sejak Januari pantat saya ada di Bali? Nah, beberapa hari setelah puas gegulingan sama bocah monster gundul-gendut-unyu, anaknya ibu asuh saya nan seksi dan baik hati, seorang mbak baik yang sudah duluan “buka jalur” di sini ngajak saya ke satu kedai kopi. Namanya Kopi Kultur, gampangnya ya KK. Dia langsung ngenalin saya ke semua orang yang ada di sana, mengaku sebagai pengungsi banjir dari Jakarta yang menyelamatkan diri ke Pulau Dewata. Saking buwanyaknya orang, saya cuma ingat mas kucel bermata panda dan berambut agak gondrong yang hampir putih semua, mbak istrinya yang nampak seperti ibu beranak banyak dan berwajah khawatir, dan mas berkulit tato yang lengannya sebesar paha. Lalu ada om-om gondrong yang auranya berwibawa banget sampai saya bawaannya pengen cium tangan, dan bapak berkacamata nan bersahaja yang mirip dosen Structure saya dulu dan sama-sama beruban. Meskipun saat itu saya nggak bisa ingat namanya satu-persatu—kecuali kalau mereka pakai name tag—saya hanya ingat satu benang merah: semua orang berwajah ramah dan tersenyum tulus.

Begini bentuknya KK kalau dilihat dari depan kantor WOS.

Tempatnya nyaman banget. Di pojok kanan-kiri ada kursi-kursi kayu sebesar ambin dengan bantal guwedhe-guwedhe. Strukturnya dari bambu betung dan terbuka. Arsiteknya bernama Mas Kelik. Meskipun tidak melipur lara seperti pelawak Jogja, tapi rambutnya kriwul-kriwul mirip mie goreng yang sering dibikin ibu saya dan nyengirnya literally dari kuping ke kuping. Saya yang rada klaustrafobik sama sekali nggak berasa deg-degan di tempat itu. Ya paling masuk angin aja sih, dikit, kalau kebetulan anginnya lagi jahil dan saya lupa bawa sweater. Letak kedai ini di Jalan Pengubengan Kauh, di tengah desa, masih ada lapangan dan sawah meskipun seberangnya ada konveksi tapi kalau malam aduhai gelap-gulita dan banyak tawuran antar geng—kumpulan guguk beda banjar yang rebutan wilayah. Hihi. Saya nggak tahu ada apa dengan Bali, kenapa orang-orang suka sekali bikin tempat nongkrong dan restoran di tengah desa. Beda banget dengan Jakarta yang semua tempat nongkrong adanya di mall atau pusat keramaian. Kan saya yang susah, jadi betah, males pulang.

Dan rasanya sangat remeh jika menyebut KK sebagai sekadar kedai kopi. Sudah ada pertanda ini bakal jadi rumah saya kedua, tempat saya berangkat kemana-mana, terima tamu, atau janjian. Bantal dan kursi mirip ambin itu sebangun dan sebentuk dengan ruang tamu kedua saya di Radio Dalam—Bubur Karpet. Apalagi wifi-nya nggak pernah mati dan tempatnya nggak pernah dikunci meskipun dapur tutup jam sebelas malam. Terbukti, pertama kali ke situ saya dan mbak baik pulang jam dua pagi setelah lelah ngobrol di pojokan dan kehabisan bahan bergosip.

Mas Robin sedang menggiling kopi agar baik rasanya. Halah...

Karena sering ke sana saya jadi kenal dengan mbak dan mas penjaganya. Ada Mbak Rani yang masakannya jagoan dan bikin saya sendawa bahagia sehabis lelah ngembat sepiring nasi campur beras merah bikinannya. Ada Mbak Ratih dan Mbak Putri yang nggak tahu kenapa saya sering ketuker-tuker. Dan yang paling ganteng, karena lelaki sendiri, adalah Mas Robin yang nggak temenan sama Batman. Dan juga satpamnya, Gerry, guguk jantan hitam nan cuek yang sepertinya ada keturunan papillon dengan ujung ekor berwarna putih, tanda guguk alfa dan bandel. Dan sampai entri ini dibikin, saya sudah berkali-kali janjian di situ untuk pergi ke mana, rendezvous dengan teman yang duluan menetap di Bali dan bertemu “objek bully” impor dari Jakarta yang jadi turis Ingress.

Satpam KK neh! Satpam sih unyu begini... ((=

Iseng saya googling “Kopi Kultur”. Dan saya mendapatkan dua entri yang ditulis oleh orang Bali keren yang sedang hijrah ke Oz. Bapak yang mirip Pak Ar, dosen saya itu, ternyata namanya Pak Suar. Beliau adalah pemilik Wisnu Open Space atau WOS, tempat yang di pintu masuknya ada KK-nya. Beliau ini… keren banget deh! Pak Suar menyediakan lahan dengan mindset “green” sebenar-benarnya, top-to-bottom, nggak cuma lifestyle tapi juga ekonomi, dan difungsikan buat kepentingan ruang publik. Beberapa kali ada event di sana, mulai dari loka karya dengan penduduk asli Bali (yang waktu saya datang seperti sedang rapat desa karena semua orang berpakaian tradisional, ibu-ibu dan bapak-bapak, lengkap dengan kebaya dan udeng-udeng), sampai acara ulangtahun komunitas blogger gdubrak.com yang kerjasama dengan Kopi Kultur (dan MCnya berkali-kali menyebut “Terima kasih pada Pak Wisnu yang sudah menyediakan tempat…” padahal adanya Pak Suar, bukan Pak Wisnu. Hihi).

Dan om-om gondrong berwibawa itu namanya Pak Rai. Seumur hidup saya ketemu “dewa kopi” ya baru Pak Rai itu. Colek sedikiiit aja perihal kopi, langsung keluar ilmunya yang bikin saya ternganga-nganga kayak kalo ketiduran di bis. Nggak cuma kopi, Pak Rai ini seperti ensiklopedia berjalan untuk urusan tanaman. Penasaran sama nama salah satu tumbuhan yang kamu temui di jalan? Sebut saja ciri-cirinya. Nanti beliau akan kasih tahu kamu mulai dari kegunaannya untuk apa, tumbuh di mana, nama lokalnya apa, sampai nama latin. Semua kopi yang dijual di KK adalah hasil tangan dingin Pak Rai yang percaya bahwa industri kopi sudah seharusnya punya trickle down effect, nggak cuma diburu untuk nendang syaraf para urbanist tapi juga nendang buat ekonomi dan kehidupan petani kopi dengan proses tanam sampai roasting yang baik dan benar agar hasilnya menyehatkan. Dan Pak Rai ini selain juara banget racikan kopi dan minumannya, beliau juga jago masak! Sempat suatu malam waktu saya kurang ajar bergabung semeja, Pak Rai nawarin saya pisang goreng keju bikinannya. Nggak cuma itu, pisang itu juga dipotong-potong Pak Rai sampai kecil yang saya tinggal tunyuk pakai garpu lalu kunyah. Jadi kangen Babab… )=

Dan belakangan saya baru tahu bahwa mas guwedhe berlengan sepaha itu ternyata Jerinx, anggota band Superman Is Dead. Saya nggak nyangka aja orangnya ramah sekali. Kunci pandanganmu pada mukanya, dan kamu nggak bakal lihat tatonya kecuali senyum yang membuat wajahnya seperti diterangi neon. Dia itu jagoannya bawa tamu ke KK. Tukang bikin acara dan keributan. Kalau kedai sedang sepi, dia akan panggil teman-temannya buat bikin keramaian. Haha!

Lalu mas dan mbak suami istri itu? Nah, ini bagian paling menarik dan bikin saya dejavu.

Mas agak gondrong dan beruban itu namanya Kang Ayip, orang Sunda yang kelamaan di Bali. Beliau pendiri Matamera Communications, agensi yang bergerak di bidang desain, strategi dan branding. Kalo urusannya udah gambar-gambar desain, branding, dan acara-acara semacamnya, nggak usah banyak nanya lah kalo ke Kang Ayip mah. Saya ada nih daftar “keributan” keren yang dibikin sama Kang Ayip dan bala kurawanya. Beliau jebulnya juga teman baik Mas Danny Tumbelaka, mas-mas fotografer kawakan yang ramah dan botak dan dulu sering sekali bikin angkringan Langsat overtime karena kami asyik ngobrol. Dua hal yang plek sama dari Mas Danny dan Kang Ayip: mereka nggak pelit ilmu. Bawaannya ngajak diskusi, sekadar sharing atau bikin-bikin apaan kek yang feasible dan “kena”, tapi tetap cekikikan dan cela-celaan. Dan Kang Ayip ini pentolan di belakang Kopi Kultur yang bikin kedai ini jadi tempat kumpul-kumpul anak-anak muda kreatif Bali dan menggodoknya jadi creative hub. Idenya mirip banget sama Rumah Langsat, meskipun yang di sono ya sepertinya cuma saya doang yang membuatnya jadi creative hub karena tempat enak nebeng wifi buat mengais segenggam berlian ya di sana. Yang lain ngantor biasa.

Lalu mbak-mbak yang mukanya selalu kelihatan khawatir tapi funky? Itu Mbak Aty, alias Nyonya Ayip. Desainer interior/perhiasan/fashion. Gokil kan! Belom lagi coffee shop afficionado. Kalo kita paling pengen kopi ya karena pengen ngopi. Mbak Aty mah nggak. Kalo dia pengen ngopi, ya bikin coffee shop! CADAS, man! Belakangan, karena sering ngobrol dan cela-celaan juga—teuteup—saya jadi tahu apa yang mengakibatkan wajah beliau seperti itu. Meskipun anak kandungnya cuma satu dan masih kelas lima SD, anak angkatnya udah pada gede dan buwanyak buwanget! Ya itu, sekantor Matamera itu lah! Kalau Kang Ayip ceritanya jadi bapak berwibawa, Mbak Aty ini yang jadi ibu pengasih, dengerin curhatan dan ngomelin kalo mereka punya salah. Ya meskipun anggota Kelompencapir juga sih, Kelompok Pencela dan Pencibir kalo sedikiiit aja ada yang salah-salah kata.

Di KK nggak pernah sepi musik. Playlist dari iPod yang dicolok ke sound system ngumpet diantara bulatan bambu itu semua pilihannya Kang Ayip. Saya jadi ingat masa-masa begadang di Langsat bareng Paman Tyo. Selera mereka—dan saya juga sih *sigh*—tua, tapi gue banget. Britpop dan progrock mah ada lah. Dan kalau ada Mas Dicky, bosnya mbak baik, nggak pernah sepi juga dari celaan tapi juga sarat cerita-cerita pengalamannya jadi fasilitator di tempat-tempat terpencil. Sama kayak kalau saya ketemu Ndorokakung kalau beliau sedang bertandang ke Langsat. Dan Satrio, seniman muda dan gondrong yang rambutnya sering digelung cepol itu kalau di Langsat kayak Zam. Bikin saya common bullshit terus, bilangnya mau pulang tapi baru angkat pantat tiga atau empat jam kemudian.

See? Dejavu kan?

Terus, letak kopinya di mana, Pit? Sebentar…

Noh! Dipileh, dipileh...

Jadi, gara-gara saya tergoda Robusta-nya Kang Ayip di mug gendut dengan isi mengepul-ngepul, saya cobain lah. Enak, seperti Robusta pada umumnya. Terus teman saya yang gila kopi menyarankan saya coba Arabica. Lebih enak, dan saya lalu jatuh cinta. Tapi tahu nggak cinta terahir saya pada kopi tertambat di mana? Peaberry! Nah, ini saya nggak pernah tahu terbuat dari apa dan saya juga masih sungkan nanya ke Pak Rai. Tapi man… kalo kamu penasaran bagaimana rasanya syarafmu digampar nikmat oleh kafein, you should try this one. Makanya, dateng ke sini kalo mau nyobain. Hihi.

Tapi beneran, deh. Saya nggak tahu ini anugrah atau kutukan, karena kemanapun saya pergi, sudah melintas ribuan kilometer pun, saya masih berada di lingkungan yang sebentuk dan sebangun, masih bertemu orang-orang baik yang mau menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh saya, masih bisa tersandung di tempat asyik. Dulu saya selalu nyaman mengunjungi manusia, menyambung kembali komunikasi dan saling mengejar ketertinggalan, bertukar informasi tentang siapa sudah punya anak berapa atau saya sudah berbuat apa. Bukan mengunjungi tempat seperti pelancong pada umumnya. Tapi KK menyediakan semuanya: tempat nyaman, orang-orang bertangan dan hati terbuka, kopi sehangat penerimaan dan suasana sesegar wangi dupa di pura depan.

Maka nikmat Bali yang manakah yang akan kau dustakan…



Labels:

Parenting, Redefined

Posted by The Bitch on 3/06/2013 05:07:00 AM

Bagian punggung salah satu kaos oblong yang saya punya, desain oleh Kakak Ping Setiadi. Sila kontak dengan klik link tersebut jika berminat.


Orang tua terkadang lupa bahwa mereka juga sempat menjadi anak.

Entri ini diketik beberapa jam setelah saya SMS-an sama Babab, barengan Galagher bersaudara yang lamat terdengar namun terkalahkan desing angin Kesanga lewat tengah malam di pelosok Bali. Iya, si Babab, bapak saya itu, mak bedunduk ujug-ujug tanya kabar apakah saya baik-baik saja. Padahal biasanya iseng SMS cuma laporan ada kerabat atau tetangga meninggal, atau sedikit bergosip kalau dia sedang motret nikahan siapa gitu. Atau mungkin itu pertanyaan titipan dari Bu Anggi yang suka belagu nggak mau berkabar duluan. Hihi.

Ibu dan Babab itu pasangan ortu unik. Mereka terkadang sering jaim karena hubungan kami dibilang jauh ya dekat, dibilang dekat ya nggak begitu juga. Tapi mungkin memang begitu ya hubungan ortu-anak yang sudah bersama puluhan tahun dengan bocah-bocah yang mendadak membangkot (tapi nggak kawin-kawin =P). Mereka sudah los aja, mempercayakan semua pada kebaikan semesta—yang nyatanya juga nggak baik-baik amat—dan nggak mikir lagi anaknya mau jadi apa, apalagi yang modelnya kayak saya. Udah bisa idup sendiri nggak ngerepotin aja mungkin udah sujud syukur tuh Bu Anggi.

Tapi ini jauuuh banget bedanya sama adik saya, si Cipret. Ketika masih SMU, dia gondok luar biasa waktu dilarang Ibu ke mall bersama teman-temannya. “Nunggu kakakmu pulang kalo mau kemana-mana,” titah Ibu. Padahal saya sedang “dibuang” ke Jogja dan nggak serumah. Pulang pun kalau ingat. Lalu dia sempat sekamar di kost waktu saya memburuh di Jakarta dan tempat kerjanya lumayan dekat dari tempat saya tidur. Bertahan sebulan karena, “aku maunya pulang tuh makanan ada di meja, tinggal mangap, nggak perlu nyari ke luar. Kayak di rumah.” Bitch, please…

Tapi sejak kecil si Cipret itu sudah seperti anak saya sendiri karena saya yang ajak dia main jika Ibu harus beberes rumah dan masak. Beda usia kami lumayan jauh. Dia sering menangis saat saya olok-olok bahwa hadirnya di dunia adalah akibat bocoran kondom meskipun dia nggak tahu apa maksudnya. Tapi dia tetap manut sama saya. Termasuk ketika dia manut menjilat setelapak tangan bubuk putih yang biasa dipakai Ibu bikin kue karena saya iming-imingi bahwa vanilla itu rasanya manis. Saya juga yang ajarin dia bandel supaya bisa main sepulang sekolah tanpa harus kena marah Ibu. Saya pun jadi tempatnya cerita kalau dia sedang suka-sukaan sama cowok (dan masih juga jomblo seperti mbaknya, sampai sekarang). Saya juga yang “mencekokinya” dengan Saman-Larung, Tetralogi Buru dan Trilogi Bartimaeus. Untungnya dia suka dan lumayan melek literatur diantara teman-temannya yang lain. Masa-masa bocah seusianya masih suka nonton Tralala-Trilili-nya Agmon, saya jejali dia dengan Mr. Big, Nirvana, Manhattan Transfer, RHCP dan Van Halen. Dia pun menemani saya deg-degan pertama kali ikut festival di Ancol dan harus bersaing dengan mas-mas hebat-hebat dan gondrong-gondrong yang ikutan goyang waktu saya gagaokan bawa Green Tinted 60’s Mine.

Dan saya masih sering terkaget-kaget menyadari pertumbuhan adik saya yang dulu kurus berambut merah seperti anak kurang gizi dan terlalu lama main layangan hingga sekarang jadi mbak-mbak CSO salah satu bank terkemuka di Indonesia. Apalagi mendengar dia bercerita bagaimana dia harus menangani keluhan. Di situ baru saya percaya bahwa adik saya memang mahluk hidup yang tumbuh dan berkembang, bukan sekadar mahluk unyu yang bisa dijadikan objek bully atau ketawa-ketawa kalau tuasnya diputar.

Tapi yang lebih membuat saya kaget lagi adalah komentar Ibu waktu saya memintanya untuk nggak ngelarang-larang Cipret dan menaruh kepercayaan sebesar dia mempercayakan saya.

“Cipret itu beda sama kamu. Dia nggak bisa seberani kamu yang hajar sana-sini buat dapetin yang kamu mau. Makanya kamu yang harus kuat. Makanya kamu Ibu ajarin berani. Karena kalau nanti Ibu dan Babab kenapa-kenapa, dia jadi tanggung jawab kamu.”

Saya sendiri masih ingat bagaimana mencelos hati kami sekeluarga di malam menunggu si “bayi”, bungsu di keluarga, pulang pada hari pertama dia bekerja di restoran keren dan mehel benget. Betapa jantung kami remuk melihat bilur-bilur di tumitnya akibat sepatu hitam seragam yang kulitnya masih kaku, membayangkan dia harus berdiri berjam-jam dalam kondisi seperti itu, berwajah lelah, dengan air mata bergulir di pipi nyempluk sambil berkata lirih, “kerja tuh capek ya…” Kalau saya nggak pelototin, Ibu mungkin akan buru-buru mendekap bocah bongsor yang lebih tinggi dari saya lalu menghujaninya ciuman. Alih-alih, dia hanya mengacau puncak kepala si Cipret. Untungnya.

Saya kenal betul bagaimana ajaibnya “hard love” karena saya besar dengan hal seperti itu. Buat saya dan tetangga, akan sangat kejam menyuruh anak kelas 2 SD untuk mengepel dan menyapu rumah setiap hari, mencuci pakaian dengan tangan, dan berbagai tugas domestik yang bisa dialihdayakan dengan mudah ke tangan si Bibik. Tapi tidak untuk Bu Anggi. Masalahnya, pertama, kami nggak pernah punya ART. Kedua, Ibu sudah cukup repot mengurus hal lain. Dan terbukti, semua hal-hal “kejam” itu berguna banget untuk bikin saya bertahan dan bersenang-senang dilepas sendiri jauh dari keluarga.

Saya juga dihajar—bukan diajar—untuk selalu menjejak bumi namun tetap mengupayakan terjadinya hal-hal yang saya inginkan. Misalnya, ngojek payung untuk beli perabotan lomba upacara karena kenyataan yang tertera pada slip gaji Babab nggak bisa mewujudkan keinginan saya. Atau ngajarin anak orang dan jadi kalong di warnet agar masih bisa jalan-jalan, supaya hidup saya nggak melulu jadi kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang).

Dan apakah saya bahagia dengan orang tua yang lumayan visioner dan demokratis seperti itu? Nggak juga. Hey, saya manusia! =P

Beberapa minggu sebelum saya gotong-gotong kulkas dua pintu melintasi Soetta menuju Ngurah Rai, Ibu dan saya sempat bertengkar hebat. Sebenarnya sih sepele, tentang jadi apa saya nanti. Seiring waktu, manusia berubah. Dan Ibu juga nggak sebegitu saktinya untuk lepas dari siklus tersebut. Saya yang terlalu naïf menganggapnya masih memegang nilai-nilai yang sama seperti yang dipegangnya semasa muda. Dia inginkan saya berpenghasilan tetap dan bisa punya muka menghadapi orang-orang yang merasa jadi perwakilan petugas kelurahan untuk bertanya “kamu kerja di mana?” Mungkin remeh, tapi saya nggak bisa lagi berlama-lama “melacur” di pabrik berkedok kantor korporat atau agensi atau apapun lah yang mengharuskan saya duduk diam dan tersenyum dan membuat orang lain senang—terutama atasan—delapan jam sehari, lima atau enam hari seminggu (meskipun sekarang saya bakal lindas ego dan “melacur” lagi di tempat pantat saya berada ini demi babat alas). Bagi ibu saya, seperti itulah bahagia, dalam keadaan aman secara finansial dan nyaman secara posisi sosial. Tapi Ibu—dan saya—seringkali lupa bahwa kami punya standar bahagia yang nggak sama. Kami juga seringkali lupa bahwa doa pertama Ibu sebagai orang tua hanya menginginkan anaknya bahagia, sementara harapan anak adalah membuat orangtuanya bahagia—sebelum semuanya terlambat. Begitu sederhana, namun begitu sulit.

Suatu kali sempat pada sebuah perbincangan Ibu sambat. “Ya namanya juga orang tua. Sebisa mungkin nggak ngalamin susah seperti orangtuanya. Mendingan orangtuanya aja yang berdarah-darah, nanti biar anaknya yang leha-leha.”

Tapi, Bu… apa itu nggak bikin anak berdarah-darah nantinya ketika dia menua nggak biasa ngadepin susah? Lalu buat apa semua pendidikan hidup yang sempat dihajarkan—bukan diajar—pada semua anak kalau masih ketakutan pada apa yang menghadang di belokan depan? Dan jika kemudahan yang ada di benak ternyata mewujud pada kesulitan bertahan dan belajar kemudian, bukankah itu juga kelalaian dan pengabaian? Dan satu pertanyaan besar untuk semua ibu-ibu di dunia yang merasa sebangkotan apapun, anak adalah anak, tanggungjawabnya, BEBAN hidupnya yang mungkin nggak mau dirasakan, nggak tega mengutarakan, namun menggedor-gedor nurani manusia terdalam:

buat apa melepas ketika tetap harus menggenggam?

Dan saya sebagai anak, sebagaimanapun mbalelonya, sebengal apapun, sekacrut apapun, akan tetap merindukan orang tua—Ibu, terutama, karena rahimnya adalah rumah pertama saya—untuk sekadar ngobrol sambil sesekali menyesap teh manis panas di ruang makan sebagai dua orang perempuan dewasa, berbagi hidup dan kisah, berbagi peristiwa dalam derai tawa panjang, berbagi waktu yang tidak lama.

Namun seperti yang saya sering alami, bahwa semesta tak melulu baik, tak selamanya ramah. Akan ada “korban” berjatuhan demi keseimbangan. Termasuk anakmu, Bu. Karena kita semua nggak ada yang istimewa di muka bumi, kecuali para bigot. Dan jika masa itu datang, Bu, legowolah. Ikhlas dan percayakanlah semuanya pada kemampuan anakmu menyerap pelajaran dari pengalaman-pengalamanmu dulu yang sering kau ceritakan. Biarkan saya—kami, seluruh manusia yang sempat jadi kanak-kanak dan punya orang tua (kelewat) baik—berjalan atau bahkan berlari, karena semua hanya harus dihadapi. Termasuk membiarkan kami jatuh dan terluka, sebagaimana dulu kami belajar naik sepeda. Jangan buai kami dengan pertolongan dan kata-kata penghiburan, karena kami akan merindukan hal itu ketika kalian, para orang tua, tak lagi ada untuk kami. Kehilangan sesuatu yang nikmat dan indahnya pernah dikecap itu jauh lebih menyakitkan ketimbang belum sempat merasakannya sama sekali.

Namun jika kalian memaksa ingin berbuat sesuatu untuk kami, hanya satu yang akan membuat kami luarbiasa lega dan bahagia: terima kami ketika pertempuran kami selesai. Izinkan kami kembali menyesap kehangatan rumah tempat pulang, tanpa penghakiman, tanpa I-told-you dan sebangsanya, sebelum kami berangkat lagi ke kancah pertempuran maha hebat bernama kehidupan.

Karena setinggi-tingginya ranting menggapai awan, ia tak pernah melupakan akar.


Labels: