"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

It's Just Me Talking to the Mirror

Posted by The Bitch on 12/29/2012 07:44:00 AM

Every (wo)man is for him(her)self.

Nyet…

Ya?

Gue mau cerita…

Ya udah. Cerita aja. Emang pernah gue larang?

Dan gue nggak mau pake kaidah kebahasaan yang baik dan benar.

So?

Dan gue juga nggak peduli peraturan kerahasiaan, ketelanjangan transaksi informasi di internet, UU ITE, freedom of speech, demokrasi, dan semacamnya.

Going bareback?

Definitely. And highly politically incorrect.

Ok. Shoot.

Jadi ceritanya gue supercapek.

Udah tau. Siklus kan?

Iya. Tapi yang ini beda.

Mungkin karena elu menua. Lantas?

Ya… nggak lantas-lantas. Gue mau maki-maki.

Elu tuh kebanyakan pembukaan. Jadi cerita nggak sih?! Kalo nggak jadi mendingan gue boker nih!

Ya jadi. Tapi gue bingung mulai dari mana.

Yang gampang, yang paling mengatur kemaslahatan dan mobilitas elu: duit.

Oh, iya. Gue sebel tuh. Berbulan-bulan invoice gue nggak cair-cair. I can barely living. Dan email dari si bos ke orang yang ngasih kerjaan juga nggak dibales-bales. Tapi terus si bos bisa jawab dong kalo invoice nyangkut itu emang lagi diurusin.

Terus? Maksud lu apa? Lu curiga?

Iya.

 Lalu?

Ya… gimana ya? Sayangnya gue masih percaya kebaikan manusia sih. Apalagi Si Bos kan temen gue sendiri. Kami sama-sama pegang kartu. Dan generally, mau manusia bisa sejahat monster-monster di Cabin in the Woods, gue selalu yakin ada seicrit kebaikan di setiap orang yang bikin dia nggak "melakukan itu". Kalaupun dia sampe menyeberang "ke arah situ", dia pasti punya alasan kuat sampe harus ngorbanin temennya. Pasti urusannya do-or-die. Kalo nggak dilakukan maka dia bakalan mati.

Tapi itu kan potensi. Setiap orang yang berpotensi baik akan selalu ada bayangannya: potensi jahat. Kan elu yang bilang sendiri, kalo semua hal di dunia akan selalu ada "lawan"nya untuk menegasikan biar nggak ada yang superior. Biar imbang. Chaos/order; tinggi/rendah; miskin/kaya; kanan/kiri; benar/salah; atas/bawah; sedikit/banyak. Lu yang bilang sendiri kalau ini bukan masalah adil. Tapi imbang. Keadaan di tengah.

Iya. Gue tau. Ya mungkin dia sedang mencari keseimbangan. Biasanya kan dia baik. Sekarang mungkin sedang ingin jahat. Dan apesnya mungkin pas kejadiannya di gue.

Bagus lah kalo lu nyadar. Kemudian?

Ya gue liat sisi bagusnya. Ternyata Masé masih bisa gue repotin. Hihi.

Sampe kapan?

Ya nggak tau. Mungkin selama dia masih mampu bantuin gue. Kalo nggak bisa kan dia juga bilang.

Tapi lu jadi bergantung sama dia, lho.

Ya nggak papa juga kan? Sekali lagi gue bilang: selama dia masih bisa. Selama dia nggak merasa direpotkan.

Kalo misalnya saat itu datang? Saat dia udah nggak bisa dan nggak mau bantuin elu lagi karena sudah merasa repot?

Ya… mungkin gue akan mati jomblo.

Lhaaa… kok urusannya ke jomblo?! Nggak ada hubungannya!

Lho, justru ada banget! Masé kan tau gue gimana. Udah gue tembak berkali-kali juga dia nggak pergi karena merasa kami adalah teman. Dia yang nyediain kunci sampe gue bisa nyari sendiri jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan gue. Dia juga yang buka akses lebar-lebar untuk gue wadul, nanya dan diskusi nyolot, kecuali kalo dia lagi nyetir dan tidur. Salah gue di mana kalo gue merasa found the one?

Ya nggak salah juga sih, selama elu nggak shattered into pieces aja kalo ternyata he's not.

Well… gue juga nggak tau kapan he's not-nya. Tapi selama ini Masé adalah partner yang baik dan berkepala dingin untuk bisa gue ajak ngobrol, dari yang paling absurd sampe yang paling common; yang paling high-end, paling medioker, dan paling cabul sekalipun. Rasanya baru dia doang yang bisa kayak gitu. Yet being friendzoned has never felt this comforting.

Lu pikir deh. Ini planet Bumi manusianya ada berapa milyar? Dan yang namanya homo sapiens kan nggak di Indonesia doang. Mungkin lu belum nemu aja yang setipe sama Masé. Lu belum menjejakkan kaki ke London, Skotlandia, Yunani, Belanda, Jepang, DAS-nya Yang-Tse. Ke Kalimantan aja lu belum pernah. Siapa tau di pelosok pedalaman Papua sana malah ada orang kayak dia. Lagian, emang lu mau ampe mati di sini?

Ya gue kan nggak kenal sama orang-orang dari daerah yang lu sebutin tadi. Yang gue kenal kayak Masé ya baru Masé doang. Dan mati di sini? Secanggih-canggihnya gue, gue belum tau lah daur hidup gue ampe kapan. Jadi, mau mati di sini, di sono, di situ, kayaknya mah nggak masalah selama gue nggak menentukan kapan dan di mana gue mati. Kecuali emang gue yang bisa switch off kapan lifespan gue berenti, baru deh… gue mau mati di meja operasi, siap organ harvest, abis gue ziarah ke tempat-tempat yang ada di video dokumenter arsitekturnya Mbak Titik.

Lalu? Alasan apa lagi yang bikin you hang on too fucking tight to Masé?

He never failed me.

Misalnya?

Ya… sebelum ngapa-ngapain, dia akan kasih gw pro's dan cons's dan dia biarin gue milih. Bahkan ketika pilihan gue salah, he's there, listening and flooding me with silenced I-told-you's. Dia nggak pernah meledak-ledak melakukan apapun. He never matches my energy tiap akan garap sesuatu bareng. He keeps it low. Dia bumper gue kalo gue kejedug-jedug di tengah jalan. Kadang gue suka kesel, berasa gue doang yang hype kalo ngapa-ngapain sementara dia santai kayak di pantai. Tapi ternyata it worked for me all the time, tanpa gue sadar.

And?

Gue nyaman dengan itu. Mungkin karena masing-masing dari kami juga nggak ada tuntutan apapun. Ketemu, sukur. Nggak ketemu, ya udah. Nggak maksa. Gue banyak belajar dari dia tentang ketidakmelekatan, tentang melepas tanpa harus terbebani emotional baggage yang harus digeret-geret kemana-mana, tentang berbagi yang seringkali sebangun dengan coli kemudian ejakulasi. Ya jalan aja, nggak usah melankolor, nggak usah nyolot. Lu tau lah segimananya gue usaha buat ketemu orang baru tapi nggak ngoyo, buat actively involved tanpa harus repot. Gue niru Masé dengan gaya gue. But it always comes down to him. Rasanya gue pengen kabur aja. Pergi ke mana kek kayak yang lu bilang. Buka Google Map, taro cursor di satu wilayah yang bukan Indonesia, dan cari cara gimana bisa ke sana.

Haha! Seriously?  

Ya… belom sampe segitunya sih. Tapi ini sebenernya ekses karena ada beberapa hal yang gue kecewa di orang lain dan selalu Masé comes to the rescue. Lu tau lah starmaker syndrome gue. Berapa kali kan, ada orang yang dengan semena-mena nunjuk gue untuk bantuin bertanggungjawab atas sebagian pencapaian di hidupnya. Kesannya udah serius, udah ngobrol bareng, udah bikin mapping sama strategi. Eeeh… ndilalahnya dia sendiri yang nggak kuat maju. Padahal ya hasil akhirnya bukan buat gue. Wong gue kecepretan duit aja nggak! Atau gue jadi wrong person at the wrong time. Saat orang lagi jatoh dan nggak sengaja gue yang bangunin, gue temenin pas dia recuperate, gue yakinin dia bisa lebih dari sekedar sembuh. Terus orangnya nggak mau. Padahal gue tau dia mampu. Terus gue kecewa karena menganggap orang lain akan sama klotokannya sama gue yang nggak puas cuma di satu titik dengan apa yang gue liat di orang itu, dengan potensi yang gue yakin dia punya. Gue kecewa karena gue expecting too much. Padahal kan gue nggak suka baca kalimat-kalimat motivasinya Mario Teguh. Padahal kan gue selalu mikir pake "don't hope, don't expect, and have fun".

Kali aja ada masa-masa elu lupa. Atau emang elu pengen jadiin itu semacam pilot project, ngebuktiin ke diri lu sendiri kalo lu bisa lho bikin yang kayak gitu.

Mungkin. PR gue juga masih berkutat di situ sih. Masih belum puas kalo belum jadi sesuatu.

Udah?

Belum. Gue masih mau cerita tentang orang-orang bertopeng.

Kamen Rider yang dari Jepang?

Bukan. Orang-orang yang nggak jadi dirinya sendiri.

Lha urusannya apa sama elu?

Soalnya kadang gue percaya. Karena gue pikir orang nggak ada kepentingannya untuk berbohong and make up stories hanya untuk ngobrol ama gue yang suka sotoy, yang nggak keliatan muka, yang masih limited sama layar atau bahkan terhambat batas 140 karakter.

Sekali lagi gue tanya: terus urusannya apa sama elu?

Gue sering kaget aja hari gini masih nemu orang kayak gitu.

Mungkin mereka nggak puas dengan pencapaian mereka tapi nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Mungkin mereka perlu pelarian dari keseharian, dari hidup, dari kekecewaan-kekecewaan yang nggak mampu dihadapi, dari diri mereka sendiri...

Tapi bukankah itu pathetic jadinya?

You're not standing in their shoes, missy.

Rasanya gue pengen kayak mbak-mbak bule chasers yang ketemu di tempat Lea kemaren aja…

Yakin? Maintenance-nya mehel, lho. Mesti jaga badan, toket, perut, rambut, kulit. Belom perawatan memek. Emang bakal betah lu di salon? Potong rambut yang ga sampe setengah jam aja bawaannya udah pengen pulang gara-gara mbak kapsternya bilang lu tambah gendut. Belom kalo kena penyakit seksual atau sekalian HIV. And you've got to buy your own booze! Emang bakal punya duit buat begitu-begituan? Lagian, semua yang gue sebutin itu takes time, effort and energy banget. Lu nggak bakal punya daya lagi untuk nulis-nulis dan garap personal project lu suka-suka. Nggak bisa tidur sembarang jam lu ngantuk. Harus tahan dugem. Harus pasang senyum palsu biar selalu menarik. Dan harus berupaya keras ngikutin selera si bule biar dia mau tidur ama elu dan elu bisa porotin duitnya. Emang bisa lu tega sama diri sendiri sampe ke titik itu?

Hehe… Tapi sepertinya hidup mereka lebih sederhana. Lebih membahagiakan. Pusingnya paling kalo salah satu dari bule-bule pacar mereka selingkuh. Oxymoron ya? Salah-satu-dari-bule-bule-pacar-mereka-selingkuh. Haha! 

Again, missy. You're not standing in their shoes.

I know. You need not to remind me that.

Ya udah, nggak usah macem-macem. Makes the best of what you have. Titik.

I will.

So?

Oh, well… just carry on. Nothing to see here.

Shall we?



Labels:

In Caffeine We Trust!

Posted by The Bitch on 12/27/2012 09:09:00 PM

Once upon a loaded Ulee Karaeng, fresh from Aceh. Oh, how I love Indonesia...

Three things that I want to be strong and durable: my man (when I have one), my booze, and my coffee.

Entah kapan saya mulai suka kopi. Sejak Mbak Bule klien saya dari Belanda memperkenalkan cara menyiapkan kopi dengan direbus, saya mulai maniak kopi hitam tanpa gula. Rasanya menyegarkan. Beneran deh. Tapi saya nggak percaya bahwa kafein penyebabnya. Karena campuran satu mug air mendidih dan dua sendok makan kopi yang saya aduk sampai rata itu sering saya sruput panas-panas sampai ujung lidah menghitam. ITU yang bikin segar.

Saya sempat berpikir bahwa nutrisi saya sehari-hari dicukupkan dengan bergelas-gelas kopi pahit-hitam-panas-mengepul dan rokok. Lupakan lotek, lupakan mie ayam dan gado-gado. Saya bisa hidup tanpa mereka namun melemah tanpa cairan pekat berkafein. Sampai ketika saya bekerja di pabrik topeng nan santai dengan celana pendek dan kaos oblong mengharuskan saya melek seharian dan berkejaran dengan tenggat. Suatu hari yang apes saya sadar sudah dua belas kali saya bolak-balik ke pantry untuk menyeduh kopi dan membuat toilet juga beraroma kopi setiap saya habis pipis. 

Man... that was verrrrrry wrong. 

Tapi saya bangga dengan kopi Indonesia. Lupakan espresso bikinan orang-orang Italia yang memampatkan saripati kafein dalam secangkir imut cairan pekat-pahit sempurna, menyerap semua rasa manis berkilo-kilo gula dengan formulasi e = 1 seperti Dementor menghisap kebahagiaan manusia di seluruh dunia. Bentang alam Indonesia dengan ketinggian bervariasi membuat aroma kopi juga bermacam-macam. Nggak usah jauh-jauh. Ambil contoh kopi Aceh. Dengan komposisi yang sama, cara merebus yang sama dan hasil yang sama, jika hidung dan pencecapmu mampu, kamu bisa rasakan perbedaan antara aroma Gayo dan Ulee Karaeng. Aroma Gayo lebih "primitif" sementara rasa Ulee Karaeng lebih tebal. Geser jempolmu sedikit dari Google Map, coba bedakan antara kopi dari Banyuwangi dan Toraja, akan kamu dapati kegetiran lebih tebal pada Kopi Banyuwangi. Sudah coba Kopi Sorong? Hati-hati buat yang berjantung lemah. Sesendok makan kopi ini, sekalipun direbus sempurna, masih membuat saya deg-degan nggak karuan, macam lagi ngobrol sama cowok ganteng-pintar-unyu-cakeup yang saya cuma bisa bengong sambil keringetan. 

Apalagi? Vietnam drip dengan kopi asli Vietnam? HUAHAHAHA! Kopi palsuuu! Apa-apaan itu, kopi kok rasanya kecoklatan?! Kalau mau merasakan sensasi ngopi cara Aceh asli di Jakarta yang penyajiannya mirip Teh Tarik, datang ke Jambo Kupi dekat Pasar Minggu. Bapak peracik kopinya menatap saya bangga waktu saya pesan kopi gelas besar tanpa gula. Dia bilang, "Adek ini penikmat kopi sejati rupanya. Harusnya memang begitu menikmati kopi." Dan saya cuma nyengir.

Dan Kopi Arab? Waduh... Meskipun syahdan menurut konon--yang saya lupa baca di mana--orang Arab lah yang membawa kopi ke Indonesia dan menyebutnya dengan kahwa, mereka mencampurnya dengan rempah dan rasanya kentang. Kena-tanggung. Semacam udah berkonde tapi nggak kondangan. Oke, salah terminologi. Berkonde-nggak-kondangan itu untuk menyebut mabuk alkohol yang kentang. Lha wong rasanya sama kok. Tau kan? Semacam baru masuk ujungnya dan tiba-tiba pintu kamar digedor Ibu Kos. 

Oke, saya ngelantur lagi.              

Saya cuma mau bilang bahwa Indonesia, negara gemah-ripah-loh-jinawi ini, yang bisa tanam kayu jadi tanaman--menurut survey Koes Ploes di zaman kuda gigit kuda--dan sumber-sumber mata airnya nan kaya memaslahatkan kehidupan desa sudah dikangkangi perusahaan air minum kemasan dari Perancis semacam Danone dengan Aqua, yang penduduknya ramah dan terbuka dan membuat Nusantara digerogoti perusahaan Belanda pencari rempah dan kekayaan demi memenangkan perang selama tiga ratus lima puluh tahun, yang rakyatnya gampang diprovokasi oleh isyu agama karena malas cari tahu, yang mau dijelek-jelekkan sebagaimanapun tetap juga saya bela sampai titik darah dan jigong penghabisan, adalah produsen kopi dengan aroma paling kaya, paling beragam, paling enak sejagad-raya. Lupakan Starfucks yang rasa kopinya berteriak "GENGSI! PRESTISE! GAYA!" Bandingkan dengan Kopi Aroma di Jalan Banceuy no. 61, Bandung, dengan Pak Widjaja yang--jika kamu beruntung mendapati dia sedang ada di situ--akan mengantarmu keliling pabrik dan bercerita penuh semangat tentang usaha nenek moyangnya, tentang sepeda pertama pengangkut karung-karung kopi yang bertengger di dinding, tentang gerumbul-gerumbul kopi harum setelah disangrai. Lupakan Kopi Amerika Latin dan Afrika. Meskipun nasib petaninya seragam--dibayar murah demi keuntungan kapitalis pabrik kopi kemasan--namun kita boleh bangga karena kopi-kopi terbaik Indonesia justru nggak sanggup kita beli. Kemasan ukuran 100 gram itu diekspor ke Jepang, Eropa dan Cina dengan harga gila-gilaan. Lupakan kopi-kopi sachet cupu bikinan Nestle, karena Liong Bulan bikinan Depok punya efek lebih gahar. Tapi jangan lupa jaga kesehatan. Untuk segelas kopi, sertakan dengan minum dua gelas air. Kasihan ginjalmu. Jangan siksa dia lebih jauh. 

Jadi? Silakan eksplorasi kopimu, kenali negaramu. Because In Caffeine We Trust!



Ps. oh, saya belum cerita kan filosofi nongkrong di warung kopi? Atau filosofi Tuhan Kopi? Kapan-kapan ya...        

    

Labels:

Autopitografi

Posted by The Bitch on 12/16/2012 03:46:00 AM

Gambar dicomot dari sini.


Gue suka ngetawain kepinteran orang-orang karena gue lebih pinter!
- Joni Tengik

Kemarin saya ulang tahun. Yang keberapanya, nggak usah tahu lah. Nggak penting. Satu hal yang pasti, saya sudah 3X dimana X adalah bilangan yang saya, keluarga, petugas kelurahan, dan teman saya yang kerja di kantor pajak saja yang tahu.

Apakah saya senang? Nggak. Biasa saja. Nggak ada yang berubah kecuali stempel tak kasat mata yang dicapkan di jidat tentang berbagai tuntutan yang sebenarnya bukan demi kemaslahatan saya. Nggak ada yang berubah kecuali lifespan saya yang memendek setahun (padahal tiap hari juga tambah pendek tapi nggak berasa aja). Nggak ada yang berubah kecuali kebetulan hari itu saya ada di rumah dan semua orang riuh mengerubuti saya untuk memeluk dan menciumi pipi. Nggak ada yang berubah. Bahkan mandi pun saya masih malas. Status juga masih jomblo (kecuali beberapa hari sebelumnya dan berakhir gagal punya pacar karena masnya insecure). Bahkan invoice pun belum cair. Oke, yang terakhir ini curcol. Sengaja, biar dibaca Mas Bos.

Kemarin saya ulang tahun. Saya, yang nggak punya prestasi apapun yang bisa dibanggakan ibu saya ke tetangga kami kecuali jadi anak pertama yang jarang pulang, kadang masih nodong beliau karena sering nggak punya uang. Saya, yang sering bingung menjawab setiap ada yang bertanya “Kerja di mana?” Saya, yang hanya bisa kasih cengiran ketika bertemu guru SMA yang bertanya “Anakmu sudah berapa?” Saya, yang lebih peka terhadap suara anjing menyalak riang ketimbang kelebatan mas-mas ganteng.

Tapi saya senang karena beberapa orang masih mau rempong bantuin saya belajar bareng di sini. Saya juga senang karena tulisan saya di blog abal-abal ini dibaca orang. Dan saya juga senang karena ada orang yang kembali menemukan amunisi hanya karena saya suka baca tulisannya. Meskipun agak bikin saya garuk-garuk kepala, saya senang ada orang yang meminta saya menulis untuk website-nya, meskipun pro bono.

Kemarin saya ulang tahun. Nggak ada yang kasih kado karena tanggal lahir saya nggak ketahuan seperti jodoh saya. Tapi tumben sekali saya banyak dapat ucapan selamat. Salahkan social media yang update penggunanya seringkali setelanjang para bintang porno. Saya senang diberi ucapan selamat. Ini juga tumben banget. Biasanya saya nggak pernah mau diselamati. Biasanya saya offgrid, jalan ke mana kek yang nggak ada sinyal. Atau mematikan semua perangkat komunikasi seharian. Meskipun saya tidur dan keleleran di rumah karena nggak bisa minggat, saya masih bisa senyum melihat pesan dari teman-teman saya yang mampir di ponsel. Tapi saya berani bilang bahwa hari itu saya dapat hadiah terindah yang justru bukan untuk saya: keyakinan bahwa masih banyak manusia baik yang mau menolong manusia lain tanpa memandang siapa. Lupakan sejenak Connecticut dan Cina tempat orang gila menembaki kanak-kanak. Hari itu saya lega usaha gigih seorang teman mempertahankan kenangan terhadap satu-satunya keluarga bersambut bantuan dari teman saya yang lain yang mereka bahkan nggak saling kenal.

Dan saya identik dengan kutipan Si Joni di atas.

Saya menertawakan orang-orang yang patuh pada garis hidup, berjalan di rel lurus dan berhenti di stasiun-stasiun yang telah ditetapkan. Lahir, sekolah, cari duit, cari pasangan, beranak-pinak, hanya untuk mati. Siapa yang menetapkan, saya juga nggak tahu. Mungkin kesepakatan tak tertulis, mungkin tuntutan sebagai mahluk hidup yang bersosial dan berakal pikiran, termodifikasi secara geografis dan budaya. Mungkin.

Atau mungkin ini saya aja yang sirik nggak bisa selempeng itu. Makanya saya cari penghiburan dengan menganggap diri saya lebih baik dan bisa mentertawai mereka. Kalau di tulisan bak truk jadi semacam “Ayu Adine” demi menutupi hasrat tak tersampaikan pada kakaknya.

Saya menertawakan orang-orang yang nggak nyaman jadi dirinya sendiri, yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Takut dianggap jelek, takut dianggap bodoh, takut nggak dianggap. Lha terus kenapa kalo elu jelek, bodoh dan nggak pantes dianggap? Itu masalahnya, bukan masalah elu. Begitu saya bilang pada diri sendiri, berkali-kali. Sayangnya saya nggak bisa ketawa ketika melakukan itu. Dan biasanya kejadian itu berulang ketika saya sedang berada di titik terendah, berhari-hari nggak mandi dan nggak kemasukan nutrisi apapun kecuali kopi hitam tanpa gula dan rokok, kembali menembok benteng pertahanan virtual saya lebih tebal dan lebih tinggi.

Saya menertawakan orang-orang, menertawakan duka, menertawakan nasib, menertawakan keapesan, menertawakan gontok-gontokan, menertawakan rebutan lahan, menertawakan kematian…

Menertawakan hidup.

Karena kemarin saya ulang tahun.  Selamat mati nanti!




Labels:

Fairness My Ass!

Posted by The Bitch on 12/12/2012 06:26:00 PM

Gambar dari sampul band Bleeding to the Truth


“When angry, count four. When very angry, swear.”
Mark Twain


Eh, eh. Saya mau ngomyang.

Ibu saya punya tetangga yang suka sekali belanja dan selalu cerita beli apa aja. Kalau masuk bagian dapurnya, kamu akan merasa berada di pasar swalayan super besar yang namanya suka ada hyper-hypernya itu. Tapi suatu hari tetangga yang suaminya suka dicatut jadi supir si tetangga hyper itu wadul ke ibu saya. Katanya kalau ngasih kerjaan suka nggak kira-kira. Jam 12 malam udah gedor-gedor pintu minta antar ke rumah sakit sampai jam 3 cuma dikasih dua puluh ribu. Oh, tetangga yang supir ini jobless sih. Dan istrinya cuma dagang es plastik di SD negeri.

Terus tetangga saya yang lain suka sekali buang-buang makanan. Padahal tiga rumah dari rumahnya yang besar itu ada keluarga tukang sayur yang suaminya juga cuma kerja serabutan. Anak mereka tiga, masih kecil-kecil dan cungkring-cungkring kurang makan.

Nah, kalau siang, rumah saya sering jadi tempat istirahat budhe-budhe tukang ikan. Setelah lelah sepagian keliling perumnas, dia akan berhenti di depan halaman rumah lalu masuk dan tiduran di teras. Kadang buka bekal makanan, kadang langsung semaput, kadang langsung ke dapur lewat pintu samping dan ngobrol sama Ibu. Usianya mungkin sudah enampuluhan. Suatu sore berhujanangin dia menyambangi kami. Katanya sudah dua hari ini dia nggak jualan. Modalnya habis. Sedari pagi dia keliling ke rumah-rumah debiturnya, menagih hutang ikan yang dijanjikan para pelanggan seperti yang dijanjikan. Tanpa hasil. Sementara rumahnya dua jam perjalanan dan dia nggak punya ongkos pulang. Hiks… )=

Terus saya punya teman super duper baik sekali yang mengidap leukemia. Dia cantik, sedikit jutek, tapi kalau kamu sudah kenal, saya berani bilang kalau kamu akan merasa ketemu malaikat tanpa sayap. Dia perhatian sekali sama teman-temannya.

Terus dulu tetangga kos saya sering sekali mengeluh paha dan lengannya besar dan hidungnya terlalu nongkrong. Padahal matanya besar dan bagus, bibirnya cemipok, pipinya selalu bersemu merah tanpa perona. Dia wadul seperti itu ke teman saya yang lain yang gendut dan jerawatan.

Terus suatu hari teman saya yang lain cerita kalau dia gastritis dan uangnya tinggal tujuh belas ribu dan gajiannya masih dua minggu lagi. Dia literally sebatangkara. Orangtua adopsi dan adiknya sudah nggak ada semua. Dia cerita itu di jendela google talk sambil cengar-cengir. Udah biasa, katanya. Saya yang saat itu lagi enak-enak makan malam jadi nggak bisa nelan. Padahal menunya dahsyat banget, ayam goreng laos dan sambal Bu Anggi yang terkenal itu.

Ini ceritanya nggak nyambung ya sepertinya. Tapi ada kok benang merahnya: semacam ketidakadilan hidup yang kita nggak bisa ngapa-ngapain. Ini sering bikin saya marah sekali. Terus saya bisanya cuma misuh.

Untuk cerita pertama sih sudah ada penyelesaiannya. Si tetangga itu pindah. Sebelumnya dia kena kasus dengan pihak RW. Sebagai bendahara koperasi ternyata dia nggak amanah.

Cerita kedua juga akhirnya usaha suaminya seret. Lalu si suami stroke. Nggak, saya nggak mau bersyukur terhadap penderitaan orang lain. Tapi setidaknya the bright side-nya adalah mereka jadi berhitung sekali masalah masak. Jadi, nggak ada lagi episode buang-buang makanan. Dan tukang sayur itu masih cungkring-cungkring anaknya.

Budhe tukang ikan? Well, keluarga kami berkecukupan. Tapi cuma cukup untuk kami. Titik. Maka, yang bisa ibu saya lakukan saat itu hanya memberinya ongkos pulang dan membekali beliau dengan makanan lebih hasil ngatering.

Mbak cantik pengeluh juga akhirnya misah sama saya. Dia akhirnya punya pacar yang suka menginap sementara di kos kami tamu lelaki hanya boleh sampai beranda. Lalu teman saya yang gastritis sepertinya sedang menjajal sampai sejauh mana tubuhnya bisa bertahan terhadap kondisi tanpa makanan beberapa hari. Semoga kami masih sempat bertemu sebelum organ-organ dalamnya menyerah kalah.

Nah, yang mbak-mbak leukemia ini yang sebenarnya bikin saya pengen teriak. Saya merasa semesta memperlakukannya jahat sekali. Untuk anak sebaik dia nggak semestinya punya penyakit seberat itu. Dia, yang semua tindak dan prilakunya sesuai dengan Pancasila, Dasa Dharma dan Tri Satya, yang selalu dapat nilai A dalam Kewarganegaraan, yang nggak pernah menaikkan suara, nggak pernah nagih juga kalau saya ngutang, kok ya lega-lila menerima semua tanpa sedikitpun mengeluh pada pemilik hidup yang masih diyakininya sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ya saya picik sih. Saya mending berpaling ke arah lain dan tutup mata pada hal-hal yang memang nggak bisa saya koreksi. Lalu saya bisa apa? Ya ngomyang doang sih kayak gini.

Udah ah. Lebih baik saya mandi. NOT!



Labels:

Sing!

Posted by The Bitch on 12/05/2012 06:27:00 PM


Sing with your head up, with your eyes closed. Not because you love the song, [but] because you love to sing

- Copeland, You Love to Sing

Suka nyanyi? Saya suka. Apalagi di kamar mandi pas orang-orang nggak ada di rumah. Saya bisa konser sealbum tuh. Mandinya sih cepet, paling lima sampai sepuluh menit. Tapi kalau saya sedang hype pengen nyanyi ya dilama-lamain. Karena sensasi nyanyi di rumah keong semacam Opera House memang cuma bisa didapat di kamar mandi, tempat bergema yang memperbagus suara saya.  

Tapi sejarah nyanyi saya nggak bagus-bagus banget sih. Kelas satu SD sempat ngendon di Bina Vokalia ikut children’s choir. Kemudian naik pangkat jadi solis, konser di acara tujuhbelasan atau event bertema anak-anak. Cuma setahun karena bosan. SMP (atau kelas 1 SMA ya? Saya lupa) sempat ikutan festival Log Zhelebour bareng band-band-an komplek perumahan. Bawain satu lagu doang, Green Tinted Sixties’ Mine-nya Mr. BIG. Jadi vokalis perempuan sendiri dan paling kecil sendiri, plus paling cupu diantara deretan grup band cowok-cowok gondrong dan keren-keren. Lalu lepas SMA saya jadi pendiam, malas ikut band-band-an lagi karena sudah mulai serius menjalani hidup. Percaya saya serius? Hah! 

Tapi saya nggak lupa rasanya demam panggung sebelum tampil dan merinding disko melihat penonton. Saya ingat betul bagaimana ndredheg-nya saya bernyanyi Bunga Nusa Indah dengan iringan piano almarhum Pranadjaja (yang waktu itu masih segar-bugar), sendirian, ketika rombongan kami sowan ke sana. Atau ketika gerombolan mas-mas gondrong di bawah panggung lonjak-lonjak ikutan suara saya dan cabikan gitar Mas Agung. It was… AWE-FUCKING-SOME! 

Saya nggak ngoyo ngejar karir di bidang musik-musikan. Toh saya tahu diri kemampuan saya nggak bagus-bagus banget. Nyanyi-nyanyian pun saya lakukan karena saya suka, bukan karena saya mau ngejar merinding disko tampil di depan penonton. Makanya saya salut berat sama orang-orang yang kaffah di bidang ini. 

Kru Bakmi Roxy yang rajin bekerja

Lalu suatu malam saya kangen makan yamin enak di jalan Radiodalam. Bakmi Roxy. Dari arah Blok M ke Pondok Indah, gerobaknya bisa kamu temukan di sebelah kanan jalan, di pelataran Pet Groove—salon guguk langganannya Topaz, husky tetangga—di seberangnya ada Apotik K 24 dan showroom Rhys Autoshow (yang tiap minggu majang Hummer gonta-ganti warnanya. Babik!). Kalau saya galau dan keuangan sedang normal biasanya saya ke sini. Saya lumayan kenal baik dengan kru-nya karena gerobak mereka pernah dititip di halaman kos saya yang seluas lapangan bola dan penuh tanaman. 

Basa-basi ngobrol sebentar, saya lalu duduk manis menunggu pesanan. Seperti biasa, ada band akustik mini yang nongkrong di depan rolling door Pet Groove menghadap orang-orang yang sedang makan malam. Biasanya saya nggak terlalu merhatiin karena regular yang tampil di situ solo show pengamen bermuka jutek yang lagunya juga nggak enak dan selalu melengos di depan saya. Tapi kali ini beda. Ada tiga mas-mas lumayan unyu. Dua bergitar dan satu lagi menduduki bangku tabok yang berfungsi sebagai drum pengawal tempo (belakangan saya baru tahu namanya cajoon. Hihi). Satu hal yang membuat saya akhirnya harus mengangkat kepala dari yamin lezat mengepul adalah… mereka bawain lagu-lagu britpop! Dan suaranyaaa! Mereka bermain seperti tidak ada orang yang melihat. Mereka bermain karena suka bermusik, suka bernyanyi. Saya yakin mas-mas itu bukan pengamen sembarangan, dilihat dari pilihan lagu-lagu dan pembawaan mereka. Dua gitaris itu memiliki vokal mantap dengan vibrasi enak nggak lebay. Lengkingannya juga bersih, jernih, dan “laki” banget. Thom Yorke nggak bakal berjengit aneh deh dengerin mereka bawa High and Dry-nya. Serius! 

Tahu peribahasa “curiosity kills a cat”? Nah, curiosity itu yang membawa saya ngobrol dengan mas-mas-lumayan-unyu tersebut. Benar dugaan saya. Mereka biasa ngisi di salah satu kafe di Kemang atau untuk ngerame-ramein acara semacam launching webstore. Kalau mereka lagi lowong, baru mereka main di Bakmi Roxy itu. Oh, nama band-nya adalah Second Soul. 

Kiri ke kanan: Muan, Chris dan Tedy. See? Lumayan unyu kan?!

Chris yang pegang melodi dan Muan di bangku tabok ternyata punya latarbelakang hardcore. Sementara Tedy di rhythm sering membawakan punk. Tedy dan Chris juga ternyata teman masa kecil dan kembali bertemu ketika mereka sekampus di BSI. Jadilah, mereka cari duit bikin band karena Tedy kadung jatuh cinta dengan Britpop dan teman-temannya setuju. 

Tahu nggak yang lebih menyenangkan ngobrol sama mereka? Chris, Tedy dan Muan ini low profile sekali! Obrolan kami seru, penuh cekikikan. Lalu sambil malu-malu, Tedy si kriwil cerita bahwa band mereka sudah sempat dibikinkan profile-nya dan tayang di salah satu TV swasta nasional! Gokil kan?! Awalnya karena ada pelanggan Bakmi yang suka sama penampilan mereka, yang ternyata adalah produser acara itu. Jadi lah mereka dibuntuti kamera beberapa minggu kemudian. 

Nggak cuma itu. Ternyata saya bukan orang pertama yang ngobrol karena tertarik dengan penampilan mereka. Meskipun saya nggak tahu jumlah persisnya berapa, tapi mereka memang lumayan punya penggemar. Di beberapa kali kesempatan mereka beristirahat, Tedy dan Chris membalas BBM maupun SMS dari fans. 

Dua minggu setelah saya ngobrol, suatu malam ada pesan pendek dari Chris yang minta tolong dicarikan bassist. Mereka kepingin serius ternyata, dan bassist yang dicari harus mau diajak susah dulu untuk merintis jalan ke kengetopan. 

Dan saya juga senang karena beberapa kali mas-mas kru Bakmi Roxy ini bersenandung lagu-lagu yang sedang dibawakan Second Soul sambil mengelap meja atau mengantarkan pesanan pelanggan. Ambience makan menyenangkan “dapet” banget di sini. Dan menurut artikel yang saya baca di sini, ternyata mendengarkan musik bagus itu meningkatkan kadar dopamin di otak. Apa tuh dopamin? Itu adalah semacam neurotransmitter yang membantu mengontrol pusat kesenangan dan kepuasan. Zat ini juga membantu mengatur tindakan dan tanggapan emosional yang membuat kita merespon dan mengambil tindakan terhadap penghargaan. Pokoknya penting banget deh. Dan bayangkan. Musik bagus, makanan enak, dopamin berkuasa. Jangan heran kalau selama Second Soul main omzet Bakmi Roxy meningkat! 

Yamin yang enak sekali itu. Gambar dari sini. Males motret, keburu ludes kelaperan

Tertarik dengan Second Soul dan mau mereka main di event kalian? Silakan kontak Chris yang merangkap jadi manager di 021 9128 6201. Serius, nggak bakalan rugi liat penampilan mereka yang suka bermusik. 

Hey, Second Soul. Jangan berubah untuk selalu ramah! Kudos!



Ps. Bukan posting berbayar.




Labels:

For Better and for Worse...

Posted by The Bitch on 12/03/2012 10:16:00 PM

Gambar diambil dari sini.

A wedding is a funeral where you smell your own flower.
- Eddie Cantor  


Satu hal yang kalau bisa saya nggak usah ngomongin (apalagi ngejalanin), adalah pernikahan. Tapi entah kenapa sepertinya dunia dan seisinya membenci perempuan yang (hampir) memasuki kepala tiga dan nyaman-nyaman saja sendirian tanpa pasangan. Karena itulah diciptakan Budhe, Pakdhe, Om, Tante, Tetangga, Kenalan, Tukang Taksi, dan Mamang Mie Ayam usil untuk mengingatkan para lajang agar berhenti bersenang-senang dan mengikuti jejak langkah martir mereka menuju kekangan penderitaan.  

Iya. Saya memang selalu berpikir sebegitu negatifnya tentang pernikahan. Ya… gimana ya? Saya nggak bisa bayangin betapa membosankannya tiap bangun dan mau tidur selalu liat muka yang itu-itu saja di sebelahnya. Jangan salah. Teman tidur saya banyak. Kadang guling, kadang bantal, kadang cushion dan kadang adik saya. Sesekali anjing. Yang beneran anjing, berkaki empat. Bukan “anjing” berkaki dua. Itu saja sering bosan. Apalagi kalau cuma itu-itu saja. Argh! 

Lalu masalah kompromi. 

Ada beberapa hal sepele yang saya nggak bisa terima. Misalnya mencet tabung pasta gigi dari tengah. Atau lupa mematikan keran air dan lampu kamar mandi. Atau gelantungan jins dan kemeja di kapstok. Atau lupa menjemur handuk lembab sehabis dipakai. Serius, saya bisa senewen. Dan saya nggak mau ketambahan variabel remeh semacam itu untuk memperpanjang daftar kesenewenan sehari-hari yang diakibatkan oleh supir Metromini pemabuk ugal-ugalan dan tukang bajay yang sembarangan ngasih kembalian.  

Belum lagi kalau misalnya ternyata pasangan saya masih oldskool, menganggap lelaki terlalu mulia mengerjakan tugas domestik dan ogah manjat atap karena rela menunggu tukang yang akan dia bayar. Gimana ya? Saya manusia pelit yang berlindung dibalik paham swadaya. Sebisa mungkin, kalau saya bisa, saya akan lakukan sendiri. Nggak usah keluar uang untuk bayar orang. 

Belum lagi masalah keyakinan. Man… Seringkali orang batal nikah karena beda keyakinan. Misalnya, yang perempuan yakin mau kawin sementara yang laki-laki nggak. Parahnya, kalau ternyata perbedaan keyakinan itu baru kelihatan ketika mereka telah menikah. Yang perempuan yakin dunianya akan bersemu merah jambu tiap waktu, sementara pasangannya mikir, “njis, ini macem gue ngekos, bayar orang buat laundry dan bersih-bersih, bebas ngéwé, tapi bayarnya kemahalan dan nggak bisa sembarangan pindah.” Yang perempuan yakin pasangannya bisa jadi imam sholat yang baik, sementara yang lelaki yakin dia menikahi perawan. Yang perempuan yakin Tuhan itu ilusi, sementara lelakinya yakin Tuhan Maha Kuasa. 

Tapi itu kan dari otak picik saya, jomblo menahun yang ketakutan disuruh-suruh berpasangan. Untuk yang sudah menemukan tambatan jiwa dan belahan nyawa mungkin ya nggak gitu mikirnya.  

Suatu hari saya pernah “dibantai” sama abang ganteng gila Beatles yang—betapa mengecewakannya—anaknya sudah dua. Dia cerita betapa jobless tidak menghentikan rencananya untuk menikahi pacar yang sudah dikenalnya lama. Betapa tekad—bukan nekad—mengalahkan segala akal sehat. Tapi visi mereka sama: hidup bersama. Itu saja. 

Namun kesederhanaan visi tidak lantas mengejewantahkan praktek kebersamaan itu secara sederhana. Katanya, setiap tahun akan selalu ada kejenuhan sampai di titik masing-masing akan berpikiran “cerai aja kali ya…” Iya, penyesuaiannya nggak sebentar. Selama empat tahun—and counting—ada berbagai hal-hal asing yang ternyata mereka baru tahu setelah tinggal serumah. Mendengarnya, saya berhasil bengong. Bayangkan. Pacar yang dulunya kita puja sebagai mahluk terindah ternyata tidurnya ngorok dan kalau ngiler bisa sebantal basahnya, misalnya. Terus, udah dapet pasangan apes kayak gitu, karena udah dinikah, ya nggak mungkin juga kan mak bedunduk ujug-ujug minta cerai. 

Tapi sih saya yakin ada beberapa kesamaan yang akan memudahkan semuanya. Misalnya, sama-sama suka traveling, suka fotografi, suka nanam-nanam. Buat saya pribadi sih akan menyenangkan melakukan satu hal bersama, berpasangan atau tidak. dari cara saja kita bisa ngintip lho ketahanan seseorang melakukan hal berulang. Mulai dari ngepak, bersihin alat, nyiangin tanah. Apalagi sama pasangan. Kan romantis tuh, nanem bibit tomat bareng terus ada-adain alasan, “Ay, muka kamu ada cacingnya tuh…” Terus pura-pura jijik sambil ngambil, padahal ngebelepotin muka pake tanah. Terus lempar-lemparan. Terus kejar-kejaran. Kalau sudah tertangkap terus dipeluk. Terus cipokan. Terus… 

Owkey. Sudah terlalu ngelantur. Daripada berlanjut sampai masing-masing menggelinjang, lebih baik percaya sama saya: buat yang kuat sendirian, nggak ada salahnya melajang. Bagi yang sudah punya pasangan, mending buruan dilamar. Saya nggak menjanjikan dunia kalian akan lebih baik. Tapi sepertinya menarik hidup bareng orang yang kita sayang. Come what may, nggak usah kebanyakan mikir. Hajar aja. 

Dan berjuta good luck saya kirimkan ke kalian yang percaya dua frase terakhir di paragraf teratas. Hihi.

Dedicated to Firman the Kakilangit. Ini semacam kado pernikahan. Selamat berbagi setiap hari!




Labels: