"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

W O R D S

Posted by The Bitch on 10/28/2012 06:35:00 AM

Gambar diambil dari sini.

Kenal Lolo Ferrari? Dia mendiang, pemilik nenen terbesar di dunia menurut Guinness Book of World Records versi Perancis. Tumbuh sebagai gadis cerdas dan cantik ternyata tidak membuat hidupnya berhasil, apalagi bahagia. Ibunya punya mulut yang jahat sekali.

Lolo kecil yang manis sedari kecil selalu "dituduh" sebagai bocah bodoh dan jelek, yang nanti hanya akan berguna sebagai tukang mengosongkan pispot. Saya membayangkan menjadi Lolo (bahasa slang Perancis untuk menyebut payudara), menatap citra diri sebagai anak lusuh dan menyakitkan dipandang mata, tidak berguna, dan jadi beban hanya karena IBUNYA YANG BILANG BEGITU.

Saya juga membayangkan menjadi sang ibu. Memiliki suami yang tingkat chauvinisnya kebangetan, terang-terangan selingkuh di depan mata sementara dirinya harus repot mengasuh empat anak sendirian tanpa bisa berbuat apa-apa. Walhasil, dengan ketidakberdayaan seperti itu, hanya anak-anaklah tempatnya melampiaskan kekecewaan. Anak. Disiksa. Secara. Verbal.

Saya nggak menyalahkan siapa-siapa. Toh jika saya menuding pun, nasi sudah lama menjadi bubur membasi. Lolo meninggal 5 Maret 2000 di usia 37, overdosis obat anti-depresi dan penenang dosis tinggi. Seumur hidupnya dia telah menjalani dua puluh lima kali operasi plastik yang secara harfiah mengubah penampilannya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Berat masing-masing payudaranya 2,8 kg, berisi tiga liter larutan garam yang harus ditunjang dengan penyangga khusus. Semua hanya yang dilihatnya adalah citra diri yang jelek, tidak klik di kalangan manapun, dan merasa lebih rendah daripada orang lain. KARENA IBUNYA YANG BILANG BEGITU.

Saya hilang kata-kata ketika mengenang Lolo kembali. Betapa kata adalah senjata, untuk menyerang maupun bertahan. Dan ini tidak hanya antara ibu pada anak, tapi juga suami pada istri, kakak pada adik, pembeli pada tukang sampah, kondektur Metromini pada penumpang, supir pada mamang bubur ayam, pemilik mobil pada Pak Satpam, antar follower twitter, tetangga di SIMS Social... 

Jadi, pikir baik-baik sebelum mengucap, sebelum memaki, sebelum ngetwit, sebelum update status Facebook, sebelum menghakimi.

Karena hidup adalah kesunyian masing-masing yang kita tak berhak riuh kecuali jika hidup di dalam gelembungnya...


Labels: ,

Kurban, Anyone?

Posted by The Bitch on 10/27/2012 07:23:00 AM

Gambar diambil dari sini.

Semua ini gara-gara ada anak yang terlalu nakal sampai bapaknya ingin menyembelih…
- Kakek Botak Penggerutu yang keberisikan akibat TOA masjid bertakbir keras-keras tanpa henti

Halo! Sudah habis berapa tusuk sate kambing dan berapa mangkuk gulai sapi? Sudah cek kadar kolestrol? Atau sudah terlanjur pusing di bagian belakang kepala dan tepar nggak bisa ngapa-ngapain?

Kalau belum, mari saya bikin pusing sedikit.

Jadi ini sebenarnya kegelisahan saya setiap Idul Adha menjelang. Saya terganggu dengan tontonan brutal di lapangan-lapangan masjid berupa penyembelihan hewan kurban. Waktu saya kecil dulu saya pernah disuruh—entah Budhe atau Pakdhe, saya lupa—ikutan nonton juga. Walhasil saya nggak berani tidur malamnya karena masih terbayang mata—yang menurut saya—sedih para embek dan sapi yang menanti ajal di pisau jagal. Atas nama simbol bagi ritual agama.

Kemarin sembari takbir berkumandang di masjid dekat rumah Bu Anggi saya lihat ada salah seorang yang punya kegelisahan sama di "lapak sebelah". Menurut data dari berita, tahun 90-an banyak sekali daging kurban yang harus dikubur saking melimpahnya, di Arab sendiri dan di Indonesia. Dan lewat jejaring media sosial saya sempat lemparkan pertanyaan: bisa nggak sih ritual kurban diganti dengan hal yang lebih membawa manfaat bagi fakir miskin dan mereka yang nggak mampu? Seperti bagi sembako atau membuat instalasi air bersih, misalnya.

Untuk kasus hewan kurban melimpah sampai harus terbuang-buang, kita sudah ada solusinya: daging kalengan. Lembaga-lembaga semacam Dompet Duafa yang pintar sekali mencari peluang itu bahkan membina peternakan kambing dan sapi di desa-desa yang nantinya akan disodorkan ke calon pengkurban (saya nggak tahu istilah bahasa Indonesianya untuk orang yang berkurban). Badan amil ini membuat daftar jenis hewan dan spesifikasinya untuk dipilih dan disalurkan ke mereka yang berhak. Semua dilakukan tanpa harus rempong pilah-pilih embek di kandang bau dan becek. Oh, saya bisa ngomong gini akibat salah satu tetangga kamar saya dulu bekerja sebagai marketing di Dompet Duafa dan saya dikasih job nerjemahin beberapa brosurnya.

Terus masalah penggantian embek dengan sesuatu yang lebih membawa kemaslahatan?

Seperti yang saya kutip iseng di awal tulisan, dari sisi saya dan si Kakek Botak Penggerutu, kami yang nakal-nakal ini mengandai bahwa sebenarnya yang terjadi adalah bapak yang kesal karena ulah anak kelewat bengal. Makanya dia menakut-nakuti si anak dengan pura-pura menyembelih. Semacam untuk menimbulkan efek jera sebagaimana Amerika melakukan waterboarding untuk para tersangka teroris. Namun karena yang kita bicarakan adalah Pak Ibrahim, jadilah hal itu dikembangkan menjadi salah satu kisah yang kita nggak bisa konfirmasi kebenarannya. Oke. Saya ngelantur. Silakan azab saya, tapi jangan pedih-pedih.

Tapi gini lhooo…

Saya selalu ingat petuah guru agama saya kelas 6 SD. Waktu itu Bu Rodiah mungkin sedang agak stabil emosinya, tepat sehari sebelum libur Idul Adha. Jadi, saya selalu ingat ucapannya yang satu ini karena tumben sekali nggak nakut-nakutin pake api neraka. Menurut beliau, momen kurban adalah ketika kita menebar kasih sayang pada fakir miskin, memberi kesempatan pada mereka untuk sekali-kali menikmati daging yang biasa dimakan orang-orang yang lebih mampu.

Lalu saya berpikir, dengan banyaknya sumber mata air alami  di desa-desa terpencil yang dikangkangi korporat multinasional—halo, Aqua Danone dan Palyja!—sekarang ini air bersih hanya bisa dinikmati mereka yang berpunya. Nggak usah jauh-jauh lah sampai ke Situ Babakan Pari (yang namanya dulu sering kita baca di label air minum kemasan namun sekarang udah nggak pernah lagi; mungkin karena mata airnya sudah kering kerontang?) Di satu kampung nyempil sebelum Bintaro teman-teman saya sampai harus mengenalkan cara menggunakan toilet agar mereka nggak pergi ke tanah kosong bawa cangkul atau sekop dan bebersih pakai daun setiap ingin berhajat. Itu saking air bersih adalah sesuatu yang langka dan sangat berharga.

"Kegatalan benak" ini terjawab melalui twitter oleh salah seorang "abang" yang santri. Menurutnya, aturan kurban sudah sedemikian fixed sampai jenis binatang, usianya, dan tata cara berkurban sudah terjelaskan secara gamblang. Jadi, memang harus dituruti. Sudah dari sononya begitu, nggak bisa diganggu-gugat. Salah satu teman lain yang mengerti perihal pertanyaan saya berpendapat sama. Jika memang ingin membuat instalasi air bersih sebenarnya sumber dana bisa didapat dari zakat harta, infaq dan sadaqah. Ah! Saya kok baru kepikiran ya? Mungkin hal itu nggak pernah terlintas juga di benak siapapun yang mikirnya tiga sumber dana sosial itu hanya untuk membangun masjid (yang sayangnya selalu sepi kecuali Ramadhan).

Balik lagi ke masalah kurban yang melulu daging…

Ya hari gini gituloh… nyamuk aja udah pada bermutasi, jadi kebal sama obat macam apapun dan masih bebas berkeliaran meskipun kita udah nyemprot racun serangga berliter-liter setiap malam, yang hisapannya bahkan menembus celana jins. Seiring makanan yang berbagai ragam, penyakit juga bermacam-macam jenisnya. Salah satunya alergi. Saya kenal kok beberapa teman yang eksim atau asmanya kambuh atau sakit perut hebat tiap makan daging kambing atau sapi walau sedikit. Sama seperti saya yang mendadak jendul-jendul di sekujur badan tiap perut kena kepiting atau udang. Nah, dengan selalu mengadakan kurban berupa daging, saya kok ya kepikiran sama orang-orang nggak mampu yang juga nggak bisa makan daging itu ya? Jadi, saya kepikiran untuk bikin kurban berupa salad atau bahan gado-gado dan pecel, lengkap dengan bumbunya yang bisa langsung diseduh dan jadi. Lebih sehat dan bermanfaat sih sepertinya, ketimbang daging melulu yang berkolestrol tinggi.

Atau gini:

Tiap masjid yang jadi panitia kurban dan diserahkan amanah menyembelih juga menyediakan paket sembako. Ini bisa ditukar oleh paket daging. Jadi, yang nggak bisa/boleh makan daging bisa aman makan mie instan atau bikin nasi goreng. Pelaksananya bisa diambil dari para anggota Rohis atau bapak/ibu sekitar. Dananya bisa dari kas masjid yang diambil dari sumbangan Jumatan. Nah, paket daging yang ditukar itu bisa dijual lagi ke orang-orang yang kepingin bikin sate di rumah, merayakan hebohnya "Hari Kolestrol Nasional". Uangnya? Masuk ke kas masjid lagi. Semua senang, semua riang! Yay!  

Tapi ya gimana ya… jika usulan ini saya sampaikan ke mereka yang punya wewenang, saya nggak yakin pulangnya masih hidup. Lha wong orang-orang Ahmadi yang mau shalat 'Ied aja nggak boleh sama FPI, masjidnya dirusak dan pemeluknya diintimidasi akan di"Cikeusik"kan. Apalagi sama blantik-blantik modern, pedagang ternak masa kini. Mereka kan banyak menangguk untung dari cerita "anak nakal" itu. Mosok ya mau dikurangi to untungnya gara-gara provokasi cewek yang nggak jelas agamanya apa?!

Tapi serius. Saya memang nyinyir. Saya suka protes di tulisan. Itu karena saya nggak bisa ngerti. Tapi saya nggak cari masalah. Saya cari penyelesaian. Jadi, dengan segala kerendahan hati, saya minta, duhai sidang pembaca (kalau memang ada yang baca), untuk ngajarin saya supaya saya bisa paham. Silakan bantai argumen saya dengan apapun, asal masih bisa saya cerna. Tapi tolong pakai bahasa saya, bukan bahasa langit berupa azab neraka atau semacamnya.

Dan saya rasa meluangkan waktu untuk menerangi jalan pikiran saya yang lemot ini adalah kurban paripurna yang pasti akan diterima seru sekalian alam.

Monggo, saya tunggu pencerahannya di kolom komentar yang tersedia. Saya pasrah…

Oh, hampir lupa. Selamat Idul Adha! (=


 

Labels: ,

About Time, About Life

Posted by The Bitch on 10/25/2012 05:46:00 PM

Life is life, fight for it… 

Sesiangan sampai malam kemarin ada berita hoax tapi manis yang menuduh saya berulangtahun. Saya sih cengar-cengir aja. Itu hoax ulangtahun kelima dalam setahun ini, dan sebagaimana hoax pada umumnya, nggak ada satu pun yang benar.

Saya jadi ingat paket berisi kaos yang saya kirim ke seorang sahabat. Dia bertanya-tanya sendiri karena tumben-tumbenan saya ngasih dia sesuatu. Wong biasanya dia terus kok.

"What was that for?" suaranya terdengar bingung di telepon.

"Consider it a late birthday present. Waaay too late," jawab saya. Ya gimana nggak telat, wong ultahnya Mei tapi saya baru ngasihnya Oktober! Haha!

"But I didn't do birthday anymore since last year," sahutnya. Saya tertawa.

"But why?" tanya saya lebih lanjut.

"I want to freeze the time…"

Jawabannya membuat saya ngakak jaya. Memangnya dia siapa bisa membekukan waktu?

Tapi gara-gara hoax kemarin itu saya seperti dipaksa untuk mikirin waktu. Saya selalu merasa kekurangan, padahal waktu nggak bisa dipegang. Mulai dari kerjaan yang keteteran, bacaan yang nglumbruk nggak kebuka, personal project yang tertunda hampir setahun…

Saya menganggap waktu sebagai musuh dalam selimut, a frenemy, sahabat yang serta-merta bisa menusuk dari belakang ketika saya lengah. Bagaimana tidak? Rasanya baru beberapa jam hari Senin, sekarang sudah Kamis lagi. Besok Jumat, lalu akhir pekan lagi. Besoknya sudah Senin. Begitu terus. Sementara saya sedang melatih kemampuan multitasking, menyelesaikan laporan dengan bermain game atau ngetwit—dan terbukti gagal.

Lalu beberapa hari yang lalu saya nggak sengaja nonton ini…



Itu video tentang Carly, pengidap autis yang "terjebak" dalam tubuh yang nggak bisa dikontrolnya. Dia suka mendadak menjedot-jedotkan kepala, melambai-lambaikan tangan membabi-buta, bergumam "hummmmm" panjang, atau menutupi kedua telinga sambil bergoyang maju-mundur. Setelah bisa cerita, Carly bilang bahwa baginya semua input rangsangan yang tertangkap indera begitu membanjirbandang. Semua prilakunya yang dianggap "gila" oleh orang awam sebenarnya adalah cara tubuhnya mengantisipasi banjir sensorik.

Carly punya keluarga hebat (sebagaimana semua keluarga dengan anak autis berjuang untuk bisa paham). Mereka, anggota keluarga Carly yang lain—termasuk saudara kembarnya—berusaha menjalin komunikasi melalui terapi. Hingga suatu hari, di usia sebelas, Carly mendadak mengetikkan satu kata di komputer "hurt", lalu lagi, "help", lalu lari ke toilet dan muntah. Dari situ mereka akhirnya mengerti Carly dan Carly berusaha mengerti keluarganya.

Saya nggak bisa ngebayangin rasanya jadi Arthur, ayah Carly. Dia menunggu sepuluh tahun untuk bisa ngobrol dengan putrinya sendiri, padahal dia dan istrinya yang mengasuh sejak bayi. Mereka mengulang cara, memperhatikan prilaku dan respon Carly terhadap apapun, namun kadang juga bicara di hadapannya seolah-olah Carly tidak ada di situ, setiap hari, setiap saat. SE. PU. LUH. TA. HUN!!! 87.660 jam!

Tapi waktu itu kan satuan yang dibuat manusia ya? Fosil tulang dinosaurus sendiri mungkin di masa lalunya juga nggak ngerti mereka hidup di zaman apa. Kita yang bikin satuan-satuan itu biar dasar pemahamannya sama, supaya ngobrolnya nyambung. Jadi, teman saya itu juga nggak salah-salah banget punya keinginan "membekukan waktu", membuat dirinya menjadi tetap tiga puluh dua di sepanjang sisa umur. Karena berapapun kita menghitung waktu, yang terjadi diantaranya adalah hidup. Jadi ya, jalani saja.

Nggak penting ya? Memang. In Iife, don't be so serious. No one gets out alive, anyway.


Labels: ,

Oh, Jakarta!

Posted by The Bitch on 10/24/2012 06:05:00 AM

Gambar diambil dari sini.

Ini Jakarta, kata lain untuk Necropolis, tempat bersemayam manusia-manusia tanpa hati dan tanpa kemauan berpikir…

Saya mau cerita tentang beberapa minggu lalu di Pasar Rebo…

Awalnya adalah ajakan "kencan" bapak beranak satu di sudut Bogor. Karena saya buta daerah situ, ya saya ajak "pemandu pribadi" saya yang hampir seumurhidup bermukim di Ciawi. Setiba kami di sana, kami cekikikan seru sekaligus takjub melihat bayi lelaki umur tujuh bulan sedang berenang di kolam plastik.

Nggak berasa sudah malam. Menembus gerimis saya diantar ke Baranangsiang sama Mas Pemandu merangkap ojek. Fuck! Bus AC ke Lebak Bulus atau ke mana pun sudah nggak ada. Walhasil naik yang bukan AC. Sudah jam sembilan lebih, saya agak khawatir. Bukan apa-apa, saya agak-agak parno dengan angkutan publik yang nggak familiar. Udah sering ngalamin mulai dari yang digrépé, diajak ngobrol mesum, sampai dicopet. Tapi sebagai perempuan mandiri (cieee…) ya saya harus berani dong! Lagipula suara Mas Ojek menenangkan saya. "Udah, nggak apa-apa. Masih banyak perempuan pulang kerja jam segini. Kamu aman kok. Duduknya sama mbak-mbak aja," katanya.

Di tengah antah-berantah daerah Cimanggis busnya mogok, sodaraaa! Okelah, akhirnya pindah ke angkot biru dengan lampu temaram sewarna ultra violet.

"Kayaknya turun dari angkot gue bakal kena kanker deh. Berasa duit seratusan diterawang di bank nih…" komentar saya ke Mas Ojek lewat SMS yang beberapa menit sekali mampir di ponsel.

Kemudian… tadaaa! Nyampe dong di terminal Pasar Rebo. Masih gerimis sedikit. Saya langsung bergegas karena bus Bandung jurusan Lebak Bulus sedang berhenti menurunkan penumpang di seberang, pas lampu lalin sedang merah. Biasanya saya sering menyelinap masuk terburu-buru karena entah kenapa orang-orang yang berkumpul di pinggir jalan kelihatan sebal. Tapi dasar apes. Pas saya naik, pas penumpangnya sudah habis. Busnya sudah akan jalan lagi. Dan tas saya ditarik!

Saya yang sudah ada di anak tangga kedua langsung menoleh marah.

"Apaan lo?! Lepas nggak?!"

Bapak bertopi dan berjaket yang menarik tas saya nggak mau kalah.

"Turun! Turun!" teriaknya.

Saya nggak sadar orang-orang sudah ramai berkumpul. Mungkin karena teriakan si bapak. Tapi saya bersikukuh hendak naik, sampai pak supir dengan suara pelan berkata…

"Adek mendingan turun, Dek. Daripada ntar ribut. Itu tukang ojek ngerasa sewanya diambil…"

Bangsat! Saya memaki. Saya hentak tas saya dari tangan bapak sialan itu, lalu turun dengan menahan marah. Pengeeen banget nonjok mukanya. Tapi ya gila aja ngajak ribut tukang ojek yang gerombolannya ada di situ. Cari mati namanya. Diikuti tatapan murka orang-orang di sana, saya menjauh dan menyetop taksi. Sudah agak mereda ketika saya akhirnya membalas SMS terakhir Mas Ojek Baik Hati dengan telepon.

"Monyet nih tukang ojek Pasar Rebo! Mosok gue mau naek bis Lebak Bulus, tas gue ditarik. Disuruh turun pulak sama supirnya! Bangke!"

Lalu saya ceritakan kejadian yang nggak sampai lima menit tapi rasanya lama sekali itu. Dia hanya tertawa.

"Oh, that's "Lampung Style"," katanya.

Lalu Mas Ojek Baik Hati (nggak kayak yang di Pasar Rebo) itu bercerita bahwa di tempat perkebunan keluarganya di Lampung ada peraturan tidak tertulis tentang bagi rejeki. Jika kamu berhenti di pangkalan ojek dan dijemput teman atau keluarga, maka penjemput harus membayar sejumlah uang ke para tukang ojek itu sebagai ganti penumpang yang "direbut".

"That's bullshit!" ujar saya sambil tertawa juga.

"That's reality," sahutnya.

Lalu saya berpikir tentang beberapa kejadian di tempat saya menunggu angkutan umum, ketika beberapa mas-mas dan mbak-mbak berwajah polos dan lugu dengan bawaan kardus dan ransel sarat barang di"sepik" tukang-tukang ojek dan supir-supir taksi nggak jelas dengan kata-kata merdu-merayu dan bumbu ditakut-takuti supaya mau diangkut. Saya yakin lah di terminal dan pemberhentian angkutan hal-hal seperti ini juga banyak sekali ditemui. Di beberapa tempat seperti itu bahkan ada polisinya. Tapi ya saya nggak heran sih kalau nggak ada satupun penanggungjawab yang bergerak atau setidaknya menertibkan. Lha wong ada korban kecelakaan di tengah jalan di jam sibuk aja nggak ada orang yang gerak juga kok. Mau berharap apa dari orang-orang buta keadaan tapi nggak buta kekuasaan dan duit seperti mereka ini?

Di satu sisi tukang ojek itu memang cari makan. Hanya caranya yang nggak etis. Sama nggak etisnya dengan perampok pulsa berlabel perusahaan telekomunikasi yang menyedot saldo tanpa diketahui pemilik. Sama nggak etisnya dengan tukang taksi yang membulatkan argometer ke atas dengan dalih nggak ada kembalian. Sama nggak etisnya dengan kolusi supir dan kondektur yang oper-operan penumpang. Sama nggak etisnya dengan birokrasi yang dipersulit di instansi-instansi pemerintah supaya calo merajalela. Sama nggak etisnya dengan buzzer manipulatif yang "jualan" dengan membabi-buta. Sama nggak etisnya dengan tenaga marketing cari nasabah kartu kredit yang nggak tanggap dengan nada suara sebal per telepon.  

Makanya, tinggal di Jakarta (dan di daerah manapun di Indonesia) kita harus pintar-pintar jaga diri dan baca situasi. Kita—rakyat—nggak lebih dari komoditas yang duit pajaknya disedot untuk menggaji aparat pemerintah gendut-gendut yang berumah di gedung pantat, yang kerjanya cuma jalan-jalan studi banding atau tidur ketika rapat, menuntut minta naik gaji, tunjangan dan fasilitas, and when things fucked up, hanya bisa bilang "saya prihatin…" 

Hey, ini Jakarta! 


Labels: ,

Revenge, Anyone?

Posted by The Bitch on 10/23/2012 06:07:00 AM

Gambar diambil dari sini.


Living well (and happy, for sure) is the best revenge 
- George Herbert (1593-1633), an English poet, orator, and an Anglican priest.

Dalam risalah Muhammad SAW dikisahkan betapa tabah manusia pilihan itu menerima lemparan kotoran di wajah. Dalam kisah Katolik pun diceritakan betapa Yesus bersabar memberi pipi kirinya saat yang sebelah kanan ditampar. Hampir selalu kedua dongeng ini didengungkan ketika berhadapan dengan orang meyimpan dendam, seakan menjadi manusia dengan kestabilan emosi luarbiasa semudah contong ini memaki “fuck you!”.

Sini saya beritahu: kamu nggak harus begitu.

Sebagai manusia biasa sekaligus perwujudan hasil evolusi terbaik dan paling pungkas, kita punya yang namanya mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism). Nggak hanya berupa bunyi berisik dalam perut saat lapar atau reflek menarik tangan dari panci panas yang sangat fisiologis, secara psikologis pun kita punya mekanisme tersebut. Beberapa luka mental dihasilkan dari trauma masa kecil membuat seseorang membloking pikiran, misalnya, karena mengenang menjadi terlalu menyakitkan. Ini biasa terjadi pada penyintas yang mengalami penindasan seksual.

Begitu pula dengan dendam. Sepengalaman saya, dendam timbul ketika ego maupun harga diri seseorang disenggol tapi si empunya ego nggak bisa muntap saat itu juga karena satu dan lain hal. Biasanya sih karena posisi pengusik lebih tinggi daripada yang diusik. Hasilnya adalah rasa malu, marah dan nggak terima, lalu bersumpah suatu hari nanti si pelaku akan mengalami hal serupa.

Ini terjadi pada saya, berkali-kali. Tapi satu yang paling saya ingat adalah ketika salah seorang anggota keluarga besar yang dituakan dan sangat dihormati mempermalukan saya di depan umum.

Saya nggak perlu cerita lah detail-nya bagaimana. Tapi saat itu saya merasa luarbiasa marah namun nggak bisa keluar karena Ibu sudah mendelik murka dan itu sudah cukup menahan ucapan dan makian apapun yang keluar dari mulut saya. Dalam hati saya menyumpahserapah, “one of these days you’ll chew what you spit. What goes around comes around.”

Saya mengingat semuanya tanpa bisa berkutik, bertahun-tahun setelahnya. Sementara si orang tua itu mungkin tidak ingat lagi apa yang telah dia lakukan. Dia tidak tahu bahwa saya ”menyiksa” dan “membunuhnya” berkali-kali dalam pikiran sampai saya bosan dan lupa sendiri. Hingga suatu hari semuanya dijembreng di depan muka, ketika beliau wadul betapa blangsak hidupnya sementara saya masih bisa cengar-cengir bahagia.

THAT, my friend, was really paid off.

Lalu hari berganti, cuaca berubah, daun-daun tetap tumbuh. Iya, saya nyontek lagunya Slank. Tapi ini beneran. Karena seiring waktu berjalan itulah saya akhirnya belajar untuk lebih hebat lagi menyimpan dendam. Saya belajar bahwa mencintai dan membenci—dalam hal ini mendendam—bedanya cuma setipis jembut dibagi sejuta. Pada dua hal tersebut saya sama-sama meluangkan waktu dan usaha untuk mengandai-andai dan bahkan membuat plot-plot konyol yang feasible dilaksanakan. Fuck! Loving my enemy was something I didn’t wanna do!

Sampai suatu hari… Aha! Akhirnya saya ketemu satu rumus pembenaran sederhana (karena saya sebenernya males mikir). Sesungguhnya orang-orang yang rese dengan kecengar-cengiran saya adalah orang-orang yang nggak bahagia, secara tidak langsung menuduh saya bertanggungjawab atas ketidakbahagiaan mereka karena mereka sendiri nggak mampu mengubah keadaan tersebut. Makanya mereka nunjuk-nunjuk kesalahan saya yang bagi saya bukan masalah. Ya gitu. Karena mereka nggak seneng liat orang seneng. Bagi mereka, itu ngeselin. Seperti eek yang nempel di sela silit karena cebok nggak bersih dan baru berasa sejam kemudian ketika kering dan bikin kulit anus iritasi. Terus karena saya kebetulan nongol di toilet tempat pemilik silit jorok ini berhajat, saya disalah-salahin. Ya gitu deh. Keapesan yang adalah kesunyian masing-masing.

Terus kamu ngapain, Pit?

Ya saya sih sebagai penganut Cartesian abal-abal akan dengan senang hati men-diseksistensial-kan mereka, menganggap mereka sama sekali nggak ada dengan cara melanjutkan hidup, tetap bahagia, dan nggak pernah mikirin mereka lagi. Percaya sama saya, itu bahkan lebih ngeselin buat mereka, orang-orang apes yang merasa kebahagiaannya tergantung sama kesialan saya.

Dan karena bahagia saya ada di diri saya sendiri, saya juga nggak perlu kesialan orang lain untuk bikin saya senang. Lagipula, bales-balesan dendam nggak semengasyikkan bales-balesan surel atau kartu pos. Nggak bikin sehat secara mental, selain hanya mendatangkan kepuasan sementara yang beberapa menit kemudian juga paling udah lupa. Iya kalo cuma diantara saya sama si malang nggak bahagia itu. Kalau keluarganya orang malang itu nggak terima terus bales lagi ke saya, terus pacar saya (suatu hari nanti kalau ada yang apes mau nerima saya jadi pacarnya) nggak terima dan balas dendam lagi, gimana? Waktu yayang-yayangan kami kan akan berkurang karena kami sibuk mikirin mesti ngapain lagi selanjutnya. Itu sama sekali nggak produktif. Nggak sangkil—efisien.

Jadi, selamat Hari Selasa. Semoga semua mahluk berbahagia…



Dedicated to all survivors of life and whatever happened in between, including bullying. Don’t be afraid to stand tall and proud of what you are.

Be yourself, because everyone else is already taken (Oscar Wilde).




 

Labels: ,

Tentang Ibu Lagi

Posted by The Bitch on 10/22/2012 12:23:00 PM

Anakmu bukan milikmu
Mereka putra-putri yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasihsayangmu, tapi
Jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka punya alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau kunjungi meskipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmu 
Adalah panah yang meluncur…

- Kahlil Gibran


Waktu ngetik ini saya sedang kenyang jiwa-raga. Pagi saya terbuat dari tidur nyenyak semalam, nasi goreng bikinan Bu Anggi berbasuh teh manis panas buatan Babab. Sebagai anak jarang pulang dan (keukeuh) tinggal sendiri, hal-hal seperti itu yang terkadang bikin melankolor di kamar kos. Apalagi kalau sedang sakit. Beuh!

Saya termasuk anak beruntung memiliki orangtua demokratis yang masih mau mendengar dan nggak ngotot jadi yang maha benar. Sebangkotan ini pun ibu saya nggak sungkan mengelus kepala, memeluk atau mencium pipi anak-anaknya dan bilang “Ibu sayang kamu”. Seumur-umur saya dan adik jadi anaknya pun kami nggak pernah ditegur dengan keras. Ya paling langsung dihajar sih kalau kelewat bandel. Tapi itu masa laluuu…

Iya, saya memang sedang melankolor. Berapa hari sebelumnya seorang Mahmud Abas (mamah muda anak baru satu) mengeluh pada saya.

“Aku kok berasanya kayak ibu paling jahat sedunia lho, kalo cerita ke milis. Ya namanya jadi ibu kan kadang suka stress anak nggak pup beberapa hari, kerjaan freelance keteteran, air susu nggak keluar, atau pengen jalan-jalan dan main. Responnya seragam: hambok kamu itu jalaninnya ikhlas… Emangnya jadi ibu tuh nggak boleh punya kehidupan sendiri ya?”

Saya memang hanya diam mendengarnya, sambil memandang seonggok gundukan unyu berusia tiga bulan berkelamin perempuan tapi berbentuk mirip logo Michelin yang angler tidur sehabis disusui.

Saya memang telat masuk ke ranah “itu”, wilayah dimana semua orang sudah menikah dan beranak-pinak. Saya cuma pernah mengurusi dan mengasuh anjing tanpa pernah melahirkan satupun. Makanya saya nggak tahu susahnya menyusui bayi dan betapa menantangnya mendidik mahluk berlabel manusia. Tapi sepanjang hayat dikandung badan, saya adalah anak. Saya tahu rasanya jadi anak dan punya orangtua.

Saya merasakan kok gimana ibu saya juga nggak punya kehidupannya sendiri. Sejauh yang bisa saya ingat, perempuan paruh baya itu selalu dipanggil “Mamanya Icha” (adik saya, karena saya hampir nggak dikenal di lingkungan tetangga saking sangat jarang pulang) atau “Bu Bambang” dalam organisasi RW. Di lingkungan keluarga besar, Budhe, Pakdhe dan Mbah saya memanggilnya dengan “Nita” dan teman-teman sekolahnya dulu memanggilnya “Yuni”. Tapi seberapa sering sih dia dengar namanya sendiri dalam kesibukannya sebagai emak-emak yang harus mengurusi rumah dan seisinya?

Suatu hari lingkungan kami bikin radio komunitas dan ibu saya siaran, mengasuh acara keroncong di terik siang dengan “nama udara” Bu Anggi. Sejak itulah saya menyebutnya demikian, hanya untuk mengingatkan alam bawah sadar saya bahwa ibu saya punya identitas sendiri.

Lalu Bu Anggi saya curhati tentang para Mahmud Abas teman-teman saya itu. Untuk mengurus anak, menurutnya, sejak bayi pun dia sudah akan belajar pintar jika ibunya juga pintar. Berceritalah dia tentang hari-hari saya yang terbiasa tidur ditemani album Beatles, Rolling Stones dan ABBA agar selalu nyenyak dalam kondisi seberisik apapun karena dia harus beberes sendirian tanpa pembantu. Atau sebelum bepergian mengajak saya jongkok di toilet sampai pipis supaya dia sendiri nggak repot jika saya ngompol. Atau mendisiplinkan saya supaya duduk tenang ketika makan agar dia tak kerepotan membuntuti saya yang sibuk bermain.

Tapi ibu saya bukan ibu-ibu urban zaman sekarang. Manual parenting dia dapatkan sendiri mengikuti insting, tanpa Google maupun buku, atau support group berupa mailing list. Bantuan menyusui pun hanya kepala Babab yang dia bejek kuat-kuat menahan sakitnya gerusan lidah saya bayi (kemudian adik) pada putingnya. Sangat berbeda dengan teman-teman sepenongkrongan saya yang tadinya bekerja di agency besar atau ngantor di seputaran Kuningan lalu hidup mereka berubah setelah melahirkan. Buat yang ekonominya berlebih mungkin lebih dimudahkan, tinggal sewa pembantu atau pengasuh. Atau Papah Muda Siaga, pasangannya, bisa diberdayakan untuk gantian begadang nyusuin dedek pakai botol berisi susu hasil “memerah” ibu.

Saya sendiri nggak punya solusi untuk masalah ini. Lha wong saya, jangankan beranak-pinak, pacar aja nggak punya. (Iya, masalah terbesar di alam semesta ini harus terus didengung-dengungkan dalam blog, sekalian woro-woro cari pacar) Saya cuma minta, to dear society, have mercy on them, those Mahmud Abas the Urban Mommas. Di tangan mama-mama baru ini generasi penerus kalian dibesarkan dan dididik. Di tangan mereka, para ibu urban yang berusaha keras mendampingi anak-anak mereka melalui Golden Age, Indonesia bisa berharap nasibnya nggak blangsak-blangsak amat. Jadi ibu itu susah sekali, profesi 24/7 tanpa libur yang sering dikira magabut ongkang-ongkang kaki dan dituduh ngabisin duit suami, padahal nggak pernah ada appraisal maupun promosi, apalagi sekadar ucapan terima kasih. In the end, setelah mereka lelah mengurus anak-anak tambatan hati dan tujuan hidup, mereka juga harus melepas ikhlas menjalani hidup sendiri. It sucks, big time.

The least you can do, dear society, is to love them, listen to them. Help them by not judging. 

Dedicated to all new mothers all over the world. You RAWK! 

One happy and content baby. With eyes like these, no Mom could ever let her go. Courtesy of Mama Tikabanget.

Labels: ,

Reminiscing: You

Posted by The Bitch on 10/17/2012 06:39:00 AM

picture taken from here


In the beginning there was the word...
(John 1:1)

For the love of reading I drank down the words like there's no tomorrow, quenching the thirst I never felt existed.  

For the love of scribing I wrote my presence, stroking each alphabet with the fervor of The Marquis writing his oubliette with his own feces.

For the love of life I questioned the death, reasoning to the point of no answer, no evidence: just another question that I swallowed alone, quietly.

For the love of death I chewed the sinful fruit of life where nothing is wrong and every thing's just right (even the Death herself who creeps under your skin, taking sure steps in each of our birthday).

For the love of night I fornicate the day, making her pregnant with curses and blasphemies, sunup to sundown.

For the love of day I wide awake in my sleepless nights, exonerating the ugly, engorging "I" into selfless absolution and wash away the pride when the first adzan strikes.

For the love of art I sought beauties in everything. The happy squeal of a 3-month old baby in her morning bath; her mother's solemn face while suckling; monotonous yet lulling hum of the air conditioner; and pecel with crunchy gendar for my breakfast.

For the love of sunshine I rejoice the rain, squeezing our way in heavy traffic on the bike, with my hands numb from the cold, my heart warm from the feeling.

For the love of rain I praise the sunshine, hoping it won't blind nor stab anyone's back, those who have to be outside by choice--with you among them all.         

And that's how I remember you: the key that led me to all doors, the ever giving hands, the always listening ears, the forever smiling lips, the constantly soothing voice, the restlessly sparkling eyes, the ceaselessly thinking mind...

The Y
        O
           U...
                    I f
                        a
                          l
                           l...
                                  too d
                                          e
                                            e
                                              p...



Don't you think it's funny how the greatest accident on universe created such complex creature like us? Oh, the cosmic joke!    


ps. and yes, I drool through my closing eyes when I sleep, just like you did.



Labels: