"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Belahan Dada, Anyone?

Posted by The Bitch on 6/20/2012 10:51:00 AM

Gambar nemu di HDD Pektay, lupa ngunduh di mana. Tapi jelas bukan punya saya.

Secret makes a woman, woman
- Chris Vineyard/Vermouth dalam komik Detektif Conan

Ah, perempuan. Rasanya tak habis membahas mahluk ini, baik sebagai ibu, manusia, maupun identitas pribadi. Sudah dari sononya ia indah dalam tiap lekuk, diapresiasi oleh lawan jenis dan sesamanya sendiri, yang tiap jengkal tubuhnya adalah milik umum, masyarakat, norma, agama, etika, dan bukan miliknya sendiri. Selalu menarik untuk dikulik, hidup perempuan itu. Dan akan lebih menarik lagi memandang dan membicarakan belahan dada.

Awalnya adalah perayaan pembebasan tubuh perempuan di ranah internet lewat kompetisi #cleavageunite2 yang digagas @inemsipelayan. Jujur, saya suka. Saya penikmat dan pengagum tubuh. Dan saya bukan lesbian. Saya mengapresiasi tubuh perempuan yang sintal, montok dan empuk-kenyal sebagaimana saya mengapresiasi tubuh lelaki yang alot-liat, cenderung kasar dan berurat. Bukan apa-apa. Membentuk tubuh seperti itu usahanya edan, men! Mengingat kapasitas malas saya, sudah pasti saya nggak bisa ngikutin dispilinnya meskipun saya juga mau punya bodi keren kayak gitu.

Balik lagi, mengapa #cleavageunite2 ini menarik? Karena ya itu tadi, “hawa”nya kompetisi, keren-kerenan belahan dada perempuan, mengeksploitasi sisi iri/kagum mereka pada perempuan lain. Iri/kagum pada popularitas, bentuk tubuh, payudara yang menantang gravitasi, bentuk alis dan mata, nasib, tas baru, pakaian dan sepatu, pekerjaan baru, semuanya. Saya pun begitu, wong saya juga perempuan. Makanya sosok perempuan akan selalu tampil untuk iklan produk apapun, entah itu produk makanan, pisau cukur, mobil, perabot rumah tangga, peralatan bengkel, apapun. Karena perempuan yang akan selalu melirik perempuan lain, dengan pandangan cemburu maupun kagum, dan perempuan lah yang (konon) sering belanja impulsif. Dan siapapun yang berada di belakang akun @inemsipelayan layak masuk surga—jika ada—karena kepintarannya. Di satu sisi dia memberi hiburan bagi para lelaki. Di sisi lain dia juga memberi wadah bagi para perempuan untuk sejenak jadi dirinya sendiri, lepas dari kotak-kotaknya sebagai perempuan beragama Anu, pacar si Itu, putri Pak dan Bu Inu, dari keluarga suku Eta, bosnya/anakbuahnya si Onoh. Sebut saja jenis “kotak” yang dipakaikan manusia untuk manusia lain. Dan di sana lah—di hampir semua kotak yang ada—perempuan berada.

Namun satu hal yang membuat kening saya berkerut. Diantara sekian banyak parade faceless breasts mengintip saya dapati juga payudara setengah matang dari wajah polos beberapa bocah perempuan. Mengutip Herp Derp di 9gag—DAFUQ!

Coba search #RulesOfTantanganInem di twitter.com dan akan kamu dapati 14 peraturan yang salah satunya membatasi hanya untuk 18 tahun ke atas, sementara peraturan lainnya adalah tanpa bra, terlihat belahan dada, dan harus memakai atasan putih. Tapi ayo lah. Di internet orang bahkan nggak tahu kalau kamu sebenarnya seekor anjing, dan siapa juga yang akan mentahkikkan—verified—kamu sudah lewat 18 atau belum?

Saya nggak munafik. Iya, saya suka lihat perempuan seksi sebagaimana saya suka melihat Tante Monica Belluci dan berniat mengubah orientasi seksual saya menjadi lesbian asalkan beliau mau saya pacari. Tapi menurut saya foto-foto yang diunggah di sana mengandung konten bermuatan erotis—untuk tidak menyebut pornografi. Saya rasa—seperti halnya iklan rokok dan minuman berakohol yang harus melindungi kepentingan anak dibawah umur, minor—harus ada rambu-rambu sendiri untuk gambar-gambar seperti itu. Dan twitter tidak menyediakannya. Iya, hari gini siapa sih yang bisa membendung gempuran informasi tanpa batas di internet? Tapi seperti yang dibilang salah seorang ayah sambung saya, “nek ora iso nggawe resik, ojo nambahi reget”. Jika tidak bisa membersihkan, jangan nambahin kotor. Mungkin kita nggak ngerasa imbasnya, tapi coba luangkan waktu sebentar dan baca tulisan di sini. Bagaimana dengan anak-anak di bawah umur yang kepingin ngetop dan ikutan #TantanganInem #CleavageUnite2? Bagaimana dengan mereka yang mengakses gambar tersebut? Kita nggak tahu mereka, nggak tahu apa yang ada di benak mereka, dan nggak tahu apa yang terjadi setelah foto-foto tersebut terunggah. 

Saya nggak bisa ngasih solusi. UU APP pun bukan jawaban karena pasal-pasalnya sama sekali nggak mengakomodir perlindungan terhadap anak-anak namun melulu melindungi syahwat lelaki. Ini hanya bentuk kemirisan saya tentang betapa nggladrahnya kebebasan berekspresi yang tidak memikirkan efek terhadap orang lain. Saya juga belum punya anak, tapi saya pernah jadi anak-anak, berabad-abad lalu. Dan saat kanak-kanak, ketika saya masih sibuk main lompat karet, teman-teman lelaki saya cekikikan menunjuk rok teman perempuan atau Ibu Guru muda kami yang sedikit tersingkap atau dengan songongnya melongok tanpa malu-malu. Dan sekarang pun saya masih sering diceritai bocah-bocah SMP bagaimana mereka dengan bebas mengunduh 3gp amatiran di warnet untuk jadi teman merancap di kamar mandi.

Maafkan untuk kepedulian saya yang menggedor kesenangan kalian. Tapi kita masih manusia kan? Masih peduli sesama kan?

Selamat hari Rabu. Semoga hari ini kita tidak memperparah kerusakan yang sudah ada di dunia.

By the way, mau lihat sepasang belahan dada hasil saya searching #TantanganInem #CleavageUnite2? Silakan…






Labels:

Sunday (In)Sanity

Posted by The Bitch on 6/17/2012 09:26:00 AM


Kelihatan kan tatonya mas-mas yang buwanyak itu? Percaya sama saya, itu mas ganteng, bersih, terlihat sehat dan pintar. Dan sebagaimana manusia pada umumnya yang “nobody’s perfect”, sayangnya masnya itu nggak punya empati. Begitu pula jejeran lima lelaki lain yang duduk di barisan belakang bus Metromini 72 arah Blok M-Lebak Bulus itu. Menyedihkan. Karena nggak ada satu pun dari mereka yang mau angkat bokong merelakan kursinya untuk dua orang ibu tua yang naik dari pintu di dekat mereka duduk, yang jelas-jelas bungkuk, keriput, terombang-ambing seiring manuver supir meliuk-liuk sambil tangannya menggapai-gapai cari pegangan. Dan saya? Nggak ngasih duduk juga dong! Wong saya juga berdiri nggak dapet kursi.

Oh, iya. Sebelum lanjut, saya mau kasih tahu aja. Saya akan judgmental abis di cerita-cerita saya nanti. Tahan ya, setidaknya sampai tulisan ini kelar.

Terus, saya juga mau cerita tentang para gerombolan lelaki yang suatu pagi numpang nonton Euro 2012 di warung Eyang Kolonel Sanders Bulungan yang buka 24 jam. Setelah beranjak meninggalkan tempat dengan abu dan puntung rokok serta sampah bekas makanan berserakan, mereka duduk bergerombol di pembatas jalan, menggoda mbak-mbak pekerja malam Melawai yang sedang melintas dengan siulan-siulan nakal dan komentar “satus ewu yoh, Mbak! Neng Sarkem sak mono, lho!” pada dingin jam empat pagi.

Dan kalau kamu ngikutin acara Indonesian Idol di RCTI tiap Sabtu—yang semalam akhirnya juga saya tonton itu—pasti nggak aneh dong ya dengan diundangnya peserta audisi yang gagal, disuruh nyanyi-nyanyi dan ditertawakan para juri jumawa dan penonton se-Indonesia.

Dari tiga cerita itu, hanya satu hal yang saya mau tanya: WHAT THE FUCK IS WRONG WITH YOU, PEOPLE?!

Untuk kasus mas ganteng bertato, saya nggak ngerti dia punya orangtua atau nggak. Jika punya, saya nggak tahu bagaimana ayah dan ibunya mendidik dia yang tidak tanggap terhadap kesulitan orang lain di depan mukanya sendiri. Dan saya juga tidak tahu prestasi dan kesuksesan macam apa yang membuat orangtuanya bangga, yang membuat mereka berkompromi dari pencapaian prestasi menjadi manusia sesungguhnya: berdayaguna bagi mahluk lain. Okelah, dengan tato semasif itu dan warna sebanyak itu mungkin dia cukup jago menahan perih-sakitnya jarum merajah kulit. Tapi celakanya dia tak punya indera perasa yang cukup bisa merasa kesusahan manusia lain yang mungkin mirip neneknya, budhenya, tantenya, mamanya sendiri, atau anggota keluarganya. Atau... mungkin itu memang nggak penting bagi mereka?

Di sini Mbak Tera juga tatoan lho, Mas! Nggak cuma kamu doang!

Pada kejadian pelecehan PSK Melawai oleh segerombolan lelaki tak berotak, rasanya sah-sah saja jika saya mendiskreditkan dan merendahkan mereka untuk setara dengan para “penjaga moral” sok suci yang merasa diri lebih baik daripada mahluk apapun. Pekerja Seks Komersil itu profesi tertua di dunia, lho. Keberadaannya ikut andil membentuk peradaban dan kebudayaan umat manusia. Dan sejujurnya, profesi PSK adalah salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia, karena taruhannya adalah nyawa, secara harfiah. Jika pelanggan menolak mengenakan kondom, silakan lihat di sini supaya kamu tahu apa saja yang mengancam mbak-mbak cantik-seksi itu sepanjang waktu. Masih mending pedagang barang yang bisa lepas dari dirinya sendiri. Penjaja jasa seperti mereka ini melekat erat tak terpisahkan dengan “dagangan”nya. Mbak-mbak itu lebih punya nyali dibanding kalian, Mas! Jadi, who are you trying to fool, assholes?

Lalu Idol-idolan? Ini bagi saya lebih menakjubkan. Sebentuk dan sebangun seperti yang saya ceritain di sini. Bedanya, di Indonesian Idol itu “kekuasaan” dibagi-bagi antara juri dan pembawa acara yang sering melempar pertanyaan nggak mutu, bersama “rakyat Indonesia” yang didaku ikutan milih siapa yang terus tampil hingga minggu depan dan siapa yang harus pergi malam itu. Korbannya? Orang-orang lugu, polos, dan kamu bilang ndeso yang akan melakukan apapun demi masuk tipi dan dadah-dadah sama emak di rumah. “Kasih mereka kesempatan tampil,” kata pekerja televisi. “Mari tertawakan yang lebih culun, bodoh dan kampungan daripada kita,” saya membalas.

Terus apa yang salah dengan itu, Pit? Kita nggak salah, dong. Salah si ibu yang bepergian pas jam bus penuh. Salah si mbak milih profesi jadi PSK. Dan stasiun televisi juga akan melakukan apapun demi rating dan slot iklan berharga tinggi yang akan menghidupi hajat hidup orang banyak yang bekerja di dalam industri itu. For the greater cause. Itu lebih mulia. Menciptakan lapangan pekerjaan, mencetak sumber daya manusia kreatif.

Blah!

Saya sih nggak mau direpotkan pakai dogma agama atau nilai moral tinggi yang termaktub dalam buku-buku filsafat pengganjal pintu. Otak saya yang kecil nggak akan kuat untuk memproses kalimat-kalimat panjang yang banyak sekali sayapnya itu. Saya cuma pegang satu hal: kalau nggak mau dicubit, jangan mencubit. Dengan frase seciprit (namun pelaksanaannya luar biasa susah) itu saya dipaksa mengenakan sepatu orang lain, melihat apa yang mereka lihat, mendengar apa yang mereka dengar, merasa apa yang mereka rasa, meskipun dalam keterbatasan. Dan saya marah ketika saya bahkan tidak mau berbuat apapun, bahkan sekadar menegur para mahluk—yang saya asumsikan—berpenis yang terlihat sehat agar merelakan kursinya ditempati si ibu tua. Alasan saya? Repot amat sama urusan orang?! Saya juga nggak bisa membela mbak-mbak PSK Melawai demi keselamatan saya sendiri melawan beberapa puluh mas-mas (yang juga saya asumsikan) berpenis. Saya juga nggak bisa ngapa-ngapain selain ngomel di twitter dan muntah di sini waktu tahu setelah dibikin merinding oleh gegap-gempita penyanyi-penyanyi bening dan berbakat, saya juga dibikin merinding ketika semeja juri, sepanggung, se-studio (se-Indonesia?) tertawa-tawa dengan wajah bahagia menonton “topeng monyet” berwujud manusia bersuara fals dan cempreng. Buat apa to? Sebagai pembanding bagaimana nasib membedakan mereka yang lulus audisi dan mampu mempertahankan kerjap gemintangnya dengan peserta yang tahan (diper)malu(kan)? That’s total bullshit.

Tapi serius, kalau saya doang yang sendirian kayak begini, jangan-jangan saya gila?


Labels:

Quo Vadis, Perokok?

Posted by The Bitch on 6/01/2012 08:25:00 AM

Gambar diambil dari sini


Dan sesungguhnya, apa yang kau sebut kebebasan adalah mata rantai terkuat dari belenggumu  
- Khalil Gibran on Freedom


Pernah merhatiin iklan rokok? Sebagai mantan buruh pabrik topeng, saya tahu tuh gimana babak bundasnya bikin konsep iklan yang nggak boleh menampilkan produk. Catchphrase dan visual mesti kuat supaya bisa menginfiltrasi benak manusia-manusia yang nggak sadar disusupi pesan subliminal agar “tersihir” kemudian membeli. Misalnya, bagaimana mengesankan perokok sebagai individu keren, insan yang bebas, sahabat yang baik, suka bergotong-royong, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka, endeswai, endesbrai. Blah!

 

Kalau bandwidthmu berlebih dan kamu bisa nonton yang di atas itu, kamu bakal ngeh bahwa peraturan pemerintah sama sekali nggak mengatur gempuran industri rokok di tanah air. Banyak warung rokok bersebelahan dengan sekolah dan bocah-bocah berseragam bebas mengeteng rokok meskipun jelas-jelas bertuliskan “hanya untuk 18+”. Belum lagi jika pemilik warung memfasilitasi tempatnya sebagai pelarian untuk bolos, seperti warung Mami di depan gang SMA saya dulu. Tapi gini deh. Mari kita coba geser pantat sedikit biar pandangan mata berubah.

Jangan salah. Saya perokok. Meskipun sempat ditolak gebetan yang anti rokok, saya nggak mau berhenti merokok hanya demi dia. Saya akan berhenti jika saya mau berhenti, bukan karena orang lain, bukan karena gebetan. Dan itu pilihan sadar saya, sebagai perempuan dan sebagai manusia. Dengan resiko dan konsekuensi apapun.

Saya juga jomblo dan kerap menyendiri dalam dunia kotak saya. Bersama teman setia berupa batang nikotin dan kopi pahit panas, melakukan apapun sesuka saya. Di kamar tertutup tanpa koneksi internet yang seringkali pengap jika kipas rusak itu saya temukan arti bebas tanpa mengganggu orang lain. Dengan noda kekuningan di jemari saya sendiri, bau mulut yang hanya saya rasakan sendiri, dan asap yang pelit tak saya bagi dengan orang lain.

Nggak usah nutup-nutupin lah. Kebanyakan perokok memang sering sewenang-wenang dengan kebiasaannya tanpa mempedulikan orang yang tidak merokok. Yang paling mengganggu adalah asap yang nggak bisa dikendalikan (kecuali kamu temannya Aang si Airbender), serta puntung dan abu yang jadi sampah. Tapi jika kita memang memilih merokok, itu hak azasi juga kan? Salah satu kebebasan memilih toh?

Namun, wahai para perokok, apakah harus seperti itu? Sadar nggak hak orang yang tidak merokok?

Saya nggak menuntut banyak kok dari orang-orang yang tingkat kemerdekaan dan demokrasi (yang dipaksakan)-nya masih bau kencur. Dan saya juga nggak sok-sokan menjaga hak yang bukan perokok. Lagi pun, siapa lah awak ini?! Tapi saya nggak suka kebebasan itu dikekang dalam kotak berlabel “either you with me or against me”. Pilihan itu nggak cuma dua. Ada pilihan ke tiga sebagaimana hitam dan putih ada abu-abu diantaranya. Jadi, nggak cuma “kalo lo perokok maka lo adalah musuh mereka yang nggak ngerokok”. Nggak, bukan seperti itu.

Saya selalu percaya bahwa tindakan berbicara lebih lantang ketimbang semua omongan dan janji-janji surga. Maka, jika kamu perokok, jadilah PR yang baik untuk dirimu sendiri. Tahan keinginan merokok di tempat umum atau dalam ruang tertutup, apalagi berpendingin. Dan kalau ada orang yang merokok di tempat seperti itu, bukan berarti memang diperbolehkan. Ada kalanya karena jumlah perokok lebih banyak di satu ruangan maka disahkan saja jadi tempat berasap, meskipun tidak pada tempatnya (halo, kantor-kantor instansi pemerintah semacam Kelurahan, Kecamatan, Kantor RW, Samsat, dan lain-lain!). Oh, apalagi bis dan moda transportasi umum lainnya. It’s a big no-no! Tegur saja bapak/mas/om yang merasa tidak bersalah karena merokok, nggak perlu sampai dia tahu juga kalau kamu perokok. Beberapa hari kemarin sepanjang perjalanan Radio Dalam-Pasar Minggu-Radio Dalam dan dengan berganti angkutan sebanyak enam kali, saya berhasil menegur 8 (iya! DE. LA. PAN!) orang lelaki yang naik dengan rokok menyala maupun baru mau akan bakar begitu pantatnya menyentuh kursi. Ya kadang apesnya sih kalau malah kita yang dipelototi ibu/mbak/tante yang ogah ribut karena menegur perokok di sebelahnya, padahal beberapa menit sebelumnya dia sudah kibas-kibas sambil terbatuk-batuk hebat hampir mati.

Dan yang harus lebih diperhatikan, jika kita sudah merasa ‘aman’ karena merokok di luar ruangan yang bukan tempat umum, jangan jadi iklan rokok berjalan yang mengesankan bahwa merokok itu adalah—sebagaimana yang terketik di paragraf pembuka—individu keren, insan yang bebas, sahabat yang baik, suka bergotong-royong, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka, endeswai, endesbrai. Lihat sekitar, ada anak kecilnya nggak? Ada ibu hamil atau menyusui nggak? Cukuplah kita, para perokok bangkotan, menjalani nasib kita masing-masing. Nggak usah lah secara sengaja maupun nggak, langsung dan tak langsung, kita jadi agen rekrutmen perokok muda. Cukup lah korporasi rokok itu jor-joran pasang iklan yang pintar memanfaatkan celah undang-undang dengan mensponsori acara musik dan olah raga serta jadi “good guy” berbaik-baik mendanai pemberdayaan perempuan, pendidikan, beasiswa, kewirausahaan, bahkan situs keagamaan. Ya nggak papa sih. Toh sebagaimana korporasi yang lain mereka juga punya keharusan CSR. Dan rokok juga sebenarnya hanya sekadar komoditas, barang, hasil produksi sebagaimana sembako. Tapi penting disadari bahaya dan konsekuensi rokok di baliknya. Oh, dan yang paling penting, efek gangguannya terhadap orang lain.

Dan—ini yang paling sederhana namun sering terlupa—sampah. Bawa asbak portable kecil lah ke mana-mana buat wadah abu dan puntung yang bisa ditutup rapat supaya nggak ngotorin saku atau tas, dan buang isinya ke tempat sampah buat dipakai lagi asbaknya. Bertanggungjawab, gitu. Nggak ngeberatin kok, nggak kayak nggotong-nggotong karung beras sekuintal.

Bekas kotak rokok yang berfungsi juga sebagai asbak. Terima kasih, Pak Haji Moehammad Sampoerna! Hihi.

Tapi lagi-lagi, kembali pada individunya masing-masing sih. Mau pro atau kontra pada rokok dan tembakau, face it, man. It’s just business as usual. Semua itu cuma barang kebutuhan (maupun yang tidak dibutuhkan). Ada produsen, ada pembuat, dan mereka perlu pasar. Terkadang kita, sebagai konsumen, “dipaksa” membeli, butuh atau nggak. Yang merokok digeber dengan iklan rokok baru dan promosi yang ditawarkan mbak-mbak SPG cantik dan seksi. Yang tidak merokok ditakut-takuti dengan jor-joran bahaya asap rokok agar suplemen kesehatan dan masker laku keras. Tapi, sekali lagi, for the love of life, sadar lah pada apa yang kita gunakan dan yang terserap oleh indera. Cerdas lah sedikit. Jangan mau disetir korporasi pemegang kapital besar, yang pro maupun kontra rokok.

Jadi, duhai para perokok, gimana? Sekarang sadar kan? It's the attitude that counts, man. As always.

Oh, kemarin Hari Anti-Tembakau Sedunia, lho. Satu lagi hari-harian yang dibikin dengan layer “business as usual” di bawahnya. Hihi.



Labels: