"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Halo, Sevel!

Posted by The Bitch on 5/08/2012 12:01:00 PM

Gambar diambil dari sini 

Tau Sevel? Itu, lho, 7-Eleven, tempat nongkrong (yang katanya) murah dan buka 24 jam di sekitaran Jakarta. Karena akses nggak kenal libur dan Wi-Fi gratisan, saya jadi sering ke sana. Entah nebeng garap kerjaan atau cuma nongkrong janjian dengan teman.

Saking seringnya saya ke sana, saya jadi kebal dengan riuhnya dedek-dedek bercelana gemes atau kakak-kakak hipster. Tapi satu hal yang saya nggak kebal: buta kebersihan.



Dua gambar itu saya ambil jam 3 pagi hari Senin, 7 Mei 2012. Meja yang letaknya ada diantara dua tempat sampah sebesar dosa tak terampuni yang kanan itu tadinya berisi tiga mas-mas yang sepertinya masih kuliah tingkat akhir. Gambar yang satu lagi tepat berada di sebelah meja saya, dengan tempat sampah yang sama besarnya diantara kami.

Jika mata dan nuranimu jeli, kamu akan lihat ada yang salah dengan kedua gambar tersebut: sampah. Mengingat letak tempat sampah yang hanya sejangkauan tangan, usaha bukanlah jadi masalah utama. Tapi ini masalah ketidakpedulian.

Sekali sempat saya iseng nongkrong bareng mas-mas petugas kebersihan dan pekerja Sevel ketika mereka sedang rehat sambil ngopi dan merekap pagi-pagi. Ketika saya bertanya apakah pengunjung tidak diingatkan untuk buang sampah pada tempatnya, dengan tegas salah satu mas-mas itu menjawab, “di sini tamu bebas ngapain aja, Kak. Udah kebijakan perusahaan. Mau lari-larian atau nongkrong berapa lama juga nggak papa. Seperti rumah sendiri.” Sontak kening saya berkerut. Orang macam apa yang membiarkan sampah bertebaran di rumahnya sendiri?

Dari teman saya yang sering jalan-jalan, saya dapat cerita tentang kebiasaan warung cepat saji di negara-negara bule sana. Bukan hanya kursi yang seringkali absen karena pengunjung diharuskan makan sambil berdiri, tapi juga ketiadaan sampah bekas makanan yang tertinggal di meja. Mereka memang punya petugas kebersihan, tapi pengunjung juga terbiasa membuang sampah sendiri ke tempat sampah karena semua perangkat makan biasanya memang hanya sekali pakai dan bisa langsung dibuang.

Balik lagi ke mas-mas petugas Sevel yang saya ajak ngobrol, saya pun bertanya lagi. “Tapi kan kalo pengunjung pada buang sampahnya sendiri, kerjaan masnya bukannya jadi lebih ringan ya?” Dan dijawab dengan, “ya nggak papa, Kak. Kan saya emang dibayar buat ngebersihin. Yang penting mah tamu nyaman, ngerasa bebas.”

Oh, well… ternyata masalah kebebasan bisa berarti lepas dari tanggungjawab paling minimal untuk membersihkan sampah yang kita bikin sendiri. Haha. Cuma saran sih. Mungkin PR-nya bisa kampanye baru daripada sekadar mem-blowup promo makanan segede lapangan bola di billboard (iya, saya lebay). Cerdaslah sedikit. Jangan cuma ngeracunin konsumen dengan bikin mereka tambah bodoh. Kasih lah edukasi. Kalau kata orang Jawa, ngono yo ngono, ning ojo ngono. Oh, saya belum sampai pada tulisan "18+ A good ID is a good idea" lho untuk para pembeli rokok. Masih banyak kok saya lihat anak-anak berseragam sekolah merokok tanpa rasa bersalah di kawasan 7 Eleven. So, 18+ itu sepertinya cuma mantes-mantesin aja.    

Ngomong-ngomong, tulisan ini BUKAN untuk menyerang mas-mas dan mbak-mbak petugas Sevel, lho. Ini buat kalian, para nongkrongers berisik yang sering bergerombol sampai hampir subuh. Termasuk saya. 

UPDATED:
Sepertinya lumayan berhasil nih saya ngecipris di sini. Ya meskipun per 28 Mei 2012 masih lebih banyak promo produk dan yang beginian cuma satu, tapi lumayan lah, daripada lu manyun ((=


Labels:

Class, Anyone?

Posted by The Bitch on 5/01/2012 09:45:00 AM




Bisa baca kan tulisan dalam gambar di atas? Saya capture dari thread salah seorang teman di grup. Membacanya, alis saya berkerut. Sebagaimana sering saya lakukan ketika sedang membaca tesis post-graduate yang harus saya terjemahkan, berita tentang fatwa haram MUI, laporan studi banding anggota kewan, keanehan kasus Gereja Yasmin, Filadelfia, dan Ahmadiyah, atau artikel di website Ar Rahmah.

Saya tidak hendak menyerang si penulis secara personal, tapi ada banyak hal yang membuat saya gatal ingin komentar. 

Pertama adalah pendapatnya tentang bergaul dan berteman. Seumur-umur saya numpang hidup di planet Bumi, saya kenal banyak orang hanya demi memenuhi kebutuhan sebagai mahluk sosial, bukan mahluk pekerja. Apalagi mahluk penjaga citra. Tapi jujur saja, saya banyak dapat pekerjaan dari pertemanan. Seringkali saya dapat SMS atau surel dari calon klien yang bilang, “Mbak, saya dapet nomer/alamat ini dari Mas/Mbak Anu, mau minta tolong terjemahin. Rate-nya berapa ya?” Ujung-ujungnya jadi malah sering make jasa saya. Entah karena hasil kerja saya memuaskan atau karena memang nggak ada orang lagi yang bisa ditodong mengerjakan Project Prambanan, menyelesaikan seribu candi dalam semalam. Sampai sini saya boleh menghela napas panjang kan, yaaaa? 

Kedua adalah tentang klasifikasi miskin/kaya. Well, mengutip Chairil, nasib adalah kesunyian masing-masing. Jadi, bisakah saya pukul rata bahwa yang kaya akan jauh lebih bahagia dan senang hidupnya ketimbang mereka yang tak berpunya? Tentu, akan lebih nyaman dan terlindung menangisi kesedihan ditolak calon pacar dalam BMW ketimbang di atas motor bebek butut yang businya sering ngadat. Tapi perihal toleransi rasa sakit, saya rasa jauh lebih getas orang kaya karena hidupnya yang serba dimudahkan membuat ambang sakitnya jauh lebih rendah. Ya itu sih survei asal-asalan saya aja. Boleh percaya, boleh nggak. 

Ketiga, yang paling parah dan yang betul-betul menyasar inti adalah masalah komunikasi. Maafkan jika mungkin akan terdengar panas di telinga, tapi membaca thread tersebut bikin saya pengen maki-maki orangnya langsung karena kecupuannya dalam hal negosiasi. Apalagi bawa-bawa perbedaan kelas segala. Padahal, orang kaya atau orang miskin kan sama-sama manusia, punya otak, punya gaya hidup (meskipun beda-beda), perlu eek dan pengen njajan kalo ada cemilan enak dipajang di etalase toko roti. 

Tapi gini deh. Saya mau cerita aja dulu. 

Klien saya macem-macem. Jelas-jelas lebih berpunya dan bayar pajak penghasilan lebih gede dari saya. Seringnya saya ngerjain semua ‘candi’ itu secara online, invoice dikirim lewat surel dan fee langsung ditransfer ke rekening. Hampir nggak pernah ketemu muka. Bahkan saya punya klien dari tahun 2009 sampai sekarang juga nggak pernah tau mukanya kayak gimana (Halo, Bu Far!). Tapi kalau ada yang minta ketemu, ya saya pilih tempat paling ‘aman’ dan ada di mana-mana: kafe di mall. Karena saya males beli-beli di pusat perbelanjaan seperti itu, sebelum berangkat saya pasti udah makan dulu. Biasanya ya di warung deket kos. Habis itu, kalau saya lagi kere biasanya saya bikin kopi sendiri aja, terus dituang ke dalam tumbler—pemberian dari emak bos tempat saya memburuh dulu—dengan cap dari kafe tersebut biar disangka beli. Hihi. Karena saya merokok, saya akan pilih tempat di luar ruangan. Masuknya juga lewat pintu luar. Jadi, nggak ketahuan bawa ‘kopi haram’ yang luar biasa enak dibanding kopi seduhan mesin. Atau, kalau kliennya sudah kenal lama dan orangnya asik, saya ajak aja ke angkringan tempat saya biasa ngerampok bandwidth. Saya boleh sombong kan sedikit kalau semua itu nggak bakal kejadian kecuali cara komunikasi saya bagus? 

Tapi pegel-pegel ngetik segini banyak bukan itu sih sebenernya yang mau saya omongin. Saya cuma mau bilang bahwa jadi pekerja itu mentang-mentang miskin nggak usah lah nyombong di hadapan pemilik modal. Mereka yang bayar kita, mereka yang punya duit, meskipun secara tawar-tawaran kita dan mereka sama-sama butuh. Permainan yang dimenangkan dengan mutlak adalah ketika kita bermain sesuai aturan lawan dan menang. Jadi, bermainlah sesuai aturan mereka dan menanglah. Menjadi pragmatis dengan cerdas bukan berarti mematikan idealisme. It’s fine kita miskin harta, asal jangan miskin karakter. Nanti jadi dobel apesnya, cuma bisa bangga-banggain kelas yang udah dibela Eyang Marx. Kebanggaan semu tuh. Nggak bisa buat bayar gado-gado, apalagi bayar tunggakan kamar kos. 

Dan mumpung May Day, Selamat Hari Buruh pada semua rekan yang masih harus bekerja. Inget: menanglah dengan mutlak!






Labels: