"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Catatan Kecil tentang Kekerasan

Posted by The Bitch on 3/15/2012 06:44:00 PM

Salah seorang penyintas suku Hutu yang disiksa oleh Milisia Hutu ‘Interahamwe’. Dia dicurigai bersimpati pada pemberontak Tutsi di Rwanda, Afrika. ©1994 James Nachtwey, USA, Magnum Photos for Time.


The Roots of Violence: Wealth without work; Pleasure without conscience; Knowledge without character; Commerce without morality; Science without humanity; Worship without sacrifice; Politics without principles.
- Mahatma Gandhi

Bayangkan…

Ada mbak cantik-seksi-wangi-cerdas yang dibanting pacarnya, dikata-katain lonthé nggak laku di BBM maupun di depan mukanya. Lalu ada mbak Kaukasian yang tambah dibengepin lagi oleh suaminya waktu bengepnya nggak bisa disamarkan dengan perangkat dandan saat mereka hendak kondangan. Kemudian ada lagi mbak-mbak pekerja di LSM anti-kekerasan yang lebam-lebam karena pasangannya selama dua belas tahun mendadak bersumbu pendek dan hal kecil bikin dia ringan tangan. Dan dalam semua peristiwa itu, para penyintas—survivor—hampir terlambat diselamatkan.

Itu semua nyata. Saya ceritain lagi dengan banyak sekali bagian yang dipotong saking nggak masuk akal sadisnya. Dan kalau mau buka mata dan telinga, kejadian yang mirip seperti itu ada di sekitar kita. Nggak cuma di kelas pekerja yang kadang kita sering sok tahu dengan berkomentar “oh, pantes aja bininya dipukulin mulu. Lha wong setres upahnya kecil, anaknya banyak dan kebutuhannya segabrug.” Sama sekali nggak. Kekerasan melintasi batasan usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan, sifat, gender, ras, zat/narkoba yang digunakan. Itu murni potensi dalam diri manusia, sebagaimana sifat baik dan jahat. Jangan salah. Nggak cuma perempuan yang jadi korban. Seringkali (namun terhitung jarang) laki-laki juga terpapar kekerasan yang membuat mereka juga jadi penyintas.

Ada semacam siklus dalam kekerasan. Ada fase honeymoon saat si pelaku sedang baik sekali. Lalu build up tension ketika dia mulai “panas”. Hal-hal kecil yang di mata orang lain adalah remeh terkadang bikin dia murka luar biasa dan gampang naik darah. Lalu tindakan kekerasan terjadi saat pelaku mulai bertindak kasar dan agresif. Kemudian muncul fase penyesalan ketika pelaku "sadar", jadi luar biasa manis, minta maaf sampai nangis-nangis dan super romantis bawa-bawa coklat dan bunga. Kemudian kembali ke fase honeymoon. Dan siklus pun berulang.

Bagi orang-orang yang biasa hidup bareng pelaku kekerasan semacam itu, mereka sudah hapal betul fase-fasenya. Dan biasanya jika sudah sampai build up tension, mereka (terutama perempuan) cenderung memencet tombol fast forward untuk mempercepat proses, biar siklusnya buru-buru ke fase baik lagi. Apa? Kenapa mereka nggak langsung lapor? Well, ternyata banyak faktornya. Meskipun si penyintas ini sadar tentang kekerasan pun, ternyata malu, ketergantungan (dalam hal apapun, termasuk seks, finansial, dan status sosial) dan pride menjadi penghalang untuk membuka ketidakadilan yang menimpa mereka. Dan seringkali penyintas malah disalah-salahin oleh lingkungan yang seperti membenarkan kekerasan yang dilakukan pasangannya. Misalnya "ya pantes aja lu digebugin laki lu. Lha elunya ngeselin sih." Atau yang lebih parah, memakai ayat-ayat dari kitab suci untuk mendukung tindakannya.

Dalam sistem keluarga sendiri, anak yang terbiasa terpapar kekerasan ternyata reaksinya bisa berbeda-beda. Ada yang karena sering melihat ibunya digamparin bapaknya, dia jadi ikutan melakukan hal yang sama dengan asumsi "oh, boleh lho mukulin bini sendiri. Bokap gue juga gitu kok." Ada yang justru jadi rebel dan anti kekerasan. Dan ada juga—dan menurut saya paling parah—dijadikan sekutu bapaknya untuk memperbudak ibunya.

Menurut yang saya baca di sini, kekerasan yang berasal dari bahasa latin violentus—violence dalam bahasa Inggris—punya akar kata vī atau vīs yang artinya kekuasaan atau berkuasa. Jadi, kalau mau menelusuri akar seakar-akarnya akar, kekerasan itu adalah nggak lebih dan nggak kurang dari pelestarian kekuasaan dengan teknik penindasan. Buat saya itu nggak asyik. Nggak keren sama sekali karena nggak cerdas. Cuma main otot, bukan main otak.

Lalu bagaimana dengan penyintas dan pelaku?

Yang menarik, menurut mbak aktivis kekerasan berbasis gender yang pengalamannya saya todong buat nulis ini, ternyata support system terkuat—dan akar terkuat terjadinya kekerasan—berasal dari keluarga sendiri karena keluargalah tempat semua manusia bermula. Keluarga juga yang membangun fondasi awal karakter manusia. Namun jika ternyata kekerasan itu justru terjadi dalam keluarga, ada keluarga “sambung” yang saling mendukung para penyintas dan tempat curhat yang tepat didampingi para ahli. Namanya Lentera. Bisa dikontak lewat surel di alamat lenteraID@gmail.com atau @lenteraID di twitter. Jangan khawatir identitas dan “aib” terungkap. Semua kerahasiaan terjaga.

Untuk para penyintas maupun sahabat, kerabat dan kenalan yang punya masalah terhadap kekerasan, berikut ini kontak-kontak untuk pendampingan, support group dan pengaduan:

- Butuh konseling setelah mengalami kekerasan/kekerasan seksual? Kontak @YayasanPulih di 021-7884 2580/0888 181 6860

- Desk pengaduan Komnas Perempuan untuk perlindungan kekerasan terhadap perempuan: 021-390 3963

- Butuh pendampingan hukum untuk kasus kekerasan/kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak? Kontak @LBHAPIK di 021-8779 7289

- Mengalami kekerasan seksual (pelecehan/pencabulan/pemerkosaan)? SMS iNSPiRasi Ind. @NSPR12 di 0896 3727 1332

- Advokasi kesehatan reproduksi; info segala hal tentang aborsi, kontak SAMSARA di 0819 889 240

- Tim advokasi perempuan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI): 021-791 83 221/791 83 444

- Desk pengaduan kekerasan/kekerasan seksual terhadap anak, kontak Komnas Perlindungan Anak: 021-8779 1818 dengan Dwi atau Benny

Khusus yg ada tanda "@"-nya bisa di-mention via twitter.


Saya sudah cukup melihat dan mengalami kekerasan. Waktunya potong siklus. Yuk!


Labels:

Jelata Menggugat!

Posted by The Bitch on 3/11/2012 06:13:00 PM

Gambar dari sini

Dear para seleb dunia maya—yang beberapa diantaranya mungkin adalah teman saya,

Sebelumnya maafkan saya yang bukan siapa-siapa ini karena berani nulis yang bakal bikin telinga menghangat dan benak berputar mencari pembenaran. Tapi saya tetap akan melakukannya karena saya, jelata, sudah muak dengan kelakuan kalian yang semena-mena meng-abuse posisi. Dan ini alasannya:

1. Kicauan yang nggak strategis
Oke, kalian berniat baik membagi informasi tentang apa yang kalian tahu. Tapi membanjiri linimasa dengan hal-hal yang bisa saya baca sendiri tautan Wikipedia-nya adalah kesia-siaan dan buang-buang energi. Mendingan ngasih kuliah twitter dari pengalaman sendiri dan nggak ada tautannya. Even better: MENULIS! Jangan bisanya cuma berkicau, mantun nggak jelas tapi melempem kalo diajak nge-G+ atau ngeblog macam menkominfo. Terus ngeblok deh kalo diprotes. Dihidupkan lagi itu blog yang udah hiatus berabad-abad sampe ditempatin sarang laba-laba (atau malah lupa punya hosting dan telat bayar?). Tulis dulu, kasih tag yang bener, nyalain RSS Full (jangan sepotong macam fakir visitor) biar jelata-jelata ini bisa search pakai Google Reader. Habis itu baru deh nge-blast berbusa-busa di twitter. Oh, dan hentikan kata-kata sok baik-tapi-kosong-berbunga-harum-suci-mewangi-macam-vagina-perawan-desa yang mampat dalam gempuran frasa singkat. Saya bisa follow Bapak Mario Teguh Yang Maha Mulia Tak Berdosa untuk mencuci otak saya dengan selalu berprasangka baik. Cobalah untuk tidak tampil vulgar di panggung rezim 140 karakter. Punya malu dong sedikit. Kalian sudah terbukti dan teruji kok dengan pengikut yang jumlahnya segabrug gajah itu. Belum lagi yang meng-RT kicauan kalian dengan komentar puja-puji setinggi surga. Yakin itu tulus semua nge-RT-nya? Bukannya cuma mau ngejilat pantat aja biar di-mention karena kalian selalu menayangkan kembali puji-pujian para jelata social climber?

Dan kalau twitwar yang elegan lah. Kalau ada jelata bertanya maksud kicauan kalian yang berpotensi sebagai friksi, jawab sendiri dong. Nggak usah nunggu jelata lain membela kalian. Ksatria, gitu. Habis berak jangan nunggu dicebokin orang. Kecuali kalian udah jompo, nggak bisa ngapa-ngapain dan cuma terkapar di tempat tidur nunggu mati. Kalo kalah ya nggak usah sampe tutup akun segala terus dibuka lagi tapi gembokan. Jatuh itu sakit, tapi manusiawi. Reputasi nggak dibangun dalam semalam, itu betul. Kalau kalian bisa berdiri lagi dari tumpukan tai, kalian bakal selalu diingat lho sebagai manusia tangguh. Respek yang kalian dapat juga jauuuh lebih besar. Dan please, hindari ngelés bodoh melalui kata-kata yang sebentuk dan sebangun dengan “twit aing kumaha aing, nggak suka ya unfollow aja”. Sebagai pekerja-pekerja digital, kalian nggak mau kan kehilangan calon klien hanya karena kicauan yang menodai citra kalian sebagai mahluk berakal? Jangan sampe lah karena nila setitik rusak susu sebelahnya. Jagalah hati, jagalah susu. Pijat dan kasih minyak bulus biar kekenyalannya terjaga, kencang menantang melawan gaya gravitasi.

Dan saya juga yakin follower-follower kalian bukan orang-orang tak berotak. Hentikan misinformasi. Jujurlah. Mungkin kejujuran nggak ada dalam jobdesc, tapi hubungan personal kalian menuntut itu. Engagement, ring a bell? Kalau nggak berani jujur, alihkan dengan fakta tapi jangan dibikin-bikin. Apalagi bawa-bawa Tuhan dan pahala. Hadeuh, kalian ini cyber-seleb apa Habib sih?! Jangan rancu dong! Pilih salah satu! Kalau memang oportunis pengen jadi cyber-Habib masa kini, berdakwalah dua arah. Sekarang sudah post-jahiliyah. Boker aja bisa sambil online. Cerdaslah. Demokratislah. Siap-siap dikritik sambil berlapang dada.

2. Blog post berbayar

Saya tahu betul bagaimana kalian membangun reputasi dari nol, sebagai blogger biasa yang tulisannya cuma curhat sehari-hari sampai akhirnya bisa dihargai tujuh juta rupiah sekali posting. Nggak, saya nggak ngiler dengan duit segitu. Saya cuma ngiler kalau tidur miring dan mulut nganga. Silakan menganggap saya sirik karena nggak ada yang ngelirik halaman anti-sosial ini. Lapak nyari duit mah masing-masing. Tapi mbok ya jangan segitunya lah jilat pantat klien, nulis produk dengan bahasa berbunga-bunga. Advertorial aja nggak gitu-gitu amat kok. Belajar lagi deh the art of communication. Bukunya banyak, meskipun kalau mau rujukan bagus ya tetep terbitan luar dan berbahasa Inggris sih. Tapi kalau mau Googling hari gini juga udah banyak kok yang nulis kayak gitu dalam Bahasa Indonesia. Atau sana menyimak kelas gratisan para suhu media. Udah ada Akber atau Sharing Keliling tuh yang sering ngadain workshop macem-macem. Nggak usah pada belagu sok keminter nggak mau ikutan kelas karena merasa udah jago, atau karena panitianya temen sendiri. Ilmu mah nggak kenal batasan. Pikirin tuh lapak nafkah dan—lagi-lagi—reputasi.

Kalau blog kalian sudah terlanjur jadi lapak jualan yang isinya tulisan tentang produk, diimbangin dong dengan cerita personal seperti dulu. Kasihan lho para pemantau setia yang jadi sasaran tembak iklan-iklan kalian. Biasanya sih para jelata itu udah pada maklum banget kalo kalian berubah haluan. Liatin aja komen-komennya. Itu ungkapan rasa sayang mereka ke kalian. Dan menurut saya sih gimana kalian membalasnya itu ya dengan ngasih jendela tempat mereka bisa ngintip kegiatan kalian sebagai individu, sama kayak mereka juga. Rasanya nyaman ketika tahu bahwa “dewa sesembahan” ternyata manusia juga. Been there, done that. Dan itu nggak bikin dewa saya berkurang kedewaannya. Serius.

3. Nyinyir nggak berkelas
Emang sih, ngomongin orang pake nyindir-nyindir itu tetep aja jadi sesuatu yang sangat mengasyikkan. Kalian seperti punya kumpulan eksklusif sendiri di ranah publik media sosial—twitter, facebook, G+, forum, sebutin aja—tempat kalian bisa ngomong frontal tentang sesuatu yang memancing rasa penasaran para jelata. Tapi bukannya kalian malah merendahkan intelejensi sendiri ya kalo gitu caranya? Kalo emang nggak suka sama tindakan seseorang—yang juga temen sendiri—mbok ya ngomong langsung sama orangnya. Teman yang baik itu ngasih tau kalo temannya mau jatuh, bukan malah ngediemin atau malah mendorongnya jatuh lebih dalam. Kecuali kalau udah dibilangin tapi orangnya nggak mau dengar, itu baru boleh dibantai *insert suara ketawa Plankton-nya Spongebob here*

Tapi yang mau saya huruftebalkan sih sebenernya masalah eksploitasi. Seringkali kalau pada ngultwit atau update status facebook pada nggak nyadar kalau “berbagi informasi”nya udah keterlaluan. Niat baiknya jadi ternodai oleh eksploitasi. Misalnya nih, ada seleb yang kasih info tentang anak yang sakit dan perlu pengobatan. Ujung-ujungnya jadi nggladrah, being TMI—too much information, salah satu tautan otomatis di twitter jika pengicaunya melanggar batas demarkasi 140 karakter. Cukupkan berbagi informasi tentang update keadaan si sakit, tempat dia dirawat, kontak yang bisa dihubungi untuk cross-check info, jumlah biaya yang dibutuhin (dan sudah terkumpul berapa) dan nomer rekening jika ada yang mau menyumbang. Nggak usah pakai foto segala dengan caption lebay. Being informative and exploitative batasannya memang setipis jembut dibagi seribu, and you all, dear celebs, should know this better. Awalnya mungkin mau bagi-bagi pengetahuan tapi malah terlihat seperti nyinyir nggak pernah makan bangku sekolahan. Dan aturan mulia yang berlaku dalam tiap aspek kehidupan manusia juga berlaku di sini: bagaimana jika kalian ada di posisi mereka, jadi keluarga mereka? Tega liat gambar anggota keluarga kalian yang sedang sekarat nyebar di internet? Kalau anak itu sembuh dan terus hidup sampai besar, gimana perasaannya melihat dirinya sendiri yang dulu pas kecilnya jelek nggak berdaya dengan begitu banyak selang dan cairan tubuh segitu heboh? Dan kalau si sakit akhirnya meninggal, tega lihat pemandangan di ujung hidupnya hanya untuk menangguk komentar “aduh, kasihan”? FUCK YOU! That’s not the way to sympathize! Eat your own fucking bullshit instead of shoving it down our throats!

Saya bisa ngomong begini karena saya juga punya sahabat cantik yang penderita kanker darah. Tiap dia dirawat di rumah sakit dia nggak pernah mengizinkan saya menengok karena dia nggak mau saya melihatnya dalam kondisi berantakan dan pucat. Bayangkan jika itu adalah kalian. Dan rasanya nggak akan bosan saya sebagai jelata berteriak ke kuping kalian: THINK BEFORE YOU POST!!!

4. Pengakuan? Masih perlu ya?
Itu yang diomongin salah satu begawan wangi pandan sepenongkrongan yang sering saya sedot ilmu nyonthongnya. Beliau ini influencer, wartawan senior dan lelananging jagad pematah hati perempuan-perempuan urban cantik jelita yang dipanggilnya dengan sayang, “cupcake”. Sebagai om-om matang dan kemaki, dia memang nggak perlu pengakuan karena dunia sudah ada dalam genggamannya meskipun jalan menuju ke sana—saya yakin—juga nggak gampang dan tidak sebentar. Saya memang hanya lihat hasil akhirnya—mobil keren, anak-istri yang sehat, cerdas dan terawat baik, perangkat bergerak terkini dan mahal-mahal (meskipun usianya tak bisa menipu karena beliau masih harus memelototi layar padahal jaraknya cuma sejengkal dari pangkal hidung), umat/pengikut/jelata, dan job sana-sini. Kesimpulan saya ya cuma satu: pengakuan? Basi! Sekarang itu yang kelihatan ya pembuktian. Jadi, buktikan dong!



Sudah ya, segini aja. Saya sudah puas ngomel-ngomel. Saya nggak melakukan ini karena saya teman kalian. Saya ini jelata. Dan jelata juga punya suara. Meskipun kalian para seleb memperlakukan popularitas seperti tiran lalu—biasanya—mengerahkan pengikut untuk membully massal mereka-mereka yang tak sepaham. I think I’ll take that risk. Dan kalau sampai itu kejadian dan kita nggak berteman lagi, maaf. Nggak temenan sama kalian juga saya nggak mati.

Nggak suka? Silakan komentar. Mau maki-maki personal? Silakan japri. Kalian tahu kan ke mana mencari saya?



Labels:

Sentimental Sunday: Need A Hug?

Posted by The Bitch on 3/04/2012 10:53:00 PM

Be kind; for everyone you meet is fighting a hard battle.

Katanya sih setiap jiwa memanggul salibnya sendiri-sendiri. Makanya kita mesti berbaik-baik sama orang lain. Kasihan kan kalau salibnya terlalu berat dan muka ramah pun nggak dia temukan di perjalanan. Betul-betul double jackpot apesnya.

Saya jelas bukan orang baik. Tapi muka tong sampah saya yang menjadi tempat muntah bagi beberapa orang asing yang saya temui di beberapa persinggahan mungkin bisa dikategorikan sebagai baik. Nggak, bukan berarti muka saya ramah. Bodoh, mungkin. Dan sepertinya wajah bodoh itulah yang membuat mereka nyaman curhat ke saya karena orang bodoh biasanya mudah percaya dan mudah menyediakan telinga tanpa banyak pertanyaan. “Kebaikan” lain yang mengikuti di saat seperti itu ya hanya diam dan mendengar semampu saya, atau pergi jika saya bosan.

Tapi saya senang demi mengetahui makna dibalik gestur curhat orang-orang itu: mereka mempercayai saya. Itu mewah, lho. Hari gini, yang kenal aja sering tipu-tipu, apalagi orang tak dikenal. Kemewahan lain adalah duduk dan saling bicara hal-hal sepele. Sibuk-sibuknya pekerjaan, menjaga jaringan pertemanan dan bisnis, kemacetan kota yang isinya orang-orang urban, menepati janji temu, semua membuat manusia menjadi terburu-buru, bergegas lekas-lekas, berpusat pada tujuan dan melupakan proses perjalanan itu sendiri. Satu-satunya hal yang diberikan sebagian besar manusia semacam itu hanya jembrengan keluhan di jejaring sosial yang berfungsi sebagai kuping/panggung instan untuk didengar dan tampil mendapat tanggapan dari mereka yang dianggap teman.

Sebentar… Teman? Definisikan “teman”.

Buat saya, teman adalah siapapun yang ada dan bisa saya ajak berbagi apapun saat itu, at the moment. Terutama berbagi cerita dan minuman hangat. Saya tidak harus kenal dengannya, atau malah sudah kenal berabad-abad sebelumnya. Karena saya punya relationship issue—in any kind—saya tak lagi menggenggam teman. Manusia tak bisa dimiliki karena mereka—kami, saya—punya jalan masing-masing. Menggenggam manusia sama dengan menggenggam pasir. Semakin keras genggaman, semakin banyak butirannya menggelincir dari sela jemari, semakin sedikit yang tersisa di telapak. Begitulah.

Menurut yang pernah saya baca (lupa di mana), di abad pertengahan, jika orang—terutama lelaki—mengajak bersalaman dengan tangan kiri tandanya dia percaya. Ini mungkin hoax. Dicek lagi aja. Tapi katanya sih karena tangan kiri bertugas memegang perisai pelindung diri sementara senjata ada di tangan kanan. Mengangsurkan tangan kiri untuk bersalaman berarti melepaskan perisai, membuka tubuh untuk serangan apapun, memasrahkan keselamatan nyawa yang cuma selembar itu bulat-bulat pada orang yang akan diajak bersalaman.

Zaman sekarang gestur saling percaya seperti itu mungkin bisa didapat dari pelukan antara dua orang teman, dimana dua zona personal radius 50 cm dari tubuh melebur jadi satu tanpa penghalang, mengejewantahkan kerinduan, merobohkan benteng-benteng virtual yang dibangun masing-masing individu, berbagi suhu dan bau keringat, melintasi jenis kelamin, preferensi seksual, dan batas-batas kepantasan yang kukuh dipegang orang timur. Pelukan juga kepasrahan diri instan yang begitu hebat hanya dalam beberapa detik karena oleh para profesional gerakan itu bisa meremukkan iga atau menyembunyikan pisau yang terselip lalu menancap di punggung.

Saya nggak pernah menyadari itu sebelumnya sampai suatu hari beberapa orang yang saya anggap belahan jiwa melakukannya. Berbilang tahun saya mengenal lelaki-lelaki yang sudah saya anggap abang saya sendiri, namun berbilang jari saya berhadapan dengan mereka. Nggak pernah saya merasa kehadiran saya begitu sangat diinginkan kecuali oleh pelukan hangat mereka sambil menepuk punggung dengan lembut pada saat kami bertemu atau berpisah. Dan nggak pernah saya merasa begitu telanjang ketika adegan tersebut dilakukan di tempat ramai, dilihat puluhan pasang mata yang sedang melintas di stasiun atau terminal tempat saya menunggu mereka datang atau mengantar mereka pergi.

Awalnya memang canggung sekali. Pertama kali, saya nggak tahu mau ngapain, membalas atau hanya diam mematung. Namun melakukan pilihan kedua rasanya seperti sebuah dusta besar. Bohong kalau saya merasa nggak kangen. Bohong kalau saya menafikan rasa hangat yang sepertinya bermula dari dalam rongga dada lalu menjalar hingga ke ujung-ujung rambut. Bohong kalau saya merasa nggak senang. Jadi, yang bisa saya lakukan hanya membalas. Sepersekian detik kemudian saya mengerti betul artinya sebuah penerimaan yang jujur, tanpa layer-layer tendensius, tanpa tuntutan. Sejak saat itulah akhirnya saya mencoba menularkannya ke beberapa orang sahabat.

Tadi pagi saya sempat ngobrol dengan salah seorang karib yang punya masalah dengan penghianatan. Perempuan yang dipacarinya dua tahun ternyata selingkuh lalu menikah dengan lelaki lain, meninggalkan dia sendirian dengan hati berkeping-keping dan kepercayaan hancur. Namun dia tak bisa melupakan pelukan, terutama ketika gempuran hujan di atap rumah menjalarkan dingin hingga kamarnya di lantai dua. Baginya, pelukan menjadi sesuatu yang sangat pribadi, hanya dilakukan oleh dua orang kekasih. Seperti bercinta. Bagaimanapun saya mencoba memberi pandangan lain, dia tak juga yakin. Saya nggak tahu, mungkin dia masih terluka sehingga benteng virtualnya dia buat tebal sekali sampai tak seorang pun boleh menyentuh kulitnya. Dan saya hanya punya harapan semena-mena: semoga lukanya cepat sembuh dan dia bisa berbagi kebahagiaan lagi tanpa takut sakit.

Dan suatu malam kawan lain bercerita tentang kesedihannya karena memendam cinta sejenis yang tak berani dia bilang ke siapapun. Nyalinya belum cukup besar untuk membuatnya mampu melawan arus dalam keluarga religius-patriarkis dan lingkungan pekerjaan yang sangat chauvinis. Bahkan memberanikan diri untuk bicara pada saya pun perlu satu pitcher cocktail—yang memang sudah dia niatkan jauh-jauh hari. Dan seperti biasa, muka tong sampah saya bekerja. Haha.

Ketika kesadaran hasil segelas susu hangat dan larutnya malam membuatnya terjaga, saya mengantarnya menunggu taksi. Dan begitu saja, di pelataran ruko, tiga langkah dari pinggir jalan yang masih ramai kendaraan, setengah mengantuk dia berkata, “will you hug me?” Saya seperti sedang ditodong pistol di pelipis namun dengan senang hati menariknya dalam pelukan sambil berkata, “of course I will, silly!”

Saya pemeluk amatir. Saya bukan pemeluk impulsif karena melanggar zona personal membuat orang tidak nyaman sebagaimana ketidaknyamanan saya jika zona personal saya dilanggar. Tapi saya akan memberi semua yang masih gratis, termasuk pelukan. Sebagaimana Winnie the Pooh dalam Pooh’s Little Instruction Book berkata, “you can’t stay in your corner of the Forest waiting for others to come to you. You have to go to them sometimes,” jika kebetulan kita bertemu, mintalah pelukan pada saya jika kamu perlu penerimaan instan, kehangatan seorang teman, atau sekadar ingin berbagi sedih tanpa harus bicara. Saya tak menjamin masalahmu selesai, tapi setidaknya kamu akan merasa lebih baik.

Berani?


Labels:

Jumatan: God, Anyone?

Posted by The Bitch on 3/02/2012 06:29:00 PM

Gambar dicolong dari http://goo.gl/rhBBg



Apakah Tuhan...

berkehendak mencegah kejahatan tapi Dia nggak mampu? Berarti Tuhan nggak maha kuasa, dong.
 

mampu mencegah kejahatan tapi Dia nggak mau? Yah... Tuhannya kejam. 

mampu dan mau mencegah kejahatan? Lantas, kenapa kejahatan masih ada?

nggak mampu dan nggak mau mencegah kejahatan? Terus, kenapa masih menyebutNya sebagai "Tuhan"?

-- Epicurus 


Jadi, menurutmu gimana?

 




Labels: