"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

On the Road

Posted by The Bitch on 2/29/2012 06:18:00 AM

Gambar dicomot dari http://goo.gl/LG8SI

Nggak kok. Meskipun judulnya seperti itu, tapi saya nggak berniat ngomongin kitab suci para pejalan yang ditulis Yang Maha Mulia Nabi Seluruh Petualang Jack Kerouac AS. Saya cuma mau cerita perjalanan Radiodalam-Blok M-Bekasi yang saya lakukan siang-siang pukul satu. Agak aneh memang, karena biasanya saya selalu lebih nyaman pergi malam. Nggak ada terik matahari menikam punggung, nggak ada pemandangan seperti gambar di atas, nggak ada riuh berisik klakson kendaraan yang tak sabar menunggu antrian jalan. Tapi demi menjawab kekhawatiran Bu Anggi, ya saya bela-belain pulang lah biar terbukti masih hidup. Haha.

Ini yang saya temui dalam perjalanan:

1. Pengamen
Iya, banyak sekali pengamen bahkan di satu bis kota, bergonta-ganti nggak saling rebutan. Di Metro Mini 72 itu yang pertama tampil adalah bapak tua bergigi jarang yang ramah sekali. Pas naik saya pikir bis ini mempekerjakan usher selain kondektur penarik ongkos. Setelah beliau bersandar di pintu dan menggumamkan doa-doa dalam bahasa Arab lalu mengedarkan kantong bekas permen, saya baru sadar bahwa bapak itu adalah pengamen. Baiknya si bapak, doanya sama buat yang ngasih dan yang nggak ngasih recehan: semoga Si Enéng sekolahnya lulus, nilainya bagus (sambil nyengir ke salah satu mbak-mbak berseragam SMU); semoga Si Ujang kerjanya bisa bawa duit banyak (lalu mencolek mas-mas rapi yang gelagapan karena nggak nyangka bakal ditunjuk saat dia terkantuk-kantuk).
     Tak lama setelah bapak itu turun, masuklah satu bocah lelaki kecil yang masih mengenakan seragam olah raga sebuah SD Negeri di Ciledug dan satu pemain ukulele. Mereka bernyanyi lagu-lagu Islami. Biasa saja. Tapi ya, namanya juga bocah (yang kira-kira masih kelas 2 atau 3). Lagunya sering off-tunes tapi tertolong dengan suaranya yang lucu dan bocah banget. Apalagi kalau dia kehabisan napas di tengah-tengah. Hihi.
     Sesudah itu abang-abang berlogat Batak beraroma alkohol, berkulit legam, bermata sedih dan berwajah keras (namun punya suara aduhai keren dengan vibra teratur dan petikan gitar yang nggak asal-asalan). Sepertinya dia punya dendam tertentu karena selesai menyanyi dia "beredar" sambil berkata, "saya ngamen, Om dan Tante, nggak kayak anak punk atau orasi". Kalau nggak digubris oleh penumpang, dia akan mengulang-ngulang kata-kata itu sambil mencolek-colek dengan gerakan intimidatif. Kalau dikasih? Wah, dia akan menghentak keras pada suku kata pertama dalam ucapan "terima kasih, semoga amal rejekinya banyak, semoga nanti masuk surga."
     Bang Batak segera berganti dengan mas-mas rada gondrong kriwil yang muka berminyaknya berhiaskan jerawat seperti gemintang menera malam tak berpurnama (halah!). Dia lantang menyerukan kata-kata pembukaan--yang saya juga nggak denger-denger banget sih. Wong keberisikan kebut-kebutan. Dengan pelafalan bahasa Inggris patah-patah, suara lumayan (dan otot leher yang ketarik banget pas nada tinggi), ternyata dia membawakan lagu ini:



Sebelum mobil-mobil ngebut sialan itu menenggelamkan suara mas berjerawat, saya sempet dengar sih, waktu dia teriak "yang sedang berjuang..." lalu hilang. Penasaran dengan teriakannya itu, sambil mengangsurkan uang seribuan saya iseng bertanya (sok-sokan) menggunakan psikologi kebalikan untuk mendapat penyangkalan: "eh, tadi lo bilang apa di depan? Orang-orang yang membela agama ya?" Dan jawabannya: "Nggak. Lagunya universal, bukan agama doang. Ini solidaritas buat mereka yang berjuang demi kemerdekaan. Kan lagu tentang Palestina." Oh, wow. Saya jadi bengong ngeliatin masnya yang menjawab dengan keren sekali itu hingga dia turun di Bulungan...
     Masih ada tiga pengamen lagi di bis ACOS (AC 05, Mayasari Bhakti jurusan Blok M-Bekasi Timur/Barat). Ada mas-mas beralis nyelirit seperti alisnya Drew Barrymore. Dia menyanyikan lagu-lagu daerah (Siapa Suruh Datang Jakarta, Sajojo, dan satu lagu Sunda yang saya lupa judulnya. Saya seperti sedang ada di acara Tujuhbelasan...), Shalawat Badar dan lagu pujian lain dengan iringan ukulele. Terus mas-mas "Nia Daniati" karena yang dia bawa ya lagu-lagunya beliau itu (siang-siang, di luar panas, di dalam bis berpendingin... Saya jagoan banget itu bisa nggak ketiduran!). Lalu bapak-bapak dengan instrumen modifikasi sendiri (rebana ukuran sedang yang dia tabok dengan tangan berselip botol kecil berisi pasir. Kasihan rebananya) yang--lagi-lagi--Shalawatan.
     Kesimpulan: Lagu-lagu Dream Theater dan KoRn kurang laris diantara pengamen.

2. Asongan
Ini standar sih. Biasa. Di dalam bis trayek mana pun (kecuali Trans Jakarta kali ya?) kalo nggak pengasong grass root semacam tukang tahu, manisan/kacang/buah seribuan atau minuman dingin ya paling tukang tisyu/permen/kerupuk (eh, saya kangen sama tukang kacang atom/permen jahe. Sedih, udah nggak ada lagi. Semoga mereka dapat penghidupan yang lebih baik. Tapi kacang atomnya enak lho!). Yang lebih advanced biasanya pake topi, bawa ransel dibalik, terus pas sudah ada di depan bakal pengumuman, "yak, permisi bapak-ibu, om-tante. Di sini kami mencoba menawarkan..." lalu cuap-cuap sebentar menjelaskan dagangannya, kemudian keliling membagikan barang yang akan dia ambil lagi setelah calon pembeli liat-liat. Ya kalo emang mau beli nggak bakal diambil lagi sih, tapi dituker duit (eh, tukang permen jahe/kacang atom itu juga begitu lho cara jualannya. Serius!).
     Tapi ada yang menarik dari mas pengasong advanced yang "presentasi" dagangan kemarin siang: kacamatanya keren! Iya, kacamata yang bagian pangkal hidungnya bisa dicopot dan gagangnya melingkari bagian belakang kepala itu! Terus "customer satisfaction comes first" adalah motto yang dia pegang teguh meskipun nggak sampe 20 menit dia di atas bis. Akibat nggak ada kembalian buat "customer" yang uangnya limapuluhribuan (dan dijawab dengan gelengan kepala setengah sebal oleh pak kondektur waktu ditanya tukeran duit), dia rela-relain turun dan buru-buru nodong pak timer lalu bergegas menghampiri pelanggan yang tadinya sudah kecewa uangnya dikembalikan dan batal beli. Dan semua dia lakukan dengan senyum selalu di muka!
     Yang lebih asyik lagi, waktu dia "presentasi" jualannya yang adalah semacam rubik tapi berbentuk panjang, sambil mencontohkan cara mainnya dia berkata "kebetulan saya ngajar PAUD, bapak-ibu. Biasanya kalo saya ngasih contoh bikin permainan edukasi ini ke anak-anak didik, saya sambil nyanyi. Pelangi-pelangi atau Balonku. Kebanyakan pada nggak bisa lagu anak-anak. Taunya Cinta Satu Malam, tapi malah dibilang pinter sama orangtuanya. Apanya yang pinter itu kalo kecil-kecil udah pada tau Cinta Satu Malam?!" Whoa!
     Tadinya saya sudah sempat terkuple-kuple dengan argumentasinya tentang anak-anak, cinta satu malam dan profesinya sebagai pengajar PAUD. Tapi waktu dia mendekat dan kancing di ujung kemeja lengan panjangnya terbuka menyingkap banyak sekali tato, well... dengan segala hormat buat kalian-kalian yang bertato. Nggak maksud diskriminatif. Tapi saya mikir, menimbang lingkungan Jakarta dan sekitarnya yang sebagian besar masih normatif, kira-kira PAUD mana yang mau mempekerjakan orang tatoan? Tapi saya berpikir positif saja lah. Dan saya masih bertanya-tanya. Kemana perginya tukang kacang atom?

3. Iklan
Saya baru ngeuh kalau Jakarta dan wilayah buffer-nya itu terlalu banyak polusi. Polusi suara dan udara nggak usah dibahas lah ya. Udah bosen. Saya juga nggak menafikan usaha minimalisir, dengan hari bebas kendaraan dua kali sebulan di jalan-jalan protokol atau penanaman jalur hijau berpohon. Tapi sepertinya polusi visual belom ada yang peduli ya.
     Saya ngiler lho lihat iklan Galaxy Note sealaihim gambreng di billboard Gatsu. Pengen (ya kali gitu ada malaikat baik hati nyasar ke sini terus mau beliin saya yang lagi nggak punya gadget ini. Tapi kalo mau beliin sih mendingan HTC setengah-tablet-separo-smartphone yang masih bisa masuk saku jins). Terus gambar cengiran menjijikkan bapak-bapak dari partai anu-itu-onoh segede dosa, berpose dengan keluarganya (yang nggak ada hubungannya sama platform politik yang diusung). Lalu--ini yang paling konyol--iklan pariwisata Malaysia.
     Bitch, please?
     Ngelonthé sih ngelonthé, tapi jangan semurahan dan sevulgar itu dong! Punya harga diri lah sedikit. Itu jalan protokol Jakarta, ibukota negara. Diantara segitu banyak billboard raksasa katro berbahasa ala Orba milik negara kalian sendiri, iklan pariwisata Malaysia--negara jiran yang kedutaannya sempat dilempari tahi oleh orang sini--petentengan dengan kapasitas estetis nan elegan setara iklan kartu kredit muwahal. Cukup lah Pak Sudirman berdiri megah menghormat pada bobroknya transportasi dan kemacetan tiap hari di jalan yang diambil dari namanya itu. Jangan tambahin lagi kesia-siaan pahlawan Indonesia dengan simbol bodoh yang nggak lebih dari kerakusan pemerintahnya.
     Oh, kecuali kamu ke sana sendiri, mungkin kamu nggak akan percaya kalo spanduk kuning berlogo PU di Pintu GBK Senayan sebelah FX--per 28 Februari 2012 sore--tulisannya gini:

Mohon maaf perjalanan Anda terganggu. Tapi kami sedang berusaha keras menyelesaikan pekerjaan.

Oke, sekali lagi, rame-rame... BITCH, PLEASE? Keseringan ngetwit galau ya? Susah move on? Atau learning from The Best Prihatin-man of the Century alias Papa Nobita?
     Terus lepas Jatibening arah ke Bekasi, coba deh liat ke kiri. Bagian belakang bangunan dialihfungsikan jadi ruang iklan operator ponsel, menghajar mata dan benak tanpa kita punya persiapan membendungnya. Wahai para penemu cat. Dosa apa yang pernah kalian perbuat hingga penemuan kalian disalahgunakan separah itu?!            

4. Kontainer Berbahaya
Jadi, lepas dari pintu tol Jatibening saya sudah mendapati truk tangki putih dengan ujung aneh. Bentuknya lebih kecil, nggak seperti truk tangki yang sering saya temui, apalagi seperti ini:                

Gambar nemu dari Facebook-nya siapa, mbuh ((=

Di tangki putih itu, di tempat yang harusnya bertuliskan SEDOT WC seperti gambar di atas digantikan dengan tulisan DALAM KEADAAN DARURAT, HARAP HUBUNGI... (deretan nomor telepon yang saya nggak inget). Karena kebetulan ACOS saya lebih kencang larinya, kebalap deh tuh truk tangki dari sebelah kanan. Ternyata keterangan di sisinya terbaca... jreng-jreeeng... CO2 Cair. Di pintu supirnya bertuliskan "pengemudi bersertifikat bla bla bla". Bapak di belakang setir terlihat serius sekali meskipun handuk putih panjang yang melindungi kepalanya terlihat agak komikal.
     Di depan tangki putih itu ada truk gandeng buwesaaar sarat muatan terlindung terpal sedang berjalan terseok-seok. Lalu di depannya lagi... pickup berisi ayam hidup dalam kurungan sesak, tanpa tutup. Lalu kontainer, truk, truk, kontainer, truk, kontainer yang nggak ada pintu belakangnya, truk, truk, tangki putih lain yang di sisinya terbaca... jreng-jreeeng... Nitrogen Cair. Dan perjalanan gerbang tol Jatibening-Bekasi Timur nggak pernah sama setelah ini...
     Saya memang rada males nyari-nyari peraturan. Tapi sependek pengetahuan saya bukannya ada waktu-waktu tertentu ya untuk barang gede-gede dan berbahaya seperti itu masuk tol? Bukannya harusnya malem alih-alih siang menjelang sore jam setengah tiga pas lalu-lintas mulai padat? Setidaknya kalau jalan malam kan minimizing damage kalo kenapa-kenapa. Apalagi nitrogen cair. Gimana kalo supirnya kena maag mendadak terus nyetirnya melintir terus tangki nitrogen cairnya menghantam jendela bis tepat di kursi saya lalu saya membeku, sel saya termutasi, lalu saya jadi superhero berubah jahat?
     Oke. Abaikan mulai dari "tepat di kursi saya" sampai tanda tanya.

5. Para Penidur
Ini yang paling menyenangkan. Diberkatilah mereka yang bisa lelap dalam kondisi apapun. Saya salah satu yang susah berbahagia karena tidur di kamar sendiri pun juga sering susah. Tapi saya suka melihat orang-orang kelelahan tertidur, manthuk-manthuk nggak peduli sekitar asalkan hajat biologis tuntas tertunai. Sepanjang perjalanan kemarin memang banyak yang seperti itu, tapi kurang seru. Cuma ada mas-mas sok keren, bapak-bapak nganga, ibu-ibu ngécés, daaan... perempuan kecil berseragam SD yang kemarin saya dapati hampir terjatuh dari kursinya karena membungkuk terlalu jauh dengan mata terpejam. Untung saja pak kondekturnya baik. Dia lalu membangunkan si anak dan disuruhnya pindah ke pojok di deretan kursi lain yang masih kosong. "Nanti dibangunin kalo udah sampe Blok M," ujarnya. Ah, satu lagi ternyata yang bisa saya temui di jalan: orang baik (=


Perjalanan kemarin membuktikan, ternyata mata saya nggak pikun-pikun amat untuk bisa mengingat bagaimana menyenangkannya observasi. Terima kasih, gadget yang rusak. Ternyata kamu bawa kebaikan juga, walaupun jadinya banyak momen yang nggak bisa ditembak pakai kamera ponsel. Tapi mending begini sih daripada terlalu latah mengumbar apapun di jejaring sosial. Verba volant, scripta manent. Hell, yeah!



Labels:

About A Job

Posted by The Bitch on 2/28/2012 12:49:00 PM


It's all the same. No pain or sorrow. I am just indifferent. And it's just a job

- Death in Sandman by Vertigo Comics, that I forgot which edition and don't want to waste my precious time to track it down. But isn't she pretty?

My friend once said that an onion peeler is still a profession. She works her ass off to peel the onions, meeting the target with all of the process she must endure--tears and sore thumbs--daily, with one or two whining. He also pointed out series of pictures of an attendant in a mosque's toilet in the outskirt of a remote area when he stopped by for a rest. What he thought to be a short stop turned out into a half day, thanks to the toilet attendant's integrity for his job. It was his creed that astonished my backpacking friend: I can't do anything but doing my best, though it's only for a toilet. It's not for me. It's for people like you who longs for a rest and relief comfortably.

The mosque was the one you could meet along Pantura route: a small, solemn, quiet, praying house except for the 5-times-a-day adzan whose backside completed with the most standard restroom with three-fourth door (or none at all). Inside, the toilet is ornamented with a pair of tiled steps each to a hole and a modest basin on which supposed-to-be-fresh-yet-salty water poured from a pipe corked by a wooden stump.      

The praying house was gloomy, he said. But the toilet was surprisingly clean and bright despite the resided greenish mold left from the nooks that the brush could not reach. The attendant himself is an old man of more than 60 with the head of almost white and few teeth left when he smiles--that he did frequently. Though he had his difficulties when getting all down in cleaning the floor, he did it twice a day without complaining.

When it came to his reward, my friend fell silent all of a sudden. He took whatever the customers gave him, a mere 500 rupiah of a coin or a worn-out 2,000 notes. He doesn't put standard on the price, on the effort he had to make, day, by day, by day. He loves what he does.

And that was what I'm trying to do since becoming a freelancer for almost three years, for the love of language. I do some translation job since I was in school and at the present time, Indonesian to English and vice versa. Some are for corporates, curatorial of art exhibitions, or simply handouts for learning materials. I did my time, of course. Desperately groaning, sometimes, because I'm not into flowery words in praising one's company yet I should do frequently if I happened to work on a company profile. But I always amazed in what the language represents, in conveying message, to communicate, to divert readers' attention, to give way to an idea in penetrating ones' mind, to swoop a girl from her feet and fly her high to the sky just by reading the words her boyfriend sent in her SMS inbox. As my other friend stated, word has power. It's almost... magical.

Thus, it is more than reasonable if I think that a client who is still bargaining my predetermined fee (or even asking it for free, no matter how effortless the job might seems) is an ugly, ungrateful, bag of shit, asshole for degrading my work and professionalism. Not to mention debasing her or his own integrity. Not even when he or she is meant to be joking. Listen up, Dickhead. I did it before the deadline, without typo, and with much consideration I suggested some corrections to be put on your original text should you consider it to print or publish. It's not a matter of money. I'd rather go broke and spent my days eating nothing but my pride than having you arrogantly bid below my standard and get away with pride greater than mine. I'm a boastful and my tongue is sharper than a scalpel. So, save us some times and don't come near. Because it's in my blood that if I'm good at something, I'll get paid from it.

So, here's my two-cent, dear Dickheads: learn fucking English and get off of my back!




Labels:

Death, Anyone?

Posted by The Bitch on 2/27/2012 12:38:00 PM

Upacara Pembakaran Mayat, ©2008 Ed Wray, AP Photo 

Death is before me today:
Like the recovery of a sick man,
Like going forth into a garden after sickness.

Death is before me today:
Like the odor of myrrh,
Like sitting under a sail in a good wind.

Death is before me today:
Like the course of a stream,
Like the return of a man from the war-galley to his house.

Death is before me today:
Like the home that man longs to see,
After years spent as a captive. 

- Dream in The Sandman #8: The Sound of Her Wings p. 19-20 by Vertigo Comics


Saya selalu takjub dengan kematian. Ada begitu banyak misteri meliputinya. Ia seperti wilayah gelap tak berlampu, seperti hutan angker yang dikeramatkan namun juga disembah karena keangkerannya. Sebagian besar manusia menganggap kematian sebagai hal menakutkan karena tidak ada seorang pun yang pernah kembali dari kematian yang betul-betul mati. Tak seorang pun tahu betul bagaimana rasanya di "sana". Yang mati suri lalu bercerita tentang petualangannya di alam tak hidup pun masih diragukan kesaksiannya. Ada peneliti yang bilang bahwa itu hanya reaksi otak bawah sadar yang memang tak benar-benar hilang. Ada juga ilmuwan yang menyatakannya sebagai sekadar imaji kolektif hasil tontonan buatan Hollywood tempat dunia antah-berantah antara hidup dan mati digambarkan terang gilang-gemilang bermandi cahaya ilahiah dari atas (jika orangnya baik) atau gelap dedet tanpa cahaya atau pijakan (jika nalurinya menyatakan dia orang jahat). Well, kecuali mungkin beberapa orang dengan tingkat relijius tinggi yang kemudian berhasil menarik beberapa pengikut melalui testimoni-testimoni dalam seminar yang mirip kumpul-kumpul peserta MLM.

Tak banyak manusia yang menganggap kematian sebagai kelegaan. Padahal, sebagaimana mahluk punya insting bertahan hidup, saya percaya kalau di satu titik tertentu kami pun punya insting mati. Misalnya dalam kondisi seperti ini:

Holding his knife, the bearlike Mongolian officer looked at Yamamoto and grinned. To this day, I remember that smile. I see it in my dreams. I have never been able to forget it. No sooner had he flashed this smile than he set to work. His men held Yamamoto down with their hands and knees while he began skinning Yamamoto with the utmost care. It truly was like skinning a peach. I couldn't bear to watch. I closed my eyes. When I did this, one of the soldiers hit me with his riffle butt. He went on hitting me until I opened my eyes. But it hardly mattered: eyes open or closed, I could still hear Yamamoto's voice. He bore the pain without a whimper--at first. But soon he began to scream. I had never heard such screams before: they did not seem part of this world. The man started by slitting open Yamamoto's shoulder and proceeded to peel off the skin of his right arm from the top down--slowly, with care, almost with love. As the Russian officer had said, it was something like a work of art. One would never have imagined there was any pain involved, if it weren't for the screams. But the screams told the horrendous that accompanied the work.
- Haruki Murakami's The Wind-up Bird Chronicle, p. 159
Iya, saya suka banget bagian ini. Mungkin imajinasi saya amat sangat kebangetan sampe saya bisa ngebayangin gimana rasanya jadi Pak Yamamoto dan satu-satunya pembebasan dari kesakitan itu adalah hanya dan cuma kematian.          

Manusia dan budayanya tunduk pada kematian dengan pemuliaan. Di ujung hidup seseorang, kerabat dan keluarga menghormati keberadaan mendiang dengan upacara-upacara penuh makna. Islam punya Sholat Jenazah dimana mayat dimandikan, dikafani, lalu didoakan khusus dengan sembahyang. Katolik punya Misa Requiem dengan wangi dupa mengambang kental dan doa-doa berkumandang dalam lagu dan suasana menggigilkan di gereja-gereja. Bali punya pembakaran mayat yang menghabiskan biaya hingga ratusan juta, sementara orang Batak "membantai" puluhan babi dan kerbau untuk mengantar mendiang ke alam arwah dengan selamat. 

Itu baru di Indonesia. Kalau iseng, datanglah pada upacara kematian siapapun, tak perlu kenal siapa mendiangnya. Ada banyak cara, ada banyak ragam, tergantung lingkungan si mati. Dalam masa hidup saya yang belum begitu lama ini, dari beberapa film dan beberapa kali browsing nyasar, rasanya yang paling mencengangkan adalah upacara kematian di Tibet dan Jepang. 

Di Tibet ada yang dinamakan Sky Burial, Upacara Langit. Mereka punya malaikat berupa burung-burung pemakan bangkai besar-besar, datang bergerombol dalam jumlah banyak. Setelah mayat disemayamkan di rumah duka selama beberapa hari, "penjagal" akan membawa jenazah ke puncak gunung atau bukit, sendirian (saya sempat melihat seri foto Sky Burial ini dimana "penjagal" tersebut meletakkan tubuh tak bernyawa bertutup lembaran plastik besar di boncengan motornya. Tapi jangan minta URL-nya. Saya nggak yakin kamu masih bisa makan setelah melihatnya). Setelah sampai di tempat tujuan, mayat diletakkan di lempengan batu untuk kemudian dipotong-potong tepat di bagian sendi (see? Masuk akal kan kalau saya bilang "penjagal"?): bagian leher, pangkal lengan, siku, pangkal paha dan lutut. Sudah? Belum. Dalam proses penjagalan itu para "malaikat" yang tertarik aroma mayat akan datang. Potongan daging agak busuk itu kemudian akan disebar dan habis dalam waktu kurang dari satu jam. Belulang dan tengkorak yang tersisa kemudian diambil lagi untuk dihancurkan dan dicampur jadi satu agar para "malaikat langit" yang telat datang ke perjamuan juga masih bisa berpesta. Semua harus habis tak bersisa untuk memudahkan perjalanan roh ke surga melalui pemakan bangkai bersayap. Buat saya ritual itu adalah yang paling membawa berkah bagi semua, bagi manusia dan alam. Menempati posisi dekat sekali dengan Everest, gunung paling tinggi di dunia dengan puncak tersaput es abadi, siapa yang mau menggali tanah keras dalam cuaca dingin menggigit hanya untuk mengubur mayat? Lagipula suhu yang di bawah titik beku itu malah mencegah penguraian. Makanya, dengan ritual ini semua masalah terselesaikan: burung bangkai kenyang, manusia tak perlu susah payah, dan penyakit yang kemungkinan bisa menyebar dari mayat pun bisa dicegah.

Dan Jepang? Oh, dari film Departures saya makin yakin bahwa orang Jepang memang paradoks. Segala macam genre anime dan manga dari yang "bersih" sampai yang "dekil" (beberapa diantaranya yang saya hafal adalah hentai yang terbagi lagi menjadi vanilla, yaoi, dan goru) dan macam-macam genre musik dari yang jazz, ska, fusion sampai J-Pop dan J-Rock tak membuat mereka berpaling dari berbagai upacara dan perayaan adat. Termasuk menyambut kematian. Di film itu digambarkan bahwa yang hidup betul-betul memperlakukan mendiang dengan segala pemuliaan dan kukuh menjaga kehormatan si mayat. Salah satunya adalah tetap menjaga tubuh kaku itu selalu tertutup ketika dibersihkan. Cara si petugas profesional dengan taktis namun lembut melenturkan tubuh yang sudah memasuki fase rigor mortis, dengan sapuan kain antiseptik di bawah kimono yang melesak hingga ceruk terdalam, dan kelembutan kuas lipstik di atas bibir si mayat, bagi saya sangat kontemplatif. 

Terus kalo kamu mati mau diapain, Pit? 

Ummm... Saya kepikiran donor organ sih. Meskipun nggak yakin dengan paru-paru saya, tapi rasanya ginjal, liver, hati, jantung, kornea, retina, selaput otak dan seluruh organ lain (kecuali pernapasan, apalagi bulu hidung) masih cukup sehat. Saya membayangkan ketika pada suatu masa saya memutuskan eutanasia karena sudah cukup hidup, tubuh saya terbujur kaku dan bolong di meja operasi setelah dokter-dokter internis memanen jeroan dan kembali ke pasien masing-masing untuk melakukan pencangkokan. Tak perlu lah bolong akibat irisan Y itu ditutup. Cukup satu dokter jagal memotong-motong sisa badan saya dalam ukuran bite size untuk kemudian diserahterimakan oleh kerabat atau keluarga. Setengahnya akan dilarung jadi makanan ikan di tengah laut. Separonya lagi akan disebar di kebun belakang atau dikubur di bawah pohon mangga supaya buahnya manis. Begitulah. Setidaknya sampai saya mati pun saya masih akan berguna buat mahluk lain.

Tapi kemudian saya berpikir bahwa sebenarnya upacara kematian itu bukan untuk yang mati tapi malah untuk yang hidup. Dan penghormatan terakhir itu jadi semacam kemunafikan kolektif agar tak dianggap kerabat atau keluarga durjana. Jadi, kesimpulannya, saya sih pengennya seperti yang saya bilang tadi. Tapi kalau kemunafikan kolektif kerabat saya berkata lain, ya saya mau bilang apa, coba? Kalo pun saya nanti dikafani, disholatkan, lalu dikubur utuh di pemakaman Islam pun saya nggak bakal bisa protes juga kan? Wong napas aja udah nggak ada. Saya juga nggak bisa mengeluh kalau suatu hari nanti penanggungjawab saya kehabisan uang untuk menyewa sepetak tanah kuburan dan belulang saya ditimbun mayat baru.

Terus? Kesimpulannya apa, Pit?

Ya mati mah mati aja. Mau diapain nanti kan cuma bisa ngarep pas hidup. Sementara itu? Ya dinikmati saja =P




Labels:

Tentang Kekerasan

Posted by The Bitch on 2/25/2012 09:35:00 PM

KKK on Vanity Fair


©2009 James Nachtwey/National Geographic

PENYANGKALAN:
TIDAK RAMAH-BANDWIDTH! Ada banyak sekali link dan satu video YouTube yang saya harap para jiwa-jiwa kesasar di sini nggak segan melihatnya. Dan seperti judulnya, saya akan banyak membacot masalah kekerasan yang dilakukan atas nama apapun yang bisa "dijual" untuk menarik simpati berbasis kemarahan dan sentimen. Keberatan? Silakan lawan ide dengan ide, tulisan dengan tulisan. Tapi saya MUNGKIN akan berusaha sebisanya untuk obyektif, kok. Mungkin.


Bisa lihat kan dua gambar tersebut? Bisa lihat kemiripannya? Iya, para "pelaku"nya sama-sama mengenakan penutup wajah untuk melindungi identitas mereka. Secara tindakan dan prinsip, melihat sejarahnya, saya berani bilang tak ada beda antara gambar yang kanan dan kiri. Yang kanan adalah kelompok Klu Klux Klan. Kelompok ini didirikan tahun 1865 di Tenessee, pedalaman Amerika sana, oleh mereka yang percaya supremasi kulit putih dan nasionalisme menurut mereka sendiri melalui ancaman, kekerasan dan pembunuhan terhadap orang kulit hitam. Mereka juga mengaku sebagai penjaga moral dan anti kemaksiatan dalam koridor kekristenan yang tegas. Dan usia organisasi mereka jauh lebih tua dan lama dibanding rekan seperbrutalannya yang di sebelah kiri.

Sementara yang kiri sering sekali saya dapati lantang meneriakkan nama Tuhan yang Maha Besar namun bahkan lupa untuk saling berbalas kasih sebagaimana salam yang diajarkan oleh Muhammad Sang Nabi. Cara mereka agar tindakannya bisa diterima adalah dengan menegur dua kali melalui surat kepada pihak-pihak yang mengguncang keberadaan--maaf, maksud saya keimanan--mereka, lalu men-sweeping jika tak ditanggapi. Pihak-pihak ini bisa berbentuk apapun, mulai dari tempat maksiat sampai instansi pemerintahan. Saya miris di bagian ini. Tanpa memberi kesempatan mendapat pekerjaan halal, mereka hanya bisa teriak bahwa apa yang dilakukan pekerja-pekerja di tempat maksiat itu adalah haram dan tak bermoral (ya tapi mau ngarepin apa kalau yang teriak-teriak itu cuma segerombolan pengangguran tanpa penghasilan kecuali dari "uang jago"?). Jika ada yang tidak setuju dengan mereka, dengan mudah akan dilabeli dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar sebagai antek-antek Yahudi, Amerika, bahkan JIL. Dengan keyakinan akan kebenaran dukungan Tuhan yang dipelintir dan digembar-gemborkan oleh para "Habib"--yang melenceng dari arti sebenarnya sebagai "yang tersayang" (apa yang bisa disayang dari orang-orang yang penuh kebencian?)--dalam berbagai tabligh, mereka merasa berhak merusak dan menindas orang-orang yang menjunjung Tuhan diam-diam.



Sudah banyak sekali usaha yang dilakukan demi menahan kebrutalan mereka tapi rasanya seperti menabrak tembok. Padahal tindakan mereka yang main hakim sendiri sudah panjang sekali daftarnya. Di benak saya, FPI sudah menjadi simbol yang lekat dengan kekerasan, gerombolan wajah beringas haus darah yang mengangkat parang sambil berteriak "Allahu Akbar". Tampaknya mereka lupa sejumput ayat Qur'an di Annisa: 36 tentang perintah untuk berbaik-baik kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Dan mereka lupa bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. Bukan salah Allah yang menciptakan berbagai isi kepala yang beda untuk memenuhi langit dan bumi, karena Dia lah yang wajahNya ada kemana pun manusia menghadap. Karena yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Kata Quran sih gitu. Tapi apa mereka baca Quran ya? Bukannya lebih sering dengerin para Habib dan nurut aja Habib-habib itu mau bilang apa?

Udah lah. Kita hanya punya satu negara yang bisa bersama kita tinggali: Indonesia. Sekarang kita sama-sama ada di sini di Bumi. Jadi, mengapa nggak menghormati sesama penghuni? Katanya Rahmatan lil Alamin, berkah bagi seluruh alam. Apanya yang berkah jika hanya bisa mengancam dan menakut-nakuti seperti itu?

Sekarang gini deh, para Akhi-akhi yang tergabung dalam FPI. Saya mau tanya. Pernah dengar “masyarakat madani”? Pernah nanya ke Habib kalian artinya "masyarakat madani" dan apa jawabannya? Atau, gini aja. Pernah broswing situs lain nggak selain Arrahmah.com atau voa-islam.com yang bahasa dan faktanya berantakan itu? Ada keharusan tabayun lho untuk setiap kejadian. Seperti halnya ruju' untuk cek dalil di kitab. Nggak cuma dengerin omongan Habib doang. Dan ayat pertama itu adalah Iqra, baca. Baca buku, baca peristiwa, baca ke mana benak-benak kalian diarahkan oleh omongan para Habib yang "mengaku" nasab Muhammad. Baca sejarah, mengapa mereka bisa mendapat pengakuan sebagai penerus garis Fatimah binti Muhammad. Baca arah angin politik dan mengapa kalian, para foot soldier bertudung, hanya bisa panas-panasan terpapar asap bertimbal sementara ulama-ulama kalian enak-enakan kasih perintah dari dalam ruangan berpendingin. Baca situasi, kenapa musuh-musuh kalian para Yahudi Israel sana punya kondisi ekonomi yang jauh lebih pesat dan teknologi lebih mumpuni, padahal negaranya aja baru seumur jagung. Jangan cuma bisanya ngata-ngatain lawan doang tapi nggak mau membenahi diri dari dalam. Diketawain, tauk. Apalagi OKI juga mempertanyakan lisensi kalian sampai bisa di-backing Tuhan. Eh, tau OKI kan? Baca link-nya kalo nggak tau. Iqra!

Jangan salah, saya nggak membenci FPI dan segala antek-anteknya. Karena sesungguhnya setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, bekumpul dan mengeluarkan pendapat sebagaimana yang ada dalam UUD 1945 pasal 28E. Tapi ya apa mau cuma mau menangin FPI aja? Ya saya tahu, beberapa nama jenderal besar ada di balik pembentukan ormas berbasis keagamaan itu. Makanya mereka seperti tak terjamah. Tapi gini deh. Ikutin caranya mafia Italia dong yang pada maen cantik. Jangan ngadopsi preman Indonesia doang yang petentengan malakin pengusaha keturunan Tionghoa. Act local think global, getoh. Udah bosen sama kekerasan.Think, Habib!

There. I said it.


  



Labels: