"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Re: Soliloquy

Posted by The Bitch on 1/31/2012 06:18:00 PM




Let me apologize to begin with. Let me apologize for what I’m about to say. But trying to be genuine is harder than it seems, and somehow I got caught up in between. Between my pride and my promise. Between my lies and how the truths get in the way. Things I want to say to you get lost before they come. The only thing that’s worse is one is done.
But here’s the thing: Abortion is sometimes necessary, sometimes not, but always sad. It is to the woman as war is to the man—a living sacrifice in a cause justified or not justified, as the observer may decide. It is the making of hard decisions—that this one must die that that one can live in honor and decency and comfort. Women have no leaders, of course; a woman’s conscience must be her General. There are no stirring songs that makes the task of killing easier, no victory marches and medals handed around afterwards, merely a sense of loss. And just as in wars there are ghouls, vampires, profiteers and grave-robbers as well as brave and noble men, so there are wicked men, as well as good, in abortion clinics.

So, I disconnected myself from the world and found another world, rediscovering the old, young me who was once absorbed and excited at every turn of the paper of the book (or every tap on the trackpad of a PDF file), succeeded in finishing an ancient 374-page of Fay Weldon’s The Hearts and Lives of Men along with Linkin Park’s Discography from which the above quotes are taken. The old wordwitch is sure far from disappointing. What she’d been through, especially by living under the same roof with three generations of females from her mother’s side, had made her work bitter yet femininely—and somewhat bitchily—amusing.

I was once disconnected from books—any form of books—long ago, not because I despised the brutal truth that lies beneath the words but merely to keep myself original, apart from any quotable phrases I read somewhere. But hey, there's nothing new under the sky. So, I gave it a try once again, plunging deep into the pool of alphabets and meaning and got lost happily, contendedly.

True, somehow it’s not finding a new land to understand the word “discovery”, but merely re-experiencing the old things. And the matters of abortion that I quoted was somehow gave me new perspective.

Therefore, read, mortals!



Labels:

Untuk Pemarah-pemarah

Posted by The Bitch on 1/21/2012 07:00:00 AM

PENYANGKALAN::
Tulisan berikut akan penuh dengan pembelaan terhadap ketidakpercayaan kepada Tuhan dan agama apapun, termasuk di dalamnya adalah pembelaan terhadap kebebasan bicara dan mengemukakan pendapat. Seperti biasa, kalo nggak suka silakan pergi. Kalo penasaran ya lanjutin aja bacanya. Silakan juga komentar, menjawab atau maki-maki sesuka hati asal sesuai konteks.


Be grateful to God for atheists, for each one of them means one less nagging, spoiled bitch to disturb His tranquil omnipresence and your social-media life.

Menurut berita di sini seorang PNS ditangkap setelah berdebat di akun Facebook tentang ketidakpercayaannya terhadap Tuhan. Meskipun saya bersimpati, saya nggak begitu ngerti bahasa hukum dan pelanggaran profesi macam apa yang dia lakukan sampai ditakut-takuti penjara lima tahun. Namun saya memang menyayangkan cara mainnya yang kurang elegan hingga bisa dilacak dengan mudah oleh rakyat pemarah yang dibela aparat berat sebelah.

Dan saya ingin sedikit bertanya pada orang-orang beragama dan bertuhan yang masih beradab namun sama kesalnya dengan para pemarah itu:

Jika memang Tuhan Maha Pengasih mengapa kalian begitu pemarah?

Jika memang Tuhan Maha Penyayang mengapa bogem kalian melayang?

Jika memang Tuhan Maha Raja Diraja, siapa yang memerintahkan kalian merangsek masuk ke kantor pemerintah?

Jika memang Tuhan Maha Suci, pantaskah namaNya kalian tunggangi dengan penuh kebencian terhadap mereka yang tak sepaham?

Jika memang Tuhan Maha Memberi Kesejahteraan... hei, berapa diantara kalian yang pengangguran tak berduit atau berada jauuuh di bawah garis kemiskinan?

Jika memang Tuhan Maha Memberi Keamanan, apa kabarnya mbak-mbak korban perkosaan dan anak-anak yang hidup di jalanan?

Jika memang Tuhan Maha Pemelihara... coba Googling statistik mbak-mbak dan anak-anak yang saya sebut sebelumnya. Jadi, Dia pemelihara apa? 

Jika memang Tuhan Maha Perkasa, saya kembalikan keperkasaanNya ke dua baris di atas.

Jika memang Tuhan Maha Berkehendak berarti tulisan Mas PNS tentang ketidakpercayaannya terhadap Tuhan juga sudah dikehendakiNya dong? Iya kan? Lalu mengapa kalian nyolot?

Jika memang Tuhan Maha Besar, mosok Dia nggak bisa memberhentikan perdebatan tentang ketidakpercayaan orang terhadapNya di media sosial? Ya minimal bikin server hang kek. Tifatul aja bisa ngeblokir situs porno pake Nawala.

Jika memang Tuhan Maha Pencipta, kok Dia nggak menciptakan kalian supaya bertemperamen lebih lembut?

Jika memang Tuhan Maha Mengadakan dari yang Tiada... ke-ada-an dan ke-tiada-an itu tataran eksistensi. Jika Dia pada awalnya memang sudah ada, kenapa namaNya baru nongol setelah beberapa peradaban kemudian? Jadi, siapa meng-ada-kan siapa nih?

Jika memang Tuhan yang Maha Membentuk Rupa, coba deh ngaca gimana bentuk muka kalian waktu ngotot bilang Mas PNS itu salah, wahai para pemarah?       

Jika memang Tuhan Maha Pengampun, mosok kalian nggak? Mengapa harus kalian yang marah? Mengapa tidak menunjukkan pengampunanNya sampai-sampai "bala kurawa" semacam kalian harus membela namaNya hanya untuk melawan satu orang PNS yang gajinya juga nggak seberapa?

Jika memang Tuhan Maha Memaksa (karena Dia Maha Perkasa)... yakin Dia itu Tuhan? Bukan tukang nge-bully?

Jika memang Tuhan Maha Pemberi Karunia mosok kalian harus berdoa kencang-kencang dulu buat minta-minta dikasih ini-itu sama Tuhan?

Jika memang Tuhan Maha Pemberi Rezeki mengapa banyak pejabat korupsi?

Jika memang Tuhan Maha Pembuka Hati mengapa hati kalian begitu keras melihat anak-anak ngamen di jalanan nggak sekolah sementara beberapa diantara kalian yang mengaku mendapatkan karuniaNya, menganggap Dia ada ke manapun wajah menghadap, bisa ngeluarin duit puluhan juta cuma untuk ziarah ke tempat suci berkali-kali?

Jika memang Tuhan Maha Mengetahui, kira-kira kapan penangguhan SOPA dan PIPA berakhir? Dan bagaimana nasib para jemaat GKI Yasmin? Atau yang gampang aja deh. Kenapa dulu tiap saya bertanya Dia nggak pernah menjawab?

Jika memang Tuhan Maha Mengendalikan, mengapa manusia masih harus mengekang syahwatnya? Buat apa ada Feromon?

Jika memang Tuhan Maha Melapangkan, kenapa sih dia nggak melapangkan hati kalian untuk bisa berdebat secara sehat tanpa emosi dan dalilut (kalah ngedalil terus gelut)?

Jika memang Tuhan Maha Merendahkan kenapa Dia bilang manusia adalah mahluk mulia?

Jika memang Tuhan Maha Meninggikan kenapa manusia malah saling merendahkan dan sok merasa lebih tinggi dari yang lain?

Jika memang Tuhan Maha Memuliakan MahlukNya kenapa anjing yang segitu setia dan manis masih dianggap najis?

Jika memang Tuhan Maha Menghinakan MahlukNya, mosok sikapNya nggak jauh beda sih sama kakak-kakak senior yang suka ngebully juniornya?

Jika memang Tuhan Maha Mendengar mengapa kalian harus pakai amplifier bervolume pol saat berdoa?

Jika memang Tuhan Maha Melihat harusnya nggak pada berani dong minta uang suap atau mencuri waktu buka Facebook saat jam kerja?

Jika memang Tuhan Maha Menetapkan Hukuman mengapa kalian nggak dihukum ketika menyalahgunakan namaNya buat kepentingan pribadi?

Jika memang Tuhan Maha Adil... tunggu sebentar. Jari saya kurang dua setengah sementara ada yang jarinya duabelas. Adilnya...?

Jika memang Tuhan Maha Lembut mengapa Dia suka mengancam dengan siksaan dan api neraka?

Jika memang Tuhan Maha Mengenal mengapa Dia turunkan hujan di Lenteng Agung pada hambaNya mahasiswi UI yang berdoa di kereta supaya jangan hujan dulu sebelum dia tiba di kampus? Apa Tuhan perlu GPS?

Jika memang Tuhan Maha Penyantun mengapa fakir miskin dan anak terlantar harus dipelihara oleh negara?

Jika memang Tuhan Maha Agung mengapa Dia masih haus puji-pujian?

Jika memang Tuhan Maha Benar mengapa Dia diam waktu Richard Dawkins bilang bahwa para penyembahNya adalah "would-be murderers... who want to kill you and me, and themselves, because they're motivated by what they think is the highest ideal" di dokumenter The God Delusion?

Jika memang Tuhan Maha Pandai mengapa semua pertanyaan saya hanya dijawab oleh Sang Maha Google?

Dan jika agama memang membawa kedamaian bagi manusia dan semua mahluk mengapa banyak sekali orang beragama yang mudah naik darah? 

Namun saya yakin banget kok orang-orang yang beragama dan bertuhan dengan benar nggak bakal gampang tersulut hanya dengan tulisan semacam ini. Meskipun jauuuh lebih banyak jumlahnya, yang pemarah-pemarah itu kan cuma oknum. Iya kan?

Gambar dicomot dari sini. Kinda ironic, methinks.

Labels:

When Life Gives You Lemon…

Posted by The Bitch on 1/16/2012 02:44:00 AM

It's about rejection, disappointment, unkept promises and broken hearts. Don't get into it that much. The world won't end just because of those shits.

So, what the fuck?! Go get a bottle of good Tequila and salt and make yourself a kick-ass gulps.

Raise your glass, loser! We'll drink to that!

Labels:

Tentang Tangan yang Terulur

Posted by The Bitch on 1/05/2012 08:48:00 PM

"Lebih baik dua tangan bekerja [dan satu kepala berpikir] daripada dua tangan terkatup [dengan kepala tunduk] berdoa"

Rumah orangtua saya ada di kawasan bebas banjir. Maksudnya, jika hujan deras menyergap barang sehari-dua, banjir bisa bebas datang kapanpun dia mau. Saya--nggak tahu mau bilang "untungnya" atau "malangnya"--tidak tinggal bersama mereka dan adik saya satu-satunya. Jadi, saya nggak tahu rasanya terjebak banjir dan nggak bisa kemana-mana. Hanya dari cerita mereka saya bisa membayangkan susahnya makan, susah jalan, susah tidur, susah beol. Jangan bayangkan yang terakhir. Ngetiknya aja saya nggak tega. Beneran.

Kita nggak bisa lari dari fakta bahwa negeri tropis gemah-ripah-loh-jinawi (tapi rakyatnya banyak yang miskin) ini terletak di daerah rawan bencana. Ring of Fire yang terdiri dari gugusan gunung berapi aktif di bentangan tanah kita berpijak bisa saja memuntahkan lava dan lahar sewaktu-waktu. Belum potensi gempa dan tsunami. Tapi saya salut lho dengan solidaritas sesama pemegang KTP Indonesia (meskipun KTP saya hilang entah ke mana, komplit bersama dompetnya). Waktu dulu saya iseng bantu-bantu posko Merapi di Jakarta ada berdus-dus makanan kering dan mie instan, berkarung-karung selimut dan pakaian layak pakai, peralatan perawatan bayi, pakaian dalam lelaki dan perempuan berbagai ukuran, serta pembalut. Meskipun tiga jenis terakhir ini jumlahnya lebih sedikit ketimbang sumbangan mukena, jilbab, sarung dan sajadah.

Namun ada beberapa hal yang membuat saya mengernyitkan alis saat menyortir. Ternyata ada juga yang menjadikan kegiatan ini sebagai ajang buang sampah. Tidak sedikit saya dapati kardus berisi pakaian bekas yang di rumah saya bakal turun derajat jadi lap pengangkat panci panas atau untuk mengepel. Ada juga BH yang talinya sudah keriting, lengkap dengan bekas tusukan peniti di sana-sini, atau celana dalam yang bagian pinggangnya lebaaar sekali karena karetnya kendor. What the fuck?! Orang-orang itu… apa nggak mikir ya efek psikologis para pengungsi yang dapet bekas-bekasan kayak gitu?! Mereka itu lagi kesusahan, nggak punya pilihan selain harus meninggalkan rumah--tempat segala kebutuhan mereka terpenuhi--demi menyelamatkan nyawa yang cuma seiris. Masih harus dipersulit dengan pemberian seperti itu? Blah!

Oke, itu tadi muntahan tentang bantuan yang nyampah. Sekarang saya mau muntah yang lain.

Beberapa minggu lalu saya sempat nongkrong bareng penggiat LSM yang dulu pernah jadi sukarelawan untuk salah satu badan tanggap bencana. Dengan cengiran lebar dia mendengarkan saya yang bercerita nyolot tentang betapa nggak pake otaknya beberapa penyumbang yang punya mindset yang-penting-niat tanpa mengindahkan kelayakan dan keperluan yang disumbang. Apalagi meringankan pekerjaan pihak yang menyalurkan. Hal yang sama juga terjadi untuk bantuan yang bukan berupa sumbangan barang, namun tenaga, eksekusi ide, dan pelaksanaannya.

Misalnya, saya yang di Jakarta miris dengan kondisi sekolah di pedalaman yang saking terpencilnya Tuhan juga lupa udah ngelemparin mahluk apa aja buat hidup di situ. Anak-anak di sana belajar tanpa peralatan memadai, apalagi tempat. Dan saya mendengarnya dari salah seorang kenalan yang hobi blusukan dan sengaja nyasar beberapa hari di sana. Lalu saya iseng mengajak teman-teman yang peduli dan bikin kegiatan ngumpulin buku buat mereka. Beberapa waktu kemudian mission accomplished. Buku terkumpul. Disortir--memisahkan 'sampah' berupa buku-buku dewasa, LKS dan buku tulis bekas meskipun pengumuman jelas-jelas menyebutkan HANYA MENERIMA BUKU ANAK-ANAK. Dikirim--dengan biaya setara dengan pembelian dua kardus buku. Diterima--entah oleh siapa tanpa ada komunikasi akan dialihkan ke mana. Dan semua orang bisa pulang dengan bahagia.

Beneran bahagia? Yakin?

Satu hal yang sering saya lupa bahwa posisi duduk menentukan apa yang saya lihat. Dan buat saya mekanisme di atas hanya masturbasi kebaikan demi membungkam nurani yang (sepertinya? Pura-puranya?) tergedor karena ketimpangan fasilitas. Mentang-mentang di sana minim buku bukan berarti orang sana sama seperti saya yang menilai buku sebagai benda penting. Dengan cara itu saya nggak bisa monitor perkembangannya. Bayangkan, buku sebegitu banyak untuk beberapa puluh anak yang mungkin membaca saja masih terbata-bata. Apa yang akan mereka lakukan? Mungkin malah seperti sepupu cilik saya. Karena buku bejubel di dalam rumah dia dengan santai menyobeki ensiklopedi yang satu edisinya seharga lima juta dan membuatnya jadi kapal-kapalan. Atau mungkin dibakar untuk menyulut api di pawon. Atau mungkin malah dijual lagi. Kita nggak pernah tahu.

Jadi mesti gimana dong?!

Dari obrolan saya dengan om LSM kami sepakat bahwa membantu itu nggak boleh setengah-setengah. Kalau mau bikin kegiatan semacam voluntarism atau kesukarelaan maka survei dan data pendukungnya mesti kenceng dan faktual. Misalnya mau menggalang bantuan untuk korban bencana, tanya contact person di lapangan butuhnya apa aja. Ikutin aturan mereka biar ngurusnya juga nggak menyulitkan. Teruskan informasi ini dengan bahasa lugas biar penyumbang juga ngerti. Dan yang nyumbang juga mesti paham cara mainnya. Jangan ngomel kalo sumbangannya nggak diterima karena nggak sesuai kebutuhan. Ilangin deh tuh mindset kita-kan-nyumbangnya-ikhlas atau yang-penting-niatnya-nyumbang. Nyusahin, tauk! Nambah-nambahin kerjaan tukang sortir dan tukang audit. Begitupun untuk realisasi ide semisal sekolah baca kecil-kecilan. Cari yang deket aja dulu. Diliat juga sasarannya ke mana, rentang usianya berapa sampe berapa, kemampuan baca mereka gimana.

Penting juga buat ukur kemampuan, jangan sampe ngos-ngosan di tengah jalan. Karenanya, napas mesti panjang dan semangat nggak boleh kendor. Itu sangat perlu dukungan, lho. Nggak salah kok buat gabung di kelompok-kelompok yang seide tapi daerah 'jajahan'nya beda. Malah bisa saling support dan tukeran info. Tinggal kemauan kita aja, seberapa besar kita mau babak bundas buat orang lain dan menggilas ego sendiri untuk menentukan "bendera" siapa yang ingin dikibarkan.

Nggak cuma niat baik yang diutamakan, tapi batasan juga harus dibuat. Mau ngebantuin sampe mana? Parameternya bisa dari perubahan seperti apa yang mau kita upayakan. Kalo kita mau bikin posko bantuan untuk sebulan, kasih batasan. Atur-atur deh tuh sampai kapan penggalangannya, nyortirnya berapa lama, dan nyalurinnya ke mana. Kalo perubahan yang kita inginkan--misalnya--bikin anak umur 7 lancar baca-tulis, bikin lah timeline-nya, tenggatnya sampai kapan, dan jangan lupa data dalam bentuk progress report.

Yang sering nggak kepikiran adalah damage control. Beberapa teman mengalaminya sendiri waktu jadi sukarelawan untuk anak jalanan beberapa saat setelah programnya selesai. Adik-adik mereka ada yang kembali ke 'habitat' aslinya, ada yang merasa ditinggalkan, memendam kekecewaan dan malah tambah parah, ada juga yang jadi apatis. Atau beberapa program CSR korporat yang cuma buang-buang uang 'zakat' dan meninggalkan penduduk asli begitu saja ketika timeline terpenuhi tanpa peduli pada keseimbangan yang sudah teracak-acak.

Dengan prinsip sebentuk-sebangun saya mengikuti anjuran teman saya yang nggak suka memberi uang pada pengemis. Saya bawa ransel lumayan besar kemana-mana. Kamu pun muat di dalam situ. Makanya saya nggak merasa repot membekali diri dengan beberapa strip tablet vitamin C atau beberapa kotak susu atau biskuit dan air mineral. Dengan cara itu saya mempergunakan kedua tangan saya untuk berbagi, tak hanya mempekerjakan tangan kanan saya untuk mengulurkan selembar duaribuan sambil berdoa tanpa diketahui tangan kiri. Dan satu yang harus diingat: jangan pernah membantu sekali tapi nyusahinnya berkali-kali.

Oh, ngomong-ngomong, saya heran lho sama Anggota Dewan Yang Terhormat. PR mereka di Aceh, Wasior, Porong, Ternate, Sampang masih banyak dan keteteran, kok mereka sempet-sempetnya ngeributin renovasi toilet senilai 2 milyar ya?

Labels:

Fuckin' Perfect

Posted by The Bitch on 1/04/2012 08:18:00 AM

To all of my dear girl friends…

Lo pernah ngaca sambil telanjang? Coba deh sekali-sekali. Lo bakal liat bentuk tetek lo yang kiri dan kanannya nggak sama, menggantung alih-alih mencuat melawan gravitasi. Kulit yang warnanya nggak rata dari sananya. Rambut halus yang bikin badan lo terlihat gelap. Selulit di paha. Tambahan lemak di perut. Glandula mamae berlebih menggelambir di lipatan ketek… Lo akan lihat banyak sekali kejelekan dan cacat yang nggak keliatan orang lain karena tertutup kutang dan pakaian keren yang lu kejar diskonannya.

Tapi siapa yang bilang lo jelek? Siapa bilang badan lo cacat? Siapa yang menyeragamkan bentuk tubuh mana yang bagus dan mana yang nggak bagus? Mata siapa yang berusaha lu tipu?
Sebagai perempuan, tubuh kita bukan milik kita sendiri. Ada aturan yang mengekang kita harus pakai apa di mana. Misalnya, nggak mungkin kita pake hot pants dan tanktop di acara pengajian, atau backless dress ke pasar. Kita masih punya pandangan kalo pakaian perempuan harus menutup sebagian besar kulit supaya nggak dicap lonte atau binal penggoda iman lelaki--meskipun yang sering kena pelecehan justru yang tertutup. But that's the way it is.

Tapi orang juga bisa ngeliat lo sebelah mata karena lo kelebihan berat badan. Lu mungkin juga dianggap enteng karena penampilan lu nggak keren atau kurang modis. Akibatnya lu mungkin bakal terobsesi sama kesempurnaan, workout mati-matian demi bisep sekeren Agnes Monica atau perut rata kayak Venna Melinda (eh, tu orang masih idup kan?). Dan lo mungkin akan membenci bentuk tubuh lu sendiri karena nggak sesuai dengan perempuan-perempuan di televisi. Atau karena cowok gebetan lo lebih suka cekikikan sama cewek lencir berambut lurus-panjang dengan leher jenjang, bukan sama lo yang semua kebalikannya.

Tapi gue kasih tau: elu adalah apa yang lu lakukan, BUKAN apa yang dibilang orang, BUKAN apa yang lo katakan, BUKAN apa yang lo kenakan.

Dan gue suka kesel sama penyanyi-penyanyi yang teriak-teriak tentang "you are beautiful" menampillan rekan sesama bervagina yang gendut, yang anorexia, yang jerawatan, yang kakinya panjang sebelah atau giginya maju atau kacamatanya setebel pantat botol di video klip mereka, sementara perut mereka kotak-kotak, susu mereka kenyal-padat-mengkal, tungkai mereka seperti belalang dan rambut mereka lurus sempurna. What the fuck?! They're not standing in your shoes. Gue yang ada di pihak kalian, wahai itik-itik (yang dianggap) buruk rupa! Gue yang kelebihan berat badan. Gue yang sempat nggak berani liat tampilan tubuh telanjang gue sendiri di cermin. Gue yang sempat ditolak cowok karena jari gue kurang. Dan gue berani bilang kalo gue sempurna. Apapun yang ada di badan gue adalah kulminasi evolusi paling pungkas untuk gue bertahan hidup saat ini. Sama sempurnanya kayak elo. Kayak mbak-mbak yang juga berasa sempurna sehabis operasi mancungin idung atau nyumpel nenen pake silikon. Dan kesempurnaan versi gue nggak perlu biaya mahal banget, tentunya.

Tapi what the fuck juga lah. Mereka mungkin sama kayak gue, kayak elu. Kita selalu punya monster pribadi yang menghantui kita setiap hari, yang kalo kita cermati ternyata cuma ketakutan kita pada bayangan sendiri. Kita mungkin nggak siap untuk bisa jujur pada diri, untuk nerima kenyataan dan berkata pada hati "ini gue, suka atau nggak, kita bakal sama-sama sampai mati." Kita perlu ngalahin monster sialan yang nggak keliatan itu sendirian. Our own private battle.

Dan gue bilangin ya, kalo ada orang yang berani bilang di depan muka lu "elu nggak cantik, kurang langsing, kurang tirus, mata lu kurang lebar, idung lu kurang mbangir, alis lu kurang tebel," endeswai endesbrai, tonjok aja. Karena nggak ada seorang pun yang punya hak buat bilang itu ke elu.

You are fuckin' perfect.

Labels: