"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

I've Got The Power!

Posted by The Bitch on 12/29/2011 09:32:00 AM

Kamu tahu nggak bahwa tirani kekuasaan bisa didapat dari mikrofon kancing? Kalo nggak percaya, pantengin televisi dan cari program talk show yang berbalut lawakan atau minimal yang presenternya pelawak kelas dua. Atau untuk lebih jelasnya, cari deh berita tentang keplesetnya salah satu pembawa acara merangkap penghibur--entah siapa yang dihibur--yang menjadikan perkosaan sebagai bahan tertawaan.

Nggak hanya itu. Di acara-acara offline yang ada MC-nya saya sering mendapati si pemegang mikrofon ini menyalahgunakan kekuasaannya dengan mengolok-olok penonton yang harus naik ke atas panggung. Misalnya dengan mengatakan "Wah, pegangan. Gempa nih!" waktu yang dipanggil ternyata bertubuh besar. Atau "Cieee... baju masa kini, muka masa gitu?!" ketika si 'korban' ternyata dandanannya oke banget tapi giginya tonggos. Dan ini salah satu alasan saya untuk males ikut games di acara-acara kayak gitu meskipun hadiahnya bikin liur menitik. I'm through being a laughingstock. That's why I love to laugh with you, not to laugh AT you.

Tapi... kekuasaan dari mikrofon? Kok bisa?

Karena di acara-acara seperti itu presenter atau MC adalah raja. Namanya juga Master of Ceremony. They are the masters as we are the slaves. Suara dan sikap tubuh mereka harus mendominasi ruang-ruang kosong antar-acara untuk menghidupkan suasana, dan hanya mereka yang memang difasilitasi untuk tujuan tersebut. Karena itulah mereka dibayar, sebagai peniup nyawa demi suksesnya perhelatan. Dan kita adalah bawahan, adalah budak, adalah penonton, harus tertib mengikutinya (apalagi jika itu acara kumpul-kumpul resmi dari kantor, siapa yang berani walkout?!). Meskipun MC memegang cue card sebagai panduan, seringkali mereka harus "megang" penonton dengan improvisasi biar nggak pada jenuh. Salah satunya adalah dengan nyari banyolan-banyolan yang bikin orang langsung ngakak. Dan, apalagi yang gampang membuat kita tertawa selain kesialan orang lain?

Saya biasanya hanya mengernyitkan alis dan bertanya-tanya kenapa bisa presenter/MC penindas semacam itu dapat job?! Sampai suatu hari saya ngobrol dengan salah satu begawan tempat saya berguru secara freelance dan beliau memantik pertanyaan itu mengkristal mengemuka. "Ya yang laris ternyata yang kayak gitu, jeh," sahut beliau. Itulah mengapa saat mencangkul di ladangnya yang lama dulu Paman Begawan tak pernah mau setuju mengkaryakan beberapa nama MC yang track record-nya sebangun-sebentuk, seberapapun ngetop dan lucunya mereka. Betapa uang menghalalkan penindasan yang dituruti tanpa kita sadar penindasan itu ada di depan mata.

Kasus 'pelecehan budak' atau yang kita lihat sebagai cela-celaan-yang-harusnya-tidak-berbahaya itu seperti menguarkan pesan subliminal samar, melintas di ruang keluarga melalui layar kaca (atau plasma) tanpa bisa kita cegah. Bahwa pelecehan adalah wajar karena itu terjadi di televisi nasional, bahwa menjadi orang kondang sama dengan bebas merendahkan orang lain. BAHWA KITA TERTAWA KARENA KITA LEGA BUKAN KITA YANG DITERTAWAKAN. Sementara itu para 'majikan' sendiri seperti nggak punya tanggungjawab moral kecuali terhadap perut sendiri. Makin kasar celaannya, makin banyak orang tertawa, makin tinggi harganya karena semakin banyak pula tawaran job yang mengalir. That sucks. Big time.

Saya angkat semua jempol yang saya punya untuk para pejuang yang memperkarakan pelecehan ini ke komisi penyiaran. Mereka membalik makna Master/Slave yang penghibur/penonton menjadi Master/Slave yang penonton/penghibur. Nggak bakal ada penghibur-penghibur ngetop tanpa banyaknya orang menonton. Dan mereka harus tahu itu. Kita yang majikan karena kita yang membayar para penghibur dengan waktu dan mata yang kita punya. Jadi, pesohor-pesohor, pesan saya cuma satu: nggak usah pada belagu lah.



ps. eh, saya beneran penasaran. Apa kabarnya lisensi copyrights para pengunggah video yang karyanya digunakan secara komersil di program televisi dengan tulisan "courtesy of YouTube" kecil-kecil di dasar layar...?

Labels:

Surat Untuk Yang Wafat

Posted by The Bitch on 12/17/2011 01:21:00 AM



I don't think you trust in my self-righteous suicide
... and I cry when angel deserves to die.
-  Chop Suey, SOAD

Hey Lae,

Gue kenal elu dari berita, waktu elu ikut jejak Thich Quang Duc si biksu Vietnam Selatan yang laku obong karena memprotes kebijakan pemerintah tentang penyiksaan rekan-rekannya taun '63. Nggak lama, Berita tentang elu lalu tergusur hal-hal lain yang nggak menyenangkan, yang beberapa diantaranya mungkin jadi salah satu alasan protes lu di depan istana itu.

Seminggu kemudian gue denger elu mati, juga dari portal-portal berita, dari tulisan orang-orang yang nyinyir, yang sok tau dan sok asik ngebahas elu pake gaya komentator sepak bola. Elu rame jadi omongan orang, online dan offline. Lu nggak tau sih, gimana mereka yang bahkan nggak kenal elu bisa mati-matian belain apa yang lu lakukan. Sementara yang otaknya kerasukan Tuhan menuduh elu nggak menghargai hidup dan menyia-nyiakan berkah berbentuk otak encer dan muka ganteng yang berujung pada 98% luka bakar di sekujur tubuh. Gue malah aneh liat mereka ngotot nggak jelas. Karena yang sebenarnya terjadi adalah elu gila, seminggu lebih nahan sakit, di ambang hidup dan mati. What did you feel? What did you see? And where did you go?

Gue rada sebel nggak sempet kenal elu waktu elu masih ada. Padahal kalo aja kita pernah duduk semeja adep-adepan sambil ngopi, kalo aja kita sempet ngobrol ampe pagi, mungkin gue bisa jadi perawi lu. Gue bisa nyeritain lagi apa yang ada di dalam batok kepala lu seperti Matius, Lukas, Markus dan Yohanes menuliskan kisah Yesus, karena gue nggak bisa nemuin tulisan elu di mana pun. Mungkin lu akan batal obong kalo gue kenalin ke temen-temen gue yang kadar kesintingannya sama ama elu. Atau mungkin elu bakal gue paksa jadi salah satu piaraan gue kayak cowok-cowok keren lainnya demi obsesi gue jadi mucikari bermartabat. Tapi yang lebih menyebalkan adalah sejak berita kematian lu sampe sekarang gue nggak bisa berenti mikirin elu, brondong yummy yang sama sekali nggak gue kenal. Gue penasaran apa lu suka coli waktu mandi; suka JAV, Vivid atau bokep home-made yang ada mbak-mbak berjilbabnya. Gue nggak bisa berenti bertanya-tanya apa alasan dibalik tindakan lu di depan istana. Gue penasaran apa lu sempet ngewe sebelum mati-mencicipi sedikit potongan surga buat jaga-jaga kalo ternyata di "sana" nggak ada surga. Dan satu pertanyaan besar gue... apakah benar elu itu cuma manusia biasa? Karena buat gue yang namanya manusia itu seringnya ogah mengorbankan miliknya untuk orang lain meskipun dia punya banyak. Nggak kayak elu yang cuma punya nyawa selembar juga malah lu persembahkan dengan gagah perkasa di depan presiden lu yang layu, cupu dan nggak tau malu. Lu cari deh orang yang punya rumah di Pondok Indah, yang garasinya aja luasnya bisa 10 kali kamar kosan gue dan mobilnya ada lima. Lu minta aja atu. Gue bonusin kelingking kanan gue yang biasa buat ngupil kalo tuh mobil dia kasih ke elu.

Lae...

Sebenernya gue malu ngakuin ini ke elu. Tapi gue lebih seneng seharian maenan Angry Birds pake ponsel yang prosesornya gue perkosa tapi tetep aja lambat itu. Gue bete pembokat ibu kos gue nggak mau nyuci piring bekas makan gue dan temen-temen nggak ada yang inget ulang taun gue. Gue ada di golongan orang yang nggak pengen idupnya susah, yang menyepi dalam dunia kotak gue sendiri, yang berpaling dari kehidupan jalanan nan tidak menyenangkan, yang setiap gue liat berita sepet di kepala gue seperti ada yang ngomong "untung itu bukan gue." Semua pilihan-pilihan yang gue buat nggak lebih penting daripada kepretan sempak. Yang gue kejar adalah kemapanan gue sendiri supaya suatu saat nanti gue bisa istirahat dan liburan. Padahal tanpa sadar gue udah diperbudak dengan pepatah lawas yang looping ad infinitum "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian" (dan gue kasih tau ya, gue nggak bisa berenang!).

Gue nggak bebas, Lae. Seperti beberapa orang yang nggak bebas menghilangkan kesenjangan sosial; nggak bebas melakukan pemerataan kesejahteraan yang nggak cuma sekadar slogan gede-gede di poster para caleg tersenyum palsu dan najis. Semua orang-dan elu-sama-sama terbentur pilihan-pilihan sulit, tata cara dan aturan-aturan. Kita nggak bebas menghilangkan pengaruh buruk pasar bebas dan modal asing yang diagung-agungkan para penguasa tanah ini. Kita nggak bebas melenyapkan budak-budak korporasi multinasional raksasa, yaitu mereka yang membeli kesejahteraan keluarga setelah mengabdi pada kapitalisme dan sadar bahwa kesejahteraan masyarakat banyak telah mereka rampas. Kita nggak bebas menghilangkan kemiskinan dan pembodohan struktural. Nggak bebas dari pemerintah pembohong yang selalu ingkar janji nggak kayak merpati. Nggak bebas memilih beragama atau tidak, nggak bebas memilih menderita atau bahagia aja, nggak bebas milih apes atau bejo, nggak bebas milih punya titid atau meki, nggak bebas milih kapan dan dimana kita lahir dan siapa orangtua kita. Kita bahkan nggak bebas dari membuat pilihan yang salah! Bahkan mungkin nyadar ada kayak gitu-gituan juga kagak.

Kita digembok dan nggak bisa ngapa-ngapain. Atau mungkin lebih aman untuk kami menganggapnya begitu. Tapi elu bertindak demi kebebasan elu dan nggak cuma nunggu. Elu ngebongkar kunci belenggu itu dengan memilih bagaimana elu mati, membakar tubuh di depan simbol kepongahan negara yang melarang rakyatnya-orang yang membayar pajak, yang mempekerjakan mereka demi kepentingan kita, majikan mereka-untuk bahkan jalan kaki di trotoarnya. Gue nggak tau gimana perasaan nyokap lo ngeliat anak laki-laki kesayangannya meregang nyawa demi sesuatu yang dia perjuangkan. Yang gue tau semua ibu dari para kombatan dibekali fitur hati baja meskipun punya tangan pengasih selembut bulu angsa dan setiap ingat masakannya bikin kangen pulang.

Dan elu berjuang, Lae. Elu gerak. Nggak kayak gue yang cuma berani nulis. Elu turun ke jalan. Nyali lu dihajar edan-edanan oleh semua demo yang pernah lo ikutin. Dan lo yang udah berkalang tanah jadi makanan cacing-bareng Christopher Hitchens yang juga mati hari ini-nggak sendirian. Banyak orang yang juga gerak buat perubahan meskipun namanya nggak sampe ke kuping kita. Elu mungkin udah tau beberapa diantaranya: para pengajar muda yang rela blusukan ke tempat-tempat terpencil demi menyebarkan ilmu; bidan-bidan yang mengabdi demi kesehatan reproduksi para ibu pedalaman yang mungkin liat kondom aja belom pernah makanya anaknya udah enam (padahal umurnya belum genap tiga puluh); mereka yang bikin ruang belajar alternatif supaya anak-anak usia sekolah nggak keleleran di pinggir jalan sambil teler ngisep lem; mahasiswa dan mahasiswi yang bikin perpustakaan kecil-kecilan di kampung-kampung; mereka yang bikin swadaya listrik karena pemda di tempat mereka terlalu repot ngurusin syahwat; yang mati-matian mengadvokasi korban perkosaan dan KDRT; babak bundas bikin pelatihan dan penyuluhan AIDS. Mungkin mereka juga putus asa karena gerak mereka nggak segendang sepenarian dengan kepentingan-kepentingan yang ada. Tapi harusnya nggak ada lagi cowok cakep yang harus hangus terbakar hanya supaya suaranya didengar. Di saat ketika sisa napas lo lepas, harusnya itu jadi momen seperti Phoenix yang bangkit dari abu bakarannya sendiri. Gue sedih kalo mereka yang juga berjuang malah saling gontok-gontokan dengan sesamanya bukannya manfaatin kesempatan ini buat saling sinergi (dan revolusi? Haha!).

Lae,
Gue nggak setuju orang-orang ngecap elu sebagai martir. Gue lebih suka menganggap elu sebagai manusia bebas yang sudah merasa cukup menikmati hidup dan tetap melawan hingga di titik nadir. Elu hidup sehidup-hidupnya hidup. Sebagaimana insting mahluk untuk bertahan hidup, gue percaya juga pada insting mahluk untuk mati. Dan elu hanyalah satu dari sekian banyak manusia yang sempat mengalami evolusi dalam pemikiran dan tindakan. Elu supernova dalam sistem lo sendiri.

Dan mungkin gue juga akan jadi supernova dengan cara gue sendiri.

ps. Jika reinkarnasi itu ada, mari kita ngegaple bareng Nietzsche, Marx, Pol Pot dan Aristotle kalo mereka belom dapet jatah. Sambil kita nongkrong di lapo dan ngobrol ngalor-ngidul tentang bagaimana kita menggulingkan kuasa absolut bernama Tuhan--itu juga kalo Dia ada.


Turut berdukacita yang sedalam-dalamnya untuk keluarga Sondang Hutagalung. His memory remains.

Beberapa frase dicomot dari komik karya Jati yang disebarkan untuk kalangan terbatas. Karya-karyanya yang lain bisa dilihat di sini. Agar membacanya tanpa peci, jilbab atau apapun yang sempat nangkring di kepala.

Labels:

Re: defined

Posted by The Bitch on 12/08/2011 10:46:00 AM

Define Marriage: the ever-improving art of bullshitting the girls to walk into a deathtrap to ease the boys when they're hungry or horny in the middle of the night.

Define wedding: the event where you can smell the flowers of your own funeral.

Define wedding ring: the smallest handcuffs in the world to tie down and box up the whole aspects of your life.

Define wedding vow: the sweetest words of the serpent's tongue in your Garden of Eden that will make you lose your innocence. And I haven't gone to the bed time part.

Define husband: The One Who Holds Your World, Your Life, Your Decision; The Almighty, The Ruler, The Breadwinner, The Righteous, The One Who Must Be Obeyed, The Smartest, The Highest. Okay, are we done?

Define in-laws: the additional problems you desperately need. Like a bullethole to your head and a bicycle to a fish.

Define household: 21st century slaughterhouse for your dream and the most sophisticated, legalized and institutionalized sweatshop even if your master knows the basic human rights by heart.

Define children: the byproduct of a marriage that people always nag when you don't have one. Yet. And keep asking for more when you already have one.

Define responsibility: the burden on your shoulder that you have to bear more since you're doing nothing at home but becoming a cleaning lady, a cook, and a slut 24/7.

Any two-legged male mammals (or primate? Never quite sure about this) want to prove that my redefinitions are wrong?

Labels:

Immi Sayang…

Posted by The Bitch on 12/02/2011 07:58:00 PM

Halo, Immi!

Aku denger kamu mau sekolah ya? Aku jadi inget waktu pertama kali aku pakai seragam putih-merah. Cupu abis. Aku kayak bayi besar. Aku nggak TK, jadi langsung masuk SD. Kata ibuku, di TK cuma diajarin makan sama nyanyi. Di rumah juga bisa. Dan waktu ibu sadar semua teman sepermainanku—yang rata-rata lebih tua—sudah mau masuk sekolah, ibuku rada panik aku nggak punya teman. Makanya aku disekolahin aja, jadi murid paling bongsor dengan umur paling muda di kelas.

Immi udah bisa baca? Waaah. Keren. Mommy dan Daddymu hebat banget tuh, kamu kecil-kecil udah bisa baca. Aku kenal Daddymu lho dari blognya. Dulu banget aku suka baca. Terus berenti gara-gara aku suka sirik, haha! Abis Daddy kamu kalo nulis bisa bagus banget gitu, pake bahasa Indonesia maupun Inggris. Dari tulisannya juga aku tau kalo Daddymu orangnya jujur, tegas dan baik. Makanya dia bilang kalo dia sakit di calon sekolah kamu. Sayangnya calon sekolah kamu nggak sebaik dan sejujur Daddy kamu.

Immi,

Aku sedih kamu ditolak sekolah, padahal kamu lulus tes. Aku sedih kejujuran Daddy kamu malah bikin putrinya nggak bisa belajar di tempat yang dinilai bagus. Hanya karena kamu punya ayah yang AIDS. Padahal yang mau sekolah kan kamu. Aku nggak ngerti kenapa mereka takut ketularan padahal kamu sama sekali nggak sakit. Harusnya kan kalo AIDS segitu gampang nular, udah dari dulu kamu HIV positif. Nyatanya nggak kan? Kamu sehat-sehat aja kan? Harusnya mereka lebih takut sama penyakit Hepatitis atau TBC yang nularnya malahan bisa dari udara. Kalo emang sekolah kamu kayak gitu, aku rasa itu bukan buat kamu. Soalnya orang-orang yang bikin kamu nggak bisa sekolah itu lebih payah dari sekadar cupu. Mereka nggak kebuka pikirannya. Mereka malas cari tau dan mereka lebay. Untuk cari aman di kumpulannya sendiri, mereka bikin kamu jadi korban. Dan itu nggak bener.

Tapi aku juga nggak bisa nyalahin mereka sih. Itu mungkin udah jadi budaya di sini. Budaya yang nggak asik kalo diterusin. Kalo kamu besar nanti, kamu bakal ngerasain sendiri gimana takutnya orang-orang pada sesuatu yang berbeda. Mereka akan merasa lebih nyaman kalo semua orang sama seperti mereka. Kalo bisa pakaian, sepatu, tas, sampe celana dalam pun diusahakan harus sama. Makanya dulu waktu KD nongol dengan dandanan kayak topeng, semua orang latah ikutan dandan kayak dia. Sampe-sampe tiap aku liat mbak-mbak yang dandan mukanya jadi sama semua. Dan waktu Syahrini pake kaftan, semua orang juga pake kaftan. Dan kamu tau? Waktu lebaran Idul Fitri kemarin aku seperti melihat satu ruangan penuh Syahrini karena semua Budhe, Tante, sepupu dan kerabat perempuanku kompak pake kaftan.

Immi tau nggak? Mereka yang nolak Immi karena ketakutan itu punya penyakit menular yang jauh lebih mematikan dari AIDS yang diderita Daddy. Namanya ketidakpedulian, ignorance. Orang yang tidak peduli itu nggak mau repot belajar. Mereka nggak mau susah untuk kenal lebih dekat dengan ketakutan mereka. Karena jauh lebih mudah menghindar, menjauh, dan menolak rasa takut ketimbang mempelajari apa sebenarnya akar dari ketakutan itu. Padahal rasa takut itu nggak malah dipiara, tapi harus diadepin. Kalo takut terus, kapan beraninya?!

Mereka juga punya penyakit yang namanya abai. Negligence, karena mereka mengabaikan hak Immi sebagai anak yang perlu pendidikan. Mereka nggak liat kemampuan Immi yang udah bisa baca dan lulus tes.  Mereka cuma liat bayangan Daddy Immi yang begitu jujur bilang kalo dia sakit. Mereka nggak ngasih jalan keluar tapi lari dari tanggungjawab. Dan orang dewasa, yang harusnya melindungi dan melaksanakan kewajibannya pada anak-anak, seharusnya nggak seperti itu.

Immi sayang,

Aku yakin orangtua kamu nggak mau anaknya terganggu dengan kondisi mereka dan semua akibat yang ditimbulkan. Tapi kita nggak bisa milih orangtua kan? Dan sekecil kamu harus menanggung sirkus hidup yang mungkin kamu bingung ngadepinnya, yang bukan kesalahan kamu. Sirkus, yang terdiri dari orang-orang yang abai, yang tidak peduli, yang menudingkan telunjuknya ke jidat Immi tanpa Immi tau kenapa mereka kayak gitu. Atau mereka yang hanya ingin melihat mukamu lalu berkata "kasihan yah…" dengan tatapan penuh iba yang aku yakin kamu nggak memerlukannya. Percayalah, aku pernah ada di posisi itu. Dan aku yakin, apapun yang nanti kamu lalui, kamu akan jadi orang yang lebih pengertian dan lebih kuat dari manusia biasa. Karena kamu punya sepasang malaikat penjaga yang bukan orang kebanyakan: Daddy dan Mommy kamu.

Sementara itu, Immi sabar dulu ya. Orangtua Immi lagi cari keadilan buat putrinya. Dan kesadaran buat orang-orang yang masih pada tidur dan mimpi bahwa dunia tempat mereka hidup adalah tempat semua perempuan berkaftan dan berdandan ala KD.


Dedicated to Zipporah Imogen Divine and her two angels, Fajar Jasmin and Leonnie F. Merinsca in their struggle against AIDS discrimination to get education in Don Bosco Elementary. We're with you…

UPDATED:
SD Don Bosco 1 Kelapa Gading sudah mengakui kesalahannya karena kurangnya informasi yang mereka dapat tentang HIV dan AIDS dan Immi akhirnya bisa bersekolah di situ. Way to go, Daddy and Mommy! You have fun, Immi! (=
 

Labels: