"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Tentang Tas dan Mas-mas

Posted by The Bitch on 7/29/2011 03:32:00 AM

PENYANGKALAN: Ini adalah penghakiman, bukan apresiasi. Watch it.


Sejak saya sekolah saya jarang punya teman perempuan. Well, frankly speaking, saya memang jarang punya teman. Saya-you may say-cupu abis. Tanpa TK saya langsung masuk SD, jadi nerd yang buta baca-tulis, badan paling bongsor tapi umur paling muda, dan jadi sasaran bullying teman sekelas dan guru pertama.

Tapi saya percaya what doesn't kill me makes me stronger (though it does feel like a major, fucking hell). What I've gone through shaped me what I am now. So here I am, a bitch and all. Or at least that's the word people stamp on my forehead that I bear indifferently.

Yet, being a bitch, I have my own value. One of those is to be able to depend on myself. Dan ke-bitch-an saya terusik pertama kali saat saya masuk SMP. Dalam perjalanan pulang-pergi sekolah menggunakan angkot, bis atau KRL sering saya dapati mas-mas menenteng tas pacar mereka. Itu tas perempuan. Modelnya feminin sekali. Kebayang nggak sih ada cowok nglanangi abis, berkumis dan berjambang, bertopi, jins dan sneaker, tapi menyandang tote bag merah marun di sebelah pundak? Sementara di sampingnya ada perempuan menggelendot manja dengan tangan kosong (kecuali lengan si mas yang dia dekap erat menyentuh tetek). Komentar sinis saya menyebutnya quid pro quo: you carry my bag, I give you a touch of my tit.

Selama ini saya selalu menafikan pemandangan yang biasa saya pindai dari sudut mata dengan wajah sinis. "Cemen!" teriak saya melalui sebelah alis terangkat dan ujung kiri bibir sedikit naik. Tapi kemarin malam teman serumah saya membicarakannya dalam perjalanan pulang dari warung susu segar ke pagar.

"Menurut gue amat sangat konyol ngeliat ada cowok bawain tas ceweknya. I mean, come on! Elu tuh cowok! Garang dikit kenapa sih?! Terus ceweknya juga kenapa mau tasnya dibawain, coba?!" Begitu komentar teman saya tentang apa yang dia temukan di bis sepulang ngantor. Saya cuma nyengir dan teringat kembali apa yang saya siniskan sejak SMP itu.

Buat saya sikap semacam itu adalah penghianatan terhadap cinta (jika sepasang kekasih itu memang pacaran demi cinta). Mereka melanggar apa yang disebut Gibran sebagai "ruang untuk berkembang", menutup kemungkinan pasangan masing-masing agar tumbuh menjadi individu yang lebih baik. Masnya membuka peluang untuk melemahkan mbaknya dengan gestur sesederhana itu; sementara mbaknya membuka peluang untuk dicemenkan. Bayangkan, jika dari awal perempuan sudah diberi privilege sedemikian besar seperti ojek/bodyguard pribadi yang rela mengantar-jemput kemana pun; personal porter yang mau membawakan barang seberat apapun; audiens setia yang mengiyakan semua tindakan sesalah apapun. Hey, you're becoming hopeless, girl! Ketika kamu mengalami ketergantungan sedemikian hebat pada orang lain, kamu nggak akan bisa ngapa-ngapain ketika orang itu pergi. Dan ketika duniamu melulu terisi satu orang itu saja, kamu nggak akan punya orang lain bahkan hanya untuk nongkrong apalagi curhat-curhatan ketika satu orang itu minggat. Setelah dapetin apa yang dia mau, tentu. Which is to get into your pants. Vagina.

Okay, call me suudzon, negative-thinking, anything. But that's how I see it from where I sit. Tapi jangan salah. Perempuan-perempuan pintar yang pura-pura helpless menggunakan trik ini to get what they want: a slave. Mereka perlu pemuja, orang yang bisa disuruh-suruh, gaining sympathy to get what they want. Tapi biasanya perempuan-perempuan cerdas ini punya bargaining position tinggi dan punya teman, dunianya nggak cuma masnya doang. Di tangannya, being helpless menjadi semacam senjata. Sayangnya saya nggak punya kenalan yang seperti ini dan dua analisa asal-asalan itu juga hanya berdasarkan apa yang saya lihat.

Tapi dari kesotoyan mata saya, it sure takes two to tango. Ada pelaku, ada korban. Kita juga nggak pernah tau siapa pelaku dan siapa korban setiap ada kejadian mas-mas bawain tas mbaknya. Siapa yang tau jika ternyata mbaknya playing victim dan punya kecenderungan sadis yang menikmati saat-saat "memalukan" di bawah tatapan publik ketika the so-called pacarnya memutus urat (ke)malu(an) dengan membawakan tas perempuan dengan aksesoris rantai atau bandul centil. Atau masnya yang pura-pura jadi korban, rela menanggung malu demi pertunjukan cinta mengenaskan yang dipertontonkan ke khalayak.

Hey, we'll never know.

Labels:

Series of Random Thought: At Dawn

Posted by The Bitch on 7/27/2011 07:22:00 AM

So here's the thought:
Somebody's been thinking to screw my mind and failed successfully. But that's alright. There will be tomorrow, Buddy. So keep trying.

Dan pagi buta begini saya mengais-ngais sisa semangat yang sempat hilang lama sekali. Tapi saya nggak yakin. Benarkah hilang, terselip di dompet siapa, atau hanya plesiran sementara?

Jadi, saya hanya bengong menatap langit-langit kamar yang masih saja terlalu gelap. Suara Dr. Lightman menemani saya sebagai latar, dimana benak saya mengembara bersama entah.

Relationship. Kadang bikin nyaman, kadang bikin kuat, namun lebih sering menorehkan gurat luka pada ego yang sebelumnya tak pernah terjamah.

Baiklah. Tiap orang butuh ironi dan tragedi untuk bikin dirinya merasa lebih baik. Termasuk saya. Jadi, mari kita bicarakan cerita orang lain ini.

Tersebutlah seorang perempuan urban kosmopolit nan cantik, terlalu matang dan tak lagi muda. Dia melek politisasi tubuh perempuan, vokal menyuarakan hak-haknya sebagai mahluk bervagina, mandiri, punya jabatan, bergaji dua digit dalam satuan dollar Amerika. Tak ada satupun lelaki berani bertaruh ego mendekatinya. Karenanya dia masih melajang pada usia di penghujung kepala tiga.

Lalu datang si lelaki menyebalkan, bersenjatakan pesona "bad boy" cuek seenaknya dan menantang minta ditaklukkan. Si perawan tua berbalik jatuh cinta. Kemudian mereka tidur bersama. Pagar ayu terlanggar, dan mereka ngéwé berkali-kali dari sore sampai pagi.

Kalian tau kelanjutannya. Standar! Si lelaki mengaku bujang lapuk padahal sudah beristri dan beranak tiga di kampungnya sana. Perempuan terluka. Tapi hanya sesaat. Karena dia merasa telah menemukan cinta yang patut dibawa dan dijalani hingga mati. Dia merasa cinta sarat melankoli yang dia miliki adalah harga mati.

Jika telingamu yang mendengar kisah semacam ini dari tiga orang berbeda hanya dalam rentang waktu sebulan, apakah kamu tetap akan di situ, memeluknya ketika dia-gurumu, orang yang jauh lebih tua darimu dan yang mengajarkanmu banyak hal tentang bertahan hidup di belantara woman womini lupus-menangis tergugu seperti anak kecil minta mainan?

Saya murid yang baik. Pencapaian saya melampaui apa yang diharapkan para Mistress itu. Karena itulah-setelah mengulangi apa yang pernah mereka ajarkan pada saya-tak banyak basa-basi saya berkata: "you're no longer talk the talk and walk the walk. You're drunk on the so-called love, and from where I sit I see only a delusional image of what you don't and can't have, and I despise that. Come to me when you're sober. In the mean time, shut the fuck up. I'm fed up."

Lalu saya hengkang. Dan bertahun-tahun kemudian kabarnya mereka masih saja menjadi pecandu cinta. Like I care.

Setengah tujuh kurang pada Rabu pagi ketika kalimat ini diketikkan. Denting mangkuk tukang bubur pertama terdengar lamat-lamat dari luar pagar. Namun saya masih saja tak habis pikir mengapa sepagi ini sudah terdengar suara shalawat ibu-ibu majelis taklim entah dari masjid mana. Sebegitu membosankannyakah menjadi ibu rumah tangga di rumah kalian sendiri, Bu?

Benak saya berputar pada perihal candu bernama cinta. Telinga saya mendengar pengejewantahan candu yang lain. Dan saya punya candu saya sendiri yang-mudah-mudahan masih bisa saya kendalikan kadarnya: kamu.

Sekarang biarkan saya tabuh sepasang gendang telinga yang hampir tuli ini dengan bebunyian dari pita suara De La Rocha sebagai pengantar saya bermimpi lucid.

Selamat malam. Selamat tidur.

Labels:

Tentang Maaf dan Ramadhan

Posted by The Bitch on 7/25/2011 09:51:00 PM

Sudah mulai penuh inbox kalian dengan basa-basi-busuk pra-Ramadhan berupa permintaan maaf?

Untuk yang belum menyampahi kerabat dan kolega dengan broadcasted messages penuh kepalsuan, here's the thought:

Mengapa tak minta maaf pada orang-orang berbeda agama karena nantinya akan membuat tidur mereka terganggu akibat kesupersibukan masjid dan mushola dinihari?

Mengapa tak minta maaf pada para PSK yang harus menganggur di "bulan suci"?

Mengapa tak minta maaf pada para pemilik warung makan yang dilarang jualan siang-siang?

Mengapa tak minta maaf pada para keluarga miskin yang akan kesulitan makan karena harga-harga melambung tinggi?

Mengapa tak minta maaf pada semua pekerja hiburan malam yang juga menganggur padahal sebagian besar juga ikut Lebaran?

Mengapa tak minta maaf pada orang-orang sakit yang ingin ikut puasa tapi dilarang dokter?

Mengapa tak minta maaf pada anak-anak kecil yang (dipaksa) belajar lapar?

Mengapa tak minta maaf pada para gembel musiman yang berharap rejeki dari orang-orang saleh?

Tapi satu hal yang menghantui saya tiap Ramadhan hanya tinggal di ujung jalan:

Mengapa tak minta maaf pada dirimu sendiri yang menahan napsu seharian hanya untuk melepasliarkannya kembali saat adzan maghrib berkumandang? Dan mengapa harus meminta maaf jika kita sama-sama tau kita akan kembali mengulang kesalahan yang sama?

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang satu bulan paling bermasalah diantara sebelas bulan yang lain...

Labels:

Series of Random Thought: Confession

Posted by The Bitch on 7/24/2011 08:13:00 PM

Start (menurut jam di Pektay): 7.23
Finish : 7.30

Ini semacam pengakuan. Beberapa bulan ini saya tidak lagi jadi procrastinator kelas wahid tapi jadi tumbuhan. Hidup asal hidup. Keinginan jalan-jalan, baca, nonton, apalagi menulis, sama sekali nggak ada. Saya nggak tau kenapa. Padahal saya merasa nggak ada masalah. Kecuali masalah laten yang dari dulu sampai sekarang ya begitu-begitu saja.

Jadi, saya mencoba lagi cara lama, menulis apa yang ada di benak saya dalam waktu yang saya tentukan sendiri. Entah menulis apa. Yang penting menulis.

Tadi pagi saya nonton Biutiful, film besutan sutradara Innaritu. Ceritanya anjing. Tentang seorang ayah (yang entah kenapa waktu saya lihat mukanya dari samping saya teringat film animasi Disney yang lokasinya di Peru) preman yang kerjanya jadi mediator antara kontraktor dan para imigran gelap, punya istri rada gila tapi seksi, beranak dua perempuan dan laki-laki, dan di tengah kericuhan antara kondisi rumah tangga dan pekerjaan dia baru tahu bahwa dia menderita... kanker.

Saya nggak mau jadi spoiler. Saya juga nggak mau bikin review. Tapi buat saya film itu bawa pengertian baru buat saya bahwa semua orang yang mendekati mati adalah selfish, tapi yang lebih selfish adalah mereka yang hidup dan ngganduli orang yang mau mati.

Time's up!

Labels: