"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Tentang Ibu

Posted by The Bitch on 2/14/2011 04:31:00 AM

Ini adalah tentang Ibu, yang tak pernah habis dibahas, yang seperti tak mengenal kata lelah, yang dijunjung lebih tinggi dari kepala sendiri nyaris seperti Tuhan, Google dan Wikipedia berjalan dari darah-daging-tulang dalam masa-masa awal saya hidup, yang bahunya jadi tempat bersandar paling nyaman saat lutut atau hati saya terluka. Mirip manusia super.

Syahdan beberapa kata memuliakannya sebagai mahluk suci-semuci. Ibu pertiwi atau ibu alam yang berasal dari kata mother nature sebagai tanah tempat manusia hidup dan perlambang kebijaksanaan alam; kata ganti perempuan "she" dan "her" untuk menamakan kapal karena nakhoda diasumsikan sebagai lelaki dan kapalnya adalah ibunya (atau istrinya, pilih saja); ibu jari, karena tanpanya ke empat jari lainnya akan kesulitan memegang apapun. Silahkan tambahkan sendiri jika suka.

Dan sama seperti semua anak di seluruh dunia, saya dan Ibu juga mengalami fase love-hate relationship pada alur kehidupan kami. Ibu saya keras. Bagi kami kedua anaknya, perkataan Ibu adalah sabda tak terbantahkan. Saya sempat tidak bertegur sapa dengan Ibu selama lebih dari sebulan karena masalah yang sekarang pun saya sudah lupa. Bobot saya menurun karena saya hanya bergantung pada mie ayam di kantin sekolah sebagai asupan nutrisi sehari-hari tanpa sedikit pun makan masakannya. Dia juga tidak menggubris saya di rumah, menganggap saya entah angin entah kentut, tak kasat mata, tanpa bau. Hingga suatu sore sepulang nongkrong saya dapati Ibu menangis di meja makan dan meminta maaf. Iya. Ibu saya meminta maaf.

Adik saya yang perempuan dan bungsu itu berpendapat bahwa tak ada ibu lain di dunia yang segalak dan setegas ibu kami. Jika dia dapati seorang anak kecil merengek atau menangis tak dibelikan mainan, dia akan komentar: "Kalo kamu anaknya ibuku, Dek, nggak akan sempet kamu nangis-nangis kayak gitu. Malah shock dijiwit duluan." Atau, "Wah, kalo kamu anak ibuku kamu pasti ga sampe segede ini. Paling umur 3 taun udah gantung diri saking stressnya punya ibu galak." Dan kami bangga diberkati mental baja karena masih tahan punya ibu seperti itu di usia kami yang sebangkotan ini ((=

Namun gilanya, jika kami, anak-anaknya, duduk berhadapan dan masalah apapun kami utarakan, dia akan mendengar kami dengan seksama, mengangguk-angguk mirip begawan disambati murid padepokannya, tanpa mengelus-elus jenggot putih panjang, tentunya, karena ibu saya perempuan. Dia akan menjawab sejauh apa yang dia tahu, dan meminta kami cari tahu sendiri jika dia menyerah. Kadang memang suka sok tau, sebagaimana semua ibu-ibu di dunia. Tapi yah, mungkin menjadi ibu memang harus seperti itu.

Ibu tak pernah melarang kami melakukan apapun, bahkan mabuk. Untungnya, saya juga malas mencoba karena di sekeliling saya orang-orang pemabuk bukan orang keren. Mereka minum di tongkrongan, teman-teman saya yang lebih tua itu, dan pulang terhuyung-huyung ke rumah setelah muntah di got. Atau bergerak malas seperti zombie dengan lingkar mata kehitaman. Atau cekikan tertawa-tawa demi melihat sandal bertumpuk. Begitu itu, tergantung mereka sedang mabuk apa. Nggak keren kan?!

Di usianya yang masih sangat muda, ketika teman sebayanya masih senang-senang cinta-cintaan versi monyet, Ibu sudah harus mengurus Babab, saya, Mbah dan paman-paman saya. Pilihan, katanya. Dan saya melihat Ibu saya sebagai manusia ketika keluarga saya dilanda masalah hebat. Ibu saya bukan orang yang cengeng. Dia tidak gampang menangis kecuali nonton drama Korea atau Jepang. Tapi suatu waktu dia datang pada saya sambil menangis dan bercerita tentang masalahnya. Pada detik itu saya dikarbit jadi dewasa, dipaksa jadi manusia sederajat tempat Ibu mengadu. Dan rasanya melelahkan, memang, memanusiakan Ibu itu. Tapi saya akhirnya sadar bahwa Ibu bukan malaikat, tidak hebat-hebat amat. Ibu juga manusia, orang, individu, sama seperti saya, adik, kamu, kalian. Dia mahluk, punya masalahnya sendiri, punya pribadinya sendiri. Hal-hal seperti itu kadang luput dari perhatian saya sebagai anak karena merasa dia HARUSNYA mengerti, HARUSNYA paham, HARUSNYA tahu. Dan saat itu saya merasa salah karena telah menuntutnya terlalu tinggi dari apa yang bisa dia lakukan. Hanya karena dia seorang ibu, bukan manusia biasa.


Saya ingat betul suatu malam di Jogja ketika saya menangis mendengar lagu ini. Entah mengapa saat itu saya kangen sekali. Saya kangen masakannya, kangen omelannya jika saya males mandi, kangen muka juteknya kalau saya pulang terlalu malam, dengan betapa jengahnya saya mendengar hal-hal yang tidak saya suka, kangen pipinya yang sudah tidak lagi kenyal ketika saya mendaratkan ciuman di sana, kangen kekhawatirannya mendengar saya batuk akibat terlalu banyak merokok. Dan semua hanya karena dia seorang ibu.

Selamat Hari Valentine. Saya sayang Ibu.

Labels: