"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Forgiveness(?)

Posted by The Bitch on 11/28/2010 06:21:00 AM

Will You forgive me,

For the fire I see in a pair of those ever observing eyes, materializes in the speech as venomous as the Devil Himself yet a heart as gentle as the first dewdrop early in the morning?

For the same questions I hear, the ones I shouted to the sky but never got the answers except in each others'?

For the discreet desire, awkward smiles, and the zillionth times of those magic moments when our souls finally found themselves?

For the pain and sorrow we share in silence over a cup of coffee and a pack of cigarette because licking our wounds alone to heal was too much?

For the dusk through dawn in the blinding lights of the city, for the slightest, scrumptious, carnal instinct as old as the Mother Nature, for the sheer existence, for the speck of color in this black-and-white world, for the tousled hair, for his arching back, for the minds we never deep enough to dive, for the pimples in different coordinates, for the alert attitude with calmness like the darkest hour of the night?

Because You have my forgiveness if You can't forgive me for choosing him over You.

I am sorry. So fucking sorry.

Labels:

Tentang Bayi

Posted by The Bitch on 11/28/2010 03:28:00 AM

PERINGATAN:
Tulisan ini MUNGKIN mengandung spoiler.


Freedom has a scent. Like the top of a newborn baby's head.
- U2, Miracle Drug

Apa jadinya jika empat bayi dari empat penjuru angin berbeda difilmkan di awal-awal kehidupan oleh seorang sutradara Perancis? Jawabannya, Babies!

Gambar bergerak yang menakjubkan dan menghangatkan hati ini bercerita tentang Ponijao di Namibia, Hattie di San Francisco, Mari di Jepang dan Bayarjargal--satu-satunya jagoan--di Mongolia. Dikutip dari tulisan Bryan Alexander dalam wawancaranya bersama Thomas Balmes di sini, saya nggak bisa nggak setuju bahwa "keimutan dan ngambek itu tak berbatas."

Saya anak pertama dari dua bersaudara dan jarak usia kami cukup jauh. Saya sering meledek adik saya sebagai anak pungut dulu, lalu tangisnya akan meledak keras-keras sepersekian menit berikutnya. Atau menjepret lengan montoknya dengan karet gelang hingga bentol-bentol. Dan saya hanya tertawa melihat bagaimana anak-anak yang lebih besar di sekeliling Poni melakukan hal yang mirip seperti saya kecil. Atau bagaimana di akhir film Bayar ditenggaki minuman bersoda oleh abangnya, langsung dari botol besar. Ternyata, kakak di mana-mana sama: jahil dengan adiknya. Haha!

Saya tak peduli dengan pesan moral apapun dari film ini. Saya suka melihat bagaimana perjuangan para manusia kecil itu untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan awal mereka bereksplorasi, mengetahui apa yang ada di sekeliling mereka. Saya suka bagaimana Bayar merangkak diantara kaki binatang ternak atau Mari dan Hattie yang besar dengan kucing gondrong-gendut-lucu, dan Poni mengobok-obok geligi anjing berkaki besar. Mahluk-mahluk berkaki empat tersebut luar biasa sabar. Dan itu tidak akan terjadi jika interaksi mereka pada manusia terbatas.

Orang dewasa malah membuat saya tertawa miris. Ada adegan dimana para orangtua duduk bersila dalam lingkaran dengan bayi di pangkuan, menyanyikan mantra "The Earth is our mother, she will take care of us" di ruangan berkarpet dan berdinding. Sementara seorang bayi lain merangkak telanjang mencucupi air di genangan serupa sungai dan yang lain merelakan air mandinya diminum kambing kehausan. Ironi.

Satu hal yang saya pelajari adalah bahwa ternyata manusia di mana-mana sama. Mereka lahir, belajar, tumbuh dan berkembang, dengan atau tanpa teknologi. Dan kasih ibu memang luar biasa. Saya dengar tawa lepas dari dua orang ibu Poni yang beranak banyak itu, ngerumpi sambil mengepang rambut si kakak atau saling berbagi cuilan daging sambil menyusui. Si ibu Afrika bertetek panjang menggantung menjilati belek di sepasang mata sang buah hati dengan lidahnya, mengingatkan saya pada ibu sendiri yang dulu menyedot ingus adik ketika ia pilek tak bisa napas--dengan mulut dan bibirnya. Mengikat tubuh bayi di kaki ranjang agar ia anteng bermain sambil duduk juga bukan hal luar biasa untuk ibu-ibu Mongol yang harus langsung bekerja selepas melahirkan. Sama seperti ibu saya menyetelkan Rolling Stones atau Beatles pada bayi-bayinya agar terbiasa tidur angler dengan suara seberisik apapun sementara beliau melakukan tugas domestik.

Dan saya setuju pada pendapat Pak Balmes, bahwa bayi-bayi modern di perkampungan urban terlalu banyak rangsangan. Dia bilang terkadang bayi perlu diberi waktu senggang tanpa apapun agar di detik itu, saat itu, mereka melihat dan mendengar apa yang ada, bukan yang diada-adakan. Percayakan semua pada kerja indera dan benak yang lapar. Toh mereka juga akan mendapati "the best of that moment". Mari ngambek tak sudah-sudah meski ditimbuni banyak mainan bermacam bentuk-warna-suara; Hattie ogah dipangku dan memukul wajah ibunya yang lalu memperingatkan melalui buku bergambar berjudul "No Hitting". Sementara Bayar cerdik bermain dengan gulungan tisyu toilet--yang kadang juga dia makan ujungnya--atau Poni bermain masak-masakan hanya dengan batu sebagai ulekan menggerus tanah liat.

Urusannya dengan lagu Om Bono yang saya kutip? Saya cemburu pada bayi yang bebas menabrak semua norma dan aturan masyarakat, dihujani kasih sayang sebegitu rupa dan tiap kesalahan dan amarah dianggap lucu. Pikiran bayi yang bebas tanpa batasan terlalu haus dan rakus menyerap hal baru, hingga apapun yang diberi akan mereka eksplorasi sebebasnya.

Betapa saya ingin punya pikiran semurni bayi...

Labels:

Tentang Agama

Posted by The Bitch on 11/15/2010 10:05:00 PM

Penyanggahan:
Saya TIDAK membenci agama dan semua ritualnya. Tulisan ini hanya salah satu cara saya mempertanyakan apa yang saya yakini.

Gambar di sebelah adalah laman berkicau milik bintang porno Vicky Vette. Kabarnya, dia sempat menggoda bapak Menkominfo Indonesia yang terhormat dengan celoteh-celoteh nakal akibat Michellegate yang menggemparkan itu.

Well, kalau Pak Tiffie bukan Menkominfo mantan Presiden PKS yang sangat relijius mungkin kejadiannya nggak bakal kayak gini. Nggak bakal dibikinkan adegan lambatnya dan dianalisa di acara komedi malam dan dijadikan bulan-bulanan tweeps sejagad. Sepak terjang beliau sejak jadi Mekominfo sepertinya mengisbatkan diri jadi admin internet Indonesia dengan standar moral tinggi melalui berbagai pembatasan yang mengatur akses dan isi ruang maya di negara ini--dan sama sekali nggak ramah bagi pengguna dan penyedia jaringan. Atas nama agama, katanya(?).

Satu hal di benak saya ketika riuh-rendah pro-kontra Permen Konten Multimedia membahana: Maksudmu apa to, Pak? Dari tempat saya duduk, saya cuma lihat satu tujuan: terbungkamnya freedom of speech, terlepas dari peran Anda yang sepertinya getol sekali menjaga moral bangsa. Dan Anda masih berusaha cuci tangan ketika televisi nasional menyorot Anda yang jelas-jelas bersalaman dengan non-muhrim dengan menyalahkan tangan 1st Lady Amerika yang terlalu maju? Astaga...

Saya memang bukan pengamat politik. Saya menyensor benak sendiri dari berita-berita sampah yang berseliweran tiap nano detik di berbagai media, internet maupun koran, majalah, buku, televisi, radio. Dari yang mainstream maupun yang bukan. Namun saya geram ketika orang semena-mena mencampurkan agama ke dalam pranata sosial dan berusaha tampil bersih-bersinar dengan jidat berbalak. Itu bullshit. Seperti mencoba mencampur minyak dan air--dengan bantuan sabun sekali pun. Nggak bakal gathuk!

Saya nggak tahu apa yang ada dalam pikiran orang-orang (yang katanya) beriman dan berkoar-koar menyeru kebaikan. Sebab yang mereka lakukan adalah sebaliknya. Lalu... iman? Mengutip apa yang dikatakan Bill Maher: What's so good about faith, anyway? (kecuali sebagai tali pencucuk hidung agar orang lain nurut pada apa yang termaktub di kitab suci, persis kerbau. Hey, no offense.)

Beneran deh. Untuk bersosialisasi, untuk hidup di masyarakat dan untuk mengatur manusia, kita cuma perlu hukum yang adil dan beradab yang menimbang dan memikirkan kepentingan semua pihak--yang berkuasa maupun yang tidak, borjuis atau proletar, akar rumput maupun pemilik mall, sudah berjembut maupun yang belum--tanpa harus ditakut-takuti teror dibakar api abadi atau dijanjikan surga dengan tujuh vagina basah bidadari perawan. Agama? Cukup lah dihayati dalam masing-masing pemilik hati, sebagaimana saya meyakini bahwa alam semesta saling terhubung entah dengan cara apa. Karena seperti yang "laki saya" bilang dalam salah satu SMS mesra kami lepas tengah malam:

"Aku masih percaya dengan apa yang kuanut saat ini. Mungkin tidak semua, tapi ada yang bisa dijadikan pegangan dan harapan. Terkadang, ayat suci seperti sajak dan Tuhan seperti puisi. Dalam sepi, kita tak merasa sendiri."

Karena itu saya muntap ketika beberapa teman yang mengaku tak bertuhan melecehkan para korban bencana alam sambil bercanda, "hey, banjir di mana-mana. Bertobatlah, kerajaan Allah sudah dekat!" Well, itu tidak bijaksana sama sekali. Sama tidak bijaksananya seperti melarang orang berjualan makanan pada bulan Ramadhan. Sama tidak bijaksananya dengan melarang orang mendirikan rumah ibadah. Sama tidak bijaksananya dengan grebekan rumah bordil atas nama Tuhan.

Agama dan Tuhan bagi saya bisa berwujud apapun. Ayat suci bisa mengejewantah menjadi dalil-dalil Darwin atau teori knowledge/power-nya Foucault. Sebagaimana Mas Dani tak bisa memaksakan agama Leica pada para fotografer amatir, saya tak berdakwah pada adik saya untuk menikmati sastra seperti saya membaca Kafka. Jadi, mengapa repot mengurusi agama?

A religion that takes no account of practical affairs and does not help to solve them is no religion.

ps. Selamat Idul Adha. Apapun yang Tuhanmu bilang, jangan sekali-sekali menggorok anak-anakmu!

Labels: