"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Surat (Cinta) Terbuka untuk FPI: Karena Kita Bersaudara

Posted by The Bitch on 9/29/2010 05:04:00 AM

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya Akhi.


Semoga keselamatan, berkah dan rahmat Allah selalu dilimpahkan bagimu, Saudaraku. Begitu kan terjemahan Bahasa Indonesianya? Indah ya, salam orang Islam itu. Tidak egois sama sekali. Saya sering dibuat takjub saat tersadar betapa agung arti dari sekelebat salam yang mendoakan orang lain. Sepertinya tidak ada salam yang lebih indah dari salam para pemeluk Islam.


Saya datang tak bersenjata sama sekali karena keinginan saya adalah bertamu. Sebagai tetangga satu bangsa, saya hanya bawa diri dan hati. Meskipun kata teman saya orang-orang seperti Akhi hanya bisa mengkafir-kafirkan orang lain yang tidak duduk bersama dalam taklim, saya tidak percaya. Karena itu, mari kita bicara. Hanya saja, begitu banyak pertanyaan sesak di dalam kepala saya. Tolong, jika Akhi berkenan, saya perlu jawaban.


Begini…

Saya sedih sekali tadi siang, mendengar kabar tentang kawan-kawan Akhi yang bersiap membawa parang dan asma Allah ke tempat-tempat Q! Fest. Kenapa, Akhi? Mereka punya hak juga kan muterin film? Mereka kan tetangga kita juga. Kenapa didzalimi hak mereka untuk “bicara”? Gimana, gimana? Film-film mereka merusak moral bangsa? Oh, Akhi dan kawan-kawan merasa berkewajiban menjaga ahlak dan moral saudara seagama setanahair, begitu ya?


Ummm… Sebenarnya saya masih nggak ngerti dengan alasan-alasan yang Akhi kemukakan. Masalah moral bagi saya pribadi adalah urusan masing-masing orang punya selangkang. Sama seperti bagaimana saya mempercayai Tuhan (yang mungkin tidak sejalan dengan apa yang Akhi percayai), moral adalah urusan personal. Dan tentang tontonan yang dianggap banal… Apa Akhi sudah melihatnya? Ah, bahkan orang bijak berkata untuk tidak membicarakan sesuatu yang kita tidak punya ilmu untuk itu.


Saya nonton salah satunya kemarin malam, di salah satu ruangan di gedung Summitmas I tempat Japan Foundation berkantor. Filmnya lucu, judulnya "Pachigi!". Tentang pergolakan orang-orang Korea “buangan” dengan penduduk lokal Jepang di Tokyo akhir tahun 60an. Sama sekali nggak ada jorok-joroknya karena tukang editnya keren. Adegan jorok dia gunting semua. Tanpa ampun, tak bersisa. Nggak ada juga gambar tentang lelaki yang berhasrat dengan sesama lelaki atau perempuan dengan sesama perempuan. Adanya tentang tawuran antara anak-anak muda Jepang dan Korea. Dari cara mereka teriak, adu jotos, pukul-pukulan dengan batang kayu dan besi, saya ingat bagaimana raut wajah dan sumpah-serapah rekan-rekan Akhi di hadapan mbak-mbak di jalan Melawai suatu malam. Akhi dan teman-teman berpakaian dan bersorban putih-putih tanpa helm, berboncengan dua-dua, beriringan tiga motor, dan meneriakkan “Allahu Akbar” kencang-kencang sambil mengangkat kepalan tangan kanan ke udara. Kalau Akhi percaya bahwa Allah adalah Khalik, pencipta semua mahluk, dan jalan nasib masing-masing adalah prerogatifNya, bukankah berarti Akhi sudah semena-mena mengintimidasi mbak-mbak itu yang juga ciptaanNya?


Maafkan saya, Akhi, jika nada suara saya sedikit meninggi. Saya hampir emosi. Tapi sekuat tenaga saya tekan karena, lagi-lagi, kita saudara sebangsa. Tadi, waktu saya hampir meledak, saya iseng buka Quran dan nyasar di surat Annisa: 36. Bukankah disitu jelas-jelas tertulis untuk berbaik-baik kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu? Dan bukankah sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri?


Bagi saya, orang-orang dengan orientasi seksual tidak umum seperti gay, lesbian, waria dan biseksual adalah juga ciptaanNya yang di”miskin”kan. Masyarakat masih ketakutan dan menganggap homoseksual seperti penyakit lepra yang sekarang hanya kita tahu namanya dari kitab suci dan buku sejarah. Padahal tidak seperti itu. Bukan saya sok tahu, Akhi. Tapi dulu saya sempat jadi sukarelawan untuk kelompok homoseksual. Saya kenal personal dengan mereka selama setahun kami kerja bersama. Seperti manusia pada umumnya, mereka ada yang baik dan ada juga yang jahat. Ada yang pendiam, ada yang cerewet. Ada yang pemurung, ada yang periang. Ada yang cerdas, dan yang lemot juga ada. Dan, jangan salah, mereka ada juga yang rajin sholat. Beberapa diantaranya bahkan pintar-pintar. Mereka studi S2 dan ada juga yang sedang ambil Master. Tapi sayangnya mereka miskin sampai sekarang. Hak mereka ditiadakan. Padahal yang mereka inginkan juga sama seperti kita: penerimaan tanpa prasangka. Mereka juga makan nasi, sama seperti kita. Mereka juga butuh teman, sama seperti saya. Dan mereka juga butuh punya kumpulan, sama seperti Akhi dan rekan-rekan.


Kalau Akhi iseng menyempatkan waktu disela-sela kajian dan tabligh untuk googling tentang psikologi populer, Akhi akan dapati angka fantastis: 70% orang-orang homophobic—mereka yang fobia dengan homoseksual dan segala kegiatannya—punya kecenderungan menjadi homoseksual. Dan mungkin jika Akhi penasaran, akan Akhi dapati bahwa banyak sekali manusia, hewan dan tumbuhan punya kromosom aneh yang membuat mereka tidak menjadi lelaki dan bukan juga perempuan. Mutasi genetik, tepatnya. Atau karena kondisi tempat tinggal. Ada anjing jantan yang kawin dengan sesama jantan karena pada masa mereka birahi tak mereka temukan betina. Atau menjadi sekedar gestur untuk menunjukkan siapa paling dominan diantara para pejantan. Ada juga bunga yang semua putik tanpa serbuk sari. Bukan salah Allah yang menciptakan yang ada di langit dan di bumi, yang wajahNya ada kemana pun kita menghadap. Karena yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Dan saya yakin Akhi yang gagah berani dan berjuang di jalan Allah sudah khatam ayat-ayat itu.


Jika Akhi berkenan, saya nemu satu tulisan menarik. Mungkin di Indonesia sini Akhi merasa jadi mayoritas, punya kuasa karena Akhi bawa parang dan pedang dan nama Allah dan merasa menjadi para penjaga moral bangsa. Tapi gimana kalo posisinya dibalik: Akhi jadi minoritas seperti para gay di sini, seperti para muslim di negara sekuler itu? Maaf, Akhi. Saya hanya berandai-andai. Andai Akhi punya sedikit rasa kasih dan penghormatan terhadap sesama manusia hingga Akhi dapat meletakkan parang dan pedang barang sebentar.


Saya tak pandai merangkai kata-kata bagus, Akhi. Saya lebih sering memaki. Tapi Akhi masuk dalam daftar “kecuali”, karena kita adalah saudara senegeri. Lagipula, kita hanya punya satu planet yang bisa bersama kita tinggali: Bumi. Jadi, mengapa Akhi tidak hormati sesama penghuni? Mungkin kita perlu menyamakan ide dan visi untuk membuat senoktah bulatan diantara galaksi Bima Sakti ini menjadi tempat yang lebih nyaman ditinggali. Bukankah kita, manusia, dan umat Muslim pada umumnya, mendapat julukan Rahmatan lil Alamin, berkah bagi seluruh alam? Jika Akhi dan rekan-rekan memang peduli dan punya energi berlebih untuk ramai-ramai meneriaki, mengapa Akhi tak sedikit tanggap terhadap keberlangsungan konservasi? Teman saya sangat perlu tenaga untuk barengan mungutin sampah yang mengotori Ciliwung tiap Sabtu. Teman saya yang lain juga perlu kawan untuk mengajarkan adik-adik pengamen jalanan bagaimana menyablon dan membuat desain grafis yang asik dan manis. Tidak jauh-jauh. Satunya di Bogor dan satu lagi di Kayu Manis. Dekat kan?


Jadi, Akhi, maafkan kelancangan saya yang perempuan tak berjilbab dan tak beragama ini untuk berani-berani berkirim surat cinta terbuka untuk Akhi. Saya percaya, ada satu hal yang dibawa Muhammad Sang Nabi yang pasti lekat di hati, yang beliau bawa hingga ajal, yang membuat tangis Jibril menitik karena kesederhanaan dan ketulusan: cinta kasih pada sesamanya, bahkan pada mereka yang berbeda pandangan. Jika tidak, kita tidak akan punya model tatanan sosial islami yang berjuluk “masyarakat madani”.


Sudah hampir Subuh. Silahkan jika Akhi ingin shalat. Semoga doa-doa yang Akhi panjatkan pada Allah dapat terkabul. Dan semoga Akhi juga tak alpa untuk selalu bersyukur atas nikmat iman dan kemampuan berlisan. Sungguh, Akhi. Saya masih percaya bahwa kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan hanyalah saya yang pantas jadi muara. Maafkan, maafkan.


Terima kasih, Akhi. Semoga kebaikan dan hidayah Allah yang dapat kita terima dari apa yang saya pertanyakan. Saya tunggu jawabannya, di ruang dimana dunia mampat dalam pendar layar elektrik di hadapan saya.


Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...


gambar diambil dari sini.

Labels:

Jakarta Adalah...

Posted by The Bitch on 9/26/2010 11:43:00 PM

“Ceritakan padaku tentang kota bernama Jakarta,” pinta seorang brondong yummy pada si sundal ngurban.

Si sundal tersenyum, menatap jalang si lelaki ranum.

“Owkey. Gini ya…”

Lalu mengalir kisah tentang kota tempat si kere dan si makmur tinggal bersisian, bahu menempel dengan bahu, namun jurang kehidupan memisahkan mereka aduhai jauh. Di pemukiman si kere kau bahkan bisa mendengar suara napas teratur tetangga yang pulas bermimpi punya sebelas bini—atau lenguhan kenikmatan tertahan saat penat coba dihalau syahwat, tergantung hari. Sementara di perumahan mewah si makmur, jika kau hendak sekedar kenal siapa yang tinggal di sebelah, sudah untung kau bisa bertemu BMW atau Jaguar yang barusan keluar pagar. Biasanya, cukuplah kau tak diusir satpam atau disapa babu.

Di Jakarta semua orang pemberani tak takut mati. Tiap detik nyali mereka teruji. Jika hidup adalah jihad, maka mereka adalah para mujahid bernyawa. Di sana, mati dan hidup bersahabat. Kebaikan dan kejahatan akrab berkawan. Setan dan malaikat bergandengan erat. Semua orang menghirup udara dengan kandungan kanker, bertaruh nyawa meskipun hanya melompat masuk ke dalam bis kota. Kau harus terampil dengan tidak berpegangan pada apapun atau pulang membawa oleh-oleh tetanus. Lagipula, sesaknya penumpang akan membuatmu tegak seperti anjing sirkus.

Ada empat tipe pengemudi angkutan umum di Jakarta: pemarah, pemabuk, pengidap gangguan jiwa, dan gabungan ketiganya. Yang pemarah tak pernah terima jalurnya diserobot. Akibatnya, kau akan rasakan bagaimana Schumacher minder pada supir Kopaja, Mikrolet dan Metro Mini yang lebih mahir meliuk seirama setir. Supir pemabuk dilindungi Tuhan karena semua penumpang berdoa demi kewarasannya dan keselamatan diri mereka masing-masing. Supir pengidap gangguan jiwa biasaya adalah mereka yang masih gagap dengan keadaan saking lamanya menjadi supir bajay. Sebab, sekali bajay tiba di persimpangan, bahkan Tuhan sendiri tak tahu ke mana ia akan berbelok. Dan yang paling parah adalah gabungan diantara ketiganya, karena tak ada satu pun saksi hidup yang tertinggal untuk bercerita.

Jakarta adalah tempat robot-robot bernyawa bergenital. Seringkali mereka terlalu lelah bekerja hingga terduduk lelap diantara sesak penumpang PATAS atau KRL, tak peduli seorang ibu hamil besar kepayahan berdiri meski di bawah situ si robot juga punya belalai.

Jika malam, Jakarta cantik berlampion, mengundang ngengat dan serangga apapun untuk datang kesilauan lalu tersengat mati. Tak boleh kau berbodi sekuat dan sebesar mammoth atau bertaring panjang dan gahar bagai macan gigi saber. Kedua-duanya punah, kecuali kecoak yang tahan hidup dalam kondisi apapun. Kau harus bisa mengecoak, menyelinap ke tempat-tempat paling bacin, berlindung dari ancaman apapun, siapapun. Di Jakarta teori Darwin mengejewantah: hanya yang dapat beradaptasi yang mampu bertahan. Dalam hal apapun, hingga masalah selangkang. Di sana akan akan kau dapati tak hanya lelaki dan perempuan yang berangkulan rapat. Tapi juga lelaki dengan sesama lelaki gemulai dan perempuan gagah mencumbu perempuan ayu yang pasrah. Alami, seperti kau dapati beberapa bunga yang hanya punya serbuk sari atau anjing jantan saling merancap.

Di tempat itu kau akan dapati malam seramai siang. Orang-orang berduyun-duyun datang, habis mandi dan wangi, padahal jarum jam menunjuk dini hari. Banyak mbak-mbak gilang-gemilang berbibir merah-tebal mengundang (meskipun mereka rela labia muka seperti disetrum-setrum kecil untuk mendapatkannya). Mas-masnya segar dengan baluran gel menyangga tatanan jambul di kepala.

Begitulah. Di tempat bernama Jakarta, kau punya kuasa prerogatif ingin jadi apa. Entah gurem yang ikut ke mana arus membawa atau noktah yang tegak berdiri gagah. Di ujung, hanya ada dua: mati seperti robot tanpa nurani atau bangga jadi manusia meskipun harus bertaruh darah dan airmata.

“Sampai sini kamu mengerti?” tanya si sundal pada brondong yummy yang pakaiannya satu-satu terlucuti.

Pertanyaan tak akan berjawab dan cerita tak pernah selesai karena mereka punya hasrat mendesak yang harus instan tertunai. Mirip Jakarta.

Ah…


gambar dicomot dari sini.

Labels:

Tentang Ibadah

Posted by The Bitch on 9/09/2010 02:06:00 AM

"Seharusnya ayahmu tidak berhenti hanya untuk menyembah Yang Kuasa. Patung-patung yang beliau bikin adalah mahakarya. Ia menyembah Tuhan dengan cara itu, menggunakan talentanya untuk menghasilkan karya seni. Itu sembahyangnya. Sayang sekali jika ia akhirnya harus bersembahyang seperti orang-orang pada umumnya."

Kata-kata itu diucapkan seorang om-om gondrong sepunggung yang kira-kira usianya awal empat puluh. Tanpa sengaja pameran lukisannya saya datangi, keisengan yang menjadi momentum ketika meninggalkan Jogja tahun 2006 silam. Takzim ia mengucap, seperti mengungkap penyesalan dengan tatapan penuh rasa prihatin pada teman saya yang ternyata ayahnya adalah seorang pematung legendaris di dunia seni. Lalu ia ucapkan duka cita ketika tahu paman saya (yang kini almarhum)--yang ternyata kawan kuliahnya di ASRI dulu--mengidap gagal ginjal kronis.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya menetap di Kota Mayat, saya dapati berbagai orang dengan sembahyangnya sendiri-sendiri. Entah karena sadar, entah karena tidak punya uang untuk mudik ketika penghujung Ramadhan hanya tinggal hitungan hari. Seorang bapak penjual nasi goreng berkata pada saya, dengan wajah sabar sambil tertawa renyah, "daripada saya mudik, ngabisin duit tabungan sekolah anak, mending saya jualan. Lebih berguna saya di sini, ngasih makan SPG dan SPB yang masih harus jaga toko habis Lebaran. Kan nggak ada warung yang buka, Mbak." Begitu katanya.

Lalu saya iseng bertanya pada salah seorang kawan yang bekerja sebagai paramedik di salah satu rumah sakit Jawa Timur.

"Cuti berapa hari? Ngumpul dong, sama ponakan," tanya saya.

"Ndak. Aku jaga. Lebih sering jaga pas Lebaran ketimbang cuti," jawabnya.

Jawaban selanjutnya ternyata hampir sama dengan penjual nasi goreng yang saya temui dulu.

Tadinya saya tak begitu mengerti tentang mahakarya yang adalah sembahyang. Hingga pada suatu hari saya membaca semacam biografi dari seorang Bapak Bangsa sekaligus tokoh pelestarian lingkungan Emil Salim. Pada kata pengantar ia berkata:

Bekerja bagi Indonesia adalah menjadi yang terbaik. Jika kau seorang pelajar, jadilah pelajar terbaik. Jika kau seorang guru, jadilah guru terbaik. Jika kau seorang karyawan, jadilah karyawan terbaik.

Nasihatnya sederhana sekali: menjadi yang terbaik, untuk peran apapun yang dijalankan tiap manusia di dunia. Bahkan menjadi penjahat sekali pun.

Bagi saya, itu dahsyat, tentang bagaimana konsistensi untuk terus berada dalam standar tinggi tanpa sedikit pun tergoyahkan. Tidak banyak yang tahan terhadap nilai-nilai yang ditetapkan dan dijalankan sendiri. Tak ada kontrol, tak ada yang melihat, tak ada yang harus dipertanggungjawabkan kecuali pada badan sendiri. Hanya segelintir orang yang mampu kaffah dalam tingkatan itu. Dan seorang tukang nasi goreng, paramedik, satpam, pengemudi taksi dan mereka yang bekerja di bidang jasa dan produksi, yang harus mengurusi hajat hidup orang banyak tanpa mengindahkan Lebaran, akhir pekan maupun tanggal merah, belum tentu berderajat lebih rendah ketimbang para pejabat yang kaffah korupnya.

Dan ibadah tidak melulu ritual yang harus dilaksanakan mati-matian demi sekeping janji bernama surga dalam sebuah malam seribu bulan. Ia mewujud dalam bentuk penyapu jalan yang masih mengerjakan tugas tepat waktu ketika gema takbir dan sampah berhamburan berbarengan; mengejewantah pada garda depan jalur komunikasi dan pos; membentuk diri dalam orang-orang yang bertugas menjalankan fasilitas publik seperti listrik dan transportasi dan penjaga gedung-gedung perkantoran dan perbelanjaan. Disamping kompensasi materi yang mereka dapatkan, saya yakin tak bisa menggantikan kebahagiaan pulang dan berkumpul bersama keluarga. Karena pulang, mudik, adalah laku kembali ke akar, mengenang siapa manusia sesungguhnya melalui sejarah dimana ia bermula. Dan ibadah adalah selalu mengingat untuk apa manusia dicipta. Konon, hanya manusia yang bisa menentukan tujuan penciptaannya sendiri karena ia diberkahi akal dan pikiran untuk memilih.

Jadi, yah... Mumpung hari Raya. Mari beribadah dalam peran masing-masing.

ps. Berapa baju lebaranmu? Solat Idul Fitri pakai mukena baru? Apakah kau tak lupa membawa pulang koran alas sajadah atau membiarkannya begitu saja menjadi sampah?

Labels: