"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Merdeka(?)

Posted by The Bitch on 8/17/2010 04:20:00 PM

Tadi pagi teman saya teriak "ASUUUU!!!" kencang-kencang demi mendengarkan lagu ciptaan Bapak Presiden Yang Terhormat dinyanyikan pada acara kenegaraan. Kami memang sedang mendengarkan siaran langsung Upacara Kemerdekaan melalui radio.

"Ini sih jadi kayak acara AMKM jaman dulu!" ujarnya kesal.

Saya hanya tersenyum kecut. Hanya itu yang saya bisa lakukan setiap tanggal 17 Agustus, sejak saya tak lagi harus ikut upacara mengenakan seragam rapih.

Teman saya kesal sendiri. Akhirnya ia memasang iPod pada speaker. Tak lama terdengar Ucok Homicide lantang menyeruak mengalahkan wawancara para pengibar bendera dari televisi di ruang tengah.

Kami kembali ke layar laptop masing-masing, mengisi hari kemerdekaan yang tepat pada seminggu Ramadhan sambil bekerja dan merokok. Kami tidak puasa. Jika kantor sepi seperti ini, kami bisa duduk satu ruangan sambil enak-enakan kebal-kebul. Di hari kerja dan semua karyawan masuk, kami menghormati mereka yang sedang berjuang melawan jiwa sendiri sebulan penuh dengan mencandu nikotin sembunyi-sembunyi atau sendiri di toilet.

Dan mata saya tertumbuk pada gambar di atas. Gara-gara teman saya yang kurang ajar itu menulis "Masihkah veteran perang ini teriak "MERDEKA!"? Mereka teriak "Nasi Bungkus!"" pada akun Twitter-nya dan menunjukkannya pada saya. "Bajingan!" maki saya dalam hati. Saya ingin sekaliiii saja tak berpikir tentang betapa bobrok pemerintahan negara ini setiap Tujuhbelasan. Saya ingin sekaliiii saja nggak nyinyir sok kritis melabrak mereka yang berani-berani teriak "Merdeka!" sambil joget-joget teriring musik dangdut malam tirakatan.

Tapi saya tahu masih banyak warung dan tempat hiburan dipaksa tutup selama Ramadhan. Jika memang merdeka, dimana kemerdekaan orang mencari nafkah? Saya kesal mendapati beberapa orang masih menunjuk jidat orang lain sebagai kafir atau salah dan merasa diri paling benar dalam diskusi-diskusi online. Jika memang merdeka, mengapa masih menindas pendapat berbeda? Saya masih sering menggerutu jika Ibu atau Babab harus repot-repot memasak untuk kumpul-kumpul acara Agustusan di RT. Merayakan apa jika panggung hiburan cuma diisi anak-anak bau kencur ber-makeup tebal menari dengan latar suara musik Top 40? Dan dimana "merdeka"nya jika kita masih was-was setiap menyalakan tabung gas, khawatir akan nasib dan nyawa di ujung selang? Dan nasib para pengungsi lumpur Lapindo? Pemadaman listrik dari Sabang sampai Merauke? Sekolah bobrok? Terumbu karang dan kehidupan laut yang makin kritis? Sampah menggumpal di gorong-gorong kota atau banjir reguler?
Dan dimana kemerdekaan yang diperjuangkan kakek-kakek seperti gambar di atas jika usahanya bertaruh nyawa hanya diganjar dengan seremoni semu setahun sekali?

Mungkin akan sangat naif jika mengira nasionalisme Indonesia bisa rata kemana-mana. "Kemerdekaan" yang dikumandangkan di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945 toh sebenarnya terlambat sampai di Sumatera atau Kalimantan dan hanya segelintir yang sadar apa artinya. Tak banyak juga yang tahu beberapa kompromi yang harus dilakukan para pendiri negara ini dengan bangsa asing demi satu status "tak terjajah", yang "diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja" itu. Jadi, merdeka dari apa jika tanah, air dan udara Indonesia dimiliki pemodal-pemodal bukan dari negeri sendiri?

Namun orang-orang hebat di balik 1n3b, Rumah Dunia dan RBS adalah mereka yang berani menantang ketidakmungkinan. Juga usaha individu bugurunana untuk mendobrak batasan ketidakmampuan. Mereka orang-orang dengan pikiran luas dan tidak pelit berbagi. Bagi saya, begitu cara Indonesia seharusnya merdeka.

Saya tidak punya kemampuan mengubah negeri ini dalam sehari. Dalam dua puluh empat jam waktu yang saya punya, saya masih terlalu sibuk mengurus perut untuk dapat meluangkan sedikit waktu menengarai manuver politik negara ini, misalnya. Saya hanya punya indera dan hati untuk dapat mencerap semua informasi dan rasa penasaran tinggi untuk mengulik kebenaran dalam berbagai sisi, online maupun offline. Saya tidak melakukan itu semua demi Indonesia, demi negara, atau demi niat-niat suci apapun yang pernah terlintas di kepala tiap mahluk yang berakal. Saya melakukannya demi kemerdekaan berpikir saya sendiri. Mungkin tidak sehebat mereka yang saya sebut sebelumnya. Namun semoga ada yang teracuni.

Dan saya teriakkan "Merdeka!" diam-diam dalam tiap tarikan napas hanya untuk meyakinkan jiwa sendiri bahwa suatu hari nanti saya akan benar-benar merdeka.

Gambar diambil dari sini.

Labels:

Tentang Perempuan

Posted by The Bitch on 8/07/2010 01:20:00 AM

Saya melihat gambar di sebelah pada newsfeed jejaring sosial yang saya ikuti, terpampang begitu frontal dan liris. Sebrutal-brutalnya, ternyata saya masih memikirkan orang lain. Masih menimbang efek gambar sadis yang mungkin ditimbulkan bagi siapapun yang nyasar ke sini. Persiapkan nyali jika ingin melihat wajah Aisha, perempuan Afghan yang terpampang di sampul majalah Time edisi 9 Agustus, secara penuh di sini. Esai fotonya ada di sini, menyajikan perempuan-perempuan hebat penggugat hukum negara kaku dalam bahasa visual. Saya tunjukkan foto tersebut pada Paman Tyo yang kebetulan melintas. Saya nakal. Saya ingin melihat bagaimana reaksinya sebagai orang yang sangat paham bahasa visual. Dan ia membuang muka, nggak tega katanya.

Sedikit tentang Aisha. Dari sekeping berita yang saya baca, ia berusia enam belas waktu berusaha kabur dari rumah akibat suami dan keluarga misan yang suka menyiksa, dua tahun lalu. Bukan berita baru sebenarnya. Perempuan Afghan, seperti halnya di negara-negara Arab, adalah properti bagi lelaki, bagi suami, abang atau adik, kakek dan bagi ayah. Mereka adalah budak yang harus melakukan semua perintah lelaki karena berpenis berarti berkuasa, menunjuk jidat perempuan dengan tangan kanan untuk tunduk bersimpuh di bawah kaki sambil memegang kitab suci di tangan kiri. Sistem najis nan tiran, sungguh.

Saya masih terkaget-kaget membaca kisah singkat Aisha saat om-om mbois wangi kolak ini datang entah dari mana. Dia saya todong untuk jadi dosen jurnalistik kilat tentang foto provokatif tersebut mengingat profesinya sebagai wartawan senior sekaligus pemred di sebuah media.

"Time gimana sih, Ndor? Itu majalah kan dijual di lapak-lapak outdoor. Kok sampulnya kayak gitu? Siapapun yang lewat dan punya mata bisa liat itu gambar mengerikan, mulai dari anjing, kucing, bocah sampe orang bau tanah. Mana itu hukum perlindungan untuk minor?! Katanya Amrik paling concern sama gitu-gituan. Kok ya bisa lolos sih?!" tanya saya memberondong.

"Wah, kamu baca aja itu di "To Our Reader"nya. Disitu editornya njelasin kalo mereka udah konsultasi sama psikolog-psikolog anak dan tau banget gimana efeknya dan tetep mutusin buat naek," jelasnya kalem.

"Ya kan bisa dijaketin gitu. Majalah-majalah Indonesia aja banyak kan yang ngejaketin pake iklan?" tukas saya ngeyel.

Lalu meluncurlah diskusi kecil tentang bagaimana Afghanistan itu sesungguhnya. Negara yang tercerai-berai saat Perancis dan Rusia menguasai jalur minyak yang tersimpan di bawah tanahnya; dan pemerintah Amerika Serikat dengan licik menghibahkan dana perang untuk Pakistan melawan Afghanistan lalu digulirkan Pakistan secara pintar ke Afghanistan untuk memerangi tentara-tentara Amerika sendiri. Mirip kasus Oliver North era 80-an (CMIIW, saya masih nggak pede ngulik masalah sejarah kayak gini. Gimana Pakdhe Pamei?).

Saya, yang sudah sangat terkontaminasi oleh teori konspirasi dan sering gotak-gatik-gatuk nggak penting, kemudian sok-sokan mencoba melihat semua melalui helikopter.

"Halah, itu Amrik kan emang mau ngangkat pakek blowup tentang perempuan Afghan. Paduné pengen dibilang pembebas, tooo... Biar jadi pahlawan tooo... Terus ntar perempuan-perempuan itu mendewa-dewakan penyelamat bule dari Barat itu buat balik nyerang pemerintahnya sendiri. Iya tooo..." tukas saya sengit.

"Haha... Ya kamu tau sendiri lah, Pit. Namanya aja propaganda."

Saya mendadak amat sangat bersyukur tinggal di Indonesia, Jakarta tepatnya, yang pemerintahannya jadi seperti malaikat dibanding Afghanistan. Saya masih bisa maki-maki teman maupun sepupu lelaki saya dan bisa protes jika Babab ngembat satu-satunya LA Lights Menthol saya yang tersisa. Saya masih beruntung punya blog tempat muntah, sekolah sampai mampus, atau jalan-jalan kemana saja sendirian.

Namun saya amat sangat menyayangkan beberapa perempuan yang tidak melihat the silver line behind the cloud bernama kebebasan berpendapat di sini, di tempat yang kadang bangsat terlaknat. Masih banyak hal yang dapat dibedah ketimbang cari tahu siapa memakai apa. Daripada bisik-bisik di kubu mana dia berada dalam perang dingin antara dua perempuan, lebih menarik mengerkah mitos dibalik PMS dan siklusnya lalu mewartakannya di blog atau catatan. Seperti sambil menyelam minum susu. Sekali menulis, karena ingin cari tahu dan cari bahan tulisan, akan banyak riset online dan bacaan-bacaan temuan yang menghabiskan waktu dan konsentrasi. Itu akan menambah informasi dan ilmu, yang terkadang memang nggak terlalu perlu. Bagi saya itu lebih berguna alih-alih sakit hati sirik-sirikan nggak penting. Toh juga nggak akan bikin tingkat kemiskinan di Indonesia jadi berkurang secara drastis, atau memintarkan anak-anak yang nggak bisa sekolah, misalnya.

Saya mungkin diberkahi dengan begitu banyak begawan online sarat ilmu yang saya temui wujudnya duduk semeja di tempat nongkrong, sebuah angkringan sederhana dengan hotspot gratisan yang sering saya abuse untuk mengunduh anime. Mereka tak pelit berbagi pengetahuan tentang apapun, dari yang remeh maupun berat, etimologi bahasa atau reaksi kimia antara lelaki dan perempuan, hingga sejarah musik rock. Kadang saya hanya mendengar, kadang protes, atau bengong dengan pernyataan-pernyataan mereka. Sebagaimana kakek tua yang mengajar di padepokan, mereka akan sabar mendengar sambat dan lembut memadamkan tiap letupan pertanyaan. Dan mereka lelaki.

Saya percaya perbedaan otak lelaki dengan perempuan. Tanya Tuhan Google atau teman-teman yang sempat belajar patologi sana untuk lebih jelasnya. Namun tidak berarti kemampuan berpikir perempuan lebih payah ketimbang lelaki. Bukan berarti kami lebih rendah dari mahluk berpenis. Rasanya sayang sekali mengaliri korteks otak dengan pikiran-pikiran cabul tentang berbagai asumsi yang belum tentu kebenarannya. Atau merusaknya dengan mengingat hal-hal yang kelihatannya menyakitkan. Kelihatannya.

Saya ngeri membayangkan negara ini dikuasai fatwa kosong dan FPI dan semua perempuan wajib bercadar demi menahan syahwat lelaki. Saya juga takut gedung-gedung pencakar langit Jakarta bersih tersapu tsunami dan mata uang rupiah kena redenominasi. Tapi sebelum semua itu terjadi, saya haturkan syukur dalam setiap tarikan napas karena saya, perempuan, masih bisa menghela udara dari kepala yang bebas.

Labels:

Requiem for the Martyrs

Posted by The Bitch on 8/05/2010 03:26:00 PM


Let me explain my term of cyber era martyrs. They are dedicated, determined, and strict yet hardworking kind of people who do things they like the most without even thinking about material compensation. It is the sheer joy of sharing they pursue, to highly appreciate the masterminds behind every masterpiece.

I salute them for their natures. And I grieve for the emerging, greedy corporate that are so greedy they do not know the gained publication from the martyrs’ attempts. Blinded by gluttony, the capitalists are.

So the martyrs would be beaten and bruised, shot by numerous arrows and thrown in to the den of hungry lions should they not oblige to the damned pact of US-Japan publishers’ coalition against piracy.

And do you know what the true meaning of the word piracy is? Information limitation. Watch this and correlate how the situation that once fucked Napster, Kazaa and Grokster made the sites went down. It is even silly, knowing that those martyrs did not even make the data available to download.

And I’m talking about the guys behind onemanga.com that had been shut down as per July 31st; the site that once became the source of every manga site in this universe of digital data traffic.

The history of modern manga started from the time when Japan was occupied by USA, dated back in the end of the 40s. The vanguards of the era were Astro Boy and Sazae-san, both representing the optimistic Japanese about their own post war resurrection—under very suspicious surveillance of the US Government.

Similar with the history of Blues, Jazz and Punk Rock, counter culture are born from repression. So does manga. Once served as propaganda equipment against the occupancy, manga evolved into a releasing vent of tight culture, monotonous and neatly scheduled life and norms of Japanese youngsters. For those who are quite familiar with Japanese social structure, you could understand how hard it is to be a growing adolescence to live in the place where school rank is everything. Their culture of shame had been immortalized by the act of seppuku if a Japanese failed to do the responsibility. Not to mention the ethics that still regard women as second citizen who have to bow deeper than their men, or bullying among females—it happens anywhere, though.

Such repression borne resistance that is evolving into J-Rock and materialized in the streets of Harajuku and Ginza where youngsters are free to express their style with the outfit they wear and be different in any way they want.

And manga is the same. It is safe to say that this is the result of achieving the difference, of being more beautiful and elegant by deforming the size of the eyes and the length of the limbs, by breaking the borders of proportional anatomy. To materialize the perfect feature of a human, to make the dream comes true.

And so manga is spread worldwidely because the demand is huge. It is somehow based on the humanly nature of insatiability that seek for perfection, or to put it simply, to dream about perfection, to be carried away into manmade fantasy where all people are beautiful and everything is adventurous.

Yet, with the same spirit, scanlations emerge to quench the thirst of those who don’t have the privilege of enjoying the feel of paper in their hands while reading the comics. As a portmanteau of scanning and translation, scanlation (also scanslation) is the scanning, translation and editing of comics from a foreign language into a different language. Readers don’t have to go through the language barrier just to be plunged deep into the story. Like Saint Sebastian trying hard to encourage two Christian prisoners to keep the faith, those scanlators did the same in different extent. They seek for the scanner (to digitize the comic), cleaner (to erase the text in the balloon), translator (to translate the text from Japanese to English, mostly) and proofreader (as a quality control) online. They work like blind cells in terrorist networks, hiding behind nicknames or pseudo identity in cyber neighborhood. They even buy the comics themselves to be presented neatly in image format in the website.

As Zabi greeted every visitor of the site since July 22nd in the popup window, "There is an end to everything, to good things as well." It doesn’t end at all, though. The site is still up and running, only the reading materials are gone. Still, the martyrs might be gone—or recessed for the time being—but the spirit carries on.

UPDATED:
... and there are other martyrs and smartasses unseen, untouched, unrewarded in this cyberworld of ours because we can still enjoy the great works of the senseis until this post is uploaded...

Inspired by Joaquin Baldwin’s Sebastian's Voodoo a short, animation movie and winner of some awards, including Festival de Cannes - Short Film Corner '09 (France) for NFB Online Competition. Below is the video. Enjoy!



Labels:

Being Nostalgic

Posted by The Bitch on 8/01/2010 07:09:00 AM

Saya tidak begitu suka bertandang ke reuni apapun. Seumur-umur saya ikut-ikutan sekolah, dari SD hingga universitas--yang kemudian saya Dancing Out dengan bangganya itu--saya cuma sekali nongol di reuni-reunian teman sekampus. Itu pun setelah tanpa sengaja baca status Facebook seorang kawan lama.

Saya datang sore itu ke foodcourt sebuah mall di Jakarta dan mereka bilang saya tidak berubah--komentar sama yang saya dapat beberapa tahun lalu ketika bertemu teman SMA di kereta Jabotabek. Gaya pakaian saya masih yang itu-itu juga: jins, kaos, sneakers butut dan ransel. Mungkin rambut saja yang bertambah pendek, badan tumbuh ke samping dan mata makin rabun karena kebiasaan jelek membaca sambil tiduran. Sementara kakak-kakak kelas dan teman seangkatan menjelma trendi dan lebih sumringah. Beberapa bahkan membawa bayi, bersama suami. Ada yang asik memainkan rambut mantan pacar (dan melupakan bapaknya anak-anak di rumah barang sejenak), atau heboh foto-foto. Saya, seperti biasa, sangat sadar kamera. Maksudnya, tiap ada kamera yang sekiranya mengarah ke muka, saya langsung menghindar. Hehe. Gilanya lagi, saya malah menyeret mas-mas kakak kelas untuk berlindung di smoking area. Lebih nyaman begitu, ngobrol berdua atau bertiga sambil ngopi dan mengudap pisang goreng bertabur keju. Lagipula, ingatan saya payah. Saya seringkali tersenyum bodoh di tengah meledaknya tawa mereka yang menceritakan berbagai pengalaman menggelikan dan saya lupa pernah terjadi.

Mungkin saya yang norak karena nggak pernah datang reunian, atau memang begitu cara menilai seberapa jauh langkah orang lain. Saya disuguhi pertanyaan-pertanyaan klise semacam "Eh, udah kawin?" atau "Sekarang kerja dimana?". Sederhana, memang. Namun mengganggu sekali. Dan saya hampir tidak dapat menahan godaan untuk menjawab "Udah pernah dua-duanya". Lepas dari status saya yang saat itu jomblo bangsat (ya... sampe sekarang juga masih, sih) atau baru saja resign dari pabrik topeng, bagi saya dua hal tersebut sangat pribadi. Apalagi melihat ekspresi para penanya yang sepertinya sedih ketika saya menjawab "Belum" dan "Wah, gwa baruuu aja jadi pengangguran!".

Saya sadar betul bahwa saya seperti magnet buat orang-orang "lurus". Mereka mendekat tanpa saya mau, berusaha membuat saya nggak terlalu "belok-belok". Dan itu saya rasakan ketika beberapa orang berkomentar sama: "Lo masih kayak dulu aja, bandel. Insap woi, insap!" dengan wajah penuh kemenangan dan pamer keberhasilan karena laris dan produktif: menikah (atau setidaknya punya gandengan) dan beranak-pinak. Reaksi saya? Hanya nyengir dengan wajah setolol mungkin dan berkilah "Mbok dicariin to, Mbak. Ya pacar, ya gawean." Andai mereka tahu bahwa saya berencana melajang sampai mampus dan leha-leha ngurusin anjing alih-alih membudak dengan kaki terantai di kursi, entah bagaimana reaksinya.

Namun saya sangat menghargai raut lain yang prihatin dari salah satu mbak-mbakan saya. Mbak yang memang pengasih dan penyayang sangat namun tidak "maha" seperti tuhan. Dia memperlakukan saya layaknya adik kecil sejak kami pertama kenal, dan ia tidak lupa itu. Dia masih membelai kepala atau mengelus pipi saya dan memanggil "Nduk". Dulu saya sering numpang tidur di kamar kosnya dekat kampus jika saya tepar tak punya daya. Apa boleh bikin, daur hidup saya memang serupa vampir sampai sekarang.

Saya memang tidak pernah terlalu akrab dengan teman-teman sekolah, dalam tingkatan apapun. Hubungan kami murni simbiosis mutualis. Semacam "lo butuh, lo dateng ke gwa. Gwa butuh, ya gwa yang dateng ke elu". Biasanya terjadi saat saya harus mengerjakan tugas kelompok atau perlu tumpangan komputer demi seuprit paper. Ada beberapa jiwa yang "nyangkut" atau tinggal berdekatan, dan karena itu kami berkawan erat. Tapi saya seperti punya pemilah otomatis yang memisahkan antara teman sekolah dan teman di rumah. Entah kenapa.

Memang agak mengejutkan ketika saya ngeh bahwa semakin berumur saya semakin menghindari kerumunan. Rasanya pengap berada dalam kelompok yang saling menyamakan timeline dan berbagi progress report tentang apa saja yang sudah mereka dapat dan perbuat beberapa tahun terakhir. Dan penanda paling jelas ya... apalagi jika bukan sesuatu yang terlihat secara fisik? Penampilan, misalnya. Karena saya nggak punyaan kali ya, makanya saya bawaannya jengah aja dengan penghakiman seperti itu. Hihi.

Atau... mungkin setelah sekian lama orang enggan untuk tidak memakai topeng di hadapan sahabat lawas. Rentang waktu memang akan selalu membuat orang berubah, hingga tanpa sadar kami memasang benteng virtual dan terlalu berhati-hati menjaga perasaan lawan bicara. Makanya, hanya yang sekiranya tertangkap mata saja yang ditanyakan. Atau... semacam "guilty pleasure of being a little megalomaniac" dan demi eksistensi makanya kami agak puas melihat orang lain berada di bawah standar yang kami buat sendiri.

Lebih parah lagi, jangan-jangan saya hanya iri karena saya tidak semenyenangkan orang lain?

Apapun alasan dan kesan yang kami bawa pulang saat itu, nostalgia bagi saya hanya racun emosi yang menggerogoti dari dalam, diam-diam, membutakan pandangan saya ke depan. Sungguh, saya tidak ingin menabrak apapun saat saya berjalan maju hanya karena terlalu sering menoleh ke belakang.

Gambar diambil dari sini.

Labels: