"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Tentang Jakarta

Posted by The Bitch on 7/31/2010 03:54:00 AM

Kata orang desa, Jakarta itu kota harapan dan impian. Semua bisa diraih asal bisa menaklukkan Necropolis, Ibukota, dimana semua raga berkeliaran tanpa jiwa. Tidak moksa, tidak sirna.

Lihat itu, bangunan serupa falus menjulang setinggi 128.7 meter, lengkap dengan skrotum penyangga di bawahnya. Perlambang kemakmuran kah seperti representasi lingga-yoni pada pura Hindu? Atau gagah-gagahan orangutan pejantan memamerkan genital demi betina terbaik dan pengakuan kelompok?

Saya tidak mengerti bagaimana wilayah seluas 661 kilometer persegi mampu menampung delapan juta empat ratus sembilan puluh ribu manusia dengan jarak begitu jauh. Dalam satu kelurahan ada penduduknya yang mampu membeli lima mobil mewah dalam sehari sementara tetangganya bahkan tak punya atap, apalagi nasi.

Dan bantu saya untuk memahami sepasang kakak-beradik mungil dan lusuh memanggul karung besar berisi gelas plastik bekas lepas tengah malam, menyeruak diantara kakak-kakak remaja wangi-trendi duduk-duduk menunggu datangnya roti. Atau cempreng suara banci berdandan ala Krisdayanti menggotong audio sistem murahan, meliuk berharap birahi datang namun dapat tatapan sebal dari tangan yang mengangsur seribuan kumal.

Saya tak habis pikir betapa jembar jalan-jalan Jakarta dan seberapa banyak kendaraan berjejal diam bergeming. Gedung-gedung dibangun tinggi mencakar langit tapi lupa tanah yang dipijak. Perempatan adalah danau dadakan setiap hujan besar datang. Dan kendaraan lebih banyak berjejal diam bergeming--namun suara tak berhenti berebut kuping.

Orang-orang (yang katanya) terbaik, (yang katanya) mewakili kepentingan seluruh anak negeri, terkantuk-kantuk di atas kursi empuk, menggugat gaji naik untuk kinerja yang turun, lalu curhat dan ngambek di media. Jumawa menjambret hak dan waktu sesama pengguna jalan agar lekas sampai tujuan. Ada hukum di sana? Hah! Kamu bercanda, ya?!

Duhai, Jakarta yang angkuh dengan penghuni menyimpan amarah membadai mengguruh...
Mengapa tak sedikit pun kau malu?


Gambar nyomot dari sini, data dari The Holy Trinity: Google, Wiki, and Torrent. Ga mungkin lah gwa apal!!!

Labels:

Living in a surrealist paintings

Posted by The Bitch on 7/10/2010 07:16:00 PM

Imagine:

It was six in the morning and you were staring at the flat screen, awed by the stories of how some young creatures survived the ill fate that could cost their lives. You left the other screen before you untouched, abandoning your responsibility of fast coming deadline, absorbed into the wonder of modern organ transplantation. You hardly believe how five-hour ride since the healthy heart left the body of its host could still be stitched up to another chest; how the new host anticipated the turmoil in the system thanks to the new intruder by shrinking the vein and lessening the blood flow, causing the body to continue living with the least energy needed and efficient work of the organs; and how the tiny, automaton muscle, how the pulsing thing that is no less than a palm of your hand could motorize the whole body of a human by beating no less than 100,000 times nonstop on daily basis.

And your wonder continued by the sophisticated defense system that the brain of a 3-year old boy has, how the grayish matter suspended in the liquid inside the skull and how it could grow bigger rapidly twice the previous size along with the development of the young human; and how they regenerate the cells so fast and fight the disease so fine you felt like there were itsy-bitsy Amazonian warriors inside every body of humans.

Yet you were amazed by how complex and expensive the medicine, the main arrow and crossbows and swords for those Amazonians to fight the unwanted trespassers. The amazement pass on when someone told you that there were high game around government bureaucracies and pharmacy companies stating that the actual cost of the medicine was only 20% of the price tag. There were doctors bribed with studying overseas to get their specialist degrees, or trips around the world, or privilege accommodation including expensive cars along with the drivers and around the town service as long as it took in the highest peak of the season.

It was you and you alone feeling like a filthy damned lucky bitch for never get seriously sick. The worst diseases you had were only menstrual cramps, nasty cold, swollen gum, or back pain that could be soothed with long, good night’s sleep, a lot of vitamin C, orgasm, good food, and laying down on hard surface whereas your best friend had to struggle only to keep breathing every second.

And you reckoned a nice, great guy who had to work hard and play harder only to have food on his table and enjoy the life he had with the least time available even if it meant to manipulate his inner voice, self morality and whatnots. Still, you felt like you have something in common with those characters, to find, somehow, vague similarities with the life you live at the present, to become a hypocrite, to carry on living, to survive minutes by minutes, day by day, whatsoever.

My, oh my. If I were you, I’d be more than happy to be sedated till I drag the last breath and die happily. Fuck life! I want to be dead. Alas, I (don’t want to) have no choice.

Picture taken from here.

Labels:

The “You-Asked-Me-to-Enter-then-You-Made-Me-Crawl“ Stance

Posted by The Bitch on 7/05/2010 05:40:00 AM

Dulu saya tergokil-gokil dengan U2. Bono dan The Edge bagi saya adalah nabi, penyembuh luka hati dan penyakit kejiwaan melalui lirik-lirik lagu yang mereka nyanyikan dengan damai. Adem rasanya. Lebih adem ketimbang denger kasidahan.


Saya sempat bertekad untuk mempersembahkan keperawanan saya pada Om Bono. Namun kuping saya yang perek akhirnya dipenetrasi berbagai musik lain. Mulai dari Erwin Gutawa Rockestra, Dream Theater, God is an Astronaut sampai Sudjiwo Tedjo dan Sandii. Jadilah, Om Bono agak-agak tersingkirkan. Lagipula, selaput dara saya sudah tenang menyatu dengan alam setelah saya korek dengan sendok teh lalu sendoknya saya cuci dengan sabun anti bau amis.


Urat malu saya yang memang sudah putus sejak dahulu kala membuat saya nekat nimbrung orang ngegitar di tempat saya nongkrong untuk numpang teriak. Nggak, saya nggak bisa nyanyi. Serius. Saya cuma seneng teriak. Kebetulan yang ngegitar itu dulunya mantan anak ben. Yang satu basis, satunya gitaris (dan saya manis. Ya, ya. Fakta terakhir memang nggak perlu diomongin). Dan mereka juga maniak U2. Satu lagu yang paling terngiang-ngiang hingga sekarang adalah One, dimana pada refrainnya kami ramai-ramai mbengok “You asked me to enter, then you made me crawl”. Wow! Kata-kata yang tepat untuk menggambarkan ‘kentang’


Dan apakah kentang itu selain semacam tumbuhan yang sering diperdebatkan antara umbi atau sayur?


Menurut kamus ngawur teman saya, “kentang” adalah kondisi “kena tanggung”, dimana kamu minum bergelas-gelas, beharap mabuk, merasa sudah seperti memakai konde di belakang kepala tapi nggak kondangan kemana-mana. Atau ketika pergumulan memanas dan menghebat lalu berakhir pada insertion tapi baru masuk ujungnya tau-tau pintu diketuk oleh ibu kos. Demikian. (Penyangkalan: kedua kejadian tersebut tidak pernah dialami sendiri oleh penulis. Suwer!)


Dan kondisi ini juga mengejewantah pada kejadian sehari-hari. Misalnya, saya ngajak ngobrol koko-koko ganteng bertampang oriental banget padahal kami mesti ngerjain tenggat. Nah, waktu si koko itu udah ninggalin laptop untuk fokus ke saya selama beberapa waktu, saya sibuk terpekur bersama Pektay. Atau waktu ada diskon kutang 70% di pusat perbelanjaan saya bela-belain pusing mallphobia hanya untuk tau kalau kortingnya masih dalam kisaran delapan puluh ribu. Atau waktu ibu saya bela-belain bayarin saya masuk kuliah dan ngongkosin saya selama hidup di Jogja, dan setahun kemudian saya gaya-gayaan untuk bilang “Udah, saya bisa bayar kuliah sendiri. Uangnya buat sekolah si Icha aja” lalu babak bundas kerja sampingan sampe kena maag dan akhirnya memutuskan untuk Dancing Out dari kampus karena males ngeliat duit yang cuma numpang lewat dari rekening bank ke rekening BAAK.


Nyebelin, memang. Seperti nenek moyang tupai dalam Ice Age 2 yang mati-matian ngejar kenari sampai-sampai dia koma dan masuk surga kenari lalu menggapai-gapai Kenari Kencana yang cuma berjarak satu senti dari jarinya—dan tetep nggak kena. Bikin getun. Geregetannya terasa sampai ke nenen.


Buat anak belagu seperti saya, perlu ada “you-asked-me-to-enter-then-you-made-me-crawl” stance atau kondisi kentang agar saya “terpaksa” mengakui kekalahan dan tunduk pada garis semesta bahwa apa yang saya inginkan tidak bisa selalu saya dapatkan. Menyebalkan, memang. Sangat menyebalkan. But, hey! That’s life, isn’t it?

*masih bersungut-sungut*

Picture taken from here.


Labels:

The Scene

Posted by The Bitch on 7/04/2010 09:15:00 PM

Adegan apa dari sebuah film yang paling menancap di kepalamu? Apakah ciuman lengket-panas-basah dari sepasang kekasih, tango tak terlupakan antara kakek buta dan seorang perempuan cantik, atau dar-der-dor menggelegar antara the good guy and the villain?


Buat saya, hanya perlu sekian detik penggambaran yang hanya melibatkan jendela dan seraut wajah di baliknya.


Saya tidak banyak menonton film. Dan apapun yang sempat diserap panca indera dan mampir di otak saya cenderung mudah sekali terlupakan. Celakanya, adegan Toto dewasa memandang bayangan Elena dari balik jendela kafe seberang dengan telepon di tangan pada Cinema Paradiso; tatapan sendu tokoh utama dari dalam mobil menuju penjara pada 25th Hour; nanarnya Voight memandang keluar bis sambil memeluk mayat Hoffman dalam Midnight Cowboy; atau beban batin seorang legawa dari sorot mata Jude Law, menghisap ganja sambil menunggu pelanggan tengah malam di bar dalam My Blueberry Nights adalah… awesome.


Saya hanya melihat para lelaki itu dengan segala keputusasaan dan kehilangan tak tertanggungkan, terpisah selembar kaca yang membuat mereka seperti judul lagu U2: Far Away So Close.


Entah siapa meniru yang mana, sering saya melihat tatapan kosong yang nyaris sama pada orang-orang yang saya temui di jalan, duduk menyebelah dalam bis kota, atau terpisah beberapa meja dari tempat saya nongkrong. Untuk mereka, saya hanya punya harapan agar mereka kuat menghadapi apapun yang sedang menggayuti benak, hati dan tenaga. Termasuk cinta, keluarga, pekerjaan, hubungan, kesehatan, apapun.


Sepertinya corny sekali jika saya katakan "kamu akan baik-baik saja" sambil menepuk bahu atau bahkan memeluk mereka. Tapi, sungguh. Seperti hilangnya perasaan mengharubiru seusai menikmati drama yang direpresentasikan dengan indah 30 menit setelah player laptop dimatikan atau setelah lampu bioskop menyala, itu pun akan berlalu. Beri mereka waktu.


[dedicated to all heart broken souls all over the world today. you'll live. eventually]


Labels:

Perempuan Berkalung Anjing

Posted by The Bitch on 7/04/2010 07:01:00 PM

Apa yang bisa kamu liat dari seorang perempuan berkalung anjing yang sering memaki dan dimaki "ANJING!"?

Ia lindap dalam dentum pengantar maksiat, diam, mengantuk, menyesap cairan beralkohol dan sesekali tersenyum, terpaksa.

Kau akan dapati perempuan berkalung anjing membaur bersama calon penumpang bis trans Jakarta, berpeluh dan merutuk dalam hati kapan gilirannya tiba. Kau juga akan melihatnya duduk menghadap notebook, sendirian atau bergerombol, sama seperti para pekerja sekarang melepas penat dan lelah.

Perempuan berkalung anjing memang anjing. Ia tak seperti gajah dan kura-kura pendendam, mengingat satu kesalahan hingga mati. Seperti emosi anjing yang dapat kau liat lewat kibasan ekor, kau akan tau marah, kecewa, senang atau sedih hanya dari wajahnya. Ia akan membentakmu jika kau salah atau spontan memelukmu jika kau membuatnya bahagia.

Perempuan anjing berkalung anjing tak habis mengerti mengapa penyayang anjing bersikap selicik siluman rubah pada dongeng-dongeng Kera Sakti.
Dan ia memaki "ANJING!" ketika tau temannya diperlakukan bagai anjing buangan. Ketika temannya tak lagi menggoyang-goyangkan ekornya; ketika ia mulai bisa berkata "tidak!"; ketika ia hanya menjadi dirinya sendiri, perempuan anjing tanpa kalung anjing mendendam dan membenci sekian lama, mengibarkan bendera perang saat teman yang loyal seperti anjing namun jauh dari makian "ANJING!" tak patuh perintah.

Perempuan berkalung anjing murka. Kesetiaan anjingnya tidak terima.

"You are fucking with the wrong bitches, Bitch!" ujarnya, dengan kemarahan yang membuat neraka minder.

Kamu tau, Njing? This means war…

[dedicated to Nyunyu, my bitching partner when I need it the most: go ahead, kick some ass. I'm right behind you]

Reposted from my Facebook notes--which I won't tell the address, and reposted by Nyunyu The Young Kunti.

Labels: