"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Menstruation, Anyone?

Posted by The Bitch on 6/05/2010 02:39:00 AM

WARNING:
Tau menstruasi? Saya bakal ngomongin itu dengan bahasa sejorok-joroknya. Not for the weak. Serius!


Sebagai perempuan, saya mengalami menstruasi sejak usia lima belas. Sorenya, Ibu bikin bancakan urap dan dibagikan ke tiap rumah radius satu RT. Begitu juga dengan adik saya ketika ia haid pertama kali. Saya ingat wajah Ibu sumringah. Setelah mengecup kening kemudian mengelus kepala saya, Ibu berkata sambil tersenyum, "Anak Ibu udah gede..."

Ibu seperti tidak peduli dengan gerutuan saya yang merasa bodoh dan malu karena harus mengantarkan bancakan dan menjawab pertanyaan para tetangga dengan pura-pura senang: "Iya, ini selametan aku haid pertama." Saya tidak bisa bohong. Ulang tahun saya Desember dan beberapa kali Ibu memang mbancaki, sementara waktu itu masih November.

Tapi dari Ibu juga saya dapat pelajaran bahwa darah haid bukan sesuatu yang nista dan harus dihindari. Mungkin karena ada tiga perempuan-saya, adik dan Ibu-dengan satu lelaki, Babab, makanya haid tidaklah tabu dalam keluarga kami. Dan Babab-lah satu-satunya lelaki paling sabar di dunia jika jadwal menstruasi kami bertiga hampir bersamaan. Sambil menarik napas panjang, ia akan berteriak "Siapa nih yang ninggalin sesuatu?!" jika mendapati celana dalam bernoda darah atau pembalut bekas pakai di kamar mandi lupa kami bersihkan.

Siklus menstruasi saya sering berantakan sejak saya menjadi perokok berat. Jika saya melow (atau horny =P) tanpa alasan, saya tau maksimal seminggu kemudian saya akan haid. Dan jika dalam seminggu itu saya tidak bergerak, minimal jalan kaki 20-30 menit, saya akan mengalami dua-tiga hari terburuk dalam sebulan: nyeri perut. Itu akan diperparah jika saya nekat nenggak Jack Daniel's atau ngopi.

Dan lagi-lagi Ibu menyelamatkan saya. Karena Ibu lebih percaya jamu ketimbang obat, saya dibikinkan kunir-asem made in dapur sendiri. Dengan panci keramik, Ibu memanaskan air lalu memasukkan beberapa ruas kunyit bersih segede bagong, asem jawa, dan gula aren yang airnya akan saya minum setelah mendidih lalu didinginkan. Dan haid saya akan lancar jaya maju bersama tanpa sakit berkepanjangan! Yay!



Beberapa bulan lalu seorang mas-mas penggerutu meminta saya membuka situs ini dan menyuruh saya menonton (karena sebal jadi pelampiasan caci-maki akibat migren dan nyeri haid). Sayang, film itu tidak tersedia di TPB maupun semua penyedia torrent gratisan. Jadi, saya nonton preview sambil baca PDF transkripnya.

Sumpah, saya kaget! Di film itu bahkan ada dokter yang bilang bahwa haid itu bukan sesuatu yang alami, dan ia bahkan bercerita ada pendeta yang berkata bahwa proses menstruasi adalah buatan iblis! Yang lebih mengagetkan lagi adalah bahkan di negara bule sana ada 10,000 tampon dan pembalut bekas pakai yang jadi sampah di laut dan di sungai. Sementara itu pembalut masa kini ternyata tidak hanya menyerap darah hasil peluruhan dinding rahim, namun juga menyerap habis cairan vagina yang diperlukan. Apalagi pada kapas dalam pembalut tersebut juga digunakan pestisida. Shit! Ternyata tidak hanya payudara yang beracun! Pembalut pun akan membuat vagina beracun!

Sedikit-banyak, saya amat sangat setuju dengan semua hal yang ada dalam film tersebut. Tentang bagaimana stigma lelaki-di negara Barat sekalipun!-yang menganggap perempuan haid adalah najis yang patut dijauhi; tentang bagaimana gadis-gadis kecil ketakutan menghadapi menstruasi pertama; tentang bagaimana wanita-wanita dewasa merasa sangat lega menenggak pil hormonal yang bisa mencegah kedatangan siklus merepotkan itu hingga sembilan taun-dan beresiko terkena kanker!

Yang nggak saya setuju adalah bagaimana siklus keperempuanan ini menjadi ajang battle of sexes, dimana dalam dunia male chauvinism lelaki adalah penguasa dan semua lini kehidupan diberdayakan untuk kepentingan lelaki. Karena itu, film ini-MENURUT SAYA-lebih dikedepankan untuk memenangkan peperangan antar-gender tersebut. Bagi saya, mood swing, migren dan nyeri haid ini nyata, senyata jempol kaki saya sendiri yang saya rasakan sakitnya hingga ke ujung anus waktu kejeduk kaki meja. Dan menihilkan kesakitan itu adalah sama liciknya dengan menganggap perempuan tidak mampu berpikir ketika mereka diserang sindrom pra-menstruasi.

Buat saya, tidak penting apakah para lelaki pemuja falus dan penguasa dunia menganggap perempuan sama tidak berfungsinya kecuali hanya sebagai vas bunga yang bisa mempercantik rumah ketika mereka sedang berperang sendiri mengatasi nyeri haid. Sejak saya tinggal sendiri dan tidak punya dapur, saya mengandalkan coklat, kacang, atau berjalan kaki untuk meminimalisir efek negatif nyeri haid. Dan saya masih bisa berfungsi sebagai manusia, masih bisa garap pekerjaan terjemahan segabrug gajah, masih bisa ketawa-ketiwi bareng temen di tempat nongkrong atau di mana pun. Kehidupan saya masih berjalan normal, senormal semua perempuan di dunia yang juga mengalami nyeri haid.

Jika memang perempuan ditindas dan ditiadakan fungsinya hanya ketika mereka sedang menstruasi, kami masih punya 25 hari lainnya untuk menjadi perempuan perkasa. Tsaaahhh...

Labels:

E N C O U N T E R

Posted by The Bitch on 6/04/2010 02:56:00 AM

Ini cerita tentang pertemuan, betapa kamu nggak pernah tau siapa yang akan kamu temui di pengkolan depan.

Awalnya adalah kesepian teramat sangat dan mellow pra-haid, ditambah beberapa kejadian yang mendadak membuat isi kepala campur-baur seperti baju kotor dalam mesin cuci. Dan saya apes. Tidak ada kuping tersedia dan tangan terulur untuk saya pegangan. Well, this was not my first time. Begitu pikir saya.

Dan seperti hujan salah musim yang selalu datang tiba-tiba tanpa pertanda, dia menjawab panggilan saya. Dia, lelaki Gemini bertanggal lahir sama dan terakhir saya temui dua tahun lalu, ketika kami merayakan ulang tahunnya dengan... mabuk. Malam kami tandas oleh dua gelas kopi Amerika yang aneh, dua piring nasi goreng sayuran, dan bergelas-gelas teh manis panas lalu menggeletak pada bantal-bantal besar sambil tak putus bercerita hingga matahari menyapa. Serendipity: ketika telinga yang saya cari, malah lidah yang saya temukan. Dan saya alpa. Lupa pada hal-hal membebani dan membuat kepala seperti pekak. Damn.

Lalu salah satu pengusaha rendah hati namun murah senyum membuat saya menemuinya di salah satu warung roti bakar pinggir jalan, dekat dengan tempat saya menaruh pantat. Saya tau, ia datang membawa penat, mengharap sedikit syaraf melonggar melalui obrolan hangat antar kawan-meskipun kami sama-sama belum mandi =P Yang mungkin ia tidak sadar adalah betapa dia mengajarkan saya banyak hal: tentang bermain dengan nasib, tentang determinasi, tentang melakukan semua sedikit-sedikit, dan tentang berkeras hati untuk tidak memaafkan diri sendiri.

Well, then. Tidak ada yang baru, memang. Mungkin apa yang mereka katakan sudah sempat saya dengar dan saya lakukan jutaan kali sebelumnya. Kemudian terlupakan begitu saja. Still, using some reminders won't hurt, though.

Labels: