"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Something to Ponder v0.1

Posted by The Bitch on 5/24/2010 05:12:00 AM

There is something about people like us. A built-in sensory perception. People stamp us as hypersensitive, but i perceive it as a gift, an empathy. I've got my share. And I know you've got yours, too.

Kalimat-kalimat di atas mampir sembarangan di inbox salah satu jaringan media sosial yang saya ikuti, menjawab beberapa pertanyaan kurang ajar yang memenuhi benak saya sejak pertama kali melihat namanya ada dalam daftar teman. Jawaban itu tulus, bertengger begitu saja seperti burung gereja hinggap di kusen jendela, tanpa dosa, melesak diantara beberapa jawaban yang mungkin harus ia ungkapkan berjuta-juta kali dalam hidupnya.

Jujur saja, rasanya saya ingin menangis. Sekian banyak beban menjadi orang yang (sok) tau, sekian banyak penyangkalan tentang 'semua akan baik-baik saja', sekian banyak tanggungjawab yang saya nafikan sekian lama dengan 'udah lah, ntar aja dikerjainnya', sepertinya terangkat sedikit demi sedikit. Meskipun tidak membuat benak dan hati saya lega, tapi cukup rasanya untuk mengosongkan sedikit rongga dada agar dapat bernafas kembali.

Saya lupa kapan terakhir kali merasakan hal seperti ini. Mungkin otak saya yang hanya memuat seperempat sendok teh neuron ini--lebih sedikit dari volume sperma dalam sekali ejakulasi--punya kemampuan luar biasa untuk memblokir atau bahkan menghapus sepenuhnya, seperti auto-delete ketika memori yang sedikit dipaksa harus berakselerasi dengan berbagai data. Atau mungkin ini pertama kali saya merasakan keletihan luar biasa yang tidak dirasakan otak sama sekali? Entah ((=

Well, saya tidak melakukan apapun. Saya memang tidak setegar yang saya kira. Hidup saya sedang berada pada titik terendah dimana saya hampir mati rasa dan tidak bisa melakukan apapun untuk mengaturnya. Dan mengakui hal ini adalah salah satu cara mencari penyelesaian.

Phew! Ternyata saya nggak gila. Bolehkah saya bersyukur?

Labels:

Tentang Teluk Rahasia

Posted by The Bitch on 5/05/2010 03:17:00 PM

WARNING: SPOILER ALERT
Ini adalah review
The Cove yang menceritakan hampir keseluruhan film dan menampilkan beberapa snapshot. Yang masih penasaran, watch it.
Don't tell me I didn't warn you...

Bagaimana rasanya membunuh anak sendiri? Sepertinya itu yang dirasakan Ric O'Barry ketika menghabiskan 35 tahun terakhir hanya untuk meruntuhkan apa yang dulu selama 10 tahun ia bangun: bisnis pertunjukan lumba-lumba.

Berawal dari karirnya sebagai pemain sekaligus pelatih di serial televisi Flipper, Ric sempat merasakan nikmatnya tiap taun ganti mobil saking film itu 'ngejeger' gila-gilaan dan uang yang dia dapat juga nggak kalah gila. Padahal Suzy dan Cathy--dua lumba-lumba betina pemeran Flipper dan bagian dari penghuni Miami Seaquarium--adalah penipu-penipu mahir yang diciptakan alam semesta. Dibalik senyum penghias wajah, tersimpan stress berkepanjangan karena terkurung dalam tangki beton.

Ric, lelaki tua yang selalu terlihat sedih dan lelah, baru menyadari kekeliruannya ketika suatu hari Cathy bunuh diri. Cathy, secara harfiah, menarik napas penghabisan sebelum akhirnya menenggelamkan tubuhnya dan menolak muncul ke permukaan untuk menghirup oksigen. Reaksi Ric terhadap kejadian itu sangat kuat. Ia mulai 'membunuhi anak-anaknya', menghancurkan apa yang ia bangun, dengan cara melepaskan kembali semua lumba-lumba tangkapan ke alam mereka.

Lumba-lumba adalah mahluk akustik, sensitif terhadap suara, mamalia laut baik hati dan cerdas. Mereka memiliki sonar luarbiasa canggih dibandingkan perangkat sonar terbaik bikinan manusia. Dengan kemampuannya, binatang ini berkomunikasi dan berburu, menempuh 40 mil per hari bersama gerombolannya. Sekali scanning, lumba-lumba mampu mendeteksi detak jantung manusia, merasakan ketakutannya, dan bahkan mampu mengetahui kehamilan dan bagian mana dari tubuhmu yang patah tulang. Karenanya, mengurung mereka dalam tangki adalah kesalahan karena pantulan suara yang dihasilkan membuat mereka bingung. Tidak itu saja, lumba-lumba suka sekali bersosialisasi dan bermain seperti halnya mahluk-mahluk dengan intelejensia tinggi--yang lalu diaku-aku manusia. Itu sebabnya mereka sering sekali berenang bersisian dengan kapal-kapal besar dan berdampingan bersama para peselancar menikmati ombak. Lumba-lumba bahkan bisa menjadi pelindung ketika diam-diam seekor hiu ganas mendekati manusia teman bermain mereka. Pintar dan tanggap, lumba-lumba itu. Tak perlu jauh-jauh mencari ET ke angkasa luas. Di bawah laut kita sendiri kita punya mahluk luarbiasa cerdas.


Dan apa jadinya ketika setiap tahun ada DUA PULUH TIGA RIBU lumba-lumba mati di teluk Taiji--ditangkap untuk disekap dalam Seaquarium atau dimakan? Dan apa yang terjadi ketika dunia buta karena pemerintah lokal menutup mata terhadap apa yang terjadi di depan hidung mereka? Seperti Wiji Tukul, Ric bersama teman-temannya dari Oceanic Preservation Society hanya punya satu kata: lawan! Mereka menggalang orang-orang terbaik--pasangan juara dunia menyelam Mandy-Rae Cruickshank dan Kirk Krack, Charles Hambleton si adrenaline junkie, ahli kamuflase kamera dari Industrial Light and Magic, Joe Chisholm yang menyelundupkan perangkat 'perang' sebagai instrumen konser, dan jagoan teknologi penyelusupan mutakhir Simon Hutchins--untuk
diam-diam menerobos tempat pembantaian yang disamarkan sebagai Taman Nasional. Mereka harus melakukannya karena 'musyawarah untuk mufakat' bersama dewan kota tidak membawa hasil dan komunikasi dua arah hanya mendebat perihal pepesan kosong. Bahkan ketika orang-orang sekitar Taiji diperingatkan tentang kandungan merkuri tinggi pada daging lumba-lumba (yang dikemas dengan label PAUS) dan dapat menyebabkan sindrom Minamata. Mungkin itu harga yang pantas jika lumba-lumba hidup membuat mereka mampu mengantungi hingga US$150.000.

Pada konferensi International Whaling Commission, salah satu event dimana Ric O'Barry di-banned seumur hidup, Ric membawa layar monitor di dada, menampilkan gambar memualkan bagaimana lumba-lumba dibantai dan bagaimana birunya teluk memerah karena darah ratusan binatang sekarat menanti ajal.

Namun perburuan belum selesai. Masih ada September, saat dimana para pemburu menuai apa yang tidak mereka tanam.

Film 'The Cove' ini saya tonton awal Februari. Dan saya shock, bahkan hingga film itu saya putar tiga kali berturut-turut. Bagaimana mungkin seluruh kota mencintai lumba-lumba, membikinkan museum, dan sekaligus memakannya? Saya selalu menolak ajakan ke Sea World karena saya merasa mahluk yang seharusnya tinggal di laut maha besar tidak seharusnya berada di sana. Saya tidak begitu mengerti bagaimana lumba-lumba itu sebenarnya kecuali dari ensiklopedi atau tontonan dokumenter. Pertama kali saya melihat mereka adalah saat keluarga besar konvoi bermobil ke Bali. Mereka berenang di samping ferry hampir sepanjang perjalanan. Menyenangkan, seperti ketika saya mengajak Shiro jalan-jalan.

Menonton The Cove, saya mengingat bagaimana binatang disembelih, dan bagaimana saya bersikap biasa saking terlalu sering membantu Babab memotong ayam peliharaan kami. Saya ingat Idul Adha, ketika pembunuhan binatang dipertontonkan di depan publik dan bagaimana hal tersebut dianggap wajar (dan saya tidak pernah menemukan kegirangan melihat mata sedih sapi dan kambing di malam sebelum mereka dimatikan). Saya mengingat perjalanan ke Muara Angke, dimana ikan-ikan dibiarkan mati setelah ditangkap kemudian dibekukan. Saya tidak bisa bayangkan. Dengan cara brutal seperti itu, spektrum sakit seperti apa yang harus tertanggung sebelum maut menjemput? Apakah sakit yang teramat sangat hingga tidak lagi terasa sakit?

Mungkin saya berlebihan, atau mungkin sudah masanya saya lebih memperhatikan apa yang saya makan karena saya anak kos pemalas yang tidak suka masak sendiri. Namun melihat bagaimana lumba-lumba tersebut menjerit ketakutan menghadapi 'dinding suara' dari pipa yang dipukul-pukul di kapal-kapal nelayan, bagaimana mereka berbalik menuju teluk rahasia untuk dipilih atau dibunuh, membuat saya berhenti memakan binatang mati (maupun hidup) hingga hari ini. Saya tidak ingin badan saya menjadi kuburan ayam-ayam pedaging yang digemukkan sedemikian rupa hanya dalam waktu singkat bahkan tulang mereka belum tumbuh sempurna dan belum mampu menyangga bobotnya sendiri. Saya tidak ingin memakan binatang yang mati kesakitan, dipaksa menelan air bergalon-galon sesaat sebelum dibantai. Sudah, cukup.

Dan The Cove hanyalah film. Ada kepentingan disana, yang tersirat maupun yang tersurat. Reaksi saya adalah apa yang saya paparkan disini. Untuk lebih netral melihat dari semua sisi, silahkan kunjungi situs ini. Jika ingin teracuni seperti saya, silahkan menonton.

"If we can't stop that, if we can't fix that, forget the bigger issues. There's no hope."



Gambar diambil dari situs The Cove dan beberapa snapshot dari film.

Labels: