"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

It's all about attitude

Posted by The Bitch on 4/29/2010 05:06:00 AM

Saya perokok berat. Dalam sehari saya bisa menghabiskan 2-3 pak rokok. Jangan tanya jika kerjaan saya sedang fully loaded. Ketika dua kali dua puluh empat jam nyaris tidak keluar kamar akibat kejar setoran, sempat saya iseng menghitung kotak-kotak bekas dalam tempat sampah: sembilan bungkus. Ngeri!

Karena peraturan di rumah dan sejak saya sombong bisa cari uang sendiri, sudah lebih dari sepuluh tahun saya mencandu.

"Jangan bakar duit gue kalo elu mau ngerokok," kata Ibu ketika saya masuk SMP. Saya ingat betul larangan itu, karena sebelumnya Ibu memberi saya izin pacaran. Mumpung masih muda, katanya.

Dia hampir tidak pernah melarang saya melakukan apapun, bahkan untuk yang nakal-nakal. Dulu, rumah saya kerap digunakan sebagai basecamp. Karena itulah Ibu dekat dengan teman-teman saya dan sangat galak dengan aturan 'Lu boleh maen, makan, tidur, boker, curhat di rumah gue, tapi jangan bakar dan nokib disini'. Dia tau, sebagian besar mereka adalah pengedar dan pemakai. Tapi mereka teman saya, dan saya dekat sekali dengan mereka. Ibu bahkan sempat menawarkan untuk membelikan minuman keras, ganja, dan obat-obatan terlarang buat saya. Asalkan saya menggunakannya di dalam rumah, sendirian, dan dibawah pengawasannya.

"Mending Ibu liat sendiri anak Ibu minum dan mabuk. Kalo kenapa-kenapa, Ibu yang duluan tau dan bawa sendiri ke rumah sakit." Begitulah.

Ibu saya penganut harm principle bahwa tiap orang bebas melakukan apapun sepanjang tidak mencelakai orang lain. Baginya, jika saya sakit akibat rokok, itu sama saja dengan mencederainya karena dia akan sangat khawatir. Karena itu saya sering menahan batuk jika sedang ada di rumah. Tapi dengan brainwash seperti itu saya dibesarkan. Jadi, jangan salahkan saya jika di dalam angkutan umum saya sering meminta agar orang yang duduk di sebelah untuk mengurungkan niat merokok. Itu akan mengganggu penumpang yang tidak merokok, ujar saya menjelaskan jika mereka tidak suka.

Tidak hanya dari Ibu, saya belajar dari beberapa orang-orang hebat. Mereka, perokok-perokok itu, membawa asbak portabel kemana-mana. Bagi mereka, itu adalah tanggungjawab perokok sebagai penghasil sampah. Dan suatu hari, ketika saya masih tinggal di Jogja, salah satu orang hebat tersebut menghadiahi sebuah kotak kayu mungil berhias ornamen batik yang dia buat sendiri.

"Ini buat kamu, Pinto," selalu begitu dia memanggil saya, "biar ndak nyampah kalo merokok," ujarnya. Sampai sekarang seseorang masih menyimpan kotak itu, tertinggal di rumahnya di Bandung karena keteledoran saya. Namun seorang cowok gondrong keren baik hati dari Cilincing membawakan ganti beberapa minggu lalu. Yay!

Sejak sering mendapat teguran dari teman-teman yang bukan perokok, saya sadar diri untuk tidak menikmati the 'guilty pleasure' di depan anak-anak dan remaja yang percaya bahwa merokok adalah keren. Saya bukan mahluk yang merasa keren karena senang menyiksa hidung dan paru dengan asap bernikotin sementara pemilik hidung lain menggerutu karena terganggu. Atau lebih parah: citra saya sebagai perokok perempuan yang cool dan tangguh akan menancap dalam benak remaja-remaji tanggung (dan tanpa sadar, secara tidak langsung, saya memuluskan jalan bagi korporasi rokok untuk merekrut perokok muda. Saya tidak suka ide itu).

Tapi yang membuat saya heran, banyak sekali para non-smoker menganggap merokok di dalam bis adalah lumrah dan wajar. Saya hanya bisa menghela napas berat karena prihatin. Ketika saya membela hak mereka mendapatkan udara tanpa nikotin dalam kendaraan umum, saya sering di'jatuh'kan dengan ucapan semacam "Udah lah, Mbak. Namanya bis kayak gini udah biasa kali orang ngerokok di baris paling belakang. Kalo si mbak nggak suka, sana naek taksi aja." Begitu kata seorang ibu-ibu paruh baya dan berjilbab ketika saya meminta bapak di sebelahnya untuk mematikan rokok. Padahal jelas-jelas si ibu sudah terganggu karena terus mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah tanpa sepengetahuan si bapak (dan entah kenapa ibu-ibu dan mbak-mbak berjilbab yang teraniaya lebih sering saya dapati bungkam dalam situasi seperti itu. Kenapa ya?).

Seorang mantan perokok berat sering mengkritik saya tentang candu perusak paru-paru ini. Dia bahkan sempat bilang: "Kalo udah sedeket elu sama badan lu, tu anjing paling bakal sama nasibnya: diasepin, diracunin, dirusak."

Well, saya sebal dibilang seperti itu. Saya tau merokok merusak paru-paru dan kantong dan saya khatam tentang bab itu. Saya percaya kebebasan memilih dan saya memilih terasapi, teracuni dan rusak. Saya juga tau banyak pecandu brengsek. Klepas-klepus sembarangan seakan dia pemilik dunia. Tapi nggak semua kan?

"Ah, kalo lu berpenis, lu juga bakal nggak tahan buat nggak bakar rokok dalem bis tempat lu disekap sampe 13 jam," katanya lagi, mengomentari betapa brutal bapak-bapak teman seperjalanannya menyiksa non-smoker tak berdaya sepertinya dan beberapa mbak-mbak dan ibu-ibu dalam transportasi umum yang akan mengantar mereka ke luar Jawa.

Saya tidak ingin berdebat panjang lebar tentang hal ini. Apalagi belakangan saya tau bahwa dulu dia adalah salah satu diantara ‘orang-orang tidak beradab’ tersebut. Mungkin rasa bersalahnya menghantui, mungkin kesadarannya menggedor nurani. Saya tidak pernah tau. Yang saya tau, saya percaya bahwa tidak semua perokok egois. It’s the attitude that counts, dalam semua aspek kehidupan.

Gambar diambil di sebuah angkringan tempat saya nongkrong. Ya, saya sadar. Rokok impor memang TERLIHAT lebih peduli terhadap kesehatan konsumen ketimbang rokok lokal. Tapi cuma perokok yang ngeh yang selalu sedia asbak sebelum udud. Rokok menthol dan asbak logam di kanan atasnya itu... dua-duanya punya saya =P

Labels: