"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

The Cute Little Thing We Called FACEBOOK

Posted by The Bitch on 3/28/2010 10:39:00 PM

WARNING: beberapa baris dari tulisan ini mungkin amat sangat tidak pantas untuk pembaca yang belum dewasa secara hukum—atau mereka yang bangkotan namun memiliki pemikiran setara ABG labil. Saya membebaskan Anda menyalin dan menyebarkan muntahan ini jika Anda terlalu gatal menjadi pewarta, tapi KENALI AUDIENS ANDA. Buatlah revisi seperlunya. Saya mau liat, sejago apa Anda jadi corong saya.

Ketika mengetikkan ini, saya sedang mendengarkan KoRn réngéng-réngéng tentang Little Dead Girl, penyembuh terakhir berwujud kematian kecil, ujung persenggamaan bersalut cinta karena it’s true, what they say fucking for love might be the last legal drug. Ini diambil dari istilah Perancis, la petite mort, karena orang sana merasa ‘mati’ sejenak ketika kontraksi otot genital tiga detik tercapai.

Sama halnya dengan berbagai update status di Facebook, ruang maha publik dimana orang bebas mendapat dan memberi perhatian pada akun siapa saja—dan orgasme eksistensi karenanya—dengan kata-kata kotor sekalipun. Namun apakah bijak jika beberapa akun di daftar teman ternyata berusia kurang dari tujuh belas?

Saya pernah nyasar ke salah satu iklan layanan masyarakat di Youtube tentang bahaya ke-publik-an Facebook. Ceritanya, seorang siswi SMU merasa heran karena hampir semua orang menyapa dan tersenyum. Dia GR luar biasa saat cowok terganteng di sekolah juga memanggil namanya. Ternyata dia dapati alasannya: salah satu foto tak senonoh yang menampilkan wajahnya telah menyebar di Facebook.

Ilustrasinya, Facebook itu seperti bulletin board virtual tempat orang menempel lembar-lembar pengumuman, foto, dan informasi apa saja. Semua orang bebas mencabutnya tanpa harus menghilangkan lembaran tersebut. SEMUA ORANG, yang benar-benar perlu atau sekedar iseng. Meskipun si empunya sendiri sudah menghapusnya, karena The Almighty Google masih menyimpan data tersebut pada cache yang disadur ke Bahasa Indonesia menjadi tembolok. Tinggal bagaimana pintar-pintar mencari saja.

Waktu saya ndéprok di deretan belakang acara Ignite, seorang presenter memberi materi tentang internet sehat untuk anak. Disitu dia bilang bahwa anak adalah sumber ide tak terbatas. Anda bisa saja memperketat proteksi perambah pada PC di rumah. Dalam satu jam, jika si anak cukup cerdik, akan Anda dapati ia kembali asyik berselancar di dunia maya. Di Amerika usia minimal seorang anak memiliki akun Facebook adalah empat belas, karena anak di bawah usia itu adalah mangsa bagi para predator pedofilia. Karena itu, akan amat sangat penting untuk mendidik diri sendiri sebagai orangtua untuk dapat mengajari anak bertahan dari gempuran informasi di era digital.

Saya bergidik ngeri membayangkannya. Sementara di sini banyak anak-anak kencur memasang gambar imut mereka, lengkap dengan nomer ponsel dan alamat rumah, mengajukan pertemanan pada orang-orang asing yang fotonya terlihat cakep meskipun tidak mereka kenal, dan menyetujui pertemanan dari orang-orang serupa.

Saya sontak kaget ketika slide presentasi menampilkan screenshot akun twitter seorang bocah dengan tulisan ‘Bokap ngentot!!! Nggak ngerti apa gue mau kerjain tugas?! Facebook-an dari tadi nggak udah-udah!”

Jika sudah begitu, mana yang salah? Anak kurang ajar atau orangtua durhaka?

Suatu hari saya dapati sebuah wall post antar pengguna yang saya duga dari adik kepada kakak. Pada dinding pesan si adik mengabarkan, dengan bahasa lugas tanpa tédéng aling-aling, bahwa ibu telah mentransfer sejumlah uang ke rekening bibi mereka dan meminta kakak mengambil sisa hutang bibi sejumlah beberapa ratus ribu. Tidak ada tanggapan di bawahnya, padahal si kakak ini cukup ‘nyeleb’. Namun saya yakin, seperti saya, teman-temannya juga membaca pesan itu. Kami mungkin terlalu sopan untuk tidak berkomentar apapun tentang perihal yang terlalu pribadi seperti itu. Atau, mengingat kebiasaannya, mungkin beberapa komentar usil cukup membuatnya repot menghapus satu-persatu.

Saya juga pernah éyél-éyélan dengan seorang teman yang meletakkan link Youtube tentang proses kelahiran melalui operasi Caesar. Caption video yang ditampilkan adalah gambar beku torehan pertama ketika perut calon ibu dibelah, menganga, lengkap dengan warna kekuningan dari lapisan lemak bawah kulit berbaur merah yang leleh karena pembuluh halus terputus. Sebagai pengantar, dia ketikkan ‘ini semacam pengingat bahwa proses lahirnya kehidupan baru adalah pertaruhan nyawa yang suci dan sakral agar saya tidak menyepelekan tubuh wanita’. Namun bagi saya ‘badai visual’ itu menerabas menghajar mata tanpa bisa saya cegah.

Saya menggugat melalui peranti ngobrol karena ia tidak memberi pilihan pada mereka yang kebetulan melihat setiap dia ganti status.


“Lo bisa taro link-nya di kolom buat update status instead of kolom link biar caption-nya nggak keliatan. Biar orang yang nggak mau liat nggak usah ‘dipaksa’ liat. Lo bilang sendiri kalo di friendlist lo banyak ABG. Gue rasa mereka belum cukup berani liat yang kayak gitu. Lagipula, belum tentu yang punya perut tau dan nggak keberatan dipelototin cyberians waktu perutnya diobok-obok dokter, apapun alasannya. Itu nggak pantas,” protes saya berapi-api.


“Well, mana yang lebih nggak pantas: Proses stepping up seorang perempuan menjadi ibu atau pembantaian hewan atas nama tuhan di public square dan dilihat banyak anak-anak?” sanggahnya.

Saya naik darah karena contohnya nggak sebanding sama sekali. Namun saya tidak bisa berbuat apa-apa karena dia bebas-merdeka seperti tuhan atas akun pribadinya. Untung lelaki ini cukup baik. Dia lenyapkan link sengketa tersebut dan menggantinya dengan status ‘baru saja menghapus video kelahiran melalui Caesar karena ada beberapa orang yang merasa lebih tau mana yang pantas dan tidak. Mungkin yang lebih pantas adalah pembantaian hewan di lapangan atas nama tuhan'.

Saya hanya bisa menghela napas tanpa bisa membalas, meskipun komentar-komentar di bawahnya membuat saya marah karena mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Satu hal yang saya tangkap adalah bahkan orang-orang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas sekali pun terkadang luput mencermati seberapa besar dampak jejaring sosial pada kehidupan mereka dan orang-orang sekitar. Kami—karena saya juga termasuk—hanya berpikir untuk menarik orang-orang masuk ke dalam network; mengembangkan pertemanan seluas-luasnya (dan menggalang pelanggan jika mampu); mengumpulkan mereka yang terserak dari masa lalu; menggapai eksistensi karena status berbalas komentar puluhan—meskipun terasa kosong sama sekali.

Banyak orangtua bangga ketika anak-anak mereka yang masih duduk di sekolah dasar sudah punya akun Facebook sendiri; sudah bisa memunggah foto ketika mereka berlibur di pantai atau kolam renang—saat itu juga setelah mereka selesai ceprat-cepret dengan kamera ponsel; punya teman hingga ratusan, dari dalam dan luar negeri, sebaya atau lebih tua, tanpa memahami siapa yang asing dan siapa yang dikenal si anak tersebut. Saya sedih melihat balita di kafe sebuah mall menangis ditenangkan pengasuh sementara ibunya asyik pencat-pencet perangkat BlackBerry atau laptop, memperbarui status dan membalas komentar (beranjak besar, mereka akan membuat puisi sarkas-tapi-lucu tentang kebiasaan itu berjudul ‘Ibu dan Facebook’). Dan saya miris ketika pelajaran multimedia untuk anak sekolah masih berkutat pada tata cara penggunaan perambah dan bagaimana mendaftar surel dan akun jejaring sosial semacam Facebook tanpa diimbangi pengetahuan yang dapat melindungi mereka di dunia maya. Ditambah dengan kemudahan berselancar melalui ponsel, butut sekalipun.

Yang lebih miris lagi adalah mendapati orang-orang seperti saya hanya berdiam diri tidak peduli.

Seperti pisau lipat yang kerap saya bawa kemana-mana, pengetahuan bisa menjadi alat untuk membunuh, bertahan, atau menyelamatkan nyawa. Ada banyak film seri yang membahas kekejaman pedofilia, seperti episode pertama Dexter atau CSI yang sempat saya tonton. Itu mungkin akan membuat orangtua atau siapapun jadi paranoid. But believe me, sometimes reality is stranger—and much more frightening—than fiction.

So, where do we begin?


—Updated:

Setelah sempat ‘adu kepala’ dengan salah satu belahan jiwa dari Jogja yang kebetulan bertandang, saya disuruh baca file pdf yang isinya ringkasan MEMO/10/33 dan disepakati di Brussels, 9 February 2010. Memo tersebut menyatakan sikap Uni Eropa terhadap pendekatan jejaring sosial bagi anak-anak di bawah usia 18.
Mereka juga mengajak beberapa jejaring sosial dan perusahaan yang bergerak di bidang layanan internet seperti Facebook, MySpace, Youtube/Google, Windows Live, Microsoft, Yahoo!Answer, Yahoo!Flickr, Yahoo!Europe, Netlog, dan berbagai perusahaan media online Eropa. Mereka menggodok dan menguji konsep yang tadinya absurd: bagaimana melindungi anak-anak dari cyber bullying dan predator maya.
Saat perusahaan-perusahaan menandatangani kesepakatan tersebut, tujuh butir prinsip dasar yang dikemukakan adalah:
  • Memunculkan kesadaran untuk bertukar pesan secara jelas, lugas, dan aman sesuai usia dan kepantasan
  • Memastikan bahwa layanan yang mereka berikan layak untuk audiens berusia dibawah usia 18
  • Meningkatkan kesadaran pengguna tentang keberadaan mereka di dunia maya melalui berbagai pilihan keamanan, misalnya membuat setting default ‘private’ dan tidak bisa dilacak bagi para pengguna berusia dibawah usia 18
  • Menyediakan tombol ‘report’ yang mudah digunakan dan dapat diakses siapapun sehingga pengguna dapat langsung melapor jika ada tindakan atau kata-kata yang tidak pantas dari pengguna lain yang ditujukan kepada pengguna dibawah usia 18
  • Melaporkan lewat notifikasi jika ada konten atau tindakan ilegal di situs tersebut
  • Memudahkan pengguna untuk dapat mengatur seting privasi sewaktu-waktu (misalnya dengan membuat setting tersebut terlihat jelas pada laman situs)
  • Meninjau konten atau tindakan illegal dan/atau terlarang melalui perangkat moderasi, filtering software, atau community alerts
Mengapa begitu rumit? Karena menurut survey di Eropa, pada tahun 2008, ada 75% anak-anak online di Eropa, dan 50% remaja mencantumkan informasi personal pada halaman online mereka. Menandai gambar atau tag yang kerap menjadi layanan sosial media juga memberi kesempatan bagi para predator maupun bully (saya nggak bisa nemu kata Bahasa Indonesia yang pas buat 'bully'. Penindas?) untuk melecehkan anak-anak dan remaja ini secara online. Besar kemungkinan, mereka juga akan menemukan konten dewasa dan penyalahgunaan informasi personal.
Informasi lebih lanjut mengenai kebijakan Uni Eropa tentang jejaring sosial dapat dibaca di sini dan di sini.

Labels:

There's nothing to be fixed, only to let go

Posted by The Bitch on 3/08/2010 01:16:00 AM

Seorang teman menulis bagaimana cara mengobati patah hati karena tertolaknya sebuah pernyataan ‘suci’ dari seseorang kepada seseorang. Well, been there, done that. Siapa sih yang nggak? Tapi dunia nggak berhenti sampai disitu, bukan?

Saya, meskipun nggak pernah ‘nembak’ untuk menjadikan seseorang sebagai properti hidup milik saya, pernah juga berada di posisi yang hampir mirip seperti itu. Jujur, dulu (dan mungkin sampai sekarang? =P) saya huntress, meskipun saya nggak punya bodi dan tampang jadi pemburu. Saya hobi ‘mepet’ cowok yang bikin saya penasaran. Dia nggak harus cakep, tapi harus dingin, sedikit angkuh, nggak pedulian namun cukup berotak atau tengil. ‘Korban’ saya dulu adalah ketua perkumpulan siswa Islam di sekolah saya yang Katolik, anak kelas sebelah yang beda fakultas, dan tetangga kos saya. I loved the game, I loved the process, but I didn’t love the result. Ketika ‘mangsa’ sudah didapat maka kegairahan berburu hilang sudah. Artinya, jika saya sudah tau gimana caranya menghadapi masalah berat menyangkut uang, sekolah, dan inter-personal, dan gimana tampangnya waktu dia gembira luar biasa, itu sudah cukup. Biasanya cuma tiga sampai lima bulan, lelaki itu akan saya tinggal dan saya cuekin, seolah kami tidak saling kenal sebelumnya.

Hanya sekali hati saya patah karena roman-romanan cinta nggak jelas. Itu pun setelah melewati beberapa tahun pacaran dan masih menjadi teman baik hingga sebuah kejadian membuyarkan semuanya. Apa yang saya lakukan untuk menetralkan perasaan?

Saya setel Homicide atau RATM dengan volume maksimal melalui headset sambil nggerundel membaca lirik-liriknya. Bagi saya, itu seperti sebuah tamparan keras di kedua pipi tentang bagaimana nasib orang-orang sekitar lebih blangsak daripada sekedar keegoisan hati yang patah. Ya, saya ‘reasoning’ juga, mencoba mempertajam pertanyaan demi pertanyaan dan menyimak jawabannya. Dan saya menulis. Menulis apa saja, yang penting memuntahkan semua sesak dan suntuk di dada dan kepala.

Dan mungkin saya sendiri juga berproses pada akhirnya, menjadi lebih cerdik dan ngeyel demi mengantisipasi peristiwa nggak ngenakin semacam itu. Untung saja kejadiannya nggak lagi tentang roman-romanan, namun lebih ke arah eksistensi saya dalam hidup seseorang (atau sesuatu?) yang saya anggap penting. Sahabat yang mewujud menjadi sosok kakak, misalnya. Atau wujud mirip srigala tapi lembut hati.

Saya sedang mengalami yang pertama. Dan satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah membiarkannya pergi karena dia memberi peringatan pada saya di awal tentang ‘jika suatu ketika…’, tentang ‘tidak berharap lebih daripada sekedar teman’, tentang ‘penghargaan yang tidak memberatkan’.

Dan saya berusaha melepas, lagi-lagi tanpa merasa kehilangan. Dia sudah memberi saya, banyak. Tentang pembelajaran dan bagaimana bersikap. Dengannya, saya mengejewantahkan bagaimana berbagi, mendengar, melepas, dan diam.

Karena saya percaya sudah seharusnya cinta membebaskan, tidak mengekang.


ps: dan saya sedang belajar menjalaninya dengan seseorang yang lain lagi :D

Labels: