"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Love, defined

Posted by The Bitch on 2/17/2010 05:28:00 AM

Love is to listen: understand, beyond any comprehension, to know the correct way to respond, with all your heart.


Love is to share: to give a shoulder to sorrow, anger, and the feeling of abandoned; yet most important is to intercept the joy and laughter when your going gets tough.


Love is to learn: to get to know the new, exciting knowledge that unveiled its mystery, unknown prior to its revelation.


Love is to let go: freeing your object of affection be what he wants to be, to go through the distance, without question, with arms wide open when he comes back.


And love is to keep it silenced deep within, to wait patiently, until the time comes and you want to shout it out loud but could only pronounce a sheer whisper that could be heard even by the whole universe.

Your time will come...


[dedicated to a lioness]

Labels:

Story of Women

Posted by The Bitch on 2/14/2010 04:01:00 AM

Whatever you give a woman, she will make greater.
If you give her sperm, she’ll give you a baby.
If you give her a house, she’ll give you a home.
If you give her groceries, she’ll give you a meal.
If you give her a smile, she’ll give you her heart.
She multiplies and enlarges what’s given to her.
So, if you give her any crap,
be ready to receive a ton of shit!
- Anonymous

Dinihari bersama hingar teriakan Otong KOIL dari headset melepaskan penat saya memelototi ratusan baris terjemahan, proyek kerjabakti bersama seseorang. Agak siang nanti saya berjanji sowan ke rumah perempuan hebat, a newly divorcee, a single mom, dengan seekor labrador betina cantik dan putri pintar. Ia menjanjikan saya Chicken Adobo yang baru saya dengar namanya.

Saya mengenalnya, tidak secara intens, beberapa bulan belakangan. Namun dari pertemuan kami yang baru tiga kali, perempuan usia tiga empat yang sedang rehat dari studi beasiswa S3-nya di Australia ini memiliki aura menyamankan dan damai. Berada di istana kecilnya adalah menyelami sepetak kedamaian di timur Jakarta, dengan suasana teduh dan rapih, tanpa pembantu. Sowan terakhir dua minggu lalu mengisi perut saya dengan semangkuk sup hangat dan dua lembar toast.

"Maaf, aku nggak masak macem-macem dan nggak biasa makan nasi sejak tinggal di apartemen," ujarnya siang itu.

Perempuan satu lagi ada di Semarang, saya kenal lewat fasilitas chatting. Saya lupa bagaimana awal mula kami ngobrol. Namun perempuan dengan dua jagoan ganteng yang sedang melanjutkan studi S2 Bahasa Perancis--yang sangat fasih berbahasa Belanda--ini menikmati hidup walaupun tidak menikmati pernikahan.

"To make the long story short, let's say, after few years, we're just not into each other," jawabnya ketika saya bertanya mengapa.

Ia mengaku tidak bisa masak dan terbiasa dimasakkan Si Bibik atau sekalian beli di luar. Dan dia mengaku, terang-terangan, bahwa kuliah memakan biaya yang tidak sedikit, dan tidak kurang nyali menamatkannya.

Ada lagi seorang single mom multi talenta yang berjuang membesarkan anak semata wayang, Si Mata Hati, sebaik-baiknya. Ibu direktur/PR jagoan/perempuan apik ini menikmati hidup seperti menikmati kecupan kecil pada puncak hidung, hadiah dari si kecil. Jadwalnya terorganisir hingga ke renik, dengan antar-jemput anak menempati prioritas utama. Meeting padat yang sering membuatnya pulang tengah malam tak membiarkan ia melewatkan semalampun tanpa mendengarkan cerita Mata Hati sebelum tidur, walau hanya melalui ponsel. Meski harus menyusun proposal hingga adzan subuh berkumandang, ia akan siap pukul enam, membangunkan sang putri, menyiapkan sarapan, kemudian mengantarnya sekolah, lalu pergi bekerja.

Mereka, perempuan-perempuan itu, menjalankan fungsi sosial di masyarakat tanpa dukungan laki-laki. Apa yang membuat mereka begitu?


"Laki-laki selalu banyak tuntutan dan tidak memegang komitmen. Aku nggak tahan," kata salah seorang diantara mereka. Dan jawaban yang hampir serupa saya dapatkan dari dua perempuan lainnya.

Lalu, untuk (berusaha) menyeimbangkan pendapat antara lelaki dan perempuan, saya bertanya pada seorang bapak baru yang pontang-panting antara studi dan keluarga, ITB Bandung dan Jogja.

Menurutnya, meminta perempuan zaman sekarang untuk selalu bisa memasak adalah keterlaluan, over-expectation dan membuat kaum hawa terbebani. Seperti menyebut perempuan sebagai tiang negara. Dan mengapa kegiatan memasak didominasi lelaki mulai dari ranah tukang nasi goreng hingga chef hotel, karena dunia tersebut keras dan kejam.

"Bayangkan kalo perempuan jadi tukang nasi goreng, Pit. Dia harus terpapar udara malam, dorong gerobak, belom kalo ada trantib. Lha wong mbak-mbak dan ibu-ibu yang jualan makanan mateng daytime aja super repot. Apalagi malem."

Sementara itu, menurutnya, dari cerita seorang temannya yang tinggal di luar negeri, menjadi chef adalah pertarungan sengit seperti dua petinju di atas ring. Ada jegal-jegalan, ada curang-curangan, dan ada intrik busuk mirip politik melibatkan kecakapan kehumasan dan media blowup. Dan sebagaimana teknik acara televisi di Indonesia pada umumnya, mbak-mbak jago masak yang kita lihat di layar kaca itu hanya tinggal senyum sumringah dan memeragakan semua yang sudah diatur bagian properti. Semua hanya buatan. Semua hanya bikinan.

Ada pendapat lain dari seorang lelaki awal tiga puluh yang tidak mencari istri maupun pasangan hidup. Menurutnya, perempuan tidak lain adalah alat bantu seksual yang bisa berpikir, sebagaimana saya menyebut lelaki sebagai dildo berkuping dengan maintenance emosi tinggi. Ketika saya tanya kriteria yang harus dipunyai dari seorang perempuan, cepat ia menjawab 'harus mau dan tidak berhenti belajar apapun.'

Baginya, kemampuan memasak seharusnya dipunyai manusia, bukan prerogatif perempuan. Karena laki-laki dan perempuan sama-sama punya mulut dan perut untuk dipuaskan. Sebagai vegan, terkadang ia kesulitan jika harus bepergian ke luar kota dan tidak ada satu pun makanan yang dapat dia nikmati karena mengandung daging atau ikan. Dan dari sang ibu yang sibuk menikmati pensiun dengan kegiatan sosial di luar, dia paling suka tempe bacem.

Punya ibu pinter masak membuat saya nggak sembarangan makan di luar karena lebih memilih pulang dan menghadap sepiring nasi mengepul lengkap dengan gulai tuna, mendoan, dan tumis kangkung panas dilengkapi sambal segar bersama Babab, Ibu, dan Icha. Masakan beliau pula yang membuat saya rindu pulang dan membuat lingkar pinggang Babab bertambah hampir tiap tahun. Ibu saya juga bisa menjahit dan sedikit kegiatan nyalon, dan lumayan membantu Babab sebagai wedding photographer di masa-masa sulit kami.

Bisakah saya bandingkan ibu saya yang 'produk lama' dengan ibu-ibu yang saya sebutkan sebelumnya? Tidak bagi saya, karena masa dan peran mereka berbeda. Ibu saya murni ibu rumahtangga biasa yang tidak harus membagi waktu mencari nafkah dan membesarkan anak sendirian.

Saya tidak mencibir lelaki yang menempatkan ketrampilan memasak sebagai topmost priority dalam kriteria perempuan idaman yang akan membuatkannya makanan, mencucikan bajunya, dan kemudian bisa dia seret ke tempat tidur. Sama sekali tidak. Saya hanya menyayangkan bagaimana perempuan di'perkecil' hanya sebagai tukang masak dengan peran besar sebagai pemuas keinginan suami, mertua, dan publik.

Gambar disedot dari... lupa dari mana =P

Labels:

The Silent Scream

Posted by The Bitch on 2/12/2010 02:25:00 AM

Lelaki tak pernah menangis, tapi hatinya berdarah.
Kutipan dari om-om mbois wangi kolak, diambil dari entri di blognya.

Dulu, saya paling anti sama cowok cengeng pengeluh, tukang sambat, dan seperti nggak bisa liat bagaimana indah dunia yang sedang ia jalani meskipun segala macam masalah menghadang di depan. Saya mendapati contoh nyata di Babab, lelaki paling nyantai sedunia (dan akhirat?). Sebesar apapun masalah, saya tidak pernah mendapatinya menangis. Kecuali ketika kedua orangtuanya, kakek dan nenek saya, meninggal dunia.

Didikan ibu saya yang keras, yang nggak segan-segan memungut gagang sapu atau kemoceng untuk 'menghajar' saya ketika saya nakal, dari kecil hingga saya besar, membuat saya juga anti menangis. Bagi saya, menangis saat dihajar adalah kekalahan. Karena diam tidak mengaduh dan menentang sepasang mata kalap nan murka—yang biasanya seteduh tajuk beringin di siang hari—adalah perlawanan.

Namun saya sempat tertegun, diam tak bergerak dan hampir lupa bernapas, memandangi layar monitor menampilkan baris demi baris ketikan dari seorang lelaki yang mengaku, terang-terangan, bahwa ia menangis sewaktu menonton Up. Iya, film Disney itu, yang bercerita bahwa janji harus ditepati meskipun objek yang diberi janji sudah termakan belatung bertahun-tahun lalu.

I knew how the old fart felt when he looked at the picture of his dead lover.

Begitu katanya.

Saya tidak terima. Saya marah hanya karena dua baris pernyataannya: bahwa ia menangis dan ia bernostalgia.

Saya dan dia tidak sekalipun pernah duduk bersama pada satu meja. Saya juga nggak tau mukanya kayak gimana. Yang saya kenal hanya tulisannya, berkata-kata halus namun sarkas dan saya jadikan guru tanpa ia sadar saya ada, bertahun-tahun silam. Saya ikuti setiap tulisan, setiap komentar, setiap balasan. Dia yang saya 'kenal' bukan sebagai cowok payah, berlarut-larut dalam melankoli masa lalu, tercarut-marut mengagungkan orang yang tak teraih, tak terjamah, tanpa cela.

Dia... mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Dan saya benci itu.

Menangislah, karena menangis adalah penyucian jiwa
Al Ghazali


Gambar diambil dari koleksi wallpaper saya yang saya lupa ngembat dimana.

Labels:

One Hell of a Closing Weekend

Posted by The Bitch on 2/01/2010 12:39:00 PM

Mas-mas yang ganteng-ganteng dan pintar gambar tapi jarang mandi disini membuat saya harus pulang lewat jam sebelas pada Minggu malam, menembus rinai gerimis untuk sampai di shelter Dukuh Atas. Saya nggak salahkan mereka, karena saya pun telat datang. Dan mereka, meskipun late comers, celakanya tahan lama di kelas. Mau saya bawa bahan susah, kek; gampang, kek; babat teruuuus. Bakal selalu di-'no'-in sebelum dua jam lewat, walaupun saya berkali-kali nanya 'enough?'. Hihi.

C01, angkot Kijang putih jurusan Senen-Ciledug, membawa saya dari Dukuh Atas ke prapatan Melawai. Tumben banget, taksi burung biru nggak ada yang lewat. Dengan menyandang ransel di depan, saya keluarkan rokok sambil menunggu. Tiba-tiba saya dengar suara-suara berisik dan cempreng. Ternyata ada dua waria menyandang kotak karaoke full treble, mengenakan rok mini dan tanktop, wig panjang sepunggung, dan bedak tebal lima senti.

Mereka agak kaget karena saya perhatikan, namun tetap berjalan mendekat ke arah saya. Iseng, saya tawarkan bungkus rokok terbuka yang menyisakan beberapa batang.

"Mau?"

Sambil tertawa kenes dan terus nyerocos mereka mengangguk dan mengambil bergiliran.

Awalnya kami hanya ngobrol ngasal. Mereka bertanya saya pulang kemana, dari mana, bercerita tentang Intisari, semacam jamu beralkohol yang harus mereka minum tiap malam biar nggak tepar kelelahan. Standar. Dan mereka masih memanggil saya kakak. Sampai salah satu dari mereka sadar.

"Eh, iya. Belum kenalan. Aku Regina. Ini Septi," kata salah seorang waria sambil mengulurkan tangan kanan dengan gemulai ke hadapan saya, bergantian.

"Halo. Aku Pito," sahut saya menjabat tangan mereka yang jauh lebih besar.

"Oooh... Mas Pito..."

Saya kaget.

"Waduh, saya perempuan," protes saya.

Mereka masih nggak percaya dan tertawa-tawa. Saya rada sebel. Akhirnya saya menurunkan ransel dan menunjuk dada saya.

"Tuh... aku punya susu!"

Mereka masih tertawa.

"Samaaa... Akika jugaaaa... Haha!"

Saya hanya garuk-garuk kepala. Mau marah, susah. Nggak marah, kok ya nyebelin ya mereka itu.

Setelah tawa mereda, mereka memandangi wajah saya sambil sikut-sikutan.

"Eh, iya lho. Dia cewek. Pantes aja mukanya lebih alus. Nggak kayak kita yang dempulan. Haha!"

Oke. Saya tersenyum lega. Namun pertanyaan Regina selanjutnya bikin saya melongo yang kedua kali.

"Eh, Kakak. Maaf ya. Beneran nih, maaf... Gini, Regina pengen tau. Kalo akika kan banci, yah. Kalo Kakak cewek, kan? Tapi rambut Kakak pendek banget, terus gayanya kayak cowok. Ini maaf ya, Kak. Jangan marah ya, Kak. Kakak lesbian ya?"

HUWANJING!!! Maki saya dalam hati. Bukan berarti jadi lesbian adalah nista. Namun ketika orientasi seksual saya dipertanyakan pada kali pertama berkenalan adalah hal yang jauhhhh di atas menyebalkan levelnya.

Saya menarik nafas panjang dan tersenyum, mengais-ngais sisa stok sabar saya yang mendadak tinggal sedikit sekali.

"Sayangnya nggak. Saya masih suka laki-laki," jawab saya sambil memaksa lengkungan menaik di bibir tetap pada tempatnya.

"Ahhh... Sama dooooong!!!" Hahaha!" Mereka menyambung. Kompak.

Sambil menghabiskan rokok, mereka merencanakan daerah jajahan malam itu. Siapa yang akan pergi kemana, mengamen berbekal pakaian seksi dan kotak hitam yang suaranya nggak ada bass-nya sama sekali. Setelah sepakat, Regina berbalik menghadap saya.

"Kak Pito, makasih ya rokoknya. Besok-besok kalo ketemu Regina sama Septi jangan sombong ya..."

"Iya. Pasti. Nanti kutawarin rokok lagi," sambung saya.

Saya kembali menjabat tangan besar yang terulur ke arah saya. Mendadak, saya ditarik dan pipi saya ditempelkan, kanan dan kiri, pada pipi berdempul Regina. Hal yang sama terjadi pada Septi, yang kali ini memberi saya bonus pelukan dan elusan beberapa kali di punggung.

Saya bengong lagi, ketiga kali, melihat mereka menyebrang jalan sambil berlari cekikikan riang-riang...

Labels: