"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Tentang Adzan

Posted by The Bitch on 1/31/2010 06:00:00 AM

Ada yang selalu membuat saya terkesan pada senja, ketika siang bersiap masuk ke peraduan dan malam meraja. Seperti sakral dan mistis, seperti melihat berpadunya air dan api namun tidak saling mematikan.

Dulu, ketika saya masih (dipaksa) sekolah jauh dari rumah dan kumpul bersama beberapa kebo cantik (Hay Ooz, Idung, Ucok, Sumpel dan Tyan! *mendadah*), saya sering membawa mug berisi kopi dan naik ke lantai tiga. Menikmati pendar ketika matahari mengecup rembulan lalu aplusan. Meskipun saya tidak bisa melihat cakrawala karena tertutup atap rumah dan pepohonan, saya tersihir pada semburat langit yang seperti warna kesumba.

Namun saya sering tak boleh bermasturbasi dengan senja sendirian. Akan ada suara orang mengaji yang disetel dari mesjid terdekat, menjadi pengantar sebelum datangnya adzan. Padahal kepak sayap burung-burung berarak pulang ke sarang lebih merdu terdengar.

Si Babab, yang berjamaah di mesjid terdekat hampir tiap maghrib, pernah protes. "Kenapa sih adzan itu nggak gantian aja? Kan lebih enak didengernya," katanya. Menurut lelaki paruh baya yang kebetulan jadi bapak saya itu, akan lebih baik jika jadwal adzan pada mesjid di tiap RT dan RW dijatah masing-masing tiga menit, bergantian. Diawali dari yang paling barat. Jadi, tidak akan ada muadzin yang suara dan usahanya mubazir. Mereka juga nggak bakal balap-balapan kenceng-kencengan memanggil orang untuk shalat.

Sejak saya harus melacur untuk sebuah korporasi multinasional yang nggak gede-gede amat di Jakarta, senja bagi saya sudah tergadaikan. Apalagi kebiasaan 'shitting on the throne' saya jadi tambah berantakan sejak empat tahun lalu. Alhasil, saya hampir selalu mendengar pengantar adzan berupa lantunan ayat-ayat suci sambil mengejan membuang hajat. Berjuta maaf bagi mereka yang terlalu mengagungkan firman Tuhan dan merasa darah saya halal karena melakukan itu dan saya dianggap KAVIR (iya, bener, pakek PE bukan pake EP). Saya bukan ingin kurang ajar, karena bagi saya mengingat Tuhan dapat dilakukan dimanapun dan dalam kondisi apapun.

Anyway, ada yang menarik dari fungsi adzan itu sendiri. Apalagi bagi saya yang takut akan waktu. Iya, saya jujur. Saya agak-agak paranoid dengan berlalunya detik dan menit, apalagi saat saya bersama karib atau pada suasana nyaman. Namun yang paling saya takutkan adalah--ini benar-benar paradox--ketika waktu tidak berjalan sementara saya sedang bekerja. Karena itu tidak pernah ada jam dinding di kamar saya. Untungnya wajah bulat berjarum tiga di ruang saya memburuh berada di punggung, dan saya selalu bisa menyembunyikan jam digital pada ponsel dan komputer meja.

Tapi adzan adalah hal lain. Ia seperti tepukan lembut tangan ibu di pipi saya yang membangunkan dari mimpi untuk bersegera mandi lalu berangkat sekolah. Seperti pengingat halus bahwa masih ada tugas yang harus saya selesaikan. Meskipun tidak tepat-tepat benar, adzan ashar menandakan tenggat yang tersisa tinggal tiga puluh menit, maksimal, untuk saya menggeber pekerjaan memburuh. Subuh mengisyaratkan saya untuk segera tidur, sebisanya, meskipun kantuk tak juga berkunjung. Dzuhur adalah jam makan siang, dan isya adalah waktu pulang saat saya masih asyik di pabrik.

Namun maghrib adalah persoalan lain. Teman saya pernah berkata bahwa maghrib adalah contoh sempurna bagaimana waktu langit dan waktu bumi berkelindan menjadi satu irama. Dan saat sempurna juga bagi saya memulai hari.

picture taken from here.

Labels:

Me, Myself, and I

Posted by The Bitch on 1/26/2010 12:30:00 AM

Dance there upon the shore;
What need have you to care
For wind or water's roar?
And tumble out your hair
That the salt drops have wet;
Being young you have not known
The fool's triumph, nor yet
Love lost as soon as won,
Nor the best labourer dead
And all the sheaves to bind.
What need have you to dread
The monstrous crying of wind?

- To a dancing child in the wind, YB Yeats

As I read the poem, I remembered the days when I was much, much younger, and more stupid, worried about nothing, fearless of what may come, and fierce to my own young flesh.

I remembered climbing high on a treetop, feeling like I was a witch queen on top of the world, watching my kingdom where I reigned from above, feeling the breeze on my cheeks and playing with my ponytail. And afterwards, I fell from a small branch, too small to hold my little limbs, on my way down. As soon as I landed chin first on a humongous rock the blood oozed from the open cut, stinging so painful it awoke all of my senses (and I still recalled the pain, somehow, when I absentmindedly feel the vague scar). I bit my lips and kept it down, trying hard to hold the scream the second it struggled to go through my larynx. I had to make it stop, both the blood and the scream, no matter what. I didn’t want my mom to rush to see me like that, resulting in a forbiddance to climb on the tree again, since it was my only sanctuary when the going got tough. So I pressed hard on the fresh wound, half bowed so it would not spoil my cotton shirt, and ran quickly to the bathroom to clean up the mess.

I remembered the splash of water on my face, in a hot, sunshiny day in July, when I was voluntarily stranded on an empty beach, purposely eliminating myself from the flocks of my own cousins and uncles and aunts and ran for my own freedom: just me and the wind. And it was dark before I realized that the wave got bigger and the wind harder. I didn't realize what was going on when one of my uncles found me sitting alone on the cold sand, looking up to the clear sky where there were so many stars above, waiting for me to pick one and carry it into my pocket. I heard him shouting, and suddenly people surrounded me. I was shook so hard I could loose some bones while the other hugged me so tight she could break me to pieces. And when I grew bigger, I ran into the word 'lost' though I thought it was them who lost me, not vice versa.

... yet, somehow, long after I grew up, I've never felt more alive than that...

Labels:

Point of View, Anyone?

Posted by The Bitch on 1/12/2010 01:38:00 AM

Ini lucu.

Suatu hari ada seorang teman yang mengeluh nggak punya baju padahal saya tau rata-rata seminggu sekali dia berbelanja di Zara. Entah blus atau celana kasual, meskipun mungkin yang dia belanjakan kurang dari seratus ribu rupiah. Well, saya menatapnya dengan raut wajah datar. Dia berasal dari keluarga berada dan bersuamikan lelaki kaya. Jadi, akan sangat wajar jika ia bisa seenak perut memburu benda bermerek yang diskonannya pun saya masih pikir-pikir membelinya. Saya? Setaun sekali pun belum tentu karena entah mengapa uang dan saya tak pernah bisa bersahabat dalam waktu lama.

Lalu ketika jari, mata, dan otak saya iseng di suatu siang pada jam seharusnya saya memburuh, saya kepentok lah sama blog salah satu teman saya. Di sana dia bercerita gegap gempita tentang bagaimana dia mendukung perubahan pribadi dengan memamerkan foto-foto anak kecil yang tinggal di kolong jembatan lewat Bahasa Inggris patah-patah. Ternyata dia ikut sayembara penulisan dimana peserta yang menang berhak atas jalan-jalan gratis dan menjadi duta dari negaranya. Menjual kesengsaraan untuk kesenangan pribadi, menurut saya. Mengabarkan tentang bagaimana orang seperti dia pun berpikir untuk merubah dunia jadi tempat yang lebih baik, menurut dia. Walau masih tataran wacana.

Sempat seorang lelaki setengah umur mengadu pada saya betapa anak angkatnya tidak setuju ia menjamu mantan guru dan kepala sekolahnya dengan uang setengah juta. Menurut si anak, akan lebih baik jika uang itu disumbangkan kepada fakir miskin dan duafa. Menurut si bapak, ia hanya berusaha menjamu orang-orang yang pernah berjasa padanya--dan pada rekan-rekan satu sekolahnya--dulu, karena mereka turut andil dalam menjadikan ia 'siapa'. Dan menurut saya, sumbangan duit yang nggak berkesinambungan hanya akan membuat mereka malas dan selalu ngarep dikasih.

Kemudian terbetik kabar beserta serangkaian foto-foto yang membuktikan bahwa konon tersangka kasus penyuapan memiliki ruang tahanan yang lebih mewah dari kamar kos-kosan lux. Mungkin ibu cantik--dengan banyak dempul itu--memang disiksa dengan cara hidup nelangsa seperti itu oleh hukum yang memberlakukan. Mungkin memang peraturannya membolehkan seperti itu. Peraturan dengan banyak sekali angka yang mem-backup di belakangnya. Saya nggak peduli dan nggak ambil pusing tentang itu. Saya nggak ngerti hukum. Namun logika bodoh saya mengatakan ada yang nggak beres dengan tiga kamar sel yang diperuntukkan bagi dia sendiri sementara ada beberapa perempuan berbagi satu ruangan dan tidur tanpa alas.

Ini hanya masalah perbedaan sudut pandang. Teman saya terbiasa tampil dan berangkat meeting dengan pakaian rapih dan serasi, komplit dengan perabotan dari bando, tas, sampai sepatu. Sementara saya hanya mengenakan jins, kaos, sneaker dan tas ransel yang sama kemana-mana. Mbak-mbak yang lain ingin pergi melihat belahan dunia lain melalui prestasi tulisannya, yang saya nilai tidak beda dengan media whoring. Dan bagi si bapak, penghormatan terhadap guru cukup dengan menempatkan mereka pada posisi layak jamu sementara bagi si anak adalah kemubaziran. Dan mungkin si ibu cantik yang saya pergunjingkan setelahnya akan gatal-gatal jika menggunakan fasilitas umum bersama dengan para perempuan kriminal yang tidak dari kastanya.

Namun ada satu hal yang membatasi semuanya: bahwa tiap kejadian memiliki alasan sendiri, dan bukan hak dan kewajiban kita mengorek setiap alasan--kecuali kasus kamar tahanan mewah.

Dan saya? Lagi-lagi hanya menghabiskan waktu di sudut sebuah warung hingga baterai Pektay saya terengah-engah lalu sekarat...

Labels: