"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Kehilangan dan Melepaskan

Posted by The Bitch on 12/23/2009 05:27:00 AM

Pernah kehilangan? Saya pernah. Berkali-kali. Rasanya seperti ada benda tak kasat mata yang lama tertanam dan mengakar lalu tercerabut dari tengah dada, membuat sesak napas karena hanya menyisakan kekosongan hampa udara. Tidak menyakitkan, karena tidak ada nama yang mampu mendefinisikan rasa melebihi ‘sakit’ ketika hal itu terjadi. Pokoknya, nggak enak sama sekali.

Taukah kamu apa yang tercerabut itu? Hati, yang sama tak kasat matanya dengan oksigen namun diperlukan untuk memanusiakan manusia. Bukan hati yang sering disamakan dengan jantung pemompa darah, hati yang ini mewujud pada benda kesayangan, binatang peliharaan, orang terkasih, teman terdekat, apapun yang menjadi object of affection. Saya bicara tentang keterikatan, tentang waktu tak sebentar, tentang usaha tak sedikit dan tentang kesabaran luar biasa untuk membiarkan keterikatan itu tumbuh. Dan yang paling mendasar adalah menjadikan ‘sesuatu’ itu sebagai sebuah pengingat akan siapa diri kita. Dengan kata lain: eksistensi. Karena itulah dalam anime dan manga berjudul Bleach ada mahluk bernama Hollow, ruh gentayangan dengan lubang di dada (dimana seharusnya hati terletak). Lubang itu terbentuk ketika ‘rantai hidup’ yang menyatukan badan kasar dan badan halus tercabut. Hollow menjadi jahat, lupa belas dan pemahaman manusiawi, haus akan eksistensi untuk menjadi manusia kembali. Akibatnya dia selalu memburu ruh-ruh lemah untuk memuaskan dahaga tak berujung.

Dan ini cerita yang lain. Tentang Wawa, ‘soulmate’ saya, yang karena satu dan lain hal masih tertahan di tempat ayahnya, teman yang saya anggap abang dan saya stempel jidatnya sebagai malaikat lelah. Tadi malam ia harus melepaskan Ice, Siberian Husky buta kawan sepermainan Wawa sedari kecil yang diselamatkan dari pemilik kejam. Ada bidadari pelindung yang akan menjaga anjing buta namun ganteng itu. Sayangnya, ia tinggal di Semarang dan juga diperlukan oleh sembilan Chihuahua imut.

Akhirnya, rencana dimatangkan. Rumah kokoh, layak dan bagus disediakan di tempat tujuan. Mobil pengangkut disewa untuk menjemput sosok soliter berbulu putih-hitam lembut. Kandang besar diangkat untuk kemudian diletakkan di dalam gerbong kereta. Dan petualangan panjang terkurung sendirian di atas rel antara Jakarta hingga Semarang akan dialami Ice selama delapan jam.

Yang tidak terduga adalah Wawa mengamuk! Ia lari menghajar pagar besi dan mengoyak plastik penutup tembus pandang ketika Ice dipindah dari halaman ke mobil bak terbuka. Padahal pagar itu baru saja dirapihkan beberapa hari lalu untuk menyambut pasangan RI 1 versi si abang. Wajah berbulu hitam itu muram luar biasa. Belum pernah Wawa sebegitu marah seperti saat itu. Bahkan ketika ia harus kehilangan Sasha, mbaknya, yang sekarang nyaman-damai di tempat ayah baru. Dan si abang masih saja bercerita tentang bagaimana Ice dan Wawa sangat akur kemarin malam, leyeh-leyeh berdua berdekatan atau berlarian di sekitar halaman depan dan garasi. Wawa lupa bagaimana ia sempat menyerang Ice yang menyisakan codet pada hidung Wawa dan berhasil membuat Ice berbalik terpincang-pincang dengan luka berdarah di kaki. Semua hanya karena saya terlalu lama mengelus leher Ice yang berjalan pelan ke arah saya bersila sementara Wawa sedang menjaga saya.

Saya mendengar semua cerita itu di sebuah senja, pada riuh peluit dan derak rel terhantam roda besi, mengangkuti penumpang dengan tujuan akhir Stasiun Jakartakota. Ice anteng di kandangnya, menjilati rawhide berbentuk tulang yang tanpa sengaja saya beli selepas makan siang. Mungkin ia tidak sadar saya ada di hadapannya, menyulut rokok meredakan gugup sambil bersandar pada pintu geser terbuka, sesekali minggir memberi ruang untuk para porter memunggah paket. Dan mungkin ia juga tidak sadar bahwa saya merasakan hal yang sama dengan Wawa.

Semua tanpa rencana bagi saya. Satu jam sebelumnya saya nekat, meninggalkan pabrik hanya demi melihat sepasang mata putih namun baik dan mengelus leher berbulu lembut untuk yang terakhir kali. Saya tidak peduli ketika izin pulang terendus kebohongannya oleh bapak HRD dan disampaikan melalui SMS. Saya mengambil resiko ketinggalan kereta dan tiba di stasiun dalam waktu tiga puluh menit. Yang saya tau, saya harus menghadapi sesak napas ini. Karena saya juga kehilangan.

Setengah tujuh kurang sedikit. Sebelum pintu ditutup, saya ingatkan petugas yang berjaga di dalam untuk mengucurkan air mineral ke dalam wadah minum Ice. Sang Ayah mengepalkan uang duapuluhribuan padanya dengan frase singkat: “Jagain, ya.” Saya tidak pedulikan beberapa orang bekerumun, bertanya ini itu, atau mengomentari dua anakan Chow-chow dan satu Pitbull Terrier yang nyaman berada dalam kennel box mereka. Ketika akhirnya Sembrani menandak pergi, sebuah tepukan halus di punggung menyadarkan saya untuk menyusut butiran bening yang sempat menggelincir.

“He’d be fine,” ujarnya. Ada ketegaran di sepasang mata itu, meskipun temaram senja dan terang neon tak mampu menyembunyikan sedikit kekhawatiran dan kesedihan yang sepersekian detik diperlihatkan. Dan ia masih bertindak layaknya abang. Ketika saya gagal memberi penghiburan, ia malah mengajarkan perbedaan antara bagaimana melepaskan agar tidak kehilangan.

“When I feel sad, I think about his great, big house, the one provided by Anin there. Then, I feel fine again,” ucapnya, sementara saya masih berjalan menunduk memandangi kerikil yang mendadak lebih menarik ketimbang bulan sabit samar tergantung di permulaan malam. Dan saya sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dari jejeran sepeda tua lengkap dengan topi kompeni dan papan bertuliskan “disewakan untuk fhoto-fhoto” di pelataran Kafe Batavia. Pendar kembang api dan sapaan ramah para pembaca garis tangan seperti numpang lewat di mata dan telinga saya. Kekosongan ini masih menyesakkan hingga saya rebah di dalam kamar selepas tengah malam.

Sudah pukul tiga lewat ketika pesan pada ponsel butut saya mengabarkan Ice baik-baik saja sesampai di Stasiun Tawang, Semarang. Tidak ada tanda-tanda ia stress di jalan. He’s just as cool as Ice!

Saat saya memutuskan untuk mengucap terimakasih lewat ponsel, saya dengar Ice melolong. Satu kebiasaan yang dilakukan hanya ketika hatinya senang. Saya tidak bisa membendung airmata saya lagi. Jagoan saya terlindung di tempat penuh kasih. Mendadak, lubang hampa udara di dada saya kembali penuh dan saya menghembuskan napas lega. Seiring embun pertama hari ini, saya akhirnya mengerti bagaimana belajar melepaskan untuk sama sekali tidak kehilangan.


Dedicated to Ice, a blind beast with a lovely heart. One of these days I’ll be seeing that fluffy white tail wagging again and watch you howling happily. With or without full moon ☺
Photo courtesy of, of course, his Daddy.

The Beginning

Posted by The Bitch on 12/19/2009 10:31:00 PM

Malam minggu ini saya habiskan dengan memaksa dua belas cowok lucu-baik-asik-tapi-dekil untuk mengernyit di depan selembar kertas berisi empat cerita singkat berbahasa Inggris. Mereka kawan belajar saya di SERRUM Saturday English Class dan diadakan untuk pertama kali, malam ini. Kebetulan, saya yang harus transfer apa yang saya tau tentang Bahasa Inggris, dan mereka yang jadi korban. Begitulah.

Kelas kami mengambil tempat di galeri pameran. Papan tulis putih digantung menutupi salah satu dinding tempat komik-komik Eko ditempel. Kursi dan meja disusun membentuk hurup U bersudut yang terbuka menghadap saya. Dan kami pun mulai belajar jam setengah delapan dari jadwal jam empat sore. Sungguh tipikal kelas saya, ngaret! Haha!

Bukannya saya nggak setia sama BHI English Club atau anak-anak jalanan di SALUD dan membelot ke SERRUM. Sama sekali bukan. BHI English Club sedang hiatus dan program di SALUD kebetulan sudah selesai (meskipun laporannya belum juga saya bikin. Maap ya Bang.. Gun... =P).

Tadinya, saya agak-agak khawatir tentang kelas ini. Saya nggak yakin bisa transfer ilmu secara baik dan benar. Yang bakalan saya ajarin itu guru-guru seni rupa dan mereka punya akta empat, for fuck's sake! Sementara saya cuma bisa ngomyang di depan kelas dengan common sense sebagai panduan dan pengalaman saya sebagai murid menjadi acuan saya pribadi.

Saya memang sering ketakutan dengan apa yang belum tentu terjadi. Kekhawatiran nggak perlu, menurut teman saya. Dan ternyata semua ketakutan saya yang nggak bisa transfer informasi, gagap di depan kelas, keringetan nggak berenti, memang sama sekali tidak terjadi. Karena mereka santai, saya pede cuap-cuap dan berdiri di antara papan tulis dan jejeran bangku-kursi. Dan karena secangkir kopi Black King tanpa gula yang nendang banget--dan resepnya amat sangat dirahasiakan seperti garis darah Yesus--itu saya mendapatkan kesadaran saya kembali.

Terimakasih. Kalian luar biasa (=

ps: gambar diambil dari salah satu karya Eko S Bimantara, komikus yang bikin KRL kocak itu. diperagakan oleh model. hihi.

Labels:

Kudos to Tante Em!

Posted by The Bitch on 12/16/2009 02:19:00 AM

Seorang perempuan luar biasa menulis tentang anjing tepat pada tanggal 15 Desember di blognya, sesuai janjinya pada saya beberapa minggu lalu. Saya menjulukinya Superwoman, diam-diam. Jepang menjadi tempat tinggalnya selama lebih dari satu dekade. Mengajar, mengurus anak dan suami, mengurus rumah, namun masih sempat berbagi pada saya melalui entri-entrinya yang di-broadcast ke seluruh dunia maya.

Belum genap setahun saya mengenalnya. Pertama melalui komen-komen di blog beberapa teman, kemudian saling bertukar ID YM. Tante cantik ini selalu menyapa saya dini hari, menemani malam-malam panjang saya ngelembur di pabrik topeng. Hangat dan menyenangkan bicara dengannya. Tentang hidup, tentang sepi, dan tentang laki-laki.

Dia memaknai teman sebagai pelipur kesendirian dan penghapus rindu akan tanah air. Meskipun membawa dua jagoan kecil yang lucu-pintar-ganteng, dia lepas seperti merpati. Tanpa sungkan bertanya pada saya dimana dia bisa mendapatkan bir di pusat jajanan beberapa bulan lalu. Saya tau dia kelelahan. Namun binar di sepasang kejora itu tak pernah berhenti bercahaya.

Dia memaknai 'carpe diem' dalam darah di nadi, berdetak seiring degup jantung. "Mumpung masih di Indonesia," ujarnya, semangat mengambil sate pada piring-piring kecil di hadapan sementara Si Bungsu melihat-lihat ikan berseliweran di kolam ditemani Si Sulung.

Dia, perempuan luar biasa itu, membuat ulang tahun saya menyenangkan. Saya tak lagi berdzikir 'memento mori' setiap angka pada usia saya berganti. Saya akan hidup sehidup-hidupnya!!!

ditulis ketika angka koin untuk Ibu Prita mencapai RP 249.482.250...

Labels:

A Scrivere

Posted by The Bitch on 12/13/2009 05:19:00 AM

Pada awalnya adalah kata...

Saya lupa siapa yang pernah bilang begitu. Tapi saya mengingatnya seperti saya mengingat berapa jumlah jari pada tangan kanan dan kiri saya.

Ya, pada awalnya adalah kata, terketik pada layar monitor huruf demi huruf, menjadi kalimat maupun frasa, lalu mewujud paragraf, kemudian menjelma artikel atau esai, atau muntahan curhat-curhat yang nggak begitu penting bagi orang lain. Setelah itu tersimpan dalam bentuk digital di dunia maya, sebagai blog atau posting di forum. Padahal jamannya eyang buyut saya belum ada, pionirnya adalah papirus dan tinta. Yang punya kemampuan menulis pun--secara duit dan pendidikan--juga cuma orang-orang tertentu. Menulis adalah elit dan eksklusif.

Saya suka menulis di blog. Sebagai penyeimbang mental dan medium kesombongan. Ada banyak karat otak betumpukan, menunggu untuk dibuang dan sering makin mengganggu storage di kepala. Karena bisa diakses siapa saja, jadilah, siapapun bisa membaca karat-karat saya asal tau alamatnya. Ternyata nggak sedikit yang memuji dan mencaci. Dan karena pujian itu saya merasa sombong, merasa bisa. Padahal saya ya sama aja, nggak ada tai-tainya sebagai penulis. Nggak seperti Eyang Pram yang nasonalis asli atau Pak GM yang hidupnya dahsyat. Saya juga nggak sengotot Marquis de Sade yang menulis dengan tinjanya sendiri di dinding ruang pengasingan.

Sebulan ini saya mengalami gejala mirip depresi mental dan sepertinya akan berkelanjutan sebelum saya bisa keluar dari jerat yang saya buat sendiri. Celakanya, saya nggak ngeh. Baru sadar ketika apapun yang saya kerjakan nggladrah kemana-mana dan nggak fokus. Bahkan menulis pun saya nggak sanggup. Berhari-hari saya habiskan waktu untuk menonton serial anime, tanpa sadar bermimpi dan mengidentifikasi diri bahwa saya adalah salah satu tragic hero pada episode-episode yang saya sedot melalui bandwith pabrik. Menulis dan membaca, dua hal yang saya suka, tidak mampu saya lakukan, sama sekali.

Padahal saya punya mimpi sendiri. Saya hanya malas berjuang.

Akhirnya, melalui tulisan yang terketik pada layar monitor empat belas inci, pada dinihari dingin penyejuk udara di sebuah kafe dua puluh empat jam di depan gang kos-kosan, saya membuat pengakuan. Saya manusia biasa. Hidup saya mungkin tidak biasa, namun saya mendamba semuanya biasa saja. Sungguh, saya sirik pada gerombolan lelaki dan perempuan pulang dugem yang duduk diagonal dari meja saya. Mereka punya hidup indah yang bisa ditertawakan tanpa beban. Jika ada sesuatu yang mengganggu, mereka punya semua yang bisa membeli hentak musik ratusan bpm dan minuman beralkohol. Lalu berjalan sempoyongan di tempat makan, berteriak memesan dim sum atau meminta kopi hangat. Sangat biasa sekali.

Ah, tidak seharusnya saya berpikir seperti itu. Sebagaimana ibu dan beberapa teman saya bilang, hidup adalah perihal sawang-sinawang, tentang halaman di dalam pagar sebelah yang selalu memiliki rerumputan lebih hijau ketimbang di dalam pagar sendiri.

Dan tulisan tentang menulis ini pun nggladrah kemana-mana. Lagi.

ps: gambar diambil dari koleksi wallpaper si pektay.

Labels:

A Little Story of Us

Posted by The Bitch on 12/11/2009 10:19:00 PM

It was the look in a pair of eyes, so pure and trusting you’d fall in love in an instant. It was love at the first sight, in one fine Saturday afternoon, the day that forever will emblazon in my soul. The first time I saw him, six months ago.

He jumped right into my arm when he saw me entering the gate for the first time. He forgot his stand. One second passed and he awkwardly realized that I was a stranger. And I had to go through an introduction once again, kneeling before him and giving him my right hand so he could remember my scent.

I moved to more spacious rented room with vast frontyard for him. And it was against all odds to get an affordable one in South Jakarta with my little salary. He made me consider the future and never again I think about dying young. I’ve got him: my miracle.

Now he stands before me as my guardian angel and walk beside me as a true friend. He knows how I feel without me telling him anything. I never thought I could learn how to love unconditionally from a Rottweiler and Chow-chow halfbreed.


Saya ikut kontes-kontesan nulis untuk mendapatkan tiket nonton eksklusif. Sayangnya nggak menang. Jadi, saya batal nonton. Well, bukan rejeki saya kayaknya. Tapi saya menulis 200 kata itu betul-betul dari hati!

Photo courtesy of Wawa's Daddy.

Labels: